The Riot Club (2015) : Discomforting Priviledge of Maximally Wealthy, Filthy, Rich, Spoilt, Rotten Brats

Director : Lone Scherfig

Writer : Laura Wade (play), Laura Wade (adaptation)

Cast : Sam ClaflinMax Irons, Holliday Grainger, Sam Reid, Natalie Dormer, Ben Schnetzer

(REVIEW) Apakah yang disebut sebagai “an education” ? Papan tulis berwarna hitam bertuliskan panduan “dos” or “donts” atau langsung kehidupan nyata berupa experience yang digabungkan dengan insting manusia melibatkan dirinya sendiri ke sebuah event dan merasakan hasilnya ? Yah, pilihan kedua sepertinya terlihat lebih tak membosankan. Dan The Riot Club merupakan bentuk jalan pulang Lone Scherfig setelah “sedikit” terpeleset lewat One Day-nya.

Berbicara tentang pelajaran di “kelas”, tak ada tempat yang lebih tepat selain membicarakan sistem kelas di Inggris – kelas pekerja, kelas borjuis, Ratu Elizabeth, dan apa yang lebih eksklusif ketimbang diterima di salah satu universitas terbaik dunia seperti Oxford ? Yah, jawabannya adalah The Riot Club (atau yang lebih tepatnya ditulis “THE RIOOOT CLUB !!!!!!!!) yang merupakan sebuah grup private turun temurun yang mengambil kaum kelas atas sebagai anggotanya, yang tak pernah melebihi dari jumlahnya sekitar sepuluh orang. Diangkat dari play berjudul Posh, yang sedikit banyak berdasarkan dari sebuah grup bernama Bullingdon Club, The Riot Club bukanlah produk metafor, melainkan sebuah aksi bersenang-senang yang *surprisingly* tak segan-segan menyentil langsung tema sensitif seperti moral dengan segala mundane activities-nya dalam waktu yang bersamaan.

Miles (Max Irons) dan Riley (Sam Claflin), dua mahasiswa baru yang selalu bersinggungan seperti melakukan pertukaran kamar atau melakukan tugas essay bersama. Namun, keduanya sangat berbeda, terutama ketika Miles lebih santai menghadapi awal kuliahnya dengan menemukan pacar baru, sementara Riley terlihat tertekan dengan segala bully termasuk dari keluarganya. Saat keduanya masuk nominasi menjadi anggota The Riot Club – sebuah club yang memiliki image sendiri, terciptalah rivalry yang akan menentukan masa depan mereka.

Miles dan Riley buklanlah representasi pas untuk menceritakan sinopsis dari sudut pandang mereka. Tidak seperti An Education yang melambungkan nama Carey Mulligan, The Riot Club adalah sebuah kerjasama tim dibantu dengan jajaran aktor-aktor muda Inggris yang berbakat – yang menjadi kekuatan film ini. Satu jam pertama, penonton disuguhkan dengan sebuah permainan bagaimana sebuah nilai moral atau apapun itu ternyata bersifat begitu relatif. Baik Miles dan Riley menjalanai inisiasi ektrem mulai dari meminum koktail (yang tidak ketahuan berisi apa, spoiler : air liur, upil, dan lain-sebagainya) sampai menuangkan botol anggur mahal dengan sia-sia sebagai sebuah lambang hedonisme. Semuannya terlihat menyenangkan. Bahkan, untuk beberapa saat The Riot Club terlihat seperti benar-benar klub berkelas dengan berdiskusi di depan fireplace, dengan pakaian rapi, sedikit tersirat bahwa orang-orang ini memiliki intelijens. Kemudian, di paruh kedua adalah awal bagaimana film ini menyeret nilai yang hampir sama, namun tidak lagi dipandang secara internal melainkan lewat sebuah culture makan malam “berbahaya” setelah Miles dan Riley diterima – inilah bentuk Laura Wade mempersembahkan sebuah nilai kemudian berubah ketika meja yang dipakai menghidangkan adalah sebuah ranah publik.

Memberikan transisi dari play ke sebuah layar bukanlah hal yang mudah, dimana kita sama-sama mengetahui bahwa setiap moment di play pasti memiliki makna, yang terkadang terlalu kaku untuk ditampilkan dalam jalinan sebuah film, dan disinilah Lone Scherfig berperan dengan cukup halus membuat The Riot Club bukanlah adaptasi dengan gerakan kaku, namun cukup fleksibel untuk dilihat penonton – walau pada beberapa titik memang terkesan kurang penekanan. Datangnya karakter Charlie (Natalie Dormer) sebagai pelacur yang memberikan elemen mengejutkan tentang stereotype penerimaan moral dimana ia menolak untuk memberikan blowjob terhadap sepuluh orang adalah sisi yang menunjukkan sebagaimana ektrem dari standar yang berlaku dalam The Riot Club sendiri. Atau saat salah satu anggota grup memanggil pacar Miles – Lauren (Holliday Grainger) untuk melakukan hal yang sama, yang seakan-akan memberikan kesan bahwa tak ada skala perbedaan The Riot Club ini membedakan perlakuan terhadap, lets say, the lowest class (pelacur) dengan the working class. Kemudian, hadirnya manager restoran yang terjebak pada konsep materialisme dengan mengambil “untung” dari keberadaan kelas atas ini, merupakan sisi sosial lain yang cukup menarik diamati.

The Riot Club adalah film yang cukup disturbing, sulit untuk menyetel mata di layar, dengan berbagai perlakuan dan minimnya karakter yang cukup likeable, atau jika mereka likeable mereka tak pernah berani mengambil aksi. Di tangan yang salah, The Riot Club hanyalah sebuah projek shallow yang akan berakhir sebagai sebuah Project X dengan setting restoran fancy dan pakaian yang terjahit sempurna, namun ditangan Scherfig, segala bentuk violence cukup terakumulasi dari segi emosi dan masih terlihat spesial, walau untuk sebuah film yang mengajak penonton untuk berdiskusi, The Riot Club tak pernah melakukan gebrakan yang mengejutkan.

Hadirnya cast berbakat yang mampu mengambil perhatian walau karakter mereka terlalu negatif dan tipis atau singkat dalam skenario untuk mengambil impresi seperti Ben Schnetzer yang mengemis uang menggunakan bucket di Pride dan melakukan hal sebaliknya di film ini, atau sisi gay yang cukup nampak dari seorang Sam Reid, leader yang kehilangan power-nya lewat penampilan Freddie Fox, penampilan cukup lumayan dari Max Irons, dan yang paling mengejukan adalah Sam Claflin yang menanggalkan penampilan charming-nya menjadi raja di tengah villain yang merajalela.

Third act dari The Riot Club memang sedikit problematik. Satu sisi, film ingin menunjukkan bagaimana karakter-karakter ini menyelesaikan masalahnya dengan melempar balik issue yang sepertinya tak pernah menjadi masalah untuk mereka, di sisi lain, Scherfig ingin mempertahankan sisi natural bagaimana sebuah masalah dipecahkan. Hasilnya, kadang terlalu halus untuk sebuah film yang tak pernah memiliki intention untuk menjadi subtle. Terlepas dari itu semua, The Riot Club masih merupakan sajian yang cukup sensasional, menghidupkan judulnya sebagai komitmen utamanya. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s