A Most Violent Year (2014) Subverts Transgression into “You Could Smell The Danger” – Slow Burn Drama

Director : J.C. Chandor

Writer : J.C. Chandor

Cast : Oscar IsaacJessica ChastainDavid Oyelowo

(REVIEW) A Most Violent Year adalah film tentang survival lain dari J.C Chandor dan jangan berharap film gangster liar dengan serbuan tembakan – dimana terus terang saja hal tersebut ter-implied dari judulnya. Sebaliknya, Chandor berhasil mengolah cerita mafia bisnis dengan penuh integritas, penuh dengan harga diri, etika, namun sama sekali tak melupakan sisi yang pernah ia bawa pada film sebelumnya – All is Lost : you could smell the danger.

Tahun 1981, New York City, tahun yang baik untuk mengekspansi bisnis untuk Abel Morales (Oscar Isaac) – ia baru saja melakukan pembayaran uang muka untuk pembelian aset kilang-kilang minyak dengan lokasi strategis, dengan janji akan segera melunasi atau uang muka itu akan hangus. Di zona kota yang lain, truk dari mobil minyak Abel baru saja dibajak secara terang-terangan oleh dua orang yang tak dikenal yang tak hanya menyebabkan kerugian, namun juga mengancam bisnis Abel secara keseluruhan. Disinilah Abel dan istrinya, Anna (Jessica Chastain) berjuang untuk tidak hanya mempertahankan bisnis, namun juga impian mereka (aaaaaaaaaaaaand in this case, American Dream : a nightmare dressed like a daydream. Thank you, Swift !).

Simple bukan ceritanya ? Dan, memang untuk hampir dua jam ke depan, hal itulah yang akan diceritakan. Inilah yang membuat A Most Violent Year terkesan lambat, terkesan tak memiliki plot yang bold, namun bagaimana Chandor meng-handle itu semua harus diacungi jempol. A Most Violent Year adalah film yang tak ignorance dengan hal sekecil apapun dalam bisnis, tak mengutamakan eyecatching ­storyline namun kedodoran dalam melakukan eksekusi afterthought-nya.  Ia me-manage setiap scene dengan begitu kuat untuk bisa meninggalkan impresi kepada penonton, tipis memang, namun inilah yang membuat A Most Violent Year tak terlalu menyiksa, malah justru begitu compelling untuk film dengan plot lambat. Chandor tak menekankan violence secara fisik, menggantinya dengan setiap tindakan trangresi sebagai sebuah substansi yang diolah untuk perkembangan karakter, ketimbang bang ! bang ! dari sebuah tindakan yang bersifat inept, dan inilah yang membuat mengapa A Most Violent Year begitu spesial.

Shame on you, Oscars ! A Most Violent Year adalah sajian lengkap – sebuah versi yang lebih mature, lebih kompleks ketimbang A-meh-rican Hustle, tanpa ketinggalan untuk memberikan performance yang top notch dari aktor-aktrisnya, terutama Jessica Chastain. Aktris yang begitu sibuk tahun kemarin ini akhirnya mendapatkan peran yang sedikit juicy, menacing, kuat dipadupadankan dengan rambut blonde, dan baju-baju Armani vintage-nya merupakan sebuah perwujudan sisi glamor dari dunia gangster yang terkadang tinggal menekan triggers untuk menyelesaikan masalah. Anna Morales bisa dengan tegas menembakkan pelurunya ke seekor rusa yang tengah sekarat, atau sekedar mengacungkan rokoknya ke District Attorney (David Oyelowo – he’s busy too this year), atau sekedar membanting kaki suaminya yang sedang terluka. Ia begitu menguasai segala bentuk sisi mengancam baik yang harus disajikan sampai permukaan atau mengalir kuat di bawahnya.

Sebuah pasangan yang tepat ketika Chastain disandangkan dengan honourable man yang diperankan Oscar Isaac. Setiap mereka bertemu, berbincang, selalu saja ada dinamika sebuah masalah untuk diselesaikan, namun keduanya kembali membaur pada satu romantisme yang terlihat instan namun begitu efektif, dan kehadiran Chastain inilah yang selalu membayangi – dalam artian positif – memberikan definisi untuk karakter Abel.  Sayangnya, porsi Anna Morales ke belakang film semakin sedikit, dan dengan pacing yang begitu lambat di awal, inilah yang sepertinya membuat Jessica Chastain ter-snubbed begitu mengecewakan di ajang Oscars.

A Most Violent Year sekali lagi membuktikan Chandor begitu lihai dalam memanfaatkan uncertainty sebagai bentuk teror untuk penonton, dalam porsi yang pas, natural, sehingga membuat teror tersebut tidak lagi sebagai bentuk ancaman yang ekstrem, melainkan lebih terasa sebagai sebuah insting untuk bertahan. Salah satunya terlihat pada keberadaan satu benda yang dianggap sakral, dianggap berbahaya, dan diperlakukan dengan semestinya. Yaitu senjata, pistol, atau sebagainya. Setiap kali benda ini muncul di layar, adrenaline penonton langsung terpompa dan benar-benar merasakan apa yang yang akan terjadi dengan benda asing yang satu itu. Kelebihan lainnya, Chandor memberikan banyak touch up pada scene sederhana, namun karena touch up itu saking halusnya, malah membuat segalanya menjadi natural : balutan sinematografi yang penuh dengan morbidity yang dipoles secara seimbang dengan costume parlente karakter-nya, atau lagi-lagi, scoring yang tak berlebihan namun begitu efektif

Semakin diperkaya dengan penampilan Oscar Isaac yang mengampu, me-lobby setiap penampilan ke dalam sisi antara keterbatasan moral, respect, sekaligus harga diri. Dihadapan anak buahnya, ia bisa bermain begitu kharismatik melakukan segala training dengan semangat entrepreneur, sementara di sisi lain ia hanyalah laki-laki yang duduk di bawah rumahnya, menyembunyikan berkas-berkas terlarangnya dari polisi, sementara istrinya mengatakan kepada polisi bahwa ia adalah laki-laki yang terhormat. Ibarat seorang salesman yang menawarkan harga dirinya, Oscar Isaac terus bertahan sampai akhir menyimpan harga dirinya  – not oversell, dimana film ini memojokkan ego seseorang sampai akhirnya jatuh pada satu compromise yang bisa diprediksi tak terduga : woman !

Kesalahannya mungkin pada tanggal rilisnya yang tak cukup kuat untuk menggulung buzz sehingga film ini mendapatkan complete shutout di Academy, namun walaupun begitu, A Most Violent Year merupakan salah satu film paling rapi, lengkap, memuaskan, seakan-akan film ini mengancam penonton lewat bisikan, dan kita tak pernah ingin terlewat dari setiap katanya. Slow, and riveting, what’s more intense than that ? (B++)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s