Everest (2015) Will Bring You to The Top of The World, but Never Out of This World

Director : Baltasar Kormákur

Writer : William Nicholson (screenplay), Simon Beaufoy (screenplay)

Cast : Jason Clarke, John Hawkes, Keira Knightley, Sam Worthington, Jake Gyllenhaal

(REVIEW) Membuka ajang penghargaan Venice langsung menaikkan ekspektasi akan film ini. Bagaimana tidak, film-film sebelumnnya yang mendapatkan penghormatan tersebut semacam Gravity (bahkan tagline-pun nyaris sama) atau Birdman adalah dua film yang memiliki sisi teknis tinggi. Maka, bukan kejutan lagi jika Everest dengan skala besarnya; baik objek yang diangkat atau para bintang yang membentuk ensemble merupakan spectacle tersendiri untuk penonton. Sayangnya, dan beruntungnya, Everest enggan mengambil cerita overdramatic dan menggantinya ke dalam sebuah perjalanan cerita breathtaking dimana sang puncak tertinggi mendominasi dan membayangi orang-orang yang setengah mati ingin menaklukannya. Everest will bring you to the top of the world but never out of the world. Basic storytelling belongs to the force of nature instead of people, and when both of these belong to each other, it comes to the irony – who’s first thawed from the memory.

Ditulis oleh screenwriter Unbroken dan 127 Hours yang lebih menekankan pada perjalanan tragis personal, Everest merupakan docudrama yang berusaha menangkap salah satu kecelakaan tragis yang terjadi di puncak Everest yang terjadi di tahun 1996.

Perlahan kita diperkenalkan dengan Rob (Jason Clarke) pemimpin ekspedisi komersial di Everest yang harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua, Jan (Keira Knighley), untuk mengantarkan Doug (John Hawkes), Beck (Josh Brolin) dan beberapa orang lainnya.  Jangan berharap pada disaster movie yang langsung menunjukkan berbagai bencana, penonton akan terlebih dahulu dipersiapkan dengan berbagai fakta bahwa perjalanan Everest bukanlah perjalanan yang mudah karena memang secara alami tubuh manusia tak pernah di-design untuk ketinggian yang tipis udara, menyebabkan hipotermia, sampai salah satu fakta menunjukkan bahwa satu dari empat pendaki profesionalpun berakhir disana. Persiapan yang membutuhkan lebih dari satu bulan, dengan menempuh jarak antar camp inilah yang mempertemukan Rob dengan berbagai karakter lainnya, termasuk Scott (Jake Gyllenhall) dan Guy (Sam Worthington).

Ibarat memang sedang mengikuti ekspedisi, kita terus diperkenalkan karakter baru, namun kita tak pernah memiliki kesempatan untuk bisa mengenal mereka lebih dalam, dan dalam hal ini motivasi mendaki Everest lewat pertanyaan “Why ?” hanya sepenuhnya bisa dijawab oleh seorang pendaki wanita asal Jepang yang telah menaklukkan enam dari tujuh puncak tertinggi dunia. Determinasi dan tekat jelas terlihat pada sang aktris yang hanya memiliki momen-momen kecil di sepanjang film. Sementara karakter-karakter yang diperankan aktor yang lebih remarkable hanya menunjukkan sisi survival terhadap ringkihnya tubuh mereka, sementara insting untuk bertahan mereka benar-benar sudah hilang ditelan, dikubur oleh butiran-butiran salju dari puncak Everest yang seakan melambaikan tangannnya untuk datang kesana.

Ketika cerita tak bisa menunjukkan sisi krusial bahaya mendaki Everest, menjadikannya ibarat rutinitas dengan berbagai kesalahan semacam wilayah tracking tanpa tali, atau persediaan oksigen yang terbatas, atau saat Beck harus menghadapi maut ketika terjadi bongkahan es terjun di hadapannya hanya karena ia harus mengantri tangga penyeberangan, Rob diperankan dengan tangguh oleh Jason Clarke menunjukkan segala sisi kepeduliannya kepada semua anggotanya, paling dominan interaksinya kepada Doug dengan segala keterbatasannya.

Tak bisa dipungkiri dengan segala visualnya, Everest akan mengundang decak kagum sebuah harsh environment yang secara prediksi memiliki sisi twist-nya sendiri – the weather. Everest adalah cerita tentang puncak tertinggi di bumi tersebut, tanpa cerita tragis di tahun 1996-pun, Everest ibarat pamflet pariwisata yang tetap menarik mata siapapun yang melihatnya. Sayangnya, sang sutradara juga menambahkan ensemble story yang terlalu tipis dan bisa dikatakan “lebih membosankan”. Ketika cuaca lebih kompleks dari karakter, sang sutradara gagal juga menampillan titik tinggi ini sebagai pengalaman yang thrilling tanpa bantuan badai salju yang mengoyak kesana-kemari.

Ketika cerita mulai mengerucut, Everest pin masih saja terbagi menjadi dua : komunikasi sentimental antara Rob dan Jan, yang dilakoni dengan baik oleh Knighley, dan cerita antara Beck dan istrinya, Peach (diperankan dengan begitu tough oleh Robin Wright) yang memiliki alur lebih menarik sebagai survival material. Namun, keduannya juga jatuh pada fact based yang terus dipertontonkan sebagai sebuah fakta ala kadarnya. Lupakan tentang sisi kompleks antar karakter, atau potensi entertainment yang terkandung di dalamnya.

Akhirnya Everest berhasil menunjukkan segala sisi maksimalnya terutama dalam hal teknis : sinematografi, dan segalanya, walau juga tak begitu menonjol dengan dua film yang disebutkan sebelumnya (I can’t talk much about it), dengan pacing yang berusaha memeluk segalanya namun juga begitu lambat, otentik dan terkadang tak diperlukan. Everest benar-benar sukses menghadirkan sebuah perjalanan komersial yang kurang berarti secara personal, tak peduli satu persatu individu berjuang untuk hidup mereka, dan ketika sisi real dari alam dan penampakan organisme organik semacam manusia ditampakan sedalam permukaannya saja, film ini tersesat dalam satu percampuran ironi, seperti halnya karakter Jake Gyllenhaal yang cukup tersesat menjelang akhir film. Grand scale at nature, low scale at human (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s