John Cusack

Maps to The Stars (2014) Stirs Hollywood Satire and Coordinates It as Imbricated Constellations

Director : David Cronenberg

Writer : Bruce Wagner (screenplay)

Cast : Julianne MooreMia WasikowskaRobert Pattinson, Evan Bird, Olivia Williams, John Cusack, Sarah Gadon

Every celebrity maybe has this “waitress-history” kind of thing, but certainly not Taylor Swift.

(REVIEW) Ya, sepertinya kerap kita mendengar bahwa Rachel McAdams, atau bahkan Meryl Streep pernah bekerja sebagai pelayan, atau sudah sekian banyak artikel tentang Magic Mike yang menyebutkan jika Channing Tatum adalah mantan penari stripper, dan ketika kita melihat paras mereka (yeah, those faces !), dunia showbiz memang menyimpan misteri dan rahasianya tersendiri. Inilah yang mencoba dipaparkan oleh Cronenberg lewat karya barunya, melibatkan semua strata vertikal dalam dunia hiburan Holywood mulai dari personal assistant, washed up actress, limousine driver, high profile therapist, Mama – the manager, sampai child actor. Dibalut dengan satir, Cronenberg berusaha meng-coordinate masing-masing pelaku bisnis ini, membentuk satu konstelasi yang terhubung satu sama lain, kemudian berusaha meraih maps to the stars yang lainnya, a higher map to the higher star, yaitu destiny.

Agatha (Mia Wasikowaska) datang ke Holywood dengan jaket bertuliskan BAD BABYSITTER-nya. Walaupun terkesan sedang mengadu nasib, uang bukanlah sesuatu yang bermasalah untuk dirinya, ia dengan begitu saja memberikan $200 untuk sopir limosin yang pertama ia jumpai, Jerome (Robert Pattinson). Tak lama setelah berada di Holywood, Agatha mendapatkan pekerjaan sebagai seorang personal assistant dari aktris yang mulai menua dan redup, Havana Segrand (Julianne Moore). Entah apa yang membuat Havana langsung menerimanya, tetapi salah satu alasan karena Agatha memiliki bekas luka bakar yang mengingatkannya pada kematian sang ibu (Sarah Gadon) yang sampai sekarang masih rutin menghantuinya, like she has sixth sense or something, or simply she’s just depressed.

(more…)

Advertisements

Lee Daniels’ The Butler (2013) : Is It True “One Quite Voice Can Ignite A Revolution” ?

Director : Lee Daniels

Writer : Danny Strong, Wil Haygood

Cast : Forest Whitaker, Oprah Winfrey, Mariah Carey, Vanessa Redgrave, Robin Williams, John Cusack, and more, and more.

About

Apa yang di benak kita mendengar kata “POLITIK” ? Apa yang ada di benak kita mendengar Presiden ? Kemudian apa yang di benak kita mendengar kata White House (menekankan pada kata “white”), dan apa yang di benak kita mendengar kata “dalam rentang beberapa tahun” ? Yeah, mungkin satu kata BORING. Seperti inilah antuasiasme pertama saat mendengar film ini. Namun, mengingat film ini “mungkin” masuk dalam list Oscars (yeah, terutama karena Weinstein), maka film ini tidak ada salahnya untuk dicoba, apalagi dengan banyak bintang disini, plus Oprah Winfrey yang jarang man film.

Cecil adalah slave kulit hitam yang mempunyai masa kecil kelam. Ibunya (Mariah Carey) dilecehkan oleh tuan tanah (Alex Pettyfier) di hari bersamaan tuan tanah itu kemudian menembak mati ayahnya. Diajari oleh Annabeth (Vanessa Redgrave), Cecil kecil mulai belajar untuk menjadi seorang pelayan. Ketika ia dewasa, ia meninggalkan kebun kapuk yang selama ini ia kenal dan pergi ke “kota” untuk mencari peruntungan. Singkatnya, Cecil dewasa (Forest Withaker) telah bekerja mapan dan mempunyai dua anak laki-laki, bersama Gloria (Oprah Winfrey). Ketika ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi pelayan gedung putih / butler, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Karir Cecil sebagai butler inilah yang mendasari cerita, yeah, The Butler, mengingat ia sebagai saksi civil ight movement yang menjadi isu berlarut-larut di Amerika dan perlu penanganan banyak presiden mulai dari Presiden Eisenhower (Robin Williams), presiden Kennedy (James Marsden) yang berakhir dengan penembakan tragis, dan presiden-presiden lainnya. Masalahnya, karir Cecil ini diperkeruh dengan anak laki-lakinya yang mulai dalam menegakkan hak orang kulit hitam ini, membuat Cecil dalam keheningannya melayani White House juga harus berjuang menjaga keutuhan rumah tangganya bersama Gloria yang juga terguncang.

“Definitely ambitious, but this movie treats the lead character as audience as well. Seemingly, totally boring and I gotta say when it’s over ? THANK GOD, it’s over.”

Oscar bait, hampir menjadi salah satu film yang membosankan yang hampir ada setiap tahun. Yeah, tahun kemarin Lincoln, dan tahun ini sepertinya The Butler ingin mengulang hal yang sama, walaupun sepertinya awards season akhir-akhir ini tidak terlalu memberikan angin segar. Yeah, no recognition for Golden Globe. Film ini seperti dibungkam termasuk penampilan Oprah Winfrey yang ikut menjadi Oscar contender untuk Best Actress in Supporting Role. Berbicara tentang performance para penampilnya, tentu saja merupakan suatu treatment sendiri ketika kita melihat jajaran artis dari muali yang tua samapai muda berada dalam satu layar. Namun, itu saja sepertinya tidak cukup. The Butler seakan-akan ingin memberikan parade aktor aktris dari awal film sampai akhir. Menarik namun tidak memuaskan, terutama ketika mereka hanya tampil dalam kuantitas yang pendek kemudian menghilang.

Yeah, rentang waktu yang terlalu lama memang menjadi salah satu problem film ini. Film ini seperti memberikan turnover yang terlalu tinggi di Gedung Putih tanpa memberikan Cecil, sebagai karakter utama, untuk mendalami interaksi yan lebih dalam dengan para personil di Gedung Putih. Terutama ketika kita ingin melihat fluktuasi kejiwaan Cecil di tengan civil right movement dengan rentang waktu yang lama serasa terus diblokir ketika karakter Cecil sendiri sangat pasif dan diperlakukan seperti halnya penonton. Yeah, jadi kita menonton penonton. Basically. Akibatnya, terdapat satu hal yang menarik di luar kehidupan Cecil sebagai Butler, yeah, kehidupan anaknya Charlie yang memperjuangkan civil right langsung turun ke jalan menjadi salah satu hidangan yang lebih atraktif, dinamis dan enak untuk dilihat. Sebenarnya sisi Cecil sebagai penonton pasif dalam pergerakan civil right, perang Vietnam dan lain-lain bukanlah hal yang jelek, karena kita sebagai penonton tentu saja mendapatkan perspektif lain dari seorang Butler, namun perspektif ini bisa dikatakan merupakan sudut pandang yang “kurang menarik” dan dikemas ibarat banyak “atribut” yang harus dimasukkan dalam satu kardus.  Forest Withaker (walaupun I don’t think he deserves for an Oscar nomination) namun memberikan sebuah “silent is gold in a very dynamic situation” hanya saja terkadang karakter ini terlalu humble dan membosankan untuk ditonton.

Oprah Winfrey for an Oscar ? She’s good.Dia merokok, dia memakai lipstik, dia memakai wiig, she’s bitching around. Yeah, she’s mother. Penampilan Oprah Winfrey adalah penampilan yang memukau namun tidak powerful, mengingat sepertinya kontribusi “peran ibu rumah tangga” disini tidak terlibat kehidupan di Gedung Putih, namun juga peran Gloria ditinggalkan oleh anak-anaknya, kemudian dia merasa terungkung dan kesepian untuk rumah tangganya. Untuk sebuah peran yang seakan-akan dikebiri, yeah Oprah Winfrey memukau, namun sekali lagi please no Oscar recognition.

Untuk sebuah biopic, film ini terlalu banyak dealing antara kehidupan statis diperbandingkan dengan lingkungan dari Cecil, hasilnya kurang dalam, dan diakhiri dengan soap opera penuh dengan sentimentalitas (???) cerita yang sebenarnya ditujukan agar menyentuh, namun malah terkesan shallow. Plus, sepertinya film ini terlalu mengambil rentang yang sangat panjaaaaaaang ditambah karakter yang sangat banyaaaak sehingga kurang nancap untuk ukuran sebuah biopic.

I don’t hate this movie, this movie seems pretty solid and good, but you know sometimes we need a little bit of FRESH air. Let’s get outta from the “white” building.

Trivia

Film ini terinspirasi dari kisah nyata, karakter Cecil berdasarkan tokoh nyata Eugene Allen yang telah melayani White House selama 34 tahun dan pensiun di tahun 1986, beliau sendiri meninggal pada tahun 2010 lalu.

QUITE AN ACHIEVEMENT, SIR.

Quote

Diambil dari adegan paling menarik sepanjang film,

Gloria : Everything you are and everything you have, is because of that butler.

Say Anything … (1989) : Long Distance Relationship Wanna Be and Parent Distraction

Director : Cameron Crowe

Writer : Cameron Crowe

Cast : John CusackIone SkyeJohn Mahoney

About

John Cusack memang bukanlah aktor yang mendapatkan langganan nominasi Oscar, pernah dinominasikan saja belum. Karirnya juga sedang berada dalam penurunan, terjebak dengan projek-projek yang hanya berlalu begitu saja. Lihat saja penampilannya di The Raven atau Paperboy, atau The Factory yang lewat begitu saja. Namun, pada zamannya, John Cusack pernah menjadi idola remaja dengan scene ikoniknya mengangkat sebuah boombox besar untuk meraih perhatian kekasihnya. Di film inilah, ia melakukan scene yang terus diingat bahkan sampai sekarang.

Say Anything… menyajikan sebuah drama remaja dengan cerita paling familiar mungkin yang pernah kita kenal. Lloyd Dobler (John Cusack) hanyalah pemuda yang bisa dikatakan tanpa prestasi yang jatuh cinta pada gadis pintar nomer satu di SMA nya, Diane Court (Ione Skye). Keduannya semakin dekat dan menjalin hubungan percintaan di sisa-sisa waktu Diane akan berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya. Diane yang sejak kecil tinggal bersama ayahnya (John Mahoney), mulai merasa bersalah ketika ia harus mengorbankan waktu-waktu bersama dengan ayahnya sementara ia menemui Lloyd. Hubungan percintaan mereka yang dikejar oleh waktu semakin diwarnai masalah ketika ayah Diane dituduh melakukan tindakan penggelapan uang di institusi tempatnya ia bekerja.

Film ini disutradarai oleh sutradara yang nantinya akan terkenal dengan Jerry Maguire dan Almost Famousnya, Cameron Crowe. Inilah debut pertamanya sebagai sutradara.

“ A romance with no saccharine, effortlessly sweet, and natural.”

Film ini tidak akan menyajikan hal yang berlebihan dengan cerita yang begitu menyentuh namun terkesan sangat artificial dan superficial. Semuannya serba biasa saja. Mulai dari karakter, masalah yang menjadi konflik cerita, sampai solusi yang disampaikan di akhir cerita. Semuanya terkesan simple dan mudah, namun itulah yang menjadi kunci mengapa film ini sangat menyenangkan.

Karakter remaja yang menjadi hal utama dalam film ini tidak berusaha menjadi tua dalam merespon urusan cinta, semuannya mengalir kemudian diekspresikan dan direspon dengan baik oleh akting kedua leading role yang sangat cocok dan pas. Kedua karakter ini menjalin hubungan yang berkembang seiring film berjalan dan membentuk chemistry yang lambat namun jelas terbentuk. Konflik yang disajikan juga tidak begitu berat, seperti topik leukimia atau sebagainya, hanya sebuah kisah percintaan yang harus membagi waktu antara keluarga atau pacar. Jika ingin melihat sebuah drama remaja yang subtle, menghibur, namun memberikan banyak pesan, mungkin inilah film yang cocok. Say Anything… bukan hanya melibatkan hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan, namun juga memberikan sisi pembelajaran tentang arti sebuah keluarga.

Tentu saja film ini akan memenuhi standar penonton yang suka cerita yang natural dan tidak berlebihan. Untuk yang lebih suka drama-tisasi, mungkin menganggap film ini hanya sebatas seperti film kebanyakan yang tidak akan meninggalkan kesan seperti film kebanyakan. So, don’t watch it if you like drama – drama – and drama.

Trivia

Sebelum diambil oleh John Cusack, peran Lloyd Dobler ditolak oleh Robert Downey Jr.

Quote

Lloyd Dobler : She’s gone. She gave me a pen. I gave her my heart, she gave me a pen.

Being John Malkovich (1999) : Ever Want to be Someone Else ? Now You Can

Director : Spike Jonze

Screenwriter : Charlie Kaufman

Cast : John CusackCameron DiazCatherine Keener , John Malkovich

“Original screenplay which represents everybody’s common obsession of being somebody else.”

About

Being John Malkovich adalah film komedi fantasi dari duo sutradara Spike Jonze dan penulis Charlie Kaufman sebelum keduannya menggarap Adaptation. Film mendapatkan 3 nominasi Oscar untuk sutradara terbaik, penulis original screenplay terbaik, juga pemeran wanita pendukung terbaik untuk Catherine Keener.

Walaupun mengambil bahan bersifat fantasi, namun cerita dari film ini malah berpusat pada seorang aktor nyata yang telah meraih dua nominasi Oscars, John Malkovich, yang tentu saja menjadi judul dari filmnya. Film ini pada awalnya bercerita sebuah cerita yang biasa saja, seorang puppeter “loser”, Craig (John Cussack) suatu hari bekerja di sebuah perusahaan aneh karena desakan istrinya, Lotte (Cameron Diaz). Craig bertemu dengan rekan sekerjanya dan mulai terobsesi bahkan jatuh cinta dengan wanita berkepribadian kuat, Maxine (Catherine Keener). Cerita mulai menarik ketika Craig tidak sengaja menemukan sebuah lubang misterius yang kemudian ia telusuri ternyata menuju ke lubang pemikiran dari seorang aktor besar John Malkovich. Dengan memasuki lubang ini, seseorang berada dalam pikiran John Malkovich selama 15 menit. Sesuai tagline-nya, “Ever want to be someone else ? Now you can.”, lubang portal ini dijadikan lahan bisnis oleh Maxine dan Craig yang malah menciptakan hubungan super ruwet antara Maxine-Craig-Lotte, dan bahkan John Malkovich sendiri.

It’s not only about fantasy, moreover it is about deep obsession and maybe “love”

Dari segi originalitas, siapa yang akan mengatakan Charlie Kaufman seseorang yang tidak original. Skenarionya untuk film ini sempat ditolak oleh beberapa pihak, namun siapa sangka ketika sang sutradara membaca dan langsung menyukainya, bahkan setuju menyutradarainya,film inilah menjadi gerbang awal untuk film-film besar seperti Adaptation dan Eternal Sunshine of The Spotless Mind.

Ide segar ditambah dengan karakter yang luar biasa, bahkan karakter dari figure nyata John Malkovich menghidupkan film yang memang sangat asing dan aneh ini. Tips untuk menonton film ini adalah jangan terlalu memikirkan secara logika apa yang terjadi dalam film ini. Mengapa ada portal ? Mengapa bisa terbentuk portal ? Mengapa ini ? Mengapa itu ? Bah ! Sekali lagi ini adalah fantasi, jadi nikmati saja, maka akan tahu dimanakah keindahan dari film ini.

Beberapa yang juga menarik perhatian, dengan genre-nya yang comedy, film ini mengandung unsur mistis yang benar-benar dapat dirasakan oleh penonton, dan jujur, sedikit membuat merinding dikombinasikan dengan scoring yang juga mistis. Tidak percaya ? Lihat saja scene-scene terakhir dimana juga hilangnya sisi humanity untuk karakter John Malkovich yang diperlakukan seperti puppet oleh orang-orang di sekitarnya.

Hubungan percintaan segi tiga Maxine-Lotte-Craig juga berhasil dieksplor luar biasa oleh sang penulis. Ketika Lotte masuk ke dalam portal John Malkovich, sebuah definisi baru dari “relationship” juga terbuka dan ini menambah dinamika dalam film yang berhasil membuat penonton menonton film sampai akhir.

Hasil akhirnya, film ini memberikan sebuah fantasi yang benar-benar original dan memberikan sensasi menonton baru yang tidak kalah original.

Trivia

John Cussack, Catherine Keener, dan John Malkovich semuannya membuat cameo untuk duet penulis-sutradara selanjutnya, Adaptation. Yang juga dipuji originalitasnya.

Quote

John Malkovich : There is truth, and there are lies, and art always tells the truth. Even when it’s lying.