Maze Runner : The Scorch Trials (2015), You Better Run Away from This Deprived Installment

Director : Wes Ball

Writer : T.S. Nowlin (screenplay), James Dashner (novel)

Cast : Dylan O’Brien, Rosa Salazar, Patricia Clarkson

(REVIEW) Masih ingatkah dengan scene saat Effie Trinket melakukan reaping di The Hunger Games dan sebelumnya ia menunjukkan footage beberapa detik tentang keadaan Panem setelah pemberontakan ? Yah, itulah penjelasan singkat dari dunia dystopia yang harus Katniss berjuang hidup. Atau, bagaimana Divergent menghabiskan film pertamanya untuk perlahan memberikan gambaran sebelum memercikkan api konflik di ending-nya ? Walau jauh dari sempurna akhirnya kita tahu bagaimana ketidakadilan sistem sosial yang dialami Beatrice Prior. Dan, Inilah Maze Runner : The Scorch Trial – yang difilm KEDUA-nya – gagal memberikan informasi yang signifikan untuk universe-nya dan diakhiri dengan konklusi tanpa rencana – dan jika menilik film akan segera diakhiri lewat buku ketiga James Dashner, The Death Cure – pelarian sia-sia tanpa tujuan ini bisa dikatakan sebagai pengkhianatan untuk seri pertama yang tergolong lumayan.

Di tahun 2014 sendiri, The Maze Runner merupakan film yang tergolong sangat beruntung. Tanpa star power di bagian leading role maupun supporting, kemudian ditangani oleh sutradara debutan, hampir tak ada yang ditawarkan kecuali premis yang sangat menarik : beberapa remaja yang terperangkap dalam labirin yang cukup besar, diisi oleh makhluk dan tantangan mengerikan, dan mereka berusaha setengah mati untuk keluar. Kini, Thomas (Dylan O’Brian) – sang ketua tim, telah berhasil mengeluarkan anggotanya dalam labirin penuh misteri tersebut. Labirin yang ternyata dikuasai dan dikendalikan oleh organisasi bernama WCKD – sebuah organisasi yang sedang berusaha menemukan obat penyembuh dari virus mematikan yang tengah menimpa dunia.

Who’s the WCKD ?” – mungkin itulah pertanyaan mendasar yang membuat ending seri pertama dari franchise ini merupakan cliffhanger yang diminta untuk dijawab. Mengapa sebuah organisasi dinamakan dengan nama demikian – yang merupakan kepanjangan dari World in Catasthrope : Killzone Experiment Department – disingkat WICKED – sementara film beberapa kali membisikan kalimat, “WCKD is good, WCKD is good.”. Entah pemberian nama yang semacam sekadar gimmick ini memang sengaja untuk memberikan kesan abu-abu pada organisasi yang terkesan bekerja dalam misi kemanusiaan, namun juga harus mengorbankan sisi berharga dari kemanusiaan anak-anak ini. Ketidakadanya kepastian jawaban inilah yang membuat Thomas begitu panik ketika ia mengetahui bahwa setelah dari keluar labirin, ia dan teman-temannya hanya berpindah ke fasilitas WCKD lainnya – sebuah fasilitas yang mengingatkan kita pada konsep film The Island, beserta segala sisi “safe haven”-nya. Thomas pun memutuskan untuk keluar dari fasilitas tersebut dan menghadapi dunia luar yang sesungguhnya : epidemik semacam zombie, badai gurun, iklim ekstrem, sampai kelompok-kelompok yang memiliki agenda mereka tersendiri dimana satu kelompok bernama Right Arm menjadi satu-satunya harapan mereka.

Middle chapter merupakan hal yang sangat tricky – franchise Hunger Games melaluinya dengan begitu baik dengan melakukan pelebaran skala permainan yang membuat franchise tersebut ke level berikutnya, franchise Divergent lebih memilih tombol restart pada cerita yang terburu rumit, sedangkan untuk film ini, Maze Runner : The Scorch Trial juga berniat sama melebarkan skalanya dengan membuat dunia luar sebagai labirin itu sendiri, hanya saja tanpa disertai dengan intrik plot yang memadai.

Maze Runner : The Scorch Trial ibarat proyek jalan di tempat yang bisa ditinggalkan oleh para penonton dan masih bisa mengikuti seri ketiga film ini karena memang tidak terlalu banyak hal yang terjadi. Para gladers – sebutan Thomas dan teman-temannya, masih saja bingung dengan dunia dimana mereka hidup, karakter-karakter baru seperti Brenda (Rosa Salazar) – gadis dengan rambut pixie-nya yang sebenarnya bisa dimanfaatkan selayaknya Jena Malone berubah sebagai scene stealer di Catching Fire – diperankan aktris tanpa star power (namun bukan berarti akting Salazar jelek), yang melanjutkan department casting tanpa focal point, sampai beberapa twist yang tak cukup berarti mengingat begitu lemahnya interaksi antar karakter yang dibangun di film sebelumnya.

Karakter yang semakin melemah juga dialami oleh Thomas dan Ava Paige (Patricia Clarkson) sebagai villain utama. Thomas mengalami penurunan kepentingan yang begitu signifikan – dari “it guy” yang membawa semua elemen penting dalam labirin, berubah menjadi pemuda biasa yang ternyata tak ada bedanya dengan remaja-remaja imun yang lain – baik dari deskripsi karakternya maupun kualitas akting O’Brian yang sama sekali tak bisa membawa akumulasi sebagai peran sentral dalam diri Thomas, terlalu banyak layer yang tak terkatakan. Sementara, Ava Paige masih terbayang pada karakteristik organisasi dimana ia bernaung – sebagai perbandingan lagi – Presiden Snow berubah total menjadi diktator mengerikan, atau Jeanine Matthews yang sama-sama mengandalkan konsep “greater good” namun Kate Winslet berhasil memberikan sentuhan ambisi personal-nya dalam segala aksinya, disini Patricia Clarkson tak bisa memberikan apa-apa pada perannya yang serba terbatas, kecuali sekali lagi memberikan sisi abu-abu yang benar-benar membingungkan.

Kelebihan seri ini memang diakui dari segi action-nya. Tanpa disertai kualitas cerita berarti, Wes Ball masih teguh memegang moment-moment super cepat dari segala aksi yang bisa dikatakan cukup gripping untuk melihat anak-anak ini seperti bermain dalam spin off sebuah film zombie, atau bermain di reruntuhan gedung yang ter-CGI yang digabung dengan gurun luas tak berbatas– seperti sebuah improvement dari dystopian nanggung yang dihadirkan dalam franchise Divergent. Aksi-aksi ini cukup menyenangkan apalagi ditambah dengan komitmen film yang mulai berubah menjadi lebih kelam dan violent, namun jika menilik lagi film ini merupakan bagian dari kesinambungan cerita sebuah franchise (bukan serial dengan running time yang cukup panjang)dimana per chapter harusnya memberikan dinamika bercerita yang membuat penonton tak sabar melihat kelanjutannya, apakah hal itu cukup ? Tentu saja tidak. Dan lebih mengarah ke sebuah kekecewaan besar, dimana Maze Runner : The Scorch Trial ibarat proyek “trial and error” yang masih melanjutkan fase “Try Again ?”. (D+)

4 comments

  1. wow.. is it that bad?
    Eh, Gillen gimana aktingnya disini? gw penasaran ama dia apa masih pake teknik suara berbisik ala Littlefinger

    gw inget bener taun lalu nonton Maze Runner ga sengaja aja abis kondangan ^^, and honestly the first one is quite good.

    1. sebenernya kalo dia film berdiri sendiri bukan sekuel, mungkin masih bisa dimaafin sama actionnya yang lumayan….

      cuman ini bagian trilogi tapi kok ya nggak ada penambahan plot sama aktingnya agak payah emang…..malah pd lbh kuat yang pertamanya……..

  2. Gue sih nonton ini cuma buat lihat ki Hong lee doang, ahahahaha. Interaksi karakternya emang lemah, which is funny because I think Battle Royale is also like that…but Kinji Fukasaku gak membuat Battle Royale dengan terlalu serius, makanya efeknya beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s