It Follows (2015) is “It’s not Slow, It’s not Dumb”- Terrifying Psychological Horror, What Else Do You Want ?

Director : David Robert Mitchell

Writer : David Robert Mitchell

Cast : Maika Monroe, Jake Weary

(REVIEW) Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang mendengar buzz bahwa ada satu judul horror yang memang layak ditunggu. Tahun lalu kita mendapatkan The Babadook yang secara kritik dipuja sana-sini, dan tahun ini kita mendapatkan It Follows – film kecil lainnya yang berhasil menyelinap dengan buzz-nya yang besar dan berakhir dengan memenuhi semua ekspektasi yang ada, baik dari eksekusi premis yang simple, unik, pengemasan secara teknis, sampai bagaimana ia mulai mengajak horror ke sebuah drama psikologis yang nyata dirasakan.

It Follows dibuka dengan sebuah statement, sebuah “break a leg”-gore yang cukup menyita perhatian. Statement ini bisa kita jumpai di film macam Ghost Ship ataupun Cube dan mernjadi sebuah gerakan yang cerdas ketika It Follows meninggalkan gore ini tepat dimana film memulai ceritanya. Jay (Maika Monroe) – gadis remaja yang begitu perceptive, cantik, dan masa mudanya semakin lengkap dengan kehadiran teman-temannya, dan teman kencannya – Hugh (Jake Weary). Keadaan menjadi seketika berubah ketika Jay berhubungan seks dengan Hugh, dan Hugh mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang mengikuti diri Jay. Sesuatu yang tak bisa dilihat sebelumnya. Sesuatu yang mengancam.

Premis-nya cukup sederhana. Sebuah kegiatan yang dianggap biasa macam sex ibarat dengan bahayanya memindahkan satu penyakit dari diri seseorang ke inang berikutnya. Itulah mengapa It Follows tak perlu memberikan berbagai pengenalan tentang horror yang akan ditawarkan. Bayangkan saja It Follows adalah sebuah metaphor macam penyakit HIV dimana seseorang yang sehabis melakukan one night stand langsung berubah super sensitive dengan dirinya sendiri dan tanpa kecuali melihat mortalitasnya secara lebih dekat, jelas namun masih berupa sebuah uncertainty. Cerita yang mudah dijelaskan namun juga tak kehilangan rasa strange-nya ini membuat It Follows memiliki banyak waktu untuk melakukan segala stimuli untuk penonton, mulai dari pergerakan kamera yang dibuat serasa melakukan scanning, berbagai shot cantik yang tampak biasa namun jika digabungkan dengan scoring-nya menjadi terasa mengerikan, sampai permainan ibarat Viagra perangsang indera yang dilakukan Jay dan Hugh di kencan pertama mereka.

Jay yang tadinya hanya gadis biasa, sekarang berubah menjadi gadis yang memiliki six sense. Ia mulai melihat hal-hal yang mengerikan datang dari kejauhan datang mulai mendekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Hugh sempat mengatakan, “It’s slow but it’s not dumb.”, begitulah gambaran It Follows memberikan penonton momen mengerikan. Pelan tapi tak bodoh. Makhluk supernatural ini bisa datang darimana saja, dengan pelan dan dengan seketika meningkatkan adrenalin tanpa harus melakukan momen semacam jump scare murahan yang sadar kamera. David Robert Mitchell dengan jeniusnya ibarat merubah konsep claustrophobia kepada penonton dengan menerapkan dinding-dinding invinsible berupa makhluk-makhluk ini yang tidak tahu kapan langsung memojokkan Jay pada point tertentu. Lain kata, It Follows benar-benar mengambil keuntungan sederhana dengan eksekusi yang tepat lewat semua elemen yang ada.

Tidak hanya berhenti disitu, It Follows mulai mengeksplor banyak ranah yang tak tersentuh dengan dukungan sisi anti-skeptis dari teman-teman Jay yang begitu supportive. Ranah tak terjamah ini memungkinkan It Follows untuk bermain dengan area baru, pergantian permainan, yang membuat film ini tak pernah stuck layaknya berbagai film horror yang memiliki premis meyakinkan namun berakhir dengan parade klise menakut-nakuti. Inilah yang sedikit mengingatkan It Follows pada horror hits macam The Ring. Keduannya memiliki konsep kuat, dipegang dengan begitu konsisten, namun tak melupakan bahwa penonton setiap saat membutuhkan hal baru sebagai penyegaran. Hal baru itu disebut dengan misteri. Pemecahan misteri inilah yang membuat It Follows beranjak ke tahap berikutnya.

Apa yang membuat Rosemary’s Baby begitu dipuja ? Sisi psikologisnya. Apa yang membuat The Babadook begitu dipuja ? Sisi psikologisnya. Hal yang sama berlaku pada It Follows. Horor bukanlah sebuah fantasi dangkal dimana ketika karakter mengalami sebuah paranormal encounter kemudian tak memiliki impact apa-apa. Dan, dibandingkan dengan dua judul film yang disebutkan di paragraf ini, It Follows adalah film yang lebih melek, menerima sisi horror yang terjebak dalam batasan realita, kemudian benar-benar berkutat asik di dalamnya. Bisa kita melihat bahwa Jay diperankan dengan pas oleh Maika Monroe lewat wajah fresh-nya. Tak pernah kurang. Tak pernah berlebihan. Apa yang dialami Jay serasa sebuah pengalaman original yang bisa dirasakan penonton lainnya dan semakin durasi berjalan penonton sama-sama tahu bahwa Jay memiliki dinamika ketakutan yang merubahnya perlahan. Lagi-lagi, disini sex berperan penting tidak hanya sebagai satu story device (dengan sempurnanya sex menjadi medium bahwa ketakutan sebagai human nature dan needs dalam waktu bersamaan), namun juga bisa menjadi hal yang begitu transformatif membedakan batasan antara karakter yang baik dan karakter yang mulai tercemar, dan jangan dilupakan bagaimana sublime-nya Jay harus menghadapi sebuah dampak dari tindakannya melempar kutukan dan menerimanya kembali. Dan disinilah bagian terbaik film ini : manarik ulur tingkat ancaman kemudian mengembalikannya kembali pada karakter sebagai sebuah dampak psikologis yang akut dan paranoia. (A -)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s