Foxcatcher (2014) : Bennett Miller’s Exponential Factor for Transformative, Complex, Horrid Story

Director : Bennett Miller

Writer : E. Max Frye, Dan Futterman

Cast : Steve Carell, Channing Tatum, Mark Ruffalo

(REVIEW) Kalimat bijak : tak ada aktor yang buruk, yang ada hanyalah aktor yang belum mendapatkan peran yang tepat (I made it up or I read it somewhere :p), mungkin itulah yang menggambarkan film Foxcatcher. Siapa yang sebelumnya percaya Channing Tatum bisa akting – our dancing boy ?!!, walau beberapa bulan ke belakang ia semakin menunjukkan range-nya sebagai aktor, kemudian siapa yang percaya Steve Carell juga bisa akting ? Komedi, mungkin, dramatis ? Nyatanya ia masih terjebak pada peran family guy-nya. Beruntungnya, mereka berdua mendapatkan kolaborator sekelas Bennett Millers, seseorang yang notabene mengantarkan Phillip Seymour Hoffman pada salah satu performa terbaiknya sebagai Truman Capote, dan seseorang yang mengantarkan Jonah Hill pada nominasi Oscar pertamanya.

Mark Schultz (Channing Tatum) – menjalani fase terberat dari seorang atlet yang pernah berjaya : terlupakan dan kurang dihargai. Ketika ia berbicara sebagai speaker di sebuah sekolah berbicara tentang etos semangatnya, hal ini sangat berbanding terbalik ketika saat itu dia hanya seseorang yang mengalungi medali, tidak lebih dari itu. Hidup kurang dari cukup, sangat terlihat Schultz memiliki kemarahan yang begitu besar dalam dirinya, termasuk saat ia melampiaskannya kepada kakak yang selalu mengerti – Dave Schultz (Mark Ruffalo) – yang juga merupakan seorang atlit gulat. Ketika Olimpiade tinggal menunggu bulan, sementara persiapan latihan belum maksimal, Mark mendapatkan telepon dari billionaire, philanthropist, philatelist, ornitologis, John DuPont (Steve Carell) yang siap menyediakan segala fasilitas untuk Mark untuk meraih mimpi kembali mimpinya, good dreams, bad dreams.

“How was the flight ?”, DuPont asked, “Good.”, Schultz answered. “Can I get you something to eat ? No ? Good., DuPont asked again, “How was the training ?, DuPont asked again, and again. “Good.” – sebuah kata yang jauh ditepis dalam film Foxcatcher oleh Bennet Millers, dan untuk yang paling tidak menonton filmnya pasti tidak akan kaget. Foxcatcher adalah sebuah film downers, begirtu sesak untuk ditonton, dalam sebuah ukuran dosis yang bisa melumpuhkan seekor kuda (I am exaggerating !), energi depresi begitu kental dalam sebuah film yang memiliki impact begitu besar lewat scene kecilnya. And then, DuPont asked again “What do you hope to achieve, Mark ?, “I wanna be the best in the world”, Schultz added. Kemudian energi itu dibungkus dengan embel-embel sport, patriotisme, semangat high adrenaline, yang membuat Foxcatcher adalah sensasi film menonton yang kaya.

Karena keluar dari zona amannya, Steve Carell telah menjadi sorot utama film ini, dan sorot ini tidak salah. Carell secara fisik begitu transformatif, tak menyisakan ruang untuk sang komedi untuk muncul ke permukaan. Dan, pertanyaan terbesarnya adalah apakah Carell bisa mengeluarkan sisi internalnya dibawah tekanan make up yang tentu saja begitu besar (FYI, it needs two hours, yeah two hours). Jawabannya mengejutkan. Ketika beberapa aktor cukup dengan transformasi mereka, gesture mereka, mimik mereka, dan kadang berhenti sampai disitu saja, Bennett Millers adalah unsur eksponensial untuk penampilan Carell sebagai John DuPont. Misterius, ambisius, menakutkan, mengayomi. SPOILER ! SPOILER ! Inilah besutan performance lain dari Millers yang benar-benar menyelusuri lebih dalam, berekspansi lebih, lebih, dan lebih untuk memahami otak kriminal yang berada dalam fase “In Cold Blood”-nya.

Persamaan lain dari Foxcatcher dan Capote adalah bonding-nya, yang masih menggunakan konsep “bromance” (and you know Channing Tatum is good at this one). Ketika Mark Schultz telah berada pada posisi puncaknya, dengan hubungannya dengan John DuPont yang semakin intim, mulailah timbul gejolak. Dipicu dengan keputusan Mark untuk meliburkan tim Foxcatcher-nya satu hari saja, Du Pont langsung mengatainya dengan “You ungrateful ape !”, dan DuPont pun menghadirkan Dave Schultz ke lokasi training-nya yang seketika secara bertahap mulai me-reveal sisi gelap dari seorang DuPont. Semakin timbul dinamika tiga orang ini berinteraksi, jalan cerita semakin intens, semakin kompleks, termasuk beberapa penokohan karakter yang datang dari aktris pendukung (I am not talking about Sienna Millers), Vanessa Redgrave – yang kembali seperti perannya di Coriolanus, adalah sosok ibu DuPont yang kejam namun disini ia tak pernah puas dan dengan cara lain selalu memandang “rendah” anaknya, termasuk olahraga gulat itu sendiri. Ingin selalu menimbulkan “impresi” pada masing-masing karakter lawan, DuPont yang ingin membuat kagum ibunya, Dave yang selalu ingin terlibat dan terlibat dan terlibat dalam hidup Mark, dan Mark yang ingin selalu kembali menjadi anak emas DuPont – semuannya terbalut dalam bungkusan “palsu” – bahkan sosok Dave yang digadang sebagai karakter paling “bersih”-pun menggunakan keluarganya sehingga ia tak bisa memuaskan semua pihak. Seiring waktu berjalan, masing-masing karakter menunjukkan muka aslinya, dan inilah bagian seru.

Channing Tatum yang “seharusnya” berpotensi menjadi sebuah weakspot juga malah tampil gemerlap dengan pendekatan berbeda dari Carell ataupun Rufallo. Ia bisa mengombang-ngambing penonton lewat sebuah ekspresi yang mungkin terlihat sama, konstan, tapi memiliki gejolak tersendiri, kemudian Bennett Millers menggulungnya kembali dengan berbagai adegan sederhana namun memiliki makna penting – Channing Tatum makan mie instan, Channing Tatum menghabiskan 20 dolarnya untuk menunggu di sebuah restoran fastfood, Channing Tatum pindah mengangkat kursi, tetapi sisi yang paling pathetic dari Mark Schultz adalah ketergantungannya baik dengan kakak atau tokoh sang bilionnair. Foxcatcher memang memiliki plot yang lambat, namun pas diolah Miller untuk menjadi sesuatu yang lebih besar – setiap scene begitu gelap, beberapa begitu memilukan dan memalukan, termasuk saat DuPont kemudian hampir di akhir film hanya berakhir mengibas-ngibaskan sang atlit dengan menggunakan handuk (that’s a big, big, big embarassment).

Terlepas dari akurasi cerita (termasuk tanggapan sang tokoh lewat tweet Mark Schultz), Foxcatcher (atau sang penangkap rubah) dengan sempurna menangkap penonton dengan drama yang sungguh disturbing, memegang agenda tersendiri tanpa terlalu manipulatif, merubah satu tindakan kriminal menjadi begitu berhubungan scene antar scene sebagai motif yang terlintas, dengan penampilan yang lebih “kompleks” dari penampilan itu sendiri, studi karakter yang efektif, tone gelap yang dipegang teguh dengan scoring yang haunting, perpindahan energi fisik ke psikologis dan sebaliknya yang tertransfer sempurna, inilah yang mengantarkan Foxcatcher tidak hanya sebagai salah satu best ensemble tahun ini, namun juga sajian menghibur, gila, rumit, flawless, yang pernah dilihat. Jika orang-orang penggemar olahraga mengatakan adrenalin adalah rasa “feel good” yang adiktif, film ini mengubahnya, Foxcatcher adalah “feel bad” yang adiktif. (A)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s