Filosofi Kopi (2015) : Brew-mance Smoothly Grinds and Blends Allotment of Personal Flavours

Director : Angga Sasongko

Writer : Jenny Jusuf

Cast : Rio Dewanto, Julie Estelle, Chico Jericho

(REVIEW) Pikirkan satu hal ! Benda apa yang bisa dibuat sederhana namun dengan mudah bisa terihat sophiscated ? Banyak hal sebenarnya, namun tak ada yang sedekat seperti minuman yang satu ini : kopi. Begitulah ketika salah satu karakter dengan eloquent-nya menjelaskan filosofi yang terdapat pada sebuah cangkir kopi, mulai dari kopi tubruk sampai cappucino. Dan begitulah Filosofi Kopi dikemas. Mencampurkan berbagai rasa mulai dari passion, bromance, business matters, and a little bit of Julie Estelle.

Filosofi Kopi

Dan, jika ada sisi pahit dalam satu cicipan pertama sebuah kopi, itu adalah shaky cam yang digunakan Filosofi Kopi. Seperti seakan sedang melakukan stirring (i know it doesn’t have to be subtle, duh !), shaky cam dalam film ini cukup menyebalkan untuk dilihat (but don’t go !), mungkin inilah ibarat film ingin menaburkan bubuk kafein di muka kita. Ditambah dengan banter yang dilakukan duo leading men-nya, Filosofi Kopi adalah film yang memiliki awalan kurang menyenangkan, namun sedikit demi sedikit berubah lebih baik, sampai akhirnya bisa masuk ke kedalaman yang “lain” ketimbang apa yang diisyaratkan judulnya : being  personal.

Ben adalah barista berbakat yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk meracik kopi, sayangnya hal ini tak membuat Filosofi Kopi – nama kafe dimana Ben bekerja – terhindar dari masalah finansial yang harus dihadapi sang owner – Jody (Rio Dewanto). Hutang mendiang ayahnya dan tak adanya kerjasama yang baik antara Ben dan Jody membuat biaya operasional membengkak tanpa diselingi dengan pemasukan yang memadai. Film ini memang ajang untuk Dewanto dan Jericho. Di paruh pertama kita akan melihat sajian ringan komedi antara mereka berdua saling bersahutan melawan perbedaan karakter satu sama lain. Ben dengan segala sisi passion yang tak masuk akalnya – dengan ditambah sisi idealis yang tak pernah bisa dikompromikan dengan sisi realistis nan analitis seorang Jody. Ketika mereka mendapatkan tawaran beresiko tinggi dari seorang pengusaha untuk menghadirkan satu cangkir kopi terbaik, masing-masing sisi dari diri mereka salah satunya harus dikorbankan.

Apa yang paling menarik dari Filosofi Kopi adalah bagaimana sang penulis mampu menerjemahkan bagaimana kopi bisa memiliki berbagai rasa walau berasal dari biji yang sama. Biji itu adalah hubungan anak dan ayah yang diibaratkan sebagai pengembang cerita untuk masuk ke dalam level yang lain. Dan, menariknya skenario melakukannya dengan sabar, dengan penuh warna (membagi paruh pertama menjadi komedi, paruh kedua dengan intensitas lebih), kemudian merangkul semua karakter menjadi tak terlihat dangkal (bahkan sampai supporting actor/actress-nya).

Pertama kita melihat Ben begitu likeable namun dengan seiring berjalannya film, he’s an selfish asshole. Menolak fasilitas Wifi di kafe-nya sampai menolak untuk bekerja di jam makan siang, karakternya hanya membuat penonton merasakan penderitaan Jody untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, termasuk berhadapan dengan cameo seorang Joko Anwar. Namun, apa yang menyelamatkan karakter Ben ini adalah sisi komik dari seorang Jericho yang tak terlihat dipaksakan namun selalu tepat sasaran. Jericho begitu men-justifikasi sisi egois seseorang mempertahankan sisi perfeksionis-nya, bahkan ketika ia harus mengorbankan sisi finansial sang sahabat. Sisi egois itu terbayar ketika Ben akhirnya mampu meracik kopi yang digemborkan sebagai kopi terbaik di Indonesia, atau di Jakarta, dinamai dengan Perfecto. Datanglah El (Julie Estelle – perfect-er than Perfecto, as always) – seorang penulis buku yang sedang melakukan riset, yang akhirnya harus menjatuhkan signature coffee dari Ben dengan mengatakan bahwa kopi terbaik yang pernah ia minum adalah secangkir seduhan kopi sederhana dari seorang petani sederhana yang dinamai dengan Kopi Tiwus. Kopi Tiwus inilah yang membawa Ben ke perjalanan personal-nya.

Kita akan mendapatkan banyak pertanyaan mengapa Ben selalu bersikap menyebalkan, termasuk mengapa ia tak mau diajak naik gunung untuk melakukan riset tentang kopi tiwus. Jawabannya adalah flashback tentang masa kecil Ben. Tak sempurna dan tak seimbang memang sisi flashback ini (bisa dikatakan terlalu drama), apalagi jika dibandingkan dengan usaha gentle yang dilakukan Jericho menjembatani perasaannya sehalus mungkin tanpa kata-kata. Bagaimana film ini ingin ber-monolog menyampaikan satu pengalaman pahit karakter tentang orang tua mereka memang tak pernah se-powerful yang diinginkan. Tak sempurna, tapi diperlukan, termasuk salah satunya ketika film juga menghadirkan perspektif dari orang tua (Slamet Rahardjo, Jajang C Noer) ke anak semakin memperkaya film ini sendiri.

Dengan blending yang cukup halus melakukan transisi, Filosofi Kopi berjalan ke jalur internal tentang apa yang Ben alami. Inilah yang membuat Jericho sebagai bintang utama. Ia meng-embrace setiap tahapan, effortless, walau sampai sekarang masih sedikit kecewa dengan begitu sederhananya dengan solusi dari masalah tantangan 1 Milyarnya ? Akan tetapi hal ini bisa dikatakan sebagai langkah yang bijak. Filosofi Kopi tidak menekankan menjadi sebuah film tentang coffee-porn, dengan seruputan bermakna seperti di iklan komersial, Filosofi Kopi adalah perjalanan yang cukup dalam sekaligus familiar, namun tak kehilangan estetika-nya, sekaligus sisi mudanya yang terepresentasi dari musik Glen Fredly.

Negatifnya, atau bukan negatifnya, kehadiran Julie Estelle sepertinya kurang bisa termaksimalkan. Ya, dia hanya supporting, namun kita selalu tahu bahwa dia memiliki potensial. El yang hadir sebagai sebuah elemen pengoyak cenderung terlalu anggun, let alone to confront Ben’s high ambition. Namun, cukup dengan kehadirannya yang membawa ambience kalem dan memfokuskan cerita pada chemistry dan conflict Jody-Ben, semuannya dengan mudah dimaafkan. Plus, that post credit scene, is that for romantic purpose ? Or “making peace”-purpose, menjadi salah satu hal yang disukai dalam film ini : biarkan penonton meng-interpretasi rasanya sendiri.

So, this brew-mance is not perfect, but how it handles all of the various flavours into such coffee-rsonal story in a way without being aggravated is quite good, gentle. Impossible to say, it’s not cup of my coffee tea (B)

By the way, dimana bisa menemukan anak gunung namanya Ben ? What’s his name again ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s