The Martian (2015) Orbits on Resourceful Answer to The Question “Is There Life on Mars ?”

Director : Ridley Scott

Writer : Drew Goddard (screenplay), Andy Weir (book)

Cast : Matt Damon, Jessica Chastain, Kristen Wiig

(REVIEW) Is there life on Mars ? Sepenggal dari lirik lagu David Bowie yang mungkin masih ditelusuri oleh para ilmuwan sampai sekarang. Dan, mungkin juga satu kalimat ini yang membawa penulis novel The Martian untuk menorehkan kata-kata pertamanya. Penghuni bumi dan juga luar angkasa, dua kombinasi ini layaknya menjadi konsep survival menarik untuk mengangkat film jenis ini ke level yang lebih tinggi, literally. Paling tidak untuk tiga tahun terakhir ini fenomena membuat sesuatu yang impossible menjadi possible ini cukup terlihat. Lihat saja bagaimana penonton turut ikut merasakan kekurangan oksigen saat Dr. Ryan Stone terhempas oleh debris satelit dan mencoba menarik perhatian gravitasi kembali. Atau, Matthew McConaughey yang masih membawa aksen kentalnya sampai menembus ruang dan waktu untuk bisa berkumpul dengan anak perempuannya. Dan, kali ini The Martian – kisah astronot terdampar di planet merah Mars – tanpa udara yang ideal, tekanan udara yang ideal, makanan yang ideal, namun menjadi salah satu film survival yang resourceful menghadapi segala cara untuk kembali dan bertahan, salah satunya dengan humor.

Gravity menahan penonton dengan visualnya, Interstellar menahan penonton dengan thought provoking-nya, dan The Martian mungkin menjadi film yang diangkat dari novel yang tak mungkin di semua lembar buku menceritakan seseorang yang berada di dalam helm, memiliki cerita yang solid dengan melibatkan dua sisi aktif antara penduduk bumi dengan martian (sebutan untuk penduduk Mars itu sendiri).

Alkisah Mark Watney (Matt Damon) adalah pria beruntung tersebut. Setelah dihempas badai dan diduga tewas, seluruh anggota timnya yang sedang melakukan research (Jessica Chastain, Michael Pena, Kate Mara, Sebastian Stan) terpaksa harus meninggalkannya dan pulang ke bumi. Ketidakberuntungan menyebabkan keberuntungan untuk Watney karena darahnya sendiri lah yang menyumbat bocornya suit yang ia pakai dan menyelamatkan jiwanya. Terbangun sendirian di Mars. Berjarak ribuan kilometer. And, still, no one hear him screaming. Ia pun mencaro berbagai cara untuk berkomunikasi dengan landasan NASA di bumi dan melakukan semua cara untuk hidup untuk bisa pulang.

Jika ada orang yang mengatakan hanya orang-orang yang pintar yang bisa menjadi astronot, satu hal yang dilakukan : percayalah ! Begitulah Andy Weir menggambarkan Watney sebagai sosok botani yang cukup cerdas dan tenang untuk menakhlukkan Mars. Mulai dari bercocok tanam kentang dengan bahan terbatas, membuat sendiri H2O sendiri, sampai perencanaan dapat dilakukan Watney secara matang. Semuannya semakin disempurnakan dengan script Drew Goddard yang merupakan ibarat fusion dari skrip Guardian of The Galaxy yang hilang digabungkan dengan script survival yang penuh dengan nerdy stuff yang tak bisa penonton banyak lakukan kecuali menganggapnya sebagai sebuah fakta yang masuk akal (okay, where’s Neil DeGrasse Tyson ?). Jadi jangan terlalu kaget jika penonton disajikan dengan sosok Watney yang menari disko di tengah planet Mars, repeat Houston, DI TENGAH PLANET MARS. Dan diberikan script yang memang menjadi darahnya, tak sulit untuk Ridley Scott untuk menerjemahkan scene demi scene dengan begitu kompeling dan devastating secara visual dalam hal yang bersamaan.

Terdapat interception dari ekspektasi dari film ini, “Mungkin film ini akan begitu mengulas internal Mark Watney sebagai orang yang terdampar di Planet Mars.” namun yang dihadirkan adalah sebuah sajian pada level menghibur. Penonton akan memiliki debaran janting dengan senyum simpul di bibir, namun mungkin tidak ada kernyitan di dahi karena memang film ini mengalami shortage untuk menyelami pikiran dan psikologis Mark Watney yang tidak terlalu ter-absorb penonton. Baiklah jika memang The Martian ingin diolah sebagai sebuah space adventure yang seru sekaligus crowd pleaser namun terdampat di Mars bukanlah ibarat Tom Hanks yang juga terdampar di pulau tropis dengan banyak ikan, buah, dan semuannya tahu bagaimana devastating-nya Hanks saat itu. Hal ini tanpa mengurangi catatan penampilan Matt Damon yang bermain apik, hanya saja tak ada momen yang benar bisa meruntuhkan psikologisnya. Perbedaan tingkat pendidikan, mungkin.

Entah berada dalam bukunya atau tidak, merekrut aktris setenar Kristen Wigg sebagai kepala public relation seperti menyeruakkan shortage pada sisi yang bersangkutan. Bagaimana pembentukkan citra NASA dengan kabar masih hidupnya Mark Watney yang langsung menjadi international disaster seakan terlewat begitu saja, atau saat bumi melakukan segala perdebatan apakah Mark Watney begitu worth it untuk diselamatkan dengan kemungkinan mengorbankan jiwa yang lebih banyak juga sempat terlihat, namun kurang mendapatkan highlight yang cukup. Dan, yang paling disayangkan adalah bagaimana kelima astronot yang selamat seakan kehilangan daya debat mereka untuk hidup, selfishly, dengan keputusan yang sama sekali tak mempertimbangkan insting mereka. Termasuk Jessica Chastain yang begitu terbuang, padahal karakternya jika dikaitkan dengan rasa bersalah dan moral pemimpin, merupakan karakter yang sangat menarik, dan Chastain dengan segala kalibernya masih mampu membuat screentime terbatasnya menjadi puncak-puncak dramatis yang Matt Damon sendiri tak berkesempatan untuk show off. Tak bisa dipungkiri, The Martian menjadi film all stars cast yang begitu tidak efisien memanfaatkan talent di dalamnya, namun untungnya masih terbantu dengan hadirnya Chiwetel Ejiofor, Sean Bean, sampai Donald Glover sebagai pemain pendukung lainnya. Plus, absennya sosok orang tua atau keluarga Watney (sempat disebut oleh karakter), semakin menguatkan bahwa Goddard lewat script-nya memang tak ingin mengarah ke laju sentimental. Understood that it can’t have it all.

Namun, itu semua tak mempengaruhi The Martian masih menjadi tontonan yang solid dengan segala sisi witty-nya di Mars (walau dengan tone yang sedikit terlampau ringan sehingga tak menjadi kejutan The Martian kurang menjadi award contender), sementara kembali ke Bumi, semua pihak terlihat bekerjasama, The Martian menjadi sajian hangat yang menyelamatkan atas nama manusia dengan caranya tersendiri, dan untuk Ridley Scott dalam spatial mood-nya, that’s kind of rich ! (B+).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s