Julia Roberts

The Normal Heart (2014), Exhausting Approach to Cope Its Importance and Too Mediocre to Catch Genuine Emotion

Director : Ryan Murphy

Writer : Larry Kramer

Cast : Mark Ruffalo, Taylor Kitsch, Matt Bomer, Julia Roberts, Jim Parsons

(REVIEW) Setelah dipuaskan dengan kehadiran Behind The Candelabra – masih tentang gay dan sedikit AIDS – juga too good to be movie television, The Normal Heart mengajak A-list star untuk bermain drama emosional yang diangkat dari play berjudul sama. The Normal Heart mengambil setting tahun 1980- 1983, dimana komunitas gay dibayangi “kanker” yang mengancam imunitas dan keselamatan mereka, belum disebut AIDS saat itu.

(more…)

Advertisements

Honey, I Shrunk The Kids : The Ant Bully (2006), The Secret World of Arrietty (2010), and Epic (2013)

Okay, salah satu film yang paling diingat saat kecil adalah Honey I Shrunk The Kids, yeah. Suatu kali film ini pernah ditayangkan di sebuah televisi (when our television station was pretty decent), and it actually changed my world. Konsep dari film ini sebenarnya sudah sangat tertera pada judulnya, seorang ayah ilmuwan tanpa sengaja menyusutkan badan anak-anaknya. Masalah terjadi ketika anak-anak ini kemudian harus berjuang kembali ke rumah dengan melewati hutan rimba penuh bahaya yang tidak lain tidak bukan adalah kebun belakang rumah mereka sendiri. Mereka bertemu dengan kupu-kupu raksasa, jamur raksasa, bahkan juga sampai semut raksasa. When I was six or something, that was fucking awesome.

So, I watched some movies with the same storyline, this is it….

Director : John A. Davis
Writer : John A. Davis, John Nickle
Cast : Julia Roberts, Nicolas Cage, Zach Tyler, and Meryl Streep

About
Film apa yang dibayangan kita ketika mendengar kata semut, dan juga animasi, yeah, mungkin Antz, namun film ini juga mengeksplor kehidupan semut dan juga koloninya. Lucas (Zach Tyler), seorang anak yang sebenarnya kurang mendapatkan perhatian lebih orang tuanya, dan juga dibully oleh teman-teman sebayanya, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan mengobrak-abrik sebuah koloni semut di depan rumahnya. Tanpa disangka, koloni semut tersebut memiliki peradaban, mereka bisa berbicara, mereka memiliki ilmu pengetahuan, termasuk magic. Hingga saat suasana sudah darurat, salah satu semut, Zoc (Nicholas Cage) kemudian membuat sebuah potion yang menyusutkan tubuh Lucas, and BAM !!! Lucas yang nakal pun menjadi sekecil mereka, dan atas keputusan Queen (Meryl Streep), Lucas pun harus belajar untuk menjadi bagian dari koloni dengan arahan seekor semut optimis, Hova (Julia Roberts).

“Well crafted, full of message, but almost nothing special.”

Okay, film animasi mungkin sangat cocok untuk anak-anak karena penuh dengan message moral atau pun banjir dengan kebaikan, seperti kerjasama, tidak boleh egois, tidak boleh nakal, dan sebagainya, dan sebagainya. Untuk film animasi yang ditujukan untuk anak-anak, film ini bisa dikatakan sebagai sebuah film yang sangat sukses. Namun, bagaimana untuk orang dewasa ? Yeah, film ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, dialog-dialognya juga tergolong cukup lucu, namun tidak terlalu lucu, cukup pintar, namun tidak terlalu pintar. Salah satu yang menarik perhatian mungkin pengisi suara yang termasuk aktor aktris yang sudah tidak diragukan lagi. Julia Roberts, Nicholas Cage dan juga Meryl Streep berada di pengisi karakter-karakter utama. Namun disinilah sepertinya sumber kekecewaan yang lain, bahkan seorang aktor aktris peraih Oscar atau bla-bla bla, terkadang juga hanya standard-ly perform di film dimana mereka hanya bisa mengandalkan suara mereka. Yeah, untuk Nicholas Cage dan Meryl Streep sedikit masih bisa mempertahankan karakter suara asli mereka and that is a good thing, namun untuk karakter Hova yang disuarakan Julia Roberts sepertinya benar-benar separuh kehilangan karakter istimewa Julia Robert. Yeah, I like this actress pronounce every word with her upper lips in live action movie, namun sepertinya di film ini, jika kita menutup mata, kita akan sulit menebak jika suara ini adalah suara Roberts.

Elemen of wonder, yeah I got this term, karena sepertinya film dengan jalan cerita seperti ini memiliki kekuatan untuk mengeksplor dunia yang kecil namun familiar, kemudian dibandingkan dengan dunia normal yang tiba-tiba menjadi raksasa. Yeah, The Ant Bully tidak sepenuhnya memanfaatkan elemen yang satu ini karena mungkin kebanyakan setting di koloni semut ketimbang di rumah Lucas, namun untuk beberapa scene, film ini masih mengeksplor hal tersebut.

Giant antagonist, pasti selalu karakter orang normal yang menjadi karakter antagonist di film ini. Yeah, film ini menyertakan kakak Lucas dan juga neneknya sebagai karakter yang sering kali mengganggu, bukan mengancam. Karakter mengancam hadir lewat The Exterminator yang merupakan karakter antagonist utama karena mengancam keberadaan koloni ini. He’s so ambitiously menacing but not impressing. Yeah, tipikal antagonist biasa. Sisi ini mungkin bisa dikatakan terlalu pasif, dan sengaja untuk tidak mendominasi cerita.

Sisi yang menariknya adalah sepertinya kurang menyenangkan untuk melihat sebuah film tentang binatang, bahkan binatang ini bisa berbicara namun terdapat beberapa adegan “pembunuhan binatang”, I don’t know why I found it very harsh, not for children maybe, but for adult. Beruntungnya, The Ant Bully tidak terlalu jauh masuk dalam genre fantasy, cukup dengan semut yang berbicara, kemudian mereka juga menyertakan binatang-binatang lain, seperti nyamuk, tawon yang juga bisa berbicara, tanpa tambahan karakter fantasy yang kurang natural ataupun terlalu aneh.

Director : Hiromasa Yonebayashi
Writer : Mary Norton, Hayao Miyazaki
Cast : Saoirse Ronan, Tom Holland, Olivia Colman (english cast)

Sama seperti The Ant Bully, film ini juga berdasarkan pada sebuah buku dan dengan tangan dingin studio Gibli untuk menyediakan animasinya, maka film ini memang sangatlayak untuk ditonton.

Mungkin istilah “Honey I Shrunk The Kids” kurang tepat untuk film ini. Film yang bergenre fantasy ini memang bercerita tentan dua kehidupan yang memang sudah berbeda. Sho, seorang anak laki-laki biasa dengan ukuran normal dan Arriety, seorang gadis mungil kecil yang hidup secara rahasia di sekitar rumah Sho. Sho harus menghabiskan hari-harinya di rumah masa kecil ibunya karena ia mengidap sebuah penyakit yang membuatnya membutuhkan sebuah suasana yang tenang dan damai. Ketenangannya mulai diusik ketika ia mulai beberapa kali memergoki orang-orang kecil atau yang disebut dengan Borrower. Borrower ini adalah sebuah legenda tentang orang-orang kecil yang suka meminjam barang-barang seperti gula, jarum, dan lain sebagainya untuk bertahan hidup. Salah satu Borrower aalah Arriety yang hidup bersama ibu dan juga ayahnya. Arriety yang “orang baru” dalam menjalankan misi bertahan hidup, beberapa kali harus kepergok oleh Sho dan akhirya menjalin persahabatan dengannya. Sayangnya, persahabatan ini juga harus mengancam keluarga dan “spesies”-nya yang mulai langka dan akan punah.

“Simple but beautiful.”

Yeah, jika dibandingkan dengan The Ant Bully dan juga Epic, mungkin The Secret World of Arriety paling tradisional dari segi visualnya, but it’s Gibli, GODDAMN IT. Dari visual yang terlihat tradisional ini malah film ini terlihat indah dalam balutan yang sederhana, terlihat klasik dan juga old school.

Ceritanya pun dibuat tidak macam-macam. Hanya tentang relationship antara manusia dan manusia mini, namun dikemas dengan banyak sisi charming sekaligus mendalam untuk kedua karakter utamanya. Untuk film animasi, Arriety dan juga Sho bukanlah karakter yang terlalu komikal, they are actually like real character. Yeah, dalam artian, karakter ini termasuk karakter yang kompleks untuk ukuran sebuah karakter yang direpresentasikan oleh sebuah gambar. Sho adalah anak laki-laki yang kesepian, juga kurang perhatian, diperlakukan secara spesial, dan bisa dikatakan karena penyakitnya, ia mulai menutup dunianya, lebih gelap lagi terkadang Sho juga harus menghadapi kematian yang mungkin akan menjemputnya setiap saat. Kontras dengan Arriety, gadis kecil ini penuh dengan keingintahuan akan dunia yang baru, seorang petualang, dan juga mempunyai sisi “membangkang” dengan kedua orang tuanya yang cenderung konservatif. Hubungan yang aneh pun mereka jalani, sebuah persahabatan yang begitu kontras antara dua karakter yang penuh dengan keterbatasannya masing-masing. Film ini cukup berhasil mengeksplor hal ini, membuat film ini tidak hanya menyenangkan dan full message untuk anak-anak, namun juga menjadi film  yang menghibur sekaligus terkadang menyentuh untuk orang dewasa.

Element of wonder, siapa bilang dengan animasi tradisional, sisi yang satu ini menjadi lemah. Keingintahuan dan karakter Arriety yang selalu amaze dengan dunia barunya  menjadi salah satu kekuatan film ini untuk benar-benar mengolah bagaimana karakter kecil ini harus hidup di dunia yang besar. Sebuah perjalanan meminjam gula, menjadi rangkaian adegan yang menghibur karena mereka harus melewati meja yang super tinggi, kemudian terjun dari meja yang super tinggi pula. Bagaimana keluarga Arriety memanfaatkan barang-barang di sekitarnya untuk rumah mereka juga sangat menarik. Untuk film dengan cerita seperti ini, The Secret World of Arriety benar-benar tahu kekuatannya.

Giant antagonist, tidak ingin terlalu ambisius dalam menciptakan karakter antagonist. Antagonist disini cukup seorang perawat rumah yang dengan segala upaya “juga” ingin menangkap orang-orang kecil ini namun dengan cara-cara yang masih biasa dan juga alami, namun tanpa melupakan sisi mengancamnya.

Dengan karakter yang dalam dan juga menyenangkan, sekaligus pendekatan yang lebih sederhana, film ini merupakan film yang tahu benar kekuatannya.

Director : Chris Wedge
Writer : William Joyce, James V. Hart
Cast : Amanda Seyfried, Josh Hutcherson, Beyoncé Knowles, Colin Farrell, Jason Sudeikis, Christoph Waltz

Hmmm, dari creator Ice Age (hmmm, not pretty good indicator, walaupun Ice Age adalah guilty pleasure yang selalu ingin ditonton), Epic bercerita tentang MK (Amanda Seyfried) yang berkunjung ke rumah ayahnya yang sedikit gila, Professor Bumba (Jason Sudeikis). Sebenarnya tidak terlalu gila, karena ia mempercayai peradaban orang-orang kecil yang hidup di tengah hutan, dan benar. Queen Tara (Beyonce Knowles) adalah ratu yang senantiasa menjaga hutan dan dalam waktu dekat akan menyerahkan kekuatannya dan memilih seorang leader yang baru. Beruntungnya, konflik antara Leaf Man yang dipimpin Queen Tara dengan Mandrake (Christoph Waltz) semakin menjadi ketika Mandrake tahu bahwa akan ada pengalihan kekuatan Queen Tara lewat sebuah pod. Di tengah pertempuran pun, Queen Tara terpaksa menyerahkan pod-nya ke MK yang seketika mengecilkan badannya. MK-pun harus bertempur dengan waktu untuk menyelamatkan pod dan seisi hutan dengan bantuan para tentara Leaf Man,  Nod (Josh Hutcherson) dan Ronin (Colin Farrel).

“Not quite epic fail, but yes, it is quite epic boredom.”

Too crowded. Sepertinya film ini tidak terlalu bisa memenuhi janjinya seperti yang tertera pada judulnya. Epic bisa dikatakan terlalu biasa diatas misinya yang terlalu “epic”. Terlalu banyak karakter, dengan terlalu banyak interaksi dan hubungan namun tidak ada satu hubungan antar karakter yang bisa diolah dengan dalam, semuanya berakhir dengan level nanggung, seperti hubungan Ronin dengan Queen Tara, hubungan MK dengan Nod, hubungan Nod dengan Ronin, hubungan MK dengan ayahnya, terlalu banyak yang ingin dicakup namun akhirnya berakhir biasa saja tanpa meninggalkan bekas untuk penonton.

Film ini diawali dengan scene yang sangat familiar untuk film serupa, yaitu MK yang berkunjung ke rumah ayahnya yang jauh di entah berantah, kemudian disertai dengan perkembangan plot yangg berjalan lambat sepertinya film ini sudah membosankan sejak awal pertama film mulai.

Yeah, mungkin disinilah salah satu masalah animasi, lebih mengutamakan nama besar ketimbang menyuarakan karakter suaranya menjadi berkarakter (salah satu sisi mengapa lebih suka pengisi suara Pixar yang lebih masuk karakter walaupun pengisi suaranya kadang tidak terlalu kita kenal). Nama besar seperti Beyonce Knowles, Christoph Waltz, bahkan komedian Aziz Ansari tidak ada yang bisa menyuarakan karakternya dengan ciri khusus, ditambah dengan Amanda Seyfried dan Josh Hutcherson sepertinya bagian voice-acting tidak terlalu inspirational.

Element of wonder, film ini memang tidak berfokus pada dunia kecilnya mengingat film ini terlalu masuk pada genre fantasy dengan banyak makhluk-makhluk baru yang aneh. Dibandingkan ketiga film, film ini adalah film yang paling lemah di sisi ini. Kemampuan ‘orang-orang kecil” ini untuk menjelajahi dunianya juga “too epic to be true”, mereka bisa melompat dengan sangat tinggi, bahkan dengan mudahnya mengendarai burung, membuat Epic selayaknya Journey to The Center of The Earth versi animasi.

Giant antagonist hampir tidak ada di film ini, karakter ayah MK juga terlalu “clueless” untuk mengetahui keberadaan orang-orang kecil ini, hasilnya karakter antagonist memang sepenuhnya berada di tangan Mandrake, karakter antagonist yang terlalu general dan terlalu “been there done that.”

Epic terlalu gagal untuk memenuhi narasi awalnya yang mengutarakan untuk “look closer”, secara visual memang menyenangkan walaupun juga tidak terlalu spesial, tidak lebih dari itu.

In the end, untuk film dengan storyline hampir serupa, The Secret World of Arriety > The Ant Bully > Epic.

Extraordinary Charm of Its Leading Lady : My Best Friend’s Wedding (1997) or There’s Something About Mary (1998)

Okay, I am craving for comedy, so I watched some old movies which really capable to trigger my laugh.

Director : P.J. Hogan
Writer : Ronald Bass
Cast : Julia Roberts, Dermot Mulroney, Cameron Diaz

Siapa yang menyangkal pesona dari seorang Julia Roberts ? Yeah, American sweetheart peraih Oscar yang tahun ini juga dinominasikan untuk perannya di August : Osage County. Mungkin, terkenal sebagai seorang pretty woman, komedi sudah seperti makanan sehari-hari untuk Julia Roberts. My Best Friend’s Wedding bercerita tentang Jules (Julia Roberts), yang memiliki misi untuk menghancurkan pernikahan sahabatnya sendiri, Mike (Dermott Mulroney). Jules dan Mike adalah sepasang sahabat yang sudah tahu luar dalam, mereka juga pernah menjalin kisah cinta walaupun tidak berhasil. Masalahnya satu, sifat Jules yang terlalu lempeng dengan basa-basi cinta, kadang membuatnya tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan terhadap Mike. Ketika Mike menemukan seseorang yang mampu mengekspresikan cintanya dengan sangat jujur (plus dia cantik, dan kaya, dan menerima Mike apa adanya), Kimmy (Cameron Diaz). Jules sadar bahwa ia benar-benar mencintai Mike, dan ia hanya mempunyai beberapa hari untuk menggagalkan pernikahan Mike dan Kimmy, termasuk melakukan manipulasi sampai usaha untuk menghancurkan image Kimmy.

“Julia Roberts plus THAT curly hair ? Okay, I won’t complain.”

Yeah film ini merupakan film yang menggabungkan unsur comedy dan unsur romantis, tidak salah lagi dengan apa yang kita sebut dengan rom-com. Sama seperti rom-com pada umumnya, film ini menghadirkan cerita yang mudah ditebak, jokes-jokes ringan (yang kadang garing), namun satu yang tidak bisa didapat pada rom-com pada umumnya. Yeah, Julia Roberts. Jika biasanya rom-com diisi dengan karakter generic yang terlalu umum untuk menjadi sebuah karakter yang real. Film ini benar-benar mendapatkan keuntungan dari performance Julia Roberts. Tidak terlalu spesial memang, namun jika ini Julia Roberts, maka penampilannya menjadi spesial.
Jules bukanlah karakter yang menyenangkan. Dia ambisius. Dia menghalalkan segala cara. Namun, ketika Julia Roberts yang memerankannya, it’s hard not to fall for her. Yeah, dengan segala kebengisan Jules, penonton selalu dibuat memihak kepada karakter ini, ketimbang karakter Kimmy, yang juga dibawakan dengan sangat “flawless irritating” oleh Cameron Diaz. Point ini menjadi sangat penting. Point ini membuktikan bagaimana Julia Roberts memang layak dinobatkan sebagai salah satu American Sweetheart. Tidak peduli bagaimana tercelanya karakternya, sebuah hal yang sangat susah untuk tidak peduli/rooting terhadap karakternya.
Scene stealing dilakukan oleh Rupert Everett, yang memerankan sebagai “love consultant” dari karakter Jules, yang juga seorang gay, dan harus berpura-pura untuk menjadi tunangan Jules. Yeah, because he’s gay, so there will be some singing moments.

SPOILER
Doesn’t care with such happy ending. Life is about compromise. Yeah, another surprise for this movie. Terlihat seperti sebuah kejadian tidak real ketika Julia Roberts (I gotta say, JULAI ROBERTS) ditolak oleh seorang laki-laki. SOME POIGNANT MOMENTS, yeah it is. Julia Roberts kerap kali menghadirkan moment-moment menyedihkan sekaligus miris, yang memperlihatkan aktris yang satu ini terlihat seperti, uhm, let’s say the fungus that feeds on pond scum. Oh, that is horrible.

Yep, film ini memang tidak menawarkan screenplay yang luar biasa pintar, atau sesuatu yang baru kecuali surprise-surprise kecil. Sebuah film yang cocok untuk menemani sore santai dan mood tidak ingin menonton film yang terlalu thoughtful. Just enjoy, it’s Roberts. This movie is supposed to be annoying but, it’s not

Director : Bobby Farrelly, Peter Farrelly
Writer : Bobby Farrelly, Peter Farrelly
Cast : Ben Stiller, Cameron Diaz, Matt Dillon

Cameron Diaz, berbeda dengan perannya yang hanya sebatas supporting role di My Best Friend’s Wedding, disini, ia benar-benar menjadi seorang leading lady.
Ted (Ben Stiller), remaja yang bukan primadona, ugly, awkward, mendapatkan kesempatan untuk menggandeng primadona sekolahan Mary (Cameron Diaz) ke prom setelah ia membela adiknya yang mempunyai keterbelakangan mental. Sebuah kejadian memalukan (let’s say dick stucks in the zipper) membuat pertemuannya dengan Mary ini sangat memorable.
Beberapa tahun kemudian, Ted telah menjadi seorang laki-laki yang normal, pekerjaan yang normal, penampilan yang normal, namun ia telah beberapa tahun tidak menjumpai Mary. Disewalah seorang detektif Healy (Matt Dillon) untuk menyelediki seperti apa kehidupan Mary sekarang, dan tanpa disangka, Healy pun jatuh cinta terhadap Mary, dan menghalalkan segala cara untuk memanipulasi Mary, serta menghancurkan harapan Ted untuk bisa lagi kembali ke pelukan Mary.

“Maybe, this is what we call comedy.”

There’s Something About Mary,bukanlah sebuah sajian entertainment comedy yang subtle, atau pandai melemparkan jokes lewat dialog-dialog yang witty. Namun, jika kita kembali pada tujuan sebuah komedi, yaitu mengundang penonton untuk tertawa. Maka film ini bisa dikatakan seratus persen berhasil.

There’s Something About Mary tidak segan-segan menghadirkan berbagai moment-moment yang bisa dikatakan sangat komedi, sebuah rude crude comedy yang tidak harus menghadirkan berbagai F-word atau sebagainya untuk merusak sebuah image karakter yang likeable (wink-wink to The Heat, We’re The Millers).

Berbeda dengan Julia Roberts yang benar-benar “single handedly won the war”, Cameron Diaz lagi-lagi menghadirkan performance biasanya. Ekspresi itu, cara ngomong yang seperti itu. Yeah, Cameron Diaz seperti memerankan Cameron Diaz. Beruntungnya, ia ditopang oleh male actors mumpuni seperti Ben Stiller dan Matt Dillon yang secara aktif berbagi layar dan menghadirkan tawa lagi, dan lagi.

Kehadiran Ben Stiller, dan juga Matt Dillon (dan beberapa pemuja Mary yang lainnya) memang membuat seperti tidak adanya leading actor yang benar-benar diandalkan untuk mengarah ke kisah cintanya bersama Mary. It’s confusion, it’s all about what and who ???. Ditambah dengan dangkalnya karakter Mary, memang sepertinya film bukan berkonsentrasi pada subkata ROM pada kata ROM-COM. So let’s say it’s comedy, comedy and comedy.
Silly stuff or bad sense of humor ?
Jika suka dengan  moment “sperma sebagai jel rambut”, “anjing yang disetrum”, “anjing yang dilempar jendela”, “kelamin nyangkut di resleting”. This movie is totally for you. FOR YOU !!!!

Conclusion
Talking about charm, Cameron Diaz belum bisa mengalahkan pesona Julia Roberts bahkan ketika ia memerankan karakter yang tidak menyenangkan. Talking about comedy, There’s Something About Mary memang lebih unggul (lebih disgusting, dan lebih crude). So I think, every movie is a winner.
Tetapi berbicara tentang romcom (emphasizing on ROM), My Best Friend’s Wedding is the one.

August : Osage County (2013) : The Ugly Truth of “Breaking The Plate – Cursing Like Sailor” Dysfunctional Family

Director : John Wells

Writer : Tracy Letts

Cast : Meryl Streep, Julia Roberts, Chris Cooper, Ewan McGregor, Dermot Mulroney, Julianne Nicholson, Juliette Lewis, Abigail Breslin, Benedict Cumberbatch, Margo Martindale

About

Ketika trailer film ini dirilis, menyertakan dialog-dialog yang lucu, beberapa karakter dalam scene tertawa, sempat terlintas, oh this is gonna be good. Maybe depressing yet heartwarming. Konsep dari film ini sangat menarik, sangat sangat menarik. Diangkat dari sebuah play tentang sebuah keluarga besar yang terdiri dari karakter kompleks, kemudian keluarga ini mempunyai banyak konflik dan misteri untuk diangkat. Yeah, dirilis pada waktu-waktu award season, film ini dibintangi banyak bintang yang sudah award-friendly, dinominasikan dimana-mana, tidak hanya aktor satu generasi saja, namun berbagai generasi terlibat di film ini.

PULITZER WINNING PLAY ADAPTATION + HIGH CALIBER ACTORS = IT SHOULD BE HEAVEN, RIGHT ?

Film diawali dengan menguatkan sisi poetic tentang “life is long” oleh seorang pemuisi yang hidup bersama istrinya yang kecanduan obat-obatan, Violet (Meryl Streep). Ketika sang pemuisi tiba-tiba menghilang, Ivy (Julianne Nicholson) memanggil saudari-saudarinya yang berada di luar kota dan jarang pulang. Yeah, mereka adalah Barbara (Julia Roberts) beserta anak perempuannya Jean (Abigail Breslin) dan suaminya Bill (Ewan McGregor). Datang pula untuk menghibur bibi mereka (Margo Martindale), beserta suaminya Charles Aiken (Chris Cooper). Ketika datang kabar buruk bahwa sang poetic ditemukan meninggal, funeral pun menyatukan kembali anggota keluarga yang lain, Karen (Juliette Lewis) dan tunangannya (Dermot Mulroney). Plus Little Charles Aiken (Benedict Cumberbatch).

“A lot of negativities that I can’t handle.”

Film ini merupakan film tentang sebuah keluarga dan dilihat dari sebuah kacamata negatif. Okay, dengan bakat-bakat terutama Meryl Streep dan Julia Roberts yang memiliki pesona bisa mengubah sebuah negatif menjadi sebuah positif (dalam artian berbagai unlikeable role bisa mereka lewati dengan charm mereka sendiri), ekspektasi awal adalah film ini akan sangat “menyenangkan”. Luckily, it didn’t happen. Dikemas dengan sangat “dark”, film ini mulai mengupas lapisan demi lapisan dengan sangat pelan dan menyerang penonton dengan berbagai sisi negatif dari keluarga ini. Blaming. Cursing. Confessing the ugly truth. Even almost incest-ing. Yuck ! Where’s the light ?

Luckily, the light is the cast. Yeah, mau tidak mau film dengan banyak bintang memang selalu mengundang selera. Okay, let’s talk about them.

Meryl Streep, incorrigible drug addict, memberikan penampilan yang oke, namun bukan penampilan terbaik dari Meryl Streep. Di film ini, karakter Violet seperti membawa shotgun yang menyerang siapa saja. Yeah, sedikit banyak peran ini mengingatkan perannya di film Doubt, namun dengan sisi “insulting” yang lebih tidak terarah. Oscar nomination ? I don’t think so. This is my least favorite role of hers.  Walaupun begitu karakter Violet yang memimpin film ini pun terasa sangat menarik, an ugly character. Karakter Violet ini sepertinya me-reveal bagaimana sebuah karakter dipengaruhi oleh masa lalu yang keras, karakter ini pula memiliki “perspektif” yang berbeda di bandingkan dengan generasi yang berbeda.

Julia Roberts, there will be no more sweetheart. Dari semua karakter di film, karakter Barbara merupakan karakter yang paling dark, namun ada sisi yang bertolak belakang. Yeah, RESPONSIBILITY. Karakter Roberts ini sangat menarik. Dia memiliki responsibility, dia ingin mengampu tanggung jawabnya itu, namun tentu saja dengan caranya sendiri. Termasuk dengan ngomong kasar disana-sini. I like her when she curse like a sailor. Tidak ada lagi sisi “charming” dari Julia Roberts, jadi sepertinya ia berhasil memerankan peran Barbara ini. Peran yang cukup “berhasil” adalah Juliette Lewis (berperan sebagai anak perempuan yang sepertinya “kurang difavoritkan” oleh orang tuannya dan memilih mempunyai kebahagiaan sesuai versinya sendiri), Benedict Cumberbatch (berperan sebagai anak yang dianggap gagal, loser, kurang memiliki prospek), dan juga Margo Martindale (bibi yang memiliki rahasianya tersendiri dan atraktif di usianya yang sudah tua).  Aktor / aktris yang lainnya memberikan penampilan yang biasa saja, oh yeah, I am little bit impressed with Julianne Nicholson.

Film yang diawali dengan kata-kata “life is long” ini benar-benar menjadi film yang terasa panjang dengan pemandangan Oklahoma yang terasa panas. Dengan pemandangan panas di luar, pemandangan gloomy di dalam, konflik, semua orang teriak di setiap scene, finally it EXPLODES.

August : Osage County memberikan gambaran sebuah keluarga besar yang penuh dengan sisi negatif tanpa memberikan gambaran sedikit pun tentang sisi baik yang pernah keluarga ini pernah lewati. Terasa realistis namun menjadi kurang seimbang. Film ini terasa intens, terasa destructive setiap saat tanpa memberikan sebuah “jalan keluar” yang fair. Ketika satu karakter terlibat sebuah masalah, kemudian mereka keluar rumah dan meninggalkan Oklahoma begitu saja. Depressing. Dysfunctional. Hateful. Entah terpengaruh karena merupakan adaptasi dari sebuah play atau apa, dialog-dialog ini seperti bukan seperti sebuah keluarga. Too dialogue-y, bahkan di satu scene saat dinner mempertemukan semua karakter, involvement masing-masing karakter ke karakter yang lain seperti kurang.

Yeah sisi baiknya, kita dapat melihat berbagai scene EXPLODES ini diperankan oleh first rate actress-es. Perkelahian antara Roberts dan juga Streep adalah scene terbaik di film ini. Yeah, nice fight, girls.

Intinya, film ini memuat hal-hal yang “negatif” dikemas dengan tone yang begitu gelap, no resolution, terlalu terpaku pada dialog masing-masing, and *Hirosima Nagasaki nuclear bombs explodes*. Film ini pada akhirnya meninggalkan penonton begitu saja.

Trivia

Chloe Grace Moretz ikut audisi untuk peran Jane, namun Abigail Breslin yang mendapatkannya. Oh poor Moretz.

Quote

Barbara : Eat your fish, bitch !

Steel Magnolias (1989) : Star Studded Chick Flick, Close-Knit Circle of Beauty Parlor-friends

Director : Herbert Ross

Writer : Robert Harling

Cast : Shirley MacLaineOlympia DukakisSally Field, Dolly Parton, Daryl Hannah, Dylan McDermott, and Julia Roberts

About

Steel Magnolias mungkin menjadi salah satu film dengan star studded di zamannya. Bagaimana tidak, film ini dibintangi oleh nama-nama besar (dulu, dan sekarang) seperti Shirley Mclaine, Sally Field, Dolly Parton, Olympia Dukakis, serta dua aktris yang sedang mekar di zamannya seperti Daryl Hannah dan juga Julia Roberts.

Steel Magnolias sendiri diambil untuk melambangkan sesuatu yang terkesan feminim, lemah lembut namun berhati baja. Dan, iya, cerita di film ini seputar persahabatan para perempuan ini dalam menghadapi segala permasalahan di kehidupan mereka. Shelby (Julia Roberts), seorang penderita diabetes akhirnya memutuskan menikah dengan laki-laki yang dicintainya, Jackson (Dylan McDermott). Persiapan pernikahannya pun dilakukan oleh ibunya yang sangat protektif terhadap semua keadaan Shelby, M’Lynn (Sally Field). Di lingkungan tempat tinggal mereka, terdapat beauty parlor (salon mungkin ya kalau sekarang) yang dikelola oleh Truvy (Dolly Parton) dan juga pegawai barunya, Annelle (Daryl Hannah). Beauty Parlor ini juga mengurusi bagian “dandan” untuk pernikahan Shelby. Cerita semakin dilengkapi oleh dua janda, janda bahagia Clairee (Olympia Dukakis) dan juga janda galak Ouiser (Shirley MacLaine). Enam wanita ini menjalin persahabatan dan berbagi cerita ketika mereka berkumpul dalam moment beauty parlor.

Okay, I hate make synopsis.

“This movie has really hard job. Wanna tears and laugh in the same time, maybe, it’s less succeed but since the ladies here has clicks, I don’t have problem with that.”

Film ini mengalami banyak loncatan waktu mengingat film ini ingin mengambil moment-moment penting dari kehidupan enam wanita ini, terutama dari sisi Shelby dan Ibunya. Moment tersebut dibagi menjadi moment pernikahan, moment mengandung, moment mempunyai anak, moment “menyedihkan” dan moment “life must go on”. Loncatan waktu ini mungkin akan membuat penonton merasa kehilangan “main event” yang sedang dibangun. Yah, walaupun memang ada peristiwa akhir yang bakal dihadirkan di ending film. Namun, sepertinya penonton terkadang harus me-reset feeling ketika konflik tiba-tiba harus kembali menuju nol lagi.

Tone awal dari film ini, lebih menghadirkan tone comedic yang terjadi di pernikahan Shelby dan scene-scene perkenalan masing-masing karakter. Walaupun di sepanjang film, sebagian besar konflik berasal dari Shelby dan ibunya namun film ini menghadirkan perkenalan setiap karakter dalam jumlah yang setara, sehingga di scene awal, sepertinya tidak ada karakter-karakter yang menonjol. Barulah, sebuah scene (dimana merupakan scene terbaik dalam film ini, dan sepertinya scene inilah yang membawa Julia Roberts pada nominasi pertamanya di Oscars) mulai dihadirkan, yaitu saat karakter Shelby mengalami “kumat” untuk penyakit diabetesnya.

Film ini memiliki sebuah misi yang cenderung berat, yaitu ingin menghadirkan konflik di dalam film secara menyedihkan yang membuat penonton menangis, namun juga membuat penonton tertawa lewat line-line dan akting yang dilontarkan para pemainnya. Memang terkadang tidak berhasil, atau kurang berhasil, namun kualitas akting dan chemistry dari para pemainnya cukup menyelamatkan film. Dengan lebih membahas event event dalam kehidupan sehari-hari, dibandingkan sesuatu yang feminim, film yang cenderung female-sentris ini juga bisa dinikmati oleh para pria juga (I know, i know you guys, you don’t see this kind of chick flick, but give it a try).

Shirley Maclaine mengingatkan pada perannya di Bernie (yah I know, kebalik, nonton Bernie duluan soalnya) yang bisa dikatakan menjadi ice breaker disini dan mengeluarkan banyak banyolan tentang “ketidakbersyukurannya” terhadap hidupnya. Shirley Maclaine diimbangi oleh teman sejawatnya yaitu Olympia Dukakis yang mempunyai kepribadian berkebalikan, sebagai janda sukses bahagia, dan selalu tertawa. Dolly Parton melakukan tugasnya dengan baik sebagai pemilik salon juga Daryl Hannah yang bisa bertransformasi layaknya seorang “geek” dengan kacamatanya, kemudian menjadi seorang wanita atraktif, kemudian menjadi seorang Kristiani yang baik, mungkin diantara semua karakter, karakter Annelle inilah yang paling banyak mengalami perubahan, walaupun pengembangan karakter Annelle ini masih terlalu kasar. Pasangan Ibu dan anak, Sally Field versus Julia Roberts sepertinya juga tidak mengalami banyak kesulitan. Namun yang paling menarik adalah setiap karakter ini tidak berdiri sendiri untuk mengatasi masalahnya, namun mereka saling mempengaruhi satu sama lain. Bagaimana konflik yang dialami Shelby mempengaruhi kehidupan rumah tangga Truvy, kemudian kesehatan Shelby mempengaruhi pemikiran Ouiser, dan sebagainya. Disertai dengan celotehan khas Ibu-ibu dengan dialek Southern membuat film ini cukup berhasil menghibur penonton.

Dari jalan cerita, mungkin film ini kurang memberikan kejutan dan terkesan sangat formulaic, atau terkesan sappy (Relaaaaaaaax,it’s not Nicholas Sparks) dengan karakter-karakter yang lebih memainkan karakter “angel” daripada karakter yang lebih real, but sometimes (maybe I am on the mood), I need some movies without I have to think about it, just enjoy it. Yeah, it’s maybe the saddest “feel good” movie.

You know, when you’re tired, wanna something cliche, but you’re no problem with it. This is the movie. You’ll like it.

Trivia

Hampir semua pemainnya, pernah memenangkan atau dinominasikan dalam Oscars, Sally Field (won 2 Oscars), Shirley MacLaine (won an Oscar), Olympia Dukakis (won an Oscar), Julia Roberts (won an Oscars), Dolly Parton (nominated for 2 Oscars), maybe no for Daryl Hannah.

Quote

Ouiser Boudreaux: I do not see plays, because I can nap at home for free. And I don’t see movies ’cause they’re trash, and they got nothin’ but naked people in ’em! And I don’t read books, ’cause if they’re any good, they’re gonna make ’em into a miniseries.

Duplicity (2009) : Corporate Spies Couple and Their Trust Issue

Director : Tony Gilroy

Writer : Tony Gilroy

Cast : Julia Roberts,  Clive Owen,  Tom Wilkinson, Paul Giamatti

About

Mata-mata. Keduannya adalah pasangan yang serasi. Terkadang mereka akan berseteru. Mereka bekerja untuk dua pihak yang berlawanan. Yah pasti yang ada di pikiran pertama mungkin Mr. & Mrs. Smith dari pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt yang sangat ngehits di saat itu. Namun, masih ada lagi film dengan cerita yang hampir sama namun dimainkan oleh Julia Roberts dan Clive Owen.

Pasangan yang bermain apik dalam Closer ini, kembali di pasangan dalam drama mata-mata Duplicity. Duplicity bercerita tentang dua agen rahasia yakni Claire (Julia Roberts) dan Ray (Clive Owen) yang bekerja sama dengan cara bekerja di dua perusahaan yang saling bersaing. Ketika Howard Tully (Tom Wilkinson) diam-diam mengembangkan sebuah produk, rivalnya Richard Garsik (Paul Giamatti) mengutus Ray untuk menyelidikinya. Tentu saja, dengan bantuan Claire yang ternyata dengan sembunyi-sembunyi melakukan report terhadap Ray. Masalah menjadi complicated ketika ternyata mereka berdua adalah pasangan yang sebenarnya saling mencintai, hanya saja mempunyai trouble dengan trust issue yang datang dari historis hubungan mereka berdua. Dapatkah mereka memperoleh formula rahasia yang sedang dikembangkan oleh Howard Tully ?

Film ini disutradari yang juga sebagai penulis, Tony Gilroy, orang yang dikenal dengan trilogy Bourne yang hampir ketiganya mendapatkan respon yang sangat impressive, baik segi finansial maupun dari segi kritik.

“Hmm, it’s just under of my expectation.”

Melihat premis awalnya, ekspektasi awal adalah sebuah film dengan banyak intrik, banyak adegan lucu, juga dengan banyak action seperti halnya Mr & Mrs. Smith. Bayangan pertama adalah Julia Roberts beraksi dengan sangat apik seperti halnya Angelina Jolie, hmm, who’s not gonna be attracted ? Namun sepertinya, ada yang terlupa dari film ini, film ini bukanlah film action, film ini adalah film crime dengan balutan romantic dengan sedikit sentuhan thriller.

Dari awal film, kita disuguhi dengan opening credit yang merupakan salah satu opening credit yang paling membosankan yang pernah dilihat dengan memperlihatkan karakter Tom Wilkinson dan Paul Giamatti yang berkelahi namun dengan gerakan slow motion. Dan benar saja, hal tersebut harusnya menjadi sebuah pertanda bahwa film ini terlalu berfokus pada hubungan antara dua karakter tersebut. Ketika dua karakter supporting ini terus-terusan bertengkar, dua leading roles-nya mengalami underdeveloped yang membuat film ini sedikit kehilangan magnet untuk ditonton.

Dan jika kamu adalah fans Julia Roberts, mungkin kamu dapat bertoleransi, namun jika bukan, Julia Roberts tampil dengan sangat membosankan dan seperti kehilangan sinarnya sebagai bintang. Luckily, I am a Julia Roberts fan. Begitu pula, dengan penampilan Clive Owen yang kurang greget. Mungkin script yang seperti menuliskan bahwa didalam film ini mereka mempunyai sebuah trust issue, membuat mereka seperti kehilangan chemistry dan selalu gagal ketika mereka berusaha membangunnya.

Plotnya pun dibuat dengan sedikit-sedikit flashback dan seperti meninggalkan puzzle-puzzle untuk penonton rangkai sebenarnya ada hubungan apa sih antara karakter Julia Roberts dan Clive Owen ini. Keseluruhan film juga dipenuhi dengan twist-twist kecil namun benar-benar tidak berarti, hanya tik-tok chit chat antara leading role yang dibolak-balik namun tidak meninggalkan kesan witty di dalamnya.

Adegan ketika Julia Roberts mencari sebuah mesin fotokopi merupakan adegan thrilling yang ada di sepanjang film, namun dengan twist (lagi) di akhir film yang tidak bersifat “winning audience’s heart” sepertinya payoff untuk menonton film ini kurang lebih selama 2 jam menjadi semakin kecil, dan cenderung mengecewakan.

Trivia

Di opening weekendnya, film ini harus melawan Knowing dan I Love You Man, dan hanya mampu berada di posisi ketiga dibawah keduannya.

Quote

Claire :  If I told you I loved you, would it make any difference?

Ray : If you told me or if I believed you?

Mona Lisa Smile (2003) : Free Thinking Professor Versus Conservative Students

Director : Mike Newell

Writer : Lawrence KonnerMark Rosenthal

Cast :  Julia RobertsKirsten DunstJulia Stiles, Maggie Gyllenhaal, Ginnifer Goodwin

About

Erin Brockovich kembali beraksi. Kini, ia menjelma menjadi seorang guru seni yang berusaha mengadakan sebuah perubahan di dalam sekolah yang terkenal sangat konservatif.  Katherine (Julia Roberts) adalah perempuan yang free thinking dalam segala hal, termasuk dalam melihat peranan wanita pada era 50an. Wanita diizinkan untuk bersekolah namun pada akhirnya mereka hanya berakhir menjadi seorang istri yang tugasnya mencuci, memasak, menyetrika juga melayani suami, dan menurut kepada suami. Di sekolahan ini, Roberts harus berhadapan dengan karakter-karakter siswi yang berbeda-beda, mulai dari Betty (Kirsten Dunst), siswi yang selalu menentangnya, Joan (Julia Stiles), siswi yang bercita-cita menjadi seorang pengacara, Giselle (Maggie Gyllenhaal), siswi yang menjadi korban perceraian kedua orang tuanya, dan Connie, (Ginnifer Goodwin), siswi yang mempunyai self esteem yang sangat rendah. Siswi-siswi ini sangat pandai dalam teori, namun untuk membuka pikiran mereka, apakah Katherine berhasil melakukannya ?

Talented cast delivers good characters, it is wasted by unfocus plot and mediocre efforts.

Sebuah cerita dengan tema perubahan ini tidak sesuai ketika ternyata perubahan yang diinginkan tidak signifikan dan terkesan kurang adanya kegigihan atau perjuangan dari karakternya. Dengan ending yang mudah ditebak, film ini malah kehilangan arah (terutama karakter Julia Roberts) dan menjadi tidak fokus di sepertiga terakhir dari film. Karakter Julia Roberts lebih terkesan lebih mengekspos sisi kehidupan asmaranya yang tidak penting, daripada harus berkonsentrasi pada perjuangannya untuk melakukan perubahan di sekolah ini. Sisi kehidupan asmara dari karakter Julia Roberts ini membuat karakter ini serasa tidak konsisten dan mengalami masalah “anti klimax” karakter dimana semakin film berjalan, penonton malah merasa kurang respect pada karakter utama.

Film yang menghadirkan karakter-karakter lewat aktris-aktris berbakat (terutama penampilan Maggie Gylllenhaal) ini sebenarnya akan menjadi spesial jika karakter murid lebih berkonsentrasi pada karakter guru. Hasilnya, mengenaskan, tidak adanya intensity antara karakter Kirsten Dunst dan Julia Roberts yang seharusnya menjadi konflik puncak nyaris tidak ada gregetnya. Di sisi lain, di ending film, kedua karakter ini malah kemudian menjalin sebuah hubungan yang terlihat memaksakan dan terlalu terburu-buru.

Film yang memiliki banyak subplot ini berakhir tanpa kesan, tanpa penekanan. Semua karakter siswa mempunyai permasalahan masing-masing, begitu pula dengan gurunya, kemudian mereka bertemu tanpa adanya keterlibatan sang guru atas masalah mereka, kemudian mereka berpisah. Karakter Julia Roberts jika ditilik kembali malah terlalu berkonsentrasi pada masalah karakter Julia Stiles dan hubungan asmaranya dengan Bill Dunbar (Dominic West). Talk about change ? What change ? Film  seperti halnya seni yang dilupakan begitu saja. Sorry, Monalisa doesn’t smile for this time.

Trivia

Menerima bayaran yang sangat tinggi, yaitu 25 juta dollar, membuat Julia Roberts mempunyai pendapatan tertinggi yang pernah diraih seorang aktris.

Quote

Katherine : Quiet. Today you just listen. What will future scholars see when they study us, a portrait of women today? There you are ladies: the perfect likeness of a Wellesley graduate, Magna Cum Laude, doing exactly what she was trained to do. Slide – a Rhodes Scholar, I wonder if she recites Chaucer while she presses her husband’s shirts. Slide – hehe, now you physics majors can calculate the mass and volume of every meatloaf you make. Slide – A girdle to set you free. What does that mean? What does that mean? What does it mean? I give up, you win. The smartest women in the country, I didn’t realize that by demanding excellence I would be challenging, what did it say?

Erin Brokovich (2000) and Legally Blonde (2001) : Both are Blonde, Legal is New for ‘em but They’re Great at It

 

Sebuah film bertemakan meja hijau ternyata sama menariknya dengan film bertema politik, gangster atau football. Salah duanya adalah Erin Brockovich yang muncul pada awal milenium dan Legally Blonde yang rilis pada satu tahun setelahnya. Keduannya di bintangi oleh dua aktris berbakat yang telah meraih piala Oscars. Di dalam kedua film ini, Julia Roberts dan Reese Witherspoon adalah blonde yang harus terjun di bidang hukum, walaupun mereka lebih cocok sebagai ‘ratu kecantikan’. Walaupun harus berkutat dengan hukum yang notabene serba serius, ternyata film semacam ini mempunyai cara sendiri untuk mengocok perut para penontonnya.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Erin Brockovich (2000)

Director :  Steven Soderbergh

Writer : Susannah Grant

Cast :  Julia RobertsAlbert Finney, Aaron Eckhart

“Shining Roberts in steady hand of Soderbergh.”

About

Diangkat dari sebuah kisah nyata, Erin Brockovich (Julia Roberts) pada mulanya hanyalah single parent dengan tiga anak yang sedang putus asa, tanpa pekerjaan, tanpa uang. Dengan modal nekad, ia memaksa pengacaranya, Ed Masry (Albert Finey) untuk memperkerjakannya sebagai file clerk di kantornya. Sebuah kasus tiba-tiba datang dan menarik Brockovich untuk menyelidikinya lebih lanjut, sebuah kasus yang berkaitan dengan sebuah perusahaan energi raksasa yang ‘diduga’ mencemari lingkungan dan membuat beberapa orang mengalami gangguan kesehatan. Tak disangka, kasus ini jauh lebih besar dari yang Brockovich, bahkan Masry, bayangkan. Sebuah kasus yang menyangkut keadilan untuk seluruh penduduk kota. Bisakah Brockovich menangani kasus raksasa ini sementara ia sendiri tidak mempunyai kapabilitas diri di bidang hukum ?

Film ini diarahkan oleh salah satu sutradara yang paling stabil dan produktif walaupun sebentar lagi dikabarkan akan pensiun sebagai sutradara, Steven Soderbergh. Film ini tidak hanya mengantarkan Julia Roberts mendapatkan Oscar setelah dua nominasi sebelumnya namun juga mengantarkan ia sebagai aktris pertama dengan bayaran 20 juta pada masa itu.

Roberts is amazing, this movie owes her so much.

Dengan perannya sebagai single mother yang frustasi dengan tekanan hidup dengan fouled mouth-nya, tidak membuat Roberts kehilangan karisma, warmth dan charm-nya yang membuat penonton ikut frustasi atau kehilangan simpati terhadap karakter Erin Brockovich. Roberts adalah magnet di film ini dan yang lebih utama lagi, magnet itu terus menarik penonton sepanjang durasi film. Beberapa lines yang catchy dalam film disampaikan dengan kekuatan Roberts membuat beberapa moment begitu memorable. Tidak lupa, Roberts juga mendapatkan lawan yang sepadan, seorang Robert Finney yang memerankan Ed Masry, keduannya membangun chemistry yang baik walaupun dalam film ini hubungan antar tokoh ini terkadang tidak stabil. Dengan cerita yang bersifat crowd pleaser dengan nilai plus bahwa cerita dalam film ini adalah true story, membuat sebuah jaminan banyak penonton terkagum-kagum dan akan menyukainya. Hal ini akan menjadi sebuah sisi kompensasi bagi penonton untuk masalah sebuah film yang mengangkat true story, terkadang jalan ceritanya klimaxnya kurang terasa. Dengan tangan dingin dari Soderbergh, film berjalan stabil walaupun terdapat beberapa part film yang mengalami jalan di tempat di sisi storyline-nya. Sisi yang mengganggu adalah sisi hubungan percintaan antara Brockovich dan George (Aaron Eckhart) yang terkesan sangat artificial dalam film dan sedikit mengganggu. Karakter George sepertinya hanya dihadirkan benar-benar sebagai ‘nanny’ agar Brockovich dapat hampir 100 persen berkonsentrasi pada kasus yang manjadi inti cerita, walaupun akhirnya sisi ini menjadi sisi klise dari sebuah kisah nyata.

Trivia

Julia Roberts adalah salah satu artis yang menyabet Academy Award, Golden Globe, Critic Choice Award, SAG, dan BAFTA untu satu peran yang sama. Aktris lainnya adalah Renee Zellweger (Cold Mountain), Reese Witherspoon (Walk The Line), Helen Mirren (The Queen), Jennifer Hudson (Dreamgirls), Kate Winslet (The Reader), Mo’Nique (Precious), Natalie Portman (Black Swan) dan Octavia Spencer (The Help).

Quote

In early movie, Brockovich : Did they teach lawyer to apologize ? Because you suck at it.

In the end of movie, Masry : Did they teach beauty queen to apologize ? Because you suck at it.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Legally Blonde (2001)

Director : Robert Luketic

Writer : Karen McCullah Lutz, Kirsten Smith

Cast : Reese Witherspoon, Luke Wilson, Ali Larter

“Shallow wits, entertaining yet no surprise.”

About

Ditangani oleh tangan debutan Robert Luketic, sutradara yang kebanyakan menggarap genre romcom, film ini bercerita tentang Elle Woods (Reese Witherspoon) yang terpaksa terjun ke sekolah hukum di Harvard hanya untuk mengejar mantan pacarnya. Elle Woods adalah gadis muda kaya yang harus melawan labelling “dumb blonde” dari lingkungan kampusnya. Ketika ia terus dicap bodoh, hanya karena ia blonde, cantik, fashionable, ia menekatkan diri bahwa ia dapat mengatasi apapun, termasuk menjadi mahasiswi hukum yang berprestasi. Ketika ia berhasil mendapatkan sebuah internship, ia dan timnya harus menangani sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan mantan pelatih fitnesnya, Brooke (Ali Carter). Bisakah ia membebaskan Brooke dari tuduhan sementara ia adalah satu-satunya dalam timnya yang mempunyai faith bahwa Brooke sebenarnya tidak bersalah ?

Funny, but everything just come up like it should be. I gotta say Woods isn’t smart blonde, but she’s a lucky blonde.

Ketika sebuah film bergenre komedi dengan hanya seorang leading actor/actress dengan screenplay yang cenderung familiar dan predictable, beban seorang leading actor/actress begitu besar. Dia tidak bisa hanya menampilan sebuah performa yang biasa saja karena penonton sudah jelas tahu cerita akan berjalan kemana. Beginilah yang dialami Reese Witherspoon. Bisa dikatakan Witherspoon berhasil membuat karakter Elle sebagai anti depresan untuk penonton dengan tingkat percaya diri dan keceriannya yang sangat tinggi walaupun Witherspoon hanya mampu meng-cover karakter ini di luarnya saja (but she did the best with the material). Penampilan Witherspoon ini penyelamat bagi “too good too be true” storyline dengan selingan beberapa jokes, scene berlebihan dari ke-feminiman Elle, dan wits yang dangkal dan kurang analytical untuk film legal seperti ini.

Film ini sangat segmented, sebuah chick flick yang akan memuaskan untuk para gadis-gadis remaja yang peduli dengan fashion dan lain sebagainya, namun untuk segmen penonton lain, terutama cowok, film ini hanya akan menjadi film yang terlalu feminin yang tidak menawarkan kedalaman kasus atau witty sides seperti halnya film tema legal seharusnya dan hanya akan berakhir sebagai film komedi biasa yang tidak berkesan.

Trivia

Empat puluh gaya rambut yang berbeda ditunjukkan oleh karakter Elle Woods sepanjang film. Surely, men don’t give a shit about this trivia.

Quote

Woman in boutique : There’s nothing I love better than a dumb blonde with Daddy’s plastic.