Reviews : Unbroken (2014), John Wick (2014), PK (2014), and Before I Go to Sleep (2014)

Director : Angelina Jolie

Writer : Joel Coen (screenplay), Ethan Coen (screenplay), 3 more credits

Cast : Jack O’ConnellTakamasa IshiharaDomhnall Gleeson

We called her minimally talented spoiled brat in the land of the blood and honey. Yeah, Hollywood sekarang ini memberikan sisi tersebut untuk anak perempuan dari Jon Voight ini. Apa yang ia lakukan selalu berada dalam sorot lampu (Brad Pitt, Aniston, that infamous leg, humanitarian), termasuk lakonnya sebagai sutradara. Tak ada yang meragukan Angelina Jolie dalam berakting – selalu magnetik, namun bagaimanakah jika menyutradarai sebuah film ditambah dengan orang-orang ternama di belakangnya seperti Roger Deakins memegang sinematografinya, Coen Brother untuk script-nya, ditambah cerita yang seharusnya begitu moving dari Louis Zamperini ? Buzzzzzzzzzzzzzzzzz——–infinite—–zzzzzzzz.

Awal dari Unbroken adalah Forrest Gump, Louis Zamperini kecil yang selalu di-bully teman-temannya, dan masih berusaha untuk fit-in sebagai pendatang, akhirnya menemukan kecepatan berlarinya (I am dead serious there is Run Louie Run !-scene” Tak lama kemudian ia menjelma menjadi Jack O’Connel – seorang pelari Olimpiade yang memecahkan rekor kecepatan berlari, dan berharap tahun berikutnya akan pergi ke Tokyo untuk memenangkan kompetisi yang sama. Be careful what you wish for ! Bukannya ke Tokyo, ia malah ikut berperang menjadi bomber bersama teman-temannya (Jay Courtney, Domnhall Gleeson, Finn Withrock), dan melakukan pendaratan darurat di sebuah pulau ketika pesawat mereka mendapatkan kerusakan. Bukannya, bersyukur dengan pendaratan darurat yang berbahaya namun masih selamat, mereka kembali berangkat mencari tim tentara yang hilang, dan hasilnya, mereka sendiri turut hilang. Pesawat mereka hancur berkeping-keping di lautan dan menyisakan tiga orang selamat (tentu saja salah satunya Zamperini) untuk terombang-ambing di lautan. Babak Life of Pi pun dimulai.

Bayangkan kakek kalian memanggil kalian, menyuruh kalian untuk duduk, kemudian mulai menceritakan kisah yang layak diceritakan (and we sit anyway, because he’s our grandfather – I mean Jolie). Dengan keindahan bertutur kata lewat warna, setiap shot yang dibuat begitu indah, itulah Roger Deakins. Dengan beberapa alur maju mundur untuk merangkum sebentar jalan hidup Zamperini, dengan packaging Jack O’Connel yang memang sudah teruji unbroken, terus apa yang bisa salah dari film ini ? Adalah titik sebuah keegoisan – Unbroken ingin memperlihatkan “Ini loh penderitaan seorang Lous Zamperini.” Ingin mendapatkan semangat, ingin mengagungkan kegigihan sang karakter, ingin mem-pahlawankan sang karakter, tanpa diselingi bahwa Louis Zamperini juga memiliki jiwa untuk dieksplor kedalamannya – membuatnya tidak hanya sebagai sebuah perjalanan penyiksaan fisik, namun lebih dari itu.

Jolie memperlakukan biopic Louis Zamperini hanya dari packaging luarnya – memperlihatkan setiap sekuens “wow” hidup dari Zamperini tanpa memberikan dinamika berarti di dalamnya. Titik terburuk Unbrokern mulai terlihat ketika dinamika mulai dihentikan ketika Zamperini ditahan tentara Jepang untuk beberapa tahun (it’s like Castaway, but in Japan), dan berhadapan dengan komandan kejam (Miyavi) yang seharusnya terdapat penekanan hubungan personal antara dua pihak, ketimbang mengeksploitasi dan merubah ke sesuatu yang lebih bersifat tidak beralasan. Miyavi yang selalu teriak-teriak dengan Zamperini, kemudian menyiksanya, tanpa penonton bisa melihat lebih dalam dari karakter Miyavi lebih dalam, membuat Unbroken sebagai film “all pain, no gain”. Termasuk scene yang mulai over dipegang Jolie : unreasonable spirit – dengan kondisi lemah Zamperini bisa mengangkat balok kayu berjam-jam. What is that ? Jolie tak memberikan sisi klimaks di setiap perjalanan hidup Zamperini yang memang sering klimaks, namun juga Jolie tak memperhitungkan bahwa fase hidup tadi mengandung sisi akumulasi yang tak harus ia tepuk rata. The movie should be retitled : Angelina Jolie’s bland air, bland sea, and bland land.

Quote dari sebuah film yang lain “Fuck enlightment !”, apa yang ingin dilihat penonton adalah seorang karakter yang tak menunggu waktu, durasi berakhir sampai sekutu menang, namun ingin melihat bagaimana Zamperini tidak hanya bertahan, namun juga dealing dengan kondisi yang ia alami (we want to see how he copes his condition). Hasilnya, Unbroken adalah biopic lemah, hambar, dipenuhi dengan semangat motivasi dangkal, walau kita tahu terdapat satu cerita yang mengagumkan di dalamnya. Sekali lagi, it’s our grandfather’s story. We sit and sleep.  Positifnya, untuk film yang disutradarai seseorang yang pernah dikatakan sebagai minimally talented spoiled brat, Unbroken masih watchable, tertolong dengan teknikal yang membuat Unbroken tidak terseok dari predikat “amateurish” (C)

Director : Chad Stahelski

Writer : Derek Kolstad (screenplay)

Cast : Keanu ReevesMichael Nyqvist, Willem Dafoe

Memandang kata action tahun 2014, langsung yang terbesit dalam pikiran kita The Raid : Berandal, top notch action with lousy, convoluted storyline. Kemudian menengok ke belakang, apakah yang membuat seri pertama The Raid begitu sukses ? Tetap martial art-nya yang dimaksimalkan layaknya sebuah bucket dari spicy fried chicken, yang terus kita makan walau sedikit “hambar”, dan storyline yang sederhana berupa tim SWAT yang melakukan penyerbuan, tanpa intrik, tanpa twist.  John Wick kembali ke formula dasar ini.

Who’s John Wick ? Dia hanyalah Keanu Reeves – laki-laki biasa yang memegang payung hitam, di tengah hujan deras, di tengah pemakaman, berusaha untuk tegar, walau itu artinya ia hidup hanya untuk mematikan alarm paginya paska istrinya meninggal. Di tengah kesendiriannya, ternyata istrinya mempersiapkan kado untuknya : seekor anjing kecil lucu yang merebut hatinya dan mulai menemani hari-harinya. Namun, ketiga suatu malam rumah John Wick diserang mafia Rusia yang mencuri mobil dan membunuh anjingnya, John Wick-pun berubah menjadi John Wick – hanya saja dengan senjata dan dendam.

Dari segi cerita, tak ada yang mengejutkan dari John Wick – simple, mudah dicerna, namun sekaligus menangkap sisi kompleks dari duka seorang John Wick yang membuat penonton rooting dan peduli kepadanya. Tak bermain dengan simpati, film ini kemudian memberikan kontra antagonist dan protagonist yang seimbang – John Wick ternyata seorang boogeyman – sebutan untuk assasins kelas kakap  di dunia mafia, dan lawannya adalah gangster Rusia yang menguasai kota (Michael Nyqvist – Willem Dafoe – Adrienne Palicki – what an intimidating trio). Bermain dengan kata “reputasi”, John Wick adalah sajian action yang sebenarnya – menyeimbangkan dua sisi sehingga tercipta satu tensi maksimal – apalagi scene awal film ini terlihat John Wick sedang berdarah, hampir sekarat melihat video istrinya – sebuah scene yang sedikit banyak membuat destiny karakter utama lebih vulnerable (walau hal ini juga pernah dilakukan beberapa film).

Mengetahui bahwa film ini tak mungkin hanya mengandalkan action-nya yang “above average” namun belum “awesome”, John Wick yang turut diproduseri produser film The Town memberikan let’s say gimmick yang menarik. Contoh kecilnya adalah subtitle yang dibuat semenarik mungkin (dan kadang kocak), ditambah dengan penciptaan kondisi dunia mafia sebagai satu dunia kompleks, penuh kode etik, terorganisir, dan inlah yang menghidupkan John Wick dari cerita yang standar. Pernahkah penasaran bagaimana karakter action yang setelah membunuh sekian banyak orang kemudian melenggang ke dunia luar tanpa ketahuan meninggalkan mayat ? Atau mengapa penonton tak bertanya dimanakah para tokoh action ini tidur, dan di titik itulah seharusnya menjadi titik lemah untuk diserang lawan ? Atau dimanakah peran polisi yang biasanya menganggu ? Atau pernahkah berpikir mengapa peran utama film action jarang tertembak ? Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini akan ditemui, dan begitu menggelitik ketika ditelisik.

Memanfaatkan menit-menit pertama untuk penokohan – yang juga diperankan dengan mantap oleh Reeves, sebagai film action, John Wick tak perlu begitu dalam menempatlkan karakternya nanar melihat cakrawala, sehingga banyak space kosong untuk diisi. Isinya adalah entertainment. Menghibur ketika melihat adegan John Wick dibuat stylish, kinetik, bermain cepat dengan warna-warna diskotik, bang bang bang darah muncrat dimana-mana – memenuhi panggilan rating R-nya, tanpa harus khawatir untuk terlihat kaku atau dangkal. Menghibur ketika melihat naik turun pengkhianatan satu karakter ke karakter lain, terutama saat Reeves dan Nyqvist berhadapan muka antar muka sebagai men with nothing to lose membuat John Wick memiliki dua sisi antihero yang berperang untuk satu alasan personal – sesuatu yang lebih menarik dari berperang untuk sebuah harga diri menjadi seorang gangster/killer. (B)

Director : Rajkumar Hirani

Writer : Rajkumar HiraniAbhijit Joshi1 more credit

Cast : Aamir KhanAnushka Sharma

Okay, siapakah yang terakhir kali melihat film India – 3 Idiots ? Yeah I myself, is raising my hands, walau secara teknis The Lunchbox adalah film India terakhir yang dilihat, namun itu cukup menggambarkan sebagaimana minimnya menonton film India. Kemudian, datanglah PK – judul yang sama sekali tak mengundang selera, namun berhasil mengundang kontroversi dan sebuah poster dengan Aamir Khan memegang radio di bagian vitalnya, dan menjadi film India dengan pendapatan tertinggi. Okay, I am in.

Tak ada tempat lain yang jika alien datang akan merasa bingung kecuali India – sebuah negara dengan culture berwarna terutama dari segi penganut agama-nya. Alien (Aamir Khan) datang ke bumi dengan niat yang baik, namun sambutan pertama yang ia dapat dari manusia adalah dengan kehilangan remote controll pesawatnya yang dirampok, dan membuatnya tertinggal di Bumi. Tanpa bekal sehelai pakaianpun, alien tersebut mulai beradaptasi dengan kehidupan bumi, termasuk mempertanyakan “Dimanakah ia bisa mendapatkan remote control-nya untuk bisa pulang ?”, dan jawaban basa-basi dari penduduk Bumi, “Sudah serahkan atau tanyakan saja pada Tuhan.”, menjadi awal seorang alien mencari Tuhannya, dengan cara yang unik, dan menghibur.

PK adalah komedi satir yang berkaitan dengan agama – salah satu sistem (???) yang tertutup, digabungkan dengan peran media untuk mengupasnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, jika ada satu pihak yang bisa mempertanyakan satu/lebih agama, siapakah yang berhak ? Jika seorang muslim mempertanyakan seorang katolik, there will be a riot. Seorang Hindu mempertanyakan seorang Kristen, there will be a riot. Sangat pintar ketika Rajkumar Hirani menghadirkan seorang alien – sebagai pihak “fantasi” golongan putih yang innocent dan tak memihak – diperankan dengan begitu antusias oleh Aamir Khan seakan-akan ingin me-redeem setiap kemarahan masyarakat yang diposisikan sebagai “yang dipertanyakan dan ditanyai”. Karakter Aamir Khan sendiri membawa peranan penting membawa mood film untuk selalu menampilkan energi positif tak peduli sekritis apa ketika pertanyaan agama versus logika dilontarkan, dan untuk beberapa saat film juga tak perlu menjawab tersebut, dan tinggal menunggu jawaban yang datangnya dari penonton tersendiri. Hasilnya, PK tidak memakai materi yang sensitif sebagai ajang mocking namun lebih sebagai pertanyaan observasi, yang pada satu titik mengajak penonton untuk “membenahi” beberapa titik-titik lemah “fanatisme” agama – so at some point, this movie does something in our favor. Disinilah satire paling kuat terlihat, ketika PK mengkritisi berbagai macam “fenomena” berkedok agama, yang dikupas dengan apik tanpa terlihat “ngotot” namun dalam waktu bersamaan masih mem-provoke. Kemudian PK menawarkan solusi, salah satunya lewat konsep “Wrong Number” – yang bisa di-relate, tak peduli agama mana saja, bahwa komunikasi dengan Tuhan ternyata juga bisa terinterfensi.

Beberapa subplot pun ditambahkan, salah satunya sisi schmaltz yang tetap ditampilkan dengan hadirnya romance antara PK (sebutan alien setelah mengkritisi agama –  or “peekay” – someone who likes to mess around) dengan Jaggu (Anushka Sharma) dimana elemen percintaan menjadi salah satu bagian penting plot dan menyatukan beberapa elemen di awal film yang dianggap hanya intro semata. Namun, sisi ini juga sekaligus melucuti “perang media” yang mulai dibangun, dan akan mencapai klimax perdebatan, namun sayangnya harus berakhir dengan solusi atau semacam “konsensus” yang terlalu mudah. Akhirnya, PK adalah salah satu film yang mengutamakan “bagaimanakah sebuah film menyampaikan pesan ?” tak peduli seberapa besar, sensitif, atau personal sifat pesan tersebut. (B)

Director : Rowan Joffe

Writer : Rowan Joffe (screenplay), S.J. Watson (novel)

Cast : Nicole KidmanColin FirthMark Strong

Aka. 50 First Dates with Colin Firth.

Nicole Kidman familiar dengan film seperti ini, sebut saja yang paling terkenal The Others – ia terbangun di pagi hari dengan sontakan, seakan tak tahu di dunia manakah ia terbangun, dan mulai sedikit demi sedikit mengupas dunia yang tak diketahuinya. Kali ini namanya Christine, terbangun telanjang tanpa memori, kecuali memori saat dirinya berumur sekitar 20- tahunan. Di sampingnya, juga telanjang, adalah Ben (Colin Firth) – laki-laki yang mengaku sebagai suaminya dan menerangkan bahwa Christine menderita anterogade amnesia – artinya ingatannya akan terhapus setiap kali ia tertidur. Tanpa bekal pengetahuan apa-apa, Christine hanya diam di rumah, hingga sebuah telepon dari Dr. Nash (Mark Strong) mencoba untuk menolongnya, dan mengungkap apa yang terjadi selama 20 tahun ke belakang – sesuatu yang mengerikan yang Christine tak bisa ingat.

Harus diakui, Before I Go to Sleep dipoles sedemikian rupa untuk menjadi sebuah sajian thriller yang menarik. Namun, tak peduli sebagus apa polesan tersebut, Before I Go to Sleep tak berhasil memberikan langkah taktis untuk penonton, kecuali melihat lembar demi lembar hidup Christine mulai terungkap dengan mudah, tanpa intrik, atau sesuatu yang witty, untuk sebuah thriller yang seharusnya meninggalkan clue di setiap Christine terbangun setiap pagi. Clue-clue ini memang absen, karena Christine sendiri merupakan karakter yang tak pernah kritis. Ia selalu percaya dengan setiap orang yang mengatakan sesuatu padanya, ia tak bertanya setiap kali ia melihat dirinya “yang lain” di kamera, dan dia selalu mengulangi kesalahan yang sama : Come on ! Sleepy head !

Baik Nicole Kidman atau Colin Firth berusaha semampunya untuk memberikan penampilan yang terbaik, namun ketika mereka akan mendekati itu, materi pun mulai berubah dari revelation beralih ke klise demi klise dari film thriller yang pernah kita lihat. Dan, salah satu sisi yang paling mengiritasi adalah adanya sebuah reset button yang mengosongkan kembali tensi penonton, kemudian ketika Christine terbangun di pagi hari, tensi berusaha dibangun kembali dengan instan. Hasilnya, film memiliki progress cerita yang begitu cepat secara keseluruhan, namun keterlibatan runtutan logika penonton dalam mengikuti cerita menjadi sedikit kacau, dan dalam hal ini karena bumerang dari sisi amnesia tersebut. Namun hal yang paling mengiritasi adalah bagaimana sosok Christine bisa-bisa-nya terisolasi dari dunia luar, out of radar, sementara ia bisa pergi keluar, sementara setiap pagi Dr Nash setiap pagi meneleponnya dan mengajak berdiskusi. Dan, ditambah jump scare tidak diperlukan, Before I Go to Sleep selalu ingin memanipulasi ketegangan penonton dengan mengesampingkan karakter, dan menggantinya dengan visualiasasi imajinasi psikologis yang membodohi penonton, but we are not THAT stupid (C)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s