Black Mass (2015) is All about Depp’s Performance : The Character, Transformation, and His Natural Charm

Director : Scott Cooper

Writer : Mark Mallouk (screenplay), Jez Butterworth (screenplay), 2 more credits

Cast : Johnny Depp, Benedict Cumberbatch, Dakota Johnson, Peter Sarsgaard, Julianne Nicholson

(REVIEW) Beberapa bintang besar Hollywood memang sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing : Tom Cruise dengan stunt gilanya – dia cukup berhasil, Robert Downey Jr. dengan baju besinya – cukup berhasil dari segi keuangan sang aktor, Leonardo DiCaprio dengan segala meme Oscarnya – keep trying ! dan yang paling menyedihkan adalah perjalanan karir Johnny Depp. Baik dia memakai kostumnya (terlalu banyak film yang gagal) maupun menanggalkan atributnya (baca : The Tourist), Depp belum menemukan jati dirinya kembali, sampai film Black Mass ini – sebagai James ‘Whitey’ Bulger, leader gangster sadis yang pernah menjadi Daftar Pencarian Orang paling dicari setelah Osama Bin Laden. Ya, setelah Osama Bin Laden !

Di tangan Scott Cooper yang beberapa tahun yang lalu berhasil memberikan Oscar overdue untuk Jeff Bridges, Black Mass memang segalanya tentang penampilan Depp, yang mengkombinasikan transformasi sangar, karakter yang cukup kompleks, dan juga pesona dari Depp sendiri yang terus menarik perwujudan Whitey ke bumi dengan sisi humanis seorang manusia – tak banyak memang digambarkan, tapi hal itu tetap diperlukan.

Pada awalnya Whitey adalah leader gangster biasa. Bahaya, iya, namun untuk menjadi gangster yang paling dicari, hal tersebut membutuhkan perjalanan sendiri. Whitey sendiri adalah pribadi yang begitu tasteful, mengomentari anak buahnya yang makan kacang dengan tak higienis dengan sisi biasanya yang masih menacing, atau menolong seorang ibu tua di lingkungan rumahnya, sampai rasa cintanya terhadap anak semata wayangnya dan istrinya (Dakota Johnson) namun kemudian ia juga bisa duduk di backseat sebuah mobil siap membantai siapa saja yang ia rasa akan mengancam eksistensinya sebagai kriminal di kota yang telah terkotak-kotak dengan keberadaan gangster lain. Terus apa yang membuatnya begitu powerful ? Bahwasanya ketika tinggal di Boston dan bercita-cita menjadi gangster, satu hal yang bisa dilakukan adalah make friends sebanyak-banyaknya. Dalam hitungan dekade, hal itu menjadi investasi yang begitu berharga, resourceful seperti yang dilakukan Whitey. Adalah John Connoly (Joel Edgerton) – seorang anggota FBI yang menawarkan sebuah unholy alliance untuk menjadi informan FBI memberantas gangster lain, dengan imbalan FBI juga akan menjaga keberadaan gangster milik Whitey. Keberadaan Whitey semakin invinsible dengan saudaranya – Billy Bulger (Benedict Cumberbatch) yang seorang politician yang tak melarang atau membantu operasi si gangster.

Black Mass adalah sebuah biopic dengan mengambil rentang waktu yang cukup ideal, sekitar 10 tahun berusaha mengambil kehidupan subjeknya, mentransformasikannya sebagai sebuah slow burn thriller yang cukup berhasil, walaupun masih juga terjebak pada fact based yang membuat biopic ini terkesan tidak berklimaks. Dengan rentang waktu yang sebentar itu pula, tidak ada waktu lagi untuk Whitey menjadi sebuah karakter abu-abu. Yang dilakukan Scott Cooper dan tim screenwriter-nya adalah bagaimana sosok iblis bisa berubah menjadi sosok iblis lain yang lebih dalam dan kejam. Penonton tak pernah merasakan sebuah sisi emosional ketika Whitey dan anak buahnya mulai membantai satu-persatu musuhnya dengan begitu kejam, gripping termasuk saat Whitey berhadapan dengan salah satu pengkhianatnya – Brian Halloran (Peter Saarsgard) di lahan parkir, di siang bolong, dengan kemungkinan banyak orang melihat pembantaian ini. Dari sinilah, penonton mulai melihat perubahan yang dialami Whitey, mulai dari seorang ayah yang mengatakan parenting advice pada anaknya, “It’s not what you do, it’s when and where you do it, and who you do it to or with. If nobody sees it, it didn’t happen.” menjadi kriminal yang membabi buta.

Karakter yang dibuat ber-layer secara subtle ini begitu membantu Depo untuk membuat kostumnya dalam Halloween Parade yang satu ini paling tidak memiliki dimensi yang lain. Dan, tampil sebagai seorang anti-hero merupakan bukan hal yang baru untuk Depp – bahkan tampil sebagai Captain Jack Sparrow bisa dikatakan sebagai antihero, Depp lebih memiliki taring untuk menampilkan karakter serupa, ketimbang ia harus tampil manis. Depp mulai tenggelam dalam kostumnya dengan beberapa momen tanpa senjata seperti saat ia memanipulasi anak buahnya saat menanyakan resep steak atau saat ia mulai menginvasi kehidupan John Connoly tanpa ampun – momen gilanya dengan Julianne Nicholson. Jajaran supporting role memang sangat diperlukan dalam Black Mass menandai milestone Whitey mulai dari Dakota Johnson yang begitu tak siap sebagai ibu rumah tangga yang men-driven hancurnya rumah tangga dan sebagai backstory mengapa Whitey berubah lebih bengis, sampai Juno Temple yang hadir sebagai momen hilangnya kendali moral Whitey sendiri yang mulai berubah menjadi paranoid, namun supporting role yang jelas signifikan adalah Joel Edgerton dengan begitu brilian bermain nista, sebuah definisi nista yang lain, sebuah definisi nista yang pasti akan dibenci penonton.

Jika ada sebuah penampilan yang mencegah sebuah film tampil mediocre yang dihadirkan dengan pacing langkah demi langkah yang tak dipungkiri kadang membosankan, dan terlalu Depp-centered karena jika kita hilangkan sosok Whitey maka tak ada yang tersisa, termasuk Cumberbatch yang terbuang sia-sia, Depp jelas memberikan award worthy performance, semuannya menjadi jelas, Depp is BACK ! (B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s