2013

Breathe In (2013) is Melodious Seduction, What a “Crack an Egg, without Breaking The Yolk” !

Director :  Drake Doremus

Writer :  Drake Doremus

Cast : Felicity JonesGuy PearceMackenzie DavisAmy Ryan 

“One day, you’ll be free.” – Sophie Williams

Image

source : impawards.com

(REVIEW) Breathe In seperti judulnya berusaha untuk menggambarkan sesuatu yang asing untuk masuk dengan cara yang sangat lembut, se-biasa mungkin. Dan seperti “bernafas”, sesuatu yang asing itu tidak pernah dipaksakan untuk masuk. And it did.

Dari awal film, keluarga Reynold digambarkan sebagai keluarga yang bahagia dengan senyum lebar di sesi foto yang sedang mereka jalani. Guy Pearce yang seorang musisi (Guy Pearce), seorang ibu yang begitu mengayomi (Amy Ryan), dan anak yang begitu berprestasi (Mackenzie Davis). Ketika seorang siswa dari London melakukan pertukaran pelajar, keluarga inilah yang menyediakan tempat tinggal untuk Sophie (Felicity Jones). Namun, sepertinya kehadiran Sophie ini akan merubah arti senyum keluarga ini di awal film tadi.

Movie with open arms, kehadiran Sophie memang ditunggu sejak awal, walaupun Guy Pearce pada awalnya menunjukkan gelagat ketidak-antusiasnya. Berbeda dengan Lauren yang rela berbagi tempat tidur, atau Ibunya yang bahkan sudah menganggap Sophie sebagai anaknya sendiri (she even shows Sophie her secret cookie jar). Masuk ke dalam keluarga baru, Sophie diperankan dengan tenang oleh Felicity Jones. Berperan sebagai siswa Inggris memang bukan hal baru untuk Jones setelah film Like Crazy yang menjadi salah satu film terbaiknya. Tenang namun tidak dingin, sosok Sophie begitu penasaran dengan masing-masing anggota keluarga ini, namun orang yang paling menyita perhatiannya hanyalah Guy Pearce, suami yang terjebak pada pekerjaan dan ter-underestimate oleh keluarganya. Ketika music menjadi one thing in common untuk mereka berdua, baik Guy Pearce atau Felicity Jones pun merubah karakternya menjadi lebih fragile, lebih seductive satu sama lain. Kehebatan mereka berdua adalah bagaimana mereka menciptakan sebuah diferensiasi dalam berakting namun transisinya tidak terlalu kasar, sangat-sangat halus.

Felicity Jones mampu memerankan siswa berumur sekitar 18-an dengan usianya yang terlampau cukup tua yaitu 30 tahun, namun sama sekali tidak ada unsur ketuaan. Sophie merupakan karakter yang benar-benar membuka sensitifitasnya dengan dunia luar, juga berusaha melakukan denial namun tidak ingin terkesan munafik juga dengan apa yang ia rasakan. Secara konsisten pula, Guy Pearce menimpali apa yang dirasakan Felicity Jones, sebagai simbol sebuah seorang kepala keluarga yang terbayangi oleh otoritas istri, sekaligus kehilangan otoritas itu yang kemudian berubah menjadi sebuah dissatisfaction dalam bekerja ataupun berumah tangga. Keith yang diperankan Guy Pearce akhirnya menemukan sebuah angin segar ketika seseorang eeperti Sophie mengapresiasinya. Di sisi supporting actress, baik Amy Ryan dan Mackenzie Davis juga memberikan sebuah sense of welcome yang cukup kuat, membuat semua tindak tanduk Sophie dan Keith ini menjadi berkali-kali terlihat lebih filthy (walaupun tidak sepenuhnya terlihat demikian).

Bersetting di New York, namun jauh dari hingar bingar kota. Scene-scene seakan-akan dibuat adem, dingin selayaknya bersetting di sebuah lake house. Ditambah dengan kombinasi hujan, dedaunan yang dishot indah, shaking camera yang memperkental sisi indie, sisi natural film ini menjadi sebuah sisi yang kontras antara visualisasi yang tenang dengan karakter-karakter yang begitu fluktuatif, internally. Ditambah dengan beberapa alat musik yang dimainkan, film ini begitu melodic dan menyejukkan.

Dibandingkan dengan Like Crazy yang juga begitu natural (bahkan dalam plot-nya), mungkin Breathe In sedikit lebih banyak mendapatkan treatment dramatisasi lewat beberapa coincidence yang vital untuk plot (which is still weird for this kind of naturalistic movie) atau langsung intense-nya affair kecil Jones dan Pearce walaupun terpentok screentime yang sangat terbatas. Cracking the egg, without breaking the yolk. Hmmm, film ini memang mengolah konfliknya dengan sangat sabar. Kesabaran ini ternyata mampu membuka satu demi satu celah yang terdapat pada keluarga baik-baik ini, menunjukkan bahwa setiap karakter tidak baik-baik. Selain itu, film ini juga tidak ingin meninggalkan “damage” yang terlalu besar. No real sexual activity untuk affair Jones dan Guy, yang sedikit “janggal” untuk film demikian walaupun memang sepertinya hubungan Jones dan Guy sangat dipengaruhi dengan karakter Sophie dan pamannya yang baru saja meninggal. Oleh karena itu resolusi film ini juga terlihat simple dan masuk akal, karena memang damage yang Sophie lakukan tidak terlalu “membahayakan”. Tidak membahayakan namun membangunkan. Setelah hampir sepanjang film dilihat dari perspektif Sophie, di akhir film, film ini meng-ekspansi bagaimana “damage” ini mempengaruhi ke empat karakter (which is another “connecting the dots-coincidence).

Film Breathe In berhasil menyajikan sebuah drama yang merasuk dan mengembangkannya sebagai sebuah affair kecil diantara karakter yang terjebak, bingung dan ingin bebas. In the end, life is choice. (B-)

Advertisements

Anchorman 2 : The Legend Continues (2013), First Class “Great Odin’s Raven” Jokes, Less Newsy Backup Story

Director : Adam McKay

Writer : Will FerrellAdam McKay

Cast : Will FerrellChristina ApplegatePaul RuddSteve CarellDavid KoechnerMeagan GoodJames MarsdenKristen WiigGreg Kinnear

“By the hymen of Olivia Newton-John ! – Ron Burgundy

(REVIEW) Komedi dari kerajaan Judd Apatow memang selalu layak untuk ditunggu, walaupun belakangan komedinya tidak terlalu sukses baik secara komersil ataupun secara kualitasnya, mulai dari The Five Year Engangement dan This is 40. Anchorman 2 : The Legend Continues merupakan sebuah sekuel yang memang layak ditunggu mengingat film pertamanya dikatakan sukses besar dan salah satu indikasi baik untuk sekuel ini, sekuel ini tidak pernah dibuat terburu-buru hanya untuk memenuhi kebutuhan komersial.

Salah satu yang membuat Anchorman pertama cukup berhasil adalah kehadiran Veronica Corningstone (Christina Applegate) yang mampu mengimbangi kekuatan komedi dari teman-teman aktor lainnya yang memang sudah diragukan lagi jiwa lawaknya. Namun, sepertinya salah satu kunci keberhasilan tersebut tidak ingin direpetisi. Yeah, memang harus ada yang dikorbankan ketika cerita harus berkembang. Salah satunya, hubungan Ron Burgundy dan Veronica Corningstone yang terpaksa mulai dibatasi untuk mengekspansi cerita baru. Corningstone dan Burgundy telah menikah dan memiliki seorang anak, keduannya juga masih bekerja sama sebagai penyiar berita hingga akhirnya bakat Corningstone tidak terbendung lagi dan membuatnya dipromosikan. Wew ! Classic problem. Naiknya Corningstone ini membuat Burgundy akhirnya dipecat dan tidak lagi menjadi newsanchor.

First 30 minutes is state of euphoria. Tiga puluh menit pertama dari sekuel ini merupakan bagian terlucu dan membuat penggemar merasa bangga memiliki sebuah komedi dengan sekuel yang menunjukkan indikasi keberhasilan. First class R rated jokes pun ditebar disepanjang 30 menit ini salah satunya lewat pengenalan kembali teman-teman Burgundy. Ketika sebuah statsiun televisi menerapkan sebuah inovasi baru yaitu 24 jam full news, Burgundy direkrut dan mengajak teman-teman lamanya, Champ Kind (David Koechner), Brick Tamland (Steve Carell) dan Brian Fantana (Paul Rudd). Whoops, dan tentu saja Baxter yang bisa dikatakan re-casting paling identik di sepanjang sejarah film (kidding). Pengenalan kembali karakter-karakter kocak ini menjadi sebuah ajang reuni menyenangkan dengan jokes-jokes cerdas, terutama jokes franchise yang dilontarkan Champ Kind tentang “chicken of the cave”, that’s just top notch.

Kredibilitas dan validitas logic yang menjadi salah satu sisi menarik di predesesor-nya pun mulai dihadirkan ketika keempat tokoh pembaca berita ini plus Baxter pun mengalami sebuah kecelakaan epic pengundang tawa, yang akhirnya mengakhiri 30 menit paruh pertama. If, it’s just for 30 minutes, I am gonna give this movie, an easy A.

Kehadiran Harrison Ford di 30 menit pertama merupakan sebuah awal mengapa Anchorman 2 memang layak dilabeli dengan star studded comedy of the year, yeah tentu saja tidak lepas dari nama kerajaan Judd Apatow yang memang telah memiliki reputasi. Jejeran pemain pendukung pun diperkenalkan di newsroom untuk menandingi Burgundy dan kawan-kawan, mulai dari Jack Lime (James Marsden) seorang newsanchor andalan yang menjadi rival utama Burgundy, Linda Jackson (Megan Good) atasan wanita ambisius kulit hitam yang sepertinya ditugaskan untuk menggantikan porsi dari Christina Applegate sebagai love interest Burgundy, Chani Lastname (Kristen Wiig) yang menjadi love interest Brick. Berbicara tentang Brick, transformasi Steve Carell dari sekedar pemain pendukung menjadi leading actor serta keberhasilan reputasi Brick di film sebelumnya sepertinya membuat karakter “bodoh” ini adalah tokoh yang paling dikembangkan, disamping Burgundy itu sendiri. Paruh kedua ini memang sedikit mengalami penurunan lucu dibandngkan awal film. Oh yeah, I almost forgot there’s appearance of Greg Kinnear as Gary, but it’s just “let’s forget it”.

News rejuvenization (rejuvenization, is that a word ?), salah satu sisi yang impressing dari Anchorman 2 adalah bagaimana film ini dengan pintar (walaupun secara asal) mengolah setting waktunya yang retro dan memperlihatkan kepada penonton perkembangan dunia berita dari yang konvensional beralih ke modern, seperti awal mulanya breaking news, sampai acara news yang dibuat kurang strick dan lebih entertaining. Jika Anchorman pendahulunya memang berkonsentrasi dengan dunia kompetisi di ruang berita antara Burgundy dan Corningstone, sekuelnya dipenuhi dengan drama-drama kurang berhubungan (dan sepertinya kurang penting) walaupun masih diselingi dengan jokes-jokes R rated yang selalu ditunggu, walaupun tingkat kelucuannya sudah menunjukkan tingkat kelelahan.

Kehadiran James Marsden, Megan Good, serta Kristen Wiig sudah cukup komikal walaupun tidak tereksplor sepenuhnya karena terbatasnya screentime semakin menambah kelemahan film ini, yeah wasted supporting actors, ditambah dengan Paul Rudd, David Koechner, dan Steve Carell yang mulai dinonaktifkan secara perlahan menambah penonton harus berkonsentrasi dengan drama dari Burgundy. Sebenarnya bukan menjadi masalah ketika cerita ini bisa memback-up ledakan scrambled jokes, namun sepertinya drama non news ini kurang bisa membuat Anchorman bercerita tentang Burgundy sebagai anchorman, bukan hanya sebagai satu individu saja.

Setelah serangkaian catastrophe tidak lucu, Anchorman 2 kembali ke bentuk awalnya. Sebuah adegan perang antar news team, yang merupakan repetisi adegan dari film selanjutnya, merupakan salah satu kejutan di film ini karena melibatkan cameo bintang-bintang Hollywood mulai dari Tina Fey, Amy Poehler, Jim Carey, Sacha Baron Cohen, Marion Cotillard, Kristen Dunst, Will Smith, Liam Neeson, dan ditutup dengan kehadiran final dari Vince Vaugh. It’s just EPIC.

Anchorman 2 : The Legend Continues merupakan sebuah sekuel yang tidak mengkhianati nature dari predecessornya, ditambah dengan jajaran pemain utama dan pendukung berbakat serta lawakan khas Burgundy yang membuat originalnya begitu menyegarkan. Hanya saja pada titik tertentu, jokes ini sudah kelelahan tidak peduli lagi sebagaimana menarik substance didalamnya, dan tanpa adanya sebuah line cerita yang cukup newsy untuk dinikmati. Tetapi secara keseluruhan Anchorman 2 bukanlah sebuah sekuel yang sepenuhnya gagal, sekuel ini lebih tepatnya sebuah selebrasi dengan banyak aneka rasa. Nice try, anchorman !

In Fear (2013) Betrays Its Human Instinct, Compensates with Constant Nailbitting Thriller

Director : Jeremy Lovering

Writer : Jeremy Lovering

Cast : Iain De CaesteckerAlice EnglertAllen Leech

“We’re just getting ourselves in a panic and it’s stupid.” – Tom

(REVIEW) In Fear memberikan sebuah suguhan thriller menarik dengan durasi 80 menit, dan ajaibnya, setiap scene berlalu dengan meninggalkan sensasi tersendiri. Film ini bercerita tentang pasangan muda, Lucy (Alice Englert) yang berencana mengikuti sebuah festival di Irlandia namun mengalami perubahan rencana setelah paca dua minggunya, Tom (Iain De Caestecker) mengajaknya untuk menginap di sebuah hotel yang masih jelas keberadaannya. Keduanya pun memasuki hutan yang tidak terjangkau satelit, menembus hutan demi hutan, dan mengikuti arah panah yang menunjukkan jalan ke arah hotel. Ketika hari mulai gelap, keduannya pun sadar bahwa mereka hanya berputar-putar di hutan yang lebih mirip dengan labirin hingga satu demi satu teror pun harus mereka alami, membawa mereka ke ketakutan yang lebih dalam.

In Fears betrays its human instinct, yeah, hal ini memang bukan hal yang baru untuk sebuah thriller. Membuat awalan film ini serasa mediocre dari film serupa. Sebuah alarming stage untuk sesuatu ketakutan atau kengerian namun hal tersebut tetap diterobos oleh karakter. Alarming stage ini memang sudah dibangun secara intens dari awal film, hingga titik pertama mereka meninggalkan “peradaban manusia”, yaitu adegan di pub yang dipercepat karena adegan inilah yang akan menjadi materi puzzle di sepanjang film.

Setelah Alice dan Tom meninggalkan bar, cerita mulai melakukan penetrasi karakter dengan uhm, mungkin bisa kita sebut dengan gender stereotyping. Karakter Alice dan Tom adalah dua karakter berbeda yang menghadapi satu bentuk awal konflik dengan reaksi yang berbeda pula. Tom lebih digambarkan sebagai karakter yang arrogant dalam menyetir, no matter what he’s not gonna consider woman’s opinion. Digambarkan sebagai karakter yang ngeyel, sok tahu, Tom diperankan secara versatile oleh Ian De Caestecker. Karakter Tom inilah karakter yang paling well developed dibandingkan karakter yang lain. Mengimbangi kekuatan lawan mainnya, Lucy (yang secara fisik mengingatkan pada aktris Ellen Page) sudah mulai menunjukkan gejala ketidaknyamanan-nya terhadap situasi yang ada, yeah, she’s well aware, mencoba untuk keluar dari labirin namun selalu dipatahkan oleh Tom. Interaksi antar keduannya ini cukup menyenangkan untuk disimak.

Wait until dark, yeah, itulah yang dilakukan film ini. Untuk beberapa waktu, film ini memang berputar-putar saja ke dalam labirin yang entah dimana jalan keluarnya. Belum ada teror yang menyerang secara nyata, hanya beberapa adegan klise yang mewarnai untuk memompa adrenalin penonton seperti alarm mobil yang tiba-tiba berbunyi sendiri, dan juga seseorang yang tiba-tiba menyergap Lucy dari belakang (it’s Tom, of course).

Cerita mulai berkembang ketika teror yang lebih nyata mulai menyerang mereka, dan seseorang yang misterius yang mereka tabrak tiba-tiba masuk mobil dan mulai “menyegarkan” suasana. Yeah, dia adalah Max (Allen Leech). Ketiganya kemudian menelusuri hutan yang secara fisik memang menakutkan ditambah dengan cahaya yang mulai minimal. Kebingungan, kekhawatiran mulai merambat naik ketika hutan ini menjadi semakin familiar, sebuah pertanda bahwa memang mereka hanya berputar-putar disitu-situ saja.

(MAYBE SPOILER)
Kemudian Max bertindak sebagai sebuah trigger yang membuat film ini akhirnya menjadi sebuah film yang berbuah manis. Teror labirin ini tidak ingin hanya menakut-nakuti lewat beberapa aksinya, namun lebih tepatnya “teror labirin” ini ingin menguji reaksi karakter ketika ketakutan berada di dalam diri mereka. Disinilah mengapa judul film ini “In Fear” akhirnya menjadi sangat masuk akal. Lucy dan Tom kemudian diuji hubungan singkat mereka lewat tindakan-tindakan ektrem yang pastinya nailbitting namun kemudian berhasil membelokkan tindakan ini menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mengungkap karakter Lucy dan Tom yang sebenarnya. Life is all about choice.

Film ini memang membiarkan beberapa pertanyaan mendasar dari penonton tidak terjawab, mengenai motif, apa yang sebenarnya terjadi di pub, sampai ending film ini. Ambiguitas ini mungkin akan menyebabkan penonton ter-polarized, beberapa akan sangat kecewa, dan beberapa malah akan bertanya-tanya dalam tanda kutip “menyukainya”. Tidak semua puzzle terselesaikan, namun dikompensasi dengan final act yang mengingatkan kita pada film Eden Lake “the ending is not favorable but it gives audience a final thing to be remembered.

And the last scene will prove which character who’s really stupid. Thought provoking movie ? Checked.

Oldboy (2003) Versus Oldboy (2013) : Ask Why This Movie Needs A Remake (or Not) ?

Director :Chan-wook Park (original) ; Spike Lee (remake)

Writer : Garon Tsuchiya (manga), Nobuaki Minegishi (manga), Chan-wook Park (original) ; Mark Protosevich (remake)

Cast : Min-sik ChoiJi-tae YuHye-jeong Kang (original) ; Josh BrolinElizabeth OlsenSharlto Copley (remake)

(REVIEW) Remake selalu mempunyai peluang untuk mendapatkan skeptism dari para pecinta film, terlebih lagi jika film yang akan diremake merupakan film yang tergolong “ideal” untuk para fansnya. Salah satunya adalah film Oldboy, film yang diadaptasi dari manga Jepang dan merupakan bagian dari trilogy Vengeance Park Chan Wook.

Seorang laki-laki, Joe/Dae-Su (Josh Brolin/Min-sik Choi) tiba-tiba dipenjarakan oleh orang yang tidak dikenal, tanpa alasan, tanpa penjelasan, selama jangka waktu yang sangat lama (versi remake 20 tahun, versi original 15 tahun). Dia diberi makan, diberi hiburan berupa sebuah televisi, diberi fasilitas, hingga akhirnya ia dibebaskan, tanpa alasan, tanpa penjelasan juga. Joe/Dae-Su pun bertemu dengan seorang gadis yang merasa simpati, care, dan perhatian dengan keadaannya, Mary/Mido (Elizabeth Olsen/Hye-jeong Kang). Mereka berdua pun bekerja sama untuk memecahkan teka-teki yang ada sampai akhirnya sang pemenjara menampakkan batang hidungnya, Adrian/Woo Jin (Sharlto Copley/Ji Tae Yu). Dengan ancaman akan membunuh anak Joe/Dae Su, Adrian/Woo Jin memberikan tantangan kepadanya untuk mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, teka-teki inilah yang akan mengarah ke sesuatu yang lebih besar dan mengerikan. Ask not why you were imprisoned, ask why you were set free.

Jika predikatnya memang sudah “remake”, sebenarnya scene to scene pun tidak menjadi masalah, contohnya pada Let Me In yang sukses membuat versi Holywood Let The Right One In, atau mungkin bahkan Carrie yang menerapkan hal serupa namun masih memberikan sentuhan-sentuhan barunya. Lee’s Oldboy melakukan beberapa scene to scene namun lupa untuk memberikan sesuatu yang fresh (tidak harus baru) terhadap originalnya, bahkan fatalnya lagi bisa dikatakan remake ini malah mengalami pengerutan dari originalnya.

Let’s judge this movie…

“Ambitiously unpassionate remake for hilariously darkly bizzare original.”

Dua film mendapatkan treatment eksekusi yang berbeda, jika versi originalnya lebih dikatakan sebagai hilariously bizzare version, versi remake-nya lebih cenderung pretentious to be darker version. Pendekatan yang lebih mediocre untuk remake didukung dengan screenplay yang lemah jika dibandingkan dengan versi originalnya yang kaya dengan umpan-umpan humor disana-sini. Jika originalnya lebih compelling, sekaligus lebih kaya, remake ini terkesan terlalu “teragenda” oleh cerita yang sudah ada, membuat setiap scene adegan menjadi “Act one, done ? Okay wrap it up. Act two, done ? Okay wrap it up. Act three, done ? Wrap it up.” Tidak usah jauh-jauh membandingkan scene yang berbeda, untuk scene yang sama pun, lets say kita mengambil adegan bertarung keroyokan, yang ternyata sangat berbeda rasa. Versi original terdapat sentuhan humor dan action, sedangkan versi remake-nya, that is the ridiculous action scene. Lagi, adegan sex, untuk versi original sangat terasa sisi passionate-nya, untuk remake-nya, meeeh !

Dari awal film saja, Oldboy (2013) sudah melakukan pergeseran tentang konsep hubungan anak dan ayah, mungkin ter-americanized. Landasan bagaimana seorang ayah menyayangi anaknya menjadi sangat penting terutama ketika hampir di sepanjang film ini, film ini berkisah perjuangan sang ayah untuk mendapatkan kembali sang anak (terutama untuk versi remake-nya). Dae-Su is an asshole, but he still care with his daughter, Joe is an asshole and he seems “less” care with his daughter.

Oldboy (2003) memiliki durasi 20 menit lebih panjang daripada versi remakenya, namun dari ke-efektifan penggunaan durasi, Oldboy langsung masuk ke jalan cerita, langsung masuk ke sisi “imprisonment” dari karakternya, ketimbang berkonsentrasi pada tetek bengek yang harus dialami Josh Brolin di awal film.

Josh Brolin vs Min-sik Choi, tidak usah dulu melihat dari segi akting-nya, ketika kita melihat bagaimana Min-sik Choi mengunyah gurita hidup-hidup sudah terlihat komitmen dari aktor yang satu ini. Jika dibandingkan, mungkin akan terjadi perbedaan yang begitu jauh mengingat pendekatan kedua film ini pun juga berbeda. Josh Brolin lebih seriously dark, dengan ekspresi mukanya yang cenderung lebih banyak diam dan memberikan gurat ekspresi dendam yang menggebu-gebu. Tidak bisa dikatakan jelek juga, namun hanya ukuran standar bagaimana kita melihat Josh Brolin dipenjara selama 20 tahun. Berbeda dengan Min-sik Choi yang mampu bertransformasi dari ridiculous guy menjadi darkly ridiculous guy, tidak segan-segan memberikan ekspresi konyol disertai dengan voice-over yang begitu absorbing dengan keadaannya ditambah dengan sentuhan humor, kita bisa melihat bagaimana frustasinya Dae-Su ini dipenjara selama 15 tahun.

Oldboy 1

The girl, Elizabeth Olsen vs Hye-jeong Kang, keberadaan karakter Mary atay Mido merupakan sebuah sisi yang sangat krusial. Ternyata, bagaimana “menjerumuskan” karakter ini ke jalan cerita pun menjadi sangat menarik untuk diamati. Mido lebih “reasonable” untuk masuk ke jalan cerita ketimbang Mary yang terlihat seakan-akan langsung masuk sebagai friendly stranger yang tentu saja too good to be true untuk cerita seperti ini. Mido juga digambarkan sebagai karakter yang innocent namun masih memiliki sisi misterius untuk Dae-Su ketimbang Mary yang lebih bersifat seperti karakter netral.

Oldboy 2

The villain, Sharlto Copley vs Ji Tae Yu, kelemahan lagi untuk Oldboy (2013) yang tokoh villain-nya lebih terjebak pada style untuk berakting ketimbang lebih meng-eksplor untuk masuk ke dalam karakter seperti yang dilakukan Ji Tae Yu. Sisi yang sangat sayang ketika Sharlto Copley malah tampil “lembek” dibandingkan dengan Ji Tae Yu yang lebih sadis dengan caranya tersendiri.

Tentu saja tidak mudah untuk me-renew sebuah jalan cerita, mengganti gaya dan nafasnya, apalagi kemudian jika dikaitkan jalan cerita juga berhubungan dengan teknologi. Disinilah sebenarnya Oldboy (2013) memiliki kesempatan untuk lebih membungkus “twist revelation”-nya dengan nafas baru. Penggunaan media, manipulasi sang tahanan, yeah sedikit banyak memberikan nafas baru walaupun sebatas twist revelation-nya saja.

Oldboy 3

Kemudian kita berbicara tentang endingnya, Oldboy (2013) seakan-akan terburu-buru dalam membungkus final act-nya, plus sisi thought provoking yang terdapat pada originalnya benar-benar seakan dihilangkan, berubah menjadi sebuah ending dengan final act yang sekadarnya dan standar.

Oldboy adalah film yang sangat kuat baik dari segi substance dan juga stylenya, sangat disayangkan jika remake-nya terkesan begitu “almost zero effort”. Sebuah remake yang malas.

If I have to choose, yeah Oldboy (2013) > Oldboy (2003) (but you need to hit me with a hammer, a huge one.) dan dikembalikan ke pertanyaan di judul review ini, yeah, sepertinya remake belum dibutuhkan sebenarnya untuk film original yang sudah kepalang jenius, fresh story, shocking twist.

Never Over The Hill and Wrinkleproof Performances : Nebraska (2013), Philomena (2013), and Gloria (2013)

“Meryl Streep, so briliant in August Osage County, proving that there are still great parts in Hollywood for Meryl Streeps over 60.” – Tina Fey joked on Streep in this year Golden Globe.

Yeah, hal ini tentu saja bisa dikatakan sangat benar, dan tidak hanya berlaku untuk Meryl Streep. Para aktor dan aktris yang sepertinya tidak ingin mendekati kata pensiun ini malah mendapatkan pujian atas performance mereka di usia mereka yang sudah tidak muda lagi. Berikut beberapa film yang menampilkan aktor atau aktris dengan penampilan “ageless” mereka. Nebraska dan Philomena masuk ke dalam nominasi Best Picture Oscar tahun ini, Gloria juga merupakan official submission untuk Oscar dari negara Chili, banyak yang memprediksi film ini akan berhasil menembus nominasi walaupun sepertinya hal itu tidak terjadi.

Director : Alexander Payne

Writer : Bob Nelson

Cast : Bruce DernWill ForteJune Squibb

Life is a long road, life is cruel, sepertinya inilah yang terlintas di pikiran ketika melihat Woody Grant (Bruce Dern) terlihat berjalan di kejauhan dengan niatan pergi ke Nebraska untuk mengambil hadiah berupa satu juta dollar yang ia menangkan dari sebuah majalah. Woody yang bekas tentara perang ini sepertinya “tidak mengerti” ketika David (Will Forte), anaknya, dan Kate (June Squibb), istrinya ingin menyadarkan bahwa hal tersebut hanya strategi marketing saja. Ketika David melihat sang ayah terus bertekad meng-claim hadiahnya, ia pun bersedia mengantarkan sang ayah walaupun tanpa persetujuan Ibunya. Perjalanan yang seharusnya menjadi road trip singkat ini pun menjadi kesempatan anak-ayah untuk menghabiskan waktu bersama dan juga membuka masa lalu sang ayah ketika mereka mengunjungi kampung halaman sang ayah.

“I always associate something serene with boredom, but luckily, not Nebraska”

Pertama kali melihat film ini, langsung pertanyaan yang terlintas adalah mengapa film ini harus dihadirkan dalam warna hitam putih ? Pertanyaan ini terus menerus terngiang di kepala hingga akhirnya menemukan satu jawaban. Simplicity. Yeah, kesederhanaan berusaha dihadirkan oleh film ini lewat pilihan warna terbatas, karakter-karakter yang bisa dikatakan “dekat” dengan kehidupan kita sehari-hari namun dikemas menjadi sebuah sajian yang menghangatkan hati. Atmosfer yang serene, calm, damai ini sekan-akan berjalan beriringan dengan energi yang yang tidak muda lagi, berkaitan dengan jalan cerita. Bisa dibayangkan, nuansa hitam putih, manula, road trip, yeah sepertinya sesuatu yang membosankan bukan ? Namun, tidak untuk Nebraska. Lewat packaging yang cenderung simple ini, film ini mampu menghadirkan sebuah sajian tentang hubungan ayah dan anak yang terkesan biasa saja namun sebenarnya penuh dengan fokus tentang sisi kehidupan.

Tentu saja, penggambaran tentang “hidup” ini tidak akan dirasakan oleh penonton jika penonton tidak merasa dekat ataupun merasa real dengan karakter-karakter yang terlihat. Disinilah, penggambaran karakter oleh screenplay yang disediakan Bob Nelson mengambil peran. Tidak perlu karakter yang aneh-aneh, Bob Nelson memulai karakter di filmnya mulai dari bentuk yang paling sederhana kemudian disertakan layer-layer yang demi sedikit terbuka membuat karakter-karakter ini tidak terasa dangkal.

Anak dan ayah yang memang bisa dikatakan berbeda generasi ini merupakan representasi dari dua karakter yang berbeda. Tidak hanya dari segi umur, namun tentu saja dari cara pandang mereka. Biasanya anak digambarkan sebagai karakter yang immature, namun Nebraska sepertinya ingin membalik hal tersebut. Woody Grant selayaknya “anak kecil” yang harus diawasi, disupervisi oleh sang anak, terus-terusan, dan benar-benar menguji kesabaran dan juga kematangan sang anak. Peran David, yang dilakoni komedian SNL Will Forte ini merupakan karakter yang sangat pas, sabar namun tidak terkesan terlalu sabar, masih dibatas wajar. Kehadiran David sebagai tokoh berbakti ini merupakan wujud bagaimana Nebraska menarik karakter Woody ke dalam realita namun dengan cara yang sangat halus dan tidak kurang ngajar.

Who’s the old fellas ?
Bruce Dern, aktor berusia 77 tahun ini mampu hadir sebagai seorang alkoholik yang terkesan powerless, namun stubborn dalam waktu yang bersamaan, tidak banyak bicara dan menampilkan sisi harapan dari film ini, beberapa ekspresi terkesan “clueless by aging” dan penonton seakan-akan ditantang untuk menebak apa yang sebenarnya berada dalam pikirannya, namun tetap berada dalam level “reasonable”. Clueless namun juga harus tetap tampil meyakinkan, sepertinya karakter yang satu ini merupakan karakter yang rumit dan juga tidak akan bisa direpresentasikan oleh aktor yang lemah, tidak sebuah kejutan jika Bruce Dern memang layak dinominasikan dalam Oscar tahun ini. Karakter inilah yang memiliki banyak layer masa lalu yang harus dikupas perlahan oleh sang anak.

Another fella, June Squibb, aktris 84 tahun ini memiliki peranan penting dalam cerita dan bisa dikatakan mewakili sisi “neglectful” yang harus diterima oleh Woody Grant. Penuh dengan sisi negatif, termasuk mulutnya yang tidak sebanding dengan umurnya, namun juga diimbangi dengan sisi keibuan, sisi yang menyeret Woody ke realitas dengan kasar namun tetap relevan. Kate Grant adalah ibu yang memiliki cara tersendiri untuk menyayangi anak-anaknya. June Squibb is the perfectly fit actress for this role.

Bittersweet memory, alasan lain mengapa film ini berada dalam warna hitam-putih mungkin karena film ini mengupas masa lalu Woody, membawa lagi Woody ke masa lalu. Selayaknya sebuah kanvas yang telah dilukis, kemudian dihapus, kemudian berusaha dilukis dengan gambar yang sama, scene dimana Woody mengunjungi rumah masa kecilnya merupakan scene nostalgia yang terasa sangat hidup di tengah space-space usang rumah kosong. Scene lmenghibur dan kocak juga dihadirkan lewat adegan pencurian kompresor yang tidak hanya lucu, namun juga manis dalam waktu yang bersamaan. Film ini pintar dalam menghadirkan sisi kemedinya, membawa penonton ke arah serius kemudian mengejutkan penonton dengan adegan lucu tersebut, membuat adegan-adegan ini menjadi sesuatu yang “unexpected”. Kesempatan mengeksplor hubungan ayah dan anak inipun dimaksimalkan dan ditutup dengan ending menyentuh, masih terasa “unexpected” namun tetap real.

Kembali lagi, Nebraska merupakan sajian sederhana dengan energi yang “properly” on-beat, masuk ke dalam penonton dengan karakter nyata, serta jalan cerita yang menyentuh.

Director : Stephen Frears

Writer : Jeff PopeSteve Coogan

Cast : Judi DenchSteve Coogan

Mother’s love is forever. Yeah, mungkin itulah yang dilakukan oleh Philomena Lee (Judi Dench) selama 50 tahun terakhir memikirkan anaknya yang hilang, atau lebih tepatnya lost contact karena operasi sebuah gereja. Philomena muda harus rela anaknya diadopsi tanpa tahu siapakah sang pengadopsi, dan sama sekali tidak ada informasi yang bisa membawanya ke anaknya, Anthony. Sementara itu, seorang jurnalis baru saja kehilangan pekerjaannya, Martin Sixthman (Steve Koogan) dan berniat untuk menerbitkan buku, hanya saja ia belum yakin benar cerita apa yang akan ia angkat. Ketika ia bertemu dengan Philomena, ia pun mau menjembatani Philomena untuk menemukan anaknya dengan “syarat” cerita Philomena ini bersedia untuk dipublish. Perjalanan mencari anak yang telah hilang selama 50 tahn ini pun menjadi serangan demi serangan hati Philomena sebagai seorang ibu.

“As strong as its steel-y story.”

Jila ditilik kembali, Philomena bisa dikatakan merupakan nominasi Best Picture yang paling “dalam” diantara yang lainnya. Yeah, hal ini disebabkan mungkin Philomena sedikit banyak menyinggung masalah “konsep keimanan” yang dihubungkan dengan “pertanyaan tentang agama”. Sama seperti Nebraska, Philomena merupakan road trip (hanya saja dengan pesawat) yang menghubungkan dua karakter bertolak belakang dalam satu waktu. Philomena dideskripsikan sebagai penganut katholik yang baik sedangkan Martin Sixthman digambarkan sebagai seseorang yang kritis dan penuh pertanyaan tentang agama dan membuatnya memang terkesan tidak percaya dengan keberadaan Tuhan.

Menarik ? Yeah, menarik, sisi menarik dari Philomena adalah sebuah cerita yang kuat (sangat kuat) untuk diceritakan, powerful, disertakan dengan banyak elemen penting yang sangat serius seperti faith, religion, sins, namun kemudian dikombinasikan dengan unsur humor dan charm yang berasal dari screenplay yang ditulis sendiri oleh Steve Koogan. Walaupun pendekatan tone yang “lebih dark” juga akan tetap masuk untuk cerita yang seperti ini, namun tone yang tidak melupakan sisi menghibur ini merupakan sajian yang ternyata cocok juga disajikan dengan sesuatu yang “sangat” serius. Tone ini membuat film ini malah terasa personal dan real untuk menceritakan sebuah cerita yang mungkin jika orang mendengar tidak akan percaya dengan kebenarannya.

Who’s the old fella ?
Siapakah yang tidak mengenal Judi Dench, paling tidak semua orang pernah melihatnya sebagai M di franchise James Bond. Di usianya yang hampir menginjak 80 tahun, Judi Dench masih saja mengambil peran-peran dalam film, walaupun memang sepertinya pilihannya semakin terbatas. Judi Dench sebagai Philomena merupakan performer paling subtle, disejajarkan dengan Sandra Bullock, untuk nominasi Best Performance in Leading Role Oscar tahun ini. Tidak hanya subtle, Judi Dench memberikan penampilan paling “heartbreaking” sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya selama 50 tahun, dan terus-terusan merasa bersalah akan hal tersebut. Beberapa moment, Judi Dench memberikan silent performance, in controll, dan memberikan kesempatan untuk penonton untuk meng-interpretasikan perasaannya ketimbang ia harus berkoar-koar terlalu powerful memainkan karakter Philomena. Sebuah penampilan yang bijak, terutama ketika Philomena selayaknya karakter tameng dan penetral untuk membuat film ini tidak terkesan depresif. Philomena selalu memberikan sisi positif terhadap setiap serangan yang diakibatkan dari pencarian ini. Judi Dench juga memang pada dasarnya memiliki natural charm yang membuatnya tidak harus memberikan ekspresi lucu untuk menyampaikan sesuatu yang lucu. Sama halnya dengan penampilannya sebagai Evelyn di The Best Exotic Marigold Hotel, Judi Dench tidak perlu mengeluarkan otot, urat untuk memberikan penampilan yang terbaik. She’s just wise like her character.

Salah satu hal yang paling disukai adalah bagaimana film ini turut menyelipkan potongan-potongan scene tentang anak Philomena, Anthony, selayaknya proyektor yang bermain sendiri di kepala Philomena, men-sugestikan bahwa anaknya baik-baik saja. Yeah, I like this thing, basically, we are just living projector, right ?

Crowd pleaser, memang sepertinya film ini crowd pleaser, namun dengan embel-embel “Based on True Story”, film ini mengangkat dirinya sendiri untuk menjadi meyakinkan. Ketika sebagian besar film mengeluarkan tensi-nya di ending film, ending film ini seperti kegiatan relaksasi tentang apa yang sudah terjadi di sepanjang film. Banyak pelajaran berharga yang di dapat dari film ini, sesuatu yang terkesan klise namun ditampilkan dengan meyakinkan. Salah satunya adalah tentang forgiveness, untuk memberikan sebuah penggambaran yang lebih luas, reaksi antara karakter Martin Sixthman dan Philomena merupakan sesuatu yang menarik untuk disimak.

It’s not about searching a person, it’s about searching a person in your mind, because that is the only thing that matters. Film ini bukanlah sebuah pencarian seseorang, oleh karena itu film ini memang tidak terlalu investigatif (yeah, it’s not detective movie). Film ini lebih berkutat pada proses pencarian ini yang menekankan pada hubungan Philomena dan juga Martin Sixthman sebagai dua orang yang berbeda yang menanggapi sesuatu yang sama. Cerita kemudian lebih merasuk ke dalam pikiran Philomena, bagaimana kemudian ia harus terus menerus menyelaraskan ekspektasi yang ada di pikirannya dengan realita yang sudah ada.

Director : Sebastián Lelio

Writer : Sebastián LelioGonzalo Maza

Cast : Paulina GarcíaSergio Hernández

Okay, dibandingkan dengan Judi Dench atau Bruce Dern mungkin Paulina Gracia bisa dikatakan “muda” jika dilihat dari usianya yang masih berada pada rentang 50-an. Namun, sepertinya di Holywood sekalipun, aktor aktris yang telah berumur diatas 50-an juga sudah mulai pilah-pilih peran yang mungkin lebih cocok atau pantas dengan usianya. Namun, berbeda dengan Paulina Gracia disini.

Gloria (Paulina Gracia), seorang janda yang telah ditinggalkan oleh anak-anaknya dan memiliki cara tersendiri untuk mengatasi kesendiriannya. Ia masih berpesta, ia masih saja berdansa, ia juga masih berkencan, melakukan yoga, ke salon, di umurnya yang sudah menginjak 58 tahun. Gloria juga menjalani kehidupannya dengan rutin, malam berpesta, siang bekerja, kemudian tidur di tempat tinggalnya yang sempit. Gloria sepertinya mulai menemukan energi mudanya ketika ia bertemu dengan duda, Rudolfo (Sergio Hernandez) yang masih memiliki ketergantungan dengan mantan istri dan kedua anaknya. Hubungan mereka pun menginjak ke tahap demi tahap, dan Gloria pun harus menghadapi masalah di tengah fisiknya yang tidak muda lagi.

“Crazily mundane, but not pathetic. It’s like a day with Gloria.”

Gloria merupakan sebuah portrayal seorang wanita yang masih memiliki energi untuk melakukan segala sesuatu. I said “masih” instead of “terjebak”, karena, yes, it’s crazily mundane, namun apa yang coba digambarkan Gloria bukanlah bentuk sebuah ketidakmatangan seorang perempuan, namun lebih ke sebuah lifestyle yang memang ingin dijalani oleh perempuan berusia 58 tahun ini.

Who’s the old fella ?
Pathetic ? I don’t find it pathetic. It’s not crisis. Gloria lebih masuk ke dalam sebuah karakter yang menjalani hari-harinya di tengah segala masalahnya, ketimbang sebuah karakter yang mengalami “bullying” dari segi cerita yang membuat karakter ini merasa dikasihani. Di sisi inilah mungkin, Gloria begitu berbeda dengan film-film dengan cerita yang serupa. Disinilah yang spesial, Gloria tidak akan sukses tanpa kehadiran seorang Paulina Gracia yang sangat “lebih dari cukup” untuk membawa beban energi di sepanjang film. Walaupun usianya baru sekitar 55 tahun, namun komitmen yang diberikan oleh Paulina Gracia melebihi dari aktris-aktris yang mungkin sudah berada pada rentang usia yang sama. Nudity ? She’s totally into it sampai beberapa scene yang masih memerlukan vitalitas dari fisik Paulina yang sudah tidak muda lagi.

Gloria merupakan sebuah film yang benar-benar ingin menikmati sebuah proses penceritaan. No shortcut. Film ini memang tipikal film-film festival dan memang tidak diperuntukkan untuk semua orang. Setiap scene dilakukan dengan sangat sabar, setiap scene menceritakan setiap detail dari kehidupan Gloria tanpa harus memasukkan setiap motif dalam setiap scene-nya. Sisi ini membat Gloria memang terkesan nyata, jujur, namun di sisi lain, untuk penonton yang tidak sabar, Gloria mungkin hanya akan dianggap sebagai sebuah sajian yang membosankan.

Gloria juga selayaknya character study singkat yang tidak ingin show-off, lewat penyajian dua karakter berbeda yang memiliki tingkat kedewasaan emosi yang berbeda walaupun berada dalam rentang usia yang sama. Karakter Rudolfo adalah karakter yang mungkin hanya akan hadir di masa muda Gloria, he’s a douchebag, tidak stabil, dan memanfaatkan keberadaan Gloria. Perwakilan dua orang usia lanjut ini merupakan bentuk penggambaran yang unik.

This movie is not for everybody, but still a good portrayal for one unique woman.

So that’s it, beberapa film yang menampilkan performer yang tidak muda lagi namun masih memberikan penampilan yang maksimal dengan cara mereka masing-masing. If I have to grade it, Philomena > Nebraska > Gloria

Concussion (2013) : Yum or Yuck ? Escapism of Wife, Mother, Lesbian, Middle Age, and Escort

Director : Stacie Passon

Writer : Stacie Passon

Cast : Robin Weigert, Maggie Siff, Johnathan Tchaikovsky, Julie Fain Lawrence

“It’s still a yum, I like the unique blend of drama and its comedy (though it’s not comedy, but Golden Globe said a movie which makes you laugh is a comedy, so basically it’s a comedy.)”

Yeah, berbicara tentang middle life crisis, kemudian digabungkan dengan tema lesbian, ditambah dengan status penikahan pasangan lesbian, dan kemudian perselingkuhan, kemudian dampaknya terhadap pernikahan. Yeah, seperti itulah Concussion akan bercerita. Pernahkah kita melihat sebuah ruangan yang begitu rapi, indah, dan edgy ? Berwarna smooth grey, terasa nyaman, terasa begitu menenangkan namun kemudian setelah kita melihat lebih dalam, kita merasa banyak sisi ruangan yang terasa kosong ? Seperti itulah Concussion.

Diawali dengan scene “when you’re forty, you choose your ass, or you face”, menunjukkan bahwa terdapat sisi perubahan yang akan dijalani seseorang ketika ia berumur 40 tahun, jika dikaitkan dengan wanita, tentu saja hal ini akan dikaitkan dengan penampilan dan penampilan. Tidak sebuah kejutan, jika film ini memang diawali dengan para “hot mom” yang sedang melakukan beberapa olahraga untuk menjaga penampilan mereka. Perubahan ini kemudian seperti menonjok ke muka Abby (Robin Weigert) ketika ia mendapatkan sebuah kecelakaan yang menyebabkan wajahnya berdarah, dan dari sinilah perubahan seorang Abby berawal.

Abby, seorang ibu rumah tangga biasa, tanpa pekerjaan, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mengurusi rumah dan menjemput anak-anaknya terlihat mulai jenuh dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke pekerjaannya sebagai seorang interior designer. Ternyata pekerjaan barunya ini sama sekali tidak merubah kesepiannya, karena pasangan lesbiannya Kate (Julie Fain Lawrence) terlihat capable mencukupi segala kebutuhan namun dari segi waktu ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Alhasil, kehidupan sex mereka pun berubah menjadi zero. Untuk mencukupi kebutuhannya yang satu ini, Abby pun melakukan “hubungan” dengan orang lain, dan ia sangat merasa bersalah akan hal itu. Untuk meluapkan rasa bersalahnya ini, ia bercerita dengan rekannya Justin (Johnathan Tcaikovsky) yang malah seakan-akan menjerumuskannya pada titik yang lebih dalam tentang perselingkuhan. Kate diperkenalkan dengan seorang “mucikari”, The Girl, yang memberinya kesempatan untuk menjalani petualangan barunya sebagai escort yang melayani wanita-wanita yang lebih muda.

Berbicara tentang lesbian parent, tentu saja kita akan mengingat The Kids are Allright beberapa tahun yang lalu. Jika film tersebut bisa dikatakan berkonsentrasi ke “dalam keluarga”, lain lagi dengan film ini. Concussion berkonsentrasi pada petualangan sex yang dilakukan Abby dan terlalu berkutak-kutik dengan karir barunya ini. Petualangan sex ini sayangnya tidak diimbangi dengan substance yang membuat film ini lebih terisi untuk penonton. Jika menganggap film ini sebagai film erotic, maka sisi ini bisa dikatakan terlalu tanggung mengingat sisi erotic ini tidak terlalu ditampilkan (yeah, harus mau tidak mau harus dikaitkan dengan jumlah nudity atau keekstreman adegan sex yang tidak terlalu menonjol di film ini). Scoring yang digunakan juga akan mengingatkan kita pada erotic thiller semacam Chloe, sebuah scoring yang bisa dikatakan terlalu haunting namun tidak juga merepresentasikan sisi danger atau menegangkan dari sebuah film thriller (yeah, mengingat film ini memang termasuk dalam genre drama). Berasal dari genre drama inilah, sepertinya scoring di film ini terasa “inappropriate.”

Berbicara tentang genre film ini, terdapat beberapa sisi hal unik. Film ini bisa dikatakan menambahkan bumbu-bumbu komedi lewat beberapa adegan dan juga dialog yang termasuk cerdas, namun tidak mencoba terlalu keras untuk melucu. Yeah, it’s unique combination. Thanks to its decent screenplay. Hasil kombinasi sisi komedi ini ternyata menuai hasil yang begitu positif, film ini menjadi tidak terlalu depresif, membuat 90 menit lebih bisa dilalui dengan lebih mudah.

Talking about character, Robin Weigert harus mampu menampilkan karakter wanita yang memiliki range yang sangat luas. Di awal film, ia hanyalah istri biasa dengan sisi keibuan dan kesepiannya, namun seiring berjalannya film, ia harus mampu menjadi seorang escort yang seksi dan terus-menerus menanyakan apa yang ia mau. Satu yang spesial adalah transisi karakter Abby ini. Salah langkah karakter ini akan jatuh menjadi kurang natural ataupun kurang dipaksakan. Salah satunya lewat sisi normal seorang Abby yang tidak ingin mengambil client-nya secara sembarangan, namun mereka harus bertemu dengan ngobrol terlebih dahulu. Robin Weigert memiliki kemampuan untuk menjalani setiap sex scene nya dengan diferensiasi yang membuat film ini lepas dari kata monoton. Ada masa di saat ia berbuat awkward, ada saat ia mencoba menjadi escort yang lebih baik, hingga akhirnya ia bisa menjadi seorang escort yang mampu meng-handle client-nya. Lagi, dan lagi, film yang lebih berkonsentrasi pada petualangan baru Abby ini akhirnya menemui titik jenuh di sepertiga paruh terakhir, yeah, ketika penonton mulai menginginkan sesuatu yang lebih dibandingkan adegan sex dengan ini, adegan sex dengan itu. Sempat terjadi tensi di adegan petualangan Abby, ketika seorang karakter bernama Sam (Maggie Siff) datang membawa misteri dan “ancaman”nya sendiri, dan sisi inipun akhirnya diredam mengingat lagi, film ini bukanlah film erotic thiller.

Sampailah penonton pada final act-nya, disinilah baru sang sutradara sekaligus penulis menambahkan perspektif baru tentang sebuah relationship. Karakter Kate menjadi karakter kunci yang membuat film ini tidak berakhir tidak terlalu buruk. Masih ada sisi-sisi baru untuk penonton terhadap kehidupan wanita di usia 40 tahunan bersama dengan pasangan mereka.

Trivia
Di Berlin memenangkan Teddy Award untuk film tentang Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender.

Quote
Kate : Please, put something on.

Honey, I Shrunk The Kids : The Ant Bully (2006), The Secret World of Arrietty (2010), and Epic (2013)

Okay, salah satu film yang paling diingat saat kecil adalah Honey I Shrunk The Kids, yeah. Suatu kali film ini pernah ditayangkan di sebuah televisi (when our television station was pretty decent), and it actually changed my world. Konsep dari film ini sebenarnya sudah sangat tertera pada judulnya, seorang ayah ilmuwan tanpa sengaja menyusutkan badan anak-anaknya. Masalah terjadi ketika anak-anak ini kemudian harus berjuang kembali ke rumah dengan melewati hutan rimba penuh bahaya yang tidak lain tidak bukan adalah kebun belakang rumah mereka sendiri. Mereka bertemu dengan kupu-kupu raksasa, jamur raksasa, bahkan juga sampai semut raksasa. When I was six or something, that was fucking awesome.

So, I watched some movies with the same storyline, this is it….

Director : John A. Davis
Writer : John A. Davis, John Nickle
Cast : Julia Roberts, Nicolas Cage, Zach Tyler, and Meryl Streep

About
Film apa yang dibayangan kita ketika mendengar kata semut, dan juga animasi, yeah, mungkin Antz, namun film ini juga mengeksplor kehidupan semut dan juga koloninya. Lucas (Zach Tyler), seorang anak yang sebenarnya kurang mendapatkan perhatian lebih orang tuanya, dan juga dibully oleh teman-teman sebayanya, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak-abrik sebuah koloni semut di depan rumahnya. Tanpa disangka, koloni semut tersebut memiliki peradaban, mereka bisa berbicara, mereka memiliki ilmu pengetahuan, termasuk magic. Hingga saat suasana sudah darurat, salah satu semut, Zoc (Nicholas Cage) kemudian membuat sebuah potion yang menyusutkan tubuh Lucas, and BAM !!! Lucas yang nakal pun menjadi sekecil mereka, dan atas keputusan Queen (Meryl Streep), Lucas pun harus belajar untuk menjadi bagian dari koloni dengan arahan seekor semut optimis, Hova (Julia Roberts).

“Well crafted, full of message, but almost nothing special.”

Okay, film animasi mungkin sangat cocok untuk anak-anak karena penuh dengan message moral atau pun banjir dengan kebaikan, seperti kerjasama, tidak boleh egois, tidak boleh nakal, dan sebagainya, dan sebagainya. Untuk film animasi yang ditujukan untuk anak-anak, film ini bisa dikatakan sebagai sebuah film yang sangat sukses. Namun, bagaimana untuk orang dewasa ? Yeah, film ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, dialog-dialognya juga tergolong cukup lucu, namun tidak terlalu lucu, cukup pintar, namun tidak terlalu pintar. Salah satu yang menarik perhatian mungkin pengisi suara yang termasuk aktor aktris yang sudah tidak diragukan lagi. Julia Roberts, Nicholas Cage dan juga Meryl Streep berada di pengisi karakter-karakter utama. Namun disinilah sepertinya sumber kekecewaan yang lain, bahkan seorang aktor aktris peraih Oscar atau bla-bla bla, terkadang juga hanya standard-ly perform di film dimana mereka hanya bisa mengandalkan suara mereka. Yeah, untuk Nicholas Cage dan Meryl Streep sedikit masih bisa mempertahankan karakter suara asli mereka and that is a good thing, namun untuk karakter Hova yang disuarakan Julia Roberts sepertinya benar-benar separuh kehilangan karakter istimewa Julia Robert. Yeah, I like this actress pronounce every word with her upper lips in live action movie, namun sepertinya di film ini, jika kita menutup mata, kita akan sulit menebak jika suara ini adalah suara Roberts.

Elemen of wonder, yeah I got this term, karena sepertinya film dengan jalan cerita seperti ini memiliki kekuatan untuk mengeksplor dunia yang kecil namun familiar, kemudian dibandingkan dengan dunia normal yang tiba-tiba menjadi raksasa. Yeah, The Ant Bully tidak sepenuhnya memanfaatkan elemen yang satu ini karena mungkin kebanyakan setting di koloni semut ketimbang di rumah Lucas, namun untuk beberapa scene, film ini masih mengeksplor hal tersebut.

Giant antagonist, pasti selalu karakter orang normal yang menjadi karakter antagonist di film ini. Yeah, film ini menyertakan kakak Lucas dan juga neneknya sebagai karakter yang sering kali mengganggu, bukan mengancam. Karakter mengancam hadir lewat The Exterminator yang merupakan karakter antagonist utama karena mengancam keberadaan koloni ini. He’s so ambitiously menacing but not impressing. Yeah, tipikal antagonist biasa. Sisi ini mungkin bisa dikatakan terlalu pasif, dan sengaja untuk tidak mendominasi cerita.

Sisi yang menariknya adalah sepertinya kurang menyenangkan untuk melihat sebuah film tentang binatang, bahkan binatang ini bisa berbicara namun terdapat beberapa adegan “pembunuhan binatang”, I don’t know why I found it very harsh, not for children maybe, but for adult. Beruntungnya, The Ant Bully tidak terlalu jauh masuk dalam genre fantasy, cukup dengan semut yang berbicara, kemudian mereka juga menyertakan binatang-binatang lain, seperti nyamuk, tawon yang juga bisa berbicara, tanpa tambahan karakter fantasy yang kurang natural ataupun terlalu aneh.

Director : Hiromasa Yonebayashi
Writer : Mary Norton, Hayao Miyazaki
Cast : Saoirse Ronan, Tom Holland, Olivia Colman (english cast)

Sama seperti The Ant Bully, film ini juga berdasarkan pada sebuah buku dan dengan tangan dingin studio Gibli untuk menyediakan animasinya, maka film ini memang sangatlayak untuk ditonton.

Mungkin istilah “Honey I Shrunk The Kids” kurang tepat untuk film ini. Film yang bergenre fantasy ini memang bercerita tentan dua kehidupan yang memang sudah berbeda. Sho, seorang anak laki-laki biasa dengan ukuran normal dan Arriety, seorang gadis mungil kecil yang hidup secara rahasia di sekitar rumah Sho. Sho harus menghabiskan hari-harinya di rumah masa kecil ibunya karena ia mengidap sebuah penyakit yang membuatnya membutuhkan sebuah suasana yang tenang dan damai. Ketenangannya mulai diusik ketika ia mulai beberapa kali memergoki orang-orang kecil atau yang disebut dengan Borrower. Borrower ini adalah sebuah legenda tentang orang-orang kecil yang suka meminjam barang-barang seperti gula, jarum, dan lain sebagainya untuk bertahan hidup. Salah satu Borrower aalah Arriety yang hidup bersama ibu dan juga ayahnya. Arriety yang “orang baru” dalam menjalankan misi bertahan hidup, beberapa kali harus kepergok oleh Sho dan akhirya menjalin persahabatan dengannya. Sayangnya, persahabatan ini juga harus mengancam keluarga dan “spesies”-nya yang mulai langka dan akan punah.

“Simple but beautiful.”

Yeah, jika dibandingkan dengan The Ant Bully dan juga Epic, mungkin The Secret World of Arriety paling tradisional dari segi visualnya, but it’s Gibli, GODDAMN IT. Dari visual yang terlihat tradisional ini malah film ini terlihat indah dalam balutan yang sederhana, terlihat klasik dan juga old school.

Ceritanya pun dibuat tidak macam-macam. Hanya tentang relationship antara manusia dan manusia mini, namun dikemas dengan banyak sisi charming sekaligus mendalam untuk kedua karakter utamanya. Untuk film animasi, Arriety dan juga Sho bukanlah karakter yang terlalu komikal, they are actually like real character. Yeah, dalam artian, karakter ini termasuk karakter yang kompleks untuk ukuran sebuah karakter yang direpresentasikan oleh sebuah gambar. Sho adalah anak laki-laki yang kesepian, juga kurang perhatian, diperlakukan secara spesial, dan bisa dikatakan karena penyakitnya, ia mulai menutup dunianya, lebih gelap lagi terkadang Sho juga harus menghadapi kematian yang mungkin akan menjemputnya setiap saat. Kontras dengan Arriety, gadis kecil ini penuh dengan keingintahuan akan dunia yang baru, seorang petualang, dan juga mempunyai sisi “membangkang” dengan kedua orang tuanya yang cenderung konservatif. Hubungan yang aneh pun mereka jalani, sebuah persahabatan yang begitu kontras antara dua karakter yang penuh dengan keterbatasannya masing-masing. Film ini cukup berhasil mengeksplor hal ini, membuat film ini tidak hanya menyenangkan dan full message untuk anak-anak, namun juga menjadi film  yang menghibur sekaligus terkadang menyentuh untuk orang dewasa.

Element of wonder, siapa bilang dengan animasi tradisional, sisi yang satu ini menjadi lemah. Keingintahuan dan karakter Arriety yang selalu amaze dengan dunia barunya  menjadi salah satu kekuatan film ini untuk benar-benar mengolah bagaimana karakter kecil ini harus hidup di dunia yang besar. Sebuah perjalanan meminjam gula, menjadi rangkaian adegan yang menghibur karena mereka harus melewati meja yang super tinggi, kemudian terjun dari meja yang super tinggi pula. Bagaimana keluarga Arriety memanfaatkan barang-barang di sekitarnya untuk rumah mereka juga sangat menarik. Untuk film dengan cerita seperti ini, The Secret World of Arriety benar-benar tahu kekuatannya.

Giant antagonist, tidak ingin terlalu ambisius dalam menciptakan karakter antagonist. Antagonist disini cukup seorang perawat rumah yang dengan segala upaya “juga” ingin menangkap orang-orang kecil ini namun dengan cara-cara yang masih biasa dan juga alami, namun tanpa melupakan sisi mengancamnya.

Dengan karakter yang dalam dan juga menyenangkan, sekaligus pendekatan yang lebih sederhana, film ini merupakan film yang tahu benar kekuatannya.

Director : Chris Wedge
Writer : William Joyce, James V. Hart
Cast : Amanda Seyfried, Josh Hutcherson, Beyoncé Knowles, Colin Farrell, Jason Sudeikis, Christoph Waltz

Hmmm, dari creator Ice Age (hmmm, not pretty good indicator, walaupun Ice Age adalah guilty pleasure yang selalu ingin ditonton), Epic bercerita tentang MK (Amanda Seyfried) yang berkunjung ke rumah ayahnya yang sedikit gila, Professor Bumba (Jason Sudeikis). Sebenarnya tidak terlalu gila, karena ia mempercayai peradaban orang-orang kecil yang hidup di tengah hutan, dan benar. Queen Tara (Beyonce Knowles) adalah ratu yang senantiasa menjaga hutan dan dalam waktu dekat akan menyerahkan kekuatannya dan memilih seorang leader yang baru. Beruntungnya, konflik antara Leaf Man yang dipimpin Queen Tara dengan Mandrake (Christoph Waltz) semakin menjadi ketika Mandrake tahu bahwa akan ada pengalihan kekuatan Queen Tara lewat sebuah pod. Di tengah pertempuran pun, Queen Tara terpaksa menyerahkan pod-nya ke MK yang seketika mengecilkan badannya. MK-pun harus bertempur dengan waktu untuk menyelamatkan pod dan seisi hutan dengan bantuan para tentara Leaf Man,  Nod (Josh Hutcherson) dan Ronin (Colin Farrel).

“Not quite epic fail, but yes, it is quite epic boredom.”

Too crowded. Sepertinya film ini tidak terlalu bisa memenuhi janjinya seperti yang tertera pada judulnya. Epic bisa dikatakan terlalu biasa diatas misinya yang terlalu “epic”. Terlalu banyak karakter, dengan terlalu banyak interaksi dan hubungan namun tidak ada satu hubungan antar karakter yang bisa diolah dengan dalam, semuanya berakhir dengan level nanggung, seperti hubungan Ronin dengan Queen Tara, hubungan MK dengan Nod, hubungan Nod dengan Ronin, hubungan MK dengan ayahnya, terlalu banyak yang ingin dicakup namun akhirnya berakhir biasa saja tanpa meninggalkan bekas untuk penonton.

Film ini diawali dengan scene yang sangat familiar untuk film serupa, yaitu MK yang berkunjung ke rumah ayahnya yang jauh di entah berantah, kemudian disertai dengan perkembangan plot yangg berjalan lambat sepertinya film ini sudah membosankan sejak awal pertama film mulai.

Yeah, mungkin disinilah salah satu masalah animasi, lebih mengutamakan nama besar ketimbang menyuarakan karakter suaranya menjadi berkarakter (salah satu sisi mengapa lebih suka pengisi suara Pixar yang lebih masuk karakter walaupun pengisi suaranya kadang tidak terlalu kita kenal). Nama besar seperti Beyonce Knowles, Christoph Waltz, bahkan komedian Aziz Ansari tidak ada yang bisa menyuarakan karakternya dengan ciri khusus, ditambah dengan Amanda Seyfried dan Josh Hutcherson sepertinya bagian voice-acting tidak terlalu inspirational.

Element of wonder, film ini memang tidak berfokus pada dunia kecilnya mengingat film ini terlalu masuk pada genre fantasy dengan banyak makhluk-makhluk baru yang aneh. Dibandingkan ketiga film, film ini adalah film yang paling lemah di sisi ini. Kemampuan ‘orang-orang kecil” ini untuk menjelajahi dunianya juga “too epic to be true”, mereka bisa melompat dengan sangat tinggi, bahkan dengan mudahnya mengendarai burung, membuat Epic selayaknya Journey to The Center of The Earth versi animasi.

Giant antagonist hampir tidak ada di film ini, karakter ayah MK juga terlalu “clueless” untuk mengetahui keberadaan orang-orang kecil ini, hasilnya karakter antagonist memang sepenuhnya berada di tangan Mandrake, karakter antagonist yang terlalu general dan terlalu “been there done that.”

Epic terlalu gagal untuk memenuhi narasi awalnya yang mengutarakan untuk “look closer”, secara visual memang menyenangkan walaupun juga tidak terlalu spesial, tidak lebih dari itu.

In the end, untuk film dengan storyline hampir serupa, The Secret World of Arriety > The Ant Bully > Epic.

Blue Caprice (2013) : Sniper Attacks Dramatization, Tutor – Chess Prodigy Grown Up Bonding Time

Director : Alexandre Moors

Writer : R.F.I. Porto

Cast : Isaiah Washington, Tequan Richmond

About
Blue Caprice merupakan film yang menggambarkan tragedi mengerikan yang terjadi di Amerika Serikat melibatkan beberapa insiden penembakan terhadap orang-orang yang dipilih secara acak dan juga terjadi di berbagai area seperti Maryland, Virginia dan juga Washington DC. Film yang dipremierkan di Sundance 2013 ini menceritakan kehidupan sang sniper yang menjadi tersangka utama.

Film ini diawali dengan courtesy berbagai penembakan di-insertkan dengan berbagai panggilan 911 tentang berbagai insiden penembakan. Hmm, sound convincing. Kemudian film mengalami flashback di 5 bulan yang lalu, tepatnya di kepulauan Karibia ketika seorang anak remaja Lee (Tequan Richmond) ditinggalkan begitu saja oleh sang Ibu, ia kemudian bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat kebapakan, John (Isaiah Washington) dan memutuskan untuk pergi bersamanya. Lee yang begitu penurut akhirnya mau menuruti segala keinginan “ayah angkatnya” setelah mengetahui bahwa John telah dipisahkan secara paksa dengan anak-anak yang sangat dicintainya. John, yang bekas army, tahu benar bagaimana mengakses untuk mendapatkan senjata setelah ia melihat bahwa Lee mempunyai bakat alami untuk menjadi seorang sniper. Disinilah “proyek” keduannya berjalan, menembaki orang-orang secara acak, mengubah motif dari misi personal ke sebuah misi yang lebih besar, yaitu meruntuhkan sistem Amerika Serikat.

“When pills finally kick, which is in the last 30 minutes, it’s priceless.”

Okay, untuk yang belum pernah browsing film ini seperti apa, sepertinya sensasi dalam menonton film ini lebih didapat. Diawali dengan footage tragedi, film ini terlihat meyakinkan untuk awalan menceritakan sebuah tragedi (sepertinya pendekatan yang sama yang dilakukan Fruitvale Station). Kemudian adegan flashback meninggalkan penonton benar-benar menjadi clueless. Film ini sebenarnya tentang apa, dan juga mau dibawa kemana. Adegan pertemuan Lee dan John berjalan sangat alami, begitu juga dengan interaksi dan perkembangan hubungan mereka. Naturalnya adegan di paruh pertama membuat film ini terlihat tidak pretentious untuk menjadi sebuah film thriller, ataupun terlihat ambisius dengan menampilkan sebuah tone film yang biasa, tanpa mencoba untuk menjadi darkish-darkish atau bagaimana. Sama seperti tipikal film indie,memang diperlukan kesabaran dalam menonton film ini. Plot berjalan dengan sangat lambat dan juga banyak scene yang perlu untuk diinterpretasikan sendiri. Yeah, film ini sebuah film yang sangat sabar.

Berbicara tentang karakter, terdapat hal yang sangat bertolak belakang antar dua karakter utama. John lebih digambarkan sebagai seorang ayah yang open book. Ia terbuka dengan Lee, ia menyayangi Lee namun ia juga tahu benar bagaimana menyeret Lee ke dalam sisi kriminal. Lee lain lagi, seorang anak yang kebanyakan diam, no talkactive, ia bisa diibaratkan sebagai blank pages yang siap ditulis apa saja oleh John. Dilihat dari performance yang biasa, John dan Lee ini sama-sama membawa sisi misterius. John dengan misi dan masa lalunya, sedangkan Lee yang bisa dikatakan seperti efek bola salju yang makin lama makin berbahaya dan berbuat nekat. Lagi, dn lagi film ini tidak terlalu membentuk karakter utamanya menjadi terlalu ambisius. Untuk ukuran seorang sniper dan juga cold blooded killer, film ini membuktikan sisi “manusia biasa” dari seorang kriminal yang berhasil dipertunjukkan dibandingkan menjadi sok-sokan menunjukkan sisi “pembunuh” untuk mendukung unsur genre film ini. Yeah, inilah kelebihan film indie, lebih memiliki cerita untuk diceritakan secara lebih “natural” ketimbang menambahkan banyak “dramatisasi”dan juga gimmick atau tetek bengek yang tidak perlu.

Lee adalah sebuah karakter yang sulit terutama ketika karakternya lebih banyak diam. Yeah, high tolerance untuk Tequan Richmond jika hampir sepanjang film karakternya direpresentasikan sebagai karakter yang datar. Namun, terdapat sisi lain dari seorang John ketika menghadapi sebuah feeling selepas membunuh. Tidak ada scene yang merepresentasikan sebuah gejolak batin (atau apalah) dari seorang John. Yeah, I translate it as he got neutral feeling after he killed somebody, maybe he’s natural born killer (no judging). Karakter  Lee yang diperankan bland ini kemudian terlihat sangat ganas ketika 5 menit terakhir dari film ini, sebuah scene interview dirinya dengan seorang wanita, membuktikan bahwa Tequan Richmon memberikan layer untuk penampilannya, for the last scene, he really nailed it.

John, sebagai otak dibalik semua tragedi, juga digambarkan sebagai orang biasa. Not quite super megamind. He got pain, he got compassion. Namun, yang paling penting adalah kharisma sebagai seorang ayah yang bisa men-trigger Lee melakukan berbagai penembakan mengerikan.

Maybe, there’s something missing or he has no choice. Suatu lubang menganga terdapat di film ini, yeah tidak lain tidak bukan adalah free will dari seorang Lee mungkin terlihat kurang dieksplor membuatnya benar-benar seperti boneka kayu yang digerakkan oleh John. It’s killing people, goddamn it. It’s big deal. Sisi ini menunjukkan apakah Lee benar-benar terlalu bodoh untuk berjuang “lepas” dari cengkeraman John, atau hanya karena dia tidak mempunyai banyak pilihan.

Kunci film ini adalah bersabarlah, bersabarlah. Yeah, mungkin kunci untuk menonton kebanyakan film indie. I like sniper. Yeah, adegan 30 menit terakhir bisa dikatakan sangat thrilling dan juga price-less. Bagaimana seorang sniper memutuskan KAPAN untuk menekan pelatuk senjatanya memang sangat intens dan menegangkan (the last time I watched good sniper’s shooting scene was Jack Reacher’s).

Image

source : www,wikipedia.com

In the end, film ini merupakan sebuah tayangan yang sabar dalam melakukan storytelling-nya. Gripping in the end, walaupun sisi emotional impact seorang sniper mungkin kurang bisa dipertunjukkan. Yeah, namun mengetahui pergeseran motif penembakan, dari motif personal beralih ke sebuah motif yang lebih besar, that is something new and fresh (tentu saja tanpa terlihat terlalu ambisius dan pretentious).

Oh yeah, I even didn’t realize that this movie is actually a biopic.

Trivia
Just for your information, John dieksekusi lewat lethal injection pada tahun 2009 lalu. Tujuh tahun setelah insiden penembakan.

Quote
Lee : Where’s my father ?