Ellen Page

Touchy Feely (2013) : A Self Improved Comedy of Losing and Getting Self Healing

Director : Lynn Shelton

Writer : Lynn Shelton

Cast : Rosemarie DeWittEllen PageJosh Pais, Allison Janney, Ron Livingston

Image

About

Sukses menggarap drama komedi, Your Sister’s Sister, thanks to for great and full improvisation-performance. Lynn Shelton kembali menggandeng Rosemary DeWitt yang juga bersinar di film Shelton sebelumnya. Bukan memilih-memilih film, namun dua hari ini menonton drama komedi dari Magnolia Pictures dan keduannya juga dibintangi Ron Livingston (before this, I watched Drinking Buddies, it’s so good).

Lynn Shelton sepertinya ingin mengambil tema yang sedikit tereksplore oleh dunia film, mengambil tema “self healing”, sepertinya membuat judul Touchy Feely langsung menjadi masuk akal. Cerita berpusat pada tiga tokoh sentral, yaitu Abby (Rosemary DeWitt), seorang massage therapist yang tiba-tiba kehilangan ‘mood’ dan merasa mual ketika harus menyentuh atau disentuh siapapun. Sementara saudara laki-lakinya, Paul (Josh Pais), seorang dentist dengan usaha yang hampir sekarat, tiba-tiba menemukan kemampuan self healing untuk menyembuhkan penyakit para pasiennya, sedangkan anak perempuannya, Jenny (Ellen Page) terkungkung pada kondisi tidak bisa meninggalkan ayahnya dan merasa menyukai pacar bibinya sendiri.

“Wasted cast, Touchy Feely is NOT moving, confuse with the material and I don’t why I watch it till the end, and it’s so bad.”

Touchy Feely sepertinya terjebak pada material yang sama sekali susah dikembangkan. Baik Abby ataupun Paul yang mengalami perubahan bertolak belakang hanya berjalan di tempat membuat penonton merasa bingung cerita akan dibawa kemana. Kehilangan “self-healing” ini sebenarnya memberikan tantangan peran yang besar untuk Rosemary DeWitt, namun dengan hal yang sebenarnya penonton juga masih merasa asing, sehingga penonton tidak merasa peduli dengan apa yang akan terjadi pada karakter. Losing your “self-healing” is not a BIG DEAL for us, it’s a big deal for you.

Sementara Rosemary DeWitt telah sebisa mungkin mengeksplore perannya, juga Josh Pais juga cukup match dengan perannya, Ellen Page dan juga Allison Janey (keduannya berperan sebagai ibu dan anak di Juno) mengalami underdeveloped walaupun berperan hanya sebagai supporting character, terlihat jelas pada karakter Jenny yang sama sekali juga tidak dieksplore secara matang.

Jika Your Sister’s Sister (yang juga ditulis Lynn Shelton) mampu memberikan dialog-dialog penuh improvisasi namun sama sekali tidak kehilangan sisi konflik yang ada namun terasa, di Touchy Feely semuannya seperti hilang, dengan dialog yang membosankan, juga tidak lucu, namun juga tidak mampu meng-attract penonton untuk ikut terlibat dalam perbincangan. Salah satu moment terlucu hanya terjadi ketika karakter Alison Janney bertemy dengan Paul untuk pertama kalinya.

Entah apa yang ingin disampaikan oleh Lynn Shelton, ia juga menambahkan insert-an beberapa scene extreme close up yang membuat pori-pori kulit kita terlihat indah, namun itupun sama sekali tidak efektif dan cukup mengganggu. Jika ada message di film ini, message tersebut benar-benar tidak dapat tersampaikan dengan baik, walaupun memang film ini mempunyai tema yang unik dan baru.

So here the problem, masalah datang entah dari pintu yang mana, terkungkung di ruangan selama lebih dari satu jam, dan di akhir masalah tidak tahu harus keluar lewat jalan keluar yang mana.

Salah satu yang menarik adalah karakter Ron Livingston yang jika dilihat mengikuti beberapa moment dari karakter Aby, menimbulkan sisi misteri sendiri, namun setelah direveal, that’s not really a payoff for waiting.

Trivia

Rosemary DeWitt dan Ron Livingston adalah couple di dunia nyata.

Quote

Customer : Abby, will you marry me ?

The East (2013) : Extreme Left Direction of Eco-Terrorism to Act “What is Right”

Director : Zal Batmanglij

Writer : Zal Batmanglij, Brit Marling

Cast : Brit MarlingAlexander SkarsgårdEllen Page, Patricia Clarkson

About

“Spy on us, and we’ll spy on you” menjadi tagline yang sangat menarik terutama jika disandingkan dengan jajaran cast yang sangat menarik pula. The East adalah sebuah thriller yang bercerita tentang sekumpulan organisasi rahasia (The East) yang mulai melakukan penyerangan secara rahasia kepada korporat-korporat besar yang mereka rasa bersifat corrupt, mulai dari pembuangan limbah, penumpahan minyak di laut yang mengganggu ekosistem, sampai penyebaran obat-obatan dengan side effect yang mengerikan. Sebuah perusahaan khusus mata-mata, dikepalai oleh Sharon (Patricia Clarkson) mengirim seorang intel berbakat Jane/Sarah (Brit Marling) untuk masuk ke dalam organisasi The East yang dikepalai oleh Benji (Alexander Skarsgard) dan beranggotakan Izzy (Ellen Page). Mulai memasuki organisasi tersebut, Sarah mulai terjebak ‘secara moral’ dipihak siapakah ia harus berpihak.

Film ini juga ditulis oleh sang leading lady, Brit Marling yang sebelumnya juga menulis Another Earth, dan juga Sound of My Voice, yang bercerita tentang cult.

“Nice movie about eco-terrorism, and subtle thriller about what is right and about about what is wrong. “Being unexpected is expected”-kind of movie and it (still) goes natural.”

The East mengangkat satu tema yang terkadang membuat kita harus memilih, disisi manakah kita harus berpihak. Sebuah organisasi yang sebenarnya menjunjung sesuatu yang benar namun dilampiaskan dengan cara yang ekstrem. Membuat kita merasa bingung siapakah protagonist dan siapakah antagonist-nya. Mengingatkan pada sebuah cult, organisasi The East memiliki anggota yang mempunyai aura tersendiri yang cenderung “freak” dan mengerikan. Yeah, Ellen Page is the proper face, and Alexander Skarsgard, nice touch.

Brit Marling dan sutradara sepertinya ingin membuat film thriller yang sehalus mungkin tanpa membuat jalan cerita terisi dengan banyak hal yang berlebihan, namun tentu saja tetap thrilling. Konsep being unexpected sangat diharapkan dari awal film sampai akhir film, dengan harapan film ini memberikan twist yang benar-benar patut ditunggu. Namun tidak, twist yang ditunggu sebenarnya sudah tertebak, (bahkan mungkin berasa bukan twist), namun dikemas dengan package dan solusi “anti-klise” yang membuat film ini malah mempunyai ending yang sempurna.

Film thriller yang mudah diikuti tanpa kita merasa tegang yang berlebihan, walaupun hal tersebut bisa menjadi kelemahan, untuk ukuran thriller yang sebenarnya bisa menambah tensi-nya untuk beberapa scene-nya, dan untuk Brit Marling dengan banyak keterlibatannya ke dalam film serapi ini, mungkin dia adalah salah satu aktris paling berbakat saat ini dan perlu lebih banyak rekognisi untuknya. Ellen Page tampil dengan “exclusive”, dan shining as usual. Patricia Clarkson berperan solid dan meyakinkan sebagai seorang perempuan cerdas yang memimpin sebuah perusahaan.

Yep, film ini merupakan thriller yang mampu mengangkat tema dengan sisi yang lain, yang tidak hanya mengandalkan bagaimana penonton terpompa adrenaline-nya namun juga memikirkan isi content dari cerita film itu sendiri.

Trivia

Film ini diinpirasi dari pengalaman para screenwriter-nya.

Quote

Izzy: We are The East, we don’t care how rich you are. We want all those who are guilty to experience the terror of their crime

Whip It (2009) : Roller Derby Collaboration of Juno Typed Girl and E.T. Girl’s Directorial Debut

Director : Drew Barrymore

Writer : Shauna Cross

Cast : Ellen Page, Kristen Wiig, Marcia Gay Harden, Drew Barrymore.

About

Projek film dari seorang bintang film yang kita kenal dengan gadis kecil di E.T., juga berperan sebagai Alex di Charlie Angel, dan gadis yang kehilangan memori jangka pendeknya di 50 First Dates, yup, dia adalah Drew Barrymore. Spesialnya lagi dia tidak hanya menjadi pemeran pendukung disini, namun juga sutradara. Bayangkan ! Drew Barrymore sebagai sutradara ketika kebanyakan kualitas aktingnya hampir se-formulaic dengan kualitas akting Jennifer Aniston. Yup, everybody has doubt about this.

Film bergenre sport yang malah kebanyakan diperankan oleh para perempuan ini bercerita tentang Bliss Cavendar (Ellen Page), gadis berusia 17 tahun yang sedikit sedang mencari jati dirinya di sebuah kota kecil yang bergabung dalam sebuah kelompok roller derby, yang ternyata membuat hidupnya mempunyai arah. Simple story kemudian dibumbui dengan masalah dan kerumitan ala remaja, seperti tekanan ibunya (Marcia Gay Haden) yang menginginkannya menjadi feminim padahal ia tomboy, kehidupan percintaannya, kehidupan dengan sahabat dekatnya, dan tetek bengek dengan anggota roller derby yang lain (Kristen Wiig, Drew Barrymore, Juliette Lewis, Eve, etc.). Di tengah kekonyolan pelatih mereka, Razor (Andrew Wilson), kehadiran Bliss membuat tim roller derby ini mulai merangkak naik dari predikat “We’re Number Two of Two” team.

Film yang dipremierekan di Festival Film Internasional Toronto di tahun 2009 yang juga diangkat dari sebuah novel Derby Girl karya Shauna Cross ini, kurang mendapatkan respon komersial yang baik di pasar walaupun jika dilihat dari budgetnya, film ini juga tidak merugi.

Bagaimanakah directorial debut sang mantan poison ivy ini, this is it the review !

“I gotta say, it’s a surprise, Drew Barrymore is underestimated but she can prove herself by making a pretty decent movie.”

Full of energy, begitulah memang film bergenre sport harus dieksekusi. Film ini mengalirkan sebuah energi positif lewat sebuah pertandingan roller derby yang seru dan menarik. Juga, film ini mempertunjukkan beberapa aksi Ellen Page dan kawan-kawan bermain sepatu roda yang membuat kita semakin yakin bahwa memang artis-artis benar-benar lihai memainkannya.

Ellen Page sebagai seorang leading role, tentu tidak akan kesulitan memerankan karakter seperti ini, tomboy, remaja, mempunyai orang tua yang keren, mempunyai sahabat baik yang juga keren, sedikit banyak mengingatkan kita dengan peran yang membuatnya mulai dilirik dalam film besutan Jason Reitman, Juno. Dengan kapasitas mereka yang kebanyakan memerankan tokoh komedi, Kristeen Wiig dan tim juga cukup emmbuat film ini semarak dan lucu. Satu penampilan yang menarik perhatian datang dari Marcia Gay Haden sebagai seorang ibu yang menginginkan terbaik untuk anaknya.

Memang sangat formulaic, namun dengan sedikit “totalitas” mereka dalam ber-roller derby, film ini lebih enak untuk ditonton, dan humor dan storyline yang tidak depressing membuat film ini “yes formulaic” but also “pleasing and entertaining”.

Scene-scene roller derby  membuat film ini full energy dan satu lagi scene romantis yang akhirnya muncul dan meng-grab perhatian adalah scene di sebuah kolam renang yang memperlihatkan karakter Bliss dan pacarnya yang super romantis. It’s rare.

It is well made for a Barrymore’s directorial career debut.

Trivia

Ellen Page drop outdari projek horor Sam Raimi, Drag Me to Hell untuk mengerjakan film ini.

Quote

Bliss Father : I can take losing the money. I cannot take loosing the chance for our kid to be happy.

Hard Candy (2005) : Not Just A Little Girl, A Guy Should Be Ready

Sutradara : David Slade

Penulis : Brian Nelson

Pemain : Ellen Page, Patrick Wilson, Sandra Oh

“Almost no gore, but some scenes are very intense with frills of very serious tone conversation which brings this as no mediocre thriller (though it’s restless pointless exploitation of torture).”

About

Bagi penggila film gore, thriller ataupun horror pasti telah menonton film independen yang satu ini. Film ini dibuka pada Sundance Film Festival di tahun 2005 dengan plot cerita yang unik dengan tidak biasa. Film berkisah tentang seorang gadis ‘misterius’, Hayley (Ellen Page), mengajak kencan seorang fotografer yang terpaut usia jauh diatasnya, Jeff (Patrick Wilson). Hayley sangatlah pintar berbicara, supel dan pintar, karakternya ini akan mengingatkan kita pada karakter Juno yang melambungkan nama Ellen Page dan menyabet nominasi Oscarnya, hingga di titik dia mengunjungi rumah Jeff. Di rumah Jeff inilah, Hayley mengeluarkan sosok aslinya dan memberi sebuah kejutan ‘kecil’ untuk Jeff yang ia duga seorang pedofilia.

Film ini digarap oleh sutradara yang biasanya memproduksi music video, David Slade dan merupakan film debutnya.

At some points of this movie, you’ll say big “Ouch !!!!”

Penampilan kedua leading role tentu saja lebih dari memuaskan, terutama Ellen Page dan depresi yang dialami Patrick Wilson saat adegan penyiksaan. Keduannya juga membawakan percakapan debat yang serius dengan sangat intens. Ellen Page membuka dirinya sebagai anak kecil yang penuh perhitungan dan serasa menyembunyikan sesuatu yang ia pendam, inilah yang akan menjadi misteri di sepanjang film, siapakah karakter Hayley Stark sebenarnya.

Film minim darah, tidak akan ada gore berlebihan, namun ada sebuah scene yang akan sangat intens, yaitu scene Ellen Page mengebiri Patrick Wilson dengan tangannya sendiri. Di sepanjang scene in, penonton akan dibuat ngilu, terutama jika cowok, penonton benar-benar merasakan apa yang dirasakan karakter Jeff terutama dari segi emosional. Namun hingga suatu titik mendekati ending, penonton akan dibuat “it’s like restless ending torture” dimana karakter Hayley kurang jelas menunjukkan point yang ingin ia ungkapkan, sekaligus sifat “masterplan dan mengetahui segala kemungkinan yang ada” membuat film ini kurang natural. Ketidakterjawabnya beberapa pertanyaan akan membuat penonton mengerutkan kening selepas menonton film ini.

Trivia

Baju yang dipakai Hayley Stark akan mengingatkan kita akan karakter Red Riding Hood, walaupun Ellen Page mengaku bahwa warna sebenarnya dari jaket itu adalah orange.

Quote

Hayley Stark : I am every little girl you ever watched, touched, hurt, screwed, killed.