Fifty Shades of Grey (2015) : Yeah, Bad Aphrodisiac for Erotic Drama, but “What Do You Really Expect ?”

Director : Sam Taylor-Johnson

Writer : Kelly Marcel (screenplay), E.L. James (novel)

Cast : Dakota JohnsonJamie Dornan

Fifty Shades of Grey, atau yang mungkin lebih tepat disebut dengan Filthy Sex of Grrrrrrey adalah sebuah novel bestseller karya E.L James yang dirilis tahun 2012, dan juga mendapatkan julukan Mommy Porn. Dengan penjualan yang fantastis, E.L. James yang saat itu sudah tak muda lagi, masih mampu mengembangkan fantasi nakalnya sampai dengan tiga buku, diikuti oleh Fifty Shades of Darker, dan Fifty Shades Freed. Novel bertemakan drama erotis sudah sangat banyak, namun apakah yang membuat buku ini begitu berbeda ? Itulah yang membawa ketertarikan untuk membaca buku ini. Memang cheesy, dalam artian cheesy yang cukup menarik pada awalnya, walau E.L James menulisnya dengan bahasa yang kurang menarik, namun hasrat orang yang horny memang tidak bisa dibendung apapun. Adegan seks pertama cukup mendapat perhatian, kemudian ibarat orang yang terkena ejakulasi dini, Fifty Shades of Grey terus-terusan memaparkan adegan seks yang makin lama semakin menjemukan, hingga akhirnya buku ini berakhir pada satu kata : skip.

50 Shades of Grey

source : http://www.impawards. com

Bentuk representasi ke-horny-an para fans pun muncul ketika kabar buku tersebut akan difilmkan. Siapakah yang akan menjadi Anastasia Steele, dan terutama, siapakah yang menjadi Christian Grey ? Nama kelas A mulai dari Emma Watson sampai Shailene Woodley, mulai dari Matt Bomer sampai Charlie Hunnam pun bermunculan. Tak kaget memang. Kapan lagi mendapatkan kesempatan untuk melihat aktor atau aktris kesayangan bisa tampil bugil yang tidak hanya sekedar sekejap saja. Dan ditangan Sam Taylor Johnson yang akhirnya menggandeng Dakota Johnson dan Jamie Dornan, foreplay dari yang sepertinya akan menjadi trilogi pun berawal.

Anastasia Steele (Dakota Johnson) – seorang mahasiswa literatur menggantikan temannya untuk mewawancarai seorang pengusaha terkenal, philanthropist, dari dinasti kaya, Christian Grey (Jamie Dornan). Tak ada yang salah terlihat dari keduannya.  Anastasia hanyalah mahasiswa yang kagok, dan Christian adalah sosok tampan yang berusaha menjaga image-nya. Namun hal itu berakhir ketika Anastasia menggigit dengan begitu sensual yang Christian berikan, dan itulah indikasi pertama ada yang salah dengan Mr. Grey yang satu ini.

Pemilihan casting Dakota Johnson bisa dikatakan cukup mewakili para fans, paling tidak saat membaca novelnya, serta namanya yang cukup menarik, Dakota Johnson adalah yang di pikiran. Terdapat keeleganan  tersendiri, disisi youth sekaligus sesuatu yang “belum” pernah terjamah oleh penonton. Namun kemudian, Jamie Dornan menggantikan Charlie Hunnam adalah salah satu bentuk sisi desperate dari studio untuk menarik aktor yang bisa membawa kelas, di peran yang cukup filthy ini. Bukan karena Jamie Dornan adalah model underwear atau apa, namun sisi akting yang sepertinya masih meragukan untuk memerankan karakter yang paling captivating di novelnya. Dan, benar, awal film ini tidak terlihat seperti seorang milyuner mengejar gadis pujaannya, melainkan lebih mirip seperti anak remaja yang sedang dirundung hormon, dengan segala sisi creepy-nya melakukan stalking dengan berbagai dialog-dialog yang cukup cheesy.

Fifty Shades of Grey pun, dengan sudah diprediksi, terjerumus bagian-bagian cliche yang sering terdapat pada romcom murah : it’s my first kiss, it’s my first sex, it’s the first time I sleep with someone in my bed, laters baby etcetera, etcetera. Kegagalan screenplay untuk mengolah karakter Mr. Grey sebagai karakter misterius pun nyaris kosong.  Film ini seperti mendapat pengetahuan bahwa penonton telah membaca novel sumbernya, sehingga hal tersebut tak perlu ditambahkan lagi. Atau mungkin juga kaliber Jamie Dornan yang belum bisa bisa mengangkat materi setipis ini. Belum juga terhitung bagaimana film sama sekali tak membangun tingkat atraksi diantara kedua aktor-aktris ini. Semuannya terjebak pada serba instan, seperti orang yang benar-benar sedang terangsang dan ingin langsung “bermain” saja.  Cumcumcumcumcum, I mean, comecomecomecome.

Mendapatkan poin start yang tak begitu bagus, Fifty Shades of Grey paling tidak memiliki issue yang cukup menarik yang menyelebungi seks itu sendiri. Ketika Anastasia mulai jatuh cinta, Christian Grey membuka ruangan merah rahasinya yang mengungkapkan bahwa ia seorang penkmat seks gaya ekstrem – BDS something, sebuah kontrak yang menginginkan Anastasia menyerahkan tubuhnya untuk Christian Grey-pun menjadi sebuah sisi menarik bagaimana cinta, komitmen, gairah bisa menjadi lingkaran cinta yang cukup complicated.

Harus diakui komitmen terbesar diberikan pada Dakota Johnson – bagaimana tidak. Hampir di setiap sex scene ia tak malu-malu lagi untuk bermain total dalam “ukuran” yang tersendiri. Bagaimana ia pasrah, diikat, dicambuk, dimasukkan bola besi ke dalam a-oh yang itu tidak masuk di film, cukup menggambarkan bagaimana ia memberikan sebuah sisi pathetic ketika seorang perempuan nekat menuruti kemauannya. Namun, terlepas dari sex scene yang cukup sensual dengan alunan sountrack yang sama pula, Dakota Johnson masih stuck untuk mengolah isu BDSM sendiri di luar adegan-adegan tersebut. Diikuti dengan Jamie Dornan yang tampil datar.

Tak pernah ada rasa intim di setiap sekuens seks-nya. Tak ada akumulasi. Tak ada perkembangan emosi. Fifty Shades of Grey terus melakukan kesalahan pada novelnya, sepasang anak muda yang “uhm, we won’t do sex before (fill the blank), but fuck it”. Walaupun memang diakui, Fifty Shades of Grey adalah motion picture yang memiliki ribuan, bahkan jutaan kata yang lebih baik daripada yang pernah author-nya tulis.

Deangan tanpa karakter, masalah yang pernah ditekankan, film ini seperti tak memerlukan masalah untuk diselesaikan. Disinilah akhir Fifty Shades of Grey mengeluarkan amunisi terakhir-nya : change of heart. Dengan apa yang dilakukan di sepanjang film seperti sebuah pengulangan yang bergerak layaknya reset button, tanpa ending yang memuaskan, Fifty Shades of Grey menjadi aphrodisiac yang membosankan, mengecewakan, dan mudah terlupakan. Tepat sekali seperti sebuah film semi porno, hanya saja kini, (and still counting) dengan 500 juta dollar Amerika pendapatan. Dan harus dikembalikan lagi kepada penonton sebuah pertanyaan yang menjadi advantage film ini untuk menjadi ignorant  “What do you expect ?”, tepat sekali seperti franchise Twilight. (C)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s