Josh Hutcherson

The Hunger Games : Mockingjay Part II (2015) : Gratitude for Jennifer Lawrence, May The Odd Be Ever in Its Favor

Director : Francis Lawrence

Writer : Peter Craig (screenplay), Danny Strong (screenplay)

Cast : Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Julianne Moore

(REVIEW) Saat membaca The Hunger Games terbesit pikiran “Wow, ini Battle Royale versi dunia Barat, tapi bolehlah.”, ketika membaca Catching Fire terbesit pikiran, “Tak disangka buah beri bisa membawa komplikasi sepintar ini.”, dan ketika membaca Mockingjay (setelah menonton dua buku sebelumnya telah difilmkan) yang ada di pikiran adalah “Suzanne Collins sepertinya tak menyangka buku-bukunya akan menjadi sebesar ini.” Mockingjay memang menjadi buku terlemah dari seri ini. Menjadi buku konklusi dengan beban berat, Mockingjay sepertinya ingin menyimpulkan banyak hal dengan cara memperbesar universe­-nya lewat District 13, menggunakannya, namun tanpa memberikan pembaca untuk mengenalnya. Belum lagi ditambah dengan klimaks konflik cinta segitiga yang sampai tahap klimaks dan penambahan sejumlah karakter baru yang menonaktifkan karakter lama, Mockingjay adalah kekecewaan.

Mengantongi satu nominasi lewat Winter’s Bone saat itu tak membuat Jennifer Lawrence memiliki star power dibandingkan kandidat lainnya saat itu dan keputusan tepat diambil Lionsgate. Trilogi Hunger Games memang semuannya tentang Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence), trilogy ini benar-benar memberikan kesempatan transformasi bagaimana seseorang tanpa konsep “The Choosen One” seperti konsep young adult pada umumnya, bisa merubah dari seseorang yang hanya ingin menyelamatkan adiknya saat proses reaping menjadi sebuah perlambangan penuh sisi kharismatik, ketidakberdayaan atas kondisi, dan rasa bersalah. Dengan harapan yang terburu naik dari Catching Fire sementara sisa peluru yang tersisa adalah yang terlemah, baik Mockingjay Part I dan II merupakan sedikit peningkatan hasil, dan seri ini harus sangat berterimakasih kepada bakat Jennifer Lawrence.

(more…)

Advertisements

Reviews : The Drop (2014), The Interview (2014), The Skeleton Twins (2014), and The Hunger Games Mockingjay Part I (2014)

What’s more dangerous than an armed man ? It’s an armed man with a dog.

Tend and wait the bar – itulah job description sederhana dari seorang Bob (Tom Hardy) di tengah kota Brooklyn menjaga bar dengan nama ‘Marv’s Cousin’. Namun, ternyata tak demikian, ketika Marv’s Cousin adalah sebuah drop bar yang difungsikan untuk melakukan money laundering para mafia. Dengan bantuan sepupunya, Marv (James Gandolfini), Bob pun mulai menghadapi kejamnya kota Brooklyn, mulai dari perampokan berencana, sampai ia akhirnya bertemu dengan Nadia (Noomi Rapace) – seorang gadis dengan masalah misteriusnya tersendiri.

(more…)

Honey, I Shrunk The Kids : The Ant Bully (2006), The Secret World of Arrietty (2010), and Epic (2013)

Okay, salah satu film yang paling diingat saat kecil adalah Honey I Shrunk The Kids, yeah. Suatu kali film ini pernah ditayangkan di sebuah televisi (when our television station was pretty decent), and it actually changed my world. Konsep dari film ini sebenarnya sudah sangat tertera pada judulnya, seorang ayah ilmuwan tanpa sengaja menyusutkan badan anak-anaknya. Masalah terjadi ketika anak-anak ini kemudian harus berjuang kembali ke rumah dengan melewati hutan rimba penuh bahaya yang tidak lain tidak bukan adalah kebun belakang rumah mereka sendiri. Mereka bertemu dengan kupu-kupu raksasa, jamur raksasa, bahkan juga sampai semut raksasa. When I was six or something, that was fucking awesome.

So, I watched some movies with the same storyline, this is it….

Director : John A. Davis
Writer : John A. Davis, John Nickle
Cast : Julia Roberts, Nicolas Cage, Zach Tyler, and Meryl Streep

About
Film apa yang dibayangan kita ketika mendengar kata semut, dan juga animasi, yeah, mungkin Antz, namun film ini juga mengeksplor kehidupan semut dan juga koloninya. Lucas (Zach Tyler), seorang anak yang sebenarnya kurang mendapatkan perhatian lebih orang tuanya, dan juga dibully oleh teman-teman sebayanya, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak-abrik sebuah koloni semut di depan rumahnya. Tanpa disangka, koloni semut tersebut memiliki peradaban, mereka bisa berbicara, mereka memiliki ilmu pengetahuan, termasuk magic. Hingga saat suasana sudah darurat, salah satu semut, Zoc (Nicholas Cage) kemudian membuat sebuah potion yang menyusutkan tubuh Lucas, and BAM !!! Lucas yang nakal pun menjadi sekecil mereka, dan atas keputusan Queen (Meryl Streep), Lucas pun harus belajar untuk menjadi bagian dari koloni dengan arahan seekor semut optimis, Hova (Julia Roberts).

“Well crafted, full of message, but almost nothing special.”

Okay, film animasi mungkin sangat cocok untuk anak-anak karena penuh dengan message moral atau pun banjir dengan kebaikan, seperti kerjasama, tidak boleh egois, tidak boleh nakal, dan sebagainya, dan sebagainya. Untuk film animasi yang ditujukan untuk anak-anak, film ini bisa dikatakan sebagai sebuah film yang sangat sukses. Namun, bagaimana untuk orang dewasa ? Yeah, film ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, dialog-dialognya juga tergolong cukup lucu, namun tidak terlalu lucu, cukup pintar, namun tidak terlalu pintar. Salah satu yang menarik perhatian mungkin pengisi suara yang termasuk aktor aktris yang sudah tidak diragukan lagi. Julia Roberts, Nicholas Cage dan juga Meryl Streep berada di pengisi karakter-karakter utama. Namun disinilah sepertinya sumber kekecewaan yang lain, bahkan seorang aktor aktris peraih Oscar atau bla-bla bla, terkadang juga hanya standard-ly perform di film dimana mereka hanya bisa mengandalkan suara mereka. Yeah, untuk Nicholas Cage dan Meryl Streep sedikit masih bisa mempertahankan karakter suara asli mereka and that is a good thing, namun untuk karakter Hova yang disuarakan Julia Roberts sepertinya benar-benar separuh kehilangan karakter istimewa Julia Robert. Yeah, I like this actress pronounce every word with her upper lips in live action movie, namun sepertinya di film ini, jika kita menutup mata, kita akan sulit menebak jika suara ini adalah suara Roberts.

Elemen of wonder, yeah I got this term, karena sepertinya film dengan jalan cerita seperti ini memiliki kekuatan untuk mengeksplor dunia yang kecil namun familiar, kemudian dibandingkan dengan dunia normal yang tiba-tiba menjadi raksasa. Yeah, The Ant Bully tidak sepenuhnya memanfaatkan elemen yang satu ini karena mungkin kebanyakan setting di koloni semut ketimbang di rumah Lucas, namun untuk beberapa scene, film ini masih mengeksplor hal tersebut.

Giant antagonist, pasti selalu karakter orang normal yang menjadi karakter antagonist di film ini. Yeah, film ini menyertakan kakak Lucas dan juga neneknya sebagai karakter yang sering kali mengganggu, bukan mengancam. Karakter mengancam hadir lewat The Exterminator yang merupakan karakter antagonist utama karena mengancam keberadaan koloni ini. He’s so ambitiously menacing but not impressing. Yeah, tipikal antagonist biasa. Sisi ini mungkin bisa dikatakan terlalu pasif, dan sengaja untuk tidak mendominasi cerita.

Sisi yang menariknya adalah sepertinya kurang menyenangkan untuk melihat sebuah film tentang binatang, bahkan binatang ini bisa berbicara namun terdapat beberapa adegan “pembunuhan binatang”, I don’t know why I found it very harsh, not for children maybe, but for adult. Beruntungnya, The Ant Bully tidak terlalu jauh masuk dalam genre fantasy, cukup dengan semut yang berbicara, kemudian mereka juga menyertakan binatang-binatang lain, seperti nyamuk, tawon yang juga bisa berbicara, tanpa tambahan karakter fantasy yang kurang natural ataupun terlalu aneh.

Director : Hiromasa Yonebayashi
Writer : Mary Norton, Hayao Miyazaki
Cast : Saoirse Ronan, Tom Holland, Olivia Colman (english cast)

Sama seperti The Ant Bully, film ini juga berdasarkan pada sebuah buku dan dengan tangan dingin studio Gibli untuk menyediakan animasinya, maka film ini memang sangatlayak untuk ditonton.

Mungkin istilah “Honey I Shrunk The Kids” kurang tepat untuk film ini. Film yang bergenre fantasy ini memang bercerita tentan dua kehidupan yang memang sudah berbeda. Sho, seorang anak laki-laki biasa dengan ukuran normal dan Arriety, seorang gadis mungil kecil yang hidup secara rahasia di sekitar rumah Sho. Sho harus menghabiskan hari-harinya di rumah masa kecil ibunya karena ia mengidap sebuah penyakit yang membuatnya membutuhkan sebuah suasana yang tenang dan damai. Ketenangannya mulai diusik ketika ia mulai beberapa kali memergoki orang-orang kecil atau yang disebut dengan Borrower. Borrower ini adalah sebuah legenda tentang orang-orang kecil yang suka meminjam barang-barang seperti gula, jarum, dan lain sebagainya untuk bertahan hidup. Salah satu Borrower aalah Arriety yang hidup bersama ibu dan juga ayahnya. Arriety yang “orang baru” dalam menjalankan misi bertahan hidup, beberapa kali harus kepergok oleh Sho dan akhirya menjalin persahabatan dengannya. Sayangnya, persahabatan ini juga harus mengancam keluarga dan “spesies”-nya yang mulai langka dan akan punah.

“Simple but beautiful.”

Yeah, jika dibandingkan dengan The Ant Bully dan juga Epic, mungkin The Secret World of Arriety paling tradisional dari segi visualnya, but it’s Gibli, GODDAMN IT. Dari visual yang terlihat tradisional ini malah film ini terlihat indah dalam balutan yang sederhana, terlihat klasik dan juga old school.

Ceritanya pun dibuat tidak macam-macam. Hanya tentang relationship antara manusia dan manusia mini, namun dikemas dengan banyak sisi charming sekaligus mendalam untuk kedua karakter utamanya. Untuk film animasi, Arriety dan juga Sho bukanlah karakter yang terlalu komikal, they are actually like real character. Yeah, dalam artian, karakter ini termasuk karakter yang kompleks untuk ukuran sebuah karakter yang direpresentasikan oleh sebuah gambar. Sho adalah anak laki-laki yang kesepian, juga kurang perhatian, diperlakukan secara spesial, dan bisa dikatakan karena penyakitnya, ia mulai menutup dunianya, lebih gelap lagi terkadang Sho juga harus menghadapi kematian yang mungkin akan menjemputnya setiap saat. Kontras dengan Arriety, gadis kecil ini penuh dengan keingintahuan akan dunia yang baru, seorang petualang, dan juga mempunyai sisi “membangkang” dengan kedua orang tuanya yang cenderung konservatif. Hubungan yang aneh pun mereka jalani, sebuah persahabatan yang begitu kontras antara dua karakter yang penuh dengan keterbatasannya masing-masing. Film ini cukup berhasil mengeksplor hal ini, membuat film ini tidak hanya menyenangkan dan full message untuk anak-anak, namun juga menjadi film  yang menghibur sekaligus terkadang menyentuh untuk orang dewasa.

Element of wonder, siapa bilang dengan animasi tradisional, sisi yang satu ini menjadi lemah. Keingintahuan dan karakter Arriety yang selalu amaze dengan dunia barunya  menjadi salah satu kekuatan film ini untuk benar-benar mengolah bagaimana karakter kecil ini harus hidup di dunia yang besar. Sebuah perjalanan meminjam gula, menjadi rangkaian adegan yang menghibur karena mereka harus melewati meja yang super tinggi, kemudian terjun dari meja yang super tinggi pula. Bagaimana keluarga Arriety memanfaatkan barang-barang di sekitarnya untuk rumah mereka juga sangat menarik. Untuk film dengan cerita seperti ini, The Secret World of Arriety benar-benar tahu kekuatannya.

Giant antagonist, tidak ingin terlalu ambisius dalam menciptakan karakter antagonist. Antagonist disini cukup seorang perawat rumah yang dengan segala upaya “juga” ingin menangkap orang-orang kecil ini namun dengan cara-cara yang masih biasa dan juga alami, namun tanpa melupakan sisi mengancamnya.

Dengan karakter yang dalam dan juga menyenangkan, sekaligus pendekatan yang lebih sederhana, film ini merupakan film yang tahu benar kekuatannya.

Director : Chris Wedge
Writer : William Joyce, James V. Hart
Cast : Amanda Seyfried, Josh Hutcherson, Beyoncé Knowles, Colin Farrell, Jason Sudeikis, Christoph Waltz

Hmmm, dari creator Ice Age (hmmm, not pretty good indicator, walaupun Ice Age adalah guilty pleasure yang selalu ingin ditonton), Epic bercerita tentang MK (Amanda Seyfried) yang berkunjung ke rumah ayahnya yang sedikit gila, Professor Bumba (Jason Sudeikis). Sebenarnya tidak terlalu gila, karena ia mempercayai peradaban orang-orang kecil yang hidup di tengah hutan, dan benar. Queen Tara (Beyonce Knowles) adalah ratu yang senantiasa menjaga hutan dan dalam waktu dekat akan menyerahkan kekuatannya dan memilih seorang leader yang baru. Beruntungnya, konflik antara Leaf Man yang dipimpin Queen Tara dengan Mandrake (Christoph Waltz) semakin menjadi ketika Mandrake tahu bahwa akan ada pengalihan kekuatan Queen Tara lewat sebuah pod. Di tengah pertempuran pun, Queen Tara terpaksa menyerahkan pod-nya ke MK yang seketika mengecilkan badannya. MK-pun harus bertempur dengan waktu untuk menyelamatkan pod dan seisi hutan dengan bantuan para tentara Leaf Man,  Nod (Josh Hutcherson) dan Ronin (Colin Farrel).

“Not quite epic fail, but yes, it is quite epic boredom.”

Too crowded. Sepertinya film ini tidak terlalu bisa memenuhi janjinya seperti yang tertera pada judulnya. Epic bisa dikatakan terlalu biasa diatas misinya yang terlalu “epic”. Terlalu banyak karakter, dengan terlalu banyak interaksi dan hubungan namun tidak ada satu hubungan antar karakter yang bisa diolah dengan dalam, semuanya berakhir dengan level nanggung, seperti hubungan Ronin dengan Queen Tara, hubungan MK dengan Nod, hubungan Nod dengan Ronin, hubungan MK dengan ayahnya, terlalu banyak yang ingin dicakup namun akhirnya berakhir biasa saja tanpa meninggalkan bekas untuk penonton.

Film ini diawali dengan scene yang sangat familiar untuk film serupa, yaitu MK yang berkunjung ke rumah ayahnya yang jauh di entah berantah, kemudian disertai dengan perkembangan plot yangg berjalan lambat sepertinya film ini sudah membosankan sejak awal pertama film mulai.

Yeah, mungkin disinilah salah satu masalah animasi, lebih mengutamakan nama besar ketimbang menyuarakan karakter suaranya menjadi berkarakter (salah satu sisi mengapa lebih suka pengisi suara Pixar yang lebih masuk karakter walaupun pengisi suaranya kadang tidak terlalu kita kenal). Nama besar seperti Beyonce Knowles, Christoph Waltz, bahkan komedian Aziz Ansari tidak ada yang bisa menyuarakan karakternya dengan ciri khusus, ditambah dengan Amanda Seyfried dan Josh Hutcherson sepertinya bagian voice-acting tidak terlalu inspirational.

Element of wonder, film ini memang tidak berfokus pada dunia kecilnya mengingat film ini terlalu masuk pada genre fantasy dengan banyak makhluk-makhluk baru yang aneh. Dibandingkan ketiga film, film ini adalah film yang paling lemah di sisi ini. Kemampuan ‘orang-orang kecil” ini untuk menjelajahi dunianya juga “too epic to be true”, mereka bisa melompat dengan sangat tinggi, bahkan dengan mudahnya mengendarai burung, membuat Epic selayaknya Journey to The Center of The Earth versi animasi.

Giant antagonist hampir tidak ada di film ini, karakter ayah MK juga terlalu “clueless” untuk mengetahui keberadaan orang-orang kecil ini, hasilnya karakter antagonist memang sepenuhnya berada di tangan Mandrake, karakter antagonist yang terlalu general dan terlalu “been there done that.”

Epic terlalu gagal untuk memenuhi narasi awalnya yang mengutarakan untuk “look closer”, secara visual memang menyenangkan walaupun juga tidak terlalu spesial, tidak lebih dari itu.

In the end, untuk film dengan storyline hampir serupa, The Secret World of Arriety > The Ant Bully > Epic.

The Hunger Games : Catching Fire (2013) : Sparks of Rebellion, War of Strategy, Quarter Quell, and Survival

Director : Francis Lawrence

Writer : Simon BeaufoyMichael Arndt

Cast :  Jennifer LawrenceJosh HutchersonLiam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Elizabeth Banks, Stanley Tucci, Philip Seymour Hoffman, Sam Claflin, Jena Malone

About

Satu setengah tahun yang lalu The Hunger Games memberikan kejutan dengan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit sekaligus memberikan Jennifer Lawrence global recognition dan menjadikannya sebagai superstar (yeah, walaupun breakthrough performance-nya ada di Winter’s Bone). Diadaptasi dari novel bestseller dengan jalan cerita yang intriguing (yah, walaupun ada yang menyamakan dengan jalan cerita Battle Royale), The Hunger Games menjadi salah satu franchise yang menjanjikan pasca franchise Harry Potter berakhir. Novel young adult memang sedang gemar diadaptasi ke film namun tidak semuannya sukses baik secara kritik ataupun secara komersial. Lihat saja Percy Jackson yang masih harus berjuang (lagi) agar bisa menelurkan sekuel berikutnya, atau The Host yang kurang mendapatkan antusiasme, Beautiful Creatures, dan Mortal Instruments : City of Bones. Yang paling baru dan akan segera dirilis, Divergent dengan komposisi cast yang menggoda. Tidak hanya sembarang, novel young adult yang bercerita tentang kisah asmara, young adult yang disebutkan diatas melibatkan sisi fantasi atau science fiction yang memang sangat digemari anak muda.

Nah The Hunger Games : Catching Fire merupakan salah satu contoh sukses dari adaptasi novel ke film. Keberhasilan film sebelumnya, predikat A-list untuk bintang utamanya serta marketing yang agresif di sepanjang tahun,membuat film ini menjadi salah satu  film yang paling ditunggu di tahun 2013, melengkapi penghujung tahun 2013 yang sepanjang tahunnya ditebari banyak film superhero pemancing pundi-pundi box office.

Ketika Katniss (Jennifer Lawrence) dan Peeta (Josh Hutcherson) pulang dengan selamat dari The Hunger Games ke 74, mereka kini harus melakukan tour ke 12 district dimana keadaan Panem sedang dalam kondisi labil pasca Katniss berhasil mencurangi sistem dengan menggunakan strategi “berry”nya. Melihat situasi yang tidak wajar, president Snow (Donald Sutherland) mengancam Katniss untuk meyakinkan warga Panem tentang kisah cintanya dengan Peetaagarmenjadi distraksi dari district yang menunjukkan indikasi pemberontakan, salah satunya Gale (Liam Hemsworth) yang mulai menunjukkan perlawanan terhadap ketidakadilan Capitol. Masih merasa terancam dengan keberadaan Katniss yang kini menjadi simbol harapan bagi warga Panem, Presiden Snow berkolaborasi dengan gamemaker terbarunya, Plutarch Heavensbee (Phillip Seymour Hoffman) untuk menyelenggarakan Quarter Queel. Quarter Quell sendiri pada intinya adalah The Hunger Games namun diikuti oleh pemenang dari periode selanjutnya, yap it’s all star The Hunger Games. Berbeda dengan pertandingan sebelumnya, Katniss dan Peeta harus berjuang melawan para kontestan terlatih seperti Finnick (Sam Clafin),pemenang The Hunger Games di usia 14 tahun, Johanna (Jena Malone) perempuan agresif, Beete dan Wires peserta yang dinilai paling cerdas, sampai tentu saja kontestan dari District 1 dan District 2 yang terkenal lethal. Dengan design cornucopia yang baru dan lebih mematikan, Katniss dan Peeta tidak mungkin bertahan sendiri, kini mereka harus beraliansi dengan peserta lain untuk dapat bertahan di Quarter Quell.

Berhasilkah mereka ?

This installment makes the previous one like a really “child play”, much better than its predecessor.

Pada awalnya sebenarnya sempat mengalami underestimate ketika mendengar kata “Quarter Quell”. Holy shit, they’re gonna show us sames stuff. Yeah, belum lagi Gary Ross yang kemudian keluar dari projek dan kemudian digantikan oleh Francis Lawrence yang mempunyai Filmography sebelumnya yang tidak terlalu impresive (I am not huge fanof Constantine, even Will Smith’s I am Legend). Untungnya saja, melihat screenwriter yang terlibat dan novel yang ternyata memiliki source story diluar Quarter Quell, membuat Catching Fire masih berada di urutan atas most anticipated movie in 2013. Dan setelh melihatnya sendiri, I gotta say I AM WRONG with all early expectation.

Catching Fire memulai ceritanya dengan begitu faithful dari sumber novelnya, terlihat runtut dan membuat penonton seakan-akan memang sedang membaca novelnya (hal ini menjadi hal yang penting untuk sebuah adaptasi novel ke film, terutama untuk para fans-nya). Jika The Hunger Games langsung terjun ke dalam reaping dan persiapan dari pertandingan mematikan tersebut, awal Catching Fire menunjukkan keadaan Panem (terutama District 12) yang masih saja dingin dan miskin pasca kemenangan Katniss. Catching Fire juga lebih mengeksplor kehidupan cinta Katniss dan Gale di tengah kehidupan palsunya dengan Peeta. Namun, sisi yang paling menarik adalah I gotta say, silent war yang mulai ditebarkan oleh President Snow sebagai karakter antagonist utama yang membuat sekuel ini lebih memiliki intrik dan perang strategi antara kubu Katniss dan Snow. Disinilah banyak hal ajaib terjadi (yeah, ajaib = smart thing).

Sisi menarik yang lain adalah character development yang dialami Katniss pasca The Hunger Games yang kini sedang mengalami trauma, terutama insiden Marvel dan Rue (dua tokoh yang membuat moment penting di film sebelumnya), diperankan pula oleh Jennifer Lawrence, lagi dan lagi, pasca piala Oscar-nya, Katniss versi Catching Fire ini cukup meng-embrace emosi yang terkadang menyentuh sekaligus mulai mengeluarkan sisi “memberontak”-nya, berbeda dengan Katniss versi The Hunger Games yang masih terlihat “shock” dan menerima sistem dari Capitol.

Film yang mempunyai budget dua kali dari film pertamanya ini sangat terlihat dari design Cornucopia yang lebih terlihat seperti hutan buatan dibandingkan dengan designnya pada The Hunger Games yang terlihat seperti hutan sungguhan. Disinilah sedikit sisi negatifnya, walaupun dengan budget lebih sedikit Cornucopia atau arena pertandingan di The Hunger Games lebih memiliki element of surprise and shocking yang bisa dirasakan penonton, maksudnya The Hunger Games terlihat lebih fresh untuk sajian “pertandingan mematikannya” (yah mungkin karena sedikit banyak Catching Fire memang repetisi dari The Hunger Games yang mempunyai premise menarik). Di sisi lain, Catching Fire memiliki sisi kompensasi lewat arena pertandingan yang bisa diakui lebih besar dan lebih canggih, namun yang paling menarik adalah arena ini memiliki teka-teki yang harus dipecahkan oleh para tribute karena menentukan strategi selanjutnya.

“Arena mahal” ini tidak akan disentuh hingga separuh durasi (yep, harus sabar menunggu), karena memang sepertinya film tidak ingin berkonsentrasi lagi pada konflik utama The Hunger Games-nya, inilah yang membedakan installment ini berbeda dari sebelumnya. Catching Fire lebih berkonsentrasi pada awal pemberontakan terhadap Capitol dan awal lahirnya leader mereka, Katniss Everdeen. Quarter Quell juga tidak lagi berkonsentrasi pada kompetisi antar peserta (walaupun konflik tersebut masih ada) namun lebih menunjukkan kerjasama diantara mereka untuk memecahkan “teka-teki” Cornucopia sebagai langkah survival. Buktinya, karakter Gloss, Cashmere, Enobaria dari District 1 dan 2 tidak dikenalkan secara intens selayaknya Cato dan Clove. Penggantinya, karakter lain yang ikut melakukan survival, dan termasuk well chosen cast, Finnick Odair yang berhasil ditampilkan oleh Sam Clafin, dan yang sedikit mencuri perhatian adalah karakter Johanna Mason yang diperankan oleh Jena Malone sebagai gadis pintar, agresif, impulsive, dan tanpa rasa takut.

Film ini diakhiri dengan sebuah adegan cliffhanger yang mungkin saja kurang disukai oleh beberapa orang, namun cliffhanger yang satu ini merupakan cliffhanger positif yang membuat kita puas dengan installment Catching Fire namun juga tidak sabar lagi menunggu installment selanjutnya, Mockingjays.

Intinya Catching Fire sudah tidak lagi berkutat tentang “siapa membunuh siapa” namun lebih bermain dengan adu strategy yang membuat sekuel ini terlihat lebih matang dan berisi. Plus, Francis Lawrence terlihat cukup pandai untuk mengolah film dengan durasi lebih dari dua jam menjadi sebuah sajian film dengan pacing yang enak, sekaligus nyaman untuk dinikmati.

Trivia

Taylor Kitsch sempat dipertimbangkan untuk karakter Finnick, Mia Wasikowaska sempat dipertimbangkan untuk karakter Johanna, serta Melissa Leo sempat dipertimbangkan untuk karakter Mags (mentor Finnick yang juga ikut dalam pertandingan).

Quote

President Snow: The other victors. Because of her, they all pose a threat. Because of her, they all think they’re invisible.