Elizabeth Banks

The Lego Movie (2014) : Overrated Pièce de Résistance for Movie Based on Construction Toys

Director : Phil LordChristopher Miller

Writer : Dan HagemanKevin HagemanPhil LordChristopher Miller

Cast : Chris PrattElizabeth BanksWill FerrellWill ArnettCharlie DayAlison Brie, with Liam Neeson and Morgan Freeman

 “Introducing, the double decker couch so everyone could watch TV together and be buddies.” – Emmet

(REVIEW) Lego, siapa yang tidak pernah memainkan permainan yang satu ini, mulai jenis yang paling sederhana sampai bentuk yang lebih bervariasi ? Yeah, Lego memang sangat melatih daya kreatifitas anak dan seiring berjalannnya waktu sepertinya jenis permainan yang satu ini mulai bisa berkembang sesuai dengan alur zaman, salah satunya menjadi media bercerita yaitu lewat sebuah film, hal inilah mengapa film ini mengambil judul yang sebenarnya terkesan begitu “marketing produk” namun dengan waktu bersamaan juga menonjolkan kelebihan utamanya.

Dari segi visual, film ini bisa dikatakan akan menampilkan 90 persen bentuk lego, dan memaksimalkan visual ini dengan mengkaitkan banyak warna dan banyak bentuk, sekaligus gaya stop motion (walaupun 100% CGI) memang sangat menunjukkan karakteristik dari permainan lego itu sendiri. Untuk sebuah film yang juga merupakan sebuah media marketing sebuah produk, film ini seratus persen mewakili.

Dari segi cerita, film yang akan menarik perhatian anak-anak ini, tergolong begitu inspiratif, penuh dengan sisi moral dan message, seorang pekerja konstruksi Emmet (Chris Pratt), seorang lego biasa, tanpa keahlian khusus, tanpa adanya aspirasi dari dirinya sendiri tiba-tiba harus mulai sebuah petualangan ketika dirinya menemukan sebuah potongan lego “piece of resistance” yang menjadikannya sebagai The Special, atau seseorang yang terpilih untuk mengisi takdirnya yang telah diramalkan. Sebuah ramalan, bahwa seorang Emmet akan menyelamatkan dunia dari kejamnya sebuah korporasi besar yang dipimpin seorang Evil Lord (Will Ferrel). Dibantu oleh seorang gadis lincah dan pintar, Wyldstyle (she’s not a DJ but Elizabeth Banks), Emmet harus berkeliling ke berbagai belahan dunia lego yang mempertemukannya dengan banyak karakter termasuk Batman (Will Arnett), Unikitty (Alison Brie), space guy (Charlie Day) dan seorang wizard Vitruvius (Morgan Freeman). Mereka harus berlomba dengan waktu di tengah kejaran seorang polisi (Liam Neeson) yang diperintah Evil Lord untuk mencegah Emmet memenuhi takdirnya.

This almost “snowflake” shaped character makes the voice department is so crucial, yeah tidak sebuah kejutan ketika nama-nama besar yang memang digadang untuk mengisi setiap karakter ini. Walaupun memang masih terdapat variasi dari segi bentuk, but come on, they’re all lego-nized. Dan memang, segi voice akting dari cast ini berhasil menghidupkan setiap karakter di film ini, mulai dari Chris Pratt yang sepertinya tidak perlu memanipulasi suaranya karena karakter suara dan public imagenya begitu masuk ke dalam karakter Emmet, keatraktifan suara Elizabeth Banks, dual personality yang berhasil ditampilkan oleh Liam Neeson (dan Alison Brie) serta Will Ferrel sebagai karakter villain utama. And the best part adalah film ini tidak terlalu mengolah suara mereka, kita masih bisa mengenali siapa menyuarakan siapa di film ini. Plus, banyak voice cameo mulai dari Channing Tatum, Cobie Smulders, Will Forte walaupun yang benar-benar berhasil hanyalah Jonah Hill yang menyuarakan Green Lantern yang juga membawa sifat public image dirinya, cocky.

Christopher Miller dan Phil Lord sepertinya memang spesial untuk sebuah film yang memiliki possibility untuk di-underestimatekan, mulai dari Cloudy with A Chance of Meatball yang memiliki premis kepalang aneh, projek 21 Jump Street yang masih teringat bagaimana orang-orang begitu skeptis namun ternyata mampu menjadi surprise hit secara komersial dan kritik, dan sutradara serta penulis ini mampu mengangkat animasi berdasarkan mainan ini menjadi tidak terlalu shabby dan cukup diatas rata-rata dari segi eksekusi. The Lego Movie menjadi sebuah film yang fast moving, fast paced dengan material yang masih berbahan dasar “formulaic” namun dikemas dengan pandai. Salah satunya lewat jokes-jokes segar di setiap line dialoguenya, walaupun jokes ini tidak serta merta berhasil men-generate tawa dari awal durasi. Film ini masih begitu predictable di awal film, dengan jokes-jokes yang belum langsung bisa dicerna karena memang one second jokes bait, another second its execution sepertinya masih memerlukan waktu “loading” untuk penonton untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan jenis jokes seperti ini.

Bisa dikatakan cukup telat untuk starternya, awal film terbantu dengan spirit yang dimuat dalam lagu dinamis dengan judul “Everything is Awesome” namun penonton baru bisa benar-benar involved ke cerita dengan bantuan sebuah adegan witty lewat double decker couch. Sebuah adegan penyelamatan yang dilakukan double decker couch buatan Emmett terbukti mampu mengakhiri action sequence yang terkesan bland, no thrill, no fears, no danger. Bland action sequence ini tidak lepas dari dari karakter media penceritaan yang lagi, dan lagi, it’s just “lego”, tidak peduli lego ini akan tertembak, jatuh dari jurang, pecah, atau sebagainya, mereka semua hanyalah lego. Mungkin inilah salah satu efek ketika image “mainan” begitu kental sehingga kesan “sepele” juga masih mengikat ketika film ingin berjalan ke arah scene yang lebih “seharusnya serius”.

MAYBE SPOILER

Film yang hampir menggunakan satu jenis bahan candaan ini memang terlihat jelas mengalami apa yang ekonomi sebut dengan “diminishing return”, tidak peduli substance dari jokes tersebut, jokes berubah menjadi begitu predictable, untunglah keatraktifan dari variasi karakter seperti Batman dan space guy masih bisa menolongnya. Film ini juga dengan berani mengambil twist yang sepertinya menantang baik intelegensi anak-anak ataupun orang tua yang menemani mereka menonton (walaupun secara pribadi twist ini sudah bisa diprediksi mulai dari scene Emmet memiliki vision). Sebuah twist yang mengingatkan kita pada film serupa, Toy Story, sebuah film yang akan memuaskan para penikmat film yang suka akan sesuatu yang mengejutkan, walaupun film ini juga sepertinya dari final act-nya akan mengingatkan kita pada Puss in Boots. Yeah, villain yang tiba-tiba hatinya terketuk, actually WHAT THE HELL for me, but I think it’s good for kid’s soul. Yeah, moral message. Moral message. Moral message.

The Lego Movie merupakan sebuah film yang mampu melewati ekspektasi yang ada jika dilihat film ini diangkat dari sebuah mainan, dieksekusi secara solid oleh sutradara dan di-uplift screenplay-nya dari sebuah materi biasa menjadi sedikit luar biasa, sebuah tricky twist, namun secara personal film ini adalah salah satu film “overrated” di awal tahun 2014.

“Well contructed, and well overrated.”

The Hunger Games : Catching Fire (2013) : Sparks of Rebellion, War of Strategy, Quarter Quell, and Survival

Director : Francis Lawrence

Writer : Simon BeaufoyMichael Arndt

Cast :  Jennifer LawrenceJosh HutchersonLiam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Elizabeth Banks, Stanley Tucci, Philip Seymour Hoffman, Sam Claflin, Jena Malone

About

Satu setengah tahun yang lalu The Hunger Games memberikan kejutan dengan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit sekaligus memberikan Jennifer Lawrence global recognition dan menjadikannya sebagai superstar (yeah, walaupun breakthrough performance-nya ada di Winter’s Bone). Diadaptasi dari novel bestseller dengan jalan cerita yang intriguing (yah, walaupun ada yang menyamakan dengan jalan cerita Battle Royale), The Hunger Games menjadi salah satu franchise yang menjanjikan pasca franchise Harry Potter berakhir. Novel young adult memang sedang gemar diadaptasi ke film namun tidak semuannya sukses baik secara kritik ataupun secara komersial. Lihat saja Percy Jackson yang masih harus berjuang (lagi) agar bisa menelurkan sekuel berikutnya, atau The Host yang kurang mendapatkan antusiasme, Beautiful Creatures, dan Mortal Instruments : City of Bones. Yang paling baru dan akan segera dirilis, Divergent dengan komposisi cast yang menggoda. Tidak hanya sembarang, novel young adult yang bercerita tentang kisah asmara, young adult yang disebutkan diatas melibatkan sisi fantasi atau science fiction yang memang sangat digemari anak muda.

Nah The Hunger Games : Catching Fire merupakan salah satu contoh sukses dari adaptasi novel ke film. Keberhasilan film sebelumnya, predikat A-list untuk bintang utamanya serta marketing yang agresif di sepanjang tahun,membuat film ini menjadi salah satu  film yang paling ditunggu di tahun 2013, melengkapi penghujung tahun 2013 yang sepanjang tahunnya ditebari banyak film superhero pemancing pundi-pundi box office.

Ketika Katniss (Jennifer Lawrence) dan Peeta (Josh Hutcherson) pulang dengan selamat dari The Hunger Games ke 74, mereka kini harus melakukan tour ke 12 district dimana keadaan Panem sedang dalam kondisi labil pasca Katniss berhasil mencurangi sistem dengan menggunakan strategi “berry”nya. Melihat situasi yang tidak wajar, president Snow (Donald Sutherland) mengancam Katniss untuk meyakinkan warga Panem tentang kisah cintanya dengan Peetaagarmenjadi distraksi dari district yang menunjukkan indikasi pemberontakan, salah satunya Gale (Liam Hemsworth) yang mulai menunjukkan perlawanan terhadap ketidakadilan Capitol. Masih merasa terancam dengan keberadaan Katniss yang kini menjadi simbol harapan bagi warga Panem, Presiden Snow berkolaborasi dengan gamemaker terbarunya, Plutarch Heavensbee (Phillip Seymour Hoffman) untuk menyelenggarakan Quarter Queel. Quarter Quell sendiri pada intinya adalah The Hunger Games namun diikuti oleh pemenang dari periode selanjutnya, yap it’s all star The Hunger Games. Berbeda dengan pertandingan sebelumnya, Katniss dan Peeta harus berjuang melawan para kontestan terlatih seperti Finnick (Sam Clafin),pemenang The Hunger Games di usia 14 tahun, Johanna (Jena Malone) perempuan agresif, Beete dan Wires peserta yang dinilai paling cerdas, sampai tentu saja kontestan dari District 1 dan District 2 yang terkenal lethal. Dengan design cornucopia yang baru dan lebih mematikan, Katniss dan Peeta tidak mungkin bertahan sendiri, kini mereka harus beraliansi dengan peserta lain untuk dapat bertahan di Quarter Quell.

Berhasilkah mereka ?

This installment makes the previous one like a really “child play”, much better than its predecessor.

Pada awalnya sebenarnya sempat mengalami underestimate ketika mendengar kata “Quarter Quell”. Holy shit, they’re gonna show us sames stuff. Yeah, belum lagi Gary Ross yang kemudian keluar dari projek dan kemudian digantikan oleh Francis Lawrence yang mempunyai Filmography sebelumnya yang tidak terlalu impresive (I am not huge fanof Constantine, even Will Smith’s I am Legend). Untungnya saja, melihat screenwriter yang terlibat dan novel yang ternyata memiliki source story diluar Quarter Quell, membuat Catching Fire masih berada di urutan atas most anticipated movie in 2013. Dan setelh melihatnya sendiri, I gotta say I AM WRONG with all early expectation.

Catching Fire memulai ceritanya dengan begitu faithful dari sumber novelnya, terlihat runtut dan membuat penonton seakan-akan memang sedang membaca novelnya (hal ini menjadi hal yang penting untuk sebuah adaptasi novel ke film, terutama untuk para fans-nya). Jika The Hunger Games langsung terjun ke dalam reaping dan persiapan dari pertandingan mematikan tersebut, awal Catching Fire menunjukkan keadaan Panem (terutama District 12) yang masih saja dingin dan miskin pasca kemenangan Katniss. Catching Fire juga lebih mengeksplor kehidupan cinta Katniss dan Gale di tengah kehidupan palsunya dengan Peeta. Namun, sisi yang paling menarik adalah I gotta say, silent war yang mulai ditebarkan oleh President Snow sebagai karakter antagonist utama yang membuat sekuel ini lebih memiliki intrik dan perang strategi antara kubu Katniss dan Snow. Disinilah banyak hal ajaib terjadi (yeah, ajaib = smart thing).

Sisi menarik yang lain adalah character development yang dialami Katniss pasca The Hunger Games yang kini sedang mengalami trauma, terutama insiden Marvel dan Rue (dua tokoh yang membuat moment penting di film sebelumnya), diperankan pula oleh Jennifer Lawrence, lagi dan lagi, pasca piala Oscar-nya, Katniss versi Catching Fire ini cukup meng-embrace emosi yang terkadang menyentuh sekaligus mulai mengeluarkan sisi “memberontak”-nya, berbeda dengan Katniss versi The Hunger Games yang masih terlihat “shock” dan menerima sistem dari Capitol.

Film yang mempunyai budget dua kali dari film pertamanya ini sangat terlihat dari design Cornucopia yang lebih terlihat seperti hutan buatan dibandingkan dengan designnya pada The Hunger Games yang terlihat seperti hutan sungguhan. Disinilah sedikit sisi negatifnya, walaupun dengan budget lebih sedikit Cornucopia atau arena pertandingan di The Hunger Games lebih memiliki element of surprise and shocking yang bisa dirasakan penonton, maksudnya The Hunger Games terlihat lebih fresh untuk sajian “pertandingan mematikannya” (yah mungkin karena sedikit banyak Catching Fire memang repetisi dari The Hunger Games yang mempunyai premise menarik). Di sisi lain, Catching Fire memiliki sisi kompensasi lewat arena pertandingan yang bisa diakui lebih besar dan lebih canggih, namun yang paling menarik adalah arena ini memiliki teka-teki yang harus dipecahkan oleh para tribute karena menentukan strategi selanjutnya.

“Arena mahal” ini tidak akan disentuh hingga separuh durasi (yep, harus sabar menunggu), karena memang sepertinya film tidak ingin berkonsentrasi lagi pada konflik utama The Hunger Games-nya, inilah yang membedakan installment ini berbeda dari sebelumnya. Catching Fire lebih berkonsentrasi pada awal pemberontakan terhadap Capitol dan awal lahirnya leader mereka, Katniss Everdeen. Quarter Quell juga tidak lagi berkonsentrasi pada kompetisi antar peserta (walaupun konflik tersebut masih ada) namun lebih menunjukkan kerjasama diantara mereka untuk memecahkan “teka-teki” Cornucopia sebagai langkah survival. Buktinya, karakter Gloss, Cashmere, Enobaria dari District 1 dan 2 tidak dikenalkan secara intens selayaknya Cato dan Clove. Penggantinya, karakter lain yang ikut melakukan survival, dan termasuk well chosen cast, Finnick Odair yang berhasil ditampilkan oleh Sam Clafin, dan yang sedikit mencuri perhatian adalah karakter Johanna Mason yang diperankan oleh Jena Malone sebagai gadis pintar, agresif, impulsive, dan tanpa rasa takut.

Film ini diakhiri dengan sebuah adegan cliffhanger yang mungkin saja kurang disukai oleh beberapa orang, namun cliffhanger yang satu ini merupakan cliffhanger positif yang membuat kita puas dengan installment Catching Fire namun juga tidak sabar lagi menunggu installment selanjutnya, Mockingjays.

Intinya Catching Fire sudah tidak lagi berkutat tentang “siapa membunuh siapa” namun lebih bermain dengan adu strategy yang membuat sekuel ini terlihat lebih matang dan berisi. Plus, Francis Lawrence terlihat cukup pandai untuk mengolah film dengan durasi lebih dari dua jam menjadi sebuah sajian film dengan pacing yang enak, sekaligus nyaman untuk dinikmati.

Trivia

Taylor Kitsch sempat dipertimbangkan untuk karakter Finnick, Mia Wasikowaska sempat dipertimbangkan untuk karakter Johanna, serta Melissa Leo sempat dipertimbangkan untuk karakter Mags (mentor Finnick yang juga ikut dalam pertandingan).

Quote

President Snow: The other victors. Because of her, they all pose a threat. Because of her, they all think they’re invisible.

Movie 43 (2013) : Interconnected Short Segments of “You Won’t Believe They Did This Movie”

Director : Hmm, a lot of directors.

Writer : Hmm, a lot of writers too.

Cast : Hmm, a lot of actresses and actors too, but you know ‘em basically.

About

Visi, membuat sebuah film omnibus yang offensive dengan kekuatan seperti ; adult themes, yep ! hard language, yep ! sexually oriented, yep ! violence, a little bit !

Misi, menggandeng beberapa sutradara dan artis-artis Hollywood, mulai dari A list sampai mengkin no-list, mulai dari peraih Oscars sampai pemain Scary Movie. Itulah Movie 43, sebuah projek tentang black comedy yang beberapa kali ditolak oleh kebanyakan studio dan mengalami filming selama beberapa tahun.

Paling tidak terdapat 14 segmen cerita yang saling terhubung, diantaranya adalah,

The Catch, bercerita tentang Beth (Kate Winslet) yang sedang dating dengan Davis (Hugh Jackman) yang ternyata berubah awkward ketika Davis mempunyai kantong zakar di tenggorokannya. Eww !

Homeschooled, this is so creepy, ketika Samantha (Naomi Watts) dan Robert (Liev Schreiber) melakukan tindakan yang lebih terkesan “asusila” kepada anak mereka yang sedang homeschooling.

The Proposition, Julie (Anna Faris) dan Doug (Chris Pratt) adalah pasangan aneh. Mengapa ? Mau tahu ? Okay, karena Julie wants Doug to poop on her. Okay, now you don’t want to know.

Veronica (Emma Stone) bertemu dengan Neil (Kieran Culkin), mantan pacarnya, yang secara tidak sengaja mengobrol jorok di sebuah grocery store dan ternyata mic menyala membuat semua orang mendengar obrolan mereka.

iBabe, seorang boss (Richard Gere) sedang berdebat dengan Arlene (Kate Bosworth) tentang iBabe, cewek bugil yang dianalogikan sebagai mp3. Weird enough ?

Super Hero Speed Dating, Robin (Justin Long), Batman (Jason Sudeikis), Lois Lane (Uma Thurman), Kristen Bell (Super Bell) sedang di biro jodoh.

Middleschool Date, Amanda (Chloe Grace Moretz) sedang panik karena dapat haid pertamanya di kencannya. Elizabeth Banks here is the director.

Wait, I am tired.

Happy Birthday, Leprechaun (Gerard Butler) tertangkap oleh Sean William Scott sebagai hadiah ulang tahunnya.

Truth or Dare, Emily (Halle Berry) dan Donald (Stephen Merchant) bermain truth or dare yang semakin extreme dan extreme di blind date mereka. You’ll definitely see the Berry’s boobs.

Victory’s Glory, Coach Jackson (Terrence Howard) sedang memotivasi tim basketnya dengan cara yang sangat rasis.

Beezel, Amy (Elizabeth Banks) melawan kucing kesayangan Anson (Josh Duhamel) untuk mendapatkan perhatian Anson sendiri, pacarnya.

“It’s better stay hidden, and if you see it, you’re gonna ask, “what’s in their goddamn head (actresses and actors) when they sign on this project.”

Membuat omnibus memang tidak mudah, dengan waktu yang relatif sedikit bagaimana seorang filmmaker harus dapat mengefisienkan waktunya untuk mendapatkan perhatian penonton. Beruntung jika mereka mempunyai 15 atau 20 menit, tapi di film ini, dengan banyaknya segmen, mungkin mereka hanya mendapatkan waktu durasi sekitar 5 atau 7 menit. Dan, hasilnya adalah (almost) disaster. Dengan bintang berkelas seperti Winslet, atau Jackman, film ini sebenarnya punya resource yang cukup untuk menggali talent yang ada. Namun tidak, hampir semua aktor aktris disini semuannya terpuruk dari segi tema yang terkadang terlalu menjijikan untuk ditonton.

Film dibuka dengan segmen Winslet dan Jackman yang sebenarnya tetap menarik dengan melihat Winslet bermain sebuah komedi. Kemudian, parade pun mulai berdatangan, parade tema yang terlalu tidak jelas, mulai dari freaky family sampai poop on me theme. Sisanya yang lainnya, sama sekali tidak mengundang tawa. Segmen yang agak lumayan adalah Truth or Dare, Leprechaun, dan segmen yang memang sengaja ditaruh di akhir tentang kucing gila bernama Beezle.

Film ini memang penuh bintang, tapi sama sekali tidak menghibur. Namun, jika membayangkan sebuah kegiatan yang tidak mungkin dilakukan artis sekelas mereka, maka inilah filmnya. Let’s say it is just black part for their port-folio but they definitely deserve better.

Trivia

George Clooney menolak sebuah peran dan Richard Gere berusaha untuk keluar dari projek film ini.

Quote

Wonder Woman : Do you know what it’s like going to planned parenthood, by yourself, when you’re Wonder Woman ?

By the way, I can take disgusting quote, but I prefer this, because it is a decent quote which hardly you’ll find it in this movie.

The 40 Year Old Virgin (2005) : Pressure for The Guy Who’s Never Done The Deed

Director : Judd Apatow

Writer : Judd Apatow

Cast :  Steve CarellCatherine Keener, Seth Rogen, Paul Rudd, Romany Malco, Elizabeth Banks

About

Judd Apatow, seorang sutradara, produser, juga penulis dan suami dari aktris cantik, Leslie Mann. Karirnya memang tidak jauh dengan genre film komedi dengan bintang-bintang yang selalu jadi andalan. Sebut saja Leslie Mann (tentu saja), Steve Carell, Seth Rogen, Paul Rudd, Jonah Hill, Kristen Wiig, Jason Segel, dan lain-lain. Aktor-aktor yang digandeng oleh Judd Apatow, baik dia selaku sutradara atau hanya produser, terbukti memang menjelma menjadi leading actor dan leading actress yang bisa dikatakan sukses. Salah satunya adalah aktor Steve Carell, walaupun dia kebanyakan memainkan film dengan karakter yang nyaris sama (I gotta say, he’s Jennifer Aniston in male version), tapi banyak peran utama yang telah ia mainkan. Sebut saja yang paling baru, The Incredible Burt Wondertone, atau sebagai Dodge laki-laki yang ditinggal pasangannya di Seeking A Friend for The End of The World, atau sebagai Cal Weaver laki-laki yang ditinggal pasangaannya (lagi) di komedi Crazy Stupid Love. Melihat aktor ini, kita pasti kurang akan mengingat peran kecilnya di komedi Anchorman atau Bruce Almighty.

Film The 40 Year Old Virgin inilah yang menjadi milestone penting dalam perjalanan Steve Carell, bercerita dengan premis yang umum dan sederhana namun juga tabu untuk dibahas. The 40 Year Old Virgin (sebenarnya dari judu filmnya juga sudah ketahuan) menceritakan Andy yang tidak kunjung melakukan intercourse di umurnya yang menginjak kepala empat. Ketika “aibnya” ini diketahui teman sekerjanya (Paul Rudd, Seth Rogen, Romany Malco), mereka langsung mencari segala cara untuk melepaskan keperjakaan sang Andy. Ketika Andy bertemu Trish (Catherine Keener), seorang janda dengan banyak anak dan juga cucu, apakah Trish bisa menerima Andy yang seorang virgin ???

“Oh please somebody, help him ! because he’s doing ridiculous moments, again and again.”

Scene saat Andy di body waxing itu benar-benar EPIC !!! Scene saat Paul Rudd dan Seth Rogen bermain “You Know How I Know You’re Gay” itu juga benar-benar EPIC !!! Scene saat bermain dengan Magnum (Magnum is condom, I don’t know it is a type, product specification, or brand, or whatever) itu benar-benar raja dari segala EPIC. Adegan antara Steve Carell dan Elizabeth Banks as a crazy and sex addicted girl itu benar-benar EPIC !! (I don’t know why I keep saying EPIC, I don’t even know what it means). Film ini secara terus-terusan menampilkan scene-scene yang benar-benar mengocok perut dari awal sampai akhir. Ibarat sebuah permen, film ini adalah film dengan banyak rasa dari tiap adegannya, rasa charming dan sweet dari leading couple-nya, belum lagi nasty and “a little bit of dirty” dari topik sexnya, juga jokes-jokes segar yang keluar dari mulut para castnya yang memang talented gila.

Dari sebuah cerita yang sederhana dan tidak perlu macam-macam, ternyata Judd Apatow yang juga merupakan screenwriter mampu menggali segala sisi dan kemudian menambahkannya dengan jokes yang selayaknya di film komedi, kemudian dipertunjukkan oleh para aktor- aktris dengan improvisasi sana-sini, film menjadi film yang rekomendasi bagi penyuka film komedi.

Di sisi lain, dengan scope cerita yang sudah ketahuan dan terkesan sempit, durasi dari film ini menjadi sedikit kepanjangan karena hanya membahas yang itu-itu saja. Andy mencoba melepas keperjakaannya kemudian gagal, Andy mencoba melepaskan keperjakannya kemudian gagal lagi, ya begitulah tapi dengan jokes sebanyak ituuuuu, this movie is not too long for me, not for me.

Film ini kemudian ditutup dengan sebuah adegan menari dan menyanyi semua cast yang NORAK, tapi keren dan bakalan memorable banget.

Trivia

Adegan body waxing untuk menghilangkan bulu dada Andy (his nipple included) benar-benar dilakukan secara real oleh Steve Carell. What a painful scene !!!!

Quote

David: You know how I know you’re gay ?

Cal: How? Cause you’re gay ? And you can tell who other gay people are?

David: You know how I know you’re gay ?

Cal: How ?

David: You like Coldplay.

People Like Us (2012) : Sam is Her Brother. Frankie is His Sister. It’s Not That Simple.

Sutradara : Alex Kurtzman

Penulis : Alex Kurtzman

Pemain : Chris PineElizabeth Banks and Michelle Pfeiffer

Tagline : Find Your Family.

“Basically the characters are only on movie, not for real, but Pine and Banks (finally) prove their talent in this movie.”

About    

Sebuah karya debutan dari seorang screenwriter dan produser, Alex Kurtzman, bercerita tentang kakak beradi berbeda Ibu, Sam (Chris Pine) dan Frankie (Elizabeth Banks). Mereka tidak kenal satu sama lain hingga pada suatu hari ayah mereka mengutus Sam untuk memberikan warisan kepada Frankie, seorang saudara perempuan yang tidak pernah dikenalnya.

Unrealistic but (still) an enjoyable entertainment

Apakah yang akan dilakukan seseorang ketika ia sedang kesulitan keuangan, kemudian tiba-tiba ayahnya memberikan $150000 untuk diberikan kepada saudara perempuannya yang tidak pernah ia temui ?

That’s a long question.

Film ini mengambil storyline yang sedikit tidak realistic, walau terdapat embel-embel tagline “Based on true story.” serta mengambil ending dimana “everybody goes to be a decent human”. Itulah kelemahannya, selain predictable juga.

Namun sisi positifnya, hampir semua pemain, terutama Elizabeth Banks menunjukkan kualitas akting yang membuat penonton dapat terjaga sampai akhir film, bahkan Olivia Wilde, dengan porsi sedikitnya, mampu menjalankan tugasnya dengan ‘lebih emosional’.

Trivia

Meryl Streep, Amy Adams, Rachel McAdams sempat dipertimbangkan untuk mengambil satu peran di film ini.

Quote

Frankie : …..and my last image of my dad are tailights while he drove away to his other family.