Mystery & Suspense

The Gift (2015) : Edgerton Presents Nicely Wrapped Thriller and Wicked Twist Inside of It

Director : Joel Edgerton

Writer : Joel Edgerton

Cast : Jason Bateman, Rebecca Hall, Joel Edgerton

(REVIEW) Mendengarkan seorang aktor atau aktris ingin memiliki profesi ganda sebagai seseorang di balik layar seperti sutradara memang ada excitement tersendiri sekaligus terbesit pikiran, “Well, good luck”- not in a good way. Namun, untuk Joel Edgerton, talent dari benua Australia yang dikenal lewat Exodus, Warriors, Animal Kingdom, sampai performa baiknya sebagai anggota FBI yang korup di Black Mass, The Gift cukup menjadi ajang pembuktian debutan bahwa seorang aktor juga bisa menyutradari sebuah film yang cukup intens, pandai, terbungkus dengan rapi lewat bungkusan-bungkusan yang kompleks, yang menjadikan The Gift bukanlah film stalker – thriller yang biasa.

Apa yang terjadi di SMA, tak pernah tinggal di SMA, yep ! Fase ini merupakan sebuah fase penting dalam kehidupan seseorang, ibarat sebuah pintu yang menghadap pada masa depan secara langsung. Itulah yang menjadi permasalahan dalam The Gift. (more…)

Advertisements

Gone Girl (2014) : Dark, Bleak Fusion of Fincher and Flynn, “Who Says that Murder’s not an Art ?”

Director : David Fincher

Writer : Gillian Flynn (screenplay), Gillian Flynn (novel)

Cast : Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick HarrisCarrie CoonTyler Perry

There will be a sequel, called “Gone Girl : Missing Child”. Nobody would reprise their roles but Tyler Perry as the lawyer, as Amy, as Nick, as Go, and maybe as white sugar storm.

(REVIEW) Perlu untuk menjadi fantastik untuk menarik perhatian seorang Fincher : menjadi narator beridentitas manipulatif, atau serial killer yang tak tertangkap sampai sekarang, seorang hacker yang disodomi, proses aging yang terbalik, atau setidaknya menjadi alien atau memiliki biografi sekontroversial pendiri Facebook. Kali ini, Gillian Flynn-lah yang memenuhi panggilan itu. Dimulai dari resignation-nya dari Entertainment Weekly (you know nobody is good for EW), Gone Girl merupakan novel ketiganya yang siap menjadi source penuh kejutan dengan wicked twist, dan mempersembahkan salah satu villain yang tak pernah terlupakan.

gone_girl_ver2

Buku Gone Girl sendiri merupakan buku dengan struktur yang tergolong rumit, ditulis dalam berbagai perspektif – sang suami, sang istri, diary sang istri, menggunakan sudut pandang orang pertama sementara terdapat twist yang selalu berusaha ditutup sampai timing-nya tepat, dan hal ini bertabrakan dengan honesty cara bercerita dari film itu sendiri. Yeah, Gillian Flynn memiliki otak yang rumit, yang malah membuatnya mempunyai bakat ganda : penulis dengan segala deskripsi khas-nya, dan kerumitan jalan cerita yang lebih cocok dituangkan dalam bentuk screenplay.

(more…)

Frank (2014) : Off Key, Nails-on-Blackboard You Want to Hear, Weirdness Redeems its “Big Headed” Mission

Director : Lenny Abrahamson

Writer : Jon Ronson (screenplay), Peter Straughan(screenplay)

Cast : Michael Fassbender, Domhnall Gleeson, Maggie Gyllenhaal

Remember that scene where Elizabeth Shaw put Fassbender’s head in the bag ? She still has it.

(REVIEW) Jika Magneto memakai helmet agar kepalanya tidak terbaca dan dipengaruhi Charles, kali ini dia memakai kepala besar imut yang menutup 100% kepalanya dan mempengaruhi isi kepala penonton. Melihat kepala Frank ibarat melihat senyum Monalisa : secara fisik dan visual menarik perhatian ; dan membawa sisi misteri yang selalu mem-provoke untuk melihat isi di dalamnya. What if being “ourselves” means being “somebody else ?”, what if being “original” means being “un-original to ourselves ?“, yeah pertanyaan random itulah yang muncul seusai menonton Frank.

Jon (Domnhal Gleeson), uninspiring musician without any song, bisa mencari inspirasi bermusik dari apa saja, tapi tak satupun menjelma menjadi satu lagu utuh. Ia hidup normal dengan keluarga, dan pekerjaan serta hidup lewat ekspektasinya “akan menjadi terkenal”. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan social media-nya yang memiliki reality – virtual gap yang begitu besar (besides, he plays with narcissistic hashtag, though he only has 18 followers). Hingga akhirnya, secara accidentalia bergabung pada satu band unik yang digawangi leader eksentrik yang memakai kepala palsu sepanjang waktu – Frank (Michael Fassbender) dan anggota band lain yang tak turut kalah aneh, salah satunya Clara (Maggie Gyllenhaal).

(more…)

Blue Ruin (2014) is Irreversible Collateral Damage of “Keep It in The House” Revenge as Force of Feeling

Director : Jeremy Saulnier 

Writer : Jeremy Saulnier 

Cast : Macon BlairDevin RatrayAmy Hargreaves

(REVIEW) Revenge is dish best served cold. Mungkin itulah yang mendasari film Blue Ruin. Tidak hanya dari “cara membalasnya” namun juga bagaimana film membangun keseluruhan atmosfernya. Judul Blue Ruin sendiri sepertinya muncul dari sifat warna biru yang memiliki sifat dingin, melankolis, dan misterius (I am talking about dark blue) sedangkan ruin muncul dari sesuatu yang tak bisa diperbaiki, dibangun kembali serta membawa kenangan atau memori tersendiri.

(more…)

Enemy (2014) : Concealment of Spiderlings Spread Inside Head, Closed By One Shocking Ending

Director : Denis Villeneuve 

Writer : Javier GullónJosé Saramago 

Cast : Jake GyllenhaalJake GyllenhaalMélanie LaurentSarah Gadon

“I don’t like blueberries.” – Adam

Wow, that is just a poster full of hints.

(REVIEW) Setelah super creepy bunny yang terus diperbincangkan dari Donnie Darko, Jake Gyllenhal kembali membintangi film dengan hal yang serupa. Tarantula raksasa, kali ini.

(more…)

Book Corner : Gone Girl (2012), Quirky – Sharp – Jawdropping Material for “The Perfect Love Story and Crime”

Yeah, I am pretty dozed off reading my own movie review (but I am not gonna stop :p), so let’s give this blog some varieties.
Setelah Poster Corner (I dont update it), Classic Choice (YOU KNOW IT’S SO HARD TO WATCH A CLASSIC) now it’s Book Corner (relaaax it’s still movie blog, hanya buku yang akan diadaptasi ke film yang akan direview).

I am nervous, the last time I made book review, is about The Help.

Gone Girl The Movie (God, it’s so lame, but it makes differences it from Gone Girl The Book (now it sounds weird)) merilis teasernya, sebuah teaser yang sangat menarik dan kuat akan misteri, salah satunya kontribusi dari lagu pengisinya, She – Elvis Costello (but someone covers it). Lagu ini begitu menyatu dengan karakter Amy Dunnesekaligus menebar formula gandanya lewat memberikan sisi agony dari seorang Nick Dunne yang menjadi tokoh utama nantinya. Mulai dari sinilah hype Gone Girl mulai menarik perhatian dan keinginan membaca novelnya pun kembali muncul.

(more…)

Demonic Movies : Devil Takes Human Form in Devil (2010) or Another Way Around in Afflicted (2014)

Yeah, selama dua hari berturut-turut menyaksikan dua film yang nyaris sama, namun dengan pendekatan yang sangat berbeda. Jika Shyamalan mengambil pendekatan one setting horror thriller, Afflicted memilih found footage yang lebih memberikan kesan dokumentasi dan real. Keduannya bercerita tentang iblis, premis awal Devil adalah iblis yang menyamar menjadi manusia, sedangkan Afflicted sebaliknya, manusia yang perlahan menjadi iblis.

“Devil doesn’t make any sense, in any measure, even the devil’s”

Director : John Erick Dowdle

Writer : Brian Nelson (screenplay), M. Night Shyamalan

Cast : Chris MessinaLogan Marshall-GreenJenny O’HaraBojana NovakovicBokeem WoodbineGeoffrey Arend

(more…)

Exam (2009), Ambitiously Manipulative Too Structured Psychological Thriller, Better if It’s a Loose Tie

Director : Stuart Hazeldine 

Writer : Stuart HazeldineSimon Garrity 

Cast : Adar BeckGemma ChanNathalie CoxJohn Lloyd FillinghamChukwudi IwujiPollyanna McIntoshLuke MablyJimi MistryColin Salmon 

Any questions? – The Invigilator

(REVIEW) Film yang bersetting di satu tempat, satu waktu ini sudah terlihat sangat ambisius dari awal film, salah satunya dengan scoring yang begitu intens-nya. Tidak ingin bertele-tele, film ini langsung memberikan candidate profile yang terdiri dari delapan pelamar yang mencoba memperebutkan satu posisi di sebuah perusahaan yang masih misterius. Empat pria, dan empat wanita ini dipertunjukkan gelagat yang berbeda ketika mereka menghadapi pre-recruitment, dan dikumpulkan pada sebuah ruangan (layaknya bunker) dengan seorang penjaga dan seorang invigilator. Invigilator menjelaskan dengan singkat, dan detail, sebuah instruksi yang akan menentukan nasib ke delapan kandidat, setelah dibahas pula bahwa delapan kandidat ini telah melalui proses yang sangat panjang. Sebuah penjelasan yang masuk akal, untuk menjelaskan mengapa semua kandidat ini begitu ambisius ke delapan puluh menit ke depan, yep ! Too much opportunity cost.

Delapan puluh menit, delapan kandidat harus menyelesaikan sebuah misteri menjawab sebuah pertanyaan yang belum jelas, dibekali sebuah kertas kosong yang harus mereka jaga, atau mereka akan didiskualifikasi dari proses ini. Mereka juga tidak boleh berkomunikasi dengan penjaga, atau invigilator (yang sepertinya berada di balik kamera), serta tidak boleh meninggalkan ruangan dengan alasan apapun. Bisakah mereka menyelesaikan proses clueless, uncertainty recruitment ?

Exam tidak ubahnya sebuah study kasus yang mencoba menggodok perilaku individu, dengan berbagai twist, dengan sisi suspense yang kental, dan film ini ternyata cukup berhasil. Ketika detik jam digital dimulai, ke delapan kandidat ini langsung menandaskan sebuah karakterisasi yang kuat, lewat langsung pemberian nama stereotyping berdasarkan ciri fisik mereka, seperti White (Luke Mably, cocky, racist, bastard), Brown (Jimy Mistry, gambler, is he an Indian or Arabian American ?), Blonde (Nathalie Cox, blonde beautiful), Dark (Adar Beck, intelligent, psychologist), Brunette (Polyanna McIntosh, uhm, mediocre), Deaf (John, Fillngham, silent, French), and Chinese Girl (Gemma Chan, she deserves to be kicked out first). Dengan casting yang sepertinya tidak terlalu dikenal, menjadikan film ini bisa dikatakan sebagai bola liar yang bisa memakan korban siapa saja, tanpa ada satu karakter yang mendominasi untuk dipertahankan. And that’s good for this kind of elimination thingy.

Seperti yang telah diutarakan, bahwa ke delapan orang ini telah melalui recruitment yang sangat berat, mereka telah terpilih, sehingga ketika mereka bekerja sama, yeah, ada satu karakter yang mempertemukan mereka, karakter itu adalah smart, witty, intelligent dalam upaya menyelesaikan masalah. All possibility is taken. Sisi sedikit negatifnya adalah, mereka seakan-akan memakan bulat-bulat setiap kemungkinan clue yang ada. Hampir setiap usaha yang mereka lakukan begitu terkesan pintar, purpose-full, di sisi lainnya, membuat film ini begitu terkesan manipulatif untuk menggiring satu kejadian ke kejadian yang lainnya. I mean it as this movie is too structured.

Ketika sebuah pertanyaan menjadi sebuah pertanyaan terbesar, film yang diawali dengan sangat powerful di awal film ini sedikit kehilangan arah di paruh tengahnya, terutama ketika penonton mulai diperkenalkan dengan profil perusahaan yang begitu asing, ditambah dengan profil penyakit yang tidak familiar, karena memang film ini bersetting di sebuah alternate history. Tanpa clue apa-apa, yeah, film ini sedikit menjadi clueless di tengah. Semakin dibuat frustasi kandidat, semakin naik tensi film dengan beberapa adegan-adegan yang mulai kicking masih disertai dengan interaksi antar karakter yang semakin menuju mereveal satu karakter ke karakter yang lainnya. Untuk proses interaksi antar karakter ini, bagaimana karakter beraksi terhadap sebuah kejadian memang sepertinya masih terlalu middlecook, tidak terlalu menonjol, walaupun terus-terusan disertai dengan dialog intelek. Kelebihannya, tanda tanya dalam film ini selalu membacking-nya. Kekurangannya, seperti sebuah sisi yang sangat bertolak belakang ketika hampir dalam waktu yang bersamaan, setiap karakter yang tidak diragukan lagi kepintarannya, melakukan sebuah eksekusi akhir terhadap diri mereka sendiri yang cenderung bodoh dan tolol. Mungkin inilah yang membuat karakter-karakter ini terlihat tidak seimbang, yang juga menyebabkan setiap interaksi yang dibangun tidak hanya manipulatif namun juga palsu belaka.

SPOILER MAYBE

Ketika satu persatu kandidat mulai digiring untuk keluar, dengan banyak twist pula di prosesnya, ending film ini terasa terlalu “dipaksakan” terutama dari sisi alternate history yang melibatkan penyakit dan invention. Untuk sebuah film yang selalu mengedepankan sebuah alasan yang rasional, ending film ini masih tergolong mengecewakan, terlepas dari twist utama yang berupa satu pertanyaan yang berhasil membodohi penonton. Twist tentang sebuah invention peluru ini menunjukkan bahwa film ini kurang mau mengambil resiko terhadap sebuah efek yang ditimbulkan film, walaupun sepertinya twist yang satu ini dihadirkan memang untuk melaraskan tujuan perusahaan melakukan recruitment. But, I think the ending has possibility to be a lot better than this.

In the end, I still like it (B-)