2007

Enchanted (2007) : A Modern, yet Classic Disney Tale, The Real World And The Animated World Collide

Director : Kevin Lima

Writer : Bill Kelly

Cast : Amy Adams, Patrick Dempsey, Timothy Spall, James Marsden, Susan Sarandon

About

Fairy tale, entah sudah berapa kali kita mendengarkan cerita fairy tale mulai dari kita masih kecil. Walaupun Indonesia, juga kaya akan cerita berjenis ini, namun tidak menutup kemungkinan untuk kita mendengar cerita fairytale yang berasal dari luar negeri. Yah, sebut saja Cinderella, atau Snow White, Sleeping Beauty, Rapunzel, dan lain sebagainya. Ceritanya simple dan mudah dicerna, walaupun terkadang formulaic, namun tayangan film baik itu animasi atau live action berbau seperti ini tidak pernah habis untuk dicerotakan kembali. Contohnya saja, kisah Snow White yang tahun kemarin saja mempunyai dua versi Hollywood, atau bahkan tahun depan, ada Maleficent yang menceritakan fairytale dari perspektif villain Sleeping Beauty ini.

Sebagai studio besar, Disney adalah salah satu bagian penting dalam pengangkatan fairy tale ke film. Salah satunya adalah Enchanted, sebuah film yang berusaha me-reimagining fairy tale ke dalam sebuah tayangan yang lebih modern. Enchanted sendiri masih menerapkan basic formula dalam sebuah fairy tale lewat keberadaan seorang putri atau princess yang kemudian jatuh cinta pada seorang pangeran atau prince charming, namun pasti selalu saja pihak yang menghalangi, let’s say tokoh ibu tiri. Yah begitulah, Enchanted. Giselle (Amy Adams), seorang gadis biasa yang hidup dalam sebuah dunia animasi fantasi akhirnya menemukan pangeran dambaanya, Prince Edward (James Marsden). Keduannya siap menikah walaupun baru bertemu dalam sehari saja. Seperti biasa, cinta mereka dihalangi oleh trik yang dikeluarkan Ibu tiri Edward, Queen Narissa (Susan Sarandon). Giselle dikirim ke dunia dimana ending “happily ever after” tidak pernah ada, yaitu tidak lain tidak bukan adalah dunia nyata. Seketika tokoh kartun ini menjelma menjadi tokoh manusia dan harus berjuang di kehidupan kota New York. Giselle yang naif dan polos pun akhirnya bertemu dengan Robert (Patrick Dempsey) dan anak perempuannya yang menyediakan tempat tinggal sementara untuknya. Mengetahui Giselle hilang ke dunia nyata, Edward pun menyusul dan mencarinya, sementara Queen Narissa juga mengutus Nathaniel (Timothy Spall) untuk membunuh Giselle lewat apel beracunnya.

Smartly writen, consistently entertaining, tale in new height with self parody which makes it smarter and smarter. Okay, where’s the sequel ? Bring it on !

Pujian pertama sepertinya harus dilontarkan pada penulis atau screenwriter yang bisa secara apik meng-compile berbagai referensi cerita tale mulai dari Cinderella, Putri Tidur, sampai Snow White ke dalam satu screenplay yang solid dan menghibur. Screenplay dari Bill Kelly ini tidak hanya menghadirkan cerita tale, namun juga berhasil berimprovisasi dengan celah antara dialog fantasi ala tale tradisional dengan doalog yang lebih modern, dan itu menimbulkan kelucuan yang luar biasa.

Departemen casting juga harus diacungi jempol. Sepertinya tidak mudah untuk menemukan seorang putri yang harus bernyanyi, bertutur kata sampai mempunyai tampilan fisik yang benar-benar seperti seorang putri. Pilihan mereka pun jatuh pada Amy Adams, yang notabene pada tahun 2007 belum terkenal sseperti sekarang, walaupun pada saat itu ia sudah mengantongi nominasi Oscar untuk penampilannya di Junebug. Amy Adams pun menjelma sebagai seorang putri lewat penampilan fisiknya yang ditunjang dengan kostum, serta kemampuan menyanyi dan menarinya yang tidak lepas dari kata magical. Karakter Giselle yang pada animasi bisa dikatakan merupakan karakter yang simple, berhasil dihidupkan  ke dunia nyata hampir dengan sempurna. Karakter Giselle ini sangat menarik, dari seluruh film, karakter Giselle ini bukanlah karakter yang stabil dan cenderung sederhana. Giselle mengalami pengembangan karakter setelah setengah jam durasi berjalan yang juga tidak lepas dari plot cerita. Giselle yang berkepribadian malaikat dan super princess, berubah menjadi pribadi yang lebih real terhadap reality tanpa mengurangi sisi elegan dari karakter itu sendiri. Disinilah sebuah keistimewaan ketika sebuah karakter simple diperlakukan secara lebih real, sehingga adaptasi film dari fairy tale ini juga mempunyai elebih banyak emosi yang dapat dirasakan, walaupun penonton semua tahu bahwa film ini akan berakhir happy ending. Peran Edward dan Robert juga merupakan karakter yang sangat menarik karena keduannya merupakan karakter yang sangat berlawanan. Edward, pangeran polos dengan sentuhan narsis sedangkan Robert sebagai sosok pengacara yang sekaligus single parent yang tidak percaya dengan cerita berbau “fairy tale”. Villain yang diwakili Timothy Spall dan juga Susan Sarandon juga lebih dari cukup untuk mengimbangi sisi charming dan enchanting dari Giselle dan Prince Edward.

Berbagai referensi disertai self parody (yang membuat film ini terlihat seperti film meta) merupakan point utama mengapa film ini berbeda dan menghibur di sepanjang film. Tubrukan pandangan antara Giselle dan Robert tentang dunia mereka menjadi bahan jokes yang terus berhasil membuat penonton tertawa.

Salah satu adegan yang paling menghibur adalah adegan menyanyi yang tentu saja merupakan acara wajib pada sebuah musical. Tdak perlu banyak-banyak, scene menyanyi disini hanya terdiri dari tiga lagu namun ketiganya berhasil dimaksimalkan untuk menciptakan atmosfer magical dalam film. Ditulis oleh Alan Menken dan Stephen Schwartz, ketiga lagu ini berhasil masuk pada Oscars walaupun tidak berhasil menyabetnya. Ketiga lagu itu adalah Happy Working Song, That’s How You Know, dan So Close. Moment musikal juga ditambah oleh satu lagu yang sering dinyanyikan dalam sepanjang film yaitu True Love’s Kiss.

Film ini berhasil merangkul penonton dewasa dan juga anak-anak. Anak-anak akan tertarik dengan cerita yang simple, mudah dicerna, fantasi serta visualnya, sedangkan orang dewasa juga akan menikmatinya lewat dialog-dialog cerdas serta twist yang dibuat berbeda dan mengejutkan. Sebuah twist yang masih berada pada track fantasi ala fairy tale.

Take a fairy tae in new height ? Yes. Into real deal ? Yes, this is a formulaic happy ending as usual, yet surprising.

Trivia

Karakter Giselle sebenarnya berambut blonde, namun mengalami perubahan menjadi redhead.

Quote

Robert Philip: There’s no way of helping her. She’s done for true love’s kiss.

Prince Edward: What?

Robert Philip: It’s the most powerful thing in the world.

Advertisements

La Vie en Rose (2007) : Bitterness, Love and Sorrow of Life Story Singer Edith Piaf

Director : Olivier Dahan

Writer : Isabelle SobelmanOlivier Dahan

Cast : Marion Cotillard, Emmanuelle Seigner, Jean-Pierre Martins

About

La Vie en Rose atau juga disebut dengan La Mome adalah film berbahasa Perancis yang menceritakan kehidupan penyanyi Edith Piaf, mulai dari masa kecilnya hingga ia menutup usia. Film yang dibintangi oleh Marion Cotillard ini menjadi milestone terpenting dalam perjalanan karir seorang aktris yang pernah menyabet piala Oscar tersebut.

Film ini diceritakan secara non linear meloncat-loncat ke titik kehidupan seorang Edith Piaf, mulai dari ia masih kecil, kemudian berumur sepuluh tahun, kemudian saat ia rema menjadi street singer, ketika ia mulai berjaya hingga ia menjelang tua.

Image

source : http://www.imdb.com / Edith Piaf

Edith Piaf ditinggalkan ayah ibunya kemudian dirawat oleh neneknya sendiri di sebuah rumah bordil dan akhirnya dekat dengan salah satu pelacur bernama Titine (Emmanuelle Seigner). Ketika ayahnya memutuskan untuk membawanya pergi, ia harus mulai berjuang di kehidupan keras sirkus dan memulai pekerjaannya sebagai street singer. Keberuntungannya mulai terlihat, ketika orang-orang melihat bakatnya sebagai seorang penyanyi walaupun perjalanan menjadi seorang bintang tidaklah mudah. Film ini menceritakan getir pahitnya kehidupan seorang Edith Piaf yang harus berkali-kalikehilangan orang-orang yang ia sayangi, termasuk kekasihnya, Marcell (Jean Pierre Martin), seorang jawara tinju,  yang membuatnya menjadi kecanduan terhadap alkohol dan morfin. Di tengah badannya yang mulai lemah dan kejayaannya sebagai seorang penyanyi, Edith Piaf harus berjuang melawan hal yang selalu ia takuti yakni, kesepian (loneliness).

“Not only the make up, or the gesture, or how she speaks, but Marion Cotillard gives strong performance which shows deep understandings of Edith Piaf, one of them is her truly bitterness.”

Memang sebuah biopic harus mempunyai sebuah cerita yang layak untuk diangkat, dan cerita seorang Edith Piaf memang demikian. Tidak heran, cerita penyanyi fenomenal ini memang diangkat menjadi beberapa film, salah satunya adalah ini. Dengan kekuatan cerita yang sangat pahit, terkadang film ini terkesan sangat dark dan depresif untuk setiap orang yang melihatnya. Ditambah dengan karakter seorang Piaf yang sebenarnya kurang mengundang simpati membuat film ini terkesan tidak membawa keceriaan bagi penonton. Tetapi itulah tujuan film ini. When this movie can make audience feel the bitterness of Piaf’s life so it works.

Thanks to Marion Cotillard, tidak salah memang mendapuknya sebagai seorang Piaf. Tidak hanya make up, atau dari segi gesture, atau dari segi cara bicaranya, Marion Cotillard tidak memberikan kita sekedar akting yang menirukan sebagai seorang karakter, namun ia benar-benar seperti menjadi sebuah karakter dari seorang Piaf. Jika kita bandingkan penampilan Cotilard, katakan saja dengan Meryl Streep di Iron Lady, atau mungkin Phillip Seymour Hoffman sebagai Capote, maka penampilan Cotillard ini seperti satu level lebih dalam memerankan sebuah karakter.

Penampilan Cotillard juga dibantu dengan kualitas tim make up yang sangat meyakinkan. Tim make up benar-benar total dalam mendandani Cotillard dengan rentang usia yang terbilang sangat luas yaitu mulai dari ia remaja sampai tua (walaupun dengan umur sekitar 40an). Tentu saja, penampilan Piaf yang sangat impresif adalah ketika badannya mulai digerogoti oleh obat-obatan dan tua pada usia dini.

Film ini juga (tentu saja) diselingi dengan lagu-lagu Edith Piaf yang sangat cocok menceritakan sebuah kepahitan, kehilangan dan juga cinta. Wow ! Believe it or not, I like the songs, making me want to learn French.

Trivia

Sutradara Olivier Dahan menulis skenario film ini dengan benar-benar memikirkan Marion Cotillard sebagai Edith Piaf di pikirannya.

Quote

Journalist : Are you afraid of death ?

Edith Piaf : I am more afraid of loneliness.

The Orphanage (2007) and The Impossible (2012) : Mother’s Loves are Being Tested in Different Approach (and Genre)

 

Director : Juan Antonio Bayona

Writer : Sergio G. Sánchez

Penulis skenario dan sutradara ini bekerja sama dalam dua film yang mempunyai persamaan tentang arti keluarga, terutama cinta Ibu kepada anak-anaknya, dengan cerita berbeda dalam genre yang berbeda pula.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

The Orphanage (2007)

Cast :   Belén RuedaFernando CayoRoger Príncep

“A ghost story (uhm, maybe not) with intelligence and Spanish horror flick like this plus Del Toro always has its own touch.”

About

Laura (Belen Rueda) kembali ke sebuah rumah kuno yang dulunya pernah ia tinggali sebagai panti asuhan saat ia masih kecil. Dengan keinginan membuat sebuah panti asuhan kecil, Laura bersama suami (Fernando Cayo) dan anak angkatnya mulai menetap di rumah ini. Misterius, anak angkat Laura, Simon (Roger Princep), mulai berbicara dan bermain dengan teman imajinasinya yang ternyata bukan sekedar fantasi anak-anak semata. Petualangan mulai dimulai ketika Simon menghilang secara tiba-tiba dan memaksa Laura untuk menggali misteri di balik rumah bekas panti asuhan ini untuk kembali bertemu dengan anaknya.

Tidak dipungkiri, nama besar Guillermo Del Toro yang saat itu (berhasil membawa Pan’s Labyrinth ke kancah Oscars) memang sedang dalam puncak ketenaran membawa film ini menjadi sangat menggoda untuk di tonton, walaupun ia hanya berperan sebagai executive producer.

This movie describes “mother’s love is forever”.

Jika penonton mengharapkan sesuatu yang sadis berdarah-darah maka tidak akan banyak ada di film ini. Film ini lebih menyajikan sisi dramatis dari sebuah cerita yang sesungguhnya akan sangat memuaskan bagi para penggila drama. Ceritanya lebih dapat diterima dengan akal sehat (tentu, saja dengan ukuran akal sehat melihat film horror) dan tiga puluh menit terakhir ketika semua dikuak akan sangat memuaskan bagi para penonton.

Dengan cerita yang sebenarnya telah sangat klasik berupa rumah kuno, teman imajiner, anak menghilang, tentu saja penonton sebenarnya telah tahu akan dibawa kemana cerita horor ini. Bisa dikatakan, segi cerita untuk genre ini benar-benar “subtle” dan tidak terasa dipaksakan. Ditambah, penampilan dari Belen Rueda yang cukup menjanjikan membawa film ini ke sebuah perjalanan ibu untuk menemukan kembali anaknya, yang disertai dengan pengorbanan, juga ketakutan dan frustasi.

Film yang tidak jualan muka setan ini benar-benar klimax ketika Laura harus kembali bermain permainan semacam petak umpet untuk mengundang penunggu rumah angker ini, hanya untuk mendapatkan sedikit clue dimanakah Simon berada. 1…2…3…Knock on the wall.

Trivia

Dipremierkan di Cannes Film Festival dan mendapatkan standing ovation selama 10 menit. (Though, in my thought, it is a good movie, but this trivia makes it a little bit too overrated.)

Quote

Aurora :  Seeing is not believing,  it’s the other way round. Believe and you will see.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

The Impossible (2012)

Cast : Naomi WattsEwan McGregorTom Holland

“I call it a natural script makes this movie (especially the tsunami wave itself) looks real-er.”

About

Masih diolah oleh sutradara yang sama, dengan penulis  yang sama juga menceritakan salah satu bencana terbesar di tahun 2000an. Masih ingatkah dengan gempa bumi yang melanda Aceh kemudian dilanjutkan dengan sebuah terjangan tsunami di pagi hari tanggal 26 Desember, tepat satu hari setelah Natal ? Bencana ini menewaskan ribuan jiwa dengan beberapa negara tetangga Indonesia juga mendapatkan dampaknya. Salah satunya adalah Thailand, dikisahkan seorang sebuah keluarga sedang menikmati liburan di saat dan waktu yang salah. Diangkat dari kisah nyata Maria Belon, wanita berkebangsaan Spanyol yang mengajak suami dan ketiga anaknya untuk berjuang melawan dahsyatnya gelombang tsunami.

Film Spanyol namun berbahasa Inggris ini kembali menyatukan Naomi Watts dan Ewan McGregor yang sebelumnya telah bermain bersama dalam film Stay. Watts sendiri berhasil menyabet nominasi Oscars dan Golden Globe untuk perannya sebagai seorang Ibu yang ‘nyaris’ kehilangan kakinya dan beberapa anggota keluarganya.

The script is not special, but natural, though at some parts, there are “real” dramas.

Film yang cukup simple sebenarnya mengambil keseluruhan cerita untuk film yang berdurasi kurang lebih 100 menit ini. Sebuah keluarga dihantam tsunami kemudian terpisah satu sama lain dan mencoba untuk menemukan satu sama lain di tengah kondisi bencana yang sebenarnya terlihat menutup kemungkinan untuk mereka kembali bersama, oleh karena itu judulnya adalah The Impossible. Terlihat membosankan untuk plot selama 100 menit ? Mungkin. Namun dengan penampilan para aktornya, penonton lebih mudah untuk melewati film ini.

Dengan script yang sederhana, membuat film disaster ini terasa natural dan mudah dicerna oleh penontonnya. Sisi positif lainnya adalah penonton bisa berkonsentrasi untuk merasa terharu di beberapa bagian menyaksikan pengorbanan anggota keluarga satu untuk anggota keluarga lainnya. Chemistry Ibu dan anakpun berhasil dibangun dengan baik antara Naomi Watts dan Tom Holland yang memerankan sebagai anak tertua, Lucas.

Scene terbaik tentu saja ketika tsunami mulai menyerang (jika dilihat ternyata detilnya luar biasa) dan adegan survive antara Ibu dan anak, Watts dan Holland plus beberapa adegan tearjerker yang sukses mengharukan.

Trivia

Naomi Watts, Ewan Mcgregor dan cast lainnya bertemu dengan keluarga Maria Belon di Toronto Film Festival.

Quote

Henry : When I came up, I was on my own. That was the scariest part. And when I saw the two of you climbing to the tree, I didn’t feel so scared anymore. I knew I wasn’t on my own.

Biography : Stephen King, The King of Horror/Thriller Novels Which Is Adapted Into Movies

“An inspirational of horror/thriller/suspense movies which is always brave to make an ordinary stories to be an extraordinary ones.”

Siapa yang tidak mengenal seorang Stephen King ? Raja novel horror dan thriller yang karyanya telah diangkat ke layar lebar, serial tv ataupun film pendek. Penulis buku yang telah berusia sekitar 65 tahun dikenal dengan penulis yang sangat produktif. Terbukti dengan lebih dari 50 novel buku yang telah diterbitkan dan lebih dari 350 buku telah terjual. Apa yang menarik dari Stephen King ? Dengan produktivitasnya yang tinggi, ia mampu menjaga setiap karya yang ia ciptakan sehingga banyak orang ingin mengadaptasinya ke bentuk visual.

Beberapa karakter fenomenal, klasik dan diingat sepanjang masa telah ia ciptakan. Siapa yang tidak mengenal gadis berkemampuan telekinesis yang membakar hidup-hidup teman-temannya di sebuah prom night ? Atau siapa yang tidak mengenal karakter Jack Nicholson yang berubah menjadi penulis gila karena tinggal di sebuah hotel berhantu di musim dingin ? Atau siapakah awal yang mengantarkan Kathy Bates sebagai penyabet Oscar untuk pertama kali untuk sebuah peran di sebuah film horror/thriller ? Dan siapakah yang tidak melongo melihat sebuah ending yang tidak disangka-sangka seperti dalam film The Mist ?

Tidak disangka, penulis yang lahir pada 21 September 1947 di Maine ini telah malah melintang di empat decade, bahkan lebih.

Dan inilah beberapa film dalam empat decade terakhir yang diilhami dari novel sang jenius, Stephen King:

CARRIE (1976)

Carrie adalah film pertama yang diadaptasi ke layar lebar diambil dri novel pertama Stephen King. Carrie sendiri mempunyai cerita yang sangat unik, seorang gadis bernama Carrie selalu dibully oleh teman-temannya di sekolah. Penderitaannya tidak sampai situ, ibunya yang merupakan seorang penganut agama yang sedikit ‘freak’ kadang malah membuat keadaan Carrie semakin memburuk. Di tengah bully dari teman dan ibunya, Carrie mendapatkan dirinya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain. Sebuah kekuatan dimana ia bisa menggerakkan benda jika ia mau berkonsentrasi atau yang lebih dikenal dengan telekinesis. Sepertinya Carrie mendapatkan kesempatan yang ‘tepat’ untuk menggunakan kekuatannya ini ketika sekolahnya menyelenggarakan sebuah prom night, di sinilah sepertinya bukan waktu yang tepat untuk teman-temannya membully Carrie, you pick up the wrong girl.

Carrie disutradari oleh Brian DePalma, dimainkan oleh Sissy Spacek dan Piper Laurie. Untuk peran sebagai ibu dan anak ini, keduannya sama-sama mendapatkan nominasi Oscar untuk leading role dan supporting leading role. Film masih mempunyai penggemar cukup banyak ini berhasil menciptakan sebuah scene yang memorable sekaligus klasik. Sebuah scene berdarah dari sebuah pesta prom yang benar-benar menyeramkan. Film yang turut dibintangi oleh John Travolta ini benar-benar layak ditonton karena memberikan sebuah cerita yang berani, suasana yang benar-benar thrilling terutama di 20 menit terakhir, menghanyutkan nan heartbreaking dipadu dengan dua aktris yang benar-benar menopang film ini. Inilah horror tentang prom night anak SMA yang tidak hanya bunuh sana, bunuh sini, jerit sana, histeris sini namun benar-benar ada kualitas cerita yang ingin disampaikan.

The best moment : Ketika Carrie terkena tumpahan darah babi segar di malam prom yang membuat segalanya menjadi fatal. Spacek’s eyes is the winning thing.

THE SHINING (1980)

The Shinning bercerita tentang seorang penulis, diperankan Jack Nicholson, yang menjaga sebuah hotel berhantu di musim dingin beserta istri dan  anak laki-lakinya. Film ini banyak digadang sebagai film terseram sepanjang masa bersanding dengan The Exorcist, Rosemary’s Baby dan sebagainya. Kenyatannya memang film ini benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Walaupun Stephen King sendiri kurang menyukai adaptasi ini karena banyaknya cerita yang tidak sesuai novel, film ini masih menyuguhkan beberapa perubahan cerita yang justru membuat film ini tidak kalah brillian dengan cerita di novel sumbernya.

Film dengan durasi cukup panjang ini, yaitu lebih dari 2 jam, memang terkesan overlong ditambah dengan beberapa scene yang sebenarnya tidak diperlukan. Pantas saja, beberapa waktu lalu, film ini dianggap sebagai film yang membakar paling banyak kalori sebagai tontonan film horror.

Film yang menyuguhkan sisi psikologis seorang penulis yang sepertinya mengalami writer block dan kegilaan karena tempat sepi dan tidak ada interaksi dengan orang lain ini, benar-benar membuat karakter Jack sebagai karakter gila yang membuat penonton benar-benar merasa anti simpati. Tentu saja perubahan psikologis ini didukung dengan kualitas akting Jack Nicholson yang lebih dari mumpuni. Ditambah dengan Shelley Duvall yang benar-benar histeris dan membuat penonton kasihan.

Ending film ini merupakan salah satu bagian yang diubah dari novel sumbernya, namun ending ini berhasil memorable dan salah satu ending paling jenius dari sebuah film horror.

The best moment : Ketika Danny bersepeda mengelilingi ruangan-ruangan hotel dan ia menjumpai hantu dua anak kecil kembar + tentu saja endingnya.

MISERY (1990)

Sebuah cerita yang sebenarnya namun berhasil diibaratkan sebagai sebuah dinamit yang siap meledak oleh Stephen King. Misery bercerita tentang seorang penulis, Paul, diperankan oleh James Caan, yang mengalami sebuah kecelakaan. ‘Beruntung’nya ia ketika seorang fans berat akan karyanya datang sebagai ‘malaikat’ untuk menolongnya. Bukan cerita romance yang di dapat, melainkan sebuah cerita thriller suspense yang membuat decak kagum penonton. Film ini nyaris tanpa cipratan darah atau gore yang berlebihan, bahkan beberapa scene-nya pun diubah dari novel awal agar film tidak terlalu intens dan menakutkan untuk sebagian penonton.

Bisa dikatakan film ini berhutang banyak oleh dua actor leading rolenya. Kathy Bates, memerankan Annie Wilkes, seorang mantan perawat yang sangat ‘perawat’ di awal scene film. Namun berubah dengan perlahan-lahan menjadi wanita temperamen, manipulative, dan bermasa lalu kelam. Untuk perannya ini, Kathy Bates mendapatkan piala Oscar sebagai wanita pertama yang menyabet piala Oscars untuk peran dalam sebuah film thriller. Bagaimana dengan James Caan, perannya hanya berbaring di tempat tidur dan menulis, namun raut frustasi nan putus asa jelas terpancar dari karakter ini. Karakter Paul ini benar-benar memberikan gambaran “Oh that a REAL pain is supposed to be”.

If you wanna know a crazy woman with a real character touch, WATCH THIS !

Misery masuk dalam daftar film adaptasi favorit dari sang penulis bahkan Stephen King menulis sebuah karakter dalam sebuah cerita dengan Kathy Bates sebagai inspirasinya.

Best moment : Ketika Annie memainkan palunya dan berkata “Oh God, I love you.”

THE MIST (2007)

Salah satu film horror/thriller yang paling terunderrated. Ceritanya memang terlihat familiar, namun bagaimana seorang Stephen King ingin menggali dari sebuah cerita familiar ini harus diancungi jempol. Siapakah yang belum pernah melihat film dengan cerita sekelompok orang harus berjuang hidup melawan makhluk-makhluk aneh yang menyerang mereka ? Pasti semuannya pernah melihat, entah makhluk itu adalah laba-laba, ular atau sebangsanya. Namun, film ini tidak hanya sebatas itu, kabut yang menjadi judulnya merupakan sebuah komponen yang berharga mendukung plot dalam film ini. Film ini berkisah tentang beberapa orang (sebenarnya banyak) terjebak dalam sebuah supermarket ketika tiba-tiba kota mereka dirundung dengan kabut aneh. Disinilah sisi bagaimana orang-orang harus menghadapi sebuah situasi benar-benar tertangkap kamera. Bagaimana seorang ayah ingin menyelamatkan anaknya untuk bertemu ibunya ? Bagaimanakah seorang penganut agama ekstrem dapat tiba-tiba mempengaruhi orang-orang di sekitarnya ? Semuanya dieksplor dengan baik dalam film.

Film yang disutradari Frank Darabont ini menyajikan sebuah ending yang paling nyesek. Entah apakah ending ini sama dengan novelnya, namun inilah salah satu ending yang paling berani.

Salah satu sisi negative dari film ini adalah efek CGI yang tidak terlalu sempurna namun sekali lagi itu bukanlah poinnya, dan sekali lagi Stephen King benar-benar mengangkat cerita yang biasa menjadi luar biasa.

Best moment : Ending film ketika semua orang berada di mobil dan memutuskan untuk mengambil keputusan yang WAH.

NEXT PROJECTS

–          Remake Carrie, dibintangi oleh Chloe Grace Moretz, Julianne Moore dan disutradarai Kimberly Peirce. I hope it’s gonna be good. At least, it has to be good.

–          Cell, dibintangi oleh John Cussack

–          Badut legendaris (tahun ini muncul di The Cabin In The Woods) kembali lagi dalam It.

So, Stephen King, we are waiting for another decade !!!!

Trick ‘r Treat (2007) : Four Halloween’s Interwoven Stories

Sutradara : Michael Dougherty

Penulis : Michael Dougherty

Pemain : Anna Paquin, Brian Cox, Leslie Bibb, Dylan Baker

“Halloween stories with fun (though it’s supposed to be scary too) and most of stories totally work to be enjoyable as good Halloween flick”

About

Trick ‘r Treat adalah film berkisah tentang satu malam Halloween yang terdiri dari 4 alur cerita dan saling berhubungan. Film ini diangkat dari sebuah film pendek yang berjudul Season’s Greeting dan dirilis pada Oktober 2007, bertepatan dengan bulan Halloween. Turut diproduseri oleh sutradara Bryan Singer dan disutradarai penulis Superman Returns, Michael Dougherty.

Diawali dengan scene pembuka yang menampilkan  Emma (Leslie Bibb) dan suaminya setelah pulang dari parade Halloween. Ketidaksenangan Emma terhadap Halloween dengan mematikan Jack O’ Lantern sebelum malam Halloween berakhir membawanya dalam petaka besar. Scene ini benar-benar menjadi pembuka yang menarik perhatian penonton dari awal.

The Principal

Dilanjutkan dengan cerita seorang kepala sekolah pembunuh (Dylan Baker) yang meracuni anak-anak yang datang dengan permennya. Dari semua cerita, cerita inilah yang paling lucu, sang kepala sekolah berusaha menguburkan mayat-mayat  anak-anak di belakang rumahnya namun ada saja hambatannya, termasuk oleh anaknya sendiri. Ada sedikit twist di belakang cerita yang cukup ‘hmmmm’.

The School Bus Massacre Revisited

Kemudian, ada empat anak-anak kurang kerjaan yang mengunjungi sebuah situs kecelakaan bis 30 tahun lalu, cerita ini yang paling lemah dan paling ketebak twist-nya. Namun begitu, cerita ini masih membawa nuansa lucu.

Surprise Party

Bagian ini mendapat sorotan paling besar. Yup, Anna Paquin alasannya, salah satu peraih Oscar termuda, berperan sebagai gadis 22 tahun yang berusaha mendapatkan ‘first time’nya di sebuah pesta. Walaupun (masih)  kurang memicu adrenalin, twist di belakang cerita ini adalah twist yang paling tidak bisa ditebak dari seluruh film.

Sam

Berkisah tentang seorang anak kecil dengan muka yang ditutupi dengan karung goni bernama Sam. Karakter Sam ini muncul di semua cerita dan menjadi penyambung antar cerita. Sam, si anak misterius, meminta ‘something to eat’ pada laki-laki tua (Brian Cox) di rumahnya yang menyeramkan. Cerita di bagian ini bisa dibilang segmen yang paling serius dan sedikit intens ala film-film thriller kebanyakan, seseorang dikejar oleh sesuatu di dalam rumahnya sendirian. Namun, twist di belakang film bisa dikatakan yang paling konyol diantara semua cerita.

Mungkin jika disajikan secara terpisah layaknya antologi-antologi lain, film ini akan terasa biasa. Interwoven stories yang menghubungkan satu cerita dengan cerita lain itulah yang turut membuat film ini special.

Trivia

  • Banyak Jack O Lantern yang digunakan di film ini namun kebanyakan bukan terbuat dari labu asli melainkan dari foam dan keramik.
  • Kostum yang dipakai Anna Paquin berupa kostum Red Riding Hood merupakan salah satu clue dari twist-nya.

Quote

Steven : Happy Halloween!
Mr. Kreeg : Screw you!