Jack Nicholson

Ironweed (1987) : What’s Worse than Homeless Schizophrenic Jack Nicholson Drank During The Great Depression ?

Director : Hector Babenco 

Writer : William Kennedy

Cast : Jack NicholsonMeryl StreeCarroll Baker

“By God, Helen, that’s as good as it gets. You were born to be a star.” – Francis, by the way, Nicholson got his Oscar for movie “As Good As It Gets”, 10 years later

(REVIEW) There’s no home to be headed to, yeah film ini memang demikian baik dari storyline maupun cara penceritaannya. Pelan, bertele-tele, dan sedikit panjang dengan durasinya yang nyaris 150 menit, hanya untuk menyaksikan Nicholson dan Streep terombang-ambing menjadi gelandangan di kota New York di tahun 1930-an. Untungnya, aktor dan aktris yang masing-masing telah menyandang 3 Oscars ini membantu banyak untuk mempertahankan penonton di depan layar.

(more…)

Advertisements

Terms of Endearment (1983) : Mother Daughter Relationship with Eleven Oscars Nominations

Director : James L. Brooks

Writer : James L. Brooks, Larry McMurtry

Cast : Shirley MacLaineDebra WingerJack Nicholson, John Lithgow

About

Film ini memenangkan lima dari sebelas nominasi, termasuk Best Picture, Best Director, sampai Best Writing. Tidak hanya itu saja, film ini juga diperankan beberapa aktor/aktris yang juga mendapatkan empat nominasi di kategori akting dimana Shirley Maclaine memenangkan Oscar pertamanya, dan Jack Nicholson memenangkan Oscar keduannya setelah berperan di One Flew Over the Cuckoo’s Nest.

Tidak salah jika ekspektasi akan film ini lumayan besar selain film ini juga dianggap salah satu film tear-jerker terbaik dengan penampilan solid para pemainnya.

Kehidupan tentang ibu dan anak dibahas dalam film ini dan bisa dikatakan sebagai main course-nya. Aurora (Shirley Maclaine), seorang ibu yang sangat protektif dan sangat “freak control” terhadap anaknya, Emma (Debra Winger). Setelah kematian suaminya, Aurora semakin posesif termasuk ketika Emma telah beranjak dewasa dan siap menikahi laki-laki pilihannya, Flap (Jeff Daniels). Karena sifatnya, tentu saja Aurora tidak setuju bahkan tidak menyukai Flap, namun saking mengertinya Emma akan sifat ibunya, hal itu tidak menjadi masalah. Pasangan Ibu dan anak ini kemudian dipisahkan ketika Emma harus mengikuti suaminya yang bekerja di luar kota Texas. Sementara Emma menjalani kehidupan rumah tangga di Texas yang tidak mulus karena masalah keuangan, mengurusi ketiga anaknya, hingga hadirnya orang ketiga, kehidupan Aurora kini tinggal sendiri dan cenderung kesepian. Hingga ia menjumpai tetangga, yang merupakan mantan austronot, dan penjerat wanita, Garett (Jack Nicholson), seorang laki-laki unik yang membuat Aurora mempunyai minat kembali terhadap laki-laki walaupun usianya sudah menjelang tua.

“It has charms, good acting (especially Maclaine and Nicholson, they have no difficulties to act this kind of character), but I think it’s a little bit overrated, I think.”

Okay berbicara tentang Jack Nicholson di film ini, sepertinya tidak ada yang spesial dengan aktingnya, hanya saja sepertinya karakter Garret yang womanizer, sepertinya mendapatkan aktor yang cocok untuk memainkannya. Tentu saja, Jack Nicholson sepertinya tidak mendapatkan kesulitan untuk memainkan karakter yang bisa dikatakan “menyerupai dirinya”, apalagi ditambah ketika ia memakai tuxedo dan kacamata, yeah it’s him ! Kurang lebih sama dengan Jack Nicholson, Shirley Maclaine, memerankan ibu posesif dengan sifatnya yang sedikit judes (hmmmm, yeah, I watched Bernie and Steel Magnolias first), yeah peran seperti itu sepertinya sudah familiar untuk Shirley Maclaine.

Jika disebut dengan film “ibu dan anak” mungkin film ini kurang tepat, jika diekspektasikan seperti itu maka harapan untuk film ini akan sedikit meleset. Porsi berinteraksi dan juga berbagi layar antara Aurora dan Emma sendiri mendapatkan batasan long distance relationship yang mereka jalani. Hubungan Ibu dan anak hanya mendapatkan perlakuan di awal dan akhr film, sedangkan di sepanjang film, hubungan ini hanya berupa komunikasi lewat telepon. I gotta say, walaupun porsinya sedikit namun hubungan ibu dan anak ini adalah bagian terbaik dari film.

Film ini lebih banyak menunjukkan bagaimana kehidupan rumah tangga Emma dengan Flat sebagai pasangan muda yang cenderung dinamis, penuh dengan konflik, dan juga terkesan membosankan, walaupun diperankan oleh Debra Winger yang memiliki charm tersendiri di layar sedangkan Shirley MacLaine mewakili generasi berumur yang mempunyai hubungan statis di kehidupannya yang cenderung kesepian sampai ia menemui tokoh Garret dan menjalani hubungan “tanpa status”, dan ketika MacLaine plus Nicholson berbagi layar, i know, i know, it’s kind of awkward than romantic, namun sisi positifnya, paling tidak film ini berani dalam mengekplorasi hubungan mereka berdua.

Terdapat juga satu karakter yang juga dinominasikan Oscar namun hanya memiliki porsi yang kecil di film, dia dalah John Lithgow, berperan sebagai Sam Burn, tokoh yang menjadi lawan affair dari Emma, walaupun dia benar-benar mendapatkan karakternya sebagai seorang laki-laki yang awkward sekaligus kurang puas terhadap perkawinannya, namun ketika ia mendapatkan nominasi untuk porsi ini, I am still surprise. Sebenarnya bukan masalah intensitas waktu di layar, he’s good but is he good enough ? Ketika Viola Davis dinominasikan di Doubt untuk karakter yang cenderung sedikit porsinya, I got the reason, tapi untuk tokoh yang satu ini ? Yeah, kita tidak tahu kompetisi Oscar 1983, sekali lagi.

Berbicara tentang awards yang dimiliki film ini, yeah I am totally impressed. Yeah, walaupun memenangkan kategori utama, I gotta say, I don’t find something special here. Dikatakan overrated atau tidak, yah, Oscars 1983, I haven’t born yet, even I don’t know others nominees. Film ini bukan film yang memiliki best moment di sepanjang film, namun sekali lagi, film ini harus berterimakasih pada cast-nya yan membuat film ini terasa solid sampai akhir. Untuk kategori film tear-jerker, film ini gagal, I don’t cry, I feel so-so.

Kuncinya dalam melihat film ini, jangan berekpektasi banyak dari awards yang didapat. Yah mungkin inilah yang sering menjadi masalah bagi generasi yang lahir sedikit belakangan, ketika banyak orang membicarakan film lama, atau klasik, rating tinggi, award banyak, namun setelah kita melihatnya, kita merasa biasa saja, yeah I know, we all got our own taste.

Trivia

Tokoh Emma sebenarnya ditulis untuk aktris Sissy Spacek

Quote

Aurora : Grown women are prepared for life’s little emergencies.

One Flew Over The Cuckoo’s Nest (1975) : A Little Bit Madness in Mental Institution

Sutradara ; Milos Forman

Penulis : Lawrence HaubenBo Goldman

Pemain :  Jack NicholsonLouise Fletcher, Danny DeVito, Brad Dourif

“I love how Nicholson defines “crazy” and I love how Fletcher defines “villain” plus the patients are crazy good.”

About

Oscar 2013 sebentar lagi datang, marilah mengawali awal tahun dengan sok-sokan mereview film yang pernah memborong beberapa Oscars statue, 5 buah, wew !

Film ini memenangkan Best Picture Oscar 1976. Belum cukup ? Milos Forman juga dinobatkan Best Director 1976. Belum cukup juga ? Jack Nicholson dan Louise Fletcher keduannya berhasil menyabet Best Actor dan Best Actress. Oke, film ini juga memenangkan Best Writing, Screenplay Adapted From Other Material. Tidak dapat disangkal, Oscars memang dapat menjadi buzz bahkan untuk film yang rilis hampir lebih dari 35 tahun ini. Generasi  sekarang akan dibuat penasaran untuk sebuah film klasik yang mendapatkan 9 nominasi Oscars dan memenangkan 5 diantaranya.

Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Ken Kesey ini bercerita tentang kedatangan seorang criminal ke sebuah rumah sakit jiwa, Mac, diperankan oleh Jack Nicholson, untuk dievaluasi apakah ia mempunyai penyakit kejiwaan atau tidak. Ketika berada disana, ia bergaul dengan banyak pasien  yang mempunyai kepribadian istimewa dan masalah kejiwaan yang harus mereka hadapi. Konflik timbul ketika Mac menjumpai Nurse Ratched, diperankan oleh Louise Fletcher, yang sangat mengatur kehidupan di rumah sakit jiwa tersebut. Sementara menunggu rencana kaburnya, Mac memberikan pengalaman yang sedikit ‘gila’ untuk teman-temannya sedangkan ia harus tetap berlawanan dengan Nurse Ratched.

Top notch acting? Yes, it is. The story is flowing, the character development is very good

Jack Nicholsondengan muka yang memang sedikit ‘phsyco’ memang menunjukkan acting yang menawan. Jika pernah melihat The Shining dimana ia pelan-pelan gila, disini ia menunjukkan ekpresi kegilaan yang sedikit lebih realistis diselipi dengan emosi di dalamnya sehingga apa yang tunjukkannya adalah benar-benar seperti karakter asli, bukan ia berusaha berakting menjadi orang gila.

Louis Fletcher, begitu subtle, begitu halus, aktingnya begitu lembut, sehingga seringkali penonton dibuat tidak merasa bahwa ia adalah villain di dalam film. Aktingnya terlihat effortless namun sama sekali tidak mengurangi karakter kejam, tajam dari seorang villain.

Belum lagi ada beberapa pasien yang mempunyai karakter kuat dan mempunyai permasalahan masing-masing berhasil diperankan dengan baik oleh masing-masing actor seperti Danny Devito, Brad Dourif, Sydney Lassick dan lain-lain. Karakter dari masing-masing pemain begitu memorable.

Yang menarik adalah lewat dialog dan jalan ceritanya, film ini mengembangkan tokoh dengan begitu apik tanpa bertabrakan satu sama lain dan berhasil mengembangkan ending cerita yang sama sekali tidak terduga. Walaupun hanya bersetting pada satu gedung dan beberapa scene outdoor namun film ini sama sekali tidak membosankan sekligus film ini memberikan definisi baru tentang “kegilaan” dan arti “care” yang sebenarnya.

Trivia

Pencapaian film ini di Oscars tidak terulang sampai film The Silence of The Lambs dirilis di tahun 1991 yang juga menampilkan duo akting keren, Anthony Hopkins dan Jodie Foster.

Quote

Chief : I’m not going without you, Mac.