2002

One Hour Photo (2002) : Mark Romanek’s “Moderately Challenge – You Think You Know Story”, Robin Williams’ “Out of Comfort Zone” Role

Director : Mark Romanek

Writer : Mark Romanek

Cast : Robin WilliamsConnie NielsenMichael Vartan

Family photos depict smiling faces, births, weddings, holidays, children’s birthday parties. People take pictures of the happy moments in their lives. – Sy Parrish

(REVIEW) Salah satu alasan mengapa melihat film ini adalah karena terpesonanya bagaimana Mark Romanek yang begitu bisanya menangkap nuansa dystopian dengan begitu cemerlang di drama romance Never Let Me Go. Sebuah nuansa atau tone yang sepertinya membuat sutradara yang satu ini memiliki sense untuk mengolah sebuah film horror atau thriller dengan jenius. Dan yeah, inilah film yang disutradarai dan ditulis sendiri oleh Mark Romanek delapan tahun sebelum ia menyutradarai Never Let Me Go.

Manipulating scene sudah tertera di awal film, dengan opening scene Sy (Robin Williams) berada di sebuah ruang interogasi untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya yang masih menjadi misteri. Dalam scene kilas balik, Sy adalah pegawai yang telah bekerja cukup lama di sebuah department store sebagai seorang teknisian photo. Pengambilan aktor Robin Williams bisa dikatakan merupakan sebuah pilihan yang beresiko, menempatkan seorang aktor yang sudah “terlanjur” tercap sebagai seorang komedian/terlalu banyak memainkan film komedi si sebuah film serius bukanlah hal yang mudah. Namun disinilah sisi istimewa dari karakter Sy, Robin Williams dari image secara biasanya mampu menghadirkan sisi frontstage dari Sy yang memang sopan, charming, dan menyenangkan ketika melayani customer, sedangkan sisi backstage dari Sy merupakan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan aktor yang satu ini. A lonely, obssesed with a family, a creepy one, harus dibandingkan dengan frontstage karakter yang sepertinya begitu berkebalikan, dan disinilah Robin Williams berhasil.

One Hour Photo expands its lead character larger than I expected, another movie that moderately challenge “You think you know the story”. The downside of it is lil bit less adrenaline pinching, but the study of Williams’ character is more than an equal compensation.

Sy yang kesepian di dalam, namun menyenangkan di luar ini kemudian ternyata telah bertahun-tahun terobsesi dengan sebuah keluarga yang foto keluarganya telah ia lama tangani, seorang ibu muda, Nina Yorkin (Connie Nielsen) hidup bahagia dengan anak (Dylan Smith) dan suaminya (Michael Vartan). Ketika obsesinya ini berubah kian besar dan besar kemudian dilanjutkan sebuah kekecewaan yang terjadi akibat perselingkuhan yang dilakukan suami Nina, Sy pun merencanakan sebuah balas dendam yang mengubah hidup semua orang.

Jika ada yang mengatakan film ini merupakan salah satu karya terbaik dari Robin Williams sebagai seorang aktor, yeah mungkin hal ini ada benarnya. Karena memang salah satu alasan utama nengapa film ini berhasil mengubah sisi “mediocre-thriller”-nya menjadi thriller yang above average memang adalah perkembangan karakter Sy yang ternyata lebih luas dibandingkan dengan ekspektasi awal. Sy menjelma sebaga karakter yang perlahan bermetamorfosis secara psikologis, dikembangkan oleh sang penulis, membuat penonton seakan-akan dibuat menyelami karakter yang satu ini. Untuk sisi satu ini, film ini memang layak dimasukkan ke dalam genre psychological thriller. Sisi yang spesial dari Sy adalh karakter ini mampu menghindari perangkap typical dari seorang objek yang digadang sebagai seorang psycho, tidak terjebak pada “asyiknya berakting”, Sy mampu menjadi puzzle yang membuat langkahnya begitu unpredicatable. Sisi humanis yang digambarkan oleh seorang, lets say, main villain ini diwakilkan dengan cara me-manage bahwa setiap orang memiliki sisi gelap dalam sisi tertentu, sisi ini begitu stunning diperlihatkan, sedikit banyak mengingatkan kita pada Black Swan – Darren Aranofsky.

YOU THINK YOU KNOW THE STORY, bagaimana film ini memanipulasi penonton (in good way) dengan jalan cerita yang terkesan “mediocre” di awal kemudian dilebarkan menjadi cerita yang lain, twist yang lain, merupakan point positif dari film ini. Kembali lagi, film ini memang sepertinya tidak ingin menyenangkan penonton dengan memenuhi semua formula cerita yang ada di pikiran kita, namun lebih menunjukkan bahwa setiap action dari film ini tidak ditujukan untuk penonton sebagai objek, namun lebih menekankan sebagai interaksi balik yang dilakukan Sy sebagai sebuah karakter. Sisi inilah yang membuat film ini menjadi thoughtful.

Losing formulaic plot ini sedikit banyak membuat demands dari penonton memang sedikit tidak terpenuhi, dengan menekankan pada perkembangan karakter dari Sy juga membuat film ini menjadi tidak terlalu memacu adrenaline, namun dengan meminjam nuansa creepy dari seorang Sy sebagai stalker, obsessed person sudah lebih dari cukup untuk membuat film ini menakutkan dengan caranya tersendiri, ditambah dengan scoring, camerawork, dan nuansa yang memang begitu proper diterapkan Mark Romanek, One Hour Photo merupakan sebuah film yang memilih untuk berbeda dengan menghindari berbagai sisi klise dari film kebanyakan.

Okay, sepertinya kurang lengkap jika membahas film psychological thriller namun tidak sedikit membahas “otak” sang karakter;
Dark side dari seorang Sy bukanlah keinginannya untuk menyakiti, membunuh seperti yang sudah diplot di otak penonton di awal film. His dark side is his loneliness, sebuah karakter yang bisa dikatakan “di dalam keramaian, aku masih merasa sepi”, yeah seperti itulah. He wants to be part of something in his little life. Sempat terlintas pula di pikiran, apakah ada love interest Sy terhadap Nina Yorkin ? Jawabannya, sepertinya tidak, apa yang dilakukan Sy adalah sebah usaha untuk menarik perhatian Nina, namun bukan hanya Nina, namun juga suami dan anaknya. Does he hate her husband ? No. Sy tidak membenci siapapun, he loves this family, he wants to be an uncle of this family. So if you wanna some bloodbathing action in this movie, that won’t happen because that’s not Sy. Apa yang dilakukan Sy adalah sebuah tindakan neglectful karena sebuah kekecewaan. Basically, he’s loving man in creepy way.

Signs (2002) : Crop Circle, Extraterrestrial, and Losing Faith-End of The World-Uncertainty Story

Director : M. Night Shyamalan

Writer : M. Night Shyamalan

Cast : Mel Gibson, Joaquin Phoenix, Rory Culkin, Abigail Breslin

About

Sixth Sense, yep I like it. The Happening. though some people consider it as worst movie but I still like it. Even The Village. Yah M Night Shyamalan memang pernah menjadi sutradara menjanjikan dengan genre yang menyerempet thriller horror,dan tentu saja twistnya (tidak kaget setelah twist di Sixth Sense merupakan salah satu twist yang paling “jaw dropping”), sebelum ia terjebak pad dua film fantasi berbau science fiction The Last Airbender (bahkan tidak menonton sampai selesai, totally ridiculous) dan AfterEarth (jauh lebih enjoyable dari The Last Airbender namun masih dibawah ekspektasi untuk seorang Shyamalan).

Signs merupakan film thriller berbau science fiction juga yang kembali ditulis sendiri oleh Shyamalan. Graham, seorang mantan reverend (pastor, is it ?) yang juga mempunyai ladang jagung, hidupnya mulai terusik ketika crop circle mulai bermunculan di ladang jagungnya. Bersama anggota keluarga lainnya, adiknya Meryll (Joaquin Phoenix), Morgan (Rory Culkin) dan Bo (Abigail Breslin), fenomena ini masih mereka anggap sebagai sebuah prank yang tidak terlalu mereka anggap pusing. Namun, pemberitaan lewat televisi menceritakan bahwa tanda-tanda crop circle ini menandakan sebuah invasi alien atau makhluk ekstraterestrial yang “bisa” menyebabkan terjadinya “akhir dunia”.

“Kind of half assed execution, there’s a lot of emotional potential (which makes it above average), though it’s not strong like it should be.”

Signs mendapatkan sebuah sentuhan klasik dari awal film yang disertai dengan scoring klasik yang terus terang saja, sangat mencekam. Yeah tidak kaget, jika sosok yang bertanggung jawab di belakangnya adalah sekelas James Newton Howard. Orang yang sama di belakang musik The Sixth Sense.

Melihat film ini seperti penonton kehilangan momentum untuk beberapa scene menakutkan dan ditambah sepertinya Shyamalan ingin menambahkan unsur humor sekaligus beberapa sisi dramatic di screenplay-nya. Yeah, walaupun semuannya tidak berhasil. Film ini seperti kebingungan untuk mencari tone-nya di sepanjang film. Terkadang sisi komedi hadir namun sepertinya hadir dalam waktu yang tidak tepat dan seharusnya ditanggapi secara lebih serius. Ketika sisi serius mulai hadir, sisi dramatic juga tidak begitu sukses untuk mengambil alih perasaan penonton. Maybe it’s just me, but sometmes the dialogue is too reverend-ish, too preachy, or something like that. Hasilnya moment dramatic yang seharusnya bisa mengeluarkan emosi penonton terkesan tidak natural dan terlalu memaksakan. Sisi positifnya, scene dimana Joaquin Phoenix memakai alumunium foil di kepalanya, that is totally priceless.

Dua anak kecil (Shyamalan memang gemar memakai anak kecil sebagai tokoh penting dalam ceritanya, Abigail Breslin dan Rory Culkin jua mengibaratkan dua karakter yang sama sekali bertolak belakang. Ketika Rory Culkin mendapatkan kesempatan berbagi layar untuk beberapa moment dramatis dengan Mel Gibson, dan sebenarnya ia cukup dramatis untuk peran ini. Abigail Breslin datang sebagai salah satu distraksi utama dalam film, terkadang ia memberikan sisi kelucuan, it’s like she’s totally too cute for the movie.

Terus apa yang paling menarik dari film ini ?

Film ini memberikan banyak potensi emosional bagi tokoh utamanya Mel Gibson yang merupakan seorang mantan reverend yang kehilangan faith-nya akibat kematian istrinya yang tidak wajar. Issue losing faith ini kemudian digabungkan dengan kondisi perasaan karakter Graham yang merasa insecure karena dunia sedang dirundung issue kiamat. Totally interesting right, for a dramatic thing ? Belum cukup itu saja, film ini kemudian menggabungkan ketiga kedua unsur tadi yaitu losing faith, end of the world dengan sisi uncertainty dan juga teka-teki dari misteri crop circle, yang tentu saja dengan nama besar Shyamalan sebelumnya, uncertainty dan teka-teki ini akan mengundang sekaligus menantang untuk membuka dan menerka twist apakah yang akan disajikan Shyamalan di akhir film. Kembali ke potensi emosional dari materi dramatis yang berat ini, terdapat kurangnya eksekusi Mel Gibson untuk mengeksplorasi karakternya, ditambah sepertinya peran Meryll mengalami underdeveloped bahkan keika Joaquin Phoenix telah berusaha mengga;li karakternya semaksimal mungkin.

Maybe spoilers.

The twist is not a bullseye. Jika ingin menerka apa yang dibalik misteri crop cicle sepertinya twist ini telah mengeluarkan hint-nya bahwa jelas alien adalah dibalik semua ini. Jika ini dianggap sebagai twist, maka twist yang ini bisa diibaratkan sudah terlalu lelah, karena peran televisi di film ini sepertinya merebut semua porsi karakternya untuk lebih melakukan penyelidikan misteri yang sedang berlangsung.

Namun sebenarnya film ini menghadirkan twist lewat judulnya, yeah Signs. Kemungkinan para karakternya, terutama karakter Graham untuk dapat membaca bahwa sebuah tanda akan berlanjut pada suatu peristiwa merupakan twist yang sebenarnya, walaupun yeah, this twist is not golden.

Slah satu faktor yang paling “mengganggu” adalah motif kehadiran alien di film ini. Tidak memberikan sebuah objek cerita yang cukup “threatening” untuk penonton, alien disini sepertinya mengalami kebingungan dan juga merupakan sebuah karakter yang begitu lemah. Tidak terlalu menantang dan juga mengancam bagi keluarga Graham, alien ini semakin diperparah dengan efek CGI yang terlalu memaksakan dan kasar (yeah, it’s 2002, bit come on). Plot yang kehilangan moment di ending cerita pun menjadi salah satu interaksi paling awkward antara alien dengan manusia.

This movie has its moment, kebanyakan moment yang chilling datang dari misteri ladang jagung yang disertai dengan semilir angin di malam hari, that is the best scary moment here, namun potensi mengerikan lainnya sepertinya disia-siakan begitu saja, seperti moment puncak datangnya alien, bahwa alat komunikasi berupa baby walkie talkie pun tidak semencekam daripada seharusnya (yah beda eksekusi ketika James Wan memanfaatkan baby walkie talkie ini dengan sempurna di Insidious).

Trivia

Film debut untuk Abigail Breslin

Quote

Police : What kind of a machine bends a stalk of corn without breaking it?

Adaptation. (2002) : Kaufman Drew Himself In Multi Layer Screenplay

Sutradara : Spike Jonze

Penulis : Charlie Kaufman, Donald Kaufman

Pemain :  Nicolas CageMeryl Streep, Chris Cooper, Cara Seymour

“Charlie Kaufman is goddamn good, he got style.”

About

The Orchid Thief merupakan buku nonfksi yang ditulis oleh Susan Orleans, diperankan Meryl Streep, menceritakan tentang seorang pencuri anggrek yang mengambil anggrek di sebuah suaka, Laroche, diperankan oleh Chris Cooper. Gaya bahasa dan penggambaran rasa Orleans saat menulis buku ini membuat buku ini akan diadaptasi dalam sebuah film. Charlie Kaufman, diperankan Nicholas Cage, ditugaskan untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Masalahnya adalah bagaimana sebuah buku tanpa konflik, tanpa klimaks harus diadaptasi ke dalam sebuah film ? Charlie Kaufman  berkepribadian introvert berambisi menghasilkan suatu screenplay yang luar biasa tentang bunga walaupun ia sendiri mengalami kesulitan untuk melakukan research tentang Susan Orleans. Disinilah, Donald Kaufman, saudara kembarnya, tentu saja juga diperankan Nicholas Cage, membantu Charlie untuk melakukan eksplorasi mendalam tentang Susan Orleans yang ternyata menguak rahasia penulis akan buku tersebut.

Fil ini dibintangi tiga trio langganan award, Nicholas Cage, Meryl Streep dan Chris Cooper yang berhasil menyabet Oscar untuk peran Larochenya, serta bintang-bintang terkenal lainnya seperty Tilda Swinton, Judy Greer, Cara Seymour , Maggie Gyllenhaal serta cameo Katherine Keener, John Cusack, David O. Russel, John Malkovich serta sang sutradara sendiri, Spike Jonze.

You’ll be mesmerized in the end

Di awal film, ketika Kaufman bermonolog dengan latar belakang hitam, kita langsung tahu bahwa screenplay yang digunakan dalam film ini akan luar biasa. Sepanjang film diselingi dengan courtesy-courtesy tentang alam seperti kehidupan di purba kala, indahnya bunga anggrek bermekaran sampai Charles Darwin yang diperankan oleh actor. Courtesy ini erkesan tidak terpisah dengan keseluruhan drama dan malah menambah keindahan dari film ini sendiri. Alurnya pun dibuat melncat-loncat dengan frekuensi yang banyak. Kebanyakan alur dibuat menjadi dua bagian yaitu proses Susan Orleans berinteraksi dengan Laroche saat pembuatan buku The Orchid Thief dan writer’s block yang dialami Charlie Kaufman saat mengadaptasinya.  Walaupun sering membuat kebingungan di awal scene, namun alur yang meloncat-loncat ini tidak mengganggu sama sekali malah film jadi terasa sangat dinamik.

Penampilan Nicholas Cage, Meryl Streep dan Chris Cooper tidak bisa disangkal lagi, it’s top notch cast. Dimulai dari penampilan Nicholas Cage yang akan mengobati kerinduan fans terhadap ‘penampilan’ Cage sebenarnya karena akhir-akhir ini Cage sering terlibat film namun minus kualitas (let’s say Stolen yang ada karena euphoria Taken 2). Cage menampilkan dua sisi berlainan dari kepribadian super introvert, master plan tapi minus action, perfeksionis dari Charlie Kaufman sendiri dan kepribadian supel, lebih easy going dalam menulis dari Donald Kaufman. Keduanya mampu dicover oleh Nicholas Cage. Mery Streep shines as always merupakan kepribadian yang terperangkap dan mengharapkan suat perubahan dalam hidupnya sedangkan Chris Cooper sebagai kepribadian yang unik, tidak konsisten dalam hobinya, punya obsesi terhadap ibunya dan mempunyai masa lalu yang kelam juga bisa dimainkan olehnya.

Film semi autobiography ini terbagi menjadi dua, yakni pengalaman nyata Charlie Kaufman yang mengalami writer’s block dalam mengadaptasi novel dan bagian fiksi yang ditaruh di ending film ini yang menjadikan film ini punya alur bertwist dan mempunyai ending yang super. Film yang tadinya di paruh pertama diduga hanya akan menjadi film yang biasa menjadi sangat luar biasa di paruh kedua. Film ini diibaratkan dengan “Audiences know what they’ll get but the writer gives the audience MORE.” In the end, you’ll just say, “Charlie Kaufman is fucking ingenious.”

Trivia

Donald Kaufman menjadi orang fiksi pertama yang dinominasikan dalam Oscar dan di akhir film terdapat dedikasi yang ditujukan kepadanya. You see ? How creative a Charlie Kaufman is ?

Quote

Robert Mckee : Nothing happens in the world? Are you out of your fucking mind? People are murdered every day. There’s genocide, war, corruption. Every fucking day, somewhere in the world, somebody sacrifices his life to save someone else. Every fucking day, someone, somewhere takes a conscious decision to destroy someone else. People find love, people lose it. For Christ’s sake, a child watches her mother beaten to death on the steps of a church. Someone goes hungry. Somebody else betrays his best friend for a woman. If you can’t find that stuff in life, then you, my friend, don’t know crap about life! And why the fuck are you wasting my two precious hours with your movie? I don’t have any use for it! I don’t have any bloody use for it!