Guy Pearce

The Rover (2014) Leaves Us High and Dry, Pattinson Reveals “Bare The Fangs” Performance

Director : David Michôd

Writer : David MichôdJoel Edgerton

Cast : Guy Pearce, Robert Pattinson, Scoot McNairy

Robert Pattinson as half wit guy ? What a priviledge to watch.

(REVIEW) Salah satu tips jika berada pada dunia dystopia, RULE #32 : Enjoy the little things (thanks to Zombieland). Seperti halnya Tallahasse yang mencari the last twinkie, atau Witchita dan adiknya yang ingin mengunjungi amusement park di dunia penuh zombie, The Rover adalah sebuah perjalanan seorang laki-laki mengejar mobil kesayangannya (dengan menggunakan mobil lainnya, seems pointless, see ? ) di tengah teriknya gurun Australia, 10 tahun setelah ekonomi dunia mengalami collapse. Remember this rule #32 when you’re watching it, trust me, it helps.

The Rover menjadi salah satu film yang diantisipasi mengingat karya debutan David Michod – Animal Kingdom menjadi salah satu karya best reviewed di tahun rilisnya. Dijajarkan dengan Animal Kingdom, terdapat beberapa persamaan elemen : car as important plot, dependent kid, ruthless criminal, family bond – final twist, and surprising blood splattering in the wall. Hanya saja dibanding Animal Kingdom, The Rover lebih kalem, lebih artsy, lebih kering dan lebih Australia.

(more…)

Advertisements

Hateship Loveship (2014) Has Serene Ambience and Leading Silent Storm with Incorrigible Oversimplified Final Act

Director : Liza Johnson 

Writer : Alice MunroMark Poirier 

Cast : Kristen WiigGuy PearceHailee SteinfeldJennifer Jason LeighNick Nolte 

“I have what I want.” – Johanna

(REVIEW) Bridesmaids changes her. Yep, penampilan sebagai Annie oleh Kristen Wiig banyak yang sudah tidak kaget mengingat Wiig adalah salah satu anggota SNL dengan sejuta impersonation-nya. Tapi bagaimanakah jika Wiig mendapatkan peran yang begitu dramatis dan harus meninggalkan sisi komedinya. Johanna (Kristen Wiig), seorang caretaker sepertinya sudah menyiapkan hatinya ketika pasien yang ia rawat harus meninggalkannya, dengan sangat tenang mengganti pakaian sang pasien kemudian dengan tenang juga, ia melakukan death report.

(more…)

Animal Kingdom (2010) is “Pulling The Strings All Over Again” Visce-real Crime Story with Well Absorbed Characters

Director : David Michôd 

Writer : David Michôd 

Cast : James FrechevilleGuy PearceJoel EdgertonLuke FordSullivan Stapleton, and Jacki Weaver

“It’s a crazy fucking world.” – Pope, and the movie ended with a BANG !

Image

 

(REVIEW) Impressive for this Australian movie. Animal Kingdom bisa dikatakan sebagai film yang enjoyable untuk ukuran orang-orang yang tidak terlalu menggemari subgenre crime (I am talking about me). Joshua “J” Cody (James Frecheville), berperawakan mature, namun baru berusia 17+ harus kehilangan ibunya yang meninggal karena overdosis. Ibarat sebagai karakter yang polos, dan kosong, J akhirnya meminta bantuan neneknya, Smurf (Jacki Weaver), yang sebenarnya tidak terlalu ia kenal kehidupannya. (more…)

Breathe In (2013) is Melodious Seduction, What a “Crack an Egg, without Breaking The Yolk” !

Director :  Drake Doremus

Writer :  Drake Doremus

Cast : Felicity JonesGuy PearceMackenzie DavisAmy Ryan 

“One day, you’ll be free.” – Sophie Williams

Image

source : impawards.com

(REVIEW) Breathe In seperti judulnya berusaha untuk menggambarkan sesuatu yang asing untuk masuk dengan cara yang sangat lembut, se-biasa mungkin. Dan seperti “bernafas”, sesuatu yang asing itu tidak pernah dipaksakan untuk masuk. And it did.

Dari awal film, keluarga Reynold digambarkan sebagai keluarga yang bahagia dengan senyum lebar di sesi foto yang sedang mereka jalani. Guy Pearce yang seorang musisi (Guy Pearce), seorang ibu yang begitu mengayomi (Amy Ryan), dan anak yang begitu berprestasi (Mackenzie Davis). Ketika seorang siswa dari London melakukan pertukaran pelajar, keluarga inilah yang menyediakan tempat tinggal untuk Sophie (Felicity Jones). Namun, sepertinya kehadiran Sophie ini akan merubah arti senyum keluarga ini di awal film tadi.

Movie with open arms, kehadiran Sophie memang ditunggu sejak awal, walaupun Guy Pearce pada awalnya menunjukkan gelagat ketidak-antusiasnya. Berbeda dengan Lauren yang rela berbagi tempat tidur, atau Ibunya yang bahkan sudah menganggap Sophie sebagai anaknya sendiri (she even shows Sophie her secret cookie jar). Masuk ke dalam keluarga baru, Sophie diperankan dengan tenang oleh Felicity Jones. Berperan sebagai siswa Inggris memang bukan hal baru untuk Jones setelah film Like Crazy yang menjadi salah satu film terbaiknya. Tenang namun tidak dingin, sosok Sophie begitu penasaran dengan masing-masing anggota keluarga ini, namun orang yang paling menyita perhatiannya hanyalah Guy Pearce, suami yang terjebak pada pekerjaan dan ter-underestimate oleh keluarganya. Ketika music menjadi one thing in common untuk mereka berdua, baik Guy Pearce atau Felicity Jones pun merubah karakternya menjadi lebih fragile, lebih seductive satu sama lain. Kehebatan mereka berdua adalah bagaimana mereka menciptakan sebuah diferensiasi dalam berakting namun transisinya tidak terlalu kasar, sangat-sangat halus.

Felicity Jones mampu memerankan siswa berumur sekitar 18-an dengan usianya yang terlampau cukup tua yaitu 30 tahun, namun sama sekali tidak ada unsur ketuaan. Sophie merupakan karakter yang benar-benar membuka sensitifitasnya dengan dunia luar, juga berusaha melakukan denial namun tidak ingin terkesan munafik juga dengan apa yang ia rasakan. Secara konsisten pula, Guy Pearce menimpali apa yang dirasakan Felicity Jones, sebagai simbol sebuah seorang kepala keluarga yang terbayangi oleh otoritas istri, sekaligus kehilangan otoritas itu yang kemudian berubah menjadi sebuah dissatisfaction dalam bekerja ataupun berumah tangga. Keith yang diperankan Guy Pearce akhirnya menemukan sebuah angin segar ketika seseorang eeperti Sophie mengapresiasinya. Di sisi supporting actress, baik Amy Ryan dan Mackenzie Davis juga memberikan sebuah sense of welcome yang cukup kuat, membuat semua tindak tanduk Sophie dan Keith ini menjadi berkali-kali terlihat lebih filthy (walaupun tidak sepenuhnya terlihat demikian).

Bersetting di New York, namun jauh dari hingar bingar kota. Scene-scene seakan-akan dibuat adem, dingin selayaknya bersetting di sebuah lake house. Ditambah dengan kombinasi hujan, dedaunan yang dishot indah, shaking camera yang memperkental sisi indie, sisi natural film ini menjadi sebuah sisi yang kontras antara visualisasi yang tenang dengan karakter-karakter yang begitu fluktuatif, internally. Ditambah dengan beberapa alat musik yang dimainkan, film ini begitu melodic dan menyejukkan.

Dibandingkan dengan Like Crazy yang juga begitu natural (bahkan dalam plot-nya), mungkin Breathe In sedikit lebih banyak mendapatkan treatment dramatisasi lewat beberapa coincidence yang vital untuk plot (which is still weird for this kind of naturalistic movie) atau langsung intense-nya affair kecil Jones dan Pearce walaupun terpentok screentime yang sangat terbatas. Cracking the egg, without breaking the yolk. Hmmm, film ini memang mengolah konfliknya dengan sangat sabar. Kesabaran ini ternyata mampu membuka satu demi satu celah yang terdapat pada keluarga baik-baik ini, menunjukkan bahwa setiap karakter tidak baik-baik. Selain itu, film ini juga tidak ingin meninggalkan “damage” yang terlalu besar. No real sexual activity untuk affair Jones dan Guy, yang sedikit “janggal” untuk film demikian walaupun memang sepertinya hubungan Jones dan Guy sangat dipengaruhi dengan karakter Sophie dan pamannya yang baru saja meninggal. Oleh karena itu resolusi film ini juga terlihat simple dan masuk akal, karena memang damage yang Sophie lakukan tidak terlalu “membahayakan”. Tidak membahayakan namun membangunkan. Setelah hampir sepanjang film dilihat dari perspektif Sophie, di akhir film, film ini meng-ekspansi bagaimana “damage” ini mempengaruhi ke empat karakter (which is another “connecting the dots-coincidence).

Film Breathe In berhasil menyajikan sebuah drama yang merasuk dan mengembangkannya sebagai sebuah affair kecil diantara karakter yang terjebak, bingung dan ingin bebas. In the end, life is choice. (B-)

Iron Man 3 (2013) : Gold-est Version of Tony Stark Story as High Tech Guy

Director :  Shane Black

Writer :  Shane Black, Drew Pearce

Cast :  Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow, Ben Kingsley, Guy Pearce, Rebecca Hall

About

Iron Man 3 sepertinya akan mengawali parade film-film box office yang akan meraup ratusan juta dollar. Sejak kesuksesan besar-besaran yang dialami Marvels lewat The Avengersnya, Iron Man 3 menjadi salah satu film yang ditunggu di tahun ini. Tidak hanya dengan kharisma Robert Downey Jr, atau asmaranya dengan Gwyneth Paltrow, atau juga kemunculan 2 villain yang turut dinanti, Ben Kingsley dan Guy Pearce, namun juga di installment ketiga ini akan disutradarai sekaligus ditulis oleh tangan dingin Shane Black.

Setelah kejadian The Avengers, Tony Stark (Robert Downey Jr.) mendapatkan ancaman terorist kejam, Mandarin (Ben Kingsley). Tidak hanya dibantu Aldrich Kilian (Guy Pearce), The Mandarin mulai mengobrak-abrik dengan orang-orang yang lebih mirip seperti monster atau torch di Fantastic Four yang mampu mengeluarkan api. Masalah ditambah ketika hubungannya dengan Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) mulai terdistraksi oleh teknologi-teknologi Stark yang berlebihan hanya untuk melindungi Potts. Puncaknya, ketika Mandarin menyerang markas besar Tony Stark beserta semua teknologinya, mampukah Tony Stark atau Iron Man bangkit dan melakukan perlawanan ?

Robert Downey Jr emerges as real hero (not only a guy with iron mask), but it is such a disappointment when Ben Kingsley’s role as Mandarin is narrowed, but (again) Iron Man 3 is such a full twisty fun ride with a lot of fresh jokes and witty dialogues.

Tidak mudah bagi seorang Robert Downey Jr, di usianya yang hampir 50 tahun ia masih didapuk menjadi karakter superhero seperti Iron Man. Mungkin jika melihat sekilas Iron Man 1 dan 2, dimana Tony Stark hanya berada dalam suitnya kemudian berbicara dengan Jarvis, tidak dengan Iron Man 3. Tony Stark harus berjuang untuk melawan musuh-musuhnya dan sesekali harus melepas jubah besinya. Ya memang, dengan script yang menyajikan storyline seperti itu Robert Downey Jr jauh mempunyai kapasitas lebih untuk lebih mengeksplor sisi heroiknya dan ternyata cukup berhasil. Pasangannya, Pepper Pots juga makin lama mempunyai porsi lebih dalam franchise Iron Man, tidak hanya dilibatkan sebagai pemanis untuk sang pahlawan, Pepper Pots juga dilibatkan kedalam peran yang lebih signifikan di luar cerita cintanya yang berhasil ditunjukkan dengan emosi oleh Gwyneth Paltrow.

Entah karena pengaruh The Dark Knight yang berhasil menarik perhatian penonton lewat segi cerita yang lebih dark, penuh twist dan tidak tanggung-tanggung (including in killing people). Iron Man juga menyajikan hal yang serupa. Iron Man 3 penuh dengan twist-twist kecil yang sangat asyik membuat cerita sangat dinamik untuk ditonton. Walaupun twist-twist itu masih terjebak pada character revelation dan terkadang sudah terlalu familiar dan mudah ditebak. Salah satunya adalah twist yang dialami oleh karakter Mandarin yang diperankan oleh Ben Kingsley. Karakter ini mengalami penyempitan porsi walaupun dengan penyempitan porsi tu, Ben Kingsley menjadi karakter yang benar-benar hidup dan mencuri perhatian penonton (hmm, I still hope Ben Kingsley has larger portion in this movie, back again, it’s all about expectation of “the great” Mandarin). Karakter lain seperti Maya Hansen (Rebecca Hall) dan Aldrich Kilian (Guy Pearce) juga mempunyai magnet sendiri, terutama Maya Hansen, walaupun tidak terlalu mencolok, tapi bolehlah.

Jika dibandingkan dengan The Avengers, maka dialog-dialog Iron Man 3 ini juga hampir serupa, penuh dengan line-line witty namun berasa tidak dipaksakan seperti apa yang dialami di The Avengers. Untuk adegan actionnya sendiri berjalan dengan high paced dan memikat ditambah dengan visualisasi yang sepertinya sepadan dengan budget yang dikeluarkan untuk film ini yaitu sekitar 200 juta dollar America.

Untuk kategori film heroes, mungkin Iron Man 3 bukanlah film superhero terbaik, mengingat berbagai film dengan formula plot yang sama (let’s say formula for The Dark Knight, or The Dark Knight Rises, or even Skyfall) menjadi lebih familiar untuk penonton, namun Iron Man 3 adalah blend yang pas untuk sebuah entry yang lengkap, unsur humor dan sedikit dark membuat franchise Iron Man by Robert Downey Jr ditutup dengan baik (based on lately Paltrow’s statement which says there will be no Iron Man 4).

Trivia

Gemma Arterton, Diane Kruger sampai Isla Fisher sempat dipertimbangkan Maya Hansen sebelum akhirnya Jessica Chastain dirumorkan mendapatkan peran itu namun mengalami schedule conflict, sedangkan peran Adrian Kiling sempat dipertimbangkan untuk dimainkan oleh pasangan Robert Downey Jr di Sherlock Holmes, yaitu Jude Law.

Quote

Tony Stark : Things are different now, I have to protect the one thing that I can’t live without. That’s you.