Fantasy

Lost River (2015) : Vivid Visuals, Interesting Ideas, yet Heavy Handed Direction Contrives It to Flow

Director : Ryan Gosling

Writer : Ryan Gosling

Cast : Christina Hendricks, Iain De Caestecker, Matt Smith. Ben Mendelsohn, Saoirse Ronan

(REVIEW) How to Catch a Monster, itulah judul film ini sebelumnya, mendapatkan booing di Cannes dan menghilang. Lost River menjadi begitu menarik karena tangan kreatif di belakangnya adalah aktor yang cukup memiliki kredibilitas di generasinya, Ryan Gosling. Dan setelah terakhir kali membintangi film Only God Forgives yang mendapatkan reaksi terpolar, Lost River menghadapi muara yang sama.

Jika melihat poster sekilas film ini, yah jangan dibuat berpikir ini adalah sekuel dari Only God Forgives, namun pengaruh Nicholas Wind Refn begitu kuat dalam setiap warna, setiap violence, dan surealisme yang dihadirkan Gosling yang memegang penuh kontrol di penyutradaraan dan penulisan. Cerita berat ? Hmmm, sebenarnya tidak. Dibanding sebagai sutradara yang masih terlihat mengawang, Gosling lebih menarik sebagai seorang screenwriter yang ternyata memiliki banyak ide-ide besar menggabungkan drama dan fantasy dengan banyak karakter, banyak subplot, namun tak begitu convoluted. He got talents. Sayangnya untuk menjembatani ide ini untuk tidak hanya tersampaikan, namun juga merasuk ke dalam penonton sepertinya masih merupakan perjalanan panjang bagi Gosling.

(more…)

Into The Woods (2014) Tramples and Assembles “Happily Ever After” to The Origin of “Once Upon A Time”

Director : Rob Marshall

Writer : James Lapine (screenplay), James Lapine(musical)

Cast : Anna KendrickMeryl StreepChris Pine, James Corden, Emily Blunt¸ Johnny Depp

(REVIEW) Dua gabungan kata seperti once upon a time (dot dot dot) dan happily ever after (dot), yang satu menghentikan waktu untuk memulai sebuah cerita, sedangkan yang satunya lagi menerus-nerus-neruskan waktu untuk menghentikan cerita. Yang menyukai dongeng pasti sudah tak asing lagi dengan dua gabungan kata tersebut, yang menjadi masalah adalah kehidupan tak pernah berjalan seperti itu, dan Into The Woods merupakan satu usaha untuk merangkup sisi mutual  dari setiap fairytale yang kita kenal, membentuknya selayaknya loop yang ternyata lebih thoughtful dari yang kita kira.

source : www,impawards.com

source : www,impawards.com

Narator – sisi wajib dari semua fairytale memulainya *typically* dengan kata once upon a time, di sebuah negeri, terdapat satu desa dan hutan dimana beberapa karakter menjalani hidup mereka : Cinderella (Anna Kendrick) dengan ibu dan saudara tirinya, Red Riding Hood dengan kunjungan ke rumah nenek yang diintervensi seekor serigala (Johnny Depp), Jack yang menukar sapi putihnya dengan magical beans, dan Rapunzel yang tersekap di sebuah tower tanpa pintu. Cerita lain yang belum pernah kita dengar adalah The Baker (James Corden) dan istrinya (Emily Blunt) yang tinggal di sebuah rumah yang terkena kutuk seorang penyihir jahat (Meryl Streep) yang kebetulan melakukan penawaran : jika mereka bisa mengumpulkan cape semerah darah, sapi seputih susu, rambut sekuning jagung, dan sepatu kaca semurni emas, sang penyihir mau me-reverse kutukannya, yaitu dengan menganugerahi pasangan tersebut seorang anak.

(more…)

Horns (2014) Has A Lot to Offer, Devilish Mumbo Jumbo Whispers In Childhood – related Murder Case

Director : Alexandre Aja

Writer : Keith Bunin (screenplay), Joe Hill (novel)

Cast :  Daniel RadcliffeJuno Temple, Max Minghella

What a loss, he’s not trying his parseltongue skill….

(REVIEW) Jika sedang mencari horor yang elegan atau subtle, lupakan Horns. Diangkat dari buku bestseller karya Joe Hill, Horns juga merupakan sebuah cerita yang tidak jauh-jauh dari karya ayahnya – Stephen King, yang kadang melibatkan sebuah kasus kriminal, dengan sisi paranormal, dan elemen-elemen yang terkadang mempertanyakan akal sehat. Tapi, inilah yang membuat Horns berbeda, perpaduan horor, fantasi, komedi, yang memiliki originality dengan herbagai elemen yang terlihat berantakan untuk dipadukan, tapi, surprisingly, merupakan sebuah perpaduan yang pas.

Ig (Daniel Radcliffe) dan Merrin (Juno Temple) merupakan pasangan yang sempurna, memadu kasih di rumah pohon mereka yang merupakan sebuah peninggalan masa kecil. “I am gonna love you for the rest of my life.”, begitulah kata Ig, yang kemudian dijawab Merrin, “Just love me for the rest of mine.”. Opening ini kemudian diputar 360 derajat ketika Merrin ditemukan tewas di rumah pohon mereka, dan Ig menjadi bulan-bulanan media serta masyarakat sekitar karena ia satu-satunya orang yang memiliki motif membunuh Merrin. Dibantu oleh temannya, Lee (Max Minghella) – satu-satunya orang yang mempercayainya, Ig berusaha menangkap pembunuh kekasihnya.

(more…)

The One I Love (2014) Treats Us Like an Aardvark in The Dark, Illuminates Us with Unexpected Possibility

Director : Charlie McDowell

Writer : Justin Lader

Cast : Mark Duplass, Elisabeth Moss and Mark Duplass, Elisabeth Moss

The best marriage counseling, EVER !

(REVIEW – spoiler) Ethan (Mark Duplass) dan Sophie (Elizabeth Moss) adalah sepasang kekasih yang telah kehilangan sparks dari pernikahan mereka. Seperti biasanya, untuk menyelamatkan pernikahan mereka, mereka mengunjungi seorang marriage therapist yang menyarankan mereka untuk menghabiskan weekend di sebuah di sebuah tempat yang memiliki magical touch tersendiri.

Ekspektasi awal film ini benar-benar sebuah enganging comedy drama di sebuah tempat terpencil yang menempatkan Ethan dan Sophie pada quality time yang intim yang semakin mengupas baik konflik atau sisi sebuah hubungan lainnya. Apalagi dengan bintang Mark Duplass yang sebelumnya terlibat cinta segitiga rumit di Your Sister’s Sister yang mengambil setting tempat hampir sama. Sayangnya, I GOT MORE. Yep ! It’s about doppelganger.

(more…)

The Zero Theorem (2014) with Incredible Impossible Unsolved Equation, There’s No Easy Answer

Director : Terry Gilliam

Writer : Pat Rushin

Cast : Christoph WaltzMélanie ThierryDavid ThewlisMatt DamonTilda Swinton

(REVIEW) Two reasons you have to watch The Zero Theorem, number one : you’re a physician with existentialism issue, number two : you’re keen seeing Christoph Waltz under the funny costumes. Otherwise, it hurts.

What’s the meaning of life ?”, yeah, setinggi itulah pertanyaan yang dibawa The Zero Theorem di sepanjang filmnya. Sebuah pertanyaan sesulit menyelesaikan equation segalanya = kosong, nothing is everything. Pertanyaan yang mungkin juga pertanyaan seluruh penduduk bumi, entah siapapun kita, pekerjaan kita atau kondisi kita. (more…)

Mood Indigo (2014), Overwhelming Results, Gondry’s Ombre of Bitter Sweet Fantasy Love Story

Director : Michel Gondry

Writer : Michel GondryLuc Bossi

Cast : Romain DurisAudrey TautouOmar Sy

(REVIEW) For me, Spike Jonze, Charlie Kaufman, Michel Gondry, they are all same species. Setiap karya mereka sepertinya layak ditunggu, dan beberapa karya mereka membuktikan mereka ibarat “scientist” yang mampu bekerja di kanvas mediocre, menciptakanremarkable invention. Dan berbicara Michel Gondry sendiri, pasti tidak akan lepas dengan romcom hits, projek kolaborasinya dengan si jenius Charlie Kaufman, The Eternal Sunshine of Spotless Mind (a movie that can’t be moved from my all the time favorite movie list).Mood Indigo inilah yang menjadi projek back to track-nya setelah “sedikit” terantup oleh Green Hornet (uhm, panned by critics but I liked it).

Mood Indigo mengganti peran jenius Kaufman, dengan mengadaptasi novel cult Duke Elington yang diterbitkan di tahun 1930, dan sepertinya merupakan novel yang begitu “fantastical” terutama setelah melihat visualisasi dalam film ini. Colin (Romain Duris) – rich inventor, sehari-harinya hanya bermain kesana kemari dengan pelayan setianya, Nicholas (Omar Sy) di apartemen kecil warna-warninya. Ketika sahabat baiknya jatuh cinta, Colin pun menunjukkan sisi kepolosannya : ia juga ingin jatuh cinta. Keinginannya ini membawanya pada sebuah pesta dan mempertemukannya dengan Chloe (Audrey Toutou), gadis magical yang langsung merebut hatinya.

(more…)

The Amazing Spider-Man 2 (2014) Lost Its Catch, Turned It into Unspectacular Spectacle Blackout Installment

Director : Marc Webb 

Writer : Alex KurtzmanRoberto Orci

Cast : Andrew GarfieldEmma StoneJamie FoxxDane DeHaanFelicity JonesPaul GiamattiB.J. Novak, and Sally FieldChris Cooper

(REVIEW) Spidey time ! Sudah lima installment paling tidak franchise dari Spiderman ini. Spiderman pertama merupakan spidey yang paling klasik, Spiderman dua adalah yang terbaik, Spiderman tiga adalah yang overrated (even with “now” rating), Spiderman pertama dari Marc Webb adalah repetisi dan renewal dalam waktu yang bersamaan, dan bagaimana dengan yang satu ini ?

You’re Spider-Man, and I love that. But I love Peter Parker more. – Gwen Stacy

(more…)

The Hobbit : The Desolation of Smaug (2013) : “Save The Last Dragon”-Quest for Middle Chapter of The Most Anticipating Trilogy

Director : Peter Jackson

Writer : Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson , Guillermo del Toro , J.R.R. Tolkien

Cast : Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Orlando Bloom, Evangeline Lilly

About

Okay, how I am gonna do it ?

Let’s say I haven’t watched The Lord of The Rings, WHATTTT ??

Let’s say I haven’t watched the first Hobbit, what theeeeee ??

Let’s say I don’t know what the Smaug is, hookay.

Tetapi opini pertama saat menonton film ini (thanks to my friend, because I didn’t have any plan to watch this (unless it’s free), adalah is that Peter Jackson eats carrots for the first scene ? Yeah, telah dicek. Jadi, anggap review ini merupakan review dari kaum awam yang sama sekali tidak tahu tentang LOTR-thingy. Lets do this.

Sebagai film yang paling diantisipasi di tahun 2013, tentu film ini sudah diperkirakan akan menelurkan banyak dolar di tahun ini. Terbukti benar, untuk dua minggu berturut-turut film ini masih bertengger untuk posisi pertama di jajaran box office America Serikat, walaupun sepertinya tidak sesukses Hobbit pertama yang mencetak 1 billion dollar di seluruh dunia.

Melanjutkan cerita di Hobbit pertama (which is I don’t know about it), film diawali dengan scene Gandalf (Ian McKellen) membujuk Thorin (Richard Armitage) untuk merebut tanah kelahirannya kembali dari seekor naga bernaga Smaug (disuarakan oleh rising star kita, Benedict Cumberbatch). Throrin, Gandalf, dan para dwarves pun melakukan perjalanan untuk merebut arkenstone yang berada di sarang sang naga. Untuk mengambilnya, mereka juga mengajak Bilbo Baggins (Martin Freeman), seorang pencuri ulung. Mereka harus bertarung dengan waktu dan juga harus terus berlari dari kejaran Orc yang mengejar mereka. Petualangan demi petualangan pun mereka jalani, mulai dari bertarung dengan laba-laba raksasa, ditangkap oleh elves Legolas (Orlando Bloom) dan Tauriel (Evangeline Lily), menyusup ke sebuah desa dekat danau dengan bantuann seorang laki-laki Bard (Luke Evans) sampai akhirnya mereka di Lonely Mountain, tempat naga bersarang. Berhasilkah mereka ?

“For someone who knows nothing, I gotta say, this movie moderately amused me.”

Image

source : impawards.com

Sebuah catatan, sebelum menonton film ini, I am so tired, a little bit of headache, but the positive side is I am zero expectation. And yeah, The Hobbit : The Desolation of Smaug ternyata berhasil memberikan tontonan yang sangat menghibur.

Pertama, dari segi visual, tentu saja siapa yang akan tahan dengan negeri fantasi yang berisi banyak makhluk-makhluk aneh (dan beruntung, seaneh-anehnya makhluk ini tidak diperparah oleh CGI) dan paparan pemandangan yang menyegarkan mata. Segi visual tentu saja akan berkaitan pada makhluk yang ditunggu-tunggu sepanjang film Smaug. Penampakan Smaug ini terus menjadi misteri terutama yang tidak melihat trailer apapun sebelumnya, dan bisa dikatakan penampilan Smaug ini diatas ekspektasi. Tidak ada naga yang terlalu aneh dengan efek CGI, dan dari ukurannya, yeah it’s huge.

Kedua, action sequence, The Hobbit : The Desolation of Smaug memberikan pemaparan cerita yang cukup simple, yaitu petualangan. Untuk seseorang yang tidak terlalu mengerti LOTR atau belum melihat The Hobbit : Unexpected Journey, hal ini merupakan angin segar. Penonton tidak perlu meng-catch up jalan cerita yang terjadi sebelumnya, walaupun berbagai istilah atau nama masih terdengar asing ataupun aneh. The Hobbit : The Desolation of Smaug hanya memberikan satu petualangan demi petualangan lain, beruntung di tangan Peter Jackson, petualangan ini masih seru dan terlihat solid walaupun secara durasi, film ini tergolong sangat overlong dan overproduced. Yeah, in the hand of weaker director, this movie, I guarantee will be a travesty.

Ketiga, the cast. Sebelum ini, tidak tahu siapa itu Gandalf (walaupun familiar, dan mengingatkan pada Dumbledore), tidak tahu siapa Bilbo Baggins, atau Smaug. Untuk cast, hampir tidak ada yang spesial selain costume and make up. Terkesan dengan penampilan Martin Freeman yang sangat pas memerankan Bilbo Baggins, dan juga penampilan kick ass mungkin disandang oleh duo elves Legolas dan Tauriel yang sangat fast paced memainkan busur dan panah mereka (yeah arrows are in this year). Dua elves ini sepertinya mengimbangi sisi action dimana paa dwarves yang tampil sepanjang film kurang memberikan perlawanan kepada musuh mereka, yeah mungkin mereka lebih bersifat defensive atau apalah. Penampilan yang paling ditunggu mungkin penampilan suara dari Cumberbatch lewat voice acting-nya, dan sedikit kecewa sebenanya ketika mendengarkan suara Smaug yang ditampikan hanyalah suara naga, yeah that’s dragon voice like it should be, maksudnya I want a little bit of Cumberbatch’s character and I don’t feel it.

Image

source : impawards.com

Kelemahannya mungkin masih pada durasi yaitu dua jam empat puluh menit, I don’t know the source, tetapi untuk durasi sebegitu lamanya mungkin membutuhkan buku yang kompleks dan tidak menceritakan satu petualangan sederhana saja, hasilnya ya film ini terlalu kepanjangan, untuk penonton yang tidak sabar mungkin akan terlalu banyak menguap atau sebagainya.

Untuk bagian akhir film, dimana naga adalah hidangan utamanya, sering terjadi on-off ketegangan, dengan adanya pembagian sequences action antara naga melawan para dwarves dengan elves yang melawan para orc di desa dekat danau. Untuk penampilan klimaks, mungkin kurcaci versus naga (walaupun lebih tepatnya melarikan diri) mungkin lebih bisa dibuat lebih thrilling dan berbahaya.

Plus, cliffhanger ending ? Yeah, untuk beberapa orang mungkin akan mengecewakan terutama ketika film ini tidak menyajikan resolusi apa-apa pada ceritanya, but I can live with that (The same worry maybe for the Mockingjay Part 1 next year).

Intinya film ini merupakan sebuah petualangan yang exciting tentu saja didukung dengan visualnya, disamping dari segi cerita yang dipanjangkan tanpa adanya character development atau essential element yang membuat film ini menjadi begitu penting untuk disimak. Tetapi film ini benar-benar membangkitkan selera untuk menonton Hobbit 1 dan TLOTR.

Trivia

Pada sebuah screening di Brazil, sebuah speaker pecah karena suara Smaug.

Quote

Bilbo Baggins : What have we done?