2011

The Iron Lady (2011) is Disconsolate Biography with Boomerang Storytelling, but Streep Saves The Day

Director : Phyllida Lloyd 

Writer : Abi Morgan 

Cast : Meryl StreepJim BroadbentAlexandra Roach

“We will stand on principle or we will not stand at all.” – Margareth Thatcher 

Streep’s Streak Challenge

The Iron Lady mungkin memang ditujukan hanya untuk Meryl Streep seorang, setelah berkali-kali dinominasikan, akhirnya ia mendapatkan Oscar ketiganya. Memang, sebenarnya akan sangat memalukan jika Streep dengan kendaraan “Margareth Thatcher” ini tidak menang di ajang penghargaan tersebut. Apalagi setelah penampilan-penampilan brilliantnya, termasuk perannya sebagai Julia Child dipatahkan oleh blondie Sandra Bullock, yang dianggap sebagai salah satu pemenang Oscar terburuk sepanjang masa. The Iron Lady mengambil perjalanan hidup seorang tokoh wanita yang sangat remarkable dan mendunia. Yeah, ketika kaum perempuan masih dianggap sebelah mata, Margareth Thatcher mampu menjadi Prime Minister di United Kingdom. Kisahnya ini benar-benar worth to tell, dimana setiap kebijakan-kebijakannya di masa itu selalu menuai kontroversi.

(more…)

You’re Next (2011) : Breaking The Door of Home Invasion with “Fighting Back” Final Girl

Director : Adam Wingard

Writer : Simon Barrett

Cast : Sharni Vinson, Joe Swanberg, AJ Bowen, Wendy Glenn, Nicholas Tucci

About

WHOOPSIE WRONG MOVIE POSTER !!!!!!

BY THE WAY, HAPPY NEW YEAR 2014 ( I know, I know what you guys thinking, I celebrated too (in my way))

This is the right one,

Selama dua tahun berturut-turut, terasa menyedihkan ketika film bergenre horror thriller merupakan film yang mengalami penundaan untuk perilisannya.Jika di tahun 2012, kita mempunyai The Cabin in The Woods yang bisa dikatakan super jenius, di tahun 2011 ini ada You’re Next yang menjadi salah satu film yang paling diantisipasi. Walaupun, sudah malang melintang di berbagai festival di tahun 2011, namun film ini masih banyak yang mencantumkannya ke dalam Top Movie di tahun 2013.

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “home-invasion” ? Yah, satu, dua, atau beberapa orang yang kemudian diteror biasanya oleh stranger memakai topeng di rumah sendiri. Walaupun tidak banyak menonton mini genre ini, namun mini-genre ini tetap menjadi hal yang menarik. I like Camilia Belle’s When The Stranger Calls, atau The Strangers, atau yang paling mengecewakan dan tidak mampu mengeksekusi premis menarik, The Purge. You’re Next bercerita tentang sebuah reuni keluarga yang bersamaan dengan anniversary pasangan suami istri (Rob Moran, Barbara Crampton), seketika anak-anak mereka bersama pasangannya pun datang, yaitu Crispian (A.j Bowen) dan Erin (Sharni Vinson), Felix (Nicholas Tucci) dan Zee (Wendy Glenn), Drake (Joe Swanberg) dan yang lainnya. Sebuah adegan makan malam pun berubah seketika menjadi seperti “last supper” ketika sekelompok orang memakai topeng mengarahkan panah demi panah untuk membunuh mereka, yeah mereka dikenal dengan “animal”. Bisa bertahankah mereka ?

“Thank God, someone has a brain.”

Kalau sinopsis hanya sampai situ sepertinya tidak ada yang spesial kecuali satu persatu orang akan terbunuh dengan berbagai macam cara, yeah pure torture, and sometimes guilty pleasure. Mengapa film ini menjadi menarik ? This is it, and this is SPOILER !!!!!

Final girl, istilah ini bisa dikatakan sudah sangat lekat dengan genre horror thriller, bahkan The Cabin in The Woods sendiri mengungkap mengapa harus ada final girl dalam setiap peristiwa. Final girl biasanya digambarkan sebagai cewek yang “innocent”, paling baik, manis, dan beruntung, makanya karakter ini biasanya akan bertahan sampai akhir. Siapakah final girl di film ini ? Yep, dia adalah Sharni Vinson aka Erin. Film ini membuktikan bahwa merubah satu karakter saja ternyata mampu merubah sebuah film. Erin bukanlah tipe final girl yang lemah, ia mempunyai “kekuatan” tersendiri, ia pintar, dan ia mampu mengontrol dirinya sendiri di tengah situasi yang sedang genting-gentingnya. Walaupun dari segi akting tidak terlalu spesial, Sharni Vinson berubah menjadi karakter yang paling kick-ass dengan penuh jebakan-jebakan. Karakter inilah yang menjadi karakter pemecah segala klise yang ada pada genre serupa. Bagaimana Erin tanggap dan cepat mengambil keputusan, atau respon cepatnya terhadap “animal”, membuat kita berpikir “Thank God, somebody has a brain.”

Erin bukanlah sekedar karakter. Film yang tergolong komedi ini kemudian membandingkan Erin yang “berotak” dengan para karakter yang sepertinya masih terlihat bodoh untuk keluar dari situasi ini. Yah, mereka berlari ke luar rumah sambil teriak, kemudian meninggalkan seseorang di dalam ruangan sendiri, dan lainnya, membuat karakter Erin jauh terlihat superior. Ekspresi-ekspresi bodoh yang sebenarnya tidak pada tempatnya ini banyak mengundang tawa, yeah, walaupun mereka kebanyakan histeris.

Jika kebanyakan film ini menghadirkan villain atau stranger yang sempurna, You’re Next bisa dikatakan pada titik tertentu akhirnya “memanusiakan” karakter “animal” mereka. Yeah, pada beberapa moment, kita merasa bahwa Animals ini ya masih manusia, bukanlah malaikat pencabut nyawa yang akan hidup lagi setelah ditusuk berkali-kali. Sisi “memanusiakan” ini juga terlihat pada “cara mati” dari karakternya yang bisa dikatakan “yaaa, sadis” namun tidak “berlebihan”. Dengan beberapa sabetan machete, mereka langsung meregang nyawa. Maksudnya, di film ini masih mempertimbangkan batas tubuh manusia terhadap rasa sakit and that’s a rare thing. Sisi buruknya, mungkin untuk para penggila genre yang demanding dengan slasher atau semacamnya, film ini tidak terlalu menonjolkan sisi tersebut walaupun pada salah satu adegan klimax, satu scene benar-benar ngilu untuk dilihat.

Film ini juga menghadirkan seolah-olah “middle twist”, I like this kind of thing. Walaupun middle twist ini masih tergolong “predictable”, namun twist yang satu ini menjawab berbagai adegan di awal yang menunjukkan bahwa sutradara Adam Wingard masih mengutamakan unsur-unsur detail dalam sebuah cerita. Twist yang mengungkap arti “animal” ini sebenarnya sangat standard namun bisa dicover dengan twist yang sebenarnya, yaitu karakter dari Erin.

Film ini memang masih jauh dari sempurna, namun bagaimana film ini meng-combine sisi klise dan antiklise secara bersamaan, harus diacungi jempol.

Trivia

Ti West, Joe Swanberg juga merupakan aktor sekaligus director (untuk film mereka masing-masing). Is this kind of cartel or nepotism ? Haha

Quote

Erin: Why the fuck not?

Weekend (2011) : One Night Stand, What to Expect ? Yeah, Study of Character and Taboo Theme

Director : Andrew Haigh

Writer : Andrew Haigh

Cast : Tom Cullen, Chris New

About

Homosexuality. Yeah, itulah yang menjadi tema dalam film ini. Weekend bercerita pada hubungan dua lelaki yang tergolong singkat pada sebuah weekend. Russel (Tom Cullen) adalah seorang laki-laki yang “kurang” dengan pekerjaannya dan cenderung pendiam ketika ia berada pada perkumpulan dengan teman-temannya. Suatu malam, setelah pulang dari rumah teman baiknya, ia mampir di sebuah club dan mencari kesenangannya. Keesokan harinya, ia terbangun di apartemennya dengan seorang laki-laki di kamarnya. Dia adalah Glen (Chris New), seorang pemuda yang lebh berpikiran bebas dan lebih terbuka terhadap seksualitasnya. Waktu terus berjalan, hubungan mereka pun berkembang lewat dialog keduannya. Sementara Russel mulai merasakan sesuatu yang spesial, Glen mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan pindah ke Amerika. Apakah hubungan ini akan menjadi one night stand biasa ?

“Not quite powerful like what I imagine, but it’s so moving with some studies of sexuality in our society as its main theme.”

I gotta recall, I gotta recall when I watch something about gay. Yah, mungkin Pariah (jika tidak salah), uhm atau Phillip Morris mungkin. Yang paling berkesan mungkin Brokeback Mountain, atau yang paling ditunggu di tahun ini, yang juga menjadi contender Oscars, Blue is The Warmest Colour. Diperlukan waktu kurang lebih satu setengah tahun hingga akhirnya film ini ditonton. Ya, memang film dengan tema sensitif apalagi menyertakan adegan yang vulgar memang bukanlah hidangan untuk semua kalangan.

Salah satu high critical acclaimed film di tahun 2011 ini memiliki ekspektasi besar tentang apakah yang akan disajikan oleh film dengan tema gay ini. Salah satu sisi menarik dari film ini adalah kekuatan dialog yang terkesan natural namun juga terkesan sangat terarah dan tertata oleh script. Dengan beberapa scene yang mengalami long shot, tentu saja sepertinya diperlukan improvisasi dari kedua pemainnya, namun ketika mereka berdialog sepertinya mereka selalu memilki point yag ingin disampaikan. Thanks to its two leading roles yang secara total berperan sebagai gay dengan gaya bicara, gesture yang meyakinkan. Dengan long shot yang terkadang terjadi berulang kali, merupakan sebuah kekuataan tersendiri sebuah film untuk tetap terjaga dan juga tidak merasa bosan pada scene-scene tersebut. Lebih menariknya, ketika film juga mengajak penonton untuk seketika seperti berdiskusi tentang apa yang sedang mereka bicarakan.

Film ini lebih menekankan pada kekuatan untuk mengeksplorasi tema yang diusung di dalamnya, ketimbang romansa cinta yang berlangsung pada kedua karakternya. Dua karakter yang mempunyai kesamaan namun memiliki perbedaan perspektif dalam melihat diri mereka sendiri. Russel yang cenderung pasif untuk mengumbar seksualitasnya, masih berusaha menutupi “apa yang sebenarnya ia inginkan”, dan juga masih ada sedikit perasaan bahwa menjadi seorang gay adalah hal yang tabu. Meanrik ketika ia berhadapan dengan Glen, yang memilki pandangan lebih berani dalam mengungkapkan dirinya ke publik, disertakan dengan sejarah masa lalunya, Glen merupakan karakter yang kuat untuk dieksplorasi. Karakter Russel dan Glen ini bisa dikatakan diperankan oleh fame-less British actors yang tidak sekaliber Gylenhall atau Ledger, namun mereka tidak kalah meyakinkan dalam menjalani scene demi scene.

Yah, memang untuk beberapa adegan, film ini memang sedikit terlalu ekstrem karena melibatkan erotika dan juga nudity. But no matter, what’s your sexual orientation, this is pretty good movie about the study of taboo thing in our society and also the character’s study itself. Memberikan sebuah gambaran realism dan juga subtle tentang kehidupan mereka, disertakan dengan interaksi yang natural. Namun, walaupun begitu, bukan berarti tidak ada sisi kejutan atau cerita mendramatisir di dalamnya, film ini juga menyelipkan beberapa sisi “romantis” yang tidak terlalu berat dan tidak mengganggu.

Melihat film ini memang tidak seperti sepowerful seperti yang dibayangkan. Namun, film ini bisa menjadi gambaran yang unik tentang sesuatu yang sebenarnya benar-benar terjadi di masyarakat namun masih bersifat sangat tertutup. You see life, and you just examine what’s this people going through. Film ini berhasil menyajikan sebuah tema yang kompleks namun dengan penjelasan yang sederhana, sabar namun juga sangat efektif.

Film ini sedikit banyak mengingatkan pada karya Steve Queen, Shame tentang eksplorasi dunia seks, namun dengan sentuhan yang lebih natural, hasilnya character study pada film ini tetap ada (terutama karakter Russel), namun tentu saja tidak sepowerful dengan apa yang dicapai Michael “Brandon” Fassbender.

Trivia

Adegan ereksi dan sperma hanyalah wortel dan juga sabun.

Quote

Glen : Is it really wrong that I find the whole orphan thing pretty sexy?

Bernie (2011) : Mortician Kills, Even The Brightest Angel Has The Darkest Side

Director : Richard Linklater

Writer : Richard Linklater, Skip Hollandsworth

Cast : Jack BlackShirley MacLaineMatthew McConaughey

About (SPOILER)

Disutradarai oleh yang mengarahkan trilogi dengan rating cukup tinggi, Before Sunrise, Sunset dan Midnight, Richard Linklater, Bernie adalah sebuah film biopik semi dokumenter yang menceritakan satu kejadian kriminal yang menimpa Bernie Tiede (Jack Black). Bernie Tiede dikenal sebagai pribadi layaknya malaikat yang terkenal di seluruh kota. Pekerjaannya sebagai seorang mortician yang mengurusi funeral tidak hanya membawa kepuasan bagi pelanggannya, namun juga word of mouth atas kepribadiannya yang hangat, care, dan menyenangkan. Suatu hari, di sebuah funeral, ia bertemu dengan seorang janda kaya tapi judes, bernama Marjorie Nugent (Shirley Maclaine). Semakin hari, semakin lama, Bernie pun menjadi dekat dengan Marjorie yang terkenal sangat posesif dengan pertemanan mereka berdua, hingga suatu hari kejadian yang tidak disangka-sangka pun terjadi. A murder. Pembunuhan yang dilakukan Bernie kepada Marjorie ini menjadi headline seluruh kota. Salah seorang district attorney (Matthew McConaughey) berusaha menyeret Bernie kedalam penjara tidak peduli, apa yang sebelumnya Bernie lakukan kepada kota itu sebelum pembunuhan.

“Crazy good movie with such a sweetheart and charismatic Jack Black, anchored with real crime-real story.”

Apa yang membuat Bernie berbeda dengan komedi lain, yaitu terdapat sebuah cerita yang memang layak untuk diceritakan dan cerita ini memang tidak mudah untuk dikemas secara komedi. Sebuah pembunuhan yang tergolong dengan issue serius harus dikemas dengan menghibur dan entertaining. You’ll be surprised. Itulah kehebatan Richard Linklater yang membuat transisi dari tone komedi menjadi sebuah court yang serius, begitu smooth (walaupun jika tanpa membaca resensinya akan merasa kaget juga).

Penampilan Jack Black yang memang ahli dalam komedi kali ini lebih teruji dengan penampilannya sebagai seorang Bernie Tiede yang sebenarnya memiliki karakter kompleks, seperti baik hati (super), karismatik (ini yang susah didapat) sampai dengan sedikit gayish, namun sepertinya penampilan Jack Black agak sedikit kurang sebanding ketika masalah yang sebenarnya mulai ia hadapi, sedikit anti klimax namun tidak kentara. Sebagai seorang Marjorie Nugent ? Shirley Maclaine terbukti jago menciptakan antipati kepada penonton, dan Matthew McConaughey juga terlihat semakin matang dalam penampilan dan pengucapan aksen khasnya (yep, he’s one of underrated actor nowadays)

Apa yang lebih lagi dari Bernie ? Adalah cara bercerita lewat semi dokumenter dengan menggunakan testimoni orang-orang di sekitarnya (beberapa memang aktor), namun mereka begitu komunikatif dan meyakinkan sehingga film ini tidak terasa membosankan walau diisi dengan wawancara bergaya testimoni dari awal sampai akhir film. Selain mendapatkan gaya bercerita dan narasi yang runtut, efek film dokumenter pun terasa, film ini menjadi semakin REAL !!

Trivia

Jack Black sempat bertemu dengan Bernie Tiede secara langsung

Quote

Bernie : You cannot have grief tragically becoming a comedy.