Classics

Don’t Look Now (1973) : Grief, Supernatural, Clairvoyant, Crime and The Shadow of Venice

Director : Nicolas Roeg

Writer : Daphne Du MaurierAllan Scott

Cast : Julie ChristieDonald SutherlandHilary Mason

The churches belong to God, but he doesn’t seem to care about them. – The Bishop

(REVIEW) Film ini dimulai dengan sebuah hari penuh kedamaian, hari yang santai seakan-akan tidak ada hal buruk yang sedang terjadi. John Baxter (Donald Sutherland) dan Laura (Julie Christie) sedang bermesraan dengan cara mereka sedangkan kedua anaknya sedang bermain di halaman rumput yang sangat luas. John Baxter yang sedang menerima sebuah proyek untuk merestorasi sebuah gereja kemudian menerima sebuah tanda-tanda yang tidak mengenakkan dan membawanya ke luar menemui anaknya dan tanda tersebut memang berusaha memperingatkannya, namun sayang terlambat. Anak perempuan keluarga Baxter telah tewas tenggelam dalam balutan mantel merah.

Heartache. Mourning. Depression. Sorrow. Grief. Untuk me-recover diri mereka, pasangan ini pun memutuskan untuk menyibukkan diri mereka dengan pekerjaan John merestorasi sebuah gereja tua di Venice. Sebuah kota cantik di Italia yang di kelilingi dengan air dimana-mana, yeah, sebuah sisi yang mau tidak mau akan mengingatkan John pada tragedi mengerikan tersebut. Laura benar-benar kehilangan anak perempuannya akhirnya menemukan kebahagiaannya kembali ketika dua orang wanita aneh mengaku bisa melihat keberadaan roh anaknya namun dua wanita ini juga mengatakan bahwa John sedang berada dalam bahaya besar jika ia tidak keluar dari kota yang sedan memiliki angka kriminalitas tinggi tersebut.

Jika menonton Don’t Look Now tanpa informasi apa-apa, film ini merupakan sebuah mixed bag dari berbagai genre, seperti tentu saja drama, thriller, dan sedikit sentuhan-sentuhan berbau crime plus supernatural thingy. Mungkin inilah yang membuat film ini ketika ditonton terasa strange, walaupun dalam waktu yang bersamaan juga penonton serasa dibuat kehilangan arah kemana film ini akan berakhir.

Paruh awal bisa dikatakan sebagai paruh paling drama ketika sebuah tragedi ini kemudian secara tidak langsung menge-tes pasangan ini. Pasangan ini memang tidak terlihat depresif karena sepertinya mereka telah sampai tahap post-recovery, namun terdapat sisi emptiness dalam keadaan mereka, benar-benar bisa dirasakan. Kehadiran dua orang clairvoyan ini membawa Laura ke dalam passionnya lagi untuk hidup, salah satu scene menunjukkan passionate sex scene yang bisa dikatakan terlalu vulgar di zamannya (yeah, I google that, this sex scene is included what we call “oral sex” nowadays, it’s a controversy in that time.)

Selesai dengan sisi introduction apa yang sedang dialami pasangan ini, film ini dengan sabar melakukan perkenalan dengan berbagai sisi mistis, superstitious, merubah kota Venice yang tadinya benar-benar cantik menjadi sebuah kota layaknya labirin ( with mist) yang membawa misterinya tersendiri. Karakter John menggabungkan sisi skeptis sekaligus sebagai seorang karakter yang sebenarnya memiliki mata batin akan hal tersebut, sisi skeptis ini tentu saja mampu diperankan dengan baik oleh wujud seorang Donald Sutherland. Dari sinilah karakter John ini harus menangani misteri demi misteri dimana terdapat ketakutan tersendiri ia akan kehilangan orang yang ia sayangi (lagi), dalam hal ini adalah istrinya yang sangat labil, Laura.

Film ini berhasil menjadikan setiap orang, setiap karakter, setiap sisi gelap dan bayangan dari kota ini menjadi suspect terhadap hal buruk yang sepertinya akan terjadi. Disinilah tensi thriller perlahan-lahan mulai hadir walaupun dihadirkan dengan halus dan halus. Setiap scene akan digabungkan dengan scene yang lain, membuat film ini sepertinya menuntut penonton untuk menonton lebih dari satu kali untuk mencernanya. Yeah ! Film ini tahu benar bahwa sisi asing dari sebuah kota Venice dapat dijadikan sebagai unsur yang mengancam untuk pendatang. Baik tata kota, maupun orang-orang berada di dalamnya memiliki sebuah karakter yang lebih menghantui dibandingkan dengan keberadaan roh yang berusaha memperingatkan mereka.

Editing mungkin akan membuat beberapa penonton sedikit merasa on-off untuk sisi adrenaline yang berusaha dipompa secara perlahan-lahan namun sangat konsisten. Namun sisi editing-an ini merupakan sebuah visualisasi yang tepat untuk film yang ingin menggambarkan sebuah signs dari keadaan sekitar yang berusaha diinterpretasikan oleh karakternya.

Don’t Look Now merupakan gambaran sebuah film sukses yang mampu membangun sebuah genre thriller lewat premise yang penuh dengan sisi reality kemudian mulai menggabungkan dengan sisi strange berbau paranormal (bahkan hantu atau roh halus) kemudian kembali lagi ke sebuah sisi yang real, yaitu sisi kriminalitas yang turut menjadi ancaman.

Slowly plotted, yeah memang, ditambah dengan mysterious characters, mysterious place, mysterious plot, Don’t Look Now diibaratkan sebuah kado yang meminta dibuka dengan sangat perlahan. Tidak untuk penonton yang tidak sabar, namun Don’t Look Now akan begitu rewarding jika bisa menonton film ini sampai akhir. Sebuah ending yang tidak memanipulasi ekspektasi penonton, sebuah ending yang telah diramalkan, juga sebuah ending yang benar-benar masih mengejutkan.

“The twist is so weirdly good, it’s so rewarding for unpatient person, like me.”

Advertisements

Harold and Maude (1971) : What If “Obsessed with Death” Young Man Meets “Live Life to the Fullest” Old Lady ?

Director : Hal Ashby

Writer : Colin Higgins

Cast : Ruth Gordon, Bud Cort, Vivian Pickles

About

What do you think when you hear “romance” ? Beautiful man ? Beautiful girl ? Yeah, no matter how beautiful they are, at least they are in same age range. Namun, tidak dengan Harold and Maude ini. Harold and Maude mengambil segi cerita yang sangat menarik.

Harold (Bud Cort), pemuda kaya raya, pendiam, dan mempunyai obsesi dengan segala upaya bunuh diri. Gantung diri ? Bakarr diri ? Menenggelamkan diri ? Peluru ? Pisau ? Semuannya telah ia peragakan untuk mencari sesuatu tentang diirnya. Yep ! I think he’s in crisis. Obsesi inilah yang membuat ia sering mengunjungi funeral orang asing, namun obsesi inilah juga yang membuat ibunya  (Vivian Pickles) mulai ignorant dengan apa yang dirasakan Harold, dan mulai ingin memberi Harold sedikit tanggung jawab yaitu dengan menjodohkannya dengan para gadis atau juga membujuk dirinya untuk mengikuti kegiatan militer.

Hingga suatu hari Harold bertemu dengan Maude (Ruth Gordon), seorang nenek-nenek single dengan umur 90 tahun (I assume), dengan gaya eksentrik, mencoba sesuatu yang baru setiap hari, ia berusaha menikmati sisa-sisa umurnya dengan cara yang tidak biasa. Disinilah Harold dan Maude mulai menjalani kisah “tidak lazim” yang mungkin akan mengubah kehidupan mereka berdua.

Dengan banyak predikat masuk daftar sebagai film terlucu atau film teromantis, yeah that’s one of motivation to watch this movie, LETS SEE.

“Funny, I like the interesting characters, though sometimes I have to catch it up.”

Apa yang sangat menarik dengan Harold and Maude tentu saja adalah dua rentang karakter utama yang lebih pantas untuk menyandang status nenek – cucu, namun disini bisa dikatakan sebagai partner ( I won’t say couple). Dua karakter yang sangat betolak belakang ini bisa dikatakan sebagai dua karakter yang saling mengimbangi. Maude sebagai karakter yang penuh dengan energi dan menikmati hidup kemudian disandingkan dengan Harold yang lebih pasif dan netral dalam merasakan hidupnya. Thanks to well choosen Bud Cort and Ruth Gordon. Walaupun begitu sepertinya kurang adanya “penetrasi” yang cukup ketika dua karakter ini bertemu sehingga penonton seperti harus melakukan kejar-kejaran dengan dua karakter yang kompleks namun kemudian harus menyatu dalam satu dialog percakapan dan interaksi.

Salah satu kunci untuk menikmati film ini adalah kurangilah ekspektasi bahwa film ini merupakan film romance yang menceritakan kisah cinta nenek dan seorang pemuda. Yuck ? Yeah. Namun, anggaplah film ini sebagai film comedy yang menggunakan celah rentang usia sebagai bentuk mengolah materi komedi. Dan, iya, film ini cukup berhasil untuk melakukan berbagai aksi kocak (terutama karakter Maude) yang diperlihatkan sebagai karakter atraktif dan dapat melakukan “hal yang tidak terduga. Ruth Gordon melakukan tugasnya dengan baik, walaupun bisa dikatakan karakter Maude jauh dari karakter yang real, namun Ruth Gordon tidak melakukannya dengan berlebihan, melalui sisi “eksentrik”-nya ia mulai menghidupkan karakter Maude. Berbeda dengan Harold ketika ia sendiri, a thousand ways to die merupakan bahan lawakan yang membuat Bud Cort tidak jomplang ketika ia harus kehilangan Ruth Gordon di layar, ditambah dengan karakter Ibunya yang konsisten “stay cool” dengan apa yang dilakukan Harold, this movie seems so pretty cool. Film ini memang berkonsentrasi pada sisi comedy-nya, and thank God, di 30 menit terakhir ketika sisi romance mulai disentuh dan dibahas, it’s not quite awkward. It’s warm and, yeah, I gotta say funny.

Film ini merupakan film yang bisa menikmati jalannya film itu sendiri. Terbukti dengan durasi sekitar 90 menit, that was one of the shortest 90 minutes in my life in watching movie. Menyenangkan ? Yeah. Warm ? Absolutely. Some smart lines ? Okay. Black comedy yang juga mengambil konsep “kematian” dalam jalan ceritanya ini sepertinya tidak ingin terlalu mengangkat tema depresif dengan cara yang depresif pula. Karakter Maude dengan cara pandangnya tentang hidup ini terbukti tidak hanya merubah kehidupan Harold namun beberapa dialog masih bisa dirasakan penonton. Yeah, a lot of lesson of life in this movie. Film ini memberikan banyak encouragement walaupun terkadang masih terasa absurd. Absurd but interesting.

Kekurangan film ini, lagi dan lagi, harus kembali ke karakter. Harold and Maude sekali lagi adalah karakter yang sangat kompleks walaupun mereka harus dibayang-bayangi dengan sisi comedy yang membuat karakter mereka terlihat dangkal (dan tidak real). Kurang adanya penjelasan karakter mereka berdua ternyata membuat penonton seperti kehilangan sesuatu terutama ketika mereka berdua berbagi layar. It’s like I wanna know more about Harold, I wanna know more about Maude. Sisi lainnya, scene demi scene (walaupun tetap menarik) sepertinya merupakan repetisi dari scene-scene sebelumnya. Seperti bagaimana Ibu Harold menjodohkan anaknya yang berujung pada kencan satu ke kencan yang lainnya saja. Atau jokes tentang bagaimana Maude menyetir, that is quite funny in  the early, tetapi beberapa scene terus menerus melakukan jokes ini, membuat jokes ini terkesan lelah.

In the end, it’s still a very pleasant movie though gotta admit it, it doesn’t fulfill my expectation bar.

P.S.

Oh yeah, I like the soundtrack a lot. It’s supportive to the story and totally blend it. Yeah, basically, just because I like that kind of movie. Comforting.

Trivia

Akibat peran ini, dan untuk menghindari typecast, Bud Cort menolak peran Billy Bibit di One Flew Over The Cuckoo’s Nest.

Quote

Harold : Do you pray ?

Maude : Pray ? No. I communicate.

Rosemary’s Baby (1968) : A Healthy Herb of Psychological Horror, Pregnancy with Satan’s Agenda

Director :  Roman Polanski

Writer :  Roman Polanski,  Ira Levin

Cast :  Mia FarrowJohn CassavetesRuth Gordon

About

Women and witchcraft, yeah terakhir kali menonton hiburan dengan tema ini mungkin tidak lain tidak bukan American Horror Story : Coven, atau mungkin masih teringat bagaimana Suspiria menggabungkan sisi sihir ini dengan sisi seksi dari Jerman, musik, warna dan juga balet.  Talking about list and this thing, pasti sering banget nemuin film yang satu ini berada di top list film “paling —-” sepanjang masa. Salah satunya mungkin predikat film paling menakutkan atau apalah. Rosemary’s Baby adalah film adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang menggabungkan sisi horror lewat witchcraft dan juga labilnya psikologi perempuan yang sedang hamil.

SPOILER !!!

Rosemary (Mia Farrow) dan Guy (John Cassavetes) adalah pasangan muda yang menempati apartemen baru mereka yang menyimpan “sedikit” misteri dari kematian tenant pendahulunya. Pasangan ini menjalani hidup biasa dan sedikit diatas standar mengingat Guy adalah seorang aktor yang telah membintangi beberapa play. Kehidupan sosial mereka mulai timbul ketika mereka berkenalan dengan pasangan manula di apartemen mereka, pasangan eksentrik yang memberikan perhatian “berlebihan” terhadap kehidupan Rosemary dan Guy. Ketika Guy mulai meroket karirnya, mereka memutuskan untuk memiliki seorang anak yang ternyata “mengundang” perhatian para tetangga Rosemary dan membuat perubahan sikap Guy. Rosemary-pun mulai merasakan hal yang aneh dalam tubuhnya dan mulai merasa bahwa ada “agenda” tersendiri dari kehamilannya.

“For me, personally, the baby never kicks (like it supposed to be), but it’s still interesting, chapter by chapter, totally thank you for Polanski’s solid hands.”

Film ini diawali dengan lullaby yang dinyanyikan Mia Farrow sendiri dan harus diakui lullaby ini memberikan sisi mistis yang cukup kuat mengawali film.

Rosemary’s Baby begitu sabar dalam menghadirkan tiap scene-nya dan tidak terkesan terburu-buru, tidak heran jika film ini dianggap sebagai salah satu film yang paling faithful dalam menghadirkan adaptasi novel ke film. Terlihat dar beberapa bagian, terutama dari sisi ending (walaupun belum pernah membaca novelnya), ending ini terasa sekali sangat sangat sabar hingga mungkin terasa terlalu lama untuk mencapai klimaks “revelation”-nya. Tidak terbayang jika novel ini diadaptasi di zaman sekarang yang mempunyai penonton begitu demanding dengan sesuatu yang didramatisir atau apalah, sehingga tidak jarang adaptasi novel ke film seringkali melakukan beberapa perubahan (tentunya hal ini akan membuat kecewa para fans dari bukunya).

 Rosemary’s Baby layaknya sebuah horror yang terbuat dari herbs yang menyehatkan. Film ini tidak mengandalkan gore dan blood (walaupun pada salah satu scene ada) namun lebih mengandalkan pada psikologi dari Rosemary tentang kehamilannya. Tentu saja, beban berat ini harus dijalani Mia Farrow sebagai aktris utama yang tampil di sepanjang film (seperti pada buku, sepertinya film ini juga hanya menceritakan dari segi sudut pandang Rosemary saja). Penampilan depresi disertai dengan perubahan berat badan dan gaya rambutpun sampai nudity juga ditampilkan secara total oleh Mia Farrow. Namun, memang tidak dapat dipungkiri peran Minnie yang disandang oleh aktris Ruth Gordon memberikan penampilan stealing di setiap scenenya. Yeah, membuatnya memenangkan Best Supporting Actress yang sangat jarang diterima untuk genre sejenis.

Sisi disturbing untuk penonton yang melihatnya mungkin datang dari Rosemary yang terlalu “powerless” dibandingkan dengan para lawan mainnya yang tergolong merupakan antagonist bagi dirinya. Hampir semua antagonist ini memiliki kontrol bagi kehidupan Rosemary yang membuat Rosemary seakan-akan mempunyai “ruang sempit” untuk berjuang. Yeah, membuat penonton sering seakan-akan berteriak, “Oooooh come on ! Fight ! Fight !”. Sisi disturbing yang lain mungkin datang jika film ini ditonton oleh perempuan, mengingat film ini mengangkat hal yang paling feminim yaitu kehamilan. Mia Farrow dengan penampilannya pun cukup meyakinkan sebagai wanita hamil yang lemah yang membuat penonton peduli dengan kelanjutan nasibnya (another point, mengapa film ini enak untuk diiikuti sampai akhir) dan untuk para wanita, kehamilan seperti ini terlihat sebagai mimpi yang sangat buruk. Untuk sebuah film dengan predikat “menakutkan”, I gotta say, film ini tidak terlalu menakutkan dan menimbulkan pertanyaan tersendiri mengapa film ini banyak menduduki list-list film “menakutkan” teratas. Namun hal ini tidak berarti bahwa film ini merupakan film yang buruk, sekali lagi, I gotta say, film ini mungkin film yang menggunakan pendekatan drama dan psikologis (that is why it’s psycological horror) untuk mengusut tema Satanisme, dan film ini bisa dikatakan cukup berhasil untuk menghadirkan sebuah hiburan wellcrafted dengan durasi lebih dari 2 jam (Definitely, thanks to Roman Polanski, right ? I don’t know about directorial skill, but this adaptation seems sooo smooth to get through).

Jika dikatakan dalam sebuah sinopsis bahwa film ini tentang sebuah praktik witchcraft atau satanism, sinopsis tersebut sebenarnya sudah memberikan major spoiler untuk film ini. Ya, kekuatan film ini adalah jaring-jaring hint tentang hal tersebt yang disebar di sepanjang film yang membuat penonton sebenarnya bertanya-tanya “What is wrong with Rosemary’s Baby ?” Ketika sisi itu telah diungkap, sedikit banyak film ini kehilangan sisi menariknya. Menuju ke ending, film ini memberikan sisi menarik yaitu antara apa yang sedang dialami Rosemary ini apakah sebuah praktik yang berhubungan dengan Satan atau ini semua hanyalah psikologis hamil dari seorang ibu hamil ? Sisi ini akhirnya terjawab di ending. Sisi witchcraft sebagai tema mistis ini memang tidak dieksplor secara habis-habisan, karena lagi-lagi film ini menggunakan pendekatan yang lebih drama dari eksplorasi psikologi dari ibu hamil yang merasa insecure dari kehamilannya (trust me, there’s no even one single jump scare in this movie).

Trivia

Adegan memakan liver, benar-benar dilakukan oleh Mia Farrow. Ew !

Quote

Rosemary Woodhouse : This is no dream! This is really happening!

Breakfast at Tiffany’s (1962) : Audrey Hepburn in Her Most Memorable Role as Free Spirited Socialite

Director : Blake Edwards

Writer : Truman Capote,  George Axelrod

Cast : Audrey HepburnGeorge PeppardPatricia Neal

About

Yeah, awal mula pengen nonton film ini adalah ketika seorang teman kerja membuat lukisan koran Audrey Hepburn yang sedang merokok dan baru sadar kalau ternyata Audrey Hepburn itu cantik. Yeah, it’s my first time to watch Audrey Hepurn movie.

Tentunya tantangan tersendiri untuk melihat sebuah film yang dibuat jauh dari generasi kita. Bayangkan film 1961 ! Film yang dirilis ketika ibu berumur satu tahun. Film ini tentunya sebelumnya telah mendapatkan respons dari banyak pihak mulai dari role yang paling memorable yang pernah diambil Audrey Hepburn, opening scene yang dinilai legendaris, sampai movie poster yang iconic dan dianggap sebagai salah satu movie poster terbaik sepanjang masa. Namun, selain itu, keinginan untuk menonton film ini juga datang dari novel sumber dari film ini yang ternyata dikarang oleh seorang Truman Capote (yep, I have watched Capote too).

Breakfast at Tiffany’s bercerita tentang seorang sosialita ceria, supel, ‘agak matre’, anti komitmen bernama Holly (Audrey Hepburn) yang menjalin persahabatan dengan teman satu apartemennya yaitu Paul (George Peppard), seorang penulis amatir yang ternyata juga seorang laki-laki idaman dari seorang sosialita kaya (Patricia Neal). Ketika Paul diundang ke sebuah pesta, ternyata karakter Holly sebagai seorang sosialita semakin kentara. Tidak hanya itu, seorang laki-laki juga tiba-tiba mengaku sebagai suami Holly. Siapakah Holly sebenarnya ? Sementara Paul mulai kedekatannya dengan Holly membuatnya ingin berubah, namun cintanya seperti bertepuk sebelah tangan karena Holly ternyata sedikit bermasalah dengan “komitmen”. I know, i know it’s a horrible synopsis.

“Audrey Hepburn is magnet in a comedy with dynamic story.”

Salah satu masalah mengapa sulit membuat sinopsi film ini adalah film ini mempunyai sebuah cerita yang cukup luas dan dinamik dan serius walaupun genre dari film ini sendiri adalah comedy. Mungkin karena sumber film ini adalah novel dari Truman Capote yang sepertinya bukan penulis yang sembarangan sehingga cerita dari film ini mampu menampung adanya pengembangan karakter, study karakter, study tentang keadaan sosialita, materialisme tanpa kehilangan unsur comedy atau pun romancenya (sok tahu, padahal baca novelnya Truman Capote aja belum).

Film yang dibuat lebih dari 5 dekade ini memang agak sulit untuk ditonton (secara pribadi nih yee), terutama dari segi jokes yang kadang mungkin dinilai jaman sekarang terlalu garing, contohnya bagaimana seorang penghuni Asia yang berslapstick ria di awal film. Namun bukan itu point-nya, film yang tidak akan membuat kita terbahak-bahak ini justru memberikan kesempatan untuk kita untuk sebenarnya berpikir lebih dalam pada cerita yang sebenarnya “dalam”.

Film yang mengingatkan bagaimana Anna Faris kemudian bekerja sama dengan Chris Evans di What’s Your Number ? ini berhutang banyak kepada keberadaan Audrey Hepburn sebagai bintang utama yang mampu menangkap keceriaan, kesupelan, wild, free spirit sebagai seorang sosialita yang memiliki karakter kompleks karena terbayang oleh masa lalunya, dan seakan-akan ingin mengamankan masa depannya. Dengan akting yang mampu menangkap semua kekomplekan itu, ditambah dengan kecantikan fisik Audrey Hepburn yang “seakan-akan” disukai kamera, sepertinya kehadiran Audrey Hepburn saja sudah cukup untuk kita bisa melewati film ini.

Saking menyenangkannya film ini, terkadang percakapan yang “sedikit” serius juga dibawakan dengan tone yang bercanda sehingga terkadang yang nonton berpikir “oh lagi bercanda”. Selain itu, dialog-dialog yang witty dan tidak basa-basi juga sering dilontarkan di film.

Hmm, yeah, it’s classic.

Trivia

Pilihan Capote untuk memerankan Holly adalah Marylin Monroe.

Quote

Holly : (whistles loudly to hail a cab]

Paul Varjak : I never could do that.

Holly Golightly: It’s easy.

One Flew Over The Cuckoo’s Nest (1975) : A Little Bit Madness in Mental Institution

Sutradara ; Milos Forman

Penulis : Lawrence HaubenBo Goldman

Pemain :  Jack NicholsonLouise Fletcher, Danny DeVito, Brad Dourif

“I love how Nicholson defines “crazy” and I love how Fletcher defines “villain” plus the patients are crazy good.”

About

Oscar 2013 sebentar lagi datang, marilah mengawali awal tahun dengan sok-sokan mereview film yang pernah memborong beberapa Oscars statue, 5 buah, wew !

Film ini memenangkan Best Picture Oscar 1976. Belum cukup ? Milos Forman juga dinobatkan Best Director 1976. Belum cukup juga ? Jack Nicholson dan Louise Fletcher keduannya berhasil menyabet Best Actor dan Best Actress. Oke, film ini juga memenangkan Best Writing, Screenplay Adapted From Other Material. Tidak dapat disangkal, Oscars memang dapat menjadi buzz bahkan untuk film yang rilis hampir lebih dari 35 tahun ini. Generasi  sekarang akan dibuat penasaran untuk sebuah film klasik yang mendapatkan 9 nominasi Oscars dan memenangkan 5 diantaranya.

Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Ken Kesey ini bercerita tentang kedatangan seorang criminal ke sebuah rumah sakit jiwa, Mac, diperankan oleh Jack Nicholson, untuk dievaluasi apakah ia mempunyai penyakit kejiwaan atau tidak. Ketika berada disana, ia bergaul dengan banyak pasien  yang mempunyai kepribadian istimewa dan masalah kejiwaan yang harus mereka hadapi. Konflik timbul ketika Mac menjumpai Nurse Ratched, diperankan oleh Louise Fletcher, yang sangat mengatur kehidupan di rumah sakit jiwa tersebut. Sementara menunggu rencana kaburnya, Mac memberikan pengalaman yang sedikit ‘gila’ untuk teman-temannya sedangkan ia harus tetap berlawanan dengan Nurse Ratched.

Top notch acting? Yes, it is. The story is flowing, the character development is very good

Jack Nicholsondengan muka yang memang sedikit ‘phsyco’ memang menunjukkan acting yang menawan. Jika pernah melihat The Shining dimana ia pelan-pelan gila, disini ia menunjukkan ekpresi kegilaan yang sedikit lebih realistis diselipi dengan emosi di dalamnya sehingga apa yang tunjukkannya adalah benar-benar seperti karakter asli, bukan ia berusaha berakting menjadi orang gila.

Louis Fletcher, begitu subtle, begitu halus, aktingnya begitu lembut, sehingga seringkali penonton dibuat tidak merasa bahwa ia adalah villain di dalam film. Aktingnya terlihat effortless namun sama sekali tidak mengurangi karakter kejam, tajam dari seorang villain.

Belum lagi ada beberapa pasien yang mempunyai karakter kuat dan mempunyai permasalahan masing-masing berhasil diperankan dengan baik oleh masing-masing actor seperti Danny Devito, Brad Dourif, Sydney Lassick dan lain-lain. Karakter dari masing-masing pemain begitu memorable.

Yang menarik adalah lewat dialog dan jalan ceritanya, film ini mengembangkan tokoh dengan begitu apik tanpa bertabrakan satu sama lain dan berhasil mengembangkan ending cerita yang sama sekali tidak terduga. Walaupun hanya bersetting pada satu gedung dan beberapa scene outdoor namun film ini sama sekali tidak membosankan sekligus film ini memberikan definisi baru tentang “kegilaan” dan arti “care” yang sebenarnya.

Trivia

Pencapaian film ini di Oscars tidak terulang sampai film The Silence of The Lambs dirilis di tahun 1991 yang juga menampilkan duo akting keren, Anthony Hopkins dan Jodie Foster.

Quote

Chief : I’m not going without you, Mac.