Inside Out (2015) : Pixar Takes An Ambitious, Deep, Relatable Journey, and Its Way Back

Director : Pete Docter, Ronaldo Del Carmen

Writer : Pete Docter (story), Ronaldo Del Carmen (story) (as Ronnie del Carmen) , 5 more credits

Cast : Amy Poehler, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Phyllis Smith

(REVIEW) Hampir dua bulan Inside Out baru saja ditayangkan jika dilihat dari tanggal rilis di Amerika sana. Setiap klip, beberapa review hanya menambah kumpulan ekspektasi yang semakin menggunung dan barulah sekarang bisa menjawab. Ya. Inside Out memenuhi semua ekspektasi. If you don’t like it, you’re fucked up. Disanalah skala bagaimana Inside Out begitu likeable.

Untuk Riley – gadis kecil, Minnesota adalah segalanya. Tempat ia tumbuh dewasa dan mulai memiliki personality-nya. Ia begitu disayang oleh ayah ibunya, begitu cemerlang di hobi hokinya, begitu banyak memiliki teman, secara keseluruhan Riley adalah anak yang menyenangkan. Namun, ia tidak sendiri. Di dalam kepalanya hiduplah karakter-karakter yang begitu peran aktif mengambil keputusan dalam setiap harinya – Joy (Amy Poehler) sang ketua, Disgust (Mindy Kaling) bertugas untuk menjaga Riley secara fisik atau pun interaksi sosial, ada pula Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Sadness (marvelously voiced by Phyliss Smith), semuanya memegang peran masing-masing, dan semuanya baik-baik saja hingga keluarga kecil Riley harus pindah ke San Francisco dan Riley pun menemukan masalah dalam menghadapi perasaan dengan lingkungan barunya.

Pertama kali melihat project ini begitu terkesima dengan sebegitunya ambisiusnya sutradara Up – Pete Docter – dalam mengangkat cerita untuk follow up-nya. Proyek memasuki isi kepala manusia yang serba kompleks yang hanya diwakili oleh lima jenis emotion, termasuk Disgust yang lebih seperti emotion minor ketimbang empat teman lainnya. Hebatnya, Pete Docter tahu benar bahwa ia tak akan bisa menggambarkan kepala manusia secara keseluruhan dengan mewakili segala emosi, ia merangkumnya ke dalam lima jenis emosi itu dan bersenang-senang di dalamnya, bukan melihat ke belakang apa yang ia telah tinggalkan. Dan, ternyata kelima-limanya masih cukup relevan dengan segala tahap kembang Riley kecil yang memang sedang hanya memiliki momentum-momentum sederhana namun begitu melekat sebagai bola-bola emas bernama Core Memory. Seperti halnya manusia normal, Riley dan semua emosi di dalamnya bisa mengontrol keadaan di meja panel seperti Disgust yang mengambil kendali saat melihat brokoli, atau saat Joy berusaha mengurung Sadness dalam lingkaran kapur kecil di hari pertama sekolah, namun juga beberapa tidak bisa. Dalam keadaan yang serba bercampur, Sadness yang tadinya mulai teralienasi, mulai tumbuh sebagai major emotion perlahan mulai menggantikan Joy untuk membentuk core memory. Disinilah terdapat sebuah resistance yang membuat Riley di dunia nyata mengalami krisis kepribadian dan mencoba mencari jalan pulang.

Berbeda dengan karya sebelumnya – Up – yang mengandalkan pure feeling, Inside Out mengemban tugas lebih berat. Bisa membuat orang menangis adalah tugas yang berat. Bisa membuat orang menangis sambil berpikir kemudian tersenyum adalah hal yang lebih berat lagi. Buktinya hampir setiap scene merupakan hasil pemikiran sang penulis karena mau tidak mau setiap moment akan memicu pikiran menonton menghubungkan dua dunia yang saling terkoneksi. Terjadi sebuah gray area tentang sosok Riley dan semua emosinya – sempat berpikir siapa mengontrol siapa, merupakan satu pengalaman eksistensialis tersendiri yang jarang di dapatkan dalam sebuah film animasi. Berat memang untuk anak-anak untuk selalu memahami, namun untuk orang dewasa hal tersebut merupakan ujian yang sangat menyenangkan. Challenging, yet, entertaining.

Tidak ada yang lebih menyenangkan melihat ambisi besar berhasil dipenuhi. Dengan script yang begitu sistematis, begitu mudah untuk ditebak outcome­nya, Inside Out melumasinya dengan berbagai bahan candaan cerdas dan karakter yang begitu contagious disuarakan dengan sempurna. Kita tak pernah merasakan karakter Joy untuk menjadi irritable, atau Sadness untuk menjadi begitu depressing, atau Anger menjadi annoying, mereka dikemas secara apik dan dinamik walaupun Pete Docter paham betul ada pakem-pakem yang tak bisa ia langgar.

Ketika emosi Riley berada dalam sebuah limbo yang menghancurkan kepribadiannya (diwakili oleh Personality Island yang mulai runtuh satu persatu) dan Joy serta Sadness yang terlempar dari kabin kontrol meninggalkan Anger sebagai emosi pengendali dominan, Joy dan Sadness mulai perjalanan dua emosi yang saling berpolar dan sebenarnya tak bisa diubah. Disinilah Pete Docter tak mati kutu untuk tak hanya menyajikan isi kepala Riley dengan mengubah hal yang tak mungkin, ia semakin menyajikan sisi lain dari Riley termasuk transisinya dari anak-anak ke dewasa yang diwakilkan oleh teman imajinasinya waktu kecil – Bing Bong (Richard Kind) – campuran kucing, gajah dan lumba-lumba – I just need to describe that. Disinilah Inside Out mulai menekankan sisi sentimentalnya dengan begitu sempurna dengan menjangkau sisi personal, ditambah dengan scoring dari Michael Giacinno, roket sapu terbang, nyanyian “Bing Bong Bing Bong” – that’s a golden moment.

Inside Out tak pernah berhenti menjadi sajian yang quirky, complex imagination yang digambarkan dengan aneh pula, namun apa yang membuatnya spesial adalah bagaimana penggambaran tersebut begitu relatable sehingga tak peduli Pete Docter menggambarkan dengan deskripsi super aneh seperti Hollywood dalam divisi mimpi, pacar khayalan yang bisa di-copy puluhan kali, hal tersebut selalu bisa kita kembalikan pada pengalaman yang pernah rasakan.

Diikuti dengan segala tetek bengek sisi psikologis yang disulap menjadi mainan menghibur, Inside Out berhasil menghidupkan judulnya dengan mengangkat keluar apa yang ada di dalam. Bagaimana kehidupan seorang anak berubah perlahan kelam dan rumit, bagaimana perasaan satu dan lain mulai bercampur, bagaimana setiap tahapan tersebut terkesan merupakan pengalaman sederhana namun ternyata krusial, lebih jauh lagi Inside Out adalah sebuah love story bagaimana kita harus mencintai diri kita sendiri, meng-embrace segala emosi bahwa kadang fase tumbuh besar bukanlah pengalaman yang selalu menyenangkan, dan tak harus dihadapi dengan senang pula. Tak peduli seberapa sederhana ide yang diambil, jika mau dikupas secara serius, teliti dan mendalam, it matters. ( Fuckin’ A – yep I have those all cursing word – panel control inside my head).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s