Ethan Hawke

Reviews : Paddington (2014), Predestination (2014), Nightcrawler (2014), and Force Majeure (2014)

What AM I ? An institutionalized orphan ? Why I didn’t get Teddy Bear in my childhood.

Siapakah yang tak akan melihat film ini ? Anak-anak tentu akan sangat menyukainya, dan orang tua pasti akan memiliki rasa nostalgia bertemu kembali dengan sosok yang sangat kental dengan masa lalu mereka. Itulah yang membuat Paddington – layaknya film anak-anak lain- tidak hanya merangkul anak-anak namun juga sang orang tua yang notabene sebagai guardian ketika mereka menonton di bioskop. Hasilnya, Paddington merupakan a fine family drama at its best, hangat, lucu, walau memiliki storyline yang kepalang standar dan kurang kejutan besar.

(more…)

Advertisements

Boyhood (2014) is Inevitable Prominence, Coming of Age Comes into Existence from Real Growth

Director : Richard Linklater

Writer : Richard Linklater

Cast : Ellar Coltrane, Patricia Arquette, Ethan Hawke, Lorelei Linklater

No botox ! No dying ! – two main rules in Boyhood.

(REVIEW) No shit ! Richard Linklater semakin mengukuhkan dirinya bukan sekedar seorang filmmaker, namun juga seorang long term investor yang tak enggan bermain-bermain dengan sesuatu yang high risk : waktu. Setelah menyelesaikan jibaku romansa Jesse – Celine dalam Before Trilogy, ia ternyata menggarap sebuah film dengan ide sederhana, tapi dengan teknik pengambilan gambar selama 12 tahun. Yep ! You heard me right, 12 Years a Movie !

Idenya sederhana, Richard Linklater hanya ingin menyajikan sebuah film coming of age  dimana salah satu aspeknya sering dilupakan film serupa : growth, dan tak main main Linklater memberikan sebuah growth  yang bisa dilihat kasat mata, menjadikan penonton saat melihat Boyhood seperti membuka lembar demi lembar album foto keluarga yang menyajikan tahap pertumbuhan dari seorang anak. Tidak hanya itu, walau terkesan seperti tahun-pertahun tahap anak yang ditempel sepanjang 160 menit, Linklater tak melupakan cita rasa atau keluwesan lewat sisi magical seperti penonton menemukan sebuah family video dan kemudian menyetelnya. So, what else do you want, parents ?

(more…)

Before Midnight (2013) : Mature Relationship’s Laboratory of “Almost Middle Aged” Jesse and Celine

Director : Richard Linklater

Writer : Richard Linklater, Julie Delpy, Ethan Hawke

Cast : Ethan Hawke, Julie Delpy, Seamus Davey-Fitzpatrick

Yeah, I am gonna review it as the one who knows nothing about Before Sunrise and Before Sunset (again).

About

Berbicara tentang relationship memang tidak ada habisnya, segala sisi dibahas. Ada yang membahas dari perspektif anak-anak (let’s say Little Manhattan), dari perspektif anak muda ( I don’t need to mention it), dari perspektif pasangan paruh baya, bahkan sampai orang tua (hits tahun lalu lewat Amour). Yeah, dan Before Midnight adalah film yang mungkin membahas relationship orang paruh baya (let’s say at the age of 40). Relationship di umur 40-an, mungkin yang kita bayangkan (I am 24 this year) adalah relationship yang stabil, mempunyai keluarga mapan, anak yang mulai tumbuh, namun bukan berarti TANPA MASALAH.

Menjadi salah satu trilogy dengan rating tinggi, apa yang membuat film ini begitu spesial ?

Before Midnight, bersetting beberapa tahun setelah Before Sunset (which I know nothing), Jesse (Ethan Hawke) mengantarkan anak laki-lakinya (Seamus Davey-Fitzpatrick) ke bandara untuk pulang ke Amerika ke tempat Ibunya, sementara Jesse masih berlibur dengan dua anak kembarnya sekaligus Celine (Julie Delpie) di Yunani. Seperti pada pasangan pada umumnya, dalam perjalanan pulang mereka chit-chat tentang “segalanya” termasuk pada rencana Celine untuk mengambil kesempatan bekerja di pekerjaan impiannya dan Jesse, kebalikan dengan rencana Celine, menyinggung bahwa ia ingin tinggal di Amerika sehingga ia bisa menyediakan waktu untuk anak laki-lakinya. Dari kasat mata, Jesse dan Celine adalah pasangan yang sempurna dengan dua anak kembar, namun ketika mereka mendapatkan kesempatan berdua untuk menghabiskan waktu bersama di sebuah hotel, mereka mulai mengungkapkan segalanya yang “mungkin” akan merontokkan hubungan mereka berdua.

“It’s a beautiful relationship’s laboratory, getting real and smart but still keep its romantic romance.”

Before Midnight merupakan relationship’s laboratory, let me recall, film serupa dengan Dinking Buddies yang sukses melihat perkembangan hubungan lengkap dengan improvisasi para karakternya, atau dengan sentuhan komedi, The Five Year Engangement- Jason Segel dan Emily Blunt, walaupun film ini menjadi kurang menarik karena kelebihan durasi. Before Midnight sekarang mengkaji hubungan yang telah mature namun mempunyai banyak masalah latent dari para karakternya. Tidak mudah untuk membuat sebuah masalah atau konflik tanpa memperlihatkannya sebagai sebuah masalah atau konflik, disinilah kehebatan para penulis naskahnya yang terdiri dari aktor aktris utamanya sekaligus sutradara.

Film ini bersetting di Yunani dan kebanyakan durasi di habiskan pada satu tempat atau moment seperti perjalanan pulang ke bandara, makan malam, perjalanan ke hotel, adegan konflik utama di hotel, dan ending. Untuk film yang mengambil moment terbatas, film ini tidak segan-segan mengambil long shot, adegan tanpa putus yang dijamin akan menguji kemampuan para aktornya. Adegan Celine dan Jesse dalam perjalanan pulang dari airport merupakan salah satu adegan paling keren di 2013, dan kemudian adegan ini ternyata dilanjutkan pada adegan-adegan tanpa putus sampai akhir. Tidak akan berhasil jika satu adegan tanpa putus tanpa bakat atau material yang kuat untuk menarik perhatian penonton dalam satu waktu. Disinilah kunci mengapa Before Midnight menjadi sangat menarik, jika Drinking Buddies meng-improve dialog mereka secara casual dengan percakapan yang terkadang serasa “meaningless” namun tetap berarti ( I mean, terkadang percakapan sehari-hari terlalu tidak berkesan), Before Midnight serasa pada level yang berbeda. Percakapan antar dua karakter / lebih penuh dengan intelegensi para pemainnya, very smart, very witty, terlihat sangat antusias, terlihat sangat spontan dilanjutkan dialog-dialog ini juga dalam waktu bersamaan terkesan sangat natural, alami sekaligus mudah dimengerti untuk yang menonton. Before Midnight seperti menyajikan sebuah adegan improvisasi namun tetap terarah.

Kekuatan film ini, salah satunya memang berada pada level screenplay yang terlihat sangat kuat diimbangi oleh kemampuan Ethan Hawke dan Julie Delpie untuk membacakan setiap line-nya. Ketika adegan improvisasi yang casual terkadang tidak mempunyai point, setiap line di Before Midnight sepertinya mempunyai point tersendiri. Poin-point inilah yang membuat Before Midnight menjadi film yang mempunyai kapabilitas mengkaji hubungan secara lebih mendalam dan juga thoughful. Sisi lainnya, film ini juga menyajikan sudut pandang laki-laki dan perempuan tentang sifat insecure mereka akan long commitment, achievement mereka diluar komitmen yang terbentur dengan komitmen itu sendiri, dan semuanya terasa real dan nyata (I gotta say this movie reminds me of my own parent marriage when my parent debates about something). Terkadang film yang ingin menyajikan sesuatu yang kepalang real, serasa kehilangan sisi romantisnya, namun tidak dengan Before Midnight, sisi romantis ini tetap dipertahankan terutama lewat easy chemistry dari Ethan Hawke dan Julie Delpy yang sepertinya tidak lagi dipertanyakan.

Film ini memang bersetting di Yunani, dan bisa dikatakan tidak mengeksploitasi keindahan Yunani, yeah, film ini memang sangat berkonsentrasi tentang hubungan Jesse dan Celine, sangat konsisten, sangat stabil, namun film ini sama sekali tidak hilang keindahannya.

Film  ini dengan sukses membuai penonton seperti menjadi saksi dua orang yang sedang pacaran, penonton juga dibuat seakan-akan “takes a side” untuk setiap perdebatan yang dilakukan oleh Jesse dan Celine, sebuah bukti yang membuat film ini terasa enganging sekaligus efektif. If I have to take a side ? I gotta say, I am gonna agree with Celine’s.  Itulah kekuatan lain dalam film ini, dua karakter utamanya adalah karakter yang benar-benar real.

Bagian akhir film ini seperti mengingatkan pada Blue Valentine, bagaimana film ini ingin menginginkan sesuatu ending yang real, tidak corny, namun juga harus tetap mempunyai sisi romantis tersendiri. Yeah, harus diakui, masalah yang ada dalam film ini tidak bisa diselesaikan dengan satu jentikan ending dan perubahan karakter secara tiba-tiba yang membuat biasanya film terasa klise. Ending film ini merupakan kombinasi sesuatu yang romantis dan nyata, membuat kita berpikir dan bertanya-tanya tentang akhir dari relationship Jesse dan Celine. In real life, there will be no real ending in relationship, and this movie is LIFE. What a wise ending !

Trivia

“Although the movie features naturalistic dialogue, every scene was heavily rehearsed, rigidly followed the script and involved no improvisation.” – Trivia from IMDb

Yeah, trivia yang satu ini sepertinya menjawab semuannya, why this movie is so GODDAMN GOOD. Jika film ini tidak dinominasikan dalam Best Screenplay di Oscar ? FUCK YOU Oscar !

Quote

Celine: Now I know why Sylvia Plath put her head in a toaster!

Jesse: It was an oven.

The Purge (2013) : All You Can Kill, One Night A Year, All Crimes Are Legal

Director : James DeMonaco

Writer : James DeMonaco

Cast : Ethan HawkeLena Headey, Rhys Wakefield

About

The Purge, sebuah science-fiction thriller horror yang mempunyai premis yang sangat menarik. Mungkin berkat premise itulah film ini sempat merajai box office America dengan perolehan sekitar 37 dollar, mengalahkan The Internship yang juga rilis pada minggu yang sama. Menggandeng Ethan Hawke yang sebelumnya sukses mengantarkan film horor Sinister dan Lena Headey yang sedang hot-hotnya main di serial fenomenal Game of Thrones.

America, di tahun 2022 dikisahkan merupakan negara yang makmur dengan tingkat pengangguran yang sangat kecil, tingkat kriminalitas juga sangat rendah. Itu semua berkat satu malam yang mengerikan dimana pemerintah memberikan waktu untuk warganya selama satu kali 24 jam untuk berbuat kriminal (termasuk membunuh) dan semuannya itu dilegalkan.

Kurang menarik apa lagi premisnya ? James Sandin (Ethan Hawke), seorang salesman kayaraya yang menjual sistem security untuk menangani malam “maut” tersebut melengkapi rumahnya sendiri untuk melindungi semua angggota istri (Lena Hadey) dan kedua anaknya. Semuannya baik-baik saja sampai anak terakhir mereka sengaja membuka sistem pertahanan rumah untuk menyelamatkan seorang stranger yang meminta tolong. Nasib sial, sekumpulan pemuda ternyata sedang mengejar stranger itu dan akan melakukan apa saja jika keluarga Sandin tidak segera menyerahkan stranger itu. Bisakah mereka bertahan dalam malam maut tersebut ?

“All you can kill, this hunger games interesting premise ends as average home invasion thriller.”

Siapa yang tidak akan tertarik dengan premise yang sangat intriguing tersebut (yah walaupun seperti The Hunger Games tapi dengan durasi dan skala yang lebih besar). Ditambah dengan aktor kawakan dan terkenal sekelas Ethan Hawke. Ditambah (lagi) dengan trailer yang cukup menarik. Pada awalnya, premise seperti ini adalah ibarat sebuah angin segar terhadap film home invasion kebanyakan. Namun sepertinya, film ini berakhir sebagai film thriller biasa karena penyutradaraan yang terlalu bertele-tele.

Diawali dengan footage dari hari Purge sebelum-sebelumnya, film ini sempat mengundang penonton untuk berpikir, kenapa sih harus ada annual Purge, apa tujuannya, apakah efektif, apakah efek ke depannya. Tentu saja, jarang home invasion thriller yang membuat kita berpikir demikian.

Namun, James DeMonaco sepertinya menahan senjata terlalu lama, cerita ini hampir sangat membosankan ketika mulai berjalan di tengah dan leih berkonsentrasi kepada adegan pencarian “stranger” di dalam rumah, daripada intimidasi yang dilakukan oleh para berandal di luar. Hasilnya, ketika mencapai bagian seperempat terakhir, film ini terlalu singkat untuk melakukan adegan dengan para berandal yang sebenarnya harusnya menjadi adegan “main course” di film ini.

Karakter-karakter dari keluarga Sandin juga merupakan karakter generic yang membuat penampilan aktornya kurang dapat greget. Seperti karakter ayah yang tidak menyetujui anaknya berpacaran, ibu penyayang anak-anaknya, anak perempuan yang sedang mulai berpacaran dan mulai memberontak, dan anak cowok yang tidak henti-hentinya melakukan tindakan bodoh. Mereka semua terperangkap pada karakter yang mempunyai karakter terlalu umum. Bahkan termasuk antagaonis utama yang dicreditkan sebagai “Polite Stranger” memberikan karakter yang tidak menacing dan berusaha menacing tapi jatuhnya malah juga sudah banyak film yang “been there done that”. Kenapa dia harus melepaskan topengnya terlalu cepat, padahal topeng itu jika tidak dilepas malah akan menjadi satu daya tarik misterius (ingatkah kita dibuat penasaran dengan para antagonis yang tidak pernah melepas topengnya di film The Strangers).

Dan sepertinya film ini salah memilih senjata, senjata pistol membuat setiap adegan hanya berakhir seperti dengan “short cut” dan dalam membunuh kurang dapat “enaknya”. Hanya dar-dir-dor. Plus dengan predikat R rated untuk film ini, film ini masih terlalu takut untuk membunuh karakter protagonist. And I hate when a movie is protecting children TOO MUCH, I mean they shouldhave the same chance to be killed.”

Trivia

The Purge diawali dengan footage, di film Ethan Hawke bergenre “hampir” sama, Sinister, awal filmnya pun diawali dengan footage.

Quote

Penyiar : Incoming reports show this year’s Purge has been the most succesful to date, with the most murders committed.

Sinister (2012) : Ambitious Writer Risks His Family for Demon in Haunting House (Again)

Sutradara : Scott Derrickson

Penulis : C. Robert Cargill, Scott Derrickson

Pemain : Ethan Hawke, Juliet Rylance, Michael Hall D’AddarioClare Foley

Tagline : Once you see him, nothing can save you.

“Sorry, the twist is not enough.”

About

Sinister menjadi salah satu film horror yang paling diantisipasi oleh pecinta horror. Bagaimana tidak, beberapa poster  dari Sinister berhasil menarik perhatian, ditambah dengan trailer dengan durasi kurang dari 3 menit mendapat predikat ‘cukup menegangkan”. Poster film ini masih menggunakan embel-embel “From producer Paranormal Activity dan Insidious”, dua buah film yang dirasa overrated. Film ini juga melibatkan komponen “found footage” dalam storylinenya yang sedang booming di genre film horror. Film ini dibintangi Ethan Hawke, disutradari oleh orang yang sudah tidak asing menggarap film horror, Scott Derrickson.

Cerita diawali adegan intens sebuah keluarga digantung di sebuah pohon dengan sadis. Beberapa bulan kemudian, sebuah keluarga (Ethan Hawke, Juliet Rylance, Michael Hall D’Addario, Clare Foley) pindah ke rumah yang sama, disertai misteri bekas crime scene penggantungan keluarga itu. Ethan Hawke berperan sebagai Ellison Oswalt, seorang penulis ambisius yang berusaha mendapatkan kejayaannya lagi sebagai penulis. Ketika memberesi barang, Oswalt menemukan sebuah kardus berisikan proyektor tua dan footage yang berisikan serangkaian pembunuhan misterius yang dilakukan sejak tahun 1960. Ditutupi dengan ambisi berlebihannya, Oswalt terus mengeksplorasi setiap video pembunuhannya ini tanpa menyadari bahwa keluarganya ini dalam ancaman iblis yang sangat jahat.

Film ini mengambil sosok iblis, Bughul, yang sangat miskin informasi di internet. Entah apakah Bughul ini adalah legenda asli atau bukan, namun di dalam film dijelaskan bahwa Bughul adalah iblis yang suka membunuh seluruh anggota keluarga, menculik anak-anak mereka kemudian mengajak mereka ke alam gaibnya.

Why people keep walking when they know something bad is following their back ?

Penggunaan found footage kuno yang berisikan serangkaian pembunuhan misterius benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Terasa kuno. Terasa antik. Apalagi scene dimana seluruh keluarga digantung lewat sebuah pohon yang ditumbangkan, itu benar-benar intens, benar-benar memicu rasa penasaran penonton dari awal.

Perjalanan film dari awal sampai akhir diselipi berbagai runtutan scene yang tidak asing lagi, terror-terror diterima namun ceritanya terkesan hanya berjalan di tempat. Penyelidikan yang dilakukan oleh Oswalt pun terasa sangat monoton namun diimbangi dengan penampilan dari Ethan Hawke yang pantas dihargai.

Sepanjang film penonton dibuat menduga-duga, siapakah sosok Bughul yang muncul di setiap found footage yan diputar Oswald ? Ekspektasi akan twist yang mungkin ditunjukkan sebagai climax show pun meninggi. Alhasil, film ini memang memberikan twist, namun tidak cukup memuaskan. Untuk penonton yang menyukai jump scare, yang notabene bukan karena takut, namun karena kaget akan meng-excuse film ini. Tidak ada yang baru, namun jika ingin sedikit ketakutan dengan beberapa scene yang mengagetkan, bolehlah ini film. Film pun diakhiri dengan kurang beraksinya sang Bughul dan kurang klimaxnya adegan akhir yang harusnya mungkin dikemas dengan lebih sedikit gore.

Satu lagi, scene terakhir Bughul di akhir film itu sangat konyol, please for horror genre, get over it this kind of scene in the end of movie. What’s the point ?

Hmmm, semi spoiler, twistnya berkaitan dengan movie posternya, hehe.

Trivia

Bughul merupakan villain ciptaan sang sutradara yang merujuk pada Boogeyman.

Quote

Ashley  : Don’t worry Daddy… I’ll make you famous again.