Channing Tatum

Annual List (2014) : Best Performances and Best Pictures

2014 memang sudah berakhir satu, hampir dua bulan yang lalu. Dan, dengan semangat menonton satu demi satu film, akhirnya berikut inilah sepuluh film terbaik, dengan lima penampil terbaik di masing-masing kategori, dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Trust me ! Menyortir film dengan banyak treatment yang berbeda mulai dari film yang mulai kabur karena ditonton awal tahun, film yang masih terlihat bagus karena baru saja ditonton, film yang mulai menaikkan impresi dengan multiple viewing, dan juga sebaliknya, sampai pendapat yang terkadang harus diakui terpengaruh dari buzz ekternal.

(more…)

Advertisements

Foxcatcher (2014) : Bennett Miller’s Exponential Factor for Transformative, Complex, Horrid Story

Director : Bennett Miller

Writer : E. Max Frye, Dan Futterman

Cast : Steve Carell, Channing Tatum, Mark Ruffalo

(REVIEW) Kalimat bijak : tak ada aktor yang buruk, yang ada hanyalah aktor yang belum mendapatkan peran yang tepat (I made it up or I read it somewhere :p), mungkin itulah yang menggambarkan film Foxcatcher. Siapa yang sebelumnya percaya Channing Tatum bisa akting – our dancing boy ?!!, walau beberapa bulan ke belakang ia semakin menunjukkan range-nya sebagai aktor, kemudian siapa yang percaya Steve Carell juga bisa akting ? Komedi, mungkin, dramatis ? Nyatanya ia masih terjebak pada peran family guy-nya. Beruntungnya, mereka berdua mendapatkan kolaborator sekelas Bennett Millers, seseorang yang notabene mengantarkan Phillip Seymour Hoffman pada salah satu performa terbaiknya sebagai Truman Capote, dan seseorang yang mengantarkan Jonah Hill pada nominasi Oscar pertamanya.

Mark Schultz (Channing Tatum) – menjalani fase terberat dari seorang atlet yang pernah berjaya : terlupakan dan kurang dihargai. Ketika ia berbicara sebagai speaker di sebuah sekolah berbicara tentang etos semangatnya, hal ini sangat berbanding terbalik ketika saat itu dia hanya seseorang yang mengalungi medali, tidak lebih dari itu. Hidup kurang dari cukup, sangat terlihat Schultz memiliki kemarahan yang begitu besar dalam dirinya, termasuk saat ia melampiaskannya kepada kakak yang selalu mengerti – Dave Schultz (Mark Ruffalo) – yang juga merupakan seorang atlit gulat. Ketika Olimpiade tinggal menunggu bulan, sementara persiapan latihan belum maksimal, Mark mendapatkan telepon dari billionaire, philanthropist, philatelist, ornitologis, John DuPont (Steve Carell) yang siap menyediakan segala fasilitas untuk Mark untuk meraih mimpi kembali mimpinya, good dreams, bad dreams.

(more…)

22 Jump Street (2014), Yin Yang Works, “Exactly The Same” – Jinx with No Diminishing Return Effect

Director : Phil LordChristopher Miller

Writer : Michael BacallOren Uziel

Cast : Channing TatumJonah HillIce CubeWyatt RussellAmber Stevens

(REVIEW) Berawal dari “nobody gave a shit” dengan pendahulunya, 22 Jump Street mengawalinya dengan “sceptism of a sequel” dan memenuhi hal tersebut dengan hasil berkebalikan – alias sangat memuaskan. Sutradara sama : Phil Lord, Christopher Miller (yang mulai mengukuhkan diri seperti “healthy spicy formaldehyde (??)” : supposed to be rotten meatball, tv to movie adaptation, and lego based flick), screenwriter yang sama, dan duo yang sama, cerita yang sama, apa yang diharapkan kecuali “Everything is awesome. (if you’re fan of its predecessor).

22 jump street

source : imdb.com

(more…)

Side Effects (2013) : A Girl (With (No) Dragon Tattoo) Story with Pill’s Delusion

Director : Steven Soderbergh

Writer : Scott Z. Burns

Cast : Rooney Mara, Jude Law, Catherine Zeta-Jones, Channing Tatum

About

Sukses dengan banyak karya yang sebagian besar mendapat respons positif ternyata tidak membuat sutradara peraih Oscar, Steven Soderbergh,  berpuas diri.  Sutradara ini menjatuhkan pilihannya terhadap Rooney Mara sebagai leading lady, aktris yang langsung melejit namanya setelah penampilannya sebagai Lisbeth Salander di remake The Girl With The Dragon Tattoo. Kali ini Mara tidak akan berperan sebagai hacker gothic yang sarat dengan potongan rambut aneh atau tindik disana-sini, kali ini ia hanyalah Emily, seorang istri yang menunggu suaminya kembali dari penjara, Martin (Channing Tatum). Setelah empat tahun ditinggal suaminya, kembalinya sang suami sama sekali tidak mengobati depresi yang telah dialaminya. Berharap suatu hari ia akan kembali masa depan, Emily pun mengunjungi psychiatrist, Dr Jonathan Banks (Jude Law), dan atas rekomendasi rekannya, Dr Victoria Siebert (Catherine Zeta Jones), Emily pun mulai mengonsumsi sebuah pil yang akan mengubah hidup keempat orang ini. One pill can change your life !!!

Dengan empat bintang sentral dan tangan dingin dari sang sutradara, film ini menjadi salah satu film yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2013.

“What a girl (with a dragon tattoo) story with subtle and (effortlessly) twist, which is good.”

Turning point adalah salah satu bagian dari kunci mengapa film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton sampai akhir. Dengan premis yang seperti itu, ekspektasi awal hanyalah seputar cerita tentang seorang istri yang depresi namun sepertinya dari segi cerita, film ini mengalami perluasan.  Paruh pertama memang terkesan biasa saja, bagian perkenalan namun salah satu bagian yang penting dalam keseluruhan cerita, di paruh inilah mungkin disebut scene of crime-nya. Sedangkan di paruh kedua, film seperti kopi yang diganti potnya, penuh dengan ide baru, membuat film ini menjadi fresh kembali untuk ditonton.

Ketika kebanyakan film hanya memberikan twist hanya di akhir cerita, kemudian juga terkadang penonton meninggalkan penonton dengan twist tersebut, lain hanya dengan film Side Effects ini. Twist disampaikan secara halus dan perlahan, juga lebih investigatif, namun tidak hanya begitu saja, ketika cerita terkuak, maka film ini kemudian memberikan sebuah pemecahan masalah sebagai final act-nya.

Empat pilar centrenya juga bisa menopang film ini, terutama penampilan Rooney Mara dan Catherine Zeta Jones. Jika Rooney Mara memerankan tokoh Emily dengan sangat depresif, Catherine Zeta Jones berhasil memerankan seorang expert yang ternyata mengundang banyak misteri walaupun porsi penampilannya tergolong sangat sedikit dan terbatas. Selain itu, karakter yang dimainkan oleh Mara dan Law benar-benar seperti obat, bersifat menyembuhkan (baik) namun tanpa lupa harus tahu bahwa setiap obat pasti mempunyai efek sampingnya. Dua karakter inilah yang akhirnya akan menjadi sebuah karakter ambigu yang penonton tunggu bagaimana kejelasan nasib mereka berdua. Sementara Tatum, dengan kekuatan akting standar-nya, paling tidak dalam film ini ia ditempatkan pada satu posisi yang sangat pas.

Trivia

Entah ini bisa dikatakan trivia atau tidak, film ini diawali dengan longshot sebuah pemandangan apartment penuh jendela, dan di akhir film, juga menunjukkan pemandangan yang “nyaris” serupa.

Quote

Martin : Whoever makes this drug is going to be fucking rich