The Intern (2015) is Worth Applying, Very Relaxing Grandma’s Cookie You Already Tasted

Director : Nancy Meyers

Writer : Nancy Meyers

Cast : Robert De Niro, Anne Hathaway, Adam DeVine

(REVIEW) Apa yang dilakukan Nancy Meyer di umurnya yang menginjak 66 tahun ? Ikut kelas yoga ? No ! Ikut kelas Bahasa Mandarin ? No ! Sibuk hangout di Starbuck sambil menulis screenplay ? Maybe. Tapi yang jelas, Nancy Meyer tak kehilangan sentuhannya dalam film The Intern, sebuah film yang memang berada pada titik nadir antara datar dan relaxing namun disokong pemain di belakangnya yang begitu membuat film ini ibarat kue buatan nenek : patut ditunggu kelezatannya, walaupun tingkat kelezatannya sampai mencapai titik dapat diperkirakan.

Apa yang kita pikirkan saat mendengar Anne Hathaway kembali dalam dunia fashion ? The Devil Wears Prada, right ? Apakah ini saatnya Hathaway memiliki kans untuk memerankan seorang yang vicious berhadapan dengan Robert De Niro ? Hmm, sayangnya – dan beruntungnya tidak.

Cerita berawal dari Ben Whittaker (Robert De Niro) – seorang duda dan pensiunan yang tak tahu lagi apa yang ia harus kerjakan, selain ikut kelas yoga atau belajar Mandarin, atau hangout di Starbuck hingga ia melihat selebaran pamflet lowongan pekerjaan sebagai senior intern, aka. Internship for senior citizens, di sebuah situs belanja online AboutTheFits. Mengambil tagline, “Experience Never Gets Old” – itulah yang menggambarkan karakter Ben : tenang, penuh persiapan, pengamat, two alarms are set – kind of guy (sesuatu yang mature dan immature dalam hal yang sama). Dia begitu karismatik dalam menjalani karir barunya dalam mencari pengalaman dan respect dalam karakter ini begitu ditopang oleh jalan cerita Meyers yang tak terlalu menggunakan konsep “orang tua gaptek” dalam ceritanya, atau attitude lingkungan (terwakilkan oleh Adam Devine) yang begitu negatif untuk outsider seperti Ben. Semuanya membawa aura positif untuk Ben (yang juga tertular untuk penonton) bahkan saat ia mendapatkan pembagian kerja untuk dimentori oleh Jules Ostin (Anne Hathaway) – founder website yang sebenarnya dalam fasat baik-baik saja, hanya saja sisi workholic-nya mungkin akan mengintimidasi beberapa orang. Disinilah keduannya bekerjasama, mengupas satu sisi dan yang lain, sebuah proses pengalaman, selayaknya seorang kakek yang memberikan transfer ilmu ke cucunya dan kita diam karena mendengarkan (good silence, by the way).

Bahwa definisi family movie tak melulu tentang anak-anak yang melakukan petualangan, kadang harmless untuk anak-anak, tapi begitu mengiritasi orang tua ? Yah, mungkin Nancy Meyer bisa merubahnya (step aside, you selfish kids, family movie isn’t all about you).. Sedikit merubah definisi ini seperti saat ia merubah Meryl Streep yang saat itu mau mencapai 60 tahun namun tetap seksi namun juga masih aman secara sikap, atau semacam The Holiday yang selalu bisa dinikmati saat Natal menjelang, yah, ibaratnya Nancy Meyer memberikan sebuah film yang bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga, seperti ibu dan anak perempuannya yang bisa menonton bersama tanpa ada rasa awkward pada cerita atau pengemasannya. Dan, begitulah The Intern diolah. Sopan, penuh hormat, minimal romance, dikait dengan cerita yang relatable, ditambah dengan pemilihan cast yang tepat.

Cast menjadi bagian penting dalam cerita seperti ini. Diakui atau tidak, Nancy Meyer terkadang memiliki cerita yang terlampau ringan, kemudian mengharapkan performer-nya dapat mengangkat materi tersebut dan didapatlah sebuah porsi cerita yang pas, mungkin itulah yang membuat The Intern begitu enjoyable walaupun terkadang dari segi cerita, beberapa part melayang kemana-mana. Dalam hal ini, Nancy Meyer juga masih memberikan beberapa gimmick alur seperti saat Jules mengirimkan email yang salah kepada ibunya, dan Ben dan kawan-kawan harus sigap mencuri laptop sang Ibu, padahal disini jelas terdapat potensial yang begitu ter-underwhelming tentang hubungan Jules dengan orang tuanya, dan sebenarnya bisa dieksplor lebih dalam dengan Jules yang memanfaatkan Ben sebagai mediumnya.

Untunglah salah satu issue yang begitu melayang tadi terdapat satu yang mendapatkan satu suntikan passion di dalamnya lewat performa Hathaway yang membawa nuansa segar walaupun kecil tentang idealism tentang berkarir, yang juga ditopang oleh karakter Ben yang sebenarnya tak terlalu ter-develop namun begitu melumasi Hathaway untuk membuka mata bagaimana ia harus menyeimbangkan karir dan keluarganya yang ternyata dalam posisi carut marut.

Akhirnya, walau terkesan conflict-less, The Intern mampu menjadi sebuah sajian yang begitu feel good, dengan memberikan kesan guilty pleasure untuk penontonnya, sama halnya ketika kita membuka sebuah situs online shop –nyaman, enak dipandang mata, walau tak semua penonton akan melakukan final purchase, namun semua itu sudah cukup sebagai sebuah selingan di penatnya hari. (B- -).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s