2006

Notes on a Scandal (2006) : Aphrodisiac Thriller of Battle Axe and Seductive Teachers

Director : Richard Eyre

Writer : Patrick MarberZoe Heller

Cast : Cate BlanchettJudi DenchAndrew SimpsonBill Nighy

“By the time I took my seat in the Gods, the opera was well into its final act.”

First of all, Jason Reitman tertarik untuk menyutradarai film ini. Kedua, film ini mempertemukan dua aktris yang benar-benar UP di tahun ini (untuk Oscar terutama). Ketiga, di film ini Judi Dench bermain sebagai, yeah bisa dikatakan psychopath. What else do you want ? Oh yeah, plus 4 nominasi Oscar.

Barbara Covett (Judi Dench), seorang guru sejarah di sebuah sekolah, dingin namun sangat dihormati, menghabiskan sebagian waktunya dengan banyak menganalisis banyak hal yang ia lihat, yang ia rasakan. Begitu kesepiannya dia, seakan-akan apa yang ia analisis begitu dalam dan juga enganging, terutama ketika ia mulai memperhatikan seseorang yang ia duga mengandung potensi untuk berteman dengannya. Yeah, ia adalah Sheba Hart (Cate Blanchett), guru seni di umurnya yang thirty something yang benar-benar kewalahan menangani anak-anak didiknya. Ketika keduannya mulai bersahabat, Barbara menguak rahasia affair antara Sheba dan salah satu siswanya, Steven Connoly (Andrew Simpson). Sebuah skandal yang tidak hanya menyeret persahabatan mereka berdua, namun mengancam karir dan rumah tangga Sheba dengan suaminya (Bill Nighy), dan juga menguak siapakah Barbara Covett sebenarnya.

Seductive thriller, or erotic thriller, yeah mungkin langsung bisa dikaitkan dengan Fatal Attraction atau Poison Ivy, dan hebatnya film ini adalah film ini bukanlah sebuah erotic thriller, namun terdapat cukup sensasi saat menontonnya, yang membuat film ini bisa dikatakan sebagai sebuah erotic, uhm, revise, seductive thriller. Objek perselingkuhan, atau seks, atau mungkin juga lesbian yang sarat dan biasanya ada di mini genre ini hanyalah sebagai jembatan atau media untuk menciptakan sebuah cerita yang tidak hanya seksi namun juga mengandung sedikit strategi sebuah tindakan aksi-reaksi terutama sebagai sebuah deskripsi studi karakter utama, Barbara Covett.

Judi Dench benar-benar melahirkan sebuah karakter yang sangat sensitif untuk penonton. Melihat sebuah aksi balik atau side effect dari sebuah kesepian, melihat lebih dalam tentang sebuah arti “obsesi”, dan seperti me-redefine arti psycho atau variasi kegilaan yang dimiliki oleh seseorang. Sebuah karakter “dingin” namun diimbangi dengan penjelasan karakter lewat diary yang ditulisnya, menjadi karakter ini begitu absorbing untuk penonton, dan juga sekaligus penetrasi ini membuat karakter Barbara Covett ini menjadi sebuah karakter yang berkali lipat lebih menakutkan. Hebatnya seorang Judi Dench, eksekusinya sebagai seorang Barbara Covett tidak menghilangkan karakter subtle-nya sebagai seorang aktris, she makes this character so easy to be performed. This is one of my favorite performances of her. Film ini membuktikan bahwa seorang aktris hebat mampu menghindari sebuah stereotype untuk karakter yang biasanya terjebak pada satu istilah “REALLY PSYCHOTIC BUNNY BOILER”, thanks to Glenn Close too.

Film ini merupakan sebuah kejutan dari sebuah karakter study seorang Barbara Covett, menggiring kita pada arah karakter-karakter erotic thriller, namun kemudian men=transformasikannya ke dalam sebuah karakter yang lebih real, lebih kompleks, lebih berani, tanpa sedikit pun kehilangan sebuah karakter yang mampu memompa adrenaline pada genre thriller. This is one of very precise character.

Cate Blanchett, juniornya, juga mendapatkan peran yang sedikit tricky, seorang wanita yang mengalami fase “good girl gone bad”, Sheba Hart merupakan sebuah karakter yang seductive, stylish, sexy, tanpa ada rasa untuk mencoba begitu trashy ataupun nasty. Berbeda dengan karakter Barbara Covett yang memang secara konsisten dipertunjukkan sebagai sebuah karakter monoton (wonderfully in good way), Sheba Hart merupakan sebuah karakter yang berubah sesuai dengan apa yang dialaminya. Kebingungan, guilty pleasure, pressure dari rekannya, juga sisi keibuannya dari seorang anak Dawn Syndrome, benar-benar bisa direngkuh Blanchett.

Perang diantara keduannya bisa dikatakan merupakan sebuah sajian yang benar-benar memperlihatkan bahwa film ini merupakan sebuah showcase yang mengasah kemampuan akting kedua aktris utamanya. Walaupun tidak bisa dikatakan sebagai sebuah “mouse-cat game”, karena memang karakter Sheba Hart terlalu decent, terlalu pasif, dan terlalu nerimo untuk menanggapi perang diantara keduannya. Namun, setiap konfrontasi, setiap konflik diantara keduannya merupakan sebuah top notch performance yang sangat langka sekaligus elegan dan berkelas.

“You live in a flat off the Archway Road and think you’re Virginia Woolf ?” merupakan sebuah best line yang akhirnya dihantarkan oleh Blanchett setelah karakternya benar-benar direndam disepanjang film, sebuah konfrontasi final dengan Judi Dench yang membuktikan bahwa di umurnya yang tidak muda lagi, Judi Dench masih mumpuni untuk menjalani scene-scene yang demanding. This scene is priceless.

Big surprise, datang dari sebuah karakter kecil dari Bill Nighy, yeah, sepanjang melihat aktor yang satu ini sepertinya selalu kedapatan menonton peran yang menyenangkan. Namun, di Notes on a Scandal, Bill Nighy keluar dari karakter “easy going” dan menyenangkannya, namun juga bisa benar-benar pas memainkan suami dari Cate Blanchett yang tidak bisa memuaskan istrinya, well done Mr. Nighy. Sedangkan karakter lainnya, yaitu Andrew Simpson kurang bisa meninggalkan impression, walaupun tetap saja untuk berhadapan dengan Blanchett (termasuk sex scene) memang tidak mudah.

Plus, another plus of this movie, sutradara membiarkan film berjalan, tanpa banyak menambahkan gimmick atau sesuatu yang terlihat ambisius, bahkan camerawork pun terkesan tida spesial, namun disinilah saatnya memang menonjolkan akting para aktornya, plus scoring yang menambah film ini bertambah thrilling and sexy. This is a precious, precise note for Notes on a Scandal.

“Oh, Judi Dench, this is just wow.”

Advertisements

The Devil Wears Prada (2006) : A “Supposed to be Chick Flick” Movie That Refuses To Be “THAT’S ALL”

Director : David Frankel

Writer : Aline Brosh McKenna,  Lauren Weisberger

Cast : Anne HathawayMeryl StreepEmily BluntStanley Tucci

Streep’s Streak Challenge

“This stuff? Oh. Okay. I see. You think this has nothing to do with you. You go to your closet and you select. I don’t know that lumpy blue sweater, for instance because you’re trying to tell the world that you take yourself too seriously to care about what you put on your back. But what you don’t know is that that sweater is not just blue, it’s not turquoise. It’s not lapis. It’s actually cerulean. And you’re also blithely unaware of the fact that in 2002, Oscar de la Renta did a collection of cerulean gowns. And then I think it was Yves Saint Laurent wasn’t it who showed cerulean military jackets? I think we need a jacket here. And then cerulean quickly showed up in the collections of eight different designers. And then it, uh, filtered down through the department stores and then trickled on down into some tragic Casual Corner where you, no doubt, fished it out of some clearance bin. However, that blue represents millions of dollars and countless jobs and it’s sort of comical how you think that you’ve made a choice that exempts you from the fashion industry when, in fact, you’re wearing the sweater that was selected for you by the people in this room from a pile of stuff.” – Miranda Priestly

That is a long one, yeah but I copy-paste it because this is why this movie is so good. Best explanation of fashion I ever heard.

Andrea or Andy or The New Emily (Anne Hathaway) mendapatkan sebuah pekerjaan barunya yang sama sekali bertolak belakang dengan virtue, karakter atau bahkan pengetahuannya. Walaupun ia seorang jurnalis dengan segudang prestasi dan sangat pintar, namun pengetahuannya tentang fashion sama sekali nol. Nol besar, dia bahkan tidak bisa mengeja G-A-B-A-N-N-A. Menjadi seorang asisten Miranda Prestley (Meryl Streep) tentu saja akan memerlukan hal itu semua, tidak hanya cerdas, fashionable tapi juga harus melakukan yang tidak mungkin menjadi mungkin, termasuk mencari unpublished manuscript of Harry Potter. Tekanan perfeksionist Miranda Prestley ini menjadi memburuk ketika seniornya, Emily or The Real Emily (diperankan oleh EMILY Blunt) sama sekali tidak suportif dan selalu membayang-bayangi kinerjanya, akankah Andy mampu bertahan menjadi seorang asisten chief editor di majalah kelas atas itu ? Atau dia hanya akan RUN(a)WAY ?

Yeah, revision for its title, that’s all with question mark (???) Mengapa demikian ? Jika ditilik kembali, terutama mengenai plot-nya, it’s so chick flick. Seorang gadis yang tidak menyadari bahwa dirinya cantik, kemudian lambat laun berubah dan akhirnya mengalami konflik batin atas perubahan ini. Formulaic ? Yeah ! Ditangan yang salah (dalam hal ini juga termasuk di tangan cast yang salah), film ini hanya akan berakhir menjadi sebuah film-film penghibur cewek-cewek penggila fashion, namun tidak sangka film ini dapat melalui batasan-batasan tersebut. Berikut ini adalah alasannya.

For the chick flick and movie about fashion, film ini pastinya telah memberikan sebuah pondasi yang kuat. Aktris dengan fisik rupawan, tidak tanggung-tanggung sekelas Anne Hathaway yang image “princess”-nya masih melekat kuat, ditambah berbagai style, costume design yang tidak segan-segan memamerkan brand-nya (termasuk di judulnya), Calvin Klein, Chanel, et se te ra, et se te ra. Dari segi costume design-nya saja film ini sudah terlihat above-average dari chick flick biasa. Namun film ini tidak ingin berakhir seperti hanya sebatas film ini saja.

Ingatkah apa yang dikatakan Colin Firth beberapa Oscar yang lalu ? Bahwa, Meryl Streep raises the bar. Yeah, bisa dikatakan film ini adalah salah satu film yang didongkrak oleh kekuatan Meryl Streep sebagai seorang vicious editor dari majalah Runway. Berperan sebagai stylish antagonist, Streep menggunakan semua atribut seperti tata rambut, aksen, body language, dan terutama pasti ekspresi wajahnya. Miranda Pristly tidak akan secemerlang ini jika bukan Streep yang memerankan, sebuah penampilan yang bisa dikatakan selalu eksklusif di tiap scene-nya, mematikan, namun di sisi lain Prestley hanyalah wanita yang terjebak pada sifat obsesi dan perfectionistnya. Penonton yang lebih banyak disuguhkan sudut pandang dari Andy membuat jatah Streep di layar benar-benar begitu dinantikan, dan bukan Streep jika ia tidak memanfaatkan semaksimal mungkin, termasuk pada scene dimana sepertinya Streep akhirnya menanggalkan semua make-upnya dan mulai tersirat untuk terbuka kepada Andy tentang kehidupannya. Jika Miranda Prestley memang benar sebuah karakter fiksi yang didasarkan dari seorang tokoh nyata, seorang editor majalah Vogue, Anna Wintour, sepertinya versi Meryl Streep terlihat lebih vicious dan meyakinkan ketimbang Anna Wintour itu sendiri ( I talk physically).

Another actress ? Yeah, sepertinya Emily Blunt harus dianugerahi sebagai penggunaan eye shadow, eye liner, atau apalah itu yang benar-benar mendukung penampilannya, ditambah dengan aksen Britishnya yang menambah variasi karakter di film ini. Stanley Tucci plus feminim side juga merupakan awal mengapa ia sempurna sebagai Caesar Flickerman, ia juga melebihi ekspektasi. Karakter Emily dan Nigel ini merupakan sebuah representasi slavery dari sebuah pekerjaan.

Fine performance justru dipertunjukkan oleh Anne Hathaway, I am saying a lot, but Anne Hathaway as beautiful good girl ? PLEASE !!! Salah satu sisi paling krusial namun tidak dipertunjukkan adalah semangat ambisi dan passion Andy di dunia non-fashion yang seharusnya “sedikit” dipertunjukkan untuk membuat ending film ini terlihat lebih relevan. Sisi jomplang justru malah dipertunjukkan pada kehidupan personal Andy, ketika ia bersama teman dan pacarnya, sepertinya film ini menjadi redup dan terlalu kehilangan daya tariknya. I hate her whe she’s with Nate, Nate is her boyfriend. Isu klise juga diangkat pada hubungan percintaan Andy dan Nate ini, OH PLEASE, I think everybody agrees Anne Hathaway is beautiful-er as Priestley assistant, FUCK YOU, Nate, and your friend.

Shallow ? Yes. Light ? Yes. Film ini memang terkesan sangat dangkal, sebuah film yang menyebut jurnalisme dan dunia fashion namun kurang adanya sisi komprehensif tentang dunia tersebut. Satu-satunya scene yang begitu komprehensif hanyalah ketika Miranda Prestley menganalisis sweater biru yang dipakai Andy, and that’s all. Yeah, kembali lagi film ini memang bukan tentang dunia jurnalisme, atau dunia media, atau bahkan fashion, melainkan memang dunia Andy + Prestley + a little bit of Emily and Nigel (Stanley Tucci). Lebih jauh lagi, film ini malah lebih memperlihatkan sisi kejamnya iblis tentang work ethic terutama pada rekan kerja, bagaimana satu karakter men-tackle karakter lain, bagaimana sebuah keputusan yang benar ternyata harus mengorbankan yang lain, dan satu pelajaran dari film ini, IF YOU DON’T LIKE YOUR JOB, QUIT !!!!

Film ini memang terlalu formulaic, dan mudah ditebak, namun di satu sisi, film ini memenuhi salah satu tujuan menonton film, yeah ENTERTAINING, with top notch performance of Streep, membuat film ini sedikit bisa meleluasakan tali “chick-flick”-nya dan dapat ditonton oleh siapa saja. And, label it as one of my favorite movies all the time, yeah it’s perfect movie when my head and brain hurts, I am talking like this “in good way”.

“This chick flick is not just blue, but a little bit cerulian, turquoise, lapis too.”

Honey, I Shrunk The Kids : The Ant Bully (2006), The Secret World of Arrietty (2010), and Epic (2013)

Okay, salah satu film yang paling diingat saat kecil adalah Honey I Shrunk The Kids, yeah. Suatu kali film ini pernah ditayangkan di sebuah televisi (when our television station was pretty decent), and it actually changed my world. Konsep dari film ini sebenarnya sudah sangat tertera pada judulnya, seorang ayah ilmuwan tanpa sengaja menyusutkan badan anak-anaknya. Masalah terjadi ketika anak-anak ini kemudian harus berjuang kembali ke rumah dengan melewati hutan rimba penuh bahaya yang tidak lain tidak bukan adalah kebun belakang rumah mereka sendiri. Mereka bertemu dengan kupu-kupu raksasa, jamur raksasa, bahkan juga sampai semut raksasa. When I was six or something, that was fucking awesome.

So, I watched some movies with the same storyline, this is it….

Director : John A. Davis
Writer : John A. Davis, John Nickle
Cast : Julia Roberts, Nicolas Cage, Zach Tyler, and Meryl Streep

About
Film apa yang dibayangan kita ketika mendengar kata semut, dan juga animasi, yeah, mungkin Antz, namun film ini juga mengeksplor kehidupan semut dan juga koloninya. Lucas (Zach Tyler), seorang anak yang sebenarnya kurang mendapatkan perhatian lebih orang tuanya, dan juga dibully oleh teman-teman sebayanya, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak-abrik sebuah koloni semut di depan rumahnya. Tanpa disangka, koloni semut tersebut memiliki peradaban, mereka bisa berbicara, mereka memiliki ilmu pengetahuan, termasuk magic. Hingga saat suasana sudah darurat, salah satu semut, Zoc (Nicholas Cage) kemudian membuat sebuah potion yang menyusutkan tubuh Lucas, and BAM !!! Lucas yang nakal pun menjadi sekecil mereka, dan atas keputusan Queen (Meryl Streep), Lucas pun harus belajar untuk menjadi bagian dari koloni dengan arahan seekor semut optimis, Hova (Julia Roberts).

“Well crafted, full of message, but almost nothing special.”

Okay, film animasi mungkin sangat cocok untuk anak-anak karena penuh dengan message moral atau pun banjir dengan kebaikan, seperti kerjasama, tidak boleh egois, tidak boleh nakal, dan sebagainya, dan sebagainya. Untuk film animasi yang ditujukan untuk anak-anak, film ini bisa dikatakan sebagai sebuah film yang sangat sukses. Namun, bagaimana untuk orang dewasa ? Yeah, film ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, dialog-dialognya juga tergolong cukup lucu, namun tidak terlalu lucu, cukup pintar, namun tidak terlalu pintar. Salah satu yang menarik perhatian mungkin pengisi suara yang termasuk aktor aktris yang sudah tidak diragukan lagi. Julia Roberts, Nicholas Cage dan juga Meryl Streep berada di pengisi karakter-karakter utama. Namun disinilah sepertinya sumber kekecewaan yang lain, bahkan seorang aktor aktris peraih Oscar atau bla-bla bla, terkadang juga hanya standard-ly perform di film dimana mereka hanya bisa mengandalkan suara mereka. Yeah, untuk Nicholas Cage dan Meryl Streep sedikit masih bisa mempertahankan karakter suara asli mereka and that is a good thing, namun untuk karakter Hova yang disuarakan Julia Roberts sepertinya benar-benar separuh kehilangan karakter istimewa Julia Robert. Yeah, I like this actress pronounce every word with her upper lips in live action movie, namun sepertinya di film ini, jika kita menutup mata, kita akan sulit menebak jika suara ini adalah suara Roberts.

Elemen of wonder, yeah I got this term, karena sepertinya film dengan jalan cerita seperti ini memiliki kekuatan untuk mengeksplor dunia yang kecil namun familiar, kemudian dibandingkan dengan dunia normal yang tiba-tiba menjadi raksasa. Yeah, The Ant Bully tidak sepenuhnya memanfaatkan elemen yang satu ini karena mungkin kebanyakan setting di koloni semut ketimbang di rumah Lucas, namun untuk beberapa scene, film ini masih mengeksplor hal tersebut.

Giant antagonist, pasti selalu karakter orang normal yang menjadi karakter antagonist di film ini. Yeah, film ini menyertakan kakak Lucas dan juga neneknya sebagai karakter yang sering kali mengganggu, bukan mengancam. Karakter mengancam hadir lewat The Exterminator yang merupakan karakter antagonist utama karena mengancam keberadaan koloni ini. He’s so ambitiously menacing but not impressing. Yeah, tipikal antagonist biasa. Sisi ini mungkin bisa dikatakan terlalu pasif, dan sengaja untuk tidak mendominasi cerita.

Sisi yang menariknya adalah sepertinya kurang menyenangkan untuk melihat sebuah film tentang binatang, bahkan binatang ini bisa berbicara namun terdapat beberapa adegan “pembunuhan binatang”, I don’t know why I found it very harsh, not for children maybe, but for adult. Beruntungnya, The Ant Bully tidak terlalu jauh masuk dalam genre fantasy, cukup dengan semut yang berbicara, kemudian mereka juga menyertakan binatang-binatang lain, seperti nyamuk, tawon yang juga bisa berbicara, tanpa tambahan karakter fantasy yang kurang natural ataupun terlalu aneh.

Director : Hiromasa Yonebayashi
Writer : Mary Norton, Hayao Miyazaki
Cast : Saoirse Ronan, Tom Holland, Olivia Colman (english cast)

Sama seperti The Ant Bully, film ini juga berdasarkan pada sebuah buku dan dengan tangan dingin studio Gibli untuk menyediakan animasinya, maka film ini memang sangatlayak untuk ditonton.

Mungkin istilah “Honey I Shrunk The Kids” kurang tepat untuk film ini. Film yang bergenre fantasy ini memang bercerita tentan dua kehidupan yang memang sudah berbeda. Sho, seorang anak laki-laki biasa dengan ukuran normal dan Arriety, seorang gadis mungil kecil yang hidup secara rahasia di sekitar rumah Sho. Sho harus menghabiskan hari-harinya di rumah masa kecil ibunya karena ia mengidap sebuah penyakit yang membuatnya membutuhkan sebuah suasana yang tenang dan damai. Ketenangannya mulai diusik ketika ia mulai beberapa kali memergoki orang-orang kecil atau yang disebut dengan Borrower. Borrower ini adalah sebuah legenda tentang orang-orang kecil yang suka meminjam barang-barang seperti gula, jarum, dan lain sebagainya untuk bertahan hidup. Salah satu Borrower aalah Arriety yang hidup bersama ibu dan juga ayahnya. Arriety yang “orang baru” dalam menjalankan misi bertahan hidup, beberapa kali harus kepergok oleh Sho dan akhirya menjalin persahabatan dengannya. Sayangnya, persahabatan ini juga harus mengancam keluarga dan “spesies”-nya yang mulai langka dan akan punah.

“Simple but beautiful.”

Yeah, jika dibandingkan dengan The Ant Bully dan juga Epic, mungkin The Secret World of Arriety paling tradisional dari segi visualnya, but it’s Gibli, GODDAMN IT. Dari visual yang terlihat tradisional ini malah film ini terlihat indah dalam balutan yang sederhana, terlihat klasik dan juga old school.

Ceritanya pun dibuat tidak macam-macam. Hanya tentang relationship antara manusia dan manusia mini, namun dikemas dengan banyak sisi charming sekaligus mendalam untuk kedua karakter utamanya. Untuk film animasi, Arriety dan juga Sho bukanlah karakter yang terlalu komikal, they are actually like real character. Yeah, dalam artian, karakter ini termasuk karakter yang kompleks untuk ukuran sebuah karakter yang direpresentasikan oleh sebuah gambar. Sho adalah anak laki-laki yang kesepian, juga kurang perhatian, diperlakukan secara spesial, dan bisa dikatakan karena penyakitnya, ia mulai menutup dunianya, lebih gelap lagi terkadang Sho juga harus menghadapi kematian yang mungkin akan menjemputnya setiap saat. Kontras dengan Arriety, gadis kecil ini penuh dengan keingintahuan akan dunia yang baru, seorang petualang, dan juga mempunyai sisi “membangkang” dengan kedua orang tuanya yang cenderung konservatif. Hubungan yang aneh pun mereka jalani, sebuah persahabatan yang begitu kontras antara dua karakter yang penuh dengan keterbatasannya masing-masing. Film ini cukup berhasil mengeksplor hal ini, membuat film ini tidak hanya menyenangkan dan full message untuk anak-anak, namun juga menjadi film  yang menghibur sekaligus terkadang menyentuh untuk orang dewasa.

Element of wonder, siapa bilang dengan animasi tradisional, sisi yang satu ini menjadi lemah. Keingintahuan dan karakter Arriety yang selalu amaze dengan dunia barunya  menjadi salah satu kekuatan film ini untuk benar-benar mengolah bagaimana karakter kecil ini harus hidup di dunia yang besar. Sebuah perjalanan meminjam gula, menjadi rangkaian adegan yang menghibur karena mereka harus melewati meja yang super tinggi, kemudian terjun dari meja yang super tinggi pula. Bagaimana keluarga Arriety memanfaatkan barang-barang di sekitarnya untuk rumah mereka juga sangat menarik. Untuk film dengan cerita seperti ini, The Secret World of Arriety benar-benar tahu kekuatannya.

Giant antagonist, tidak ingin terlalu ambisius dalam menciptakan karakter antagonist. Antagonist disini cukup seorang perawat rumah yang dengan segala upaya “juga” ingin menangkap orang-orang kecil ini namun dengan cara-cara yang masih biasa dan juga alami, namun tanpa melupakan sisi mengancamnya.

Dengan karakter yang dalam dan juga menyenangkan, sekaligus pendekatan yang lebih sederhana, film ini merupakan film yang tahu benar kekuatannya.

Director : Chris Wedge
Writer : William Joyce, James V. Hart
Cast : Amanda Seyfried, Josh Hutcherson, Beyoncé Knowles, Colin Farrell, Jason Sudeikis, Christoph Waltz

Hmmm, dari creator Ice Age (hmmm, not pretty good indicator, walaupun Ice Age adalah guilty pleasure yang selalu ingin ditonton), Epic bercerita tentang MK (Amanda Seyfried) yang berkunjung ke rumah ayahnya yang sedikit gila, Professor Bumba (Jason Sudeikis). Sebenarnya tidak terlalu gila, karena ia mempercayai peradaban orang-orang kecil yang hidup di tengah hutan, dan benar. Queen Tara (Beyonce Knowles) adalah ratu yang senantiasa menjaga hutan dan dalam waktu dekat akan menyerahkan kekuatannya dan memilih seorang leader yang baru. Beruntungnya, konflik antara Leaf Man yang dipimpin Queen Tara dengan Mandrake (Christoph Waltz) semakin menjadi ketika Mandrake tahu bahwa akan ada pengalihan kekuatan Queen Tara lewat sebuah pod. Di tengah pertempuran pun, Queen Tara terpaksa menyerahkan pod-nya ke MK yang seketika mengecilkan badannya. MK-pun harus bertempur dengan waktu untuk menyelamatkan pod dan seisi hutan dengan bantuan para tentara Leaf Man,  Nod (Josh Hutcherson) dan Ronin (Colin Farrel).

“Not quite epic fail, but yes, it is quite epic boredom.”

Too crowded. Sepertinya film ini tidak terlalu bisa memenuhi janjinya seperti yang tertera pada judulnya. Epic bisa dikatakan terlalu biasa diatas misinya yang terlalu “epic”. Terlalu banyak karakter, dengan terlalu banyak interaksi dan hubungan namun tidak ada satu hubungan antar karakter yang bisa diolah dengan dalam, semuanya berakhir dengan level nanggung, seperti hubungan Ronin dengan Queen Tara, hubungan MK dengan Nod, hubungan Nod dengan Ronin, hubungan MK dengan ayahnya, terlalu banyak yang ingin dicakup namun akhirnya berakhir biasa saja tanpa meninggalkan bekas untuk penonton.

Film ini diawali dengan scene yang sangat familiar untuk film serupa, yaitu MK yang berkunjung ke rumah ayahnya yang jauh di entah berantah, kemudian disertai dengan perkembangan plot yangg berjalan lambat sepertinya film ini sudah membosankan sejak awal pertama film mulai.

Yeah, mungkin disinilah salah satu masalah animasi, lebih mengutamakan nama besar ketimbang menyuarakan karakter suaranya menjadi berkarakter (salah satu sisi mengapa lebih suka pengisi suara Pixar yang lebih masuk karakter walaupun pengisi suaranya kadang tidak terlalu kita kenal). Nama besar seperti Beyonce Knowles, Christoph Waltz, bahkan komedian Aziz Ansari tidak ada yang bisa menyuarakan karakternya dengan ciri khusus, ditambah dengan Amanda Seyfried dan Josh Hutcherson sepertinya bagian voice-acting tidak terlalu inspirational.

Element of wonder, film ini memang tidak berfokus pada dunia kecilnya mengingat film ini terlalu masuk pada genre fantasy dengan banyak makhluk-makhluk baru yang aneh. Dibandingkan ketiga film, film ini adalah film yang paling lemah di sisi ini. Kemampuan ‘orang-orang kecil” ini untuk menjelajahi dunianya juga “too epic to be true”, mereka bisa melompat dengan sangat tinggi, bahkan dengan mudahnya mengendarai burung, membuat Epic selayaknya Journey to The Center of The Earth versi animasi.

Giant antagonist hampir tidak ada di film ini, karakter ayah MK juga terlalu “clueless” untuk mengetahui keberadaan orang-orang kecil ini, hasilnya karakter antagonist memang sepenuhnya berada di tangan Mandrake, karakter antagonist yang terlalu general dan terlalu “been there done that.”

Epic terlalu gagal untuk memenuhi narasi awalnya yang mengutarakan untuk “look closer”, secara visual memang menyenangkan walaupun juga tidak terlalu spesial, tidak lebih dari itu.

In the end, untuk film dengan storyline hampir serupa, The Secret World of Arriety > The Ant Bully > Epic.

The Lake House (2006) : You’ve Got Mail From Future Via Ridiculous Mailbox

Director : Alejandro Agresti

Writer : David AuburnEun-Jeong Kim

Cast : Keanu ReevesSandra BullockChristopher Plummer

About

The Lake House adalah film drama romantis fantasi yang merupakan hasil film Korea di tahun 2000.II Mare. Salah satu alasan dibuatnya remake, mungkin karena film ini mempunyai premis fim yang unik dan menarik. Selain itu, film ini juga menyatukan kembali antara Keanu Reeves dan Sandra Bullock semenjak film terakhir mereka, Speed.

Kate Forster (Sandra Bullock) adalah dokter muda yang masih berusaha untuk menyesuaikan diri di Chicago setelah ia pindah dari sebuah lake house. Sementara Alex Wyler (Keanu Reeves) adalah arsitek yang baru saja menempati sebuah lake house yang merupakan bekas rumah masa kecilnya. Keduannya mulai menjalin sebuah hubungan yang aneh, ketika keduannya mulai berkorespondensi lewat sebuah kotak surat yang sama. Menariknya, ternyata mereka berdua tidak hidup pada satu waktu yang sama. Kate hidup di tahun 2006 sedangkan Alex hidup di tahun 2004. Yap ! Dengan kata lain, kotak surat itu adalah sebuah mesin waktu. Dengan interval waktu 2 tahun ini, apakah keduannya dapat bersatu sebelum semuannya terlambat ?

“Hey, they don’t live in 1800’s. Where’s cellphone ? Where’s the search engine ? Okay, forget it ! Though it has bland stars in leading role, you still can get amusing feature which provide fresh concept through its uniquely illogical plot.”

Drama fantasi yang menghadirkan konsep “time travelling” memang mau tidak mau akan men-trigger otak kita untuk berpikir. Dan memang itulah yang menjadi film ini terlalu banyak “holes” yang mungkin banyak orang tidak dapat toleransi. Tidak hanya itu, time setting yang menyajikan sisi Kate dan sisi Alex yang berjalan bersamaan membuat penontonpun kesulitan untuk berpikir. Okay, actually, you don’t need to.

Di sisi lain, konsep premis yang unik  memberikan sedikit angin segar untuk film komedi romantis bergenre fantasi yang memang sedikit jarang ditemui. Chemistry yang harus dibangun Bullock dan Reeves juga tergolong sulit, film ini seperti film You’ve Got Mail namun Tom Hanks dan Meg Ryan tidak diizinkan untuk bertemu atau kontak sekalipun. Keduannya juga tidak bisa memberikan ekspresi terbaik lewat surat-menyurat yang membuat akting mereka benar-benar hambar dan tanpa rasa. Dan, sebenarnya, Kate dan Alex bisa jatuh cinta cuma lewat surat-menyurat ? I have to say, “Seriously ?”

Sub story yang dihadirkan cukup “old fashioned” dan distraksi yang menganggu untuk cerita utama, yaitu permasalahan Alex dengan ayahnya, juga situasi terjebaknya Kate dengan pacarnya.

Satu hal yang sedikit “heart-wrenching” disini adalah bahwa ternyata segala sesuatu bisa terjadi dalam waktu dua tahun, termasuk kehilangan orang-orang yang kita cintai. Terlepas dari semuannya, film ini masih bisa menghibur walaupun sangat mudah untuk dilupakan.

Trivia

Pendapatan domestik untuk America menduduki peringkat 8 setelah Godzilla, The Departed, The Ring, The Grudge, Eight Below, The Ring Two, dan Shall We Dance untuk kategori remake Asian.

Quote

Kate       : One man I can never meet. Him, I would like to give my whole heart to.

The Omen (2006) : A Devil Incarnate in Manifestation of Diplomat’s Son

Director : John Moore

Writer : David Seltzer

Cast :  Liev SchreiberJulia StilesSeamus Davey-Fitzpatrick, Mia Farrow

Let Me In, The Ring, Fright Night, The Amityville Horror, Shutter, House of Wax, The Uninvited, dan masih banyak lagi film yang merupakan film hasil remake horror/thriller, baik remake dari film jadul atau film luar negeri yang sukses, seperti film-film Asia atau bahkan daratan Eropa. Beberapa mungkin dapat menunjukkan kesuksesan hasil dari remake, namun sebagian lagi mendapatkan hasil yang tidak memuaskan. Kebanyakan film Asia yang diremake menjadi versi Holywood kebanyakan tidak dapat mengadaptasi suasana mencekam khas Asia yang membuat film itu hits di negara asalnya, lihat saja Shutter, atau The Eye, atau The Invited, untuk The Ring lebih lumayanlah. Bagaimanapun, sebuah hasil remake mau tidak mau akan dibandingkan dengan versi originalnya, for better, or worse. Beberapa remake juga tergolong berani membuat ulang film yang terlampau powerful, legendaris, ataupun sudah terlanjur di cap klasik seperti Pshyco, atau The Omen, dan sebentar lagi akan dirilis Evil Dead, juga Carrie. Berhasilkah ? Pshyco jelas gagal. Evil Dead masih ada kemungkinan, mengingat nama besar Sam Raimi masih attach di projek ini (hmm, you know Sam Raimi is a little bit overrated) sedangkan Carrie banyak yang meragukannya mengingat Brian De Palma, Sissy Spacek dan Laurie Piper, juga tanggal rilis yang diundur bukan merupakan sinyal positif bagi sebuah film. Terus bagaimana dengan The Omen, film yang sangat terkenal dengan anak kecil setan ini ? Ini dia reviewnya dan review ini kita anggap ini film bukan merupakan hasil remake biar lebih ‘fair’. Here it is !!

About

Dirilis pada tanggal 6 Juni 2006, yap it’s 666 yang notabene digadang-gadang sebagai angka setan. The Omen merupakan hasil remake film dengan judul yang sama. The Omen bercerita tentang diplomat Amerika, Robert Thorn (Liev Schreiber), yang harus memanipulasi kelahiran anaknya kepada istrinya, Kath (Julia Stiles). Seorang priest mengatakan bahwa anak kandung mereka telah meninggal dan menyuruh Robert untuk mengadopsi seorang anak misterius tanpa sepengetahuan Kath. Beberapa tahun kemudian, mereka berhasil menjadi keluarga yang bahagia, sang anak yang diberi nama Damien juga telah tumbuh besar namun menunjukkan gelagat yang aneh dan tidak seperti anak kebanyakan. Pendiam, misterius dan mistis.Beberapa kejadian sial dan mengerikan yang melibatkan kematian juga terjadi ketika Damien di sekitarnya. Robert harus bertindak cepat mengungkap siapakah Damien sebenarnya sebelum kejadian mengerikan itu terus menerus menimpa dan mengancam kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk istrinya sendiri, dan bahkan dirinya sendiri. Berhasilkah ia  dan apakah benar Damien adalah anak setan ?

“Honestly, I haven’t  seen the original yet, but this is what I feel, I hate kind of horror or thriller where I know the villain is gonna win (spoiler, haha). Maybe if I watch it 35 years ago, it’s gonna be another impression of mine.”

The Omen sebenarnya mempunyai potensi yang menyegarkan di sisi film dengan genre yang sama. Namun arah cerita film ini sepertinya mulai tertebak mau kemana dan akan bagaimana endingnya. Sebenarnya, tidak menjadi masalah hal tersebut, jika selama durasi, film mampu menyuguhkan sesuatu yang mampu melekat di pikiran. Setiap scene-nya hanya berlalu begitu saja tanpa ada sesuatu yang membuat film ini bakal diingat.

Pace-nya pun terkesan tidak terlalu rapi dan sangat terlihat tidak terlalu berkelanjutan walaupun didukung dengan sinematografi yang seumprit-umprit bagus dan sok keren. Liev Schreiber menunjukkan sisi emosionalnya walaupun masih tergolong mediocre, sebaliknya Julia Stiles sangat mengecewakan. Entah apa karena ia terlalu muda saat itu atau apa, tapi aktingnya yang menunjukkan seorang ibu yang sedang depresi karena anaknya sendiri benar-benar sangat tidak meyakinkan. Aktor cilik, Seamus Davey-Fitzpatrick, yang memerankan Damien kurang bisa menacing dan menimbulkan situasi horor bagi orang-orang di sekitarnya, walaupun secara physically dia cocoklah sebagai anak misterius dengan tatapan matanya. Di sisi lain, Mia Farrow yang memerankan nanny disini menjadi salah satu tokoh yang menarik, mengingat ia juga pernah bermain dalam Rosemary’s Baby.

Beberapa scene yang violence lebih banyak tertebak dan kurang berkesan (sorry, Final Destination effect), dan beberapa scene sisanya, termasuk scene Robert dan Damien di gereja, sangat tanggung, kurang dramatis, dan mencoba keren dan mengelabuhi penonton, walaupun berakhir gagal. No matter, it’s a remake or not, it’s just forgetable.

Trivia

Julia Stiles melakukan adegan jatuh dari lantai atasnya sendiri. I like Julia Stiles, but her scream is ridiculous instead of creepy or tragic.

Quote

Robert : Listen to yourself. Do you have any idea what you’re saying ? You’re asking me to stab a child. A little boy. Can’t you see how insane that is ?