Matt Dillon

Sunlight Jr. (2013) : Reality Kills, Baby Bump In The Middle of “Shit Happens All Over Again”

Director : Laurie Collyer

Writer : Laurie Collyer

Cast : Naomi Watts, Matt Dillon, Norman Reedus

Comment for the poster : Look at that color tone. So warm, so hopeful, yeah, kind of ironic when that kind of thing doesn’t exist in the movie.

About
Melissa (Naomi Watts), seorang kasir di sebuah minimarket bernama Sunlight Junior harus bekerja keras shift demi shift dan menghadapi bosnya yang kurang ngajar, setiap saat, setiap waktu. Dia juga menghadapi dengan mantan pacarnya, Justin (Norman Reedus) yang terus mengikutinya. Disisi lain, Richie (Matt Dillon), seorang mantan kontraktor, dan penyandang disabilitas sehari-hari harus tinggal di motel kecil dan kumuh, sambil bekerja sebagai tukang reparasi elektronik. On top of that, dengan uang yang terbatas, tempat tinggal yang tidak layak, kurang adanya prospek ke masa depan, tiba-tiba Melissa hamil dan membuat situasi mereka berdua pun harus berubah, demi sang calon anak.

Personally, film ini termasuk out of radar, walaupun dibintangi aktris sekelas Naomi Watts.

Over authentic. It all ends bitter.

Sunlight, sinar matahari, mungkin jika kita harus menebak sunlight merepresentasikan apa, I am gonna go with “hope”. Yeah, harapan, prospek ke depan. Film ini terlihat begitu ironis dengan berani memakai sebuah judul yang begitu hopeful (ditambah dengan kata Junior), namun hampir sepanjang film storyline di film ini berkutat tentang sepasang kekasih yang harus menghadapi kenyataan demi kenyataan pahit tanpa adanya sebuah harapan perbaikan ke depan. Film ini jauh dari menyenangkan karena melibatkan banyak elemen hidup yang begitu “bitter”, lets say, pekerjaan yang memuakkan, bos yang menjengkelkan, disabilitas, mantan pacar yang stalker, orang tua yang tidak bisa diharapkan, tinggal di sebuah motel, dan masih banyak lagi. Yeah, mungkin beberapa orang menginterpretasikan sesuatu yang “pahit” ini sebagai sesuatu yang lebih real. Tanpa klise, atau bisa dikatakan there’s no happy ending in real life. In my personal opinion, something bitter doesn’t mean it must be real. Yeah, kenyataan tidak berjalan seperti itu. Jika dilihat dari segi ini, maka film ini hanya penuh dengan tekanan hidup satu ditambah dengan tekanan hidup yang lain. Where’s hope ? Where’s happines ? Where’s smile ?

Screenplay yang begitu “pahit menjalani hidup” ini beruntungnya diperankan oleh aktris dan aktor yang pada suatu titik masih memberikan hiburan pada penonton. Yeah, Naomi Watts and Matt Dillon are strong enough. Kedua aktor aktris ini sampai hampir tiga perempat durasi terus menebarkan pesona positif mereka seakan-akan menyeimbangkan jalan cerita yang terus ditempa oleh hal negatif. Chemistry keduannya juga berjalan menyenangkan bagaimana mereka menghadapi “bayi yang akan datang” dengan keceriaan, harapan, dan juga sepertinya mengharapkan bayi ini akan datang. Beberapa kesenangan kecil pun dihadirkan di film (most of them are sex scene). Yeah, sex scene digunakan sebagai ajang mencari hiburan dan kesenangan ketika kedua karakter utama dilanda banyak keterbatasan. Yeah, this scene works. Berbagai dialog-dialog yang memicu konflik namun kemudian di reverse menjadi sesuatu yang intim dan mesra juga dihadirkan. Hingga akhirnya, boom ! Film ini selayaknya kapal yang sudah bolong sana-sini dan menanti untuk meledak dan tenggelam. Karakter Richie juga lambat laun berubah menyerang karakter Melissa, membuat Naomi Watts harus berjuang sendiri untuk menarik perhatian penonton sampai akhir.

Potential roles yang disandang oleh Watts dan Dillon ini memang sepertinya bisa dikatakan sebagai “uji kemampuan” akting mereka. Strong but not powerful. Keduannya mengantarkan penampilan yang memikat. Melissa sebagai seorang wanita yang kuat, yang sudah tidak demanding lagi tentang kehidupan, hanya menjalani hari demi hari, dan beberapa harapan kecil agar hidupnya lebih baik. Sisi lain, Richie, penyandang cacat yang menyenangkan menjalani hari, kemudian harus berhadapan dengan situasi yang bertambah buruk walau keadaan fisiknya tidak bertambah baik. Kedua aktor aktris ini adalah penopang utama film ini, depressing, dan sisi baiknya, kedua aktor aktris ini mampu merangkul sisi “depresif” itu menjdi sebuah sisi yang bisa dilihat ketimbang penonton harus berkonsentrasi dengan jalannya cerita yang cenderung menunjuknnya sebagaimana jelek dan kejamnya kehidupan yang sebenarnya.

Wasted supporting role. Terdapat satu persamaan dengan berbagai karakter yang mengelilingi karakter utama. Justin, diperankan oleh zombie hunter kita, secara fisik Norman Reedus begitu menantang sebagai sisi mengancam dari kehidupan Melissa, namun seiring berjalannya cerita karakter ini sepertinya tiada guna. Ibu Mellisa, bos Melissa, yeah, semuannya hanya kontributor terhadap segala masalah yang harus dihadapi tokoh utama.

In the end, jika film ini ingin memperlihatkan sebuah gambaran masyarakat kelas bawah yang berjuang di pinggir kota, maka film ini terlalu berkonsentrasi pada hubungan Melissa-Richie tanpa mengijinkan pihak luar untuk mengambil porsi yang lebih besar (instead of all those mean-ness), namun jika film ini ingin memperlihatkan gejolak hubungan Melissa-Richie yang lebih internal, sepertinya juga kurang eksploratif.

Sebuah film yang berkonsentrasi pada sisi hidup yang depresif namun kurang bisa menikmati dan mengisi prosesnya. Over-authentic.

Trivia

Dirlis pada Tribeca Film Festival, bulan April 2013.

Quote

Woman : (on Melissa’s pregnancy) Oh well, good luck, or congratulation.

Advertisements

Extraordinary Charm of Its Leading Lady : My Best Friend’s Wedding (1997) or There’s Something About Mary (1998)

Okay, I am craving for comedy, so I watched some old movies which really capable to trigger my laugh.

Director : P.J. Hogan
Writer : Ronald Bass
Cast : Julia Roberts, Dermot Mulroney, Cameron Diaz

Siapa yang menyangkal pesona dari seorang Julia Roberts ? Yeah, American sweetheart peraih Oscar yang tahun ini juga dinominasikan untuk perannya di August : Osage County. Mungkin, terkenal sebagai seorang pretty woman, komedi sudah seperti makanan sehari-hari untuk Julia Roberts. My Best Friend’s Wedding bercerita tentang Jules (Julia Roberts), yang memiliki misi untuk menghancurkan pernikahan sahabatnya sendiri, Mike (Dermott Mulroney). Jules dan Mike adalah sepasang sahabat yang sudah tahu luar dalam, mereka juga pernah menjalin kisah cinta walaupun tidak berhasil. Masalahnya satu, sifat Jules yang terlalu lempeng dengan basa-basi cinta, kadang membuatnya tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan terhadap Mike. Ketika Mike menemukan seseorang yang mampu mengekspresikan cintanya dengan sangat jujur (plus dia cantik, dan kaya, dan menerima Mike apa adanya), Kimmy (Cameron Diaz). Jules sadar bahwa ia benar-benar mencintai Mike, dan ia hanya mempunyai beberapa hari untuk menggagalkan pernikahan Mike dan Kimmy, termasuk melakukan manipulasi sampai usaha untuk menghancurkan image Kimmy.

“Julia Roberts plus THAT curly hair ? Okay, I won’t complain.”

Yeah film ini merupakan film yang menggabungkan unsur comedy dan unsur romantis, tidak salah lagi dengan apa yang kita sebut dengan rom-com. Sama seperti rom-com pada umumnya, film ini menghadirkan cerita yang mudah ditebak, jokes-jokes ringan (yang kadang garing), namun satu yang tidak bisa didapat pada rom-com pada umumnya. Yeah, Julia Roberts. Jika biasanya rom-com diisi dengan karakter generic yang terlalu umum untuk menjadi sebuah karakter yang real. Film ini benar-benar mendapatkan keuntungan dari performance Julia Roberts. Tidak terlalu spesial memang, namun jika ini Julia Roberts, maka penampilannya menjadi spesial.
Jules bukanlah karakter yang menyenangkan. Dia ambisius. Dia menghalalkan segala cara. Namun, ketika Julia Roberts yang memerankannya, it’s hard not to fall for her. Yeah, dengan segala kebengisan Jules, penonton selalu dibuat memihak kepada karakter ini, ketimbang karakter Kimmy, yang juga dibawakan dengan sangat “flawless irritating” oleh Cameron Diaz. Point ini menjadi sangat penting. Point ini membuktikan bagaimana Julia Roberts memang layak dinobatkan sebagai salah satu American Sweetheart. Tidak peduli bagaimana tercelanya karakternya, sebuah hal yang sangat susah untuk tidak peduli/rooting terhadap karakternya.
Scene stealing dilakukan oleh Rupert Everett, yang memerankan sebagai “love consultant” dari karakter Jules, yang juga seorang gay, dan harus berpura-pura untuk menjadi tunangan Jules. Yeah, because he’s gay, so there will be some singing moments.

SPOILER
Doesn’t care with such happy ending. Life is about compromise. Yeah, another surprise for this movie. Terlihat seperti sebuah kejadian tidak real ketika Julia Roberts (I gotta say, JULAI ROBERTS) ditolak oleh seorang laki-laki. SOME POIGNANT MOMENTS, yeah it is. Julia Roberts kerap kali menghadirkan moment-moment menyedihkan sekaligus miris, yang memperlihatkan aktris yang satu ini terlihat seperti, uhm, let’s say the fungus that feeds on pond scum. Oh, that is horrible.

Yep, film ini memang tidak menawarkan screenplay yang luar biasa pintar, atau sesuatu yang baru kecuali surprise-surprise kecil. Sebuah film yang cocok untuk menemani sore santai dan mood tidak ingin menonton film yang terlalu thoughtful. Just enjoy, it’s Roberts. This movie is supposed to be annoying but, it’s not

Director : Bobby Farrelly, Peter Farrelly
Writer : Bobby Farrelly, Peter Farrelly
Cast : Ben Stiller, Cameron Diaz, Matt Dillon

Cameron Diaz, berbeda dengan perannya yang hanya sebatas supporting role di My Best Friend’s Wedding, disini, ia benar-benar menjadi seorang leading lady.
Ted (Ben Stiller), remaja yang bukan primadona, ugly, awkward, mendapatkan kesempatan untuk menggandeng primadona sekolahan Mary (Cameron Diaz) ke prom setelah ia membela adiknya yang mempunyai keterbelakangan mental. Sebuah kejadian memalukan (let’s say dick stucks in the zipper) membuat pertemuannya dengan Mary ini sangat memorable.
Beberapa tahun kemudian, Ted telah menjadi seorang laki-laki yang normal, pekerjaan yang normal, penampilan yang normal, namun ia telah beberapa tahun tidak menjumpai Mary. Disewalah seorang detektif Healy (Matt Dillon) untuk menyelediki seperti apa kehidupan Mary sekarang, dan tanpa disangka, Healy pun jatuh cinta terhadap Mary, dan menghalalkan segala cara untuk memanipulasi Mary, serta menghancurkan harapan Ted untuk bisa lagi kembali ke pelukan Mary.

“Maybe, this is what we call comedy.”

There’s Something About Mary,bukanlah sebuah sajian entertainment comedy yang subtle, atau pandai melemparkan jokes lewat dialog-dialog yang witty. Namun, jika kita kembali pada tujuan sebuah komedi, yaitu mengundang penonton untuk tertawa. Maka film ini bisa dikatakan seratus persen berhasil.

There’s Something About Mary tidak segan-segan menghadirkan berbagai moment-moment yang bisa dikatakan sangat komedi, sebuah rude crude comedy yang tidak harus menghadirkan berbagai F-word atau sebagainya untuk merusak sebuah image karakter yang likeable (wink-wink to The Heat, We’re The Millers).

Berbeda dengan Julia Roberts yang benar-benar “single handedly won the war”, Cameron Diaz lagi-lagi menghadirkan performance biasanya. Ekspresi itu, cara ngomong yang seperti itu. Yeah, Cameron Diaz seperti memerankan Cameron Diaz. Beruntungnya, ia ditopang oleh male actors mumpuni seperti Ben Stiller dan Matt Dillon yang secara aktif berbagi layar dan menghadirkan tawa lagi, dan lagi.

Kehadiran Ben Stiller, dan juga Matt Dillon (dan beberapa pemuja Mary yang lainnya) memang membuat seperti tidak adanya leading actor yang benar-benar diandalkan untuk mengarah ke kisah cintanya bersama Mary. It’s confusion, it’s all about what and who ???. Ditambah dengan dangkalnya karakter Mary, memang sepertinya film bukan berkonsentrasi pada subkata ROM pada kata ROM-COM. So let’s say it’s comedy, comedy and comedy.
Silly stuff or bad sense of humor ?
Jika suka dengan  moment “sperma sebagai jel rambut”, “anjing yang disetrum”, “anjing yang dilempar jendela”, “kelamin nyangkut di resleting”. This movie is totally for you. FOR YOU !!!!

Conclusion
Talking about charm, Cameron Diaz belum bisa mengalahkan pesona Julia Roberts bahkan ketika ia memerankan karakter yang tidak menyenangkan. Talking about comedy, There’s Something About Mary memang lebih unggul (lebih disgusting, dan lebih crude). So I think, every movie is a winner.
Tetapi berbicara tentang romcom (emphasizing on ROM), My Best Friend’s Wedding is the one.

Girl Most Likely (2013) : Is This Bridesmaids’ Spin-Off “Someone Who’s Hitting Bottom” and Her Troubled Mother ?

Director : Shari Springer BermanRobert Pulcini

Writer : Michelle Morgan

Cast : Kristen WiigAnnette BeningMatt Dillon, Darren Criss

About

I gotta say, I am kind of tired watching movies which tries to replicate Bridesmaids success. Yah dengan tidak adanya kabar bahwa Bridesmaids akan dibuat sekuel (berharap tidak akan pernah dibuat), beberapa film sepertinya masih terbayang-bayang untuk mengikuti kesuksesannya. Yah, walaupun tidak fair juga mengatakan demikian, yep let’s say Bachelorette, uhm, let’s say Friends with Kids (ehem, yang ini agak enggak si, walaupun bisa dikatakan reuninya Bridesmaids). Karir para pemain, bahkan sutradaranya berubah, lihat saja Paul Feig yang sepertinya semakin produktif atau McCharty dan Rose Byrne.

Tanpa kecuali, pemain SNL yang satu ini, dinominasikan untuk screenplaynya, Kristen Wiig langsung berubah menjadi leading lady yang memimpin beberapa film ke depan. Loveship Hateship ? Bermain sebagai “peran penting” di Despicable Me 2 (di Despicable Me 1 ia hanya mendapat peran kecil), Walter Mitty dan juga Anchorman 2. Yes ! Salah satunya film yang satu ini, film ini bahkan sempat diberi judul Imogene (nama karakter Kristen Wiig) sebelum berubah menjadi Girl Most Likely.

Karena berhubung akhir-akhir ini sedang hobi “compare” film, hayuklah kita compare film ini dengan Bridesmaids dari segi cerita.

–          Imogene (Kristen Wiig) adalah penulis play yang sukses dengan kehidupan, yah begitu juga dengan karakter Annie di Bridesmaids, seorang pembuat kue yang cukup sukses juga.

–          Sampai Imogene terhanyut pada kehidupan kelas elit dan tidak lagi menulis play, sampai akhirnya ia ditinggalkan pacarnya. Begitu juga dengan Annie, yang terkena dampak krisis 2008 kemudian ditinggalkan pacarnya.

–          Mendekati waktu yang bersamaan, ia juga dipecat dari sebuah kantor majalah, Annie juga dipecat dari toko perhiasan.

–          Sampai akhirnya Imogene memutuskan untuk bunuh diri namun tidak berhasil, dan …….

–          Ia harus tinggal bersama Ibunya, Zelda (Annette Bening) yang super eksentrik. Annie juga tinggal bersama Ibunya.

–          Jika Annie memiliki roommate yang creepy, di rumah Ibunya ini, Imogene juga bisa dikatakan punya roommate yaitu Lee (Darren Chris).

–          Dari sinilah Imogene berusaha untuk mengembalikan kejayaan hidupnya.

Okay persamaan cerita belum dihitung dari ; adegan tertabrak mobil kemudian berurusan dengan polisi, teman-teman Imogene yang mengingatkan pada sosok Helen di Bridesmaids, ayah Imogene yang meninggalkannya saat kecil, uhm okay I am done.

“Losing its enthusiasm after Darren Chris performs on stage, (which is so lame, not cool at all), wasted the main character, Zelda, as eccentric mother, and I don’t know what’s left.”

Okay, Kristen Wiig is a game here. Masih bisa bersinar dengan karakternya yang memang tidak jauh dengan karakter Annie, paling tidak itulah yang mempu membawa film ini sampai akhir walaupun sepertinya terjadi misfire sepanjang film ini berjalan. Beruntungnya, Kristen Wiig mampu mengubah atau menjaga sebuah karakter untuk tetap mengundang care, atau tetap disukai penonton disamping sifatnya yang benar-benar menjengkelkan. She hates everybody.

Dengan tidak adanya kejutan, dengan adanya cerita yang cukup familiar, sebenarnya lebih mengharapkan film ini lebih banyak menampilkan hubungan antara Ibu dan anak yang sebenarnya cukup menarik dan mengalir untuk disimak. Apalagi Annette Bening sebagai aktor kawakan sepertinya cukup bisa mengimbangi sisi “komedik” dari Kristen Wiig ketika mereka berinteraksi berbagi layar. Hadirnya Matt Dillon juga memberikan angin segar sepanjang sepertiga film ini berjalan. Karakter-karakter ekstrem ini benar-benar terbuang di sepertiga terakhir, yang membuat film ini langsung kehilangan magnet.

Namun, terdapat substory yang sebenarnya cukup membuat “mati rasa” yaitu hubungan Kristen Wiig dengan Darren Chris, keduannya memiliki cukup easy chemistry, namun ketika film berkonsentrasi pada hubungan mereka berdua, serta kehidupan “kota” Imogene yang melibatkan teman, ayahnya “yang masih hidup”, semuannya berjalan flat datar dan generic. There’s no spark here. WHERE’S THE SPIRIT ??? Yah bisa dikatakan, jika Bridesmaids hanya berkutat pada masalah ituuuu saja, namun Bridesmaids menjadi fokus. Berbeda dengan film ini, yang sebenarnya cukup mempunyai banyak plot untuk dirangkum namun tidak dapat dieksekusi secara meyakinkan. Bahkan untuk sebuah scene (revealing Matt Dillon karakter), yang seharusnya bisa nendang, bisa dieksekusi lebih komedik atau menegangkan, sepertinya scene ini hanya menjadi scene setengah-setengah.

Di bagian screenwriting, skenario tidak terlalu buruk, terutama dari segi para pemainnya memainkan dialog, beberapa masih terdapat line-line yang smart, yang masih bisa dijadikan quote, atau line-line ini masih bisa memberikan efek “twisting” yang sebenarnya cukup enak untuk disimak.

Hasilnya Imogene hanya menunggu saat ending, dimana endingnya juga benar-benar seperti mendapatkan shortcut untuk menuju sebuah happy ending.

Quote

Zelda : Sometimes you need to see the snake in the bush to know it’s really there.

Crash (2004) : Speed of Life, Point of Impact, and There’s No Such Thing as Black and White

Director : Paul Haggis

Writer : Paul Haggis

Cast : Don CheadleSandra BullockThandie Newton, Matt Dillon, Brendan Fraser, Terrence Howard, Ludacris, Michael Peña, Ryan Phillippe, and many more.

About

Jangan kaget ketika melihat poster film ini dan harus diperingatkan bahwa film ini bukanlah film HORROR, yep ! That’s not ghost. Sorry !

But before I make reviews, let’s bullshit first. Pernahkah kita berpikir bahwa tatanan masyarakat yang terdiri dari banyak individu merupakan sebuah tatanan yang saling berkesinambungan dan juga saling berhubungan. Tindakan kita akan mengakibatkan tindakan yang lain, baik dalam intensitas kecil, ataupun intensitas yang mempengaruhi orang banyak.

Banyak baiknya sebuah tindakan memang didasarkan pada standar moral yang berada di dalam masyarakat, standar ini sering kali menjadi biased ketika kaitkan dengan streotype yang menghubungkan suku, warna kulit bahkan agama. Lihat saja, ketika orang berkulit hitam dicap sebagai “ladang kejahatan”, sedangkan orang kulit putih mempunyai citra sendiri, begitu pula dengan orang-orang yang berasal dari Asia, ataupun dari timur tengah. Yeah, disini teory labelling sangat berperan terhadap bagaimana orang akan melakukan tindakan baik ataupun  tindakan buruk (sempert belajar sosiologi saat kuliah). Okay, let’s stop bullshit.

This is my review.

Crash menjadi sorotan ketika film ini memangkan Best Picture di Oscar, bahkan mengalahkan drama Ang Lee, Brokeback Mountain. Film yang dibintangi sejumlah bintang besar seperti Sandra Bullock, Don Cheadle, Terrence Howard, Brendan Fraser ini tergolong minim prestasi di ajang Oscars jika dibandingkan dengan pemenang Best Picture ainnya. Diantara enam nominasinya, film hanya merebut 3 trophy untuk Best Picture, Best Original Screenplay (yang ditulis dan terinspirasi dari sang sutradara, Paul Haggis yang sebelumnya menangani Million Dollar Baby) dan juga Best Editing.

Film ini terdiri dari beberapa cerita terpisah namun mempengaruhi satu sama lain,

–          Seorang detektif, Graham Waters (Don Cheadle) yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan dan mencari adiknya yang hilang.

–          Seorang istri pengacara, Jean Calbot (Sandra Bullock) yang tengah trauma karena dirampok bersamaan dengan suaminya (Brendan Fraser) dan bertindak racist terhadap orang-orang di sekitarnya.

–          Pencuri mobil (Ludacris dan Larenz Tate) yang terus beraksi.

–          Seorang Hispanic (Michael Pena) yangmenggantungkan hidupnya sebagai seorang tukang kunci pintu yang juga harus mengobati trauma anaknya.

–          Keluarga Persia yang baru saja kehilangan tokonya.

–          Pasangan suami istri (Terrence Howard, Thandie Newton) yang baru saja dipermalukan oleh dua orang polisi (Matt Dillon, Ryan Phillippe).

–          Dan yang lainnya.

Effective, well crafted, and surprisingly thoughtful

Apa yang menarik dari film dengan berbagai bintang dan kebanyakan hanya bertindak sebagai supporting role ini (yah sepertinya tidak ada leading role di film ini) karena semua pemain hampir mempunyai durasi yang sama untuk tampil di layar. Film dengan banyak bintang, dan banyak sub cerita sering kali jatuh pada “dangkal”-nya cara bercerita karena terbatasan durasi sehingga membuat masing-masing dari sub cerita menjadi nanggung atau setengah-setengah. Namun sepertinya, sang sutradara, yang juga menulis naskah tahu benar bagaimana membuat film ini menjadi efektif dengan berbagai keterbatasan yang ada. Film ini menampilkan beberapa fragment-fragment terpisah dari masing-masing tokoh yang sering kali kita jumpai sehari-hari (ya, tidak lumrah si) seperti perampokan mobil, pembunuhan, cekcok polisi, cekcok antara pemilik rumah dengan tukang yang suka memperbaiki benda di rumah, dan sebagainya. Semuannya ketika kita telusuri memiliki satu benang merah, yaitu permasalahan ini menjadi blurred karena ada issue rasial di dalamnya, yah entah stereotype terhadap warna kulit, suku, atau sebagainya.

Dengan banyaknya substory yang dihadirkan maka tugas yang sangat berat untuk dapat menyatukan semua cerita tersebut sehingga tidak terkesan saling berpisah dalam satu film, yah inilah tugas berat departemen editing yang ternyata secara sempurna mengeksekusi tiap fragmen ini menjadi satu film yang kompleks, terdiri dari banyak karakter, tanpa membuat bingung dari para penontonnya, tentu saja tugas editing ini dibantu juga oleh sebuah screenplay yang mumpuni.

Berbicara tentang issue rasial, yah walaupun kita hidup Indonesia yang notabene tidak terlalu di blow-up masalah seperti ini (khususnya untuk warna kulit), namun sama sekali tidak mengurangi kita untuk lebih terlibat pada scene-scene awal yang menghadirkan konflik dan pengenalan karakter. Kita melihatnya seperti bagian kehidupan sehari-hari selayaknya potret masyarakat. Disinilah, pikiran penonton mulai dibentuk mengenai siapakah yang baik, atau siapakah yang jahat. Siapa yang baik kebanyakan diwakili oleh para warga kulit putih yang menjadi korban sedangkan karakter warga kulit hitam sebaliknya. Pada awal film, filmmaker ingin menunjukkan siapakah antagonist dan siapakah protagonistnya dan membiarkan penonton untuk menjadi judge.

Ketika penonton mulai membentuk pikirannya, disinilah tagline “There’s no such thing as black and white” mulai bekerja. Cerita dirubah dengan memutarbalikkan setiap karakter dan menyatakan bahwa setiap karakter, tidak peduli apakah dia putih ataupun dia hitam, dia bisa melakukan apa saja, kebaikan atau kejahatan. Dan judgement kita dari para karakter di awal hanyalah judgement dari penampilan awal saja. Setiap momentum menjadi moment yang penting untuk setiap karakter dimana unsur luck, unsur misteri alam semesta, unsur banyak hal banyak ditambahkan disini. Moment-moment final dari para karakter inilah yang menjadi sajian akhir yang memuaskan sekaligus breathtaking dan thoughtful bagi siapa saja yang melihatnya.

Permasalahan untuk film berjenis seperti ini tentu saja character development yang sebatas “click” berubah seperti jentikan jari, kurangnya penetrasi mengapa sebuah karakter bisa mengalami perubahan, namun untung saja karakter didukung oleh cast yang cukup kuat sehingga karaktermasih terasa intens untuk disimak. Disini karakter yang paling kuat diampu oleh Thandy Newton yang berhasil melakukan tugasnya secara baik sebagai seorang istri yang dipermalukan di depan suaminya sendiri, Bullock is good but not special, Ludacris is mediocre, I do not see something from Don Cheadle, I like Terence Howard, Persian family is good, Matt Dillon, yeah, he can act as two sides of coins (bad guy good guy).

Salah satu sisi yang mungkin akan membuat penonton serasa terjawab pertanyaannya adalah ketika unsur “interwoven” dalam cerita mulai dihadirkan. Bagaimana satu karakter kemudian mempengaruhi karakter yang lain, kemudian yang lainnya lagi membuat benar-benar tatanan masyarakat kita memang saling terhubung satu sama lain.

Crash mempunyai message dan juga unggul dalam storytelling-nya yang mampu mengatasi “banyaknya karakter, banyaknya substory” yang harus dirangkum dalam durasi 2 jam, that’s an achievement, itu sebuah prestasi. Namun untuk mengganjar film ini menjadi sebuah BEST PICTURE yang mengalahkan Brokeback Mountain, hmm that is question, yah walaupun memang di akhir film ini film ini memang sedikit terkesan “crowd pleaser” dan menghindari ending yang berujung tragedi. Yah, personally I like it, but Best Picture ??? Really ??? I have seen better.

Trivia

Difilm ini, Sandra Bullock hanya tampil sekitar 6 menit.

Quote

Graham : It’s the sense of touch. In any real city, you walk, you know? You brush past people, people bump into you. In L.A., nobody touches you. We’re always behind this metal and glass. I think we miss that touch so much, that we crash into each other, just so we can feel something.