Crime

Sicario (2015) : Pristine Work of Criminal, Another Dennis Villeneuve’s with Bargain Power

Director :  Denis Villeneuve

Writer : Taylor Sheridan

Cast : Emily Blunt, Josh Brolin, Benicio Del Toro

(REVIEW) Di Meksiko, Sicario berarti Hit-man sedangkan di tangan dingin Dennis Villeneuve, Sicario merupakan sebuah sajian yang begitu kabur, brutal, gelap, begitu pelan mendidihkan plot-nya namun ketika batas antara hitam dan putih mulai terlihat, sudah terlalu terlambat untuk keluar. Yah, Sicario is a clean shot, pristine work of criminal, dan menggunakan alam kriminal kartel sendiri yang tak pernah berada di titik trik sederhana, Sicario menjelaskan kegelapan tanpa kehilangan kegelapan itu sendiri.

Dampak emosional, sesuatu yang mungkin jarang dilewatkan oleh Dennis Villeneuve, dan tangan sutradara ini langsung diperpanjang dengan karakter Kate Macer (Emily Blunt). Setiap peluru yang ditembakkan oleh anggota FBI ini dengan seketika membuka sedikit gap untuk karakternya dengan seketika merasa bersalah dengan objek tembakannya. Tanpa kecuali, ketika sebuah adegan penggerebekan, ia menembak seorang anak buah anggota gudang drugs yang berusaha menyerangnya, sebuah peluru yang memperkenalkan kita pada gejolak dalam diri Kate sebagai manusia biasa, sekaligus pada alam film ini bahwa tak ada satupun peluru yang terbuang tanpa memberikan reaksi balik.

(more…)

Advertisements

Black Mass (2015) is All about Depp’s Performance : The Character, Transformation, and His Natural Charm

Director : Scott Cooper

Writer : Mark Mallouk (screenplay), Jez Butterworth (screenplay), 2 more credits

Cast : Johnny Depp, Benedict Cumberbatch, Dakota Johnson, Peter Sarsgaard, Julianne Nicholson

(REVIEW) Beberapa bintang besar Hollywood memang sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing : Tom Cruise dengan stunt gilanya – dia cukup berhasil, Robert Downey Jr. dengan baju besinya – cukup berhasil dari segi keuangan sang aktor, Leonardo DiCaprio dengan segala meme Oscarnya – keep trying ! dan yang paling menyedihkan adalah perjalanan karir Johnny Depp. Baik dia memakai kostumnya (terlalu banyak film yang gagal) maupun menanggalkan atributnya (baca : The Tourist), Depp belum menemukan jati dirinya kembali, sampai film Black Mass ini – sebagai James ‘Whitey’ Bulger, leader gangster sadis yang pernah menjadi Daftar Pencarian Orang paling dicari setelah Osama Bin Laden. Ya, setelah Osama Bin Laden !

Di tangan Scott Cooper yang beberapa tahun yang lalu berhasil memberikan Oscar overdue untuk Jeff Bridges, Black Mass memang segalanya tentang penampilan Depp, yang mengkombinasikan transformasi sangar, karakter yang cukup kompleks, dan juga pesona dari Depp sendiri yang terus menarik perwujudan Whitey ke bumi dengan sisi humanis seorang manusia – tak banyak memang digambarkan, tapi hal itu tetap diperlukan.

(more…)

Furious 7 (2015) : “Not Even Silly, Fun-Tastic” – Action Sequences, Tribute Keeps It from Falling

Director : James Wan

Writer : Chris MorganGary Scott Thompson (characters)

Cast : Vin DieselPaul WalkerDwayne Johnson, Michelle Rodriguez, Jason Statham

(REVIEW) 2013 lalu kita mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan, mendiang Paul Walker meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis, dan disaat itulah baru tersadar bahwa belum ada satupun seri Fast Furious yang pernah ditonton – that’s my early confession to you, so you easily judge me. Menariknya, Paul Walker sedang dalam produksi seri lanjutan – yaitu film ini- yang pada saat itu harus seketika menghentikan proses produksinya. Dan di tangan seorang James Wan yang masih baru dalam menangani film action blokbuster seperti ini, kematian Walker sepertinya bukanlah beginner’s luck-nya. Di sisi lain, inilah yang membuat antusias untuk menonton seri yang satu ini : bagaimanakah film ini akan menangani isu besar dalam produksinya ? Bagaimanakah film ini mempertahankan level franchise yang *konon* dinaikan oleh Justin Lin ? Bagaimanakah film ini akan mengucapkan selamat tinggal pada salah satu jangkar utamanya ?

Merangkai cerita sebelumnya dengan satu kata “revenge” merupakan cara mudah untuk film ini masih menyambung dengan seri sebelumnya, tanpa membuat kebingungan berarti untuk penonton yang baru saja menontonnya. Deckard Shaw (Jason Statham) datang membawa ancaman baru untuk menuntut balas atas kematian adiknya kepada grup yang kurang lebih sudah settle dengan kehidupan masing-masing : Brian (Paul Walker) dengan kehidupan rumah tangga-nya yang membosankan, Dom (Vin Diesel) yang masih mencoba untuk membuka ingatan gadis pujaannya (Michelle Rodriguez), Detective Hobbs (Dwayne Johnson) yang berkutat kembali dengan kerjaannya. Shaw tak segan-segan untuk mengirimkan bom, atau membunuh salah satu teman mereka bernama Han, yang seketika mengguncang kembali anggota “keluarga” ini untuk kembali ke dunia yang pernah mereka kenal, untuk melindungi keluarga mereka, dengan berbagai cara, dengan berbagai harga yang harus dibayar.

(more…)

Foxcatcher (2014) : Bennett Miller’s Exponential Factor for Transformative, Complex, Horrid Story

Director : Bennett Miller

Writer : E. Max Frye, Dan Futterman

Cast : Steve Carell, Channing Tatum, Mark Ruffalo

(REVIEW) Kalimat bijak : tak ada aktor yang buruk, yang ada hanyalah aktor yang belum mendapatkan peran yang tepat (I made it up or I read it somewhere :p), mungkin itulah yang menggambarkan film Foxcatcher. Siapa yang sebelumnya percaya Channing Tatum bisa akting – our dancing boy ?!!, walau beberapa bulan ke belakang ia semakin menunjukkan range-nya sebagai aktor, kemudian siapa yang percaya Steve Carell juga bisa akting ? Komedi, mungkin, dramatis ? Nyatanya ia masih terjebak pada peran family guy-nya. Beruntungnya, mereka berdua mendapatkan kolaborator sekelas Bennett Millers, seseorang yang notabene mengantarkan Phillip Seymour Hoffman pada salah satu performa terbaiknya sebagai Truman Capote, dan seseorang yang mengantarkan Jonah Hill pada nominasi Oscar pertamanya.

Mark Schultz (Channing Tatum) – menjalani fase terberat dari seorang atlet yang pernah berjaya : terlupakan dan kurang dihargai. Ketika ia berbicara sebagai speaker di sebuah sekolah berbicara tentang etos semangatnya, hal ini sangat berbanding terbalik ketika saat itu dia hanya seseorang yang mengalungi medali, tidak lebih dari itu. Hidup kurang dari cukup, sangat terlihat Schultz memiliki kemarahan yang begitu besar dalam dirinya, termasuk saat ia melampiaskannya kepada kakak yang selalu mengerti – Dave Schultz (Mark Ruffalo) – yang juga merupakan seorang atlit gulat. Ketika Olimpiade tinggal menunggu bulan, sementara persiapan latihan belum maksimal, Mark mendapatkan telepon dari billionaire, philanthropist, philatelist, ornitologis, John DuPont (Steve Carell) yang siap menyediakan segala fasilitas untuk Mark untuk meraih mimpi kembali mimpinya, good dreams, bad dreams.

(more…)

A Most Violent Year (2014) Subverts Transgression into “You Could Smell The Danger” – Slow Burn Drama

Director : J.C. Chandor

Writer : J.C. Chandor

Cast : Oscar IsaacJessica ChastainDavid Oyelowo

(REVIEW) A Most Violent Year adalah film tentang survival lain dari J.C Chandor dan jangan berharap film gangster liar dengan serbuan tembakan – dimana terus terang saja hal tersebut ter-implied dari judulnya. Sebaliknya, Chandor berhasil mengolah cerita mafia bisnis dengan penuh integritas, penuh dengan harga diri, etika, namun sama sekali tak melupakan sisi yang pernah ia bawa pada film sebelumnya – All is Lost : you could smell the danger.

Tahun 1981, New York City, tahun yang baik untuk mengekspansi bisnis untuk Abel Morales (Oscar Isaac) – ia baru saja melakukan pembayaran uang muka untuk pembelian aset kilang-kilang minyak dengan lokasi strategis, dengan janji akan segera melunasi atau uang muka itu akan hangus. Di zona kota yang lain, truk dari mobil minyak Abel baru saja dibajak secara terang-terangan oleh dua orang yang tak dikenal yang tak hanya menyebabkan kerugian, namun juga mengancam bisnis Abel secara keseluruhan. Disinilah Abel dan istrinya, Anna (Jessica Chastain) berjuang untuk tidak hanya mempertahankan bisnis, namun juga impian mereka (aaaaaaaaaaaaand in this case, American Dream : a nightmare dressed like a daydream. Thank you, Swift !).

(more…)

Reviews : Paddington (2014), Predestination (2014), Nightcrawler (2014), and Force Majeure (2014)

What AM I ? An institutionalized orphan ? Why I didn’t get Teddy Bear in my childhood.

Siapakah yang tak akan melihat film ini ? Anak-anak tentu akan sangat menyukainya, dan orang tua pasti akan memiliki rasa nostalgia bertemu kembali dengan sosok yang sangat kental dengan masa lalu mereka. Itulah yang membuat Paddington – layaknya film anak-anak lain- tidak hanya merangkul anak-anak namun juga sang orang tua yang notabene sebagai guardian ketika mereka menonton di bioskop. Hasilnya, Paddington merupakan a fine family drama at its best, hangat, lucu, walau memiliki storyline yang kepalang standar dan kurang kejutan besar.

(more…)

Reviews : The Drop (2014), The Interview (2014), The Skeleton Twins (2014), and The Hunger Games Mockingjay Part I (2014)

What’s more dangerous than an armed man ? It’s an armed man with a dog.

Tend and wait the bar – itulah job description sederhana dari seorang Bob (Tom Hardy) di tengah kota Brooklyn menjaga bar dengan nama ‘Marv’s Cousin’. Namun, ternyata tak demikian, ketika Marv’s Cousin adalah sebuah drop bar yang difungsikan untuk melakukan money laundering para mafia. Dengan bantuan sepupunya, Marv (James Gandolfini), Bob pun mulai menghadapi kejamnya kota Brooklyn, mulai dari perampokan berencana, sampai ia akhirnya bertemu dengan Nadia (Noomi Rapace) – seorang gadis dengan masalah misteriusnya tersendiri.

(more…)

The Rover (2014) Leaves Us High and Dry, Pattinson Reveals “Bare The Fangs” Performance

Director : David Michôd

Writer : David MichôdJoel Edgerton

Cast : Guy Pearce, Robert Pattinson, Scoot McNairy

Robert Pattinson as half wit guy ? What a priviledge to watch.

(REVIEW) Salah satu tips jika berada pada dunia dystopia, RULE #32 : Enjoy the little things (thanks to Zombieland). Seperti halnya Tallahasse yang mencari the last twinkie, atau Witchita dan adiknya yang ingin mengunjungi amusement park di dunia penuh zombie, The Rover adalah sebuah perjalanan seorang laki-laki mengejar mobil kesayangannya (dengan menggunakan mobil lainnya, seems pointless, see ? ) di tengah teriknya gurun Australia, 10 tahun setelah ekonomi dunia mengalami collapse. Remember this rule #32 when you’re watching it, trust me, it helps.

The Rover menjadi salah satu film yang diantisipasi mengingat karya debutan David Michod – Animal Kingdom menjadi salah satu karya best reviewed di tahun rilisnya. Dijajarkan dengan Animal Kingdom, terdapat beberapa persamaan elemen : car as important plot, dependent kid, ruthless criminal, family bond – final twist, and surprising blood splattering in the wall. Hanya saja dibanding Animal Kingdom, The Rover lebih kalem, lebih artsy, lebih kering dan lebih Australia.

(more…)