Animation

The Good Dinosaur (2015) is Decent Pixar Movie with Heartbreaking Moments and Its Wilderness

Director : Peter Sohn

Writer : Bob Peterson (original concept and development), Peter Sohn (story)

Cast : Jeffrey Wright, Frances McDormand, Maleah Nipay-Padilla

(REVIEW) Review singkat untuk film pendek pembuka yang menjadi tradisi Disney Pixar kali ini adalah untuk Sanjay’s Super Team. Film pendek ini mungkin terkesan biasa saja, namun dengan memberikan embel-embel “based on true story……..mostly”, namun film ini mengandalkan sisi relatable-nya dengan cukup mengasyikkan menggabungkan bagaimana passion yang terkesan keduniawian bisa bergabung dengan dunia spiritual, dengan cara penyampaian yang tak terlalu menggurui. Now, we move on to the maincourse.

The Good Dinosaur Poster

Animasi, seperti yang dikatakan oleh Zoe Saldana dan Dwayne Johnson dalam Oscars sebelumnya, genre ini merupakan genre yang inventive dalam industrinya. Studio Disney – Pixar mencapai klimaksnya tahun ini dengan merilis Inside Out yang instant menjadi frontrunner untuk Oscar mendatang, dan tak berhenti di situ mereka menambahkan satu entry-an lagi : The Good Dinosaur. Dua film Disney Pixar dalam satu tahun ? Yah, sepertinya memang terjadi sedikit kekacauan dalam jadwal mereka. Hal ini dikarenakan dengan konsep ambisiusnya Inside Out dan The Good Dinosaur sendiri yang mengalami production hell sampai mengganti semua pengisi suaranya dikarenakan adanya gejolak dalam pengelolaan storyline-nya. Menjadi indikasi negative saat proses produksinya, The Good Dinosaur memang tak bisa disamakan dengan film Pixar lainnya – melalui konsep yang sederhana, mungkin film ini masih meninggalkan masalah dalam segi penceritaannya, namun tertutup dengan kelebihan dengan Pixar mempertahankan sisi primordial-nya dengan menutupinya dengan “oddball” material lewat instant charms, breathtaking scenery (yap ! sangat mahal untuk film animasi), interaksi karakter yang begitu dasar namun juga begitu affecting, tragedy khas Pixar, dan terkadang, banyak kekejaman (this Dinosaur isn’t as good as like you think – in a good way).

(more…)

The Little Prince (2015) : Beautifully Animated Time Capsule for Children and Grown-ups

Director : Mark Osborne

Writer : Irena Brignull (screenplay), Bob Persichetti (screenplay), 1 more credit

Cast : Rachel McAdams, Benicio Del Toro, James Franco, see full cast and crew

(Review) Selalu saja ada perdebatan apakah sebuah animasi hanya bisa memuaskan orang tua atau anak-anak yang mereka ajak ? Dalam kasus Inside Out, film terkadang dinilai terlalu kompleks untuk dimengerti otak-otak muda, sedangkan untuk kasus lainnya semacam Minions, film dinilai terlalu dangkal untuk otak-otak tua yang mengharap lebih dari sekedar hiburan. Namun, disisi lain, animasi memang salah satu media yang bisa mempersatukan orangtua dan anak dalam satu layar yang sama. Disinilah, keputusan The Little Prince dirubah menjadi versi animasi merupakan keputusan yang tepat.

Kita mungkin sering menjumpai orang tua yang memberikan wejangan “tinggi” untuk anak-anak yang memang tak seharusnya mengerti, kuncinya adalah mereka tak perlu mengerti sekarang. Berinvestasi dengan waktu layaknya buku dimana film ini diangkat. The Little Prince aka. Le Petit Prince menjadi buku ketiga yang paling banyak diterjemahkan dalam perjalanan beberapa dekadenya dan telah diubah dalam berbagai medium termasuk play, pertunjukkan balet dan sebagainya. Bertahannya novel ini memang tidak dipungkiri karena membahas hal-hal yang dasar dan terus dialami manusia, tak peduli perubahan zaman yang dilaluinya.

(more…)

Inside Out (2015) : Pixar Takes An Ambitious, Deep, Relatable Journey, and Its Way Back

Director : Pete Docter, Ronaldo Del Carmen

Writer : Pete Docter (story), Ronaldo Del Carmen (story) (as Ronnie del Carmen) , 5 more credits

Cast : Amy Poehler, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Phyllis Smith

(REVIEW) Hampir dua bulan Inside Out baru saja ditayangkan jika dilihat dari tanggal rilis di Amerika sana. Setiap klip, beberapa review hanya menambah kumpulan ekspektasi yang semakin menggunung dan barulah sekarang bisa menjawab. Ya. Inside Out memenuhi semua ekspektasi. If you don’t like it, you’re fucked up. Disanalah skala bagaimana Inside Out begitu likeable.

Untuk Riley – gadis kecil, Minnesota adalah segalanya. Tempat ia tumbuh dewasa dan mulai memiliki personality-nya. Ia begitu disayang oleh ayah ibunya, begitu cemerlang di hobi hokinya, begitu banyak memiliki teman, secara keseluruhan Riley adalah anak yang menyenangkan. Namun, ia tidak sendiri. Di dalam kepalanya hiduplah karakter-karakter yang begitu peran aktif mengambil keputusan dalam setiap harinya – Joy (Amy Poehler) sang ketua, Disgust (Mindy Kaling) bertugas untuk menjaga Riley secara fisik atau pun interaksi sosial, ada pula Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Sadness (marvelously voiced by Phyliss Smith), semuanya memegang peran masing-masing, dan semuanya baik-baik saja hingga keluarga kecil Riley harus pindah ke San Francisco dan Riley pun menemukan masalah dalam menghadapi perasaan dengan lingkungan barunya.

(more…)

Song Of The Sea (2014) : Simply Told Precious Legacy of Story Inspired by Irish Enchanting Folklore

Director : Tomm Moore

Writer : Will Collins (as William Collins) , Tomm Moore(story)

Cast : Brendan Gleeson, Lisa Hannigan, David Rawle

(REVIEW) So this is what we’re gonna do ! Rewind-jdnbudfbidnidbfsdbdscnidcnsdbcusbdweifbweu-rewind, “Okay, let’s talk about Oscars !”. Clueless – adalah satu kata yang mungkin bisa menggambarkan Oscars beberapa minggu yang lalu. Memang, beberapa kategori telah terpatri membawa pemenang pasti, namun beberapa kategori menyimpan beberapa kejutan, dan sayangnya bukanlah kejutan yang menyenangkan. Disebut oleh sang presenter Dwayne Johnson sebagai genre yang inventif, seharusnya Best Animated Feature merupakan kategori yang membawa bar tinggi, dan memang diwujudkan lewat beberapa nominasinya, sayangnya pemenangnya – Big Hero Six tak membawa kualitas yang demikian. Dan, kemenangan yang tak terduga dari film tersebut, membawa tidak hanya satu, namun paling tidak ada EMPAT film ter-snubbed dalam kategori yang sama. So, The Lego Movie, calm yourself, get in the line !!!!!

Siapakah yang pernah mendengar animasi berjudul Song of The Sea sebelum film ini “merebut” spot yang dimiliki The Lego Movie di ajang Oscars ? Nah, itu pula masalahnya. Kebanyakan orang belum pernah mendengarnya, kebanyakan orang belum pernah menontonnya. Song of The Sea adalah film animasi Irlandia yang dibesut sutaradara Tom Moore, yang sebelumnya juga dinominasikan dalam kategori yang sama lewat The Secret of Kells di tahun 2009. Alkisah sebuah keluarga tinggal di tepi pantai, dengan anggota keluarga yang sempurna : seorang ayah (Brendan Gleeson), seorang ibu yang sedang hamil (Lisa Hannigan), dan seorang anak laki-laki bernama Ben (David Rawle). Namun, kesempurnaan keluarga mereka langsung hilang ketika sang Ibu secara misterius menghilang dan meninggalkan anak bernama Saoirse yang kini telah menginjak usia enam tahun, tapi belum bisa mengucapkan satu kata-pun. Ben yang sepertinya dengan kehilangan ibunya menjadi trauma dengan laut, malah tidak akur dengan Saoirse karena Ben seakan-akan menyalahkan kepergian ibunya atas kesalahan sang adik. Ketika Saoirse menemukan sebuah cangkang kerang ajaib, kedua kakak beradik ini harus melakukan perjalanan magis yang akan mengungkapkan siapakah Saoirse sebenarnya. Jawabannya, Saoirse adalah seorang Selkie – makhluk mitologi Celtic yang menginspirasi cerita ini. Tugas seorang selkie sangat berat, ia harus menyuarakan melodinya untuk menyelamatkan fairy yang telah dirubah menjadi batu oleh seorang penyihir bernama Owl Witch, sementara ia juga harus berlomba dengan waktu karena keadaan seorang Selkie bisa terus memburuk.

(more…)

The Congress (2014), Commitment of Presentation, from Live Action to Animated World of Hallucinations

Director : Ari Folman

Writer : Stanislaw Lem (novel), Ari Folman

Cast : Robin WrightKodi Smit-McPheeDanny HustonHarvey Keitel

(REVIEW) Have you ever wondered if we could watch another brand new movie from Audrey Hepburn ? Or James Stewart ? Or watching new concert of Michael Jackson ? But in perfect CGI ? Mungkin masih tidak mungkin dibayangkan sekarang, tapi bagaimana dengan 20 tahun lagi ? Yeah, bayangkan saja jika Alfonso Cuaron kemudian membuat film dengan zero cast, kecuali visual effect. Semenarik itulah awal The Congress.

Robin Wright (memainkan dirinya sendiri) adalah washed up actress yang menginjak usia ke 44 dengan tekanan dari kejayaan masa lalu (kejayaan dari The Princess Bride dan Forrest Gump). Karirnya menurun tajam ketika ia terlalu picky dalam memilih film, dan ketika ia akhirnya menjatuhkan pilihannya membintangi film, ia bertindak tidak profesional. Ditambah dengan sejak kehadiran anak keduanya – Aaron (Kodi Smit-McPhee) yang sakit-sakitan membuat Robin benar-benar harus berkonsentrasi memikirkan keluarganya. Ketika karirnya mulai akan berakhir, agen managernya – Al (Harvey Keitel) membuka peluang sebuah kontrak baru yang akan mengubah Robin Wright selamanya.

(more…)

The Lego Movie (2014) : Overrated Pièce de Résistance for Movie Based on Construction Toys

Director : Phil LordChristopher Miller

Writer : Dan HagemanKevin HagemanPhil LordChristopher Miller

Cast : Chris PrattElizabeth BanksWill FerrellWill ArnettCharlie DayAlison Brie, with Liam Neeson and Morgan Freeman

 “Introducing, the double decker couch so everyone could watch TV together and be buddies.” – Emmet

(REVIEW) Lego, siapa yang tidak pernah memainkan permainan yang satu ini, mulai jenis yang paling sederhana sampai bentuk yang lebih bervariasi ? Yeah, Lego memang sangat melatih daya kreatifitas anak dan seiring berjalannnya waktu sepertinya jenis permainan yang satu ini mulai bisa berkembang sesuai dengan alur zaman, salah satunya menjadi media bercerita yaitu lewat sebuah film, hal inilah mengapa film ini mengambil judul yang sebenarnya terkesan begitu “marketing produk” namun dengan waktu bersamaan juga menonjolkan kelebihan utamanya.

Dari segi visual, film ini bisa dikatakan akan menampilkan 90 persen bentuk lego, dan memaksimalkan visual ini dengan mengkaitkan banyak warna dan banyak bentuk, sekaligus gaya stop motion (walaupun 100% CGI) memang sangat menunjukkan karakteristik dari permainan lego itu sendiri. Untuk sebuah film yang juga merupakan sebuah media marketing sebuah produk, film ini seratus persen mewakili.

Dari segi cerita, film yang akan menarik perhatian anak-anak ini, tergolong begitu inspiratif, penuh dengan sisi moral dan message, seorang pekerja konstruksi Emmet (Chris Pratt), seorang lego biasa, tanpa keahlian khusus, tanpa adanya aspirasi dari dirinya sendiri tiba-tiba harus mulai sebuah petualangan ketika dirinya menemukan sebuah potongan lego “piece of resistance” yang menjadikannya sebagai The Special, atau seseorang yang terpilih untuk mengisi takdirnya yang telah diramalkan. Sebuah ramalan, bahwa seorang Emmet akan menyelamatkan dunia dari kejamnya sebuah korporasi besar yang dipimpin seorang Evil Lord (Will Ferrel). Dibantu oleh seorang gadis lincah dan pintar, Wyldstyle (she’s not a DJ but Elizabeth Banks), Emmet harus berkeliling ke berbagai belahan dunia lego yang mempertemukannya dengan banyak karakter termasuk Batman (Will Arnett), Unikitty (Alison Brie), space guy (Charlie Day) dan seorang wizard Vitruvius (Morgan Freeman). Mereka harus berlomba dengan waktu di tengah kejaran seorang polisi (Liam Neeson) yang diperintah Evil Lord untuk mencegah Emmet memenuhi takdirnya.

This almost “snowflake” shaped character makes the voice department is so crucial, yeah tidak sebuah kejutan ketika nama-nama besar yang memang digadang untuk mengisi setiap karakter ini. Walaupun memang masih terdapat variasi dari segi bentuk, but come on, they’re all lego-nized. Dan memang, segi voice akting dari cast ini berhasil menghidupkan setiap karakter di film ini, mulai dari Chris Pratt yang sepertinya tidak perlu memanipulasi suaranya karena karakter suara dan public imagenya begitu masuk ke dalam karakter Emmet, keatraktifan suara Elizabeth Banks, dual personality yang berhasil ditampilkan oleh Liam Neeson (dan Alison Brie) serta Will Ferrel sebagai karakter villain utama. And the best part adalah film ini tidak terlalu mengolah suara mereka, kita masih bisa mengenali siapa menyuarakan siapa di film ini. Plus, banyak voice cameo mulai dari Channing Tatum, Cobie Smulders, Will Forte walaupun yang benar-benar berhasil hanyalah Jonah Hill yang menyuarakan Green Lantern yang juga membawa sifat public image dirinya, cocky.

Christopher Miller dan Phil Lord sepertinya memang spesial untuk sebuah film yang memiliki possibility untuk di-underestimatekan, mulai dari Cloudy with A Chance of Meatball yang memiliki premis kepalang aneh, projek 21 Jump Street yang masih teringat bagaimana orang-orang begitu skeptis namun ternyata mampu menjadi surprise hit secara komersial dan kritik, dan sutradara serta penulis ini mampu mengangkat animasi berdasarkan mainan ini menjadi tidak terlalu shabby dan cukup diatas rata-rata dari segi eksekusi. The Lego Movie menjadi sebuah film yang fast moving, fast paced dengan material yang masih berbahan dasar “formulaic” namun dikemas dengan pandai. Salah satunya lewat jokes-jokes segar di setiap line dialoguenya, walaupun jokes ini tidak serta merta berhasil men-generate tawa dari awal durasi. Film ini masih begitu predictable di awal film, dengan jokes-jokes yang belum langsung bisa dicerna karena memang one second jokes bait, another second its execution sepertinya masih memerlukan waktu “loading” untuk penonton untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan jenis jokes seperti ini.

Bisa dikatakan cukup telat untuk starternya, awal film terbantu dengan spirit yang dimuat dalam lagu dinamis dengan judul “Everything is Awesome” namun penonton baru bisa benar-benar involved ke cerita dengan bantuan sebuah adegan witty lewat double decker couch. Sebuah adegan penyelamatan yang dilakukan double decker couch buatan Emmett terbukti mampu mengakhiri action sequence yang terkesan bland, no thrill, no fears, no danger. Bland action sequence ini tidak lepas dari dari karakter media penceritaan yang lagi, dan lagi, it’s just “lego”, tidak peduli lego ini akan tertembak, jatuh dari jurang, pecah, atau sebagainya, mereka semua hanyalah lego. Mungkin inilah salah satu efek ketika image “mainan” begitu kental sehingga kesan “sepele” juga masih mengikat ketika film ingin berjalan ke arah scene yang lebih “seharusnya serius”.

MAYBE SPOILER

Film yang hampir menggunakan satu jenis bahan candaan ini memang terlihat jelas mengalami apa yang ekonomi sebut dengan “diminishing return”, tidak peduli substance dari jokes tersebut, jokes berubah menjadi begitu predictable, untunglah keatraktifan dari variasi karakter seperti Batman dan space guy masih bisa menolongnya. Film ini juga dengan berani mengambil twist yang sepertinya menantang baik intelegensi anak-anak ataupun orang tua yang menemani mereka menonton (walaupun secara pribadi twist ini sudah bisa diprediksi mulai dari scene Emmet memiliki vision). Sebuah twist yang mengingatkan kita pada film serupa, Toy Story, sebuah film yang akan memuaskan para penikmat film yang suka akan sesuatu yang mengejutkan, walaupun film ini juga sepertinya dari final act-nya akan mengingatkan kita pada Puss in Boots. Yeah, villain yang tiba-tiba hatinya terketuk, actually WHAT THE HELL for me, but I think it’s good for kid’s soul. Yeah, moral message. Moral message. Moral message.

The Lego Movie merupakan sebuah film yang mampu melewati ekspektasi yang ada jika dilihat film ini diangkat dari sebuah mainan, dieksekusi secara solid oleh sutradara dan di-uplift screenplay-nya dari sebuah materi biasa menjadi sedikit luar biasa, sebuah tricky twist, namun secara personal film ini adalah salah satu film “overrated” di awal tahun 2014.

“Well contructed, and well overrated.”

Honey, I Shrunk The Kids : The Ant Bully (2006), The Secret World of Arrietty (2010), and Epic (2013)

Okay, salah satu film yang paling diingat saat kecil adalah Honey I Shrunk The Kids, yeah. Suatu kali film ini pernah ditayangkan di sebuah televisi (when our television station was pretty decent), and it actually changed my world. Konsep dari film ini sebenarnya sudah sangat tertera pada judulnya, seorang ayah ilmuwan tanpa sengaja menyusutkan badan anak-anaknya. Masalah terjadi ketika anak-anak ini kemudian harus berjuang kembali ke rumah dengan melewati hutan rimba penuh bahaya yang tidak lain tidak bukan adalah kebun belakang rumah mereka sendiri. Mereka bertemu dengan kupu-kupu raksasa, jamur raksasa, bahkan juga sampai semut raksasa. When I was six or something, that was fucking awesome.

So, I watched some movies with the same storyline, this is it….

Director : John A. Davis
Writer : John A. Davis, John Nickle
Cast : Julia Roberts, Nicolas Cage, Zach Tyler, and Meryl Streep

About
Film apa yang dibayangan kita ketika mendengar kata semut, dan juga animasi, yeah, mungkin Antz, namun film ini juga mengeksplor kehidupan semut dan juga koloninya. Lucas (Zach Tyler), seorang anak yang sebenarnya kurang mendapatkan perhatian lebih orang tuanya, dan juga dibully oleh teman-teman sebayanya, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak-abrik sebuah koloni semut di depan rumahnya. Tanpa disangka, koloni semut tersebut memiliki peradaban, mereka bisa berbicara, mereka memiliki ilmu pengetahuan, termasuk magic. Hingga saat suasana sudah darurat, salah satu semut, Zoc (Nicholas Cage) kemudian membuat sebuah potion yang menyusutkan tubuh Lucas, and BAM !!! Lucas yang nakal pun menjadi sekecil mereka, dan atas keputusan Queen (Meryl Streep), Lucas pun harus belajar untuk menjadi bagian dari koloni dengan arahan seekor semut optimis, Hova (Julia Roberts).

“Well crafted, full of message, but almost nothing special.”

Okay, film animasi mungkin sangat cocok untuk anak-anak karena penuh dengan message moral atau pun banjir dengan kebaikan, seperti kerjasama, tidak boleh egois, tidak boleh nakal, dan sebagainya, dan sebagainya. Untuk film animasi yang ditujukan untuk anak-anak, film ini bisa dikatakan sebagai sebuah film yang sangat sukses. Namun, bagaimana untuk orang dewasa ? Yeah, film ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, dialog-dialognya juga tergolong cukup lucu, namun tidak terlalu lucu, cukup pintar, namun tidak terlalu pintar. Salah satu yang menarik perhatian mungkin pengisi suara yang termasuk aktor aktris yang sudah tidak diragukan lagi. Julia Roberts, Nicholas Cage dan juga Meryl Streep berada di pengisi karakter-karakter utama. Namun disinilah sepertinya sumber kekecewaan yang lain, bahkan seorang aktor aktris peraih Oscar atau bla-bla bla, terkadang juga hanya standard-ly perform di film dimana mereka hanya bisa mengandalkan suara mereka. Yeah, untuk Nicholas Cage dan Meryl Streep sedikit masih bisa mempertahankan karakter suara asli mereka and that is a good thing, namun untuk karakter Hova yang disuarakan Julia Roberts sepertinya benar-benar separuh kehilangan karakter istimewa Julia Robert. Yeah, I like this actress pronounce every word with her upper lips in live action movie, namun sepertinya di film ini, jika kita menutup mata, kita akan sulit menebak jika suara ini adalah suara Roberts.

Elemen of wonder, yeah I got this term, karena sepertinya film dengan jalan cerita seperti ini memiliki kekuatan untuk mengeksplor dunia yang kecil namun familiar, kemudian dibandingkan dengan dunia normal yang tiba-tiba menjadi raksasa. Yeah, The Ant Bully tidak sepenuhnya memanfaatkan elemen yang satu ini karena mungkin kebanyakan setting di koloni semut ketimbang di rumah Lucas, namun untuk beberapa scene, film ini masih mengeksplor hal tersebut.

Giant antagonist, pasti selalu karakter orang normal yang menjadi karakter antagonist di film ini. Yeah, film ini menyertakan kakak Lucas dan juga neneknya sebagai karakter yang sering kali mengganggu, bukan mengancam. Karakter mengancam hadir lewat The Exterminator yang merupakan karakter antagonist utama karena mengancam keberadaan koloni ini. He’s so ambitiously menacing but not impressing. Yeah, tipikal antagonist biasa. Sisi ini mungkin bisa dikatakan terlalu pasif, dan sengaja untuk tidak mendominasi cerita.

Sisi yang menariknya adalah sepertinya kurang menyenangkan untuk melihat sebuah film tentang binatang, bahkan binatang ini bisa berbicara namun terdapat beberapa adegan “pembunuhan binatang”, I don’t know why I found it very harsh, not for children maybe, but for adult. Beruntungnya, The Ant Bully tidak terlalu jauh masuk dalam genre fantasy, cukup dengan semut yang berbicara, kemudian mereka juga menyertakan binatang-binatang lain, seperti nyamuk, tawon yang juga bisa berbicara, tanpa tambahan karakter fantasy yang kurang natural ataupun terlalu aneh.

Director : Hiromasa Yonebayashi
Writer : Mary Norton, Hayao Miyazaki
Cast : Saoirse Ronan, Tom Holland, Olivia Colman (english cast)

Sama seperti The Ant Bully, film ini juga berdasarkan pada sebuah buku dan dengan tangan dingin studio Gibli untuk menyediakan animasinya, maka film ini memang sangatlayak untuk ditonton.

Mungkin istilah “Honey I Shrunk The Kids” kurang tepat untuk film ini. Film yang bergenre fantasy ini memang bercerita tentan dua kehidupan yang memang sudah berbeda. Sho, seorang anak laki-laki biasa dengan ukuran normal dan Arriety, seorang gadis mungil kecil yang hidup secara rahasia di sekitar rumah Sho. Sho harus menghabiskan hari-harinya di rumah masa kecil ibunya karena ia mengidap sebuah penyakit yang membuatnya membutuhkan sebuah suasana yang tenang dan damai. Ketenangannya mulai diusik ketika ia mulai beberapa kali memergoki orang-orang kecil atau yang disebut dengan Borrower. Borrower ini adalah sebuah legenda tentang orang-orang kecil yang suka meminjam barang-barang seperti gula, jarum, dan lain sebagainya untuk bertahan hidup. Salah satu Borrower aalah Arriety yang hidup bersama ibu dan juga ayahnya. Arriety yang “orang baru” dalam menjalankan misi bertahan hidup, beberapa kali harus kepergok oleh Sho dan akhirya menjalin persahabatan dengannya. Sayangnya, persahabatan ini juga harus mengancam keluarga dan “spesies”-nya yang mulai langka dan akan punah.

“Simple but beautiful.”

Yeah, jika dibandingkan dengan The Ant Bully dan juga Epic, mungkin The Secret World of Arriety paling tradisional dari segi visualnya, but it’s Gibli, GODDAMN IT. Dari visual yang terlihat tradisional ini malah film ini terlihat indah dalam balutan yang sederhana, terlihat klasik dan juga old school.

Ceritanya pun dibuat tidak macam-macam. Hanya tentang relationship antara manusia dan manusia mini, namun dikemas dengan banyak sisi charming sekaligus mendalam untuk kedua karakter utamanya. Untuk film animasi, Arriety dan juga Sho bukanlah karakter yang terlalu komikal, they are actually like real character. Yeah, dalam artian, karakter ini termasuk karakter yang kompleks untuk ukuran sebuah karakter yang direpresentasikan oleh sebuah gambar. Sho adalah anak laki-laki yang kesepian, juga kurang perhatian, diperlakukan secara spesial, dan bisa dikatakan karena penyakitnya, ia mulai menutup dunianya, lebih gelap lagi terkadang Sho juga harus menghadapi kematian yang mungkin akan menjemputnya setiap saat. Kontras dengan Arriety, gadis kecil ini penuh dengan keingintahuan akan dunia yang baru, seorang petualang, dan juga mempunyai sisi “membangkang” dengan kedua orang tuanya yang cenderung konservatif. Hubungan yang aneh pun mereka jalani, sebuah persahabatan yang begitu kontras antara dua karakter yang penuh dengan keterbatasannya masing-masing. Film ini cukup berhasil mengeksplor hal ini, membuat film ini tidak hanya menyenangkan dan full message untuk anak-anak, namun juga menjadi film  yang menghibur sekaligus terkadang menyentuh untuk orang dewasa.

Element of wonder, siapa bilang dengan animasi tradisional, sisi yang satu ini menjadi lemah. Keingintahuan dan karakter Arriety yang selalu amaze dengan dunia barunya  menjadi salah satu kekuatan film ini untuk benar-benar mengolah bagaimana karakter kecil ini harus hidup di dunia yang besar. Sebuah perjalanan meminjam gula, menjadi rangkaian adegan yang menghibur karena mereka harus melewati meja yang super tinggi, kemudian terjun dari meja yang super tinggi pula. Bagaimana keluarga Arriety memanfaatkan barang-barang di sekitarnya untuk rumah mereka juga sangat menarik. Untuk film dengan cerita seperti ini, The Secret World of Arriety benar-benar tahu kekuatannya.

Giant antagonist, tidak ingin terlalu ambisius dalam menciptakan karakter antagonist. Antagonist disini cukup seorang perawat rumah yang dengan segala upaya “juga” ingin menangkap orang-orang kecil ini namun dengan cara-cara yang masih biasa dan juga alami, namun tanpa melupakan sisi mengancamnya.

Dengan karakter yang dalam dan juga menyenangkan, sekaligus pendekatan yang lebih sederhana, film ini merupakan film yang tahu benar kekuatannya.

Director : Chris Wedge
Writer : William Joyce, James V. Hart
Cast : Amanda Seyfried, Josh Hutcherson, Beyoncé Knowles, Colin Farrell, Jason Sudeikis, Christoph Waltz

Hmmm, dari creator Ice Age (hmmm, not pretty good indicator, walaupun Ice Age adalah guilty pleasure yang selalu ingin ditonton), Epic bercerita tentang MK (Amanda Seyfried) yang berkunjung ke rumah ayahnya yang sedikit gila, Professor Bumba (Jason Sudeikis). Sebenarnya tidak terlalu gila, karena ia mempercayai peradaban orang-orang kecil yang hidup di tengah hutan, dan benar. Queen Tara (Beyonce Knowles) adalah ratu yang senantiasa menjaga hutan dan dalam waktu dekat akan menyerahkan kekuatannya dan memilih seorang leader yang baru. Beruntungnya, konflik antara Leaf Man yang dipimpin Queen Tara dengan Mandrake (Christoph Waltz) semakin menjadi ketika Mandrake tahu bahwa akan ada pengalihan kekuatan Queen Tara lewat sebuah pod. Di tengah pertempuran pun, Queen Tara terpaksa menyerahkan pod-nya ke MK yang seketika mengecilkan badannya. MK-pun harus bertempur dengan waktu untuk menyelamatkan pod dan seisi hutan dengan bantuan para tentara Leaf Man,  Nod (Josh Hutcherson) dan Ronin (Colin Farrel).

“Not quite epic fail, but yes, it is quite epic boredom.”

Too crowded. Sepertinya film ini tidak terlalu bisa memenuhi janjinya seperti yang tertera pada judulnya. Epic bisa dikatakan terlalu biasa diatas misinya yang terlalu “epic”. Terlalu banyak karakter, dengan terlalu banyak interaksi dan hubungan namun tidak ada satu hubungan antar karakter yang bisa diolah dengan dalam, semuanya berakhir dengan level nanggung, seperti hubungan Ronin dengan Queen Tara, hubungan MK dengan Nod, hubungan Nod dengan Ronin, hubungan MK dengan ayahnya, terlalu banyak yang ingin dicakup namun akhirnya berakhir biasa saja tanpa meninggalkan bekas untuk penonton.

Film ini diawali dengan scene yang sangat familiar untuk film serupa, yaitu MK yang berkunjung ke rumah ayahnya yang jauh di entah berantah, kemudian disertai dengan perkembangan plot yangg berjalan lambat sepertinya film ini sudah membosankan sejak awal pertama film mulai.

Yeah, mungkin disinilah salah satu masalah animasi, lebih mengutamakan nama besar ketimbang menyuarakan karakter suaranya menjadi berkarakter (salah satu sisi mengapa lebih suka pengisi suara Pixar yang lebih masuk karakter walaupun pengisi suaranya kadang tidak terlalu kita kenal). Nama besar seperti Beyonce Knowles, Christoph Waltz, bahkan komedian Aziz Ansari tidak ada yang bisa menyuarakan karakternya dengan ciri khusus, ditambah dengan Amanda Seyfried dan Josh Hutcherson sepertinya bagian voice-acting tidak terlalu inspirational.

Element of wonder, film ini memang tidak berfokus pada dunia kecilnya mengingat film ini terlalu masuk pada genre fantasy dengan banyak makhluk-makhluk baru yang aneh. Dibandingkan ketiga film, film ini adalah film yang paling lemah di sisi ini. Kemampuan ‘orang-orang kecil” ini untuk menjelajahi dunianya juga “too epic to be true”, mereka bisa melompat dengan sangat tinggi, bahkan dengan mudahnya mengendarai burung, membuat Epic selayaknya Journey to The Center of The Earth versi animasi.

Giant antagonist hampir tidak ada di film ini, karakter ayah MK juga terlalu “clueless” untuk mengetahui keberadaan orang-orang kecil ini, hasilnya karakter antagonist memang sepenuhnya berada di tangan Mandrake, karakter antagonist yang terlalu general dan terlalu “been there done that.”

Epic terlalu gagal untuk memenuhi narasi awalnya yang mengutarakan untuk “look closer”, secara visual memang menyenangkan walaupun juga tidak terlalu spesial, tidak lebih dari itu.

In the end, untuk film dengan storyline hampir serupa, The Secret World of Arriety > The Ant Bully > Epic.

Despicable Me 2 (2013) : A Sequel of Super Bad Super Dad, More Minions and Lipstick Taseeeer !

Director : Pierre CoffinChris Renaud

Writer : Ken Daurio, Cinco Paul

Cast : Steve Carell, Kristen Wiig, Russell Brand

About

Dengan mengantongi lebih dari setengah miliar dolar America, Despicable Me pun akhirnya mendapatkan porsi “sekuel”nya. Kisah yang bercerita tentang bad guy turns out to be decent guy di film pertamanya memang sempat menjadi hit karena memberikan cerita dengan surprise tersendiri. Belum lagi kehadiran Minions sebagai supporting role yang terbukti efektif dan suara grumpy Steve Carell yang mampu menghidupkan karakter Gru.

Despicable Me 2 benar-benar menjadi film yang ditunggu dan turut meramaikan parade film summer (selain juga turut meramaikan parade film animasi yang akan dibuat sekuel, yep ! Monster University released last week). Despicable Me 2 juga masih menggandeng banyak pengisi suara yang sama dengan film sebelumnya. Bahkan, Kristen Wiig yang sebelumnya hanya memegang minor role, kini dipercaya untuk menyuarakan suara yang lebih signifikan (Iyah, Bridesmaids mengubah karirnya).

Setelah beberapa trailer teaser yang kebanyakan menghadirkan karakter kuning lucu dengan bahasa yang tidak jelas, Minions. Maka Despicable Me 2 akan dirilis minggu ini.

Despicable Me 2 bercerita tentang kehadiran super villain baru yang masih menjadi teka-teki karena ia mencuri secara terang-terangan sebuah laboratorium di kutub yang sedang mengolah serum berbahaya. Untuk menangkap sang penjahat, liga anti penjahat mengirim agen rahasia bernama Lucy (Kristen Wiig) untuk menculik Gru (Steve Carell) dan mengajaknya untuk berpartner. Di sisi lain, sisi lain Gru mulai minta diperhatikan lebih, yaitu anak-anaknya dan kehidupan asmaranya. Mampukah Gru menangkap sang super villain dengan bantuin para Minions dan Lucy ?

“Despicable Me 2 is unfocus sequel which is not GETting SMARTer and Minions show as bitter saccharine .”

Baru di awal film, Minions sudah mengundang tawa penonton dengan ulah mereka. Yep ! Minions domination ! Porsi Minions mendapatkan porsi yang lebih banyak di film ini, bahkan peran mereka juga bertambah signifikan pada storyline-nya. Di film pertama, penampilan Minions terbukti efektif dan they stole the show. Hal yang sama ingin dicapai pada sekuel ini hanya saja sepertinya Minions try too hard. Pada awal film, semua hampir tertawa dengan ulah Minions, namun karena terlalu banyak di ekspos, peran Minions ini seperti kehilangan sisi “cute-ness” mereka karena terlalu banyak tampil dengan scene yang sebenarnya tidak perlu. Sorry, Minions. Ini juga memicu pikiran jika spin off Minions, dengan judul yang sama, hanya mengandalkan kelucuan dan kekonyolan Minions diluar sebuah skrip yang benar-benar kuat, trust me, the spin off is gonna be a mess !

Image

source : www,impawards.com

Ingat dengan Vector ? Yah, karakter villain yang disuarakan Jason Segel ini juga menjadi karakter yang menarik di film sebelumnya. Di film ini, yang mengambil premise dengan kata “super villain”, hal itu malah menjadi sesuatu yang miss. Karakter villain yang dirahasiakan dari awal membuat villain kurang dapat dieksplor dan malah terkesan mengambang dan film hampir setengahnya berjalan tanpa adanya konflik dan tanpa musuh, membuat film ini terasa datar. Ketika karakter villain mulai diungkap juga merupakan sebuah kekecewaan ketika villain bukanlah tipe yang super. Bahkan, dia sangat mudah dikalahkan. Wew ! And basically, there’s no REAL problem in this movie.

Gru yang ingin mencuri bulan di film pertama menjadi visi yang ambisius dan membuat film jelas mau dibawa arahnya kemana. Lagi, dan lagi, film sekuel ini kehilangan visi yang membuat film menjadi seperti blur dan kehilangan fokus, hanya menyajikan slapstick di sana dan di sini.

Di sekuel ini juga Gru is not a bad guy, yang membuat film ini sepertinya menjadi agak tergeser dari judulnya DESPICABLE ME, Gru berubah dan membantu agen untuk menangkap penjahat pastinya akan mengingatkan kita pada film Steve Carell dan Anne Hathaway, Get Smart. Yup ! Beberapa tingkah Gru saat membantu agent, bahkan karakter villain di film ini akan mengingatkan kita pada film Get Smart.

Despicable Me 2 berusaha mengganti parental problem (yang menjadi message penting di dalam film pertama) dengan sisi romance antara Gru dengan Lucy dan Margo (anak pertama Gru) yang sedang mengalami kisah cinta pertamanya. Jatuhnya, generic ! No surprise, membuat cerita menjadi mediocre.

IT’S BIG DISAPPOINTMENT namun untuk ukuran film keluarga, dimana anak kecil pasti akan dibuat gemas dengan karakter Minions, yep ! When we’re children, fuck the plot, fuck everything, every movie is awesome.

Trivia

Javier Bardem dipertimbangkan untuk mengisi suara villain namun ternyata keluar.

Quote

Gru (to Agnes) : Never get older.