2012

Book Corner : Gone Girl (2012), Quirky – Sharp – Jawdropping Material for “The Perfect Love Story and Crime”

Yeah, I am pretty dozed off reading my own movie review (but I am not gonna stop :p), so let’s give this blog some varieties.
Setelah Poster Corner (I dont update it), Classic Choice (YOU KNOW IT’S SO HARD TO WATCH A CLASSIC) now it’s Book Corner (relaaax it’s still movie blog, hanya buku yang akan diadaptasi ke film yang akan direview).

I am nervous, the last time I made book review, is about The Help.

Gone Girl The Movie (God, it’s so lame, but it makes differences it from Gone Girl The Book (now it sounds weird)) merilis teasernya, sebuah teaser yang sangat menarik dan kuat akan misteri, salah satunya kontribusi dari lagu pengisinya, She – Elvis Costello (but someone covers it). Lagu ini begitu menyatu dengan karakter Amy Dunnesekaligus menebar formula gandanya lewat memberikan sisi agony dari seorang Nick Dunne yang menjadi tokoh utama nantinya. Mulai dari sinilah hype Gone Girl mulai menarik perhatian dan keinginan membaca novelnya pun kembali muncul.

(more…)

Stuck in Love (2012) : Everyone is Falling In Love Concept of Messed Up Family

Director : Josh Boone

Writer : Josh Boone

Cast : Lily CollinsLogan LermanKristen Bell, Jennifer Connelly, Nat Wolff, Greg Kinnear, Liana Liberato

About

Everyone is Falling in Love, mungkin itulah tema yang diceritakan di film Stuck In Love. Bukan hal yang baru memang, sebuah cerita dengan substory yang berkaitan dengan seluruh anggota keluarga. Sebut saja, Crazy Stupid Love (yeah, I adore this movie).

Bill Borgens (Greg Kinnear) adalah seorang penulis veteran yang belum bisa move on, pasca ditinggal istrinya Erica (Jennifer Connely) menikah lagi dengan pria lain. Sementara ia menjalani fuck buddy dengan Tricia (Kristen Bell), ia harus mengurusi dua anaknya yang juga mempunyai bakat menulis seperti dirinya. Rusty (Nat Wolff), anak laki-lakinya yang belum berpengalaman dengan lawan jenis memendam perasaan pada teman sekelasnya, Kate (Liana Liberato), dan Samantha (Lily Collins) yang trauma atas perceraian kedua orang tuanya, yang terus melakukan blocking terhadap kehidupan percintaannya, termasuk pada Lou (Logan Lerman). Ketika Samantha berhasil menerbitkan sebuah buku, interaksi anggota keluarga ini kembali dipertemukan dengan beberapa konflik di dalamnya. Yep ! Mereka harus dealing dengan konsep “second chance” dan “move on”.

“This is what happens when there’s bnch of substories in one single movie. Tends to be generic and has too simplied simple solutions for each stories, though it has fine cast, particularly Lily Collins.”

Inilah yang terjadi ketika satu film dengan durasi yang sangat terbatas mempunyai beberapa substory yang tergolong sama kuat. Cerita anak, ibu, dan ayah dengan kehidupan mereka masing-masing ini diawali dengan penampilan yang solid di awal, berhasil membuat penonton ingin melihat kelanjutan cerita. Namun, semakin ke belakang, cerita bertambah semakin generic dan tidak ada hal yang spesial.

Beruntung film ini bercerita tentang “writers” dalam satu keluarga sehingga banyak dialog yang berhasil ditambahkan berasal dari sudut pandang seorang penulis, dengan kekuatan para aktor di dalamnya, membuat film seakan-akan menjadi “good reading” namun kurang kuat untuk menjadi film yang bisa diingat. Dari semua aktor, penampilan Lily Collins sedikit keluar dari peran yang biasanya ia perankan (yeah, walaupun ia baru mempunyai beberapa film yang pernah ia bintangi), berperan sebagai gadis yang cynical dan “sedikit liar” keluar dari muka parasnya yang merupakan gadis baik-baik.

Film tentang tiga percintaan ini menjadi setengah-setengah ketika endingnya juga berubah menjadi setengah klise, dari tiga percintaan, hubungan ibu dan anak antara Jennifer Connely VS Lily Collins malah menjadi jalan cerita yang paling menarik.

Untung saja, beberapa moment manis bisa sedikit tersebar di sepanjang film, namun untuk sebuah film yang mempunyai banyak karakter dan banyak cerita, (dan jika dibandingkan dengan film serupa, seperti Crazy Stupid Love), (kenapa gue membandingkan dengan film ini, karena dua film ini banyak persamaan, 1. Banyak bintang. 2. Percintaan semua anggota keluarga), film ini lebih memilih melakukan pendekatan “drama” daripada pendekatan yang lebih “komedik”, sehingga banyak moment terjadi secara biasa, dengan banyak “korelasi” antar tokohnya yang kurang kuat, dan kurang adanya unsur kejutan seperti yang ada pada film Crazy Stupid Love.

Trivia

Kedua kalinya, Logan Lerman berperan sebagai seorang writer (wanna be, at least), setelah perannya di The Perks of Being Wallflower. Di kedua film, Logan Lerman juga mempunyai love-interest dengan nama Sam.

Quote

Bill : I can hear my heart beating. I could hear everyone’s heart. I could hear human’s noise we sat there making. Not one of us moving, not even the room went dark.

Compliance (2012) : When A Stranger Calls, Goes To The Next Level “Hummiliation”

Director : Craig Zobel

Writer : Craig Zobel

Cast : Pat Healy, Dreama Walker, Ann Dowd

About

Okey dokey, it’s not so easy to review every single movie you have just watched, when you have things like A LOT ! But I’m trying to be a good blogger, okay, good blogger.

Sebenarnya sudah lama ingin menonton film ini, namun baru kesampaian beberapa hari yang lalu, film ini sempat nongol di kompetisi Oscars ketika Ann Dowd (salah satu pemainnya) melakukan semacam marketing untuk mendapatkan nominasi (kalau nggak salah ya, I’m trying to recall).

Cerita yang mendasari Compliance sebenarnya sangat simple dan berdasarkan kasus nyata yang terjadi di benua Amerika sana. Sandra (Ann Dowd) adalah seorang manager di sebuah fast food yang baru saja kena musibah, freezer di restorannya tidak di tutup dan membuat kerugian. Ketidaktersediaan inventory di hari weekend yang ramai membuat masalah tersendiri, diperparah ddengan sebuah telepon yang mengaku dari kepolisian yang mengatakan bahwa Becky (Dreama Walker) telah mencuri uang dari customer. Polisi tersebut kemudian, melalui via telepon, meminta bantuan Sandra untuk menginterogasi Becky yang merupakan awal mimpi buruk.

“HOLY FUCK KIND OF MOVIE !! HIGHLY RECOMMENDED. The power of words, though the characters’ intelligence is being questioned for the whole parts of the movie, but it is still well played. A movie which made me said fuck like a lot and presented the most annoying characters in a movie I have ever seen.”

Pernah merasa bahwa kalian ingin menonjok karakter dalam film ? Mungkin salah satunya akan kalian dapatkan lewat film ini. Sensasi yang diberikan film ini memang luar biasa, sebuah sensasi yang “tidak mengenakkan” dan cenderung memuakkan, namun hal inilah justru yang membuat film ini dinyatakan berhasil.

Diperkuat dengan tiga trio utama, Ann Dowd yang berhasil memerankan seorang manager restoran, Dreame Walker yang bersifat innocent namun memberikan sedikit sifat “wild”, dan juga sang penelepon yang mengaku polisi, yang walau sepanjang film hanya terdengar suaranya namun bisa mengeluarkan karakter. Serta berbagai peran pembantu, yang sebenarnya terkesan sederhana dan tidak berpengaruh di plot namun sebenarnya sangat well chosen. Film ini menghadirkan beberapa karakter yang efektif untuk menjengkelkan penonton, tidak hanya dari sisi antagonis, namun juga pemain yang lainnya. Selain itu, penampilan natural dari para pemainnya, termasuk interaksi mereka yang cepat satu sama lain, membuat film ini begitu moving.

Film ini menghadirkan sebuah analisa hubungan antar pekerja, beserta konfliknya, dengan sangat subtle yang membuat penonton akan lebih melakukan analisa “apa yang akan dilakukan sebuah karakter” ketimbang mengeluarkan konflik yang vulgar. Film ini memang akan membuat kita terkadang berpikir dan kembali menanyakan tingkat kecerdasan dari semua pihak yang terlibat, dimana sang penelepon justru bertindak sebagai Master Mind dan yang lainnya bertindak layaknya keledai, yep sometimes no make sense.

Apa yang menarik lagi ? Walaupun banyak mengambil action yang sensitif (ex : nudity), film ini tidak ingin vulgar terang- terangan terutama dalam “final act”-nya yang merupakan puncak hummiliation dan embarassment. Filmmaker mampu merepresentasikan sesuatu lewat benda-benda sederhana (seperti busa di wastafel dan lain sebagainya) untuk menyampaikan maksud scene terterntu sekaligus membuat kesan ironi dalam saat yang bersamaan.

Jika ini sebuah thriller, film ini akan mengingatkan anda pada Phone Booth hanya saja sepertinya arti “ketakutan” didefinisikan kembali walaupun tanpa menggunakan gore, darah, murder atau sebagainya. Untuk sebuah film yang mempunyai premis sederhana, bersetting pada beberapa tempat dan waktu, serta karakter yang sederhana namun mampu digali, bisa dikatakan film ini melebihi apa yang bisa dicapai.

Trivia

Saat dipremierkan di Sundance 2012, beberapa penonton melakukan aksi walkout, if you have seen this movie, you’ll understand.

Quote

Marti     : Van was a lucky man.

Smashed (2012) : Sober Inside, Sober Outside, Cool Girl Goes Crazy

Director : James Ponsoldt

Writer : James Ponsoldt, Susan Burke

Cast : Mary Elizabeth WinsteadAaron PaulOctavia Spencer

About

Minggu ini, sutradara ini memang mungkin disibukkan dengan drama romantis, duetnya dengan screenwriter untuk 500 Days of Summer, The Spectacular Now. Namun pada tahun 2012, sutradara ini juga merilis sebuah film yang bisa dikatakan OUT OF RADAR walaupun ternyata dibintangi aktris Mary Elizabeth Winstead sampai peraih Oscar untuk peran pembantu wanita terbaik, Octavia Spencer.

Smashed mempunyai jalan cerita yang cukup simple, yaitu seorang guru yang memutuskan untuk berhenti minum minuman keras (sober) untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Suatu hari Kate Hannah (Mary Elizabeth Winstead) harus terbangun entah dimana karena mengalami hangover, setelah sehari sebelumnya ia muntah didepan muridnya dan terjebak dalam situasi yang mengharuskan ia berpura-pura bahwa ia sedang hamil. Hangover yang dilakukan Kate Hannah, terus berujung pada humiliation terhadap dirinya sendiri hingga ia menemukan sebuah pertemuan untuk sharing (AA) dan memutuskan untuk berhenti menjadi pecandu alkohol. Ketika dirinya telah sober, masalah justru datang pada lingkungan di sekitarnya, mulai dari sifat skeptic dari sang ibu, peers yang masih mengiranya masih hamil, sampai suaminya sendiri (Aaron Paul) yang justru lebih bersigat ignorant pada perubahan yang dilakukan oleh Kate Hannah. Tidak hanya merubah kecanduannya, proses sober ini justru menguji banyak orang disekitarnya, dapatkah Kate Hannah melewati itu semua.

“Mary Elizabeth Winstead is the game as drunken bitch for the whole movie, this movie is no concentrating with how frustating it is, to be sober, but shows us in the related relationship in the movie, yep ! This is not love story, but there’s love implied.”

Mungkin kita akan sedikit meremehkan dengan kualitas akting seorang Mary Elizabeth Winstead jika ia harus didapuk sebagai seorang leading role di film di genre drama, mengingat selama ini ia hanya bermain pada film komedi, horror terkenal Final Destination atau genre action yang kurang mengasah kekuatan aktingnya. Namun, give her the proper ride, and she’s the game. Berperan sebagai seorang Kate Hannah bagaikan ia harus memerankan dua karakter berbeda, sober and nonsober, Mary Elizabeth Winstead seakan-akan bertambah “keren” ketika ia memerankan seorang yang prinsipnya mempunyai hati baik, namun terjebak pada perasaan bersalah setiap kali ia kecanduan alkohol. Ketika ia mabuk, yes, she nails it.

Film ini sendiri tidak berkonsentrasi pada bagaimana Kate Hannah frustasi untuk berhenti minum alkohol, namun film ini lebih menunjukkan bahwa sebuah perubahan pada diri seseorang akan membawa perubahan pada relationshipnya pada orang-orang disekitarnya. Oleh karena itu, sering terjadi loncatan waktu pada film ini, namun tidak mengurangi kebersambungan satu scene dengan scene yang lainnya.

Jika dikatakan sisi negatifnya, mungkin karakter Charlie, suami Kate Hannah yang diperankan Aaron Paul mengalami underdeveloped dari awal film sampai tengah film, namun karakter ini semakin menguat di penghujung film ini. Faktor romance juga tidak mendominasi film ini, namun film ini lebih banyak bercerita tentang pengujian relationship di dalamnya.

Dengan tangan sang sutradara, film ini adalah salah satu film yang paling mudah dinikmati karena saking movingnya dan mempunyai jalan cerita yang cenderung simple berjalan alami dan tanpa dibuat-buat. Bayangkan saja, untuk film berdurasi 80 menit, film ini berasa hanya 30 menit, maybe it’s just me. Permainan camera dan kemampuan para aktornya untuk menjalani sebuah scene yang cukup panjang, ditambah dengan permainan editing yang rapi membuat film ini highly recommended, plus very charming and cool Mary Elizabeth Winstead.

Trivia

Untuk mempersiapkan sebagai gadis mabuk, Mary Elizabeth Winstead sengaja berputar-putar untuk membuat dirinya lebih pusing.

Quote

Jenny : It’s hard to live your life honestly.

Cockneys Vs. Zombies (2012) : Zombie-Infested London In Comedy and Gore Package

Director : Matthias Hoene

Writer : Matthias Hoene, James Moran

Cast : Harry Treadaway, Michelle Ryan, Georgia King, Jack Doolan

About

Cockneys Vs. Zombie, sebuah film bergenre comedy-zombie yang bercerita tentang sekumpulan anak muda yang akan melakukan perampokan sebuah bank untuk menyelamatkan sebuah panti jombo namun aksi mereka juga dibarengi dengan sebuah serangan zombie yang tiba-tiba menyerang London. Tidak hanya harus menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka juga harus menyelamatkan kakek dan para manula lainnya yang terjebak di bangunan panti jombo.

Okay melihat film ini mau tidak mau, kita akan membandingkan dengan film yang hampir serupa yaitu Shaun of The Dead. MENGAPA ???

–          Genre zombie, komedi, bersetting di Inggris

–          Zombie yang digunakan adalah zombie yang lambat jalannya.

–          Sama-sama menyelamatkan orang tua sang tokoh utama.

“There are a lot potentials and wittiness (?) here, but it is overwhelmed but exaggerating unnecessary too ambitious violents, and too many characters which have no strong character, and sometimes they act too awkward, not full commitment.”

Film ini diawali dengan sangat tidak meyakinkan dengan adegan sebuah makam yang ditemukan oleh beberapa kontraktor yang ternyata di dalamnya terdapat mayat-mayat hidup yang menggigit (misteri mengapa ada mayat yang tahu-tahu bisa menggigit ini tidak terjelaskan sampai akhir film), di awal film kurang mengundang karena masih menggunakan tired jokes seperti “Hey, ada sesuatu di belakangmu ?” dan direspon dengan “Ah, ada-ada aja.”. My response is “PLEASEE !!”

Berbeda dengan Shaun of The Dead yang memiliki warming-up proses yang memang sedikit lama, namun benar-benar efektif dan terkoneksi dengan jalannya cerita, Cockneys Vs. Zombie mempunyai proses warming-up yang sedikit tidak menarik dan terlalu lama.

Beberapa adegan merupakan adegan yang smart dan inventive, seperti seorang jompo yang harus berlari “pelan” disusul dengan para zombie yang mengejarnya juga pelan juga, THAT IS THE BEST SCENE OF THE WHOLE MOVIE. Banyak jokes yang dilontarkan (sometimes terasa pacing-nya yang kurang pas, atau pembawaan para aktornya yang kurang komikal, jokes-jokes ini terkadang sering menjadi overjokes) namun mungkin terkadang jokesnya terlalu british sehingga banyak yang miss atau begimana.

Film ini pada paruh pertama terbagi dua, yaitu anak-anak pemuda yang melawan zombie, dimana salah satunya adalah karakter Katy yang digambarkan sebagai brunette kick ass yang mengingatkan pada karakter Wichita di Zombieland, dan para orang tua jompo yang juga menge-block tempat mereka agar zombie tidak masuk (dimana di bagian orang jompo ini lebih menarik). Pembagian dua settingan di waktu bersamaan, dan banyak karakter membuat beberapa karakter yang seharusnya menjadi karakter utama jadi terbayang-bayang dan tidak memiliki karakter yang kuat.

Melihat dengan “tiba-tiba” jago dalam mengenakan senjata dan menembak zombie tepat sasaran, terkadang scene-nya terlalu berlebihan dan ambisius yang malah jadi kurang bisa dinikmati. Ditambah dengan sedikit banyak para pemainnya malah terlihat bengong, ketika salah satu karakter sedang berkutat dengan zombie, terlihat seperti kurang total dan kurang komitmen.

Untuk berbagai gore, yang pasti dicari para penggemar zombie, yah, film ini bisa dijadikan satu tontonan yang dengan banyak darah dan gory.

Trivia

Film dipremierekan pada London Frightfest Film Festival 2012

Quote

Old man : Those things are vampires! We need crucifixes, garlic, silver, holy water, and Christopher Lee !

Passion (2012) : The Rivalry Between The Dragon Tattoo-ed Girl and The Mean Girl

Director : Brian De Palma

Writer : Brian De Palma, Natalie Carter

Cast : Rachel McAdamsNoomi Rapace, Paul Anderson

m

About

Bagaimana ya jika The Girl with Dragon Tattoo melawan seorang Mean Girl ? Yup ! Passion jadinya, film remake dari film Perancis berjudul Crime Love yang salah satunya di bintangi oleh Kristin Scott Thomas.

Film ini menjadi usaha lain dari Brian De Palma yang sedang mengalami penurunan karir terus-menerus.  Sutradara dari horor classic Carrie ini terakhir kali berjaya ketika ia sukses membawa Tom Cruise dalam Mission : Impossible, dan terakhir terjungkal (not documentary) pada film murdering, The Black Dahlia.

Film ini bercerita tentang rivalry antara dua wanita yang mempunyai ambisi dalam sebuah agen periklanan, Christine (Rachel McAdams) dan Isabelle James (Noomi Rapace). Christine yang merupakan dari Isabelle berusaha memanipulasi apa yang dikerjakan Isabelle dan mengambil credits dari kerja kerasnya. Tidak hanya itu, ketika Isabelle mulai melakukan perlawanan, Christine mulai mempermalukan Isabelle di depan umum, mengintimidasi, sampai memfitnahnya. Rivalry antar mereka berdua bahkan sampai berujung pada tindak pembunuhan yang ternyata membuka banyak misteri dari rivalry itu sendiri.

“Presenting its two distinctive leads, but not quite an erotic “erotic” movie, and the finale is a little bit ludicrous.”

Dengan magnet dua bintangnya, Rachel McAdams dan Noomi Rapace, kemudian digabungkan dalam satu film yang ingin mengambil sentuhan “erotic”, tentu saja film ini masih kurang nendang. Dan, jika film ini bergenre thriller, maka this movie isn’t thrilling at all.

Rachel McAdams terlihat kurang “evil” walaupun dia begitu luminous as usual. Karakter seorang Christine sebagai boss yang manipulatif sepertinya akan mengingatkan kita pada karakter sukses McAdams sebagai Regina di Mean Girls. Namun, di film ini ia masih terlalu standar, kurang mengintimidasi Isabelle.

Karakter Isabelle, yang diperankan Noomi Rapace adalah karakter dengan sejuta sisi. Ia seperti innocent, fragile, sedih namun mempunyai vulnerability layaknya seorang Lisbeth Salander yang mau menyerang. Tentu saja, sebagai karakter tama, sejuta karakter ini membuat Rapace kurang mempunyai depth unuk memerankan Isabelle. Transisi satu sisi Isabelle ke sisi lain Isabelle sepertinya masih terlalu kasar sehingga membuat kita berpikir “Ia langsung menjadi karakter lain” bukan “Ia ‘secara lambat’ berubah menjadi karakter yang lain.

Film ini memiliki dinamika sepanjang film, paruh pertama dengan menyenangkan menceritakan persaingan dua perempuan ini, bahkan diselipi dengan musik-musik yang kadang terlalu “menyenangkan” untuk sebuah thriller. Di paruh sepertiga kedua, cerita kurang bisa meruncingkan konflik yang ada pada dua karakter utama. Kurang banyaknya porsi untuk Rachel McAdams dan Noomi Rapace untuk bisa face to face secara intens. Di sepertiga berikutnya, sepertinya menjadi bagian yang cukup thought provoking sekaligus membingnungkan sekaligus manipulatif namun kurang investigatif (is there word “investigatif” ? Haha). Palma berani mengambil sisi klimax film (okeh, adegan murdering) dengan memakai ciri khasnya yaitu split screen. Walaupun mungkin pasti mendapatkan sisi estetika lewat adegan balet, namun scene klimax ini terlalu membingungkan dan masih sedikit menyebalkan ketika sebuah cerita berusaha memanipulatif dengan menghubungkannya dengan adegan “bangun dari tidur”. Thought provoking memang, namun ketika penonton malah menjadi bingung (bukan cenderung berpikir), apalah artinya sebuah thought provoking.

Satu lagi di adegan terakhir adalah character revealing yang begitu konyol. Sepertinya dari segi cerita, penulis terlalu malas untuk bisa melakukan sebuah pengungkapan yang lebih investigatif dan meninggalkan clue-clue. Terlalu shortcut dan yah, jatuhnya terlalu menggampangkan.

Jika dilihat dari secara keseluruhan, film ini sangat-sangat Brian De Palma, namun film yang sangat-sangat Brian De Palma is not enough anymore (now).

Trivia

Karakter Noomi Rapace akan mengingatkan kita pada karakter Rooney Mara pada Side Effect di sisi character revealingnya. Baik Rapace dan Mara juga pernah memerankan Lisbeth Salander pada film The Girl with Dragon Tattoo.

Quote

Isabelle James : There’s no backstabbing, Christine. Just business.

The Guilt Trip (2012) : Unexpected Cross-Country Voyage Tests Mother-Son Relationship

Director : Anne Fletcher

Writer : Dan Fogelman

Cast : Barbra StreisandSeth Rogen, Colin Hanks

About

The Guilt Trip adalah film komedi yang membawa kembali Barbra Streisand menjadi leading lady dalam feature film. Ia disandingkan oleh seorang sutradara yang mengawali karirnya sebagai seorang dancer, kemudian koreografer dan kemudian menjadi sutradara. Yah, dia adalah Anne Fletcher. Setelah ia berhasil menyukseskan menyatukan Jenna Dewan dan Channing Tatum di Step Up, atau berhasil mendaratkan Katherine Heigl pada formulaic role-nya di 27 Dresses, atau mungkin the huge big hit dari The Proposal di tahun 2009, The Guilt Trip memang menjadi film yang cukup ditunggu di tahun 2012 yang lalu.

The Guilt Trip berusaha mengeksplor hubungan ibu dan anak antara Andrew Brewster (Seth Rogen) dan Joyce Brewster (Barbra Streisand) lewat sebuah perjalanan road trip selama satu minggu. Andrew yang seorang scientist yang sedang berusaha menawarkan produknya dari satu perusahaan ke perusahaan lain mempunyai rencana untuk menyatukan kembali ibunya dengan cinta masa mudanya. Namun, apakah ia berhasil sementara ternyata ada masalah tersembunyi diantara mereka berdua ?

Film ini merupakan salah satu kekecewaan di tahun 2012, bukan hanya dari segi box office yang hanya menyisakan satu juta dollar dari budgetnya, namun juga dari tidak adanya pengakuan pada akting Barbra Streisand, termasuk pada ajang Golden Globe, bahkan malahan Streisand masuk pada jajaran nominasi aktris terburuk di Golden Raspberry.

“Like others Fletcher’s movies, this mother-son relationship based story is generic, but enjoyable though it brings more flat-ness than laugh.”

Sebuah film komedi memang seharusnya membuat penonton tertawa, atau paling tidak tersenyum atau paling tidak menghibur. Nah, pada tahapan itu, The Guilt Trip hanya mencapai level menghibur. Tidak seperti karya Fletcher yang lain, yang walaupun semuanya mempunyai persamaan dari segi cerita yang sangat mudah ditebak, namun biasanya film Fletcher memberikan satu guilt trip yang membuat penonton tertawa. Namun tidak dengan The Guilt Trip yang satu ini, tidak adanya jokes yang membuat penonton tertawa, tidak dapat menyelamatkan film ini dari sebuah kekecewaan penonton.

Dari awal film, sebenarnya film ini mempunyai rythm yang cukup enak diikuti, walaupun cerita road trip yang sebenarnya bisa sangat luas dieksplor hanya mengambil setting mobil-restoran-perusahaan-hotel-mobil-restoran-perusahaan-hotel. Akting Streissand sendiri juga tidak terlalu buruk sebagai seorang ibu yang “over-protective” terhadap anaknya (And when she’s angry, she nails it). Dengan akting Seth Rogen yang tidak ada perbedaanya dengan kualitas aktingnya di film lain (padahal sebenarnya ia sedikit lebih gila, peran Andy Brewster yang flat benar-benar membuatnya tidak dapat mengeksplor), terkadang ada moment-moment yang manis yang tercipta dari hubungan ibu dan anak ini. Paling tidak, mereka bisa meyakinkan penonton bahwa mereka adalah pasangan Ibu dan anak.

Memang kesalahan dari film ini adalah mengambil jalan cerita yang terlalu aman dan tidak berani gila. Jika saja mengambil banyak moment seperti saat Streissand makan steak seberat anjing pudel, mungkin hasil akhir film ini akan lain. Sementara, untuk sebuah road trip yang banyak mengambil setting di mobil benar-benar hanya memungkinkan kekuatan dari dialog yang tidak akan membosankan penonton, hanya saja the dialogue in the script is not strong enough.

Trivia

Karya Anne Fletcher sebagai sutradara dengan gross box office terendah.

Quote

Joyce : If all the kids in the world were lined up and I was to pick one kid for myself Andy, it will always be you.

Andy Brewster: I wouldn’t let you pick anyone else mom.

The Odd Life of Timothy Green (2012) : Miracle Happens for The Couple Who Can’t Bear A Child

Director : Peter Hedges

Writer : Peter Hedges, Ahmet Zappa

Cast : Jennifer GarnerJoel EdgertonCJ Adams

About

Adakah yang pernah mendengar kisah timun mas ? Sebuah kisah lokal yang bercerita tentang pasangan petani yang mendambakan seorang anak dan akhirnya mendapatkan seorang anak dari dalam timun raksasa dari kebun mereka. Kurang lebih seperti itulah yang akan diceritakan dalam The Odd Life of Timothy Green. Pasangan Cindy (Jennifer Garner) dan Jim (Joel Edgerton) sedang bermurung dan bersedih ketika dokter mengatakan bahwa mereka tidak akan mempunyai anak yang telah lama mereka idamkan. Di tengah kesusahan mereka, mereka menghibur diri mereka sendiri dengan menuliskan deskripsi-deskripsi jika memang mereka benar-benar mempunyai anak. Mulai dari artistik, mempunyai sense of humour, dicintai dan mencintai dan sebagainya, itu semua tertulis dalam kertas-kertas kecil dan kemudian dikubur di kebun mereka. Miracle happens ! Entah keajaiban dari antah berantah, di malam yang sama, seorang anak bernama Timothy (CJ Adams ) keluar dari lubang tempat mereka mengubur kertas-kertas kecil itu. Mereka pun meng’adopsi’ Timothy dan memeperlakukan seperti anak sendiri. Namun, ternyata Timothy mempunyai misi untuk mengubah hidup mereka dan mempunyai rahasia yang tidak mau ia ceritakan.

“The Odd Life of Timothy Green has pleasant cast, though it doesn’t help the story to be too odd and strange, less magical (not exactly it is supposed to be).”

Kesalahan yang pertama dari film ini sebenarnya adalah mungkin kesalahan setting waktu untuk sebuah cerita yang berbau “miracle”. Keajaiban disini sepertinya kurang bisa bersinergi dengan hal-hal modern seperti mobil, kemudian handphone, dan lain-lain. Jika film ini bersetting lebih ke zaman-zaman 1980an (paling tidak) mungkin cerita tidak akan terkesan aneh dan ganjil. Storyline yang begitu “naive” dan polos sepertinya kurang menyatu dengan kondisi setting-an yang serba modern walaupun untuk sebuah genre “family” tentu saja film ini sudah memenuhi kriteria dan memberikan banyak message yang bagus. Kesalahan atau mis-setting inilah yang membuat film ini menjadi kurang magic ditambah dengan cerita yang tanpa didasari atau dilatarbelakangi oleh suatu legenda atau fairytale di belakangnya membuat penonton merasa “Who’s Timothy Green, really ?”, apakah dia hanyalah seorang anak yang datang dari antah berantah ???

Thanks to Jennifer Garner, Joel Edgerton dan CJ Adams (walaupun sepertinya juga sedikit miscast, bukan dari segi karakter, namun sepertinya anak ini terlalu besar) yang membuat film ini menjadi enjoyable dan menyenangkan. Garner dan Edgerton mempunyai chemistry kuat satu sama lain, walaupun kurang dapat menyajikan sebuah drama yang klimax di akhir film, kurangnya adanya bond yang melibatkan perasaan antara hubungan orang tua dan anaknya ini. Karakter Timothy yang harusnya juga menjadi karakter kunci dan powerful di film ini mengalami underdeveloped dengan menjadikan karakternya innocent, face like angel namun kurang memberikan “bekas” kepada penonton. Terima kasih juga dengan cara penceritaan yang flashback sehingga penonton tetap terjaga dan penasaran bertanya “apakah yang sedang terjadi ?” sampai akhir film walaupun masih predictable

Untuk film yang membawa Disney dengan rating PG tentu film ini membawa banyak mesaage positif yang dapat dinikmati kalangan anak-anak dan orang tua seperti you must belive in your son, you must believe in miracle, stay in bright side, and all craps like that. Dengan segala kekurangannya, film ini masih menjadi sebuah film manis dan hangat dengan sajian visual yang cantik dengan beberapa scene yang menghadirkan indahnya musim gugur.

Trivia

Sandra Bullock menolak peran Cindy, yang kemudian diperankan oleh Jennifer Garner.

Quote

Jim Green : He’ll score the winning goal.