Audrey Hepburn’s Movies in Rank

Audrey Hepburn

Audrey Hepburn, siapakah yang tak mengenal aktris satu ini ? Aktris berdarah Belgia ini memiliki kharisma, bisa bermain drama, bisa bermain terutama komedi, musikal, apalagi romance. Dia seorang humanitarian dan juga seorang EGOT (God !), dia seorang fashion icon. Dan inilah film-film Audrey Hepburn yang perlu ditonton, I make it in a list so you could make your priority, and relax, even her bad movies are always presentable. The list is based on my favorites rank. Enjoy !

The list is still growing…..

#14 Robin and Marian (1976)

Robin and Marian

Jangan pernah percaya jika seorang aktor atau aktris mengatakan akan pensiun ? Paling tidak itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Leonardo DiCaprio ? Brad Pitt ? Angelina Jolie ? Selain Amanda Bynes, Audrey Hepburn adalah satu aktris yang cukup konsisten mundur dari dunia film saat ia berada di puncak sampai ia kembali dalam film ini. Filmnya sendiri berkisah tentang Robin Hood (Sean Connery) yang telah menua, dan Hepburn sebagai Marian – wanita yang dikorbankan Hood dengan meninggalkannya untuk berperan. Marian menjembatani Hepburn untuk kembali dalam lingkaran bickering couple, namun dalam porsi yang lebih dewasa dan minim momen komikal signature-nya. Untuk sebuah film yang berusaha menggabungkan komedi, perang dan romansa, film ini jatuh kebingungan dan tak pernah memaksimalkan potensinya, namun terhitung sebagai romance, Robin and Marian is inevitably a love story, yet too minor to be true.

#13 Paris : When It Sizzles (1964)

Paris When It Sizzles

Salah satu dosa Hollywood adalah dengan melakukan pairing antara Hepburn dengan aktor yang diatas usianya. Salah satunya dapat dilihat dalam Sabrina, dimana Hepburn harus melepas William Holden (yang lebih ideal), dan memilih Humprey Bogart (yang jauh dari ideal). Paris : When It Sizzles adalah bentuk penebusannya. Quirky, un-subtle-ly meta, Hepburn menyandang dual roles, dengan dua cerita cinta fiksi dan nonfiksi fiksi (tentang seseorang juru ketik yang menemani seorang screenwriter (William Holden) menulis skenario-nya). Sayangnya, walaupun telah berkolaborasi bersama dengan cukup baik di Sabrina, baik Hepburn dan Holden sepertinya kehilangan chemistry di dua cerita yang tak termaksimalkan, not swimmingly.

#12 Two for The Roads (1967)

Two for The Road

Lagi-lagi, Hepburn dikecewakan dengan film yang bingung menentukan jalurnya. Pertama, sebagai komedi. Kedua, sebagai drama tentang long term relationhship berkaitan dengan pernikahan. Baik Hepburn dan Albert Finney melakukan tugasnya dengan sangat baik – and adorable couple, sayangnya usaha keras mereka sepertinya teralihkan dengan ketidaktentuan tone, sekaligus penceritaan nonlinear yang bercabang terlalu banyak dan membingungkan. Two for The Roads, should be renamed as Many for The Roads.

#11 Love in The Afternoon (1957)

Love in The Afternoon

Salah satu pemilihan casting yang kontroversial tak bisa membantu Love in The Afternoon menjadi the next Sabrina. Jarak 27 tahun antara Gary Cooper dengan Hepburn seakan-akan menjadi distraksi yang tak terhindarkan mengingat Billy Wilder – sang sutradara, dengan pasti memberikan sebuah love game penuh dengan dialog pintar dilontarkan dengan interaksi menawan dari Hepburn dan Cooper sendiri, sayangnya, hal yang seharusnya menjadi sebuah kisah cinta manis, lebih berarah pada seduction beda generasi. Namun, mungkin itulah maksud dari judul Love in The Afternoon, tak sekonyol cinta monyet, tak seserius cinta yang dewasa, sebuah peralihan, layaknya sore, lukewarm, tetapi tetap saja Gary Cooper adalah sebuah miscast.

#10 Charade (1963)

Charade

Sebuah thriller mysteri klasik ketika seorang janda diincar sekelompotan berandal yang menginginkan harta sang suami. Cary Grant dan Hepburn sendiri sedikit membatasi diri untuk terlihat lebih dekat, namun film yang chemistry free ini begitu mengalir dengan misteri di dalamnya. Cary Grant tetap begitu kharismatik sedangkan Hepburn memberikan sisi abu-abu lewat kesan materialismenya – Givenchy ? Sebuah whodunnit mystery thriller yang berhasil membuat setiap orang di dalamnya sebagai tersangka, you can expect the unexpected when they play.

#9 My Fair Lady (1964)

My Fair Lady

Dosa besar lainnya yang dilakukan terhadap Audrey Hepburn adalah dengan men-dubbing suaranya. Mungkin memang Hepburn tak memiliki suara yang se-powerful Julie Andrews, namun saat ia menyanyikan “Just You Wait” dalam film yang lebih bekerja sebagai sindiran satir tentang tatanan sosial masyarakat Inggris, My Fair Lady berada pada top position sebagai film tentang Eliza Doolittle, the main attraction, disamping karakter lain yang juga mendominasi, Henry Higgins (Rex Harrison) the mysoginist.

#8 Funny Face (1957)

Funny Face

Transformasi adalah salah satu keahlian Hepburn. Funny Face masih tentang hal itu, namun disampaikan secara musical, dengan top notch dancing dari tiga pemain utamanya : Audrey Hepburn sebagai Jo merupakan epitome dari metamorfosis seorang penjaga toko buku berubah menjadi top model dari majalah fashion – Quality, dibantu dengan Fred Astaire yang mampu mengimbangi pesona Hepburn – if I make a list “Best Audrey Hepburn’s Leading Men”, he will take #2 spot, dan Kay Thompson yang mencuri perhatian. Funny Face adalah bukti bahwa dengan material yang tipis, dan hanya dengan beberapa shot foto, Hepburn adalah bintang dengan pesona yang tak bisa dihentikan pancarannya. Those dancing ? Those photo shoot ? Full of pizzazz.

#7 Sabrina (1954)

Sabrina

You can remake Sabrina, but you can’t remake Audrey Hepburn. Dengan storyline seperti seorang gadis anak supir yang berusaha mendapatkan anak majikannya mungkin menjadi formula yang sangat familiar untuk era sekarang, namun dengan script dari Billy Wilder yang mempu menulis sebuah skenario yang timeless, bahkan lucu sampai sekarang, ditambah dengan beberapa isu di dalamnya, Sabrina adalah sebuah romansa yang manis, yang juga bekerja sebagai komedi dimana Hepburn bisa berubah menjadi karakter yang begitu heartbroken dan suicidal, in style !

#6 The Children’s Hour (1961)

The Children' Hour

If you’re a lesbian, don’t worry you won’t be placed in hell, because you’re already through it, it’s called the 60’s or 70’s. LGBT memang begitu dilihat sebelah mata pada zamannya dan Audrey Hepburn turut membintangi dalam film yang membawa isu kontroversial ini. Who doesn’t love Hepburn ? Bahkan Shirley MacLaine. The Children’s Hour memang film kedua aktris ini, dipasangkan sebagai guru yang dituduh sebagai pasangan lesbian oleh muridnya sendiri, film ini dengan begitu halus memperhitungkan sebuah kebohongan kecil yang fatal dengan satu ons kebenaran di dalamnya. Heartbreaking ! Well acted, and well observed !

#5 Wait Until Dark (1967)

Wait Until Dark

 Hepburn kembali dalam genre thriller, namun kali ini benar-benar 100% thriller, tak ada fashion, tak ada leading man yang siap menolongnya. Hanya Alan Arkin sebagai ketua perampok yang berusaha mengincar narkoba yang disembunyikan di dalam rumah yang dihuni wanita buta tak berdaya – Suzie – diperankan Hepburn sendiri. Wait Until Dark mengakomodasi Hepburn untuk memberikan penampilan yang bold dan showy dalam thriller yang cukup pintar, penuh kejutan, wait until dark, and don’t mess with Audrey Hepburn !

#4 How to Steal a Million (1966)

MBDHOTO FE018

MBDHOTO FE018

How to Steal a Million mungkin tak sepopuler film Hepburn yang lain, namun jika ingin melihat aksi dua aktor dan aktris terbaik di masanya, dalam comedic timing yang cadas, terjebak dalam sebuah lemari yang sangat sempit, mungkin inilah filmnya. Hepburn tak pernah mengira ketika ia harus meminta bantuan Peter O’Toole untuk mencuri sebuah patung seharga satu juta dollar, demi menyelamatkan ayahnya. Interaksi Hepburn dan O’Toole merupakan pasangan yang ideal, dengan segala banter dan bickeringnya. Dihitung sebagai film heist, How to Steal a Million mungkin memasuki strategi pencurian yang tradisional, namun leading couple-nya tak pernah bosan untuk dilihat, bahkan sampai sekarang. Kembali lagi, jika dibuat list “Best Audrey Hepburn’s Leading Men”, Peter O’Toole dan mata birunya menempati puncak list tersebut.

#3 Roman Holiday (1953)

Roman Holiday

Memenangkan banyak penghargaan mulai dari BAFTA, Golden Globe, sampai Academy Awards, yang menjadi alasan adalah bahwa para voters ini melihat magic untuk pertama kalinya. Roman Holiday menjadi film yang mengenalkan Audrey Hepburn ke dunia, sebagai Princess Ann yang melarikan diri dari kegiatan keputriannya, kemudian memotong rambut panjangnya yang memberikan definisi magical lainnya, dalam satu peran yang sama. Ditambah dengan leading man, Gregory Peck dengan vespa keliling Italia, Roman Holiday is a little treat that you’ll remember.

#2 The Nun’s Story (1959)

The Nun's Story

Bagaimana membuat film dengan skala epic zaman sekarang ? Buatlah durasinya selama tiga jam. Namun, bagaimana film tersebut bisa meng-engage penonton kedalam durasi tersebut adalah masalah lain. The Nun’s Story adalah salah satu bukti sukses bahwa film dengan durasi 150 menit bisa terlewati dengan menyenangkan layaknya film dengan durasi yang “normal”. Apa yang begitu membuat film ini dalam urutan list yang tinggi adalah jika ada yang mengira Hepburn tak bisa bermain drama serius, inilah buktinya. Bermain sebagai seorang biarawati yang mengalami inner struggle dalam perjalanan spiritualnya, Hepburn bermain halus, cantik, dengan menanggalkan semua senjata andalannya : signature dress, signature hair, signature charm. It’s her finest performance.

#1 Breakfast at Tiffany’s (1961)

BREAKFAST AT TIFFANY'S, Audrey Hepburn, 1961

She has her signature her, her signature hair, and her signature charms, what went wrong ? Marilah menyebut peran Audrey Hepburn sebagai Holly Golightly ini sebagai “a role to remember”, Breakfast at Tifanny’s mungkin bukanlah penampilan terbaik Hepburn, namun inilah yang membuatnya selayaknya legenda – an icon. Diangkat dari karya Truman Capote, tak ada perlambangan yang lebih pas tentang sebuah materialime ketimbang seorang wanita dengan long black dress, dengan rambut yang diangkat, berkacamata hitam, menyeruput kopi paginya di depan Tiffany’s, namun ketika menilik ke dalam, wanita ini hanyalah seorang sosialita yang jatuh cinta pada seorang male escort yang terus meyakinkan dirinya, bahwa ia juga memiliki kapabilitas untuk mencintai. Breakfast at Tiffany’s memang lebih rumit dari kelihatannya. Holly Golightly won’t be this likeable without Hepburn’s star power, and thaaat Mooooooon River song. Unforgetable !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s