Romance

Crimson Peak (2015) : Grandiose Production Design, Guillermo Del Toro’s Vision and What Went Wrong ?

Director : Guillermo del Toro

Writer : Guillermo del Toro

Cast : Mia Wasikowska, Jessica Chastain, Tom Hiddleston, Charlie Hunnam

(REVIEW) Tahun 2015 merupakan tahun yang begitu menggembirakan untuk genre horor; diawali dengan film dengan sukses kritik semacam It Follows yang menawarkan konsep menarik, Unfriended yang menggunakan medianya sendiri, atau semacam Creep yang sederhana namun begitu efektif, dan Insidious Chapter 3 yang paling tidak bisa meneruskan franchisenya di tengah jatuhnya film remake atau sekuel seperti Poltergeist dan Sinister 2. Namun, yang menjadi film diantisipasi nomor satu dalam genre ini tidak lain tidak bukan ketika Guillermo Del Toro memutuskan untuk menyutradarai film rumah berhantu : Crimson Peak dengan jajaran aktor yang luar biasa.

Menjelang perilisannya, sang sutradara mengumumkan lewat akun twitternya yang barus saja ia buat bahwa Crimson Peak bukanlah film horor, dan lebih menekankan bahwa film ini lebih jatuh pada gothic romance dengan momen-momen yang intens. Sangat nampak jelas memang ketika film berawal film langsung memberikan visual hantu CGI yang kelewat kasat mata, dan ditambahkan ucapan sang karakter bahwa “Ghosts are real.” dilengkapi dengan kalimat di momen yang lain bahwa ini bukan cerita hantu melainkan cerita dengan hantu di dalamnya.

(more…)

Fifty Shades of Grey (2015) : Yeah, Bad Aphrodisiac for Erotic Drama, but “What Do You Really Expect ?”

Director : Sam Taylor-Johnson

Writer : Kelly Marcel (screenplay), E.L. James (novel)

Cast : Dakota JohnsonJamie Dornan

Fifty Shades of Grey, atau yang mungkin lebih tepat disebut dengan Filthy Sex of Grrrrrrey adalah sebuah novel bestseller karya E.L James yang dirilis tahun 2012, dan juga mendapatkan julukan Mommy Porn. Dengan penjualan yang fantastis, E.L. James yang saat itu sudah tak muda lagi, masih mampu mengembangkan fantasi nakalnya sampai dengan tiga buku, diikuti oleh Fifty Shades of Darker, dan Fifty Shades Freed. Novel bertemakan drama erotis sudah sangat banyak, namun apakah yang membuat buku ini begitu berbeda ? Itulah yang membawa ketertarikan untuk membaca buku ini. Memang cheesy, dalam artian cheesy yang cukup menarik pada awalnya, walau E.L James menulisnya dengan bahasa yang kurang menarik, namun hasrat orang yang horny memang tidak bisa dibendung apapun. Adegan seks pertama cukup mendapat perhatian, kemudian ibarat orang yang terkena ejakulasi dini, Fifty Shades of Grey terus-terusan memaparkan adegan seks yang makin lama semakin menjemukan, hingga akhirnya buku ini berakhir pada satu kata : skip.

50 Shades of Grey

source : http://www.impawards. com

Bentuk representasi ke-horny-an para fans pun muncul ketika kabar buku tersebut akan difilmkan. Siapakah yang akan menjadi Anastasia Steele, dan terutama, siapakah yang menjadi Christian Grey ? Nama kelas A mulai dari Emma Watson sampai Shailene Woodley, mulai dari Matt Bomer sampai Charlie Hunnam pun bermunculan. Tak kaget memang. Kapan lagi mendapatkan kesempatan untuk melihat aktor atau aktris kesayangan bisa tampil bugil yang tidak hanya sekedar sekejap saja. Dan ditangan Sam Taylor Johnson yang akhirnya menggandeng Dakota Johnson dan Jamie Dornan, foreplay dari yang sepertinya akan menjadi trilogi pun berawal.

(more…)

The Disappearance of Eleanor Rigby (2014) : Him & Her Lacks “Probablys” as Purposely Fragmented, Off Balance Ambitious Romance

Director : Ned Benson

Writer : Ned Benson

Cast : James McAvoyJessica ChastainViola Davis, Ciarán Hinds, Isabelle Huppert

(REVIEW) 2014 adalah tahun baik untuk para filmmaker untuk mencoba bermacam-macam metode : ada yang enggan memutus shot-nya selama dua jam, ada yang mengambil gambar cukup lima menit dalam setahun namun berkelanjutan, ada pula yang membagi sudut pandang. Dan, Eleanor Rigby adalah termasuk yang membagi perspektifnya menjadi dua : laki-laki dan perempuan, dan dengan bekingan nama Weinstein dibelakangnya, film ini mendapatkan major buzz, namun malah berangsur senyap ketika award season datang. Penyebabnya yaitu ketika film akhirnya harus memaksa untuk menyajikan versi “Them” – sesuatu yang menjadi bumerang – satu sisi memudahkan penonton, di sisi lain memusnahkan sisi spesial dari film itu sendiri.

Jika memiliki kesempatan untuk menonton versi Him atau Her, manakah yang seharusnya di dahulukan ? Jawabannya berdasarkan insting. Yeah, insting itu berarti rambut merah, kulit seputih porselain, hidung yang terukir sempurna dari Jessica Chastain akan menarik lebih perhatian ketimbang James McAvoy yang juga belum mendapatkan recognition besar-besaran dalam segi akting. So, lady first, here it goes, The Disappearance of Eleanor Rigby : Her.

(more…)

The Theory of Everything (2014) : Unmenacing, Delicate, Innocuous Simplest Equation Called Love

Director : James Marsh

Writer : Anthony McCarten (screenplay), Jane Hawking (book)

Cast : Eddie Redmayne, Felicity JonesCharlie Cox

Hawking may has disease, but he has the brightest brain,….and sperms.

(REVIEW) Jika bertanya serius tentang siapakah sosok Stephen Hawking, mungkin secara pribadi, hanya akan tahu nama – layaknya Thomas Alfa Eddison, atau hanya mengetahui sekelumit dari apa yang mereka temukan (yeah, kita hanya disuapi dengan list Alexander Graham Bell menemukan telepon, Marconi menemukan radio, and that that’s it – or maybe it’s just me, because I’m stupidly ignorant). Lalu bagaimanakah dengan bagian terbesar dari diri mereka ? Pribadi, perjuangan, kisah cinta, yang disimpul dalam satu kata “kehidupan”. Sesuatu yang dasar, namun seringkali terlupakan, karena berawal dari hal-hal sederhana inilah sesuatu bisa menjadi besar (preach !). Beruntungnya, The Theory of Everything merangkumnya dalam porsi yang pas – tak melihat Stephen Hawkins secara internal penderitaan dirinya, namun sebagian besar dalam kaca mata yang lain – sang istri.

(more…)

Magic in the Moonlight (2014) : Temporarily Alluring Doodles, Full of Sugarcoated Woody Allen

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Cast : Colin Firth, Emma Stone, Marcia Gay HardenHamish Linklater

A movie comes from a cloudy Woody Allen with mental vibration….

(REVIEW – mild spoiler ) Woody Allen – sutradara, penulis, aktor – paling produktif mengirimkan kartu pos untuk fansnya dari berbagai negara, paling dicintai, paling dihujat, paling dihormati, paling kontroversial, paling romantis, itulah beberapa reputasi yang dimilikinya. Salah satu reputasi lainnya yaitu tidak diperlukan seorang clairvoyant untuk menebak bagaimanakah karya Allen selanjutnya : good or so-so. Seakan-akan membentuk pattern, Magic in the Moonlight adalah reaksi dari Blue Jasmine tahun lalu yang merupakan karya hits Allen : terlupakan, dangkal, seperti bukan karya seorang  Woody Allen.

Bukan berarti Magic in The Moonlight adalah sebuah film buruk. Yeah, dengan standar bar Woody Allen mungkin Magic in The Moonlight berada pada cluster  bawah, terlepas dari penampilan super charming starlet Emma Stone, penampilan super menyebalkan Colin Firth (but one of his best works after The King Speech career), sorotan keindahan yang dikelola Darius Khondji, setting eksotis Perancis, jajaran pemain pendukung potensial yang bisa saja menjadi Sally Hawkins selanjutnya, sampai costume dan set produksi di era jazz yang seharusnya menjadi kekuatan khas film-film Woody Allen.

(more…)

If I Stay (2014) : Less Ethereal Out-of-Body Experience Fails to Consider “What’s Important ?” from Its Imbalance Flashbacks

Director : R.J. Cutler

Writer :  Shauna Cross (screenplay), Gayle Forman (novel)

Cast : Chloë Grace Moretz, Mireille Enos, Jamie Blackley

Everything turns out to be a grand shallow unjustified dramatic decision, when Beethoveen all over the place.

(REVIEW) Tak ada yang menolak stardom dari seorang Chloe Grace Moretz, mulai dari awal karirnya di usia belia sampai kita melihatnya tumbuh dewasa di layar. Sayangnya, semakin ia menanjak naik, ia kurang selektif memilih projek yang akan diambilnya dan berujung pada satu hal yang terkadang menjadi bumerang untuknya : sometimes, she’s the only watchable stuff in the screen.

Kali ini dia bukanlah vampire, atau seorang manusia serigala, atau gadis dengan kemampuan telekinesis, ia hanyalah Mia – seorang gadis pemain cello berbakat dengan keluarga dan pergaulan yang cukup normal. Ayah dan ibunya (Joshua Leonard & Mireille Enos) adalah mantan rocker yang memutuskan untuk settle dan berkeluarga normal serta memberikan anaknya kebebasan berekspresi. Ditambah dengan hadirnya Adam (Jamie Blackley) – seorang anak band yang menaruh hati padanya, kehidupan Mia adalah kesempurnaan. Hingga pada suatu hari saat melakukan family trip, keluarga Mia mengalami kecelakaan, dan Mia harus membuat keputusan hidup atau mati saat dunia yang ia kenal mulai satu persatu runtuh.

(more…)

What If (2014) Has Right Ingredients but It Turns Out to be Cheese Ball “Look at The Stars !” – Love Story

Director : Michael Dowse

Writer : Elan Mastai (screenplay), T.J. Dawe (play)

Cast : Daniel Radcliffe, Zoe Kazan, Adam Driver, Mackenzie Davis, Rafe Spall

Never take a romantic love story to Ireland. Never, not even in leap year !

(REVIEW) What If – dua kata yang jika digabungkan menjadi frase yang menghantui karena menggali semua possibility dan uncertainty. Itulah judul baru dari The F-word yang diganti karena menghindari rating R di negara sana. Ironisnya, judul ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan, film What If berusaha menutup mata bahwa semakin durasi berjalan, ia semakin terjebak pada pola cinta drama-drama komedi romantis sebelumnya : yep, predictable.

Walau mengambil tagline “—-being friend has its benefits ?”, The F-word yang dimaksud adalah “Friend”, atau lebih tragisnya “Friendzone”. What If memiliki segala amunisinya untuk menjadi komedi romantis yang lebih menempel dan memberi pengaruh kepada penonton : sweetheart leading couple, cool screenplay, “stay to be true” close friends, dan referensi seperti The 500 Days of Summer atau When Harry Met Sally sebagai komedi romantis yang tidak hanya bercerita, namun juga mengajak penonton berdiskusi di diner’s table.

(more…)

Lilting (2014) is Smooth Strike of Cross Cultural, Speaking Languages to Muffle The Tone of Bereavement

Director : Hong Khaou

Writer : Hong Khaou

Cast : Pei-pei Cheng, Ben Whishaw, Andrew Leung

Yes, I call it family drama.

(REVIEW) Jika masih menganggap LGBT sebagai sebuah produk bawaan pengaruh Barat, Lilting bisa dikatakan menabrakkan LGBT dengan conformity bersifat ketimuran, menjadikannya seakan-akan sebagai sebuah west versus east. Namun, Lilting mengolahnya dengan sangat halus, menekankan perasaan ketimbang kemungkinan destruksi yang bisa saja terjadi, dan mengubah hal tersebut menjadi sebuah bahasa universal yang mungkin bisa dipahami siapa saja. Tidak hanya berbicara tentang bahasa LGBT, Lilting memperkaya dirinya dengan isu motherhood, grief, loss, cross cultural, sampai perbedaan usia yang benar-benar dihormati  di dalam film.

Sejak awal film, Lilting langsung menancapkan statement ke jantung penonton. Junn (Pei-Pei Cheng) dengan senangnya menyambut anak semata wayangnya – Kai (Andrew Leung) yang mengunjunginya di nursing home tempat sekarang ia tinggal. Berbagi hubungan meyakinkan ibu dan anak, keduannya saling melontarkan keceriaan, kesedihan Junn tinggal sendiri, sampai ketidaksukaan Junn pada Richard (Ben Wishaw) – teman satu flat Kai yang membuatnya tak bisa bersatu dengan anaknya. Kejutan datang ketika petugas nursing home mengetok pintunya, dan barulah penonton tahu apa yang baru saja dilihat hanyalah imajinasi Junn semata, atau memory-nya tentang Kai yang baru saja meninggal.

(more…)