Kristen Wiig

Reviews : The Drop (2014), The Interview (2014), The Skeleton Twins (2014), and The Hunger Games Mockingjay Part I (2014)

What’s more dangerous than an armed man ? It’s an armed man with a dog.

Tend and wait the bar – itulah job description sederhana dari seorang Bob (Tom Hardy) di tengah kota Brooklyn menjaga bar dengan nama ‘Marv’s Cousin’. Namun, ternyata tak demikian, ketika Marv’s Cousin adalah sebuah drop bar yang difungsikan untuk melakukan money laundering para mafia. Dengan bantuan sepupunya, Marv (James Gandolfini), Bob pun mulai menghadapi kejamnya kota Brooklyn, mulai dari perampokan berencana, sampai ia akhirnya bertemu dengan Nadia (Noomi Rapace) – seorang gadis dengan masalah misteriusnya tersendiri.

(more…)

Advertisements

Hateship Loveship (2014) Has Serene Ambience and Leading Silent Storm with Incorrigible Oversimplified Final Act

Director : Liza Johnson 

Writer : Alice MunroMark Poirier 

Cast : Kristen WiigGuy PearceHailee SteinfeldJennifer Jason LeighNick Nolte 

“I have what I want.” – Johanna

(REVIEW) Bridesmaids changes her. Yep, penampilan sebagai Annie oleh Kristen Wiig banyak yang sudah tidak kaget mengingat Wiig adalah salah satu anggota SNL dengan sejuta impersonation-nya. Tapi bagaimanakah jika Wiig mendapatkan peran yang begitu dramatis dan harus meninggalkan sisi komedinya. Johanna (Kristen Wiig), seorang caretaker sepertinya sudah menyiapkan hatinya ketika pasien yang ia rawat harus meninggalkannya, dengan sangat tenang mengganti pakaian sang pasien kemudian dengan tenang juga, ia melakukan death report.

(more…)

Anchorman 2 : The Legend Continues (2013), First Class “Great Odin’s Raven” Jokes, Less Newsy Backup Story

Director : Adam McKay

Writer : Will FerrellAdam McKay

Cast : Will FerrellChristina ApplegatePaul RuddSteve CarellDavid KoechnerMeagan GoodJames MarsdenKristen WiigGreg Kinnear

“By the hymen of Olivia Newton-John ! – Ron Burgundy

(REVIEW) Komedi dari kerajaan Judd Apatow memang selalu layak untuk ditunggu, walaupun belakangan komedinya tidak terlalu sukses baik secara komersil ataupun secara kualitasnya, mulai dari The Five Year Engangement dan This is 40. Anchorman 2 : The Legend Continues merupakan sebuah sekuel yang memang layak ditunggu mengingat film pertamanya dikatakan sukses besar dan salah satu indikasi baik untuk sekuel ini, sekuel ini tidak pernah dibuat terburu-buru hanya untuk memenuhi kebutuhan komersial.

Salah satu yang membuat Anchorman pertama cukup berhasil adalah kehadiran Veronica Corningstone (Christina Applegate) yang mampu mengimbangi kekuatan komedi dari teman-teman aktor lainnya yang memang sudah diragukan lagi jiwa lawaknya. Namun, sepertinya salah satu kunci keberhasilan tersebut tidak ingin direpetisi. Yeah, memang harus ada yang dikorbankan ketika cerita harus berkembang. Salah satunya, hubungan Ron Burgundy dan Veronica Corningstone yang terpaksa mulai dibatasi untuk mengekspansi cerita baru. Corningstone dan Burgundy telah menikah dan memiliki seorang anak, keduannya juga masih bekerja sama sebagai penyiar berita hingga akhirnya bakat Corningstone tidak terbendung lagi dan membuatnya dipromosikan. Wew ! Classic problem. Naiknya Corningstone ini membuat Burgundy akhirnya dipecat dan tidak lagi menjadi newsanchor.

First 30 minutes is state of euphoria. Tiga puluh menit pertama dari sekuel ini merupakan bagian terlucu dan membuat penggemar merasa bangga memiliki sebuah komedi dengan sekuel yang menunjukkan indikasi keberhasilan. First class R rated jokes pun ditebar disepanjang 30 menit ini salah satunya lewat pengenalan kembali teman-teman Burgundy. Ketika sebuah statsiun televisi menerapkan sebuah inovasi baru yaitu 24 jam full news, Burgundy direkrut dan mengajak teman-teman lamanya, Champ Kind (David Koechner), Brick Tamland (Steve Carell) dan Brian Fantana (Paul Rudd). Whoops, dan tentu saja Baxter yang bisa dikatakan re-casting paling identik di sepanjang sejarah film (kidding). Pengenalan kembali karakter-karakter kocak ini menjadi sebuah ajang reuni menyenangkan dengan jokes-jokes cerdas, terutama jokes franchise yang dilontarkan Champ Kind tentang “chicken of the cave”, that’s just top notch.

Kredibilitas dan validitas logic yang menjadi salah satu sisi menarik di predesesor-nya pun mulai dihadirkan ketika keempat tokoh pembaca berita ini plus Baxter pun mengalami sebuah kecelakaan epic pengundang tawa, yang akhirnya mengakhiri 30 menit paruh pertama. If, it’s just for 30 minutes, I am gonna give this movie, an easy A.

Kehadiran Harrison Ford di 30 menit pertama merupakan sebuah awal mengapa Anchorman 2 memang layak dilabeli dengan star studded comedy of the year, yeah tentu saja tidak lepas dari nama kerajaan Judd Apatow yang memang telah memiliki reputasi. Jejeran pemain pendukung pun diperkenalkan di newsroom untuk menandingi Burgundy dan kawan-kawan, mulai dari Jack Lime (James Marsden) seorang newsanchor andalan yang menjadi rival utama Burgundy, Linda Jackson (Megan Good) atasan wanita ambisius kulit hitam yang sepertinya ditugaskan untuk menggantikan porsi dari Christina Applegate sebagai love interest Burgundy, Chani Lastname (Kristen Wiig) yang menjadi love interest Brick. Berbicara tentang Brick, transformasi Steve Carell dari sekedar pemain pendukung menjadi leading actor serta keberhasilan reputasi Brick di film sebelumnya sepertinya membuat karakter “bodoh” ini adalah tokoh yang paling dikembangkan, disamping Burgundy itu sendiri. Paruh kedua ini memang sedikit mengalami penurunan lucu dibandngkan awal film. Oh yeah, I almost forgot there’s appearance of Greg Kinnear as Gary, but it’s just “let’s forget it”.

News rejuvenization (rejuvenization, is that a word ?), salah satu sisi yang impressing dari Anchorman 2 adalah bagaimana film ini dengan pintar (walaupun secara asal) mengolah setting waktunya yang retro dan memperlihatkan kepada penonton perkembangan dunia berita dari yang konvensional beralih ke modern, seperti awal mulanya breaking news, sampai acara news yang dibuat kurang strick dan lebih entertaining. Jika Anchorman pendahulunya memang berkonsentrasi dengan dunia kompetisi di ruang berita antara Burgundy dan Corningstone, sekuelnya dipenuhi dengan drama-drama kurang berhubungan (dan sepertinya kurang penting) walaupun masih diselingi dengan jokes-jokes R rated yang selalu ditunggu, walaupun tingkat kelucuannya sudah menunjukkan tingkat kelelahan.

Kehadiran James Marsden, Megan Good, serta Kristen Wiig sudah cukup komikal walaupun tidak tereksplor sepenuhnya karena terbatasnya screentime semakin menambah kelemahan film ini, yeah wasted supporting actors, ditambah dengan Paul Rudd, David Koechner, dan Steve Carell yang mulai dinonaktifkan secara perlahan menambah penonton harus berkonsentrasi dengan drama dari Burgundy. Sebenarnya bukan menjadi masalah ketika cerita ini bisa memback-up ledakan scrambled jokes, namun sepertinya drama non news ini kurang bisa membuat Anchorman bercerita tentang Burgundy sebagai anchorman, bukan hanya sebagai satu individu saja.

Setelah serangkaian catastrophe tidak lucu, Anchorman 2 kembali ke bentuk awalnya. Sebuah adegan perang antar news team, yang merupakan repetisi adegan dari film selanjutnya, merupakan salah satu kejutan di film ini karena melibatkan cameo bintang-bintang Hollywood mulai dari Tina Fey, Amy Poehler, Jim Carey, Sacha Baron Cohen, Marion Cotillard, Kristen Dunst, Will Smith, Liam Neeson, dan ditutup dengan kehadiran final dari Vince Vaugh. It’s just EPIC.

Anchorman 2 : The Legend Continues merupakan sebuah sekuel yang tidak mengkhianati nature dari predecessornya, ditambah dengan jajaran pemain utama dan pendukung berbakat serta lawakan khas Burgundy yang membuat originalnya begitu menyegarkan. Hanya saja pada titik tertentu, jokes ini sudah kelelahan tidak peduli lagi sebagaimana menarik substance didalamnya, dan tanpa adanya sebuah line cerita yang cukup newsy untuk dinikmati. Tetapi secara keseluruhan Anchorman 2 bukanlah sebuah sekuel yang sepenuhnya gagal, sekuel ini lebih tepatnya sebuah selebrasi dengan banyak aneka rasa. Nice try, anchorman !

The Secret Life of Walter Mitty (2013) : Ben Stiller’s Most Ambitious Project as Adventurous Daydreamer, UNBELIEVABLE

Director : Ben Stiller

Writer : Steve Conrad, James Thurber

Cast : Ben Stiller, Kristen Wiig, Adam Scott, Shirley MacLaine¸Sean Penn

About

Comment for the poster : This movie release great teaser trailer, great teaser posters, but this poster is just, hmmmm, truly disappointing, too much ask attention.

Sempat menjadi film yang paling diantisipasi di tahun 2013, namun kemudian seakan-akan berakhir menghilang dikarenakan awal review yang kurang menyenangkan, dan seketika mengeluarkan film ini dari Oscar race membuat ekspektasi untuk film ini turun secara tajam. Walter Mitty (Ben Stiller) adalah seorang karyawan yang telah mengabdi bertahun-tahun di majalah LIFE. Sebuah pekerjaan untuk mengelola negative dari setiap foto telah menyita waktunya, membuat ia menjalani setiap waktu kerjanya dengan banyak melamun (daydreaming). Kebanyakan ia melamun tentang petualangan seru yang hanya ada di pikirannya, terkadang ia juga melamun tentang wanita pujaannya, Cheryl (Kristen Wiig). Suatu ketika, perusahaannya berganti platform menjadi majalah online, dan cover terakhir pun akan segera dirilis. Sebuah foto dari seorang fotografer idealis dan petualang pun didapuk sebagai foto terakhir. Sayang, ketika Sean (Sean Penn) mengirimkan sejumlah negatif, no.25 yang manjadi cover terakhir pun entah menghilang kemana. Tanpa ada banyak pilihan Walter Mitty pun menjalani berbagai petualangan sebelum ia benar-benar dipecat oleh bosnya yang songong, Ted Hendrick (Adam Scott).

“What an almost empty adventure.”

Yeah, The Secret Life of Walter Mitty memang selayaknya bisa menjadi sebuah sajian crowd pleaser dari para penontonnya. Beberapa elemen ini terlihat dari sajian visual yang benar-benar “wow”, berbagai dialog yang “quotable”, sampai petualangan-petualangan keliling dunia yang tidak bisa lagi ditolak keindahannya.

Okay, I said UNBELIEVABLE, because of this. Something goes wrong ? Yeah, mau tidak mau Walter Mitty merupakan sajian yang entertaining, dengan ending yang menyentuh. Namun terdapat satu yang membuat film ini hanyalah sekedar adventure biasa, yeah, karakter Walter Mitty itu sendiri. Walter Mitty digambarkan sebagai karakter yang terlalu flat,  hmm tidak mengeherankan jika peran ini diambil oleh Ben Stiller yang juga bertindak sebagai sutradara. Namun, film yang terlihat ambisius ini kemudian terasa kosong oleh karakter Walter Mitty yang cenderung kurang ambisius, kosong, datar, tidak mempunyai sebuah motif yang cukup untuk melakukan perjalanan. Ia hampir dimakan hiu, loncat dari helikopter, diterjang asap vulkanik demi sebuah negatif ? Really ?  Really ? Really ? REALLY ? UNBELIEVABLE . Sean Penn yang memiliki screentime cukup sebentar terbukti menjadi sebuah karakter yang lebih kaya ketimbang Walter Mitty itu sendiri. Entah karena materi screenplay, atau Ben Stiller yang cenderung terlalu lemah untuk memerankan karakter ini, sebenarnya terdapat banyak hal yang melingkupi seorang Walter Mitty, mulai dari hubungannya dengan ayahnya, dengan ibunya (Shirley Maclaine) dan mungkin yang paling utama tujuan dari film ini adalah self invention dari seorang daydreamer menjadi seorang “do-er”. Entah mengapa, faktor yang harusnya bisa dieksplor ini malah tertutupi dengan keindahan petualangan dan juga kisah cinta yang cenderung mediocre.

Big heart, but a lot of shortcuts for the sentiment thing. It’s not about the negative is all about. Film ini akan membawa penonton berlinang air mata menuju ending, sebuah akhir yang mengejutkan. Namun, ketika ditilik lagi,lagi, lagi, hubungan antara Sean dan Walter Mitty malah kurang terkesplor. There’s something missing between two people. Penyajian moment-moment sentimental namun terasa dangkal tanpa disertai background dari sisi sentimentil itu sendiri.

Film ini pada awalnya menghadirkan scene-scene daydreaming dengan Ben Stiller loncat gedung, adegan menghajar bosnya yang cukup menarik yang benar-benar mematri di pikiran penonton bahwa apapun yang dilakukan Ben Stiller di film ini hanyalah fantasi. Sisi buruknya, terkadang kurang adanya tension/sensasi petualangan yang bisa dirasakan mengingat penonton sudah berpikir, “Meh, dia cuman melamun.” Bahkan di genre fantasi sekalipun, ketika penonton sudah menganggap sesuatu yang terjadi adalah sesuatu yang tidak real, it doesn’t matter anymore, dan adegan ini dilakukan berkali-kali, sebuah tindakan melangkah ke depan, namun kemudian mundur lagi, tidak membawa penonton kemana-mana. Sisi baiknya, ketika film mulai kicking, film ini memberikan ambiguitas kepada penonton, apakah adegan Ben Stiller (mulai ia perjalanan ke Greenland) adalah sebuah petualangan yang nyata (dalam artian tidak melamun), dari sinilah film ini mulai enak untuk dinikmati.

I am not saying it’s a bad movie. Dengan banyaknya adegan artistik, plus scoring yang adventure-ish, ditambah dengan sisi misteri lewat puzzle-puzzle foto, “Dimanakah Sean berada ?, walaupun misteri puzzle ini kurang cerdas namun cukup membawa penonton untuk tetap penasaran.

Yeah,mungkin film ini menghadapi trouble yang dilakukan oleh film You See Me Now. Keduanya keren secara visual, kedunnya menghibur, keduanya penuh teka-teki (di sisi ini You See Me Now lebih unggul). Namun, jika You See Me Now lebih terlihat seperti acara sulap yang tidak ada penjelasan logis di belakangnya, film ini kurang ada karakter yang lebih bisa berpetualang di film tentang petualangan ini. Yeah, mungkin karena nila setitik, rusak susu (hampir) sebelanga.

Ben Stiller is quite impressing as director, but not as actor, and this movie could do a lot, a lot, a lot, better. Movie as entertainment ? Yeah, it’s fucking a hit. Movie as something more, maybe not.

Trivia

Jim Carey sempat dipertimbangkan untuk memerankan Walter Mitty. Hmmm, why not ? I think the character will be so much, uuuuuuhm, attractive.

Quote

Sean : Beautiful things don’t ask attention.

Girl Most Likely (2013) : Is This Bridesmaids’ Spin-Off “Someone Who’s Hitting Bottom” and Her Troubled Mother ?

Director : Shari Springer BermanRobert Pulcini

Writer : Michelle Morgan

Cast : Kristen WiigAnnette BeningMatt Dillon, Darren Criss

About

I gotta say, I am kind of tired watching movies which tries to replicate Bridesmaids success. Yah dengan tidak adanya kabar bahwa Bridesmaids akan dibuat sekuel (berharap tidak akan pernah dibuat), beberapa film sepertinya masih terbayang-bayang untuk mengikuti kesuksesannya. Yah, walaupun tidak fair juga mengatakan demikian, yep let’s say Bachelorette, uhm, let’s say Friends with Kids (ehem, yang ini agak enggak si, walaupun bisa dikatakan reuninya Bridesmaids). Karir para pemain, bahkan sutradaranya berubah, lihat saja Paul Feig yang sepertinya semakin produktif atau McCharty dan Rose Byrne.

Tanpa kecuali, pemain SNL yang satu ini, dinominasikan untuk screenplaynya, Kristen Wiig langsung berubah menjadi leading lady yang memimpin beberapa film ke depan. Loveship Hateship ? Bermain sebagai “peran penting” di Despicable Me 2 (di Despicable Me 1 ia hanya mendapat peran kecil), Walter Mitty dan juga Anchorman 2. Yes ! Salah satunya film yang satu ini, film ini bahkan sempat diberi judul Imogene (nama karakter Kristen Wiig) sebelum berubah menjadi Girl Most Likely.

Karena berhubung akhir-akhir ini sedang hobi “compare” film, hayuklah kita compare film ini dengan Bridesmaids dari segi cerita.

–          Imogene (Kristen Wiig) adalah penulis play yang sukses dengan kehidupan, yah begitu juga dengan karakter Annie di Bridesmaids, seorang pembuat kue yang cukup sukses juga.

–          Sampai Imogene terhanyut pada kehidupan kelas elit dan tidak lagi menulis play, sampai akhirnya ia ditinggalkan pacarnya. Begitu juga dengan Annie, yang terkena dampak krisis 2008 kemudian ditinggalkan pacarnya.

–          Mendekati waktu yang bersamaan, ia juga dipecat dari sebuah kantor majalah, Annie juga dipecat dari toko perhiasan.

–          Sampai akhirnya Imogene memutuskan untuk bunuh diri namun tidak berhasil, dan …….

–          Ia harus tinggal bersama Ibunya, Zelda (Annette Bening) yang super eksentrik. Annie juga tinggal bersama Ibunya.

–          Jika Annie memiliki roommate yang creepy, di rumah Ibunya ini, Imogene juga bisa dikatakan punya roommate yaitu Lee (Darren Chris).

–          Dari sinilah Imogene berusaha untuk mengembalikan kejayaan hidupnya.

Okay persamaan cerita belum dihitung dari ; adegan tertabrak mobil kemudian berurusan dengan polisi, teman-teman Imogene yang mengingatkan pada sosok Helen di Bridesmaids, ayah Imogene yang meninggalkannya saat kecil, uhm okay I am done.

“Losing its enthusiasm after Darren Chris performs on stage, (which is so lame, not cool at all), wasted the main character, Zelda, as eccentric mother, and I don’t know what’s left.”

Okay, Kristen Wiig is a game here. Masih bisa bersinar dengan karakternya yang memang tidak jauh dengan karakter Annie, paling tidak itulah yang mempu membawa film ini sampai akhir walaupun sepertinya terjadi misfire sepanjang film ini berjalan. Beruntungnya, Kristen Wiig mampu mengubah atau menjaga sebuah karakter untuk tetap mengundang care, atau tetap disukai penonton disamping sifatnya yang benar-benar menjengkelkan. She hates everybody.

Dengan tidak adanya kejutan, dengan adanya cerita yang cukup familiar, sebenarnya lebih mengharapkan film ini lebih banyak menampilkan hubungan antara Ibu dan anak yang sebenarnya cukup menarik dan mengalir untuk disimak. Apalagi Annette Bening sebagai aktor kawakan sepertinya cukup bisa mengimbangi sisi “komedik” dari Kristen Wiig ketika mereka berinteraksi berbagi layar. Hadirnya Matt Dillon juga memberikan angin segar sepanjang sepertiga film ini berjalan. Karakter-karakter ekstrem ini benar-benar terbuang di sepertiga terakhir, yang membuat film ini langsung kehilangan magnet.

Namun, terdapat substory yang sebenarnya cukup membuat “mati rasa” yaitu hubungan Kristen Wiig dengan Darren Chris, keduannya memiliki cukup easy chemistry, namun ketika film berkonsentrasi pada hubungan mereka berdua, serta kehidupan “kota” Imogene yang melibatkan teman, ayahnya “yang masih hidup”, semuannya berjalan flat datar dan generic. There’s no spark here. WHERE’S THE SPIRIT ??? Yah bisa dikatakan, jika Bridesmaids hanya berkutat pada masalah ituuuu saja, namun Bridesmaids menjadi fokus. Berbeda dengan film ini, yang sebenarnya cukup mempunyai banyak plot untuk dirangkum namun tidak dapat dieksekusi secara meyakinkan. Bahkan untuk sebuah scene (revealing Matt Dillon karakter), yang seharusnya bisa nendang, bisa dieksekusi lebih komedik atau menegangkan, sepertinya scene ini hanya menjadi scene setengah-setengah.

Di bagian screenwriting, skenario tidak terlalu buruk, terutama dari segi para pemainnya memainkan dialog, beberapa masih terdapat line-line yang smart, yang masih bisa dijadikan quote, atau line-line ini masih bisa memberikan efek “twisting” yang sebenarnya cukup enak untuk disimak.

Hasilnya Imogene hanya menunggu saat ending, dimana endingnya juga benar-benar seperti mendapatkan shortcut untuk menuju sebuah happy ending.

Quote

Zelda : Sometimes you need to see the snake in the bush to know it’s really there.

Despicable Me 2 (2013) : A Sequel of Super Bad Super Dad, More Minions and Lipstick Taseeeer !

Director : Pierre CoffinChris Renaud

Writer : Ken Daurio, Cinco Paul

Cast : Steve Carell, Kristen Wiig, Russell Brand

About

Dengan mengantongi lebih dari setengah miliar dolar America, Despicable Me pun akhirnya mendapatkan porsi “sekuel”nya. Kisah yang bercerita tentang bad guy turns out to be decent guy di film pertamanya memang sempat menjadi hit karena memberikan cerita dengan surprise tersendiri. Belum lagi kehadiran Minions sebagai supporting role yang terbukti efektif dan suara grumpy Steve Carell yang mampu menghidupkan karakter Gru.

Despicable Me 2 benar-benar menjadi film yang ditunggu dan turut meramaikan parade film summer (selain juga turut meramaikan parade film animasi yang akan dibuat sekuel, yep ! Monster University released last week). Despicable Me 2 juga masih menggandeng banyak pengisi suara yang sama dengan film sebelumnya. Bahkan, Kristen Wiig yang sebelumnya hanya memegang minor role, kini dipercaya untuk menyuarakan suara yang lebih signifikan (Iyah, Bridesmaids mengubah karirnya).

Setelah beberapa trailer teaser yang kebanyakan menghadirkan karakter kuning lucu dengan bahasa yang tidak jelas, Minions. Maka Despicable Me 2 akan dirilis minggu ini.

Despicable Me 2 bercerita tentang kehadiran super villain baru yang masih menjadi teka-teki karena ia mencuri secara terang-terangan sebuah laboratorium di kutub yang sedang mengolah serum berbahaya. Untuk menangkap sang penjahat, liga anti penjahat mengirim agen rahasia bernama Lucy (Kristen Wiig) untuk menculik Gru (Steve Carell) dan mengajaknya untuk berpartner. Di sisi lain, sisi lain Gru mulai minta diperhatikan lebih, yaitu anak-anaknya dan kehidupan asmaranya. Mampukah Gru menangkap sang super villain dengan bantuin para Minions dan Lucy ?

“Despicable Me 2 is unfocus sequel which is not GETting SMARTer and Minions show as bitter saccharine .”

Baru di awal film, Minions sudah mengundang tawa penonton dengan ulah mereka. Yep ! Minions domination ! Porsi Minions mendapatkan porsi yang lebih banyak di film ini, bahkan peran mereka juga bertambah signifikan pada storyline-nya. Di film pertama, penampilan Minions terbukti efektif dan they stole the show. Hal yang sama ingin dicapai pada sekuel ini hanya saja sepertinya Minions try too hard. Pada awal film, semua hampir tertawa dengan ulah Minions, namun karena terlalu banyak di ekspos, peran Minions ini seperti kehilangan sisi “cute-ness” mereka karena terlalu banyak tampil dengan scene yang sebenarnya tidak perlu. Sorry, Minions. Ini juga memicu pikiran jika spin off Minions, dengan judul yang sama, hanya mengandalkan kelucuan dan kekonyolan Minions diluar sebuah skrip yang benar-benar kuat, trust me, the spin off is gonna be a mess !

Image

source : www,impawards.com

Ingat dengan Vector ? Yah, karakter villain yang disuarakan Jason Segel ini juga menjadi karakter yang menarik di film sebelumnya. Di film ini, yang mengambil premise dengan kata “super villain”, hal itu malah menjadi sesuatu yang miss. Karakter villain yang dirahasiakan dari awal membuat villain kurang dapat dieksplor dan malah terkesan mengambang dan film hampir setengahnya berjalan tanpa adanya konflik dan tanpa musuh, membuat film ini terasa datar. Ketika karakter villain mulai diungkap juga merupakan sebuah kekecewaan ketika villain bukanlah tipe yang super. Bahkan, dia sangat mudah dikalahkan. Wew ! And basically, there’s no REAL problem in this movie.

Gru yang ingin mencuri bulan di film pertama menjadi visi yang ambisius dan membuat film jelas mau dibawa arahnya kemana. Lagi, dan lagi, film sekuel ini kehilangan visi yang membuat film menjadi seperti blur dan kehilangan fokus, hanya menyajikan slapstick di sana dan di sini.

Di sekuel ini juga Gru is not a bad guy, yang membuat film ini sepertinya menjadi agak tergeser dari judulnya DESPICABLE ME, Gru berubah dan membantu agen untuk menangkap penjahat pastinya akan mengingatkan kita pada film Steve Carell dan Anne Hathaway, Get Smart. Yup ! Beberapa tingkah Gru saat membantu agent, bahkan karakter villain di film ini akan mengingatkan kita pada film Get Smart.

Despicable Me 2 berusaha mengganti parental problem (yang menjadi message penting di dalam film pertama) dengan sisi romance antara Gru dengan Lucy dan Margo (anak pertama Gru) yang sedang mengalami kisah cinta pertamanya. Jatuhnya, generic ! No surprise, membuat cerita menjadi mediocre.

IT’S BIG DISAPPOINTMENT namun untuk ukuran film keluarga, dimana anak kecil pasti akan dibuat gemas dengan karakter Minions, yep ! When we’re children, fuck the plot, fuck everything, every movie is awesome.

Trivia

Javier Bardem dipertimbangkan untuk mengisi suara villain namun ternyata keluar.

Quote

Gru (to Agnes) : Never get older.

Whip It (2009) : Roller Derby Collaboration of Juno Typed Girl and E.T. Girl’s Directorial Debut

Director : Drew Barrymore

Writer : Shauna Cross

Cast : Ellen Page, Kristen Wiig, Marcia Gay Harden, Drew Barrymore.

About

Projek film dari seorang bintang film yang kita kenal dengan gadis kecil di E.T., juga berperan sebagai Alex di Charlie Angel, dan gadis yang kehilangan memori jangka pendeknya di 50 First Dates, yup, dia adalah Drew Barrymore. Spesialnya lagi dia tidak hanya menjadi pemeran pendukung disini, namun juga sutradara. Bayangkan ! Drew Barrymore sebagai sutradara ketika kebanyakan kualitas aktingnya hampir se-formulaic dengan kualitas akting Jennifer Aniston. Yup, everybody has doubt about this.

Film bergenre sport yang malah kebanyakan diperankan oleh para perempuan ini bercerita tentang Bliss Cavendar (Ellen Page), gadis berusia 17 tahun yang sedikit sedang mencari jati dirinya di sebuah kota kecil yang bergabung dalam sebuah kelompok roller derby, yang ternyata membuat hidupnya mempunyai arah. Simple story kemudian dibumbui dengan masalah dan kerumitan ala remaja, seperti tekanan ibunya (Marcia Gay Haden) yang menginginkannya menjadi feminim padahal ia tomboy, kehidupan percintaannya, kehidupan dengan sahabat dekatnya, dan tetek bengek dengan anggota roller derby yang lain (Kristen Wiig, Drew Barrymore, Juliette Lewis, Eve, etc.). Di tengah kekonyolan pelatih mereka, Razor (Andrew Wilson), kehadiran Bliss membuat tim roller derby ini mulai merangkak naik dari predikat “We’re Number Two of Two” team.

Film yang dipremierekan di Festival Film Internasional Toronto di tahun 2009 yang juga diangkat dari sebuah novel Derby Girl karya Shauna Cross ini, kurang mendapatkan respon komersial yang baik di pasar walaupun jika dilihat dari budgetnya, film ini juga tidak merugi.

Bagaimanakah directorial debut sang mantan poison ivy ini, this is it the review !

“I gotta say, it’s a surprise, Drew Barrymore is underestimated but she can prove herself by making a pretty decent movie.”

Full of energy, begitulah memang film bergenre sport harus dieksekusi. Film ini mengalirkan sebuah energi positif lewat sebuah pertandingan roller derby yang seru dan menarik. Juga, film ini mempertunjukkan beberapa aksi Ellen Page dan kawan-kawan bermain sepatu roda yang membuat kita semakin yakin bahwa memang artis-artis benar-benar lihai memainkannya.

Ellen Page sebagai seorang leading role, tentu tidak akan kesulitan memerankan karakter seperti ini, tomboy, remaja, mempunyai orang tua yang keren, mempunyai sahabat baik yang juga keren, sedikit banyak mengingatkan kita dengan peran yang membuatnya mulai dilirik dalam film besutan Jason Reitman, Juno. Dengan kapasitas mereka yang kebanyakan memerankan tokoh komedi, Kristeen Wiig dan tim juga cukup emmbuat film ini semarak dan lucu. Satu penampilan yang menarik perhatian datang dari Marcia Gay Haden sebagai seorang ibu yang menginginkan terbaik untuk anaknya.

Memang sangat formulaic, namun dengan sedikit “totalitas” mereka dalam ber-roller derby, film ini lebih enak untuk ditonton, dan humor dan storyline yang tidak depressing membuat film ini “yes formulaic” but also “pleasing and entertaining”.

Scene-scene roller derby  membuat film ini full energy dan satu lagi scene romantis yang akhirnya muncul dan meng-grab perhatian adalah scene di sebuah kolam renang yang memperlihatkan karakter Bliss dan pacarnya yang super romantis. It’s rare.

It is well made for a Barrymore’s directorial career debut.

Trivia

Ellen Page drop outdari projek horor Sam Raimi, Drag Me to Hell untuk mengerjakan film ini.

Quote

Bliss Father : I can take losing the money. I cannot take loosing the chance for our kid to be happy.

Friends with Kids (2012) : Another Friend’s Benefit Called ‘Kid’

Sutradara : Jennifer Westfeldt

Penulis : Jennifer Westfeldt

Pemain : Jennifer Westfeldt, Adam Scott, Jon Hamm

Tagline : Love. Happines. Kids. Pick two.

“Leading role or Bridesmaids cast, pick one ! Definitely, I choose second one.”

About

Selain dari sisi supporting cast yang tidak lain tidak bukan menghadirkan sebuah reuni dari film Bridesmaids (Maya Rudolph, Kristen Wiig, Jon Hamm, Chris O’Dowd), sisi yang menonjol lainnya adalah bahwa produser, penulis, leading role, bahkan sutradara dari Friends with Benefits adalah orang yang sama, Jennifer Westfeldt.

Film independen ini bercerita tentang dua orang sahabat akrab, Julie (Jennifer Westfeldt) dan Jason (Adam Scott) yang melihat kerumitan hubungan percintaan teman-temannya setelah mereka mempunyai anak. Untuk menghindari hal tersebut, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memiliki anak tanpa disertai hubungan pada umumnya, hanya berdasarkan hubungan pertemanan yang simple dan bertanggung jawab.

Too much for Westfeldt

Cast yang menjadi supporting roles disini sangat memegang peranan penting, mereka begitu mempesona dengan chemistry cukup kuat terutama ketika dialog dilontarkan dengan cepat dan serempak, satu sama lain dapat saling melengkapi, bahkan Megan Fox tidak terlalu buruk dalam film ini.

Sangat disayangkan ketika Jennifer Westfeldt terlalu percaya diri memerankan lead role disini, terkadang aktingnya masih terlalu kaku, stagnant dan kurang memberikan efek ‘charming’ bagi sang pemeran utama.. Hasilnya, kehidupan para Bridesmaids cast ini jauh lebih menarik daripada sang pemeran utama, dimulai dari John Hamm yang cukup berhasil menyita perhatian dan chemistry antara Maya Rudolph dan Chris O’Dowd yang apik. Sayangnya, mereka hanyalah sajian pendamping yang tidak mendapatkan porsi yang cukup besar.

Film bertambah menjadi biasa saja ketika sepertiga terakhir film mulai dapat ditebak dengan konflik klise yang terlihat jelas jalan keluarnya. Tidak ada kejutan. Tidak ada kesan. Sisi positifnya adalah beberapa dialog dan jokes vulgar yang dilontarkan cukup berhasil, walaupun masih bersifat hit and missed.

Trivia

Jon Hamm dan Jennifer Westfeldt benar-benar pasangan kekasih dalam dunia nyata.

Quote

Jason : Oh my God, it really is disgusting. It’s super gross. Your vag*na looks like a jellyfish.