Josh Brolin

Sicario (2015) : Pristine Work of Criminal, Another Dennis Villeneuve’s with Bargain Power

Director :  Denis Villeneuve

Writer : Taylor Sheridan

Cast : Emily Blunt, Josh Brolin, Benicio Del Toro

(REVIEW) Di Meksiko, Sicario berarti Hit-man sedangkan di tangan dingin Dennis Villeneuve, Sicario merupakan sebuah sajian yang begitu kabur, brutal, gelap, begitu pelan mendidihkan plot-nya namun ketika batas antara hitam dan putih mulai terlihat, sudah terlalu terlambat untuk keluar. Yah, Sicario is a clean shot, pristine work of criminal, dan menggunakan alam kriminal kartel sendiri yang tak pernah berada di titik trik sederhana, Sicario menjelaskan kegelapan tanpa kehilangan kegelapan itu sendiri.

Dampak emosional, sesuatu yang mungkin jarang dilewatkan oleh Dennis Villeneuve, dan tangan sutradara ini langsung diperpanjang dengan karakter Kate Macer (Emily Blunt). Setiap peluru yang ditembakkan oleh anggota FBI ini dengan seketika membuka sedikit gap untuk karakternya dengan seketika merasa bersalah dengan objek tembakannya. Tanpa kecuali, ketika sebuah adegan penggerebekan, ia menembak seorang anak buah anggota gudang drugs yang berusaha menyerangnya, sebuah peluru yang memperkenalkan kita pada gejolak dalam diri Kate sebagai manusia biasa, sekaligus pada alam film ini bahwa tak ada satupun peluru yang terbuang tanpa memberikan reaksi balik.

(more…)

Advertisements

Labor Day (2014), Lacking of Anxiety and Instinct to Make Leaps between “Home Invasion” and “Penetrating Drama”

Director : Jason Reitman 

Writer : Jason ReitmanJoyce Maynard 

Cast : Kate WinsletJosh BrolinGattlin Griffith 

Keep an eye out, all right? – Officer

(REVIEW) One of our steady hand of director. Yep, it’s Jason Reitman. Lewat karyanya seperti Thank You for Smoking, Juno, Up In The Air, dan less big hit movie, Young Adult, karya Reitman memang sangat ditunggu. Namun ada yang berbeda dengan filmnya yang satu ini, Reitman sendiri mengatakan bahwa Labor Day merupakan karya filmnya yang paling berbeda, bahkan ia mengatakan bahwa ini adalah “first step” untuk menggarap perbedaan ini.

(more…)

Oldboy (2003) Versus Oldboy (2013) : Ask Why This Movie Needs A Remake (or Not) ?

Director :Chan-wook Park (original) ; Spike Lee (remake)

Writer : Garon Tsuchiya (manga), Nobuaki Minegishi (manga), Chan-wook Park (original) ; Mark Protosevich (remake)

Cast : Min-sik ChoiJi-tae YuHye-jeong Kang (original) ; Josh BrolinElizabeth OlsenSharlto Copley (remake)

(REVIEW) Remake selalu mempunyai peluang untuk mendapatkan skeptism dari para pecinta film, terlebih lagi jika film yang akan diremake merupakan film yang tergolong “ideal” untuk para fansnya. Salah satunya adalah film Oldboy, film yang diadaptasi dari manga Jepang dan merupakan bagian dari trilogy Vengeance Park Chan Wook.

Seorang laki-laki, Joe/Dae-Su (Josh Brolin/Min-sik Choi) tiba-tiba dipenjarakan oleh orang yang tidak dikenal, tanpa alasan, tanpa penjelasan, selama jangka waktu yang sangat lama (versi remake 20 tahun, versi original 15 tahun). Dia diberi makan, diberi hiburan berupa sebuah televisi, diberi fasilitas, hingga akhirnya ia dibebaskan, tanpa alasan, tanpa penjelasan juga. Joe/Dae-Su pun bertemu dengan seorang gadis yang merasa simpati, care, dan perhatian dengan keadaannya, Mary/Mido (Elizabeth Olsen/Hye-jeong Kang). Mereka berdua pun bekerja sama untuk memecahkan teka-teki yang ada sampai akhirnya sang pemenjara menampakkan batang hidungnya, Adrian/Woo Jin (Sharlto Copley/Ji Tae Yu). Dengan ancaman akan membunuh anak Joe/Dae Su, Adrian/Woo Jin memberikan tantangan kepadanya untuk mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, teka-teki inilah yang akan mengarah ke sesuatu yang lebih besar dan mengerikan. Ask not why you were imprisoned, ask why you were set free.

Jika predikatnya memang sudah “remake”, sebenarnya scene to scene pun tidak menjadi masalah, contohnya pada Let Me In yang sukses membuat versi Holywood Let The Right One In, atau mungkin bahkan Carrie yang menerapkan hal serupa namun masih memberikan sentuhan-sentuhan barunya. Lee’s Oldboy melakukan beberapa scene to scene namun lupa untuk memberikan sesuatu yang fresh (tidak harus baru) terhadap originalnya, bahkan fatalnya lagi bisa dikatakan remake ini malah mengalami pengerutan dari originalnya.

Let’s judge this movie…

“Ambitiously unpassionate remake for hilariously darkly bizzare original.”

Dua film mendapatkan treatment eksekusi yang berbeda, jika versi originalnya lebih dikatakan sebagai hilariously bizzare version, versi remake-nya lebih cenderung pretentious to be darker version. Pendekatan yang lebih mediocre untuk remake didukung dengan screenplay yang lemah jika dibandingkan dengan versi originalnya yang kaya dengan umpan-umpan humor disana-sini. Jika originalnya lebih compelling, sekaligus lebih kaya, remake ini terkesan terlalu “teragenda” oleh cerita yang sudah ada, membuat setiap scene adegan menjadi “Act one, done ? Okay wrap it up. Act two, done ? Okay wrap it up. Act three, done ? Wrap it up.” Tidak usah jauh-jauh membandingkan scene yang berbeda, untuk scene yang sama pun, lets say kita mengambil adegan bertarung keroyokan, yang ternyata sangat berbeda rasa. Versi original terdapat sentuhan humor dan action, sedangkan versi remake-nya, that is the ridiculous action scene. Lagi, adegan sex, untuk versi original sangat terasa sisi passionate-nya, untuk remake-nya, meeeh !

Dari awal film saja, Oldboy (2013) sudah melakukan pergeseran tentang konsep hubungan anak dan ayah, mungkin ter-americanized. Landasan bagaimana seorang ayah menyayangi anaknya menjadi sangat penting terutama ketika hampir di sepanjang film ini, film ini berkisah perjuangan sang ayah untuk mendapatkan kembali sang anak (terutama untuk versi remake-nya). Dae-Su is an asshole, but he still care with his daughter, Joe is an asshole and he seems “less” care with his daughter.

Oldboy (2003) memiliki durasi 20 menit lebih panjang daripada versi remakenya, namun dari ke-efektifan penggunaan durasi, Oldboy langsung masuk ke jalan cerita, langsung masuk ke sisi “imprisonment” dari karakternya, ketimbang berkonsentrasi pada tetek bengek yang harus dialami Josh Brolin di awal film.

Josh Brolin vs Min-sik Choi, tidak usah dulu melihat dari segi akting-nya, ketika kita melihat bagaimana Min-sik Choi mengunyah gurita hidup-hidup sudah terlihat komitmen dari aktor yang satu ini. Jika dibandingkan, mungkin akan terjadi perbedaan yang begitu jauh mengingat pendekatan kedua film ini pun juga berbeda. Josh Brolin lebih seriously dark, dengan ekspresi mukanya yang cenderung lebih banyak diam dan memberikan gurat ekspresi dendam yang menggebu-gebu. Tidak bisa dikatakan jelek juga, namun hanya ukuran standar bagaimana kita melihat Josh Brolin dipenjara selama 20 tahun. Berbeda dengan Min-sik Choi yang mampu bertransformasi dari ridiculous guy menjadi darkly ridiculous guy, tidak segan-segan memberikan ekspresi konyol disertai dengan voice-over yang begitu absorbing dengan keadaannya ditambah dengan sentuhan humor, kita bisa melihat bagaimana frustasinya Dae-Su ini dipenjara selama 15 tahun.

Oldboy 1

The girl, Elizabeth Olsen vs Hye-jeong Kang, keberadaan karakter Mary atay Mido merupakan sebuah sisi yang sangat krusial. Ternyata, bagaimana “menjerumuskan” karakter ini ke jalan cerita pun menjadi sangat menarik untuk diamati. Mido lebih “reasonable” untuk masuk ke jalan cerita ketimbang Mary yang terlihat seakan-akan langsung masuk sebagai friendly stranger yang tentu saja too good to be true untuk cerita seperti ini. Mido juga digambarkan sebagai karakter yang innocent namun masih memiliki sisi misterius untuk Dae-Su ketimbang Mary yang lebih bersifat seperti karakter netral.

Oldboy 2

The villain, Sharlto Copley vs Ji Tae Yu, kelemahan lagi untuk Oldboy (2013) yang tokoh villain-nya lebih terjebak pada style untuk berakting ketimbang lebih meng-eksplor untuk masuk ke dalam karakter seperti yang dilakukan Ji Tae Yu. Sisi yang sangat sayang ketika Sharlto Copley malah tampil “lembek” dibandingkan dengan Ji Tae Yu yang lebih sadis dengan caranya tersendiri.

Tentu saja tidak mudah untuk me-renew sebuah jalan cerita, mengganti gaya dan nafasnya, apalagi kemudian jika dikaitkan jalan cerita juga berhubungan dengan teknologi. Disinilah sebenarnya Oldboy (2013) memiliki kesempatan untuk lebih membungkus “twist revelation”-nya dengan nafas baru. Penggunaan media, manipulasi sang tahanan, yeah sedikit banyak memberikan nafas baru walaupun sebatas twist revelation-nya saja.

Oldboy 3

Kemudian kita berbicara tentang endingnya, Oldboy (2013) seakan-akan terburu-buru dalam membungkus final act-nya, plus sisi thought provoking yang terdapat pada originalnya benar-benar seakan dihilangkan, berubah menjadi sebuah ending dengan final act yang sekadarnya dan standar.

Oldboy adalah film yang sangat kuat baik dari segi substance dan juga stylenya, sangat disayangkan jika remake-nya terkesan begitu “almost zero effort”. Sebuah remake yang malas.

If I have to choose, yeah Oldboy (2013) > Oldboy (2003) (but you need to hit me with a hammer, a huge one.) dan dikembalikan ke pertanyaan di judul review ini, yeah, sepertinya remake belum dibutuhkan sebenarnya untuk film original yang sudah kepalang jenius, fresh story, shocking twist.

Gangster Squad (2013) : A Squad is Trying to Fight The King of LA

Sutradara : Ruben Fleischer

Penulis : Will Beall

Pemain :  Sean Penn, Josh Brolin, Ryan Gosling,  Emma Stone

Tagline : No Names. No Badge. No Mercy

“Pretty good ensemble cast isn’t a guarantee to make this bam-bam-bam script works.”

About

Sebuah penembakan di pemutaran midnight film The Dark Knight Rises dan sebuah kebetulan film ini yang menyertakan scene penembakan di bioskop lewat trailernya, membuat film ini harus diundur sampai tahun ini untuk melakukan re-shoot. Sangat kecewa memang, namun mengingat ensemble cast yang terlibat dalam film ini meliputi beberapa pemain kawakan seperti Sean Penn, Josh Brolin, Nick Nolte, Ryan Goling ditambah rising superstar yang memerankan femme fatale, Emma Stone, film ini layak menjadi salah satu film yang paling dinantikan di tahun 2013. Disutradari pula oleh sutradara yang secara sangat kreatif menggarap tema zombie lewat Zombieland, dan sempat terpeleset lewat 30 Minutes or Less, Ruben Fleischer siap menyajikan film gangster yang sarat akan adegan violence dan bam, bam, bam !

Ketika Los Angeles dikuasai oleh Mickey Cohen (Sean Penn), seorang pemimpin gangster yang kejam, dan membuat fungsi polisi menjadi lumpuh, seorang John O’Mara (Josh Brolin) berhasil menarik perhatian Chief Parker (Nick Nolte) untuk membentuk suatu squad untuk mengacaukan kegiatan operasi dari sang gembong mafia. O’Mara pun kemudian merekrut beberapa orang untuk melancarkan tugas yang tidak hanya membahayakan mereka saja, namun juga keluarga dari masing-masing anggota. Salah satu anggotanya adalah Jerry (Ryan Gosling), seorang polisi yang mempunyai affair dengan Grace Faraday (Emma Stone) yang notabene adalah wanita dari Mickey. Apakah operasi No Names No Badge No Mercy tersebut akan meruntuhkan kekuasaan sang ketua gangster ?

It’s like too many shortcuts in the storyline, so it seems too shallow.

Film ini diawali dengan adegan intens kekejaman Cohen dan aksi tunggal O’Mara yang bisa dikatakan berhasil. Seiring berjalannya film, jalan cerita terkesan dibuat ‘solusi mudah’ sehingga seperti tercipta banyaknya shortcut-shortcut jalan cerita yang membuat penonton kurang merasa ikut dalam cerita. Kisah cinta Faraday  dan Jerry pun dirasa kurang ada penetrasi yang mumpuni untuk menjadikan kisah cinta mereka memorable di film. Kegiatan operasi dari “Gangster Squad” pun dibuat tanpa rencana dan arah yang jelas sehingga seakan-akan mereka hanya menunggu untuk terbuka semua kedok mereka oleh Cohen, tidak ada intrik, tidak ada sesuatu yang mampu memicu pikiran penonton untuk ikut terlibat. Adegan final, termasuk adegan Cohen vs. O’Mara, yang diharapkan lebih breathtaking pun hanya lewat begitu saja, tanpa emosi, just bam-bam-bam and that’s it.

Ekspektasi adalah masalah yang menjadikan film ini kurang berhasil. Ketika penonton disajikan pemin watak seperti Sean Penn, Josh Brolin bahkan Ryan Gosling, ekspektasi yang tercipta adalah sebuah film drama criminal tentang gangster yang penuh dengan pemikiran dan digarap dengan lebih dalam. Semua itu tidak ada. Dengan ensemble cast yang beitu memukau hanya Ryan Gosling yang berhasil mencuri perhatian dengan aksen gaya bicaranya yang akan sedikit mengingatkan kita pada gaya bicara Hoffman di film Capote, namun karakter Gosling ini terus memudar dengan seiring berjalannya film. Sean Penn, sang Mickey Cohen, hanya cukup menyajikan karakter ketua gangster yang sangat tipikal dan sering kita jumpai.  Sangat disayangkan, sebuah cast yang sebenarnya sudah dipilih dengan benar namun kurang dapat dimaksimalkan dengan baik.

Trivia

Sean Penn dan Josh Brolin pernah berlawanan dalam film Milk. Emma Stone dan Ryan Gosling pernah menjadi pasangan kekasih dalam film Crazy Stupid Love.

Quote

John O’Mara : Every  man carry a badge and this is my badge.