Joe Swanberg

Proxy (2014) – Something Wrong with Esther, Overtwisted but a Must See for Twists Lover

Director : Zack Parker

Writer : Zack ParkerKevin Donner

Cast :  Joe Swanberg, Alexa Havins, Kristina KlebeAlexia Rasmussen

(REVIEW) You don’t mess with pregnant woman, or ex-pregnant woman. Masih ingat film Inside ? Film home invasion yang menyajikan scene-scene bergidik yang levelnya berkali lipat karena melibatkan makhluk fragile bernama ibu hamil. Untuk yang pernah menontonnya, opening film ini pasti sedikit banyak mengingatkan.

Esther (Alexia Rassmunsen) sedang menantikan kehadiran buah hatinya yang akan segera lahir dalam dua minggu ke depan. Ia begitu tenang, sedikit menempatkan antusiasnya di bawah level, dan menjalani salah satu rutin yang pasti dilakukan ibu hamil : pemeriksaan USG. Tak ada yang bermasalah dengan kehamilannya. It’s a serene, beautiful day. Sampai akhirnya, sepulang dari pemeriksaan itu, ia diikuti seseorang, dihantam hingga pingsan, dan kegilaan sang misterius ini juga membawa beberapa hantaman batu bata di perutnya.

(more…)

Happy Christmas (2014), Joy to The Swanberg’s Mumblecore, Cast Did The Most Homeworks (including Screenplay)

Director : Joe Swanberg

Writer : Joe Swanberg

Cast : Anna KendrickMelanie LynskeyJoe SwanbergLena DunhamMark Webber

 Pre -review notes : Konon Swanberg hanya menyediakan outline untuk para aktor-aktrisnya.

(REVIEW) The baby should be nominated in Oscar, really. What a effortless performance. Happy Christmas merupakan projek mumblecore lanjutan setelah karya tersukses Joe Swanberg sebagai sutradara di Drinking Buddies. Bagaimana Swanberg mengarahkan film yang highly improvised itu cukup membuat Anna Kendrick menjadi kolaborator berkelanjutan mengambil peran utama di film ini. Selain Swanberg juga ibarat madu yang mulai dikelilingi selebriti terkenal saat ini (you should check his next project, middle A-list star studded).

Jenny (Anna Kendrick) – 27 tahun, baru putus dengan pacarnya pindah ke Chicago untuk tinggal bersama kakaknya, Jake (Joe Swanberg) yang tinggal bersama istri, Kelly (Melanie Lynskey) dan bayi berusia 2 tahun, Jude (played by Swanberg’s own son, and he’s scene stealer).

(more…)

The Sacrament (2014) Presents Ti West’s Too Fragile “Cult System”, Gonzo Journalism Goes Wrong

Director : Ti West 

Writer : Ti West 

Cast : AJ BowenJoe SwanbergAmy SeimetzKentucker AudleyGene Jones 

(REVIEW) Okay, sedikit flashback tentang Ti West. The Innkeepers tidak terlalu meninggalkan kesan baik, ketika ia gagal menghadirkan rewarding horror, lewat minimnya horor di film horor serta selera humor yang “sedikit” menyebalkan, that was my first time knowing name “Ti West”. Kemudian mulai mengetahui karakter sutradara yang satu ini lewat salah satu segmennya di film V/H/S, dengan segmen terpanjang, dan let’s say, segmen paling real. Terakhir, Ti West juga terlibat pada The ABC’s of Death, dengan segmen terpendeknya, dan cukup efektif mengisi film ensiklopedia tersebut.

(more…)

You’re Next (2011) : Breaking The Door of Home Invasion with “Fighting Back” Final Girl

Director : Adam Wingard

Writer : Simon Barrett

Cast : Sharni Vinson, Joe Swanberg, AJ Bowen, Wendy Glenn, Nicholas Tucci

About

WHOOPSIE WRONG MOVIE POSTER !!!!!!

BY THE WAY, HAPPY NEW YEAR 2014 ( I know, I know what you guys thinking, I celebrated too (in my way))

This is the right one,

Selama dua tahun berturut-turut, terasa menyedihkan ketika film bergenre horror thriller merupakan film yang mengalami penundaan untuk perilisannya.Jika di tahun 2012, kita mempunyai The Cabin in The Woods yang bisa dikatakan super jenius, di tahun 2011 ini ada You’re Next yang menjadi salah satu film yang paling diantisipasi. Walaupun, sudah malang melintang di berbagai festival di tahun 2011, namun film ini masih banyak yang mencantumkannya ke dalam Top Movie di tahun 2013.

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “home-invasion” ? Yah, satu, dua, atau beberapa orang yang kemudian diteror biasanya oleh stranger memakai topeng di rumah sendiri. Walaupun tidak banyak menonton mini genre ini, namun mini-genre ini tetap menjadi hal yang menarik. I like Camilia Belle’s When The Stranger Calls, atau The Strangers, atau yang paling mengecewakan dan tidak mampu mengeksekusi premis menarik, The Purge. You’re Next bercerita tentang sebuah reuni keluarga yang bersamaan dengan anniversary pasangan suami istri (Rob Moran, Barbara Crampton), seketika anak-anak mereka bersama pasangannya pun datang, yaitu Crispian (A.j Bowen) dan Erin (Sharni Vinson), Felix (Nicholas Tucci) dan Zee (Wendy Glenn), Drake (Joe Swanberg) dan yang lainnya. Sebuah adegan makan malam pun berubah seketika menjadi seperti “last supper” ketika sekelompok orang memakai topeng mengarahkan panah demi panah untuk membunuh mereka, yeah mereka dikenal dengan “animal”. Bisa bertahankah mereka ?

“Thank God, someone has a brain.”

Kalau sinopsis hanya sampai situ sepertinya tidak ada yang spesial kecuali satu persatu orang akan terbunuh dengan berbagai macam cara, yeah pure torture, and sometimes guilty pleasure. Mengapa film ini menjadi menarik ? This is it, and this is SPOILER !!!!!

Final girl, istilah ini bisa dikatakan sudah sangat lekat dengan genre horror thriller, bahkan The Cabin in The Woods sendiri mengungkap mengapa harus ada final girl dalam setiap peristiwa. Final girl biasanya digambarkan sebagai cewek yang “innocent”, paling baik, manis, dan beruntung, makanya karakter ini biasanya akan bertahan sampai akhir. Siapakah final girl di film ini ? Yep, dia adalah Sharni Vinson aka Erin. Film ini membuktikan bahwa merubah satu karakter saja ternyata mampu merubah sebuah film. Erin bukanlah tipe final girl yang lemah, ia mempunyai “kekuatan” tersendiri, ia pintar, dan ia mampu mengontrol dirinya sendiri di tengah situasi yang sedang genting-gentingnya. Walaupun dari segi akting tidak terlalu spesial, Sharni Vinson berubah menjadi karakter yang paling kick-ass dengan penuh jebakan-jebakan. Karakter inilah yang menjadi karakter pemecah segala klise yang ada pada genre serupa. Bagaimana Erin tanggap dan cepat mengambil keputusan, atau respon cepatnya terhadap “animal”, membuat kita berpikir “Thank God, somebody has a brain.”

Erin bukanlah sekedar karakter. Film yang tergolong komedi ini kemudian membandingkan Erin yang “berotak” dengan para karakter yang sepertinya masih terlihat bodoh untuk keluar dari situasi ini. Yah, mereka berlari ke luar rumah sambil teriak, kemudian meninggalkan seseorang di dalam ruangan sendiri, dan lainnya, membuat karakter Erin jauh terlihat superior. Ekspresi-ekspresi bodoh yang sebenarnya tidak pada tempatnya ini banyak mengundang tawa, yeah, walaupun mereka kebanyakan histeris.

Jika kebanyakan film ini menghadirkan villain atau stranger yang sempurna, You’re Next bisa dikatakan pada titik tertentu akhirnya “memanusiakan” karakter “animal” mereka. Yeah, pada beberapa moment, kita merasa bahwa Animals ini ya masih manusia, bukanlah malaikat pencabut nyawa yang akan hidup lagi setelah ditusuk berkali-kali. Sisi “memanusiakan” ini juga terlihat pada “cara mati” dari karakternya yang bisa dikatakan “yaaa, sadis” namun tidak “berlebihan”. Dengan beberapa sabetan machete, mereka langsung meregang nyawa. Maksudnya, di film ini masih mempertimbangkan batas tubuh manusia terhadap rasa sakit and that’s a rare thing. Sisi buruknya, mungkin untuk para penggila genre yang demanding dengan slasher atau semacamnya, film ini tidak terlalu menonjolkan sisi tersebut walaupun pada salah satu adegan klimax, satu scene benar-benar ngilu untuk dilihat.

Film ini juga menghadirkan seolah-olah “middle twist”, I like this kind of thing. Walaupun middle twist ini masih tergolong “predictable”, namun twist yang satu ini menjawab berbagai adegan di awal yang menunjukkan bahwa sutradara Adam Wingard masih mengutamakan unsur-unsur detail dalam sebuah cerita. Twist yang mengungkap arti “animal” ini sebenarnya sangat standard namun bisa dicover dengan twist yang sebenarnya, yaitu karakter dari Erin.

Film ini memang masih jauh dari sempurna, namun bagaimana film ini meng-combine sisi klise dan antiklise secara bersamaan, harus diacungi jempol.

Trivia

Ti West, Joe Swanberg juga merupakan aktor sekaligus director (untuk film mereka masing-masing). Is this kind of cartel or nepotism ? Haha

Quote

Erin: Why the fuck not?

Drinking Buddies (2013) : Line Between “Friends” And “More Than Friends” Really Blurry ? Beer

Director : Joe Swanberg

Writer : Joe Swanberg

Cast : Olivia WildeJake JohnsonAnna Kendrick, Ron Livingston

About

Joe Swanberg, seorang sutradara sekaligus aktor muda yang mungkin sedang hot-hotnya tampil dalam film slasher You’re Next minggu ini (goddamn it, I fucking want it), membesut film komedi drama dengan artis paling produktif saat ini yaitu Olivia Wilde (sebut saja 9 projek ia yang bintangi untuk tahun 2013 saja, salah satunya drama Rush, yang juga lagi hot-hotnya). Tidak hanya duduk di kursi sutradara, Swanberg juga menduduki posisi screenwriter, editor bahkan sempat muncul sebagai cameo.

Pada awalnya Drinking Buddies, seperti sekelibat, dengan melihat trailernya, akan menjadi fuck buddy atau friend with benefits atau semacamnya, namun ternyata Drinking Buddies mempunyai cerita yang berbeda. Kate (Olivia Wilde) bekerja pada sebuah perusahaan beer, yang membuatnya menjadi super supel dengan para pekerja yang didominasi oleh kaum laki-laki, salah satunya adalah Luke (Jake Johnson). Keduanya memiliki chemistry yang pas, tidak hanya sebagai teman, bahkan juga sebagai pasangan. Masalahnya keduannya telah memiliki pasangan, Kate berpacaran dengan Chris (Ron Livingston), seorang produser dengan perawakan innocent dan juga polite. Sementara Luke berpacaran dengan Jill (Anna Kendrick) yang telah memasuki pada tahapan matang. Ketika keduannya menjalani double date di sebuah cabin dekat danau, sebuah peristiwa terjadi dan mengubah semua hubungan diantara keempatnya.

“For a story where not so much happens, this is so smooth, play with interaction’s details and reveal the interpersonal’s interaction.”

Sebenarnya saat melihat poster pertama kali, tentu saja yang menjadi pusat perhatian bukanlah Olivia Wilde, namun kehadiran Anna Kendrick. This is gonna be stupid statement, Anna Kendrick yang mulai merambah leading lady, seperti bertukar posisi dengan co-starnya Olivia Wilde, yang lebih banyak berperan sebagai supporting role, namun inilah titik spesialnya. Tidak hanya bermain dengan siapa yang lebih di-recognize, departemen casting sepertinya membaca aktris mana yang cocok untuk karakter mana, begitu pula yang dilakukan pada cast cowoknya.

Bermain dengan tema yang sepertinya sudah banyak sekali dibahas, ditambah dengan interaksi cinta segi empat, Drinking Buddies melalui hambatan terbesarnya, yaitu menjadi sebuah tontonan yang menghibur realistis, tanpa tindakan berlebih, tidak terjebak pada suasana cliche, dan juga mampu memanfaatkan durasi yang lebih dari satu setengah jam. Rahasianya adalah kekuatan interaksi para karakternya serta dialog-dialog lancar yang dilontarkan.

Pada awal cerita kekuatan antar tokoh terlihat kuat, dengan tambahan pada separuh cerita sisanya ditambah dengan misteri relationship dari kedua hubungan. Walaupun terkesan realistis, film ini tidak ingin melewatkan semua moment menjadi kosong tanpa arti, bagaimana satu karakter menanggapi satu karakter lain setelah kejadian satu moment juga cukup menarik untuk disimak jika anda memang jeli. Jika tidak jeli, yah film ini hanyalah film sembarang lalu, yang mungkin anda sendiripun tidak tahu masalah / konflik apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Enganging di setiap scene membuat film ini memiliki flow yang tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Jika menilik kebelakang, dengan kehadiran cabin, cinta lebih dari 2 orang, “sebuah moment”, yah film ini mengingatkan pada Your Sister’s Sister, walaupun memang bakat improvisasi dan tingkat dramatisasi didalamnya, tidak sehebat Your Sister’s Sister.

Drinking Buddies tidak hanya berfokus pada dua leading role-nya, namun justru masalah datang dari para supporting role-nya, kemudian film berusaha mengeksplor bagaimana para leading role ini menanggapi umpannya. Tidak hanya berkisah tentang percintaan melulu, Drinking Buddies juga lebih mendekatkan pada hubungan buddies atau pertemanan.

Trivia

Semua aktor yang terlibat memilih nama karakter mereka sendiri. Haha, this director wants to have fun, really.

Quote

(none) this is really no movie-quote machine. Seriously.

V/H/S (2012) : Bad and Good Apples In One Basket Labelled “Horror”

Sutradara : Ti West, Adam Wingard, Joe Swanberg, Radio Silence, Glenn McQuaid, David Bruckner

Tagline : The Collection is Killer

“The best thing is you don’t need wait for the last one third part, just to get the final climax.”

About

V/H/S adalah film horror berupa mockumenter antologi yang berisi beberapa segmen film pendek dan bergabung menjadi satu. Film Amerika yang masih direlease secara terbatas ini turut disutradarai oleh Ti West dan beberapa sutradara lainnya.

Tape 56 menjadi segmen yang menyatukan segmen-segmen yang lain, diawali dengan gerombolan berandalan yang memasuki sebuah rumah kosong. Ketika semua anggota sibuk menjarah, salah satu anggota ditugaskan untuk menonton terlebih dahulu kaset-kaset yang isinya ternyata melebihi dari yang mereka duga.

Amateur Night menjadi pembuka yang cukup berhasil, dikisahkan tiga orang pemuda amatir membawa dua gadis misterius ke sebuah motel. Salah satu gadis yang mereka bawa sejak awal telah berperilaku aneh dan benar, dia bukanlah gadis biasa. Segmen ini cukup menegangkan dan menonjol disbanding segmen lain, menampilkan gore yang tidak terlalu berlebihan namun cukup efektif untuk membuat penonton merasa ngilu.

Second Honeymoon dengan alur khas Ti West, bisa dikatakan sangat lambat. Jika menyukai karya terakhir Ti West, The Innkeepers, mungkin akan menyukai film ini. Jalan ceritanya ringan dan merupakan paling realistis dari semua segmen, berkisah tentang pasangan yang menjalani road trip sebagai bulan madu mereka. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan gadis misterius yang meminta dengan ‘aneh’ untuk sebuah tumpangan. Segmen in tentunya bukan segmen untuk semua orang, dengan durasi yang cukup lama.

Tuesday, The 17th adalah segmen paling lemah. Mungkin inilah alasan mengapa Drew Goddard/Joss Whedon membuat film The Cabin In The Woods. You will know the story. Empat orang sahabat dengan karakter formulaic pergi berlibur ke sebuah danau bekas lokasi pembunuhan.

The Sick Thing That Happened to Emily When She Was Younger, inilah versi paranormal activity namun kedua actornya menggunakan media webcam. Emily dan James adalah pasangan jarak jauh yang menggunakan webcam sebagai media komunikasi. Masalah datang ketika Emily mengatakan bahwa apartmentnya sedang dihantui dan meminta bantuan James untuk menolongnya via webcam. Twist yang disajikan cukup memuaskan pada segmen ini.

Dan segmen terakhir adalah 10/31/98, sebagai segmen penuh dengan efek visual, bercerita tentang sekumpulan pemuda yang memasuki rumah kosong pada haloween. Tanpa mereka sadari, mereka terlalu dalam menelusuri rumah hingga menemukan misteri di didalamnya.

Quote

I like you