My Life after Watching Gone Girl (2015) ….

Title is a little bit exaggerating, yeah, but everything begins from there, right ?

Gone Girl (2015) mungkin tidak menduduki tempat teratas di tahun 2014 lalu. Namun, thriller dengan suntikan twist mematikan ini mungkin menjadi salah satu film yang paling sering ditonton di tahun tersebut. Dark, stylish, superbly acted, beberapa kata wajar untuk menggambarkan film ini, dan merupakan salah satu keahlian Fincher untuk mengolah satu film untuk menjadi demanding agar ditonton kembali.

gone_girl_ver2_xlgSetiap kali film ini ditonton selalu saja hal baru yang ditemukan, termasuk untuk penampilan super cantik dari Rosamund Pike yang ber-layer dan seharusnya memenangkan Oscar tahun ini (Sorry, Moore). Yah, Julianne Moore boleh memiliki tropi aktris terbaik, namun untuk karakter yang iconic sepanjang masa ? Amy Dunne akan tertawa lebar. Dan, entah mengapa saking banyaknya menonton film ini, terdapat beberapa side effect setelahnya, salah satunya adalah mencari referensi film atau sebagainya yang ‘diharapkan’ bisa memenuhi kepuasan yang sama saat menonton film ini. Dan, inilah beberapa pengaruh dari sang Amazing Amy, hal-hal yang dilakukan setelah menonton film ini (No, I have no intention to make some rape schemes.)

#1 She – Elvis Costello

Berapa kali mendengarkan lagu ini sebelum menjadi pengisi trailer Gone Girl ? Hanya lagu biasa dengan seorang laki-laki yang mengalami pesakitan. Yep, namun semuannya berubah. Ibaratnya, film ini menge-blend dengan sempurna membentuk wajah awal dari sebuah film dengan mengantarkannya menjadi salah satu trailer terbaik tahun lalu : the agony, the agony, the agony – muncul interpretasi baru dari lagu ini yang bisa memojokkan tiap kali mendengarnya. Hasilnya, sampai sekarang lagu ini masih berada dalam playlist, dinikmati saat musim hujan, hasilnya mengiris. (And, I am “I hardly could change my playlist”-kind of guy.)

#2 The Revisiting

The GameJujur, jauuuh sebelum intens menonton film, film-film David Fincher sering tayang di televisi local : The Fight Club, Seven – dan hasilnya hamper mengecewakan karena setiap kali menontonnya selalu saja ada halangan untuk menyelesaikannya. Yep, seperti masturbasi yang tak selesai, Gone Girl membuka kembali keinginan yang dulunya expired menjadi fresh kembali. Dan, inilah beberapa review singkatnya. Zodiac – sajian gripping di setiap adegannya, membuka sebuah kasus dengan penampilan brilian dari Jake Gyllenhaal dan bagaimana satu kasus ini tidak hanya menghantui penonton namun juga karakter ? Magnificent. The Curious Case of Benjamin Button – jika David Fincher sedang bermain kostum, inilah jawabannya. Semuannya terlihat salah kecuali kehadiran Taraji P Henson. The Girl with The Dragon Tattoo – semakin memantapkan bahwa film Fincher dengan leading lady memiliki magnet tersendiri. Begitu menyenangkan bagaimana wanita tangguh harus berjuang dalam tone gelap khas Fincher. The Social Network – jadi ingat jaman kuliah pernah mengatakan, “ Gue nggak akan pernah nonton film tentang Facebook.”, yang saat itu sedang sangat trending (and I don’t know who David Fincher is). Hasilnya, The Social Network masih bukanlah favorit, namun masih sangat menyenangkan melihat film dengan pacing yang secepat ini (I am talking about Eisenberg, actually).

#3 Return to Sender (2015)

Return to SenderApakah Gone Girl pernah mengeluarkan feature semacam blooper ? Karena jika iya, hal itu bisa menghancurkan segalanya. Jika tidak, film inilah yang bisa digadang menjadi semacam guyonan untuk mengambil Rosamund Pike sebagai leading lady-nya. Tak akan ada yang menyalahkan Rosamund Pike. Dia tak diragukan lagi merupakan asset paling penting dalam film yang membuat segalanya menjadi terkesan “murahan”. Return to Sender memang seharusnya tidak pernah dibuat dikirim karena bagaimana film ini ingin meng-copy paste Amy Dunne dengan dosis yang di’rendah’kan ? Hmmm, you don’t mess with Amy Dunny. Dan, apa-apaan dengan adegan Miranda – karakter Pike dalam film ini memegang palu super besar di akhir film ? Semacam Annie Wilkes-parody ? A-MEH-JINX AMY ? YEAH, YEAH ! Namun, tidak disangkal, menonton Return to Sender adalah bukti kecanduan terhadap karakter ini. Mungkin lebih baik jika Gone Girl merencanakan sekuel, tapi mungkin tidak, tapi mungkin iya, tapi mungkin tidak, but I want it.

#4 Movies with Sick Ladies

El CuerpoSalah satu keuntungan berada di Twitter adalah kita mendapatkan referensi film yang tak terbatas. Salah seorang menyebutkan film tahun 1990-an berjudul Presumed Innocent, seorang yang lain menyebutkan film Spanyol berjudul El Cuerpo atau The Body. Keduannya sama-sama memiliki twist yang mengejutkan, hanya saja keduannya tidak memiliki kesempatan untuk menggali twist ini ke level selanjutnya karena keduannya dihadirkan sebagai ending. Presumed Innocent merupakan film yang memulai kasus dan menghadirkan kegagalan sistem sebagai jalan keluarnya, The Body adalah kebalikannya – memiliki skema luar biasa sempurnanya sampai membuat twist tidak memiliki efek. Namun begitu, keduannya sama-sama berharga untuk ditonton.

#5 Dark Places

Dark PlacesKesalahan terbesar di tahun 2014 adalah sempat membaca sumber asli dari Gone Girl. Yes, it’s a spoiler, duh, sebuah perumpamaan kita memakan makanan super enak dan ingin memuntahkannya kembali, kemudian memakannya lagi. Oleh karena itu, saat terkesima dengan novelnya, sempat ingin membaca novel kedua dari Gillian Flynn – Dark Places, dan akhirnya diurungkan. Beruntungnya, film ini juga diadaptasi dengan judul yang sama dengan Charlize Theron sebagai pemeran utamanya – yep, she’s like safe choice for Amy Dunne. Dan, akhirnya sempat juga melihat filmnya. Dark Places mungkin tak akan sehebat Gone Girl dalam menghadirkan twist. Mengapa ? Jujur saja film ini memiliki twist dengan deviasi yang terlalu melenceng dari realita (sebenarnya sama juga dengan Gone Girl, hanya saja di tangan Fincher semuannya terlihat presentable). Film tentang seorang wanita – Libby Day (Charlize Theron) yang berhasil selamat dari massacre yang membunuh ibu dan saudaranya, harus berhadapan dengan sang pembunuh – sang kakak sendiri, setelah didesak kesulitan keuangan dan grup pembongkar criminal bernama “Kill Club”. Baik film atau bukunya sama-sama menyajikan dua perspektif dan jika dalam Gone Girl, dua karakter saling melengkapi, dalam Dark Places hanya membuat rumit sekaligus dangkal – dan untuk Charlize Theron hal tersebut benar-benar melukai performanya.

#6 The Girl on The Train

The Girl on The TrainSempat tak terpikir sebelumnya sampai seorang teman bertanya, “Itu sekuel Gone Girl.” kemudian melakukan beberapa stalking terhadap buku ini dan memang banyak yang membandingkan, hingga suatu hari dalam satu kesempatan menjumpai bestseller ini dan tak lagi ragu lagi untuk membelinya. Jawaban singkatnya adalah “Bukan, The Girl on The Train bukanlah the next Gone Girl.”, walau keduannya memiliki berbagai persamaan : seorang gadis menghilang, sama-sama bercerita tentang bagaimana berantakannya kehidupan berumah tangga, diceritakan dengan beberapa point of view dengan narrator yang tak bisa dipercaya, dan menghadirkan karakter yang sakit. Paula Hawkins – sang penulis pada dasarnya tak memiliki gaya tulisan setajam Gillian Flynn yang merupakan seorang observer dan dalam novel ini, karakter untuk mendeskripsikan sesuatu dengan akurat merupakan hal yang begitu krusial. Hasilnya adalah The Girl on The Train adalah sebuah traditional whodunit yang tak mengandalkan clue untuk memecahkan melainkan mengandalkan karakter dan segala keterbatasannya. Dan, harus diakui, novel ini terlalu lama menahan “kuda-kuda”-nya untuk menjadi page turner dengan novel pembandingnya.

Jadi itulah beberapa hal yang tak sengaja, atau bawah sadar cukup dipengaruhi film Gone Girl dalam keputusan membaca, menonton, atau mendengarkannya.

Whoops, I almost forget.

#7 Who could forget this face ?

Gone Girl 2

3 comments

  1. Saya malah baca novelnya dulu… dan baru pertama kali ngumpat gara2 baca novel, sial…
    Dark Places saya malah nggak baca bukunya, tapi Sharp Object malah udah baca.
    Intinya masih sama sih: ada sudut pandang media (ya karena Gillian Flynn dulunya orang media hehe)
    Ngomong-omong, Dark Places itu malah bukunya Gillian Flynn sebelum Gone Girl. Udah best-selling, tapi belum se-hype pasca meledaknya Gone Girl😀

    anyway, ini curhatan luar biasa. Postingan yg unik… macam PSTD analysis hehe

    1. Apa itu PSTD analisis ? Ahahaha
      Pertama sebenernya baca Dark Places dulu, terus kepending gara2 tertarik baca Gone Girl, terus liat filmnya, terus nggak mau lagi lanjut baca Dark Places…..
      Iya, Flynn orang media yang mulutnya pedes, cuman terwakili sama karakter2 nggak bawa simpatik macam Amy Dunne ato Libby Day….

      Sharp Object belum bacaaaaaa, katanya mau dibikin series, nunggu itu aja 😂😂😂

      1. Emang kalau orang media punya sentimen unik soal tragedy ckckc
        eh PSTD atau PTSD ya hahaha lupa
        baru dengar soal series Sharp Object, tapi ceritanya emang panjang sih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s