Jude Law

The Grand Budapest Hotel (2014) is Superior Luxury, Worship It with Adoration, Admiration from A to Z

Director : Wes Anderson

Writer : Wes Anderson

Cast : Ralph FiennesF. Murray AbrahamJude LawEdward NortonAdrien BrodyWillem DafoeSaoirse RonanTilda SwintonTony Revolori

(REVIEW) Terakhir kali melihat karya Wes Anderson adalah Moonrise Kingdom (a 12 year old kid’s love story with touching boobs and kissing, wonderful !), which is, like two years ago. Rasanya seperti sedang berada dalam satu pameran, dimana semua orang, almost,mengagumi satu lukisan – hey it’s so fucking beautiful, hey it’s so fucking contained, yep ! that kind of feeling when you know something so beautiful, but at the same time, you feel so….lost. Itulah yang mengawali saat menonton The Grand Budapest Hotel, full cynism.

(more…)

Advertisements

Dom Hemingway (2014) : Who’s Gonna Resist Pendulum of Bad Luck ? Safecracker Fails to Open His Main Prize

Director : Richard Shepard

Writer : Richard Shepard 

Cast : Jude LawRichard E. GrantDemian BichirEmilia Clarke

“A man with no options suddenly has all the options in the world” – Dom Hemingway

First thing first, jika tidak menyukai Jude Law sebagai seorang aktor, mungkin lebih baik melewatkan film ini. Yep, citra flamboyan, blue eyes, melankolis, charming dari seorang Jude Law tidak akan dijumpai di film ini. Lewat film ini, Jude Law didapuk dititular role-nya sebagai seorang safe cracker yang telah mendekam selama 12 tahun di penjara dan mencoba ‘memperbaiki’ kehidupan di masa lalunya. Tidak hanya harus menambah berat badannya sebanyak kurang lebih 15 kilogram, Jude Law juga harus melemaskan otot bibirnya karena film ini berusaha menggabungkan sesuatu yang filthy dengan sesuatu yang artsy.

Dom Hemingway (Jude Law), hmm, what a name, memulai parade mulut kotornya dengan sebuah deskripsi yang cukup impressive tentang (uhm, I am sorry) penisnya. Sebuah deskripsi yang juga cukup menggambarkan bahwa ada kemarahan yang melonjak-lonjak di dirinya, sebuah deskripsi yang cukup menggambarkan pula sosok dirinya yang begitu tinggi arogansinya. Sebuah opening scene yang cukup menyita perhatian, very poetic and so artsy, actually. Dom Hemingway yang benar-benar memiliki masalah dengan anger managment kemudian keluar dari penjara disertai dengan backsound music stylish, yang lagi, lagi, makin menunjukkan kearoganan dirinya, dan bisa ditebak apa yang ia lakukan pertama kali saat keluar dari penjara, yep, memukuli babak belur seorang laki-laki yang menikahi mantan istrinya. Berada di dalam penjara selama 12 tahun ternyata membuat Hemingway harus membayar harga tersendiri, kehilangan moment bersama istrinya yang meninggal karena kanker, hingga tidak bisa melihat anaknya tumbuh besar, Evelyn (Emilia Clark). Bersama teman sejawatnya Dicky (Richard E Grant), ia berusaha mengambil hadiah atas tindakan tutup mulut yang membuatnya ia dipenjara, termasuk berurusan kembali dengan gangster kakap, Mr. Fontaine (Demian Bichir).

Dom Hemingway mengalami fase terbaik ketika memang karakter ini begitu tercela, begitu kotor, dan berhasil diperankan oleh Jude Law, walaupun sekali lagi, penampilan dari Jude Law ini hanya sekedar di permukaan saja. Terdapat beberapa effort untuk mengisi Hemingway ke level emosi yang lebih dalam, namun sepertinya lagi dan lagi terputus, dan tidak bisa masuk dengan karakter Hemingway yang telah terpatri di awal, yep foul mouthed. Tetapi penampilan Jude Law ini setidaknya masih mempertahankan sebuah profanity yang berkelas khas dengan aksen britishnya dan sedikit mengobati kejenuhan dengan peran-peran Law sebelumnya.

Selayaknya pendulum, film ini merupakan sebuah film yang membawa penonton ke sesuatu yang acak. Mulai dari tidak adanya clue siapakah Hemingway sebenarnya, penonton mulai diajak meraba asal muasal Hemingway dipenjara. Salah satunya lewat karakter Mr. Fontaine, seorang gangster yang seharusnya bengis namun ditampilkan terlalu dandy oleh Demian Bichir. Tidak banyak yang ditawarkan di fase ini, hanya lagi-lagi sumpah serapah Hemingway ditambah dengan party sana sini. Dangerous free for a gangster movie. Lepas dari gangster thingy, Dom Hemingway seakan-akan kembali ke angka nol, dan mulai memperkenalkan substory yang lain, yaitu Man with Bad Luck. Setelah dipenjara, kehilangan uangnya, Hemingway mulai kembali ke anaknya yang telah memiliki anak. Yep, he got grandson. Disinilah Hemingway mulai memudar, mulai pretentious and that is just suck. Tanpa rumah, tanpa pekerjaan, tanpa uang, karakter Hemingway yang begitu arogan seakan-akan dilucuti dan tidak berdaya, and that’s just no good. Back to the gangster, salah satu yang paling tidak disadari adalah, film ini sedikit banyak melibatkan gangster namun sama sekali tidak terasa sisi gangsternya, yep hal ini dikarenakan karakter-karakter di dalamnya seakan-akan dibuat terlalu dark comedy namun tanpa memberikan impresi apa-apa. Dan akhirnya Hemingway diakhiri dengan sesuatu yang terlalu mengandalkan coincidence, dan lagi-lagi, Hemingway fades away with his good trait as human being, NOT in a good way.

Act one, act two, act three, dalam film ini terasa terlalu ditata untuk menggambarkan kehidupan Hemingway pasca penjara, satu sisi mungkin perubahan cerita ini sedikit refreshing, namun di sisi lain metode atau cara ini membuat film terlalu terstruktur dan terasa secara bersamaan malah terlalu terpisah-pisah, tidak menjadi satu kesatuan film, yang bisa mengangkat kehidupan rumit Hemingway namun juga tidak membuat cerita menjadi shallowly overcomplex-wanna be.

In the end, Hemingway merupakan sebuah film dengan banyak sisi yang terlalu rambling, terlalu ingin memperluas karakter Hemingway menjadi sesuatu yang lebih besar dan transformative, namun gagal. Jika diibaratkan, film ini seakan-akan ingin membuka sebuah brankas dengan cara yang inconventional namun pada akhirnya gagal membukanya, atau tidak sepenuhnya terbuka. Lewat karakter Hemingway yang di luar kebatasan seorang manusia umum, Jude Law mampu menyelamatkannya dengan kekuatan aktingnya yang cukup walaupun materi karakter Hemingway sebagai good-bad person kurang konsisten. Untuk screenplay yang begitu random, cerita terlalu pretentious untuk beberapa sisi, namun cukup dipertahan dengan jokes-jokes yang solid.

Plus, mungkin sebaiknya sebuah film yang bercerita tentang luck, atau apalah itu tidak juga bergantung pada sesuatu yang terlalu coincidence, entah mengapa membuat jalan cerita terlalu mengambil shortcut saja. (C)

I Heart Huckabees (2004) : Existential Comedy About Coincidence Dismantling and Universe

Director : David O. Russell

Writer : David O. Russell, Jeff Baena

Cast : Jason SchwartzmanJude LawNaomi Watts, Isabelle Huppert, Mark Wahlberg, Dustin Hoffman

About

Yah, berbicara tentang David O Russel, pastinya tidak akan lepas dengan komedi moving yang diwakili penampilan top notch dari para aktor aktrisnya. Paling tidak untuk dua karya terakhir Russel, hampir jajaran aktornya mendapatkan nominasi Oscar, begitu pula dengan perannya sebagai screenwriter maupun sutradara. Sementara menunggu karaya Russel yang lain, yang dipenuhin banyak bintang, yang belum tayang namun sudah menjadi prediksi Oscar, American Hustle di bulan Desember nanti, film inilah yang menjadi karya Russel sebelum drama boxing, The Fighter.

I Heart Huckabees, dari judulnya saja sudah imut, lucu, ditambah dengan banyaknya jajaran aktor mulai dari yang tua sampai muda, tidak heran jika I Heart Huckabees menjadi salah satu film yang mempunyai “magnet” ditonton. Jika Silver Linings Playbook bermain dengan “signs”, terapi, superstitious, I Heart Huckabees mempunyai jalan cerita yang tidak kalah unik.

I Heart Huckabees diawali dengan Albert (Jason Schwartzman) yang bekerja di sebuah koalisi yang mendukung public open space. Posisinya sebagai seorang leader di koalisi tersebut mulai tergeser dengan kharisma Brad (Jude Law), yang merupakan perwakilan executive dari Huckabees yang notabene akan menggusur banyak open space menjadi sebuah gedung. Di selang kebingungannya, Albert menyewa dua detektif aneh, Bernard (Dustin Hoffman) dan juga Vivian (Isabelle Huppert) untuk menyelidiki kejadian “coincidence” dalam hidupnya. Dalam salah satu sesinya, ia bertemu dengan firefighter yang menentang penggunaan bahan bakar minyak, Tommy (Mark Wahlberg). Sementara investigasi berjalan, semua karakter di film ini mulai mempertanyakan “siapakah diri mereka” di tengah susunan universe ini ? WHAT THE HELL, RIGHT ? I KNOW IT’S COMPLEX.

“I heart fuck-abees. Why am I watching this ? (That’s the biggest question, when I was watching it.)”

Jika dilihat dari jalan ceritanya, film ini layak mendapatkan predikat original. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sbjek yang terlalu absurd dan juga membingungkan membuat penonton bertanya, “Apakah film ini akan benar-benar memberikan payoff di akhir film, di film yang mempunyai durasi lebih dari dua jam ini ?”

Terlintas mungkin screenplay ini sedikit mirip-mirip dengan screenplay gaya Charlie Kaufman yang sering dikombinasikan dengan elemen super strange, namun unik dan memberikan kejutan di akhir. Namun tidak, I Heart Huckabees lebih mirip observasi atau percobaan tentang karakter-karakter di dalamnya, yang sangat susah untuk diikuti (dari jalan cerita). Cerita melibatkan banyak karakter dan juga melibatkan banyak pendekatan, dan kata-kata absurd membuat komedi ini sangat asing. Film ini membangun cerita melalui karakter-karakter ekstrem para pemainnya, seperti pecinta lingkungan, seorang brand ambassador (atau semacamnya) yang mempertanyakan kecantikannya, seorang pemadam kebakaran yang anti penggunaan bahan bakar, plus para detektif aneh. Salah satu karakter yang paling real adalah karakter Jude Law sebagai seorang executive manipulatif yang mempunyai dua sisi, untuk korporasinya, dan juga untuk koalisinya. Hanya itu. Yang lain, karakter ini bertindak dan berpikir diatas “pemikiran” nalar manusia.

Beruntunglah pacing dalam film ini cukup cepat sehingga film ini masih dinikmati (namun kurang bisa untuk diikuti.) Film yang benar-benar ditopang cast-nya ini cukup membantu ketika mereka bisa menopang karakter karakter tidak lazim dengan atraktif, terutama penampilan Isabelle Hupert yang menarik perhatian.

Film yang memperdebatkan antara “dunia ini saling terhubung” versus “dunia ini merupakan susunan random” nyatanya kurang terjawab di akhir film. Mungkin film ini akan sangat cocok dengan mereka yang memahami tentang filosofi atau pembelajaran karakter, namun I Heart Huckabees is too weird, too strange, unexplainable, and I don’t know what it means, not for me, just not for me.

Walaupun begitu, film ini paling tidak memberikan satu indikasi bahwa Russel adalah sutradara yang mumpuni, dengan tema yang sama sekali tidak familiar, dan bisa dikatakan sangat aneh, sangat susah untuk disampaikan, film ini mampu berjalan selama 2 jam, tanpa terlalu menyiksa penonton. Yah, sekali lagi, thanks to its cast.

Trivia

Film debut untuk aktor Jonah Hill, dia mendapatkan sedikit peran kecil disini (I thought it’s cameo).

Quote

(first line) Albert Markovski         : Mother-fucking, cocksucker, mother-fucking, shit-fucker, what am I doing? (sounds promising, right ?)

Side Effects (2013) : A Girl (With (No) Dragon Tattoo) Story with Pill’s Delusion

Director : Steven Soderbergh

Writer : Scott Z. Burns

Cast : Rooney Mara, Jude Law, Catherine Zeta-Jones, Channing Tatum

About

Sukses dengan banyak karya yang sebagian besar mendapat respons positif ternyata tidak membuat sutradara peraih Oscar, Steven Soderbergh,  berpuas diri.  Sutradara ini menjatuhkan pilihannya terhadap Rooney Mara sebagai leading lady, aktris yang langsung melejit namanya setelah penampilannya sebagai Lisbeth Salander di remake The Girl With The Dragon Tattoo. Kali ini Mara tidak akan berperan sebagai hacker gothic yang sarat dengan potongan rambut aneh atau tindik disana-sini, kali ini ia hanyalah Emily, seorang istri yang menunggu suaminya kembali dari penjara, Martin (Channing Tatum). Setelah empat tahun ditinggal suaminya, kembalinya sang suami sama sekali tidak mengobati depresi yang telah dialaminya. Berharap suatu hari ia akan kembali masa depan, Emily pun mengunjungi psychiatrist, Dr Jonathan Banks (Jude Law), dan atas rekomendasi rekannya, Dr Victoria Siebert (Catherine Zeta Jones), Emily pun mulai mengonsumsi sebuah pil yang akan mengubah hidup keempat orang ini. One pill can change your life !!!

Dengan empat bintang sentral dan tangan dingin dari sang sutradara, film ini menjadi salah satu film yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2013.

“What a girl (with a dragon tattoo) story with subtle and (effortlessly) twist, which is good.”

Turning point adalah salah satu bagian dari kunci mengapa film ini sama sekali tidak membosankan untuk ditonton sampai akhir. Dengan premis yang seperti itu, ekspektasi awal hanyalah seputar cerita tentang seorang istri yang depresi namun sepertinya dari segi cerita, film ini mengalami perluasan.  Paruh pertama memang terkesan biasa saja, bagian perkenalan namun salah satu bagian yang penting dalam keseluruhan cerita, di paruh inilah mungkin disebut scene of crime-nya. Sedangkan di paruh kedua, film seperti kopi yang diganti potnya, penuh dengan ide baru, membuat film ini menjadi fresh kembali untuk ditonton.

Ketika kebanyakan film hanya memberikan twist hanya di akhir cerita, kemudian juga terkadang penonton meninggalkan penonton dengan twist tersebut, lain hanya dengan film Side Effects ini. Twist disampaikan secara halus dan perlahan, juga lebih investigatif, namun tidak hanya begitu saja, ketika cerita terkuak, maka film ini kemudian memberikan sebuah pemecahan masalah sebagai final act-nya.

Empat pilar centrenya juga bisa menopang film ini, terutama penampilan Rooney Mara dan Catherine Zeta Jones. Jika Rooney Mara memerankan tokoh Emily dengan sangat depresif, Catherine Zeta Jones berhasil memerankan seorang expert yang ternyata mengundang banyak misteri walaupun porsi penampilannya tergolong sangat sedikit dan terbatas. Selain itu, karakter yang dimainkan oleh Mara dan Law benar-benar seperti obat, bersifat menyembuhkan (baik) namun tanpa lupa harus tahu bahwa setiap obat pasti mempunyai efek sampingnya. Dua karakter inilah yang akhirnya akan menjadi sebuah karakter ambigu yang penonton tunggu bagaimana kejelasan nasib mereka berdua. Sementara Tatum, dengan kekuatan akting standar-nya, paling tidak dalam film ini ia ditempatkan pada satu posisi yang sangat pas.

Trivia

Entah ini bisa dikatakan trivia atau tidak, film ini diawali dengan longshot sebuah pemandangan apartment penuh jendela, dan di akhir film, juga menunjukkan pemandangan yang “nyaris” serupa.

Quote

Martin : Whoever makes this drug is going to be fucking rich

Closer (2004) : Two Couples, One Affair about A New Perspective of Relationship

Director : Mike Nichols

Screenwriter : Patrick Marber

Cast : Julia Roberts, Jude Law, Clive Owen,  Natalie Portman

Tagline : If you believe in love at first sight, you never stop looking.

“Look closer and you will be surprised.”

About

Alice, diperankan Natalie Portman bertemu dengan Dan, diperankan Jude Law, kemudian menjalani hubungan percintaan. Dengan bantuan yang tidak disengaja oleh Dan, Anna, diperankan Julia Roberts bertemu dengan Larry, diperankan Clive Owen juga menjalin percintaan. Masalah datang ketika Dan dan Anna memutuskan untuk meninggalkan pasangan mereka masing-masing untuk menjalin sebuah hubungan baru. Konflik pun dimulai, kejutan pun bermunculan tentang naik-turunnya hubungan mereka berempat.

It’s different level of romantic drama

Sebuah grafik tentang sebuah hubungan percintaan berhasil digambarkan dalam film ini. Dengan durasi yang relatif singkat, film ini mampu memberikan perjalanan hubungan dari tahap bertemu, tahap konflik hingga tahap akhir dengan baik. Rentetan scene-nya pun meloncat dengan periode waktu yang relatif lama dan hanya melibatkan dua karakter (diantara 4 pilar aktornya) untuk berinteraksi dengan dialog-dialog pintar dan mempunyai makna di setiap line-nya. Hasilnya, luar biasa. Tentu saja, tanpa didukung dengn chemistry masing-masing karakter, film ini benar-benar akan menjadi bloody mess. Dialognya panjaaaaaang, namun dengan penjiwaan dan totalitas pemainnya (terutama Natalie Portman), semuanya sangat menjadi easy-watching untuk penontonnya.

Sebuah perjalanan hubungan yang benar-benar penuh kejutan dari pengembangan cerita lewat karakter yang mengambil keputusan yang mengejutkan. Karakter Alice benar-benar mencuri di setiap kehadirannya, seorang gadis misterius dengan kepandaian bicaranya dan keseksian dari sisi erotis seorang stripper (kapan lagi melihat Natalie Portman sebagai seorang stripper ?) sedangkan karakter Larry benar-benar menjadi Dr. Pervert penuh charm di film ini.  Kehadiran Julia Roberts dan Jude Law yang seharusnya menjadi leading role tetap bersinar, namun sepertinya keduannya tertutup oleh kedua pendamping supproting actor dan actressnya. Walaupun terkesan mengambil cerita yang simple, namun ceritanya sesungguhnya benar-benar memerlukan waktu untuk mencerna dan sedikit thought provoking. Mengapa dia melakukan ini ? Mengapa jadi begini ? dan mengapa film ini bisa dikatakan sebagai cerita tragedi ? Film inilah yang akan membuat penonton ingin melihat lebih dekat, lebih dekat lagi tentang sebuah hubungan, kemudian terkejut. Just look closer !

Trivia

Nama Alice Ayres (karakter yang dimainkan oleh Natalie Portman) diambil dari nama seorang perwat yang meninggal karena menyelamatkan anak-anak yang terjebak di sebuah kebakaran.

Quote

Alice : It’s a lie. It’s bunch of sad strangers photographed beautifully and all glittering assholes who appreciate art say it’s beautiful because that’s what they want to see but people in the photos are sad and alone but the pictures makes the world seem beautiful so the exhibition’s reassuring, which makes it a lie and everyone loves big, fat lie.