Family

The Little Prince (2015) : Beautifully Animated Time Capsule for Children and Grown-ups

Director : Mark Osborne

Writer : Irena Brignull (screenplay), Bob Persichetti (screenplay), 1 more credit

Cast : Rachel McAdams, Benicio Del Toro, James Franco, see full cast and crew

(Review) Selalu saja ada perdebatan apakah sebuah animasi hanya bisa memuaskan orang tua atau anak-anak yang mereka ajak ? Dalam kasus Inside Out, film terkadang dinilai terlalu kompleks untuk dimengerti otak-otak muda, sedangkan untuk kasus lainnya semacam Minions, film dinilai terlalu dangkal untuk otak-otak tua yang mengharap lebih dari sekedar hiburan. Namun, disisi lain, animasi memang salah satu media yang bisa mempersatukan orangtua dan anak dalam satu layar yang sama. Disinilah, keputusan The Little Prince dirubah menjadi versi animasi merupakan keputusan yang tepat.

Kita mungkin sering menjumpai orang tua yang memberikan wejangan “tinggi” untuk anak-anak yang memang tak seharusnya mengerti, kuncinya adalah mereka tak perlu mengerti sekarang. Berinvestasi dengan waktu layaknya buku dimana film ini diangkat. The Little Prince aka. Le Petit Prince menjadi buku ketiga yang paling banyak diterjemahkan dalam perjalanan beberapa dekadenya dan telah diubah dalam berbagai medium termasuk play, pertunjukkan balet dan sebagainya. Bertahannya novel ini memang tidak dipungkiri karena membahas hal-hal yang dasar dan terus dialami manusia, tak peduli perubahan zaman yang dilaluinya.

(more…)

Advertisements

Inside Out (2015) : Pixar Takes An Ambitious, Deep, Relatable Journey, and Its Way Back

Director : Pete Docter, Ronaldo Del Carmen

Writer : Pete Docter (story), Ronaldo Del Carmen (story) (as Ronnie del Carmen) , 5 more credits

Cast : Amy Poehler, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Phyllis Smith

(REVIEW) Hampir dua bulan Inside Out baru saja ditayangkan jika dilihat dari tanggal rilis di Amerika sana. Setiap klip, beberapa review hanya menambah kumpulan ekspektasi yang semakin menggunung dan barulah sekarang bisa menjawab. Ya. Inside Out memenuhi semua ekspektasi. If you don’t like it, you’re fucked up. Disanalah skala bagaimana Inside Out begitu likeable.

Untuk Riley – gadis kecil, Minnesota adalah segalanya. Tempat ia tumbuh dewasa dan mulai memiliki personality-nya. Ia begitu disayang oleh ayah ibunya, begitu cemerlang di hobi hokinya, begitu banyak memiliki teman, secara keseluruhan Riley adalah anak yang menyenangkan. Namun, ia tidak sendiri. Di dalam kepalanya hiduplah karakter-karakter yang begitu peran aktif mengambil keputusan dalam setiap harinya – Joy (Amy Poehler) sang ketua, Disgust (Mindy Kaling) bertugas untuk menjaga Riley secara fisik atau pun interaksi sosial, ada pula Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Sadness (marvelously voiced by Phyliss Smith), semuanya memegang peran masing-masing, dan semuanya baik-baik saja hingga keluarga kecil Riley harus pindah ke San Francisco dan Riley pun menemukan masalah dalam menghadapi perasaan dengan lingkungan barunya.

(more…)

Tomorrowland (2015) is Imagination Backed Up by Mumbling Knowledge, Clooney is Disappointment

Director : Brad Bird

Writer : Damon Lindelof (screenplay), Brad Bird (screenplay)

Cast :  George ClooneyBritt Robertson, Raffey Cassidy

(REVIEW) Manakah yang lebih penting ? Pengetahuan ? Atau imajinasi ? Beberapa orang mengutarakan bahwa imajinasi lebih penting dari pengetahuan, namun untuk beberapa kasus (baca : film ini), ternyata keduannya sangat diperlukan, atau berakhir sama dengan Tomorrowland : berakhir dalam angan belaka tanpa pesona.

Cerita berawal dengan Frank (George Clooney) memandang kamera, bermonolog bahwa dunia telah rusak, kelaparan dimana-dimana, penuh dengan pesimisme. Seketika itu juga penonton diperlihatkan sebuah countdown menyala sementara omongan Frank terus diinterupsi oleh suara gadis yang belum muncul di layar. Cerita pun beralih pada Frank kecil di tahun 1960-an mengunjungi sebuah pameran dunia dimana ia menciptakan sebuah roket yang nyatanya belum berhasil menerbangkan dirinya. Oooh ! Melihatnya benar-benar seperti melihat Tomorrowland sedang menaruh landasan-landasan Disney yang diharuskan untuk akrab sebagai film keluarga. Efeknya, sudah berapa lama kita melihat kisah yang makin usang ini ? Anak yang begitu passionate, cerdas, me vs. The world, termasuk sisi skeptisme ayahnya sendiri. Tomorrowland tak terlalu jeli untuk melihat bahwa presentasi yang cukup draggy tentang Frank kecil ini sama sekali tak menarik minat penonton. Barulah dengan kedatangan Athena (Raffey Cassidy) cerita mulai melebar unik ketika sang gadis cantik ini memberikan Frank sebuah pin yang merupakan kunci terbukanya dunia rahasia tempat para jenius, kreatif, dan sebagainya berkumpul bernama Tomorrowland – tempat futuristik yang bisa dikatakan “masa depan”.

(more…)

Song Of The Sea (2014) : Simply Told Precious Legacy of Story Inspired by Irish Enchanting Folklore

Director : Tomm Moore

Writer : Will Collins (as William Collins) , Tomm Moore(story)

Cast : Brendan Gleeson, Lisa Hannigan, David Rawle

(REVIEW) So this is what we’re gonna do ! Rewind-jdnbudfbidnidbfsdbdscnidcnsdbcusbdweifbweu-rewind, “Okay, let’s talk about Oscars !”. Clueless – adalah satu kata yang mungkin bisa menggambarkan Oscars beberapa minggu yang lalu. Memang, beberapa kategori telah terpatri membawa pemenang pasti, namun beberapa kategori menyimpan beberapa kejutan, dan sayangnya bukanlah kejutan yang menyenangkan. Disebut oleh sang presenter Dwayne Johnson sebagai genre yang inventif, seharusnya Best Animated Feature merupakan kategori yang membawa bar tinggi, dan memang diwujudkan lewat beberapa nominasinya, sayangnya pemenangnya – Big Hero Six tak membawa kualitas yang demikian. Dan, kemenangan yang tak terduga dari film tersebut, membawa tidak hanya satu, namun paling tidak ada EMPAT film ter-snubbed dalam kategori yang sama. So, The Lego Movie, calm yourself, get in the line !!!!!

Siapakah yang pernah mendengar animasi berjudul Song of The Sea sebelum film ini “merebut” spot yang dimiliki The Lego Movie di ajang Oscars ? Nah, itu pula masalahnya. Kebanyakan orang belum pernah mendengarnya, kebanyakan orang belum pernah menontonnya. Song of The Sea adalah film animasi Irlandia yang dibesut sutaradara Tom Moore, yang sebelumnya juga dinominasikan dalam kategori yang sama lewat The Secret of Kells di tahun 2009. Alkisah sebuah keluarga tinggal di tepi pantai, dengan anggota keluarga yang sempurna : seorang ayah (Brendan Gleeson), seorang ibu yang sedang hamil (Lisa Hannigan), dan seorang anak laki-laki bernama Ben (David Rawle). Namun, kesempurnaan keluarga mereka langsung hilang ketika sang Ibu secara misterius menghilang dan meninggalkan anak bernama Saoirse yang kini telah menginjak usia enam tahun, tapi belum bisa mengucapkan satu kata-pun. Ben yang sepertinya dengan kehilangan ibunya menjadi trauma dengan laut, malah tidak akur dengan Saoirse karena Ben seakan-akan menyalahkan kepergian ibunya atas kesalahan sang adik. Ketika Saoirse menemukan sebuah cangkang kerang ajaib, kedua kakak beradik ini harus melakukan perjalanan magis yang akan mengungkapkan siapakah Saoirse sebenarnya. Jawabannya, Saoirse adalah seorang Selkie – makhluk mitologi Celtic yang menginspirasi cerita ini. Tugas seorang selkie sangat berat, ia harus menyuarakan melodinya untuk menyelamatkan fairy yang telah dirubah menjadi batu oleh seorang penyihir bernama Owl Witch, sementara ia juga harus berlomba dengan waktu karena keadaan seorang Selkie bisa terus memburuk.

(more…)

Branagh’s Cinderella (2015) Has Courage and Kindness, Keep It Simple and Plausible with Reasons

Director : Kenneth Branagh

Writer : Chris Weitz (screenplay)

Cast : Lily JamesCate BlanchettRichard Madden, Helena Bonham Carter

(REVIEW) Sudah hampir setahun yang lalu ketika seorang teman baru saja menonton Maleficent dan mulai jengah dengan embel-embel “twist”, “reimagining”atau apapun itu yang sedang menimpa live action dari cerita-cerita Disney klasik. Kemudian, sempat terceletuk, “Yaudah, kita tunggu aja Cinderella-nya Kenneth Branagh”. Ya. Kenneth Branagh. Walaupun saat itu belum tahu cerita bakal seperti apa, sepertinya kemungkinan besar di tangan Branagh, cerita Cinderella akan tetap klasik, simpel, dan begitulah adanya. Benar saja, Kenneth Branagh’s Cinderella berhasil membuktikan bahwa dengan screenplay yang cukup cerdas, direction yang memang sudah makanan sehari-hari sutradara, dan dengan penampilan yang cukup, cerita ini masih terlihat presentable di lantai dansa.

Cinderella (Lily James) hidupnya seketika berubah ketika ibunya meninggal karena sakit, dan ayahnya meninggal dalam perjalanan luar negeri. Tak hanya sendiri, lebih buruknya, ia kini tinggal di loteng atas suruhan Ibu tiri barunya – Lady Tremaine (Cate Blanchett) bersama kedua anaknya. Ketika keadaan semakin memburuk, sang pangeran tiba-tiba mengundang seluruh rakyatnya untuk datang ke pesta, dengan salah satu tujuan untuk mencari seorang istri, dan disinilah cinta satu malam Cinderella dimulai.

(more…)

Into The Woods (2014) Tramples and Assembles “Happily Ever After” to The Origin of “Once Upon A Time”

Director : Rob Marshall

Writer : James Lapine (screenplay), James Lapine(musical)

Cast : Anna KendrickMeryl StreepChris Pine, James Corden, Emily Blunt¸ Johnny Depp

(REVIEW) Dua gabungan kata seperti once upon a time (dot dot dot) dan happily ever after (dot), yang satu menghentikan waktu untuk memulai sebuah cerita, sedangkan yang satunya lagi menerus-nerus-neruskan waktu untuk menghentikan cerita. Yang menyukai dongeng pasti sudah tak asing lagi dengan dua gabungan kata tersebut, yang menjadi masalah adalah kehidupan tak pernah berjalan seperti itu, dan Into The Woods merupakan satu usaha untuk merangkup sisi mutual  dari setiap fairytale yang kita kenal, membentuknya selayaknya loop yang ternyata lebih thoughtful dari yang kita kira.

source : www,impawards.com

source : www,impawards.com

Narator – sisi wajib dari semua fairytale memulainya *typically* dengan kata once upon a time, di sebuah negeri, terdapat satu desa dan hutan dimana beberapa karakter menjalani hidup mereka : Cinderella (Anna Kendrick) dengan ibu dan saudara tirinya, Red Riding Hood dengan kunjungan ke rumah nenek yang diintervensi seekor serigala (Johnny Depp), Jack yang menukar sapi putihnya dengan magical beans, dan Rapunzel yang tersekap di sebuah tower tanpa pintu. Cerita lain yang belum pernah kita dengar adalah The Baker (James Corden) dan istrinya (Emily Blunt) yang tinggal di sebuah rumah yang terkena kutuk seorang penyihir jahat (Meryl Streep) yang kebetulan melakukan penawaran : jika mereka bisa mengumpulkan cape semerah darah, sapi seputih susu, rambut sekuning jagung, dan sepatu kaca semurni emas, sang penyihir mau me-reverse kutukannya, yaitu dengan menganugerahi pasangan tersebut seorang anak.

(more…)

Reviews : Paddington (2014), Predestination (2014), Nightcrawler (2014), and Force Majeure (2014)

What AM I ? An institutionalized orphan ? Why I didn’t get Teddy Bear in my childhood.

Siapakah yang tak akan melihat film ini ? Anak-anak tentu akan sangat menyukainya, dan orang tua pasti akan memiliki rasa nostalgia bertemu kembali dengan sosok yang sangat kental dengan masa lalu mereka. Itulah yang membuat Paddington – layaknya film anak-anak lain- tidak hanya merangkul anak-anak namun juga sang orang tua yang notabene sebagai guardian ketika mereka menonton di bioskop. Hasilnya, Paddington merupakan a fine family drama at its best, hangat, lucu, walau memiliki storyline yang kepalang standar dan kurang kejutan besar.

(more…)

The Lego Movie (2014) : Overrated Pièce de Résistance for Movie Based on Construction Toys

Director : Phil LordChristopher Miller

Writer : Dan HagemanKevin HagemanPhil LordChristopher Miller

Cast : Chris PrattElizabeth BanksWill FerrellWill ArnettCharlie DayAlison Brie, with Liam Neeson and Morgan Freeman

 “Introducing, the double decker couch so everyone could watch TV together and be buddies.” – Emmet

(REVIEW) Lego, siapa yang tidak pernah memainkan permainan yang satu ini, mulai jenis yang paling sederhana sampai bentuk yang lebih bervariasi ? Yeah, Lego memang sangat melatih daya kreatifitas anak dan seiring berjalannnya waktu sepertinya jenis permainan yang satu ini mulai bisa berkembang sesuai dengan alur zaman, salah satunya menjadi media bercerita yaitu lewat sebuah film, hal inilah mengapa film ini mengambil judul yang sebenarnya terkesan begitu “marketing produk” namun dengan waktu bersamaan juga menonjolkan kelebihan utamanya.

Dari segi visual, film ini bisa dikatakan akan menampilkan 90 persen bentuk lego, dan memaksimalkan visual ini dengan mengkaitkan banyak warna dan banyak bentuk, sekaligus gaya stop motion (walaupun 100% CGI) memang sangat menunjukkan karakteristik dari permainan lego itu sendiri. Untuk sebuah film yang juga merupakan sebuah media marketing sebuah produk, film ini seratus persen mewakili.

Dari segi cerita, film yang akan menarik perhatian anak-anak ini, tergolong begitu inspiratif, penuh dengan sisi moral dan message, seorang pekerja konstruksi Emmet (Chris Pratt), seorang lego biasa, tanpa keahlian khusus, tanpa adanya aspirasi dari dirinya sendiri tiba-tiba harus mulai sebuah petualangan ketika dirinya menemukan sebuah potongan lego “piece of resistance” yang menjadikannya sebagai The Special, atau seseorang yang terpilih untuk mengisi takdirnya yang telah diramalkan. Sebuah ramalan, bahwa seorang Emmet akan menyelamatkan dunia dari kejamnya sebuah korporasi besar yang dipimpin seorang Evil Lord (Will Ferrel). Dibantu oleh seorang gadis lincah dan pintar, Wyldstyle (she’s not a DJ but Elizabeth Banks), Emmet harus berkeliling ke berbagai belahan dunia lego yang mempertemukannya dengan banyak karakter termasuk Batman (Will Arnett), Unikitty (Alison Brie), space guy (Charlie Day) dan seorang wizard Vitruvius (Morgan Freeman). Mereka harus berlomba dengan waktu di tengah kejaran seorang polisi (Liam Neeson) yang diperintah Evil Lord untuk mencegah Emmet memenuhi takdirnya.

This almost “snowflake” shaped character makes the voice department is so crucial, yeah tidak sebuah kejutan ketika nama-nama besar yang memang digadang untuk mengisi setiap karakter ini. Walaupun memang masih terdapat variasi dari segi bentuk, but come on, they’re all lego-nized. Dan memang, segi voice akting dari cast ini berhasil menghidupkan setiap karakter di film ini, mulai dari Chris Pratt yang sepertinya tidak perlu memanipulasi suaranya karena karakter suara dan public imagenya begitu masuk ke dalam karakter Emmet, keatraktifan suara Elizabeth Banks, dual personality yang berhasil ditampilkan oleh Liam Neeson (dan Alison Brie) serta Will Ferrel sebagai karakter villain utama. And the best part adalah film ini tidak terlalu mengolah suara mereka, kita masih bisa mengenali siapa menyuarakan siapa di film ini. Plus, banyak voice cameo mulai dari Channing Tatum, Cobie Smulders, Will Forte walaupun yang benar-benar berhasil hanyalah Jonah Hill yang menyuarakan Green Lantern yang juga membawa sifat public image dirinya, cocky.

Christopher Miller dan Phil Lord sepertinya memang spesial untuk sebuah film yang memiliki possibility untuk di-underestimatekan, mulai dari Cloudy with A Chance of Meatball yang memiliki premis kepalang aneh, projek 21 Jump Street yang masih teringat bagaimana orang-orang begitu skeptis namun ternyata mampu menjadi surprise hit secara komersial dan kritik, dan sutradara serta penulis ini mampu mengangkat animasi berdasarkan mainan ini menjadi tidak terlalu shabby dan cukup diatas rata-rata dari segi eksekusi. The Lego Movie menjadi sebuah film yang fast moving, fast paced dengan material yang masih berbahan dasar “formulaic” namun dikemas dengan pandai. Salah satunya lewat jokes-jokes segar di setiap line dialoguenya, walaupun jokes ini tidak serta merta berhasil men-generate tawa dari awal durasi. Film ini masih begitu predictable di awal film, dengan jokes-jokes yang belum langsung bisa dicerna karena memang one second jokes bait, another second its execution sepertinya masih memerlukan waktu “loading” untuk penonton untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan jenis jokes seperti ini.

Bisa dikatakan cukup telat untuk starternya, awal film terbantu dengan spirit yang dimuat dalam lagu dinamis dengan judul “Everything is Awesome” namun penonton baru bisa benar-benar involved ke cerita dengan bantuan sebuah adegan witty lewat double decker couch. Sebuah adegan penyelamatan yang dilakukan double decker couch buatan Emmett terbukti mampu mengakhiri action sequence yang terkesan bland, no thrill, no fears, no danger. Bland action sequence ini tidak lepas dari dari karakter media penceritaan yang lagi, dan lagi, it’s just “lego”, tidak peduli lego ini akan tertembak, jatuh dari jurang, pecah, atau sebagainya, mereka semua hanyalah lego. Mungkin inilah salah satu efek ketika image “mainan” begitu kental sehingga kesan “sepele” juga masih mengikat ketika film ingin berjalan ke arah scene yang lebih “seharusnya serius”.

MAYBE SPOILER

Film yang hampir menggunakan satu jenis bahan candaan ini memang terlihat jelas mengalami apa yang ekonomi sebut dengan “diminishing return”, tidak peduli substance dari jokes tersebut, jokes berubah menjadi begitu predictable, untunglah keatraktifan dari variasi karakter seperti Batman dan space guy masih bisa menolongnya. Film ini juga dengan berani mengambil twist yang sepertinya menantang baik intelegensi anak-anak ataupun orang tua yang menemani mereka menonton (walaupun secara pribadi twist ini sudah bisa diprediksi mulai dari scene Emmet memiliki vision). Sebuah twist yang mengingatkan kita pada film serupa, Toy Story, sebuah film yang akan memuaskan para penikmat film yang suka akan sesuatu yang mengejutkan, walaupun film ini juga sepertinya dari final act-nya akan mengingatkan kita pada Puss in Boots. Yeah, villain yang tiba-tiba hatinya terketuk, actually WHAT THE HELL for me, but I think it’s good for kid’s soul. Yeah, moral message. Moral message. Moral message.

The Lego Movie merupakan sebuah film yang mampu melewati ekspektasi yang ada jika dilihat film ini diangkat dari sebuah mainan, dieksekusi secara solid oleh sutradara dan di-uplift screenplay-nya dari sebuah materi biasa menjadi sedikit luar biasa, sebuah tricky twist, namun secara personal film ini adalah salah satu film “overrated” di awal tahun 2014.

“Well contructed, and well overrated.”