Guillermo del Toro

Crimson Peak (2015) : Grandiose Production Design, Guillermo Del Toro’s Vision and What Went Wrong ?

Director : Guillermo del Toro

Writer : Guillermo del Toro

Cast : Mia Wasikowska, Jessica Chastain, Tom Hiddleston, Charlie Hunnam

(REVIEW) Tahun 2015 merupakan tahun yang begitu menggembirakan untuk genre horor; diawali dengan film dengan sukses kritik semacam It Follows yang menawarkan konsep menarik, Unfriended yang menggunakan medianya sendiri, atau semacam Creep yang sederhana namun begitu efektif, dan Insidious Chapter 3 yang paling tidak bisa meneruskan franchisenya di tengah jatuhnya film remake atau sekuel seperti Poltergeist dan Sinister 2. Namun, yang menjadi film diantisipasi nomor satu dalam genre ini tidak lain tidak bukan ketika Guillermo Del Toro memutuskan untuk menyutradarai film rumah berhantu : Crimson Peak dengan jajaran aktor yang luar biasa.

Menjelang perilisannya, sang sutradara mengumumkan lewat akun twitternya yang barus saja ia buat bahwa Crimson Peak bukanlah film horor, dan lebih menekankan bahwa film ini lebih jatuh pada gothic romance dengan momen-momen yang intens. Sangat nampak jelas memang ketika film berawal film langsung memberikan visual hantu CGI yang kelewat kasat mata, dan ditambahkan ucapan sang karakter bahwa “Ghosts are real.” dilengkapi dengan kalimat di momen yang lain bahwa ini bukan cerita hantu melainkan cerita dengan hantu di dalamnya.

(more…)

The Hobbit : The Desolation of Smaug (2013) : “Save The Last Dragon”-Quest for Middle Chapter of The Most Anticipating Trilogy

Director : Peter Jackson

Writer : Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson , Guillermo del Toro , J.R.R. Tolkien

Cast : Ian McKellen, Martin Freeman, Richard Armitage, Orlando Bloom, Evangeline Lilly

About

Okay, how I am gonna do it ?

Let’s say I haven’t watched The Lord of The Rings, WHATTTT ??

Let’s say I haven’t watched the first Hobbit, what theeeeee ??

Let’s say I don’t know what the Smaug is, hookay.

Tetapi opini pertama saat menonton film ini (thanks to my friend, because I didn’t have any plan to watch this (unless it’s free), adalah is that Peter Jackson eats carrots for the first scene ? Yeah, telah dicek. Jadi, anggap review ini merupakan review dari kaum awam yang sama sekali tidak tahu tentang LOTR-thingy. Lets do this.

Sebagai film yang paling diantisipasi di tahun 2013, tentu film ini sudah diperkirakan akan menelurkan banyak dolar di tahun ini. Terbukti benar, untuk dua minggu berturut-turut film ini masih bertengger untuk posisi pertama di jajaran box office America Serikat, walaupun sepertinya tidak sesukses Hobbit pertama yang mencetak 1 billion dollar di seluruh dunia.

Melanjutkan cerita di Hobbit pertama (which is I don’t know about it), film diawali dengan scene Gandalf (Ian McKellen) membujuk Thorin (Richard Armitage) untuk merebut tanah kelahirannya kembali dari seekor naga bernaga Smaug (disuarakan oleh rising star kita, Benedict Cumberbatch). Throrin, Gandalf, dan para dwarves pun melakukan perjalanan untuk merebut arkenstone yang berada di sarang sang naga. Untuk mengambilnya, mereka juga mengajak Bilbo Baggins (Martin Freeman), seorang pencuri ulung. Mereka harus bertarung dengan waktu dan juga harus terus berlari dari kejaran Orc yang mengejar mereka. Petualangan demi petualangan pun mereka jalani, mulai dari bertarung dengan laba-laba raksasa, ditangkap oleh elves Legolas (Orlando Bloom) dan Tauriel (Evangeline Lily), menyusup ke sebuah desa dekat danau dengan bantuann seorang laki-laki Bard (Luke Evans) sampai akhirnya mereka di Lonely Mountain, tempat naga bersarang. Berhasilkah mereka ?

“For someone who knows nothing, I gotta say, this movie moderately amused me.”

Image

source : impawards.com

Sebuah catatan, sebelum menonton film ini, I am so tired, a little bit of headache, but the positive side is I am zero expectation. And yeah, The Hobbit : The Desolation of Smaug ternyata berhasil memberikan tontonan yang sangat menghibur.

Pertama, dari segi visual, tentu saja siapa yang akan tahan dengan negeri fantasi yang berisi banyak makhluk-makhluk aneh (dan beruntung, seaneh-anehnya makhluk ini tidak diperparah oleh CGI) dan paparan pemandangan yang menyegarkan mata. Segi visual tentu saja akan berkaitan pada makhluk yang ditunggu-tunggu sepanjang film Smaug. Penampakan Smaug ini terus menjadi misteri terutama yang tidak melihat trailer apapun sebelumnya, dan bisa dikatakan penampilan Smaug ini diatas ekspektasi. Tidak ada naga yang terlalu aneh dengan efek CGI, dan dari ukurannya, yeah it’s huge.

Kedua, action sequence, The Hobbit : The Desolation of Smaug memberikan pemaparan cerita yang cukup simple, yaitu petualangan. Untuk seseorang yang tidak terlalu mengerti LOTR atau belum melihat The Hobbit : Unexpected Journey, hal ini merupakan angin segar. Penonton tidak perlu meng-catch up jalan cerita yang terjadi sebelumnya, walaupun berbagai istilah atau nama masih terdengar asing ataupun aneh. The Hobbit : The Desolation of Smaug hanya memberikan satu petualangan demi petualangan lain, beruntung di tangan Peter Jackson, petualangan ini masih seru dan terlihat solid walaupun secara durasi, film ini tergolong sangat overlong dan overproduced. Yeah, in the hand of weaker director, this movie, I guarantee will be a travesty.

Ketiga, the cast. Sebelum ini, tidak tahu siapa itu Gandalf (walaupun familiar, dan mengingatkan pada Dumbledore), tidak tahu siapa Bilbo Baggins, atau Smaug. Untuk cast, hampir tidak ada yang spesial selain costume and make up. Terkesan dengan penampilan Martin Freeman yang sangat pas memerankan Bilbo Baggins, dan juga penampilan kick ass mungkin disandang oleh duo elves Legolas dan Tauriel yang sangat fast paced memainkan busur dan panah mereka (yeah arrows are in this year). Dua elves ini sepertinya mengimbangi sisi action dimana paa dwarves yang tampil sepanjang film kurang memberikan perlawanan kepada musuh mereka, yeah mungkin mereka lebih bersifat defensive atau apalah. Penampilan yang paling ditunggu mungkin penampilan suara dari Cumberbatch lewat voice acting-nya, dan sedikit kecewa sebenanya ketika mendengarkan suara Smaug yang ditampikan hanyalah suara naga, yeah that’s dragon voice like it should be, maksudnya I want a little bit of Cumberbatch’s character and I don’t feel it.

Image

source : impawards.com

Kelemahannya mungkin masih pada durasi yaitu dua jam empat puluh menit, I don’t know the source, tetapi untuk durasi sebegitu lamanya mungkin membutuhkan buku yang kompleks dan tidak menceritakan satu petualangan sederhana saja, hasilnya ya film ini terlalu kepanjangan, untuk penonton yang tidak sabar mungkin akan terlalu banyak menguap atau sebagainya.

Untuk bagian akhir film, dimana naga adalah hidangan utamanya, sering terjadi on-off ketegangan, dengan adanya pembagian sequences action antara naga melawan para dwarves dengan elves yang melawan para orc di desa dekat danau. Untuk penampilan klimaks, mungkin kurcaci versus naga (walaupun lebih tepatnya melarikan diri) mungkin lebih bisa dibuat lebih thrilling dan berbahaya.

Plus, cliffhanger ending ? Yeah, untuk beberapa orang mungkin akan mengecewakan terutama ketika film ini tidak menyajikan resolusi apa-apa pada ceritanya, but I can live with that (The same worry maybe for the Mockingjay Part 1 next year).

Intinya film ini merupakan sebuah petualangan yang exciting tentu saja didukung dengan visualnya, disamping dari segi cerita yang dipanjangkan tanpa adanya character development atau essential element yang membuat film ini menjadi begitu penting untuk disimak. Tetapi film ini benar-benar membangkitkan selera untuk menonton Hobbit 1 dan TLOTR.

Trivia

Pada sebuah screening di Brazil, sebuah speaker pecah karena suara Smaug.

Quote

Bilbo Baggins : What have we done?

Pacific Rim (2013) : Robots Versus Monsters to Determine When Apocalypse Happens

Director : Guillermo del Toro

Writer :  Travis BeachamGuillermo del Toro

Cast :  Charlie HunnamIdris ElbaRinko Kikuchi, Charlie Day, Ron Perlman

About

Pacific Rim. Robot-robotan pasti akan mengingatkan kita dengan Transformer (meh). Robot yang dikendarai dan dikendalikan oleh manusia pasti mengingatkan kita pada Power Ranger. Kalau tiba-tiba ada datang makhluk-makhluk lebih besar dari dinasaurus yang munculnya dari lautan pasti akan mengingatkan kita pada film Godzilla. Apalagi kalau monster-monster itu datang dari sebuah portal pasti mengingatkan kita pada The Avengers atau Transformer (lagi) (meh).

Kalau kita pernah melihat Godzilla dan nonton bagaimana seorang monster mengobrak-abrik sebuah kota, itu menjadi intro pada Pacific Rim. Tidak ada lagi helikopter yang dengan “konyol”-nya menembaki monster super gede, atau tank-tank yang mencoba melawan. Di Pacific Rim, perlawanan untuk menunda apocalypse semakin bengis dengan cara menciptakan sesuatu yang sama besarnya yaitu robot.

Robot-robot tersebut tidak dikendalikan dengan mudah, namun membutuhkan dua orang di dalamnya untuk mengoperasikannya. Tidak hanya harus kompak secara fisik, namun kedua pilot ini juga harus menggabungkan pikiran mereka (yang satu ini mengingatkan kita pada Avatar). Raleigh (Charlie Hunnam) adalah seorang mantan pilot yang berusaha me”recover” dirinya sendiri karena sebuah pertempuran besar melawan Kaiju (sebutan untuk monster) yang merenggut nyawa kakaknya. Lima tahun kemudian, pertarungan antara Jaegers (sebutan untuk robot) semakin menemukan jalan buntu, sehingga memaksa sang kolonel Stacker (Idris Elba) untuk berencana mengebom portal dimana monster-monster itu keluar. Ketika tidak adanya resource pilot, Raleigh dipanggil kembali dan disandingkan dengan seorang pilot newbie tanpa pengalaman Mako (Rinko Kikuchi). Sementara mereka menyiapkan diri untuk mega-plan tersebut, seorang ilmuwan Dr Newton (Charlie Day) menemukan metode baru yang ternyata menguak bahwa monster-monster tersebut tidak sebodoh yang mereka pikirkan. Berhasilkah mereka menunda apocalypse ?

Disutradari oleh sutradara yang mempunyai reputasi baik, Guillermo Del Toro dan dibantu oleh penulis Clash of The Titans (sebenarnya jadi ragu sama yang satu ini), Travis Beacham. I guarantee you there will be a lot of Krakens here. Walaupun disutradara sekelas Del Toro, dengan mega budgetnya sebesar 190 juta dollar, banyak pihak yang memprediksi film ini menjadi big flop di tahun ini (I hope this movie is doing good, though at its debut, it’s behind Grown Up 2, that’s a little bit fucked up).

“What a happy meal for this summer, with robots, monsters, Del Toro, and story which comes in a little bit deeper into portal, what else do you want ?”

Sebenarnya secara personal tidak terlalu suka dengan robot yang serba mesin dengan pengalaman menonton Transformer yang hanya memanjakan dari segi visual namun benar-benar kurang moving dan kosong dari segi cerita. Dalam hal ini, Pacific Rim setidaknya memberikan porsi yang pas, kapan robot-robot itu harus bertarung dan kapan unsur-unsur pembangun cerita harus disertakan. Di awal film, penonton mendapatkan apa yang mereka mau dengan pertarungan hebat antara robot Gypsi Danger dan Kaiju. Setelahnya, cerita mulai dibangun lagi dengan memperkenalkan karakter walaupun dari segi pendalaman, karakter-karakter tersebut masih terlalu dangkal. Paling tidak ada usaha untuk membuat karakter tidak hanya kosong. Untuk segi ceritanya, film ini selalu menampilkan hal-hal yang baru, perkembangan dalam cerita yang membuat film ini terasa tidak membosankan, tidak hanya melawan monster melulu.

Untuk visualnya, Jaegers VS Kaiju ini benar-benar spectacular, tidak hanya hantam baku-hantam baku, namun beberapa pertarungan (bahkan sampai luar angkasa) juga membuat dinamika tersendiri ditambah dengan gerakan kinetik orang-orang di dalamnya yang membuat semakin seru.  Jika melihat Optimus mati di installment ketiga transformer dan sudah bikin wow, maka Guillermo Del Toro tidak takut-takut untuk memberikan pertarungan yang sengit, kejam dan bengis yang secara otomatis membuat film ini bukanlah film yang cengeng, tapi sebuah film yang serius.

Terjebak dengan banyaknya film yang mengkaitkan makhluk besar sebagai antagonis namun hanya menang dalam ukuran, film ini dapat menghindarinya. Kaiju adalah monster-monster yang mampu memberikan perlawanan sengit karena mereka mampu berpikir dan juga berevolusi untuk menyesuaikan keadaan.

Ya memang, untuk karakter dari masing-masing pemain, film ini sudah berusaha mengisi walaupun dalam porsi yang sebenarnya nanggung. Contohnya karakter Raleigh sebagai karakter utama yang cukup diperankan datar oleh Charlie Hunnam yang mempunyai pengalaman kehilangan kakaknya. Karakter lain seperti leader yang diperankan Idris Elba cukup membawa kharisma dan ketegasan (hmm, we can see Idris Elba as Nelson Mandela this year) cukup berhasil, dan pemilihan bintang nominasi Oscar Rinko Kikuchi cukup membawa daya ke”atraktifan” sendiri. Sementara duet Charlie Day dan Ron Perlman membawa nuansa jokes di film ini.

Walaupun kurang “segar”, paling tidak Pacific Rim memberikan hiburan tersendiri untuk penatnya film-film superhero yang biasanya nangkring sepanjang waktu dengan cerita-cerita yang begitu saja. Well done, Mr. Del Toro !

Trivia

Tom Cruise sempat dipertimbangkan untuk peran yang akhirnya didapatkan Idris Elba.

Quote

Stacker Pentecost :   Today at the edge of our hope, at the end of our time.  We have chosen to believe in each other!  Today we face the monsters that are at our door, today we are cancelling the apocalypse!