Faults (2015) : Baffling, Unsurprisingly Surprising Cults’ Method, yet That’s How It’s Supposed to Work

Director : Riley Stearns

Writer : Riley Stearns

Cast : Mary Elizabeth Winstead, Leland Orser

(REVIEW) Mengapa seseorang mau-maunya masuk dalam sebuah cult yang tentu saja jika dilihat dari kacamata “normal” pasti akan terasa sebagai sesuatu yang aneh ? Randomly speaking, mungkin ada beberapa jawaban : cult selalu terkesan welcome, cult bermain pada orang-orang yang sedang tersesat, dan cult tak pernah mencoba terlalu keras untuk memaksakan metodenya, namun di titik inilah, sebuah cult mencuri pikiran dan siap melakukan misi pencucian otaknya. Disinilah mengapa Faults dianggap berhasil menghadirkan tema cult ini. Surprising, but not surprisingly surprising.

Ansel (Leland Orsen) dulunya adalah seorang bintang televisi, juga pengarang buku, sekaligus public speaker, dan seorang deprogrammer orang-orang terkena efek paska mengikuti sebuah cult, namun kini kehidupan yang ia miliki jauh dari kata dihormati. Ia memungut voucher hotel yang telah ia gunakan untuk kembali menikmati hidangan di restoran, ia mencuri berbagai barang di hotel, sampai seminar yang ia adakan jauh dari peminat, dan melupakan bahwa masih ada orang yang mau membeli bukunya dari self publishing. Dihimpit hutang dan tekanan sana-sini, Ansel tak memiliki pilihan lain kecuali ketika sepasang suami istri menginginkan Ansel untuk membantu mengembalikan putro mereka – Claire (Mary Elizabeth Winstead) yang baru saja pulang dari mengikuti sebuah kegiatan cults, bernama Faults.

Masih ingat dengan film tentang cult lain yang membuat kita merinding ? Yeah, jika masih ingat dengan ending Martha  Marcy May Marlene yang begitu chilling berarti kita memiliki satu pikiran yang sama. Kesuksesan film yang dibintangi Elizabeth Olsen itu sedikit banyak karena penonton masih dibuat berpikir bahkan setelah credit roll berjalan. Begitu pula dengan Faults, film ini menyajikan banyak dry comedy yang mungkin membuatnya memiliki atmosfer berbeda, namun film ini begitu komitmen dengan tidak terlalu mengumbar deskripsi tentang apakah Faults itu atau mengumbar twist dengan cara yang mencolok. Inilah kunci dari kesuksesan Faults. Faults memberikan twist-nya di saat penonton tak mengharapkan twist itu datang. Jauh dari kata provoking, Fault seumpama memberikan jawaban yang tak disangka, tanpa penonton diberikan pertanyaan pada awalnya.

Fault memiliki premise yang menarik. Bahasa kerennya : duel brainwashing. Setelah menyetujui permintaan orang tua Claire, Ansel terpaksa menculik Claire di sebuah hotel terpencil dimana ia sendiri berhadapan dengan Claire untuk menanggalkan segala kepercayaannya tentang Faults. Kunci pertama menikmati film ini : jangan mencari diskusi berat satu karakter mempengaruhi karakter lain, atau berusaha memahami metode Ansel berhadapan dengan Claire yang malah bersifat begitu welcome dengan keberadaan musuhnya. Faults tak membiarkan penonton merasakan situasi yang berbahaya, atau bizarre seperti yang dilakukan banyak film tentang cult lainnya. Terus apa yang menggerakkan film ini ? Adalah performance dari Leland Orsen yang begitu pathetic kebingungan menghadapi Mary Elizabeth Winstead yang menyajikan salah satu penampilan terbaiknya – dimana tak kaget jika dia mencoba total bermain disini karena disini ia juga berperan sebagai produser. Keduannya begitu luwes melebutkan berbagai percakapan yang kaku, tak pernah sampai pada level intens atau emosional, namun kharisma dari keduannya selalu menarik perhatian penonton. Ditambah dengan berbagai kejadian aneh mulai terjadi semenjak keduannya berhadapan secara personal di dalam ruangan : Ansel yang tiba-tiba mimisan, atau aroma tubuh Claire yang menebarkan aroma floral, sampai yang paling ektrem ketika Claire tertidur di luar kamar, padahal sebelumnya ia dikurung di kamar mandi terkunci, yes ! like astral projection. Sementara karakter Claire adalah total misteri, karakter Ansel adalah sisi open book yang bisa dilihat dari berbagai sisi, termasuk salah penyesalannya ketika ia mencoba mengobati mantan pasiennya yang berujung tragis.

Disajikan seperti sebuah puzzle yang sudah kelihatan bentuk rupanya, Faults melakukan deprogramming pada ekspektasi penonton dengan melakukan pemotongan-pemotongan misteri dan yang tak menjadi kejutan film menjadi berekspansi kemana-mana. Apakah Faults adalah film tentang Ansel ? Atau, apakah film tentang Claire ? Atau apakah film ini tentang orangtua Claire yang berangsur-angsur menjadi misteri, ditambah dengan sekelibat hubungan ayah dan anak yang sepertinya kurang wajar ? Tetapi, disinilah Faults menemukan sedikit realisme-nya pada film yang kaya akan “miracle” dan menjadi tak terperangkap pada prosedur yang akan sulit dinikmati. Dengan kata lain, Faults sedikit kehilangan identitasnya, hanya untuk menemukan identitas yang baru.

Faults berakhir sebagai sebuah film yang berani melakukan, sekali lagi, astral projection, pada permainannya sendiri. Berani keluar dari lingkaran untuk berada pada vantage point tertentu sebagai film yang berbeda, sekaligus sedikit banyak mencuri pikiran penonton dengan usaha yang penonton sendiri tak sadari. (B+)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s