Reviews : Big Eyes (2014), Wild (2014), The Tale of Princess Kaguya (2014), and Two Days, One Night (2014)

Director : Tim Burton

Writer : Scott Alexander, Larry Karaszewski

Cast : Amy Adams, Christoph Waltz

Setelah melewati proses yang cukup panjang, kemudian terdengar kabar Tim Burton menduduki kursi sutradara, produser, kemudian Amy Adams dan Christoph Waltz (dua aktor spesialis supporting role) sebagai duo yang akan memimpin, dan yang terpenting tanpa Johnny Depp atau Helena Bonham Carter, Big Eyes langsung masuk dalam bursa award tahun 2014.

Jika satu gambar atau lukisan saja bisa menggambarkan ribuan kata-kata, apa jadinya dengan sebuah film yang merupakan motion picture ? Yah, dalam kasus ini – Big Eyes – mengecewakan, cukup memberikan satu kata saja : bland. Lukisan anak kecil dengan mata nanar berwarna hitam, kelam, dengan kesedihan yang tersirat, nyatanya tak mampu diangkat menjadi materi yang lebih berarti. Sama jatuhnya dengan konsep “paint by number”, tak peduli seberapa “berarti” gambar di dalamnya, arti tersebut juga dimiliki ribuan orang lainnya. Sisi spesial yang tergeneralisasi, dan inilah yang membuat kisah Margareth Keane terasa tak ada penekanan untuk meninggalkan kesan, kecuali sentuhan komedi yang rasanya seperti Tim Burton sedang memilih palet warna yang salah.

Diawali dengan sebuah quote dari Andy Warhol “I think what Keane has done is just terrific.. If it were bad, so many people wouldn’t like it.” Pertanyaannya adalah “Which Keane ?”, yeah terkesan juga sebuah garis tipis yang menunjukkan cerita yang akan diceritakan merupakan sesuatu yang kontroversial, dan mungkin dari premis biopic-nya, Big Eyes akan menjadi sebuah film lain seperti Keane Versus Keane, mungkin ? Tak sepenuhnya salah, tak sepenuhnya benar. Big Eyes diawali dengan datangnya Margaret (Amy Adams) ke San Fransisco untuk memulai hidup baru bersama anaknya. Hidup sebagai janda, tanpa pengalaman kerja, dengan portofolio sebagai seorang pelukis di kota besar tak pernah mudah. Ia berakhir sebagai pelukis dekorasi di sebuah perusahaan mebel, atau menawarkan bakatnya hanya untuk satu dolar lukisan jalan. Kemudian ia bertemu dengan Walter Keane (Christoph Waltz) – juga seorang pelukis yang mengambil inspirasi dari jalanan kota Paris untuk setiap objek lukisannya, namun yang paling menonjol dari Walter adalah kemampuan salesmanship-nya untuk menjerat calon pembeli, dan hal itu bukanlah kejutan ketika kita tahu Walter juga seorang realtor real estate. Kemudian, dapat diduga, merekapun menikah, dan saat Walter mulai melakukan marketing pada lukisan Margaret yang cukup brilian namun belum terpublikasikan, kesuksesan besar pun sedang menunggu mereka.

Pertama, sisi positif dari Big Eyes, film ini tak pernah menyempitkan pandangan untuk satu hal yang bersifat personal untuk menjadi sebuah biopic. Diakui, Big Eyes mungkin artinya juga membuka mata. Membuka mata terhadap peran wanita yang masih dianggap terlalu tak signifikan pada dunia seni saat itu. Yah, bisa dibayangkan, dari pengetahuan umum dan dasar kita, berapa banyak pelukis yang kita kenal sebagai seorang wanita ? Hmm, none ? Yeah, same here. Peran Walter untuk mengambil segala platform marketing seni merupakan sisi yang menarik. Platform itu tidak hanya dari lokasi berupa galeri, tapi juga sisi “taking credits” – mengalihkan hak cipta pada personality yang lebih bisa terakses (dalam hal ini juga pemilihan gender yang lebih respectable, likeable), ketimbang kepribadian Margaret yang terkesan kekurangan softskill mempengaruhi orang lain. Dengan peran mereka masing-masing, Margaret paint, Walter sell, kesuksesan pun datang. Film ini pun mulai mengambil titik balik untuk memfokuskan perhatian kembali subjek utamanya. Melihat bagaimana Walter memanipulasi caranya untuk mendapatkan keinginannya atas nama keluarga, membuat Margaret terjebak. Disinilah tonal awal dari film yang terasa fun, colorful mulai goyah. Karakter Margaret kemudian diperlakukan layaknya sebuah display wajib yang harus disajikan namun tanpa makna, termasuk lagu Lana Del Rey yang masih terasa kelam mulai dipaksa diputar, sampai halusinasi Margaret yang melihat orang-orang di sekitarnya dengan mata besar, sebuah perwujudan dari paranoia-nya sendiri yang hadir sebagai sisi unreasonable.

Big Eyes kemudian terlalu berdiam kepada ketidakmampuan Margaret keluar dari karakternya melawan segala manipulasi Walter. Ia terus bertahan di rumah besarnya, terkurung dalam ruang kerjanya, dan membiarkan suaminya mengambil semua pengakuan yang seharusnya menjadi milikinya. Saat itulah, Amy Adams masih saja terpatok pada penampilan Amy Adams-nya. Terlalu subtle, namun dalam waktu yang sama tak lagi menggali layer yang lebih dalam dari sosok pelukis terkenal itu. Di sisi lain, Christoph Waltz yang mengalami problem yang sama dengan Adams : we-have-seen-the-performance-before, terbantu dari karakternya yang memang dari script-nya memiliki beberapa sisi deception yang paling tidak membuat Walter terlihat sebagai seseorang tanpa talent, namun berambisi besar, dan seorang con artist kharismatik.

Apa yang membuat Big Eyes terasa generic adalah Tim Burton yang kurang melakukan penekanan pada konflik, serta strategi penyelesaian dan konfrontasi, termasuk salah satu momen yang terbuang percuma ketika Margaret sebenarnya mulai mengkhianati suaminya dengan tak lagi melukis dengan hati dan mulai mengawali “paint by number” pada satu kanvas besar untuk UNICEF. Tidak adanya niatan membuat Margaret sebagai karakter yang fight, termasuk kompromi demi kompromi yang ia lakukan inilah yang membuat Big Eyes hanyalah cerminan wanita yang selalu terjebak pada masalah rumah tangga yang abusive, biasa, dan semua orang sebenarnya mengalaminya. Dan, Tim Burton memperlakukan Margaret Keane dengan demikian adanya : bagaimana sebuah cerita ingin dipoles dengan make up skala Burton namun seminimalis, namun malah berakhir dengan tanpa kesan. At least, Burton made impression with his bad movies. (C+)

Director : Jean-Marc Vallée

Writer : Nick Hornby, Cheryl Strayed (memoir “Wild: From Lost to Found on the Pacific Crest Trail”)

Cast : Reese Witherspoon, Laura Dern

Am I dejavu or I really watch the movie “Tracks” twice ? Hah ! Tahun ini wanita sedang hobi jalan kaki. Setelah Tracks yang merupakan film dengan sinematografi indah, namun dengan karakter yang lebih menyerupai fatamorgana. Wild hadir dengan sisi keduannya : sebuah perjalanan yang bisa di-sharing dengan penonton.

Cheryl Strayed (Reese Witherspoon) memutuskan untuk melakukan hiking sepanjang ribuan miles untuk menemukan dirinya kembali setelah beberapa serangkaian tragedi menimpanya. Mulai dari kematian Ibu yang sangat ia cintai (Laura Dern), menjadi seorang junkies, juga menjadi pecandu sex, yang juga mengakhiri pernikahan dengan laki-laki yang ia sayangi.

Film yang disutradari oleh seseorang bernama Jean-Marc Valee – seseorang yang mengolah Dallas Buyer Club menjadi film andalan Mathhew McConaghey dan Jared Letto menyabet Oscar-nya – terbukti sebagai satu follow up yang lebih matang, meaningful, serta transformatif (tidak hanya secara fisik namun juga mental). Wild menjadi sebuah biopic yang begitu mudah di-absorb oleh penonton, menantang dari fisik perjalanan itu sendiri, dan dapat ter-relate mengingat cerita Cheryl Strayed ini sebanarnya bukan cerita yang luar biasa, namun bisa kita jumpai di diri orang lain/diri sendiri sehari-hari.

Dengan editing yang begitu tight menggabungkan sisi personal Strayed dalam bentuk flashback terbukti efektif untuk mendapatkan tour dua arah : sebab akibat dan bagaimana karakter senter harus berjuang untuk mengatasinya. Di tangan Vallee pula, sepanjang perjalanan diolah dengan berbagai memento masa lalu, yang membuat cara bercerita tak linear ini tak terasa membingungkan atau merasa kaku. Masalahnya, apa penonton melihat masa lalu yang tak terlalu luar biasa ? Jawabannya, iya. Laura Dern – spesialis wanita peng-handle kanker – kembali hadir dengan sentuhan Ibu yang begitu kuat, begitu hangat. Ia ibarat jantung dan hati dari perjalanan Cheryl Strayed, menghantui Strayed kemanapun ia pergi.

Wild bukanlah film total survival layaknya Tracks. Wild mengakses sisi kemudahan – membuat Strayed tidak harus thriving dalam kondisi yang terlalu ekstrem, karena sebenarnya perjuangannya adalah melawan/menakhlukan dirinya sendiri, dan inilah titik balik dari karir Reese Witherspoon. Performanya begitu mentah, berjalan antara sadar dan tidak sadar, mengetahui atau tidak apa yang ia sedang lakukan. Karakternya begitu bertahan di layar, dan juga di hati penonton, sekaligus film juga memberikan akses dengan voice over hatinya yang disuarakan tepat moment, membuat perjalanan Wild ini begitu authentic, serta untuk menambah meaning, beberapa quote-pun disisipkan.  Jika khawatir Wild akan jatuh sebagai satu film one woman show yang membosankan, harus diingat bahwa Reese Witherspoon adalah salah satu aktris yang bisa membawa satu karakter menjadi hidup – ia bisa membawa suasana (remember how June Carter is so charming), dan Witherspoon-pun memenangkan ombang-ambing mood yang begitu diperlukan dalam film seperti ini.

Akhirnya, Wild bia menyuarakan hati, melakukan tapak tilas perjalanan Cheryl Strayed yang sebenarnya tak terlalu “besar” dalam ukuran biopic, namun dengan pengarahan sutradara yang baik, editing yang pas, screenplay yang kuat, kemudian diperankan dengan pas, Wild adalah sebuah film yang bisa membesarkan cerita, tanpa harus memaksa karakter-nya untuk menghadapi konklusi yang dipaksakan. (B++)

Director : Isao Takahata

Writer : Isao Takahata

Cast : Chloë Grace Moretz, James Caan, Mary Steenburgen

It’s Gibli. Okay, no need review.

Just kidding.

Ketika berbagai studio menghasilkan animasi dengan visual yang luar biasa, Studio Gibli masih bertahan pada animasi sederhana mereka. Memperlakukan satu sifat “insist” untuk berubah sebagai satu bentuk mempertahankan legacy, dan itulah The Tale of Princess Kaguya. Simple, elegant, beautiful AS ALWAYS.

The Tale of Princess Kaguya mengambil cerita folktale berjudul The Tale of the Bamboo Cutter termasuk sajian yang aman untuk anak-anak (penuh dengan berbagai perjalanan) sekaligus dalam untuk orang-orang dewasa yang menemani mereka. Kesederhanaan sebuah cara bertutur dan bagaimana film ini ibarat tepat menembak dua target harus diakui jempol. The Tale of Princess Kaguya ibarat benar-benar sebuah dongeng yang selalu kita dengar semenjak kecil, namun bisa berubah seketika kita mulai dewasa, ketika kita memulai berpikir, meintepretasi ulang setiap makna dari goresan-goresan indah visual yang tergerakkan.

Dimulai dari seorang pemotong bambu (James Caan) yang tanpa sengaja melihat salah satu bambu bercahaya, dan ia menemukan seorang putri kecil nan cantik tertidur. Tanpa pikir panjang, ia membawanya ke rumahnya dan menunjukkannya kepada istrinya (Mary Steenberg) yang memang di usia senja mereka belum juga dikaruniai anak. Dengan kasih sayang instan melihat sosok putri itu, mereka memutuskan untuk membesarkan sang anak, walau sebenarnya itu tak memerlukan waktu lama. Anak itu diberi nama dengan “Bambu Muda”, karena pertumbuhannya di luar normal, ia memiliki sisi magic misterius sendiri. Seiring dengan tumbuhnya sang anak menjadi remaja gadis yang cantik, kehidupan sang pemotong bambu pun naik dengan signifikan, termasuk mampu membuatkan sang anak sebuah mansion di kota, mengajarinya tata cara menjadi seorang puteri, sampai memberikan nama Princess Kaguya (Chloe Grace Moretz) sebagai sebuah kedudukan sosialnya.

Princess Kaguya bukanlah dongeng kosong fantasi yang tak membawa apa-apa. Segalanya memiliki makna, termasuk sisi fantasi berupa miracle pertumbuhan di luar normal yang digunakan film sebagai tombol fast forward untuk film ini bisa mencakup fase hidup sang putri tanpa terkesan meloncat-loncat sehingga penonton tak merasa kelewatan sesuatu. Princess Kaguya merangkul sebuah perjalanan hidup dengan begitu sempurna (walau dari segi durasi memang panjang), mulai dari masa kita lahir (dalam kasus film ini, misteri datangnya tokoh sang putri selalu menimbulkan pertanyaan eksistensial untuk penonton, “Darimanakah kita ?”), masa anak-anak dimana semuannya terlihat tak menjadi masalah dibalut dengan kesederhanaan, masa tumbuh besar (bagaimana film selalu menuntut sang karakter untuk menjadi dewasa – beruntungnya dalam English version disuarakan oleh Chloe Grace Moretz yang masih terdengar sisi audacity dalam suaranya), sampai masa akhir dalam hidup yang diperhalus agar tetap watchable untuk anak-anak namun mengandung makna yang sangat dalam tentang afterlife.

Pada salah satu fase hidupnya, Princess Kaguya terjebak dalam istana-nya, terjebak dalam usaha parenting sang ayah yang mengejar kehormatan, sampai saat ia dihadapkan pada beberapa pangeran yang ingin menikahinya sementara hari sang putri tertambat pada sosok Sutemaru (Darren Chris) – teman masa kecilnya. Terkesan sebagai gimmick untuk dongeng anak-anak, namun pangeran-pangeran ini merupakan sebuah perlambangan konsekuensi hidup yang harus dihadapi oleh sang Putri. Tak peduli mau seberapa bersih sebuah karakter, selalu saja ada tindakan inevitable yang mengotorinya, dan The Tale of Princess Kaguya tak pernah menyederhanakan sisi ini. Inilah yang membuat film ini begitu dalam untuk dianalisa, begitu sedap untuk dipandang, sekaligus begitu mengalir dalam kesederhanaan untuk disimak. Dan, memang begitulah seharusnya sebuah dongeng diceritakan. (B++)

Director : Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne

Writer : Jean-Pierre Dardenne, Luc Dardenne

Cast :  Marion Cotillard, Fabrizio Rongione

Tahun ini, kembali ajang Best Actress dianggap sebagai race yang lemah. Empat slot telah diduduki dengan manis oleh Moore, Pike, Jones, dan Witherspoon. Sementara satu slot beberapa minggu lalu masih menjadi misteri. Apakah Aniston yang mendapatkan major buzz ? Atau seperti biasa Amy Adams, atau bahkan Hilary Swank ? Dan nama yang muncul adalah Marion Cotillard – yang harus berterimakasih kepada media atau kritikus yang melakukan kampanye terhadap dirinya sebagai dark horse yang memang layak dinominasikan.

Dan, benar. Two Days, One Night tak akan lengkap tanpa sisi vulnerability dari seorang Cotilard. Perannya sebagai seorang Sandra menggerakan roda karakter dalam sebuah film yang sarat akan isu sosial. Quick question : Apa yang paling diharapkan dari seorang pekerja ? Yah, bonus. Apa yang ingin disingkirkan / dihindari seorang pekerja ? Yah, kompetisi. Two Days, One Night menggabungkan dua pertanyaan ini sebagai dua kutub atas pertanyaan moral yang harus dijawab, dan Dardenne bersaudara memperlakukannya seperti door to door survey yang menyenangkan, sekaligus menyayat hati.

Dengan bunyi ringtone yang bisa di-relate penonton (i admit that is my morning alarm), Sandra (Marion Cotillard) terbangun dalam keadaan sangat lelah menerima telepon dari temannya, bahwa suara mayoritas teman-teman sekerjanya memutuskan untuk mengeluarkan Sandra demi bonus 1000 euro. Sounds harsh, yes ? Namun, hal ini beralasan, Sandra dalam keadaan paska depresi, dan dalam masa vakum-nya, teman-temannya harus bekerja overtime, sedangkan manager mulai menyadari bahwa pekerjaan bersama mereka bisa dilakukan hanya dengan enam belas orang, ketimbang tujuh belas orang. Disinilah keteguhan Sandra diuji, ketika ia dengan suaminya (Fabrizio Rongione) harus mendatangi keenam belas orang tersebut untuk meyakinkan mereka tidak mengambil bonus pada hari senin saat suara final mulai ketok palu.

Julianne and I Dumont on Friday. He’ll hold another ballot Monday Morning.” – sebuah line repetisi yang Sandra katakan mewakili sisi nervous-nya dalam scripted introvert saat mengutarakan keinginan. Naturalisme, itulah yang ingin dicapai Dardenne, dan mereka berhasil membentuk sebuah cerita yang compelling dengan sisi ini, kadang dengan loong take dan tanpa scoring yang mengintervensi. Lambat, personal, jujur, namun menarik untuk disimak. Diiringi dengan sisi genuine Sandra sebagai karakter sentral, tak ada aktris yang memiliki matanya, memiliki gesture lemah tubuhnya, roller coaster dari emosinya. Dari hal sederhana seperti “meminta”, Sandra bisa diuji dengan berbagai rentetan tuntutan : ekonomi, moral judgement,  sosial, termasuk permainan “If I am in their shoes…….”, yang tak pernah menguntungkan dirinya.

Tak punya hati jika penonton tak memandang Sandra sebagai karakter yang patut diperjuangkan, namun Dardenne juga menyeimbangkan dua sisi tersebut dengan menempatkan posisi kompleks terhadap orang-orang yang Sandra jumpai. Beberapa langsung bersimpati padanya, beberapa langsung menunjukkan bahwa posisi mereka pun tak jauh berbeda dengan Sandra : tak memiliki pilihan, beberapa diantaranya tak berani menjumpainya, termasuk salah satu temannya yang begitu menyakiti hati Sandra dengan menyuruh anak perempuannya lewat interkom untuk menerima pesan. Setiap keputusan teman-temannya (bahkan ketidaberdayaan suaminya) membawa Sandra pada titik-titik rapuh baru antara optimis dan pesimis, sampai suicidal.

Untuk beberapa orang Two Days, One Night mungkin pointless (talk, talk, talk, talk), namun Cotillard dan Dardene mengubahnya dengan sebuah ending yang memuaskan secara emosi yang semakin membuktikan sesuatu yang dijunjung sepanjang film : effort the only thing that matters. Kemudian, Two Days One Night mengakhiri durasinya sebagai film yang mempelajari populasi sosial dengan sebuah character study sebagai sample yang dalam, kaya dan fascinating. (A–)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s