Lost River (2015) : Vivid Visuals, Interesting Ideas, yet Heavy Handed Direction Contrives It to Flow

Director : Ryan Gosling

Writer : Ryan Gosling

Cast : Christina Hendricks, Iain De Caestecker, Matt Smith. Ben Mendelsohn, Saoirse Ronan

(REVIEW) How to Catch a Monster, itulah judul film ini sebelumnya, mendapatkan booing di Cannes dan menghilang. Lost River menjadi begitu menarik karena tangan kreatif di belakangnya adalah aktor yang cukup memiliki kredibilitas di generasinya, Ryan Gosling. Dan setelah terakhir kali membintangi film Only God Forgives yang mendapatkan reaksi terpolar, Lost River menghadapi muara yang sama.

Jika melihat poster sekilas film ini, yah jangan dibuat berpikir ini adalah sekuel dari Only God Forgives, namun pengaruh Nicholas Wind Refn begitu kuat dalam setiap warna, setiap violence, dan surealisme yang dihadirkan Gosling yang memegang penuh kontrol di penyutradaraan dan penulisan. Cerita berat ? Hmmm, sebenarnya tidak. Dibanding sebagai sutradara yang masih terlihat mengawang, Gosling lebih menarik sebagai seorang screenwriter yang ternyata memiliki banyak ide-ide besar menggabungkan drama dan fantasy dengan banyak karakter, banyak subplot, namun tak begitu convoluted. He got talents. Sayangnya untuk menjembatani ide ini untuk tidak hanya tersampaikan, namun juga merasuk ke dalam penonton sepertinya masih merupakan perjalanan panjang bagi Gosling.

Billy (Christina Hendrick) adalah single parent dengan dua anak, satu yang masih balita, dan satu yang beranjak dewasa. Tinggal di sebuah kota dengan banyak reruntuhan, termasuk rumahnya yang akan bernasib sama jika ia tak membayar tunggakan uang. Inilah yang membawanya pada seorang bank manager (Ben Mendelsohn) yang memberinya pekerjaan di sebuah dunia malam yang aneh dan penuh misteri. Di sisi lain, anak remajanya – Bones (Iain De Caestecker) mulai mempereteli tembaga di sepanjang kota juga untuk bertahan untuk hidup. Situasi semakin berbahaya ketika ia menghadapi seorang berandalan bengis (Matt Smith) yang menguasai kota, sementara ia sedang mendekati seorang gadis cantik samping rumah – Rat (Saoirse Ronan) yang mulai menceritakan “legenda” kota tenggelam yang membawa spell sendiri pada kehidupan mereka sekarang.

Kita tahu bahwa Gosling adalah salah satu aktor yang cukup picky, jadi tidak mungkin jika film debutannya dibuat se-so-so mungkin tanpa meninggalkan impresi. Dan, kali ini paling tidak Gosling mengambil resiko dengan seakan-akan membuat film artsy, penuh dengan simbol yang menyatukan masing-masing subplot namun dalam hal yang sama bahwa masterpiece, atau cults tidak dibuat dalam waktu yang singkat. Gosling memasang semua visualisasi indah hanya sekedar tempel : sebuah sepeda yang terbakar, sebuah ruangan yang berpendar, atau persepktif saat bangunan di-runtuhkan, sampai penampakan bawah air kota yang tenggelam yang memiliki feel tersendiri. Setiap scene hanya visual yang tak sepenuhnya stylish, ataupun tak sepenuhnya surreal, namun tak sepenuhnya memiliki celah rumit yang meminta penonton untuk menelaah sisi komprehensifnya.

Beruntungnya, setiap momen yang bisa dibilang tak berarti tersebut tak membebani sisi ambisius dalam segi cerita. Jalan cerita mulai mudah dibaca mau dibawa kemana, walau nyatanya tak semengalir apa yang diharapkan karena sntuhan yang terkesan heavy handed membuat film terasa kaku. Ditambah dengan setiap karakter yang ter-segmented satu sama lain tanpa membuat interaksi berarti dengan dunia di samping mereka : Billy dengan anaknya dan begitu sebaliknya, atau Bones dengan kehidupan baru ibunya, atau Bones dengan Rat yang hanya sekedar berjalan, membuat tak ada aliran konflik drama yang kuat dalam film ini, terutama ketika film ini berusaha menggabungkan antara drama tuntutan hidup, kejamnya dunia luar yang masih menyimpan misteri-nya sendiri, sampai dunia fantasi yang juga masih menyimpan misterinya sendiri.

Aset terbesar yang dimiliki Gosling adalah para aktor –aktrisnya terutama Ben Mendelsohn yang sekali lagi menunjukkan sisi keparatnya di tengah materi yang cenderung tipis yang Gosling berikan : an evil bank manager. Christina Hendrick yang membawa emosi ke dalam jalan cerita terlepas dari tidak sesuainya fisik dengan apa yang kita sebut “orang yang sedang melarat”, sampai Saoirse Ronan yang juga tampil tak mengecewakan. Namun, apa yang cukup disesali adalah karakter-karakter ini hanya karakter gelap yang seakan-akan tanpa isi untuk Gosling berkeinginan untuk mengolah. Dihadirkan karakter tambahan seperti nenek Rat yang berhenti berbicara dan menghabiskan waktunya melihat video pernikahan dengan aksesoris jala di mukanya, hanyalah ibarat Gosling ingin menambahkan beberapa aksesoris gothic yang semakin membuat film ini terasa begitu campur bawur dengan segala macam atmosfer.

Berbicara tentang atmosfer, usaha Gosling menciptakan situasi underworld sekaligus underwater harus diakui memiliki sisi creepy tersendiri. Inilah yang membuat penonton masih memiliki alasan untuk bertahan sampai akhir. Apa yang berada di dalam kota tenggelam layaknya Atlantis yang hanya terwakili dari tiang lampu yang tenggelam namun cukup efektif ? Atau apakah misteri di dalam benda yang bernama “Shell” yang begitu menghipnotis ? Atau misteri apa yang membuat para performer (salah satunya diperankan Eva Mendes) terasa begitu real dengan sisi bloody torture- nya, termasuk scene menarik saat salah satu karakter yang menguliti kulit mukanya ? Harapan pertanyaan-pertanyaan ini untuk dijawab sirna sudah ketika finale terkesan muddled ketimbang berusaha menjawab misteri yang merupakan kesempatan terakhir penonton merasa bisa dipenuhi. Meleburkan drama –fantasy inilah sisi tricky yang tak bisa Gosling tarik, hanya sebuah aksi breaking the spell, sementara penonton masih bertanya, “What’s spell ?”

Lost River memang belum diketemukan, namun Lost River paling tidak mengangkat bakat Gosling lainnya. Bukan sebuah karya debutan yang cukup berhasil memang, namun paling tidak Lost River ini bisa dikatakan pembangkit appetite untuk apa yang akan Gosling lakukan selanjutnya selain sebagai seorang aktor. You wanna see Gosling as mediocre thing ? This is it ! (C++ )

3 comments

  1. Jadi pengen nonton besutannya Kak Gosling ini deh. Nampaknya ke-Jodorowsky-an hehe

    Anyway, Bro Tyson. Saya nominasikan blog Anda dalam the 2015 Liebster Award bersama 10 blogs lainnya.

    Silahkan check post saya di link di bawah ini:

    https://sinekdoks.wordpress.com/2015/04/14/the-liebster-award-2015/

    Pasti keren sekali kalau anda ikutan ngeramein award ini, karena pastinya nanti kita bisa nemu blog-blog asyik lainnya.
    Kalau ada waktu, sempatkan diri ya🙂

    Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s