The Man from U.N.C.L.E. (2015) : Guy Ritchie with His Mannequins in This Stylish Period Spy Thriller

Director : Guy Ritchie

Writer :  Guy Ritchie (screenplay), Lionel Wigram(screenplay), 5 more credits

Cast :  Henry CavillArmie HammerAlicia Vikander

(REVIEW) Armie Hammer dan Henry Cavill adalah dua aktor yang istimewa ; yang satu memiliki potensi menjadi raja flop (baca : The Lone Ranger, dan ditambah perolehan box office yang kurang menyenangkan dari film ini) sementara satunya lagi juga belum memiliki cemerlang ditambah kutukan Superman-nya yang bisa menghentikan karirnya sewaktu-waktu, untuk itulah diperlukan satu sosok yang sedang bersinar – Alicia Vikander (with her crazy upcoming movies follow up) untuk menyatukan cerita dari dua agen Amerika dan Rusia untuk saling bekerja sama.

Diangkat dari tv series berjudul sama di tahun 60-an, keputusan The Man from U.N.C.LE mempertahankan setting retronya memang cukup tepat. Kenapa ? Karena hal itulah yang mungkin bisa menghindarkan film ini dari bencana. Berbagai setting tempat yang menarik digabungkan dengan aktor aktris good looking didandani dengan begitu tajam dikombinasikan dengan segala sisi stylish dari Guy Ritchie memadumadankan sisi action dan gaya penyembunyian “tak jujur” menjaga twist kecil merupakan sesuatu yang enak dipandang oleh mata. Sayangnya, hal tersebut sama sekali tidak cukup membawa The Man from U.N.C.L.E kedalam cluster memuaskan dari tahun 2015 – yang notabene merupakan tahun film mata-mata yang cukup menggembirakan. Even Melissa McCharty takes part in this parade and smiles out there.

What do you think about Spy movies ? Let’s say it together. One, two three ! Yep ! Nuclear. Tidak menjadi sebuah kejutan jika The Man from U.N.C.L.E lagi-lagi menumpukan cerita pada bom nuklir. Tak peduli bagaimana ceritanya, balik lagi bagaimana cerita itu dikemas. Gaby (Alicia Vikander) – seorang montir cantik yang hidup dibalik tembok Berlin dipertemukan dengan Solo (Henry Cavill) – agen mata-mata Amerika yang ingin “menyelamatkan” Gaby karena dia tidak lain tidak bukan merupakan anak perempuan ilmuwan brilian dengan kemampuan merangkai bom nuklir yang tentu saja akan membawa petaka bagi dunia jika jatuh di tangan yang salah. Pertemuannya kemudian diganggu oleh Kuryakin (Armie Hammer) dengan perawakan yang tinggi besar ia benar-benar ibarat Terminator yang sedang mengejar Sarah Connor – masih tidak merupakan kejutan karena ternyata ia adalah mata-mata Rusia yang bertugas mencegah Solo membantu Gaby.

Sampai dititik tersebut, The Man From U.N.C.L.E ibarat film mata-mata yang kembali mengambil plot old fashioned walaupun Guy Ritchie sejak sekuens action pertamanya juga tak terlalu bisa membawa impresi apa-apa. Kemudian titik menarik datang, ketika keadaan telah mendesak, baik Solo atau Kuryakin pun harus bekerja sama pada satu organisasi bernama U.N.C.L.E (United Network Command for Law and Enforcement) dimana Rusia dan Amerika harus bersama membawa Gaby untuk menemui ayahnya. Without world, there will be no war. Janji film yang lebih tinggi pun mulai nyata : semua ditumpukan pada cast-nya, the chemistry, the banter and the bla-bla-bla.

Berbicara tentang action star dengan kharisma dengan pakaian yang serba ter-measure, plus memiliki nama seperti Napoleon Solo, yep ! Itulah Henry Cavill memerankan peran besarnya setelah superhero Superman, dengan sangat sempurna dari segi fisik namun memiliki bumerang yang membuat karakternya tak memiliki sisi menarik : too perfect. Ibarat manekin yang sudah pada tempatnya Napoleon Solo tak memiliki sisi lain untuk di-explore dan tak mengundang penonton untuk ingin tahu. Ditambah ketika mengetahui bahwa dia seorang womanizer ala Bond, yang tidur dengan wanita setiap kali dia tidur, okay I am done with his character, it’s just that’s it. Berbeda dengan Armie Hammer – yang merupakan best performer dari trio ini, memiliki segala ranah kekakuan, ketertutupan, kemarahannnya untuk membuat Kuryakin menjadi karakter yang lebih hidup, lebih memiliki sisi kompleks, walau juga tidak kompleks, paling tidak setiap kali Armie Hammer mengeluarkan temper-nya, ada sesuatu yang organik yang berbicara dalam film ini. Dan, penonton pun bisa berkata, “Hmm, finally, someone is acting.” Bagian yang juga cukup apik adalah ditimbulkannya interaksi dua polar yang berbeda dan Guy Ritchie tak pernah berusaha memaksakan kedua karakter untuk blending satu sama lain. Banter unik pun tercipta antara Cavill dan Hammer walaupun kebanyakan sisi lucunya berada pada level nanggung diantara menjadi guyonan super konyol dengan segala slapstick (termasuk pada adegan terbakarnya satu karakter di kursi torture dimana film mencapai tone tergelapnya) dan dry humor yang kurang dieksekusi sempurna oleh kedua aktor (sebenarnya tak bisa dikatakan dry humor juga hanya karena muka mereka selalu serius). Terjadinya inkonsistensi humor ini kebanyakan menjadi humor yang miss walaupun cukup menggembirakan untuk sebuah film tidak menempatkan semua humornya pada satu keranjang. Plus, humor with style, yang semakin mengacaukan.

Masuknya subgenre spy sepertinya kurang pantas jika tidak memasukkan ranah abu-abu dalam dunia agent ini. Pertama, cukup menyenangkan untuk melihat villain utama dalam film ini adalah seorang karakter yang berbeda, tugas berat untuk Elizabeth Debicki untuk membuat villain ini berbeda namun akhirnya jatuh pada rasa yang sama : we’ve seen that before. Yang kedua, adalah tugas berat untuk Alicia Vikander untuk menjembatani dua karakter leading man-nya. Di satu sisi ia memiliki sarana yang bisa dimanfaatkan dengan mulai melunakkan karakter Kuryakin, namun di sisi lain ia sama sekali tak memiliki sisi ketertarikan untuk diolah dengan karakter Solo (sama seperti yang dialami penonton), dan disinilah Vikander seakan menjadi aktris gagal untuk menampilkan semua magnet eksotisnya karena ia bermain begitu kaku, sementara penonton tahu bahwa Vikander bisa sedikit melumasi penampilannya, terutama ketika ia menampilkan sisi eksentriknya ketika ia mabuk dengan menggunakan kacamata. Dan kemudian ditambah kehadiran Hugh Grant sebagai karakter abu-abu ? Boring !

Untuk seseorang yang baru saja melihat Sherlock pertama dan kedua, The Man from U.N.C.L.E tidak dipungkiri merupakan karya Guy Ritchie dengan segala khas stylishnya, walaupun terkadang masih merasa gayanya seakan-akan masih misplaced. Ritchie akan memuaskan fans dengan tampilan layar yang cepat membelah membentuk berbagai banyak gaya, namun Ritchie juga ternyata masih kurang maksimal mengolah akting dari para aktor aktrisnya. Mungkin jika mereka bertiga memiliki efek sekelas Robert Downey Jr, he will be saved, but for this one, it’s Guy Ritchie with all of his mannequins. Ketidaksempurnaan karakter yang membawa penonton pada titik : yah mungkin pada kesempatan lain karakter-karakter ini bisa diolah lebih baik. Mungkin lewat sekuel. (C++)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s