2009

Exam (2009), Ambitiously Manipulative Too Structured Psychological Thriller, Better if It’s a Loose Tie

Director : Stuart Hazeldine 

Writer : Stuart HazeldineSimon Garrity 

Cast : Adar BeckGemma ChanNathalie CoxJohn Lloyd FillinghamChukwudi IwujiPollyanna McIntoshLuke MablyJimi MistryColin Salmon 

Any questions? – The Invigilator

(REVIEW) Film yang bersetting di satu tempat, satu waktu ini sudah terlihat sangat ambisius dari awal film, salah satunya dengan scoring yang begitu intens-nya. Tidak ingin bertele-tele, film ini langsung memberikan candidate profile yang terdiri dari delapan pelamar yang mencoba memperebutkan satu posisi di sebuah perusahaan yang masih misterius. Empat pria, dan empat wanita ini dipertunjukkan gelagat yang berbeda ketika mereka menghadapi pre-recruitment, dan dikumpulkan pada sebuah ruangan (layaknya bunker) dengan seorang penjaga dan seorang invigilator. Invigilator menjelaskan dengan singkat, dan detail, sebuah instruksi yang akan menentukan nasib ke delapan kandidat, setelah dibahas pula bahwa delapan kandidat ini telah melalui proses yang sangat panjang. Sebuah penjelasan yang masuk akal, untuk menjelaskan mengapa semua kandidat ini begitu ambisius ke delapan puluh menit ke depan, yep ! Too much opportunity cost.

Delapan puluh menit, delapan kandidat harus menyelesaikan sebuah misteri menjawab sebuah pertanyaan yang belum jelas, dibekali sebuah kertas kosong yang harus mereka jaga, atau mereka akan didiskualifikasi dari proses ini. Mereka juga tidak boleh berkomunikasi dengan penjaga, atau invigilator (yang sepertinya berada di balik kamera), serta tidak boleh meninggalkan ruangan dengan alasan apapun. Bisakah mereka menyelesaikan proses clueless, uncertainty recruitment ?

Exam tidak ubahnya sebuah study kasus yang mencoba menggodok perilaku individu, dengan berbagai twist, dengan sisi suspense yang kental, dan film ini ternyata cukup berhasil. Ketika detik jam digital dimulai, ke delapan kandidat ini langsung menandaskan sebuah karakterisasi yang kuat, lewat langsung pemberian nama stereotyping berdasarkan ciri fisik mereka, seperti White (Luke Mably, cocky, racist, bastard), Brown (Jimy Mistry, gambler, is he an Indian or Arabian American ?), Blonde (Nathalie Cox, blonde beautiful), Dark (Adar Beck, intelligent, psychologist), Brunette (Polyanna McIntosh, uhm, mediocre), Deaf (John, Fillngham, silent, French), and Chinese Girl (Gemma Chan, she deserves to be kicked out first). Dengan casting yang sepertinya tidak terlalu dikenal, menjadikan film ini bisa dikatakan sebagai bola liar yang bisa memakan korban siapa saja, tanpa ada satu karakter yang mendominasi untuk dipertahankan. And that’s good for this kind of elimination thingy.

Seperti yang telah diutarakan, bahwa ke delapan orang ini telah melalui recruitment yang sangat berat, mereka telah terpilih, sehingga ketika mereka bekerja sama, yeah, ada satu karakter yang mempertemukan mereka, karakter itu adalah smart, witty, intelligent dalam upaya menyelesaikan masalah. All possibility is taken. Sisi sedikit negatifnya adalah, mereka seakan-akan memakan bulat-bulat setiap kemungkinan clue yang ada. Hampir setiap usaha yang mereka lakukan begitu terkesan pintar, purpose-full, di sisi lainnya, membuat film ini begitu terkesan manipulatif untuk menggiring satu kejadian ke kejadian yang lainnya. I mean it as this movie is too structured.

Ketika sebuah pertanyaan menjadi sebuah pertanyaan terbesar, film yang diawali dengan sangat powerful di awal film ini sedikit kehilangan arah di paruh tengahnya, terutama ketika penonton mulai diperkenalkan dengan profil perusahaan yang begitu asing, ditambah dengan profil penyakit yang tidak familiar, karena memang film ini bersetting di sebuah alternate history. Tanpa clue apa-apa, yeah, film ini sedikit menjadi clueless di tengah. Semakin dibuat frustasi kandidat, semakin naik tensi film dengan beberapa adegan-adegan yang mulai kicking masih disertai dengan interaksi antar karakter yang semakin menuju mereveal satu karakter ke karakter yang lainnya. Untuk proses interaksi antar karakter ini, bagaimana karakter beraksi terhadap sebuah kejadian memang sepertinya masih terlalu middlecook, tidak terlalu menonjol, walaupun terus-terusan disertai dengan dialog intelek. Kelebihannya, tanda tanya dalam film ini selalu membacking-nya. Kekurangannya, seperti sebuah sisi yang sangat bertolak belakang ketika hampir dalam waktu yang bersamaan, setiap karakter yang tidak diragukan lagi kepintarannya, melakukan sebuah eksekusi akhir terhadap diri mereka sendiri yang cenderung bodoh dan tolol. Mungkin inilah yang membuat karakter-karakter ini terlihat tidak seimbang, yang juga menyebabkan setiap interaksi yang dibangun tidak hanya manipulatif namun juga palsu belaka.

SPOILER MAYBE

Ketika satu persatu kandidat mulai digiring untuk keluar, dengan banyak twist pula di prosesnya, ending film ini terasa terlalu “dipaksakan” terutama dari sisi alternate history yang melibatkan penyakit dan invention. Untuk sebuah film yang selalu mengedepankan sebuah alasan yang rasional, ending film ini masih tergolong mengecewakan, terlepas dari twist utama yang berupa satu pertanyaan yang berhasil membodohi penonton. Twist tentang sebuah invention peluru ini menunjukkan bahwa film ini kurang mau mengambil resiko terhadap sebuah efek yang ditimbulkan film, walaupun sepertinya twist yang satu ini dihadirkan memang untuk melaraskan tujuan perusahaan melakukan recruitment. But, I think the ending has possibility to be a lot better than this.

In the end, I still like it (B-)

Advertisements

The Time Traveler’s Wife (2009) : Uncontrolled Strange Gene Brings Librarian’s Marriage Complication

Director : Robert Schwentke

Writer :  Bruce Joel Rubin

Cast : Eric BanaRachel McAdamsRon Livingston

About

Time travel, yep, ada dua film yang akan rilis (salah satunya sudah rilis) yaitu para burung yang kembali ke masa lalu untuk mencegah Thankgiving lewat Free Bird, dan film besutan Richard Curtis, About Time. But, I won’t review those (I have no chance to see it). Berbicara tentang About Time, salah satu daya tarik dari film ini adalah kehadiran Rachel McAdams, yang sepertinya sudah menjelma menjadi ratu romantic comedy. Lihat saja filmographynya yang sudah lengkap dengan adapatasi Nicholas Sparks, Woody Allen, sekarang Richard Curtis, dan next projectnya bersama Cameron Crowe.

Sebelum About Time, Rachel McAdams juga pernah bermain dalam sebuah film berjudul Time Traveler’s Wife yang diangkat dari acclaimed novel dengan mengambil perspektif berbeda tentang konsep fantasi ini.

Time Traveler’s Wife bercerita tentang seorang librarian, Henry (Eric Bana) yang mengalami kelainan genetik yang membuatnya dapat melakukan time travelling sewaktu-waktu, kembali ataupun mendatangi masa depan. Ketika kemampuan ini tidak dapat ia kendalikan, ia bisa muncul dan menghilang dimana saja, kapan saja. Hingga akhirnya ia menjumpai seorang gadis, Clare (Rachel McAdams) yang tahu dan mau menerima dirinya apa adanya. Kemampuan ini menjadi berkah sekaligus kutukan untuk pernikahan mereka berdua, mulai dari Clare yang terus keguguran (karena diduga bayinya juga bisa melakukan time travelling) sampai ketika mereka tahu bahwa di satu titik mereka harus berpisah di masa depan.

“Wing-less, yet magical romantic story.”

Untuk sebuah konsep time travel, konsep perjalanan waktu di film ini seakan-akan sudah dibatasi dari awal, membuat konsep time travel sendiri tidak banyak berkembang, wingless. Time travel disini hanyalah fenomena loncatan Henry dari waktu ke waktu secara acak, TANPA ia dapat merubah sesuatu di masa lalu atau masa depan. Jadi, jika banyak film time travel, yang lebih thought provoking, membuat kita berpikir, di film ini tidak akan dijumpai hal yang seperti itu. Namun, salah satu kunci untuk dapat menikmati film ini adalah biarkan emosi itu mengalir, biarkan sepasang kekasih ini berinteraksi, tanpa penonton harus berpikir keras tentang kelogisan cerita, paradoks, atau bla bla bla, karena memang film ini tidak akan men-challenge penonton untuk berpikir demikian (selain “konsep time travel” juga masih berlabelkan fantasy yang belum bisa dijelaskan dengan akal sehat.)

Walaupun Henry melakukan beberapa kali (atau mungkin malah sepanjang film) mengalami loncatan waktu, yang dikhawatirkan banyak plot hole atau pacing berantakan, The Time Traveler’s Wife cukup disusun dengan rapi dan tidak complicated. Menjadikan timeline Clare sebagai timeline utama, yang mengalir sepanjang film, dan menjadikan loncatan waktu yang dialami oleh Henry sebagai selingan.

Berbicara tentang romantic, memang Rachel McAdams sepertinya memang berbakat untuk membintangi film jenis ini. Chemistry yang dilakukan Adams selalu kuat, tidak peduli siapa tokoh lawan mainnya, lihat saja seperti pasangannya dengan Gosling ataupun Tatum yang bisa dikatakan berhasil. Dan, kali ini Eric Bana. Mengingat, film ini bisa dikatakan film yang jujur akan dibawa kemana film ini pada akhirnya, dan tidak melakukan perubahan, film ini benar-benar mengandalkan naik turunya hubungan pasangan ini sebagai sajian utama dalam film. Dan, Bana serta Adams sepertinya lebih dari cukup untuk menyajikan moment-moment romantis (terkadang menyedihkan) yang membuat penonton tetap bertahan di tempat duduknya.

Kembali seperti di awal, film ini menghadirkan perspektif baru dalam mengangkat tema science fiction namun tidak ingin membawa hal-hal yang bersifat rumit. Film ini memberikan pendekatan emosional seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya yang terkadang menghilang begitu saja, dan kemudian muncul lagi. Pendekatan ini memang terkesan sangat melankolis, namun dalam saat yang bersamaan sang sutradara dan novel materialnya juga membawa suasana magical. Scene-scene seperti di meadow dimana Henry menemui Clare kecil, ataupun Clare remaja bisa menjadi scene favorit, atau saat Henry bertemu putrinya. Scene-scene di meadow ini mungkin akan mengingatkan kita pada film Benjamin Button, dimana sepasang kekasih bertemu atau berinteraksi pada usia yang berbeda, namun tidak kehilangan sisi romantisnya.

Yah, sisi negatifnya, jika tetap memaksa, adalah banyaknya pertanyaan yang tidak terjawab, beberapa part cerita yang terkesan plain tanpa perkembangan, soapy, sappy, whatever you call it. But I like it.

Trivia

Ketiga kalinya Rachel McAdams berperan dalam film time travel dan kedua kalinya Rachel McAdams berperan dalam film, dimana scene pembukanya berhubungan dengan kecelakaan. Film yang hampir sama adalah The Vow.

Quote

Clare Abshire : The last time that I saw you, I was 18. Seems that you go back to the same places a lot.

Henry DeTamble : Yeah, it’s like gravity. Big events pull you in.

The Road (2009) : Post Apocalyptic World, Father-Son Bonding Journey, and Hopes

Director : John Hillcoat

Writer : Cormac McCharthy, Joe Penhall

Cast : Viggo Mortensen, Kodi Smit-McPhee, Charlize Theron

About

Film dengan bau post-apocalyptic, atau dystopian, hal yang serupa memang layak dan selalu menarik perhatian untuk disimak. Cerita yang biasanya menyangkut kehidupan masa depan namun dengan penggambaran yang menyeramkan dan menyedihkan. Biasanya juga, film berbau dystopian ataupun post apocalyptic mempunyai sisi premis yang menarik sebut saja bagaimana Alfonso Cuaron (masih hype dengan Gravity) membuat dunia mendekati kepunahan lewat kemandulan di seluruh dunia lewat Children of Men, atau bagaimana kehidupan di masa depan digambarkan menyeramkan lewat tradisi The Hunger Games.

Yep memang sedikit berbeda walaupun agak serupa antara post apocalyptic dengan sisi dystopian. Tema ini juga sering diangkat ke dalam buku, contohnya buku Kazuo Ishiguro yang memberikan gambaran masa depan dan ketidakadilan lewat sistem cloning organ di Never Let Me Go. The Road adalah film serupa yang menceritakan dunia yang mendekati akhirnya.

Mempunyai anak adalah sebuah berkah, namun mungkin akan berpikir lagi ketika seorang istri (Charlize Theron) melahirkan seorang anak laki-laki (Kodi Smit-McPhee) di tengah kondisi dunia yang kacau. Dalam seketika, dunia dibuat mati tanpa sebab yang jelas. Tanaman dan hewan serta tatanan masyarakat dibuat hancur dan menciptakan dunia yang mendekati punah. The Road adalah perjalanan ayah (Viggo Mortensen) dan anak yang mencari harapan di tengah bahayanya post-apocalyptic yang tengah melanda. Tidak hanya harus berjuang melawan ganasnya alam, mereka juga harus berjuang melawan manusia lain yang sudah kehilangan moral, yep sebagian manusia berubah menjadi cannibal.

Disutradarai oleh sutradara The Proposition dan Lawless, John Hillcoat, dan diangkat dari buku pemenang Pulitzer Price for Fiction karya Cormac McCharthy, yang juga menulis No Country for Old Men.

It’s so haunting in the early, but it diminishes after there’s no solid hope to be offered.

Apa yang membuat penonton tetap tertarik untuk melihat dua orang berjuang di kondisi super bahaya dengan durasi sekitar 2 jam ? Yep, it’s hope. Hope dalam cerita memang penting mengingat penonton dari awal telah dibuat untuk peduli dengan nasib para karakternya.The Road diawali dengan naratif yang menarik dan kuat (sisi narasi ini sangat menarik dan mudah untuk dicerna tanpa terlihat terlalu poetic ataupun terlalu generic) , serta beberapa action yang menegangkan. Dengan visual yang dibuat tidak terlalu berwarna, yaitu warna abu-abu mendominasi layar, sepertinya tone untuk tema apocalyptic sudah bisa didapat dan dirasakan. Salah satu sisi cerita yang sangat menarik adalah bagaimana interaksi sesama manusia ketika mereka tidak ada lagi makanan, tumbuhan, atau hewan untuk dimakan, yep mereka saling memburu dan juga memakan satu sama lain menjadi sisi kengerian tersendiri dibandingkan ekstremnya kondisi alam. Beberapa scene menegangkan senantiasa ditawarkan, namun seiring berjalannya durasi adegan-adegan ini berubah menjadi monoton dan bland untuk dilihat. Adegan menegangkan hanya berupa aksi kejar-kejaran, bersembunyi dari ganasnya alam dan manusia. Namun jika diamati, beberapa scene menunjukkan beberapa arti yang lebih berarti daripada kelihatannya, terlihat bagaimana sisi manusia modern mulai rusak dan manusia seperti kembali ke zaman primitif dan mulai menghargai di apa yang dipunyai di masa lalu. Sisi menarik yang lain adalah bond atau ikatan yang berhasil ditunjukkan oleh dua karakter utama lewat sisi helpless dari Kodi Smit-McPhee dan juga sisi kuat dari Viggo. Disini Viggo Mortensen berjuang habis-habis untuk memberikan penampilan terbaiknya hanya dengan melalui interaksi karakter  dan sisi struggling untuk tetap bertahan hidup. Namun kembali ke awal, seiring berjalannya cerita, penonton tidak diberikan sepercik cahaya harapan (halah) untuk nasib kedua tokoh, mmalah ketika harapan itu pupus, cerita menjadi hilang arah dan ditutup dengan solusi yang sepertinya terlalu mudah untuk tema post apocalyptic.

The Road lebih menuju pada bagimana sisi kemanusiaan bisa menjadi hilang seiring dengan dunia yang berubah, yang kemudian dikontraskan lewat bond atau ikatan ayah dan anak yang sangat kuat, disertai dengan atmosfir yang cukup menggambarkan namun tidak terlalu atraktif secara visualnya.

Trivia

Mengalami penundaan dua kali pada tanggal releasenya.

Quote

The Man :  I told the boy when you dream about bad things happening, it means you’re still fighting and you’re still alive. It’s when you start to dream about good things that you should start to worry.

I Love You, Man (2009) : He Needed A Best Man, He Got The Worse

Director : John Hamburg

Writer : John Hamburg,  Larry Levin

Cast :  Paul RuddRashida Jones, Jason Segel

About

Gue sama sekali nggak tahu, kalo ini salah satu film dari kerajaan dari Judd Apatow atau bukan. Tapi ketika kita ngomong tentang Paul Rudd, Jason Segel, Rashida Jones, bermain dalam satu komedi, mau nggak mau gue keinget sama raja komedi yang satu itu.

I Love You, Man, bercerita tentang pegawai real estate Peter Klaven (Paul Rudd) yang baru saja melamar kekasihnya, Zooey (Rashida Jones). Seperti tradisi, baik calon mempelai laki-laki dan perempuan harus mencari bridesmaids dan best men mereka masing-masing. Tidak seperti Zooey yang memiliki banyak teman yang loyal, Peter Klaven kurang mempunyai banyak teman laki-laki untuk menjadi best men-nya. Berada di bawah tekanan, ia mulai melakukan banyak cara untuk mendapatkan seorang teman, hingga ia bertemu dengan seorang ahli investasi yang keren dan aneh, Sydney (Jason Segel). Mempunyai insta-bond, keduannya menjadi bersahabat karena memiliki banyak persamaan. Sydney yang mempunyai karakter anti komitmen, mulai membuat Peter banyak ragu tentang hubungannya dengan Zooey.

“Talking about jokes and comedy, you’re in the hands of best men of it.”

Film ini memang typical komedi Judd Apatow dengan banyak jokes segar yang dilontarkan secara high paced. Film yang ditopang dua leadingnya dengan sempurna, membuat komedi ini menjadi komedi yang segar. Basic dari dua pemain yang memang bisa melawak, membuat setiap jokes terkesan kadang “sedikit” berlebihan namun natural, dan seperti full improvisasi.

Walaupun ternyata bukan salah satu film dari Judd Apatow, film ini masih mempunyai persamaan, yaitu mengangkat hal yang biasa dan sehari-hari di dunia barat menjadi lebih komprehensif, dalam artian tidak hanya mengangkat komedi di dalamnya, namun sisi apa saja yang mempengaruhi sebuah relationship juga dipikirkan.

Bromance yang satu ini memang sedikit awkward jika diamati. Terlebih lagi hanya dengan membaca judul I Love You, Man, tanpa membaca premise terlebih dahulu, kesan pertama sebelum menonton film ini adalah film ini tentang gay, mungkin lebih mirip I Love You, Phillip Morris atau sebagainya, namun sebenarnya film ini tidak demikian, walaupun teritori-teritori tersebut juga masih dieksplor di film ini.

Salah satu nilai tambah dalam film ini adalah hadirnya berbagai cameo atau supporting actor/actress yang bisa diandalkan dan semakin menyemarakkan. Sebut saja kehadiran J.K Simmon, Aziz Ansari, Andy Samberg, Sarah Burns, dan pasangan Jaime Pressly serta Jon Favreau.

Trivia

Anak perempuan dari Presiden Mesir, Anwar Sadat mengajukan tuntutan atas salah satu scene pada film ini.

Quote

Oswald Klaven : Also, you got to understand, Zooey, Peter matured sexually at a very early age. I remember taking him swimming when he was twelve-years-old, kid had a bush like a forty-year-old Serbian.

Duplicity (2009) : Corporate Spies Couple and Their Trust Issue

Director : Tony Gilroy

Writer : Tony Gilroy

Cast : Julia Roberts,  Clive Owen,  Tom Wilkinson, Paul Giamatti

About

Mata-mata. Keduannya adalah pasangan yang serasi. Terkadang mereka akan berseteru. Mereka bekerja untuk dua pihak yang berlawanan. Yah pasti yang ada di pikiran pertama mungkin Mr. & Mrs. Smith dari pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt yang sangat ngehits di saat itu. Namun, masih ada lagi film dengan cerita yang hampir sama namun dimainkan oleh Julia Roberts dan Clive Owen.

Pasangan yang bermain apik dalam Closer ini, kembali di pasangan dalam drama mata-mata Duplicity. Duplicity bercerita tentang dua agen rahasia yakni Claire (Julia Roberts) dan Ray (Clive Owen) yang bekerja sama dengan cara bekerja di dua perusahaan yang saling bersaing. Ketika Howard Tully (Tom Wilkinson) diam-diam mengembangkan sebuah produk, rivalnya Richard Garsik (Paul Giamatti) mengutus Ray untuk menyelidikinya. Tentu saja, dengan bantuan Claire yang ternyata dengan sembunyi-sembunyi melakukan report terhadap Ray. Masalah menjadi complicated ketika ternyata mereka berdua adalah pasangan yang sebenarnya saling mencintai, hanya saja mempunyai trouble dengan trust issue yang datang dari historis hubungan mereka berdua. Dapatkah mereka memperoleh formula rahasia yang sedang dikembangkan oleh Howard Tully ?

Film ini disutradari yang juga sebagai penulis, Tony Gilroy, orang yang dikenal dengan trilogy Bourne yang hampir ketiganya mendapatkan respon yang sangat impressive, baik segi finansial maupun dari segi kritik.

“Hmm, it’s just under of my expectation.”

Melihat premis awalnya, ekspektasi awal adalah sebuah film dengan banyak intrik, banyak adegan lucu, juga dengan banyak action seperti halnya Mr & Mrs. Smith. Bayangan pertama adalah Julia Roberts beraksi dengan sangat apik seperti halnya Angelina Jolie, hmm, who’s not gonna be attracted ? Namun sepertinya, ada yang terlupa dari film ini, film ini bukanlah film action, film ini adalah film crime dengan balutan romantic dengan sedikit sentuhan thriller.

Dari awal film, kita disuguhi dengan opening credit yang merupakan salah satu opening credit yang paling membosankan yang pernah dilihat dengan memperlihatkan karakter Tom Wilkinson dan Paul Giamatti yang berkelahi namun dengan gerakan slow motion. Dan benar saja, hal tersebut harusnya menjadi sebuah pertanda bahwa film ini terlalu berfokus pada hubungan antara dua karakter tersebut. Ketika dua karakter supporting ini terus-terusan bertengkar, dua leading roles-nya mengalami underdeveloped yang membuat film ini sedikit kehilangan magnet untuk ditonton.

Dan jika kamu adalah fans Julia Roberts, mungkin kamu dapat bertoleransi, namun jika bukan, Julia Roberts tampil dengan sangat membosankan dan seperti kehilangan sinarnya sebagai bintang. Luckily, I am a Julia Roberts fan. Begitu pula, dengan penampilan Clive Owen yang kurang greget. Mungkin script yang seperti menuliskan bahwa didalam film ini mereka mempunyai sebuah trust issue, membuat mereka seperti kehilangan chemistry dan selalu gagal ketika mereka berusaha membangunnya.

Plotnya pun dibuat dengan sedikit-sedikit flashback dan seperti meninggalkan puzzle-puzzle untuk penonton rangkai sebenarnya ada hubungan apa sih antara karakter Julia Roberts dan Clive Owen ini. Keseluruhan film juga dipenuhi dengan twist-twist kecil namun benar-benar tidak berarti, hanya tik-tok chit chat antara leading role yang dibolak-balik namun tidak meninggalkan kesan witty di dalamnya.

Adegan ketika Julia Roberts mencari sebuah mesin fotokopi merupakan adegan thrilling yang ada di sepanjang film, namun dengan twist (lagi) di akhir film yang tidak bersifat “winning audience’s heart” sepertinya payoff untuk menonton film ini kurang lebih selama 2 jam menjadi semakin kecil, dan cenderung mengecewakan.

Trivia

Di opening weekendnya, film ini harus melawan Knowing dan I Love You Man, dan hanya mampu berada di posisi ketiga dibawah keduannya.

Quote

Claire :  If I told you I loved you, would it make any difference?

Ray : If you told me or if I believed you?

I Love You Phillip Morris (2009) : Mr. Liar Liar Does It All for His Gay Partner

Director : Glenn FicarraJohn Requa

Writers : Glenn FicarraJohn Requa, Steve McVicker

Cast : Jim CarreyEwan McGregorLeslie Mann

About

Film bertemakan agak sensitif seperti membahas tentang gay memang terbatas objek penontonnya, but I have to say, when you watch Transformer, doesn’t mean you’re a Megatron, and when you watch a movie about gay (not a gay movie) doesn’t mean you’re a fagg*t. Salah satunya adalah film ini, I Love You Phillip Morris bercerita tentang kisah hidup seorang Steven Russel yang mencoba membobol membebaskan diri dari penjara untuk menemui gay partner-nya, Phillip Morris. Semenjak masih kecil Steven (Jim Carrey) telah ditinggalkan ibunya sendiri dan diadopsi oleh keluarga lain. Ketika ia dewasa, ‘bahagia’ bersama istri (Leslie Mann) dan anaknya, dia mengambil sebuah keputusan besar yang mengubah hidupnya. Ia mengaku bahwa selama ini ia telah membohongi dirinya sendiri dan juga orang lain, dan memutuskan untuk men-declare-kan dirinya bahwa ia seratus persen seorang gay. Ketika ia menjalani kehidupan gay yang tidak mudah dan mewah, ia terpaksa menjalani fraud sana-sini hingga ia dijebloskan ke dalam penjara dan menjalin sebuah hubungan special dengan Phillip Morris (Ewan McGregor). Saat itulah, Steven akan melakukan apa saja demi bisa membahagiakan Phillip Moris, his love of his life.

“I Love You, Phillip Morris, is the most memorable movie about gay after Brokeback Mountain. Full of very surprising plot, and Jim Carrey is the game.”

I Love You, Phillip Morris mengambil sebuah tema yang membuat orang ‘normal’ menjadi tidak nyaman. Namun, justru semua itu berbalik menjadi senjata-senjata ampuh yang membuat film ini menjadi bahan ketawa yang sangat mujarab. Bagaimana tidak, scene-scene yang seharusnya menjadi romantis malah berubah menjadi sangat lucu ketika Jim Carrey dan Ewan McGregor yang menjalaninya. That’s unusual but so funny. Jadi, jika menghindari film ini hanya karena bertemakan “gay”, what a loss !!

Film ini mudah diikuti sedari awal karena mengambil narasi yang menghibur dengan plot yang cepat dan terkadang tidak mudah ditebak. Jika berbicara tentang comedy dan comical face, maka semua orang juga akan angkat tangan dengan kapabilitas Jim Carrey. Namun, pada film ini Jim Carrey mampu menggabungkan antara sisi komedi dengan sisi dramatis dengan amat pas. Dia berubah menjadi gay, kemudian berubah kembali layaknya seperti perannya sebagai pengacara di Liar Liar, bahkan tampil dengan meyakinkan sebagai penderita AIDS. Di sisi lain, Ewan McGregor menanggapi respon Jim Carrey dengan chemistry yang pas dan bisa tampil polos, naif dan sangat ‘sweetheart’.

Storyline-nya merupakan gabungan dari sisi drama yang sebenarnya dengan sangat serius dan sisi komedi yang dilengkapi dengan jokes segar di sepanjang film. Ibaratnya film ini dapat dikatakan sebagai versi komedi dari Brokeback Mountain namun tetap dikemas dengan fun dan full twists. You’re gonna be surprised and if you cry, you’re gonna regret those tears, Terlebih lagi, film ini ternyata merupakan sebuah kisah nyata (entah bagian percintaannya nyata atau tidak) yang membuat penonton berdecak kagum, hmmm, seriously, he can escape again ? He’s fucking genious.

Trivia

The real Steven Russel baru akan dibebaskan pada 12 Juli 2140. What a life !

Quote

Steven : … being gay is really expensive.

Whip It (2009) : Roller Derby Collaboration of Juno Typed Girl and E.T. Girl’s Directorial Debut

Director : Drew Barrymore

Writer : Shauna Cross

Cast : Ellen Page, Kristen Wiig, Marcia Gay Harden, Drew Barrymore.

About

Projek film dari seorang bintang film yang kita kenal dengan gadis kecil di E.T., juga berperan sebagai Alex di Charlie Angel, dan gadis yang kehilangan memori jangka pendeknya di 50 First Dates, yup, dia adalah Drew Barrymore. Spesialnya lagi dia tidak hanya menjadi pemeran pendukung disini, namun juga sutradara. Bayangkan ! Drew Barrymore sebagai sutradara ketika kebanyakan kualitas aktingnya hampir se-formulaic dengan kualitas akting Jennifer Aniston. Yup, everybody has doubt about this.

Film bergenre sport yang malah kebanyakan diperankan oleh para perempuan ini bercerita tentang Bliss Cavendar (Ellen Page), gadis berusia 17 tahun yang sedikit sedang mencari jati dirinya di sebuah kota kecil yang bergabung dalam sebuah kelompok roller derby, yang ternyata membuat hidupnya mempunyai arah. Simple story kemudian dibumbui dengan masalah dan kerumitan ala remaja, seperti tekanan ibunya (Marcia Gay Haden) yang menginginkannya menjadi feminim padahal ia tomboy, kehidupan percintaannya, kehidupan dengan sahabat dekatnya, dan tetek bengek dengan anggota roller derby yang lain (Kristen Wiig, Drew Barrymore, Juliette Lewis, Eve, etc.). Di tengah kekonyolan pelatih mereka, Razor (Andrew Wilson), kehadiran Bliss membuat tim roller derby ini mulai merangkak naik dari predikat “We’re Number Two of Two” team.

Film yang dipremierekan di Festival Film Internasional Toronto di tahun 2009 yang juga diangkat dari sebuah novel Derby Girl karya Shauna Cross ini, kurang mendapatkan respon komersial yang baik di pasar walaupun jika dilihat dari budgetnya, film ini juga tidak merugi.

Bagaimanakah directorial debut sang mantan poison ivy ini, this is it the review !

“I gotta say, it’s a surprise, Drew Barrymore is underestimated but she can prove herself by making a pretty decent movie.”

Full of energy, begitulah memang film bergenre sport harus dieksekusi. Film ini mengalirkan sebuah energi positif lewat sebuah pertandingan roller derby yang seru dan menarik. Juga, film ini mempertunjukkan beberapa aksi Ellen Page dan kawan-kawan bermain sepatu roda yang membuat kita semakin yakin bahwa memang artis-artis benar-benar lihai memainkannya.

Ellen Page sebagai seorang leading role, tentu tidak akan kesulitan memerankan karakter seperti ini, tomboy, remaja, mempunyai orang tua yang keren, mempunyai sahabat baik yang juga keren, sedikit banyak mengingatkan kita dengan peran yang membuatnya mulai dilirik dalam film besutan Jason Reitman, Juno. Dengan kapasitas mereka yang kebanyakan memerankan tokoh komedi, Kristeen Wiig dan tim juga cukup emmbuat film ini semarak dan lucu. Satu penampilan yang menarik perhatian datang dari Marcia Gay Haden sebagai seorang ibu yang menginginkan terbaik untuk anaknya.

Memang sangat formulaic, namun dengan sedikit “totalitas” mereka dalam ber-roller derby, film ini lebih enak untuk ditonton, dan humor dan storyline yang tidak depressing membuat film ini “yes formulaic” but also “pleasing and entertaining”.

Scene-scene roller derby  membuat film ini full energy dan satu lagi scene romantis yang akhirnya muncul dan meng-grab perhatian adalah scene di sebuah kolam renang yang memperlihatkan karakter Bliss dan pacarnya yang super romantis. It’s rare.

It is well made for a Barrymore’s directorial career debut.

Trivia

Ellen Page drop outdari projek horor Sam Raimi, Drag Me to Hell untuk mengerjakan film ini.

Quote

Bliss Father : I can take losing the money. I cannot take loosing the chance for our kid to be happy.