Matthew Goode

The Imitation Game (2014) Playfully Spins Basic Rotors for Decent Biopic but Some Encryptions Stay

Director : Morten Tyldum

Writer : Andrew Hodges (book), Graham Moore (screenplay)

Cast : Benedict CumberbatchKeira KnightleyMatthew Goode

(REVIEW) Alan Turing ? Ring a bell ? Dia memecahkan Enigma. DON’T GOOGLE THAT ! But you  still give no shit ? Hookay, dia berkontribusi dalam penciptaan komputer, iPhone, illegal download ? Now I got your attention. Yeah, memang banyak yang tidak mengenal siapakah Alan Turing, namun dia adalah salah satu tokoh ilmuwan, matematikawan yang berkontribusi besar dalam perkembangan dunia teknologi sekarang, dan inilah sekelumit ceritanya.

Dibuka dengan kalimat “Are you paying attention ? Good. If you’re not listening………”, film ini langsung menandaskan tentang apakah The Imitation Game akan berkisah. Tenang ! Film ini tak akan memberikan kuliah tentang komunikasi, namun akan bertutur bagaimana satu metode komunikasi bisa membedakan hidup dan mati orang banyak. Saat Jerman berjaya “Hail Hitler”, terdapat satu sandi yang mereka gunakan bernama Enigma : satu metode yang memiliki berpuluh-puluh-puluh ribu *sorry* 159 dengan 18 angka nol di belakangnya – possibility pemecahan yang ter-update setiap hari, maka tidak menjadi sebuah kejutan jika pesan mereka tak pernah bisa diterjemahkan oleh Inggris, padahal setiap pesan mengandung perintah penyerangan dan strategi Jerman. Datanglah seorang ilmuwan, pintar, arogan, dengan tingkat percaya diri yang tinggi – Alan Turing (Benedict Cumberbatch), dan dengan ke-eksklusifitasan muka (whoop !) dan otaknya, ia meng-underestimate anggota secret club dimana ia ditempatkan : Government Code and Cypher School di Bletchley Park – yang sedang mencoba memecahkan Enigma secara manual.

(more…)

Advertisements

Belle (2014) : Gracefully Painted Picture of Barbaric World Full of Mannerism

Director : Amma Asante

Writer : Misan Sagay

Cast : Gugu Mbatha-Raw, Matthew Goode, Emily WatsonPenelope WiltonSarah GadonJames NortonTom FeltonSam ReidTom Wilkinson

Belle is the new belle-ack (okay, I’m forcing it)

(REVIEW) Period movie memang selalu memiliki keeleganannya sendiri, lewat razzle dazzle kostume yang mengembang seperti sangkar burung sampai kisah cinta yang kental dengan dignity. Sebut saja Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, atau Elinor Dashwood dan Edward Ferrars, atau Jane Eyre dan Rochester, semuannya sempat dieksekusi dengan memukau, tanpa “kevulgaran” chemistry, dan beberapa diantaranya membuka perspektif baru dari kisah cinta yang tergolong “basic”. Nah, Belle adalah period movie yang cenderung berani, karena mendobrak banyak manner dari istilah basic ini.

belle

Terlahir dari seorang budak kulit hitam, Dido Elizabeth Belle kecil hanya memberikan ekspresi datar ketika ayahnya (Matthew Goodeas you know he’s white) menjemputnya selepas ibunya meninggal. Tak ada kesan bahagia, tak ada reaksi untuk resist, Belle menerima keadaan ketika ayahnya pergi dan menitipkannya pada paman bibinya (Tom Wilkinson, Emily Watson, dan Penelope Wiltonthey are also white). Ia dibesarkan, diberi pendidikan, menjadi manusia berkulit hitam yang paling “beruntung” di jamannya. Beranjak dewasa menjadi seorang gadis cantik (Gugu Mbata-Rawanother Lupita Nyong’o-ish catchy name), posisi Belle semakin diperumit dengan posisi pamannya sebagai Lord Chief Justice yang sedang menangani kasus Zong – sebuah fraud yang menentukan nasib penduduk kulit hitam ke depannya.Plus, ia juga harus terlibat dalam husband hunting yang akan menentukan posisi sosialnya, dan itu sepertinya tak mudah, mengingat ia hanya gadis berkulit hitam.

(more…)

Stoker (2013) : Don’t Disturb The Family, The Dark Secret of Mysterious Uncle

Director : Chan-wook Park

Writer : Wentworth Miller

Cast :  Mia WasikowskaNicole KidmanMatthew Goode

About

Stoker merupakan langkah awal untuk sutradara yang terkenal lewat film Old Boy (yang juga bakal jadi made in Holywood karena bakalan diremake) untuk menjejakan karir di Holywood. Tidak tanggung-tanggung, ia menggandeng Nicole Kidman, Mia Wasikowska dan Matthew Goode sebagai pengisi karakter-karakter “dark” untuk film bergenre thriller mystery ini.

Berkisah tentang sebuah keluarga yang “sedikit” gila, Stoker diawali dengan India (Mia Wasikowaska) memakai sepatu heels memandang pematang dengan narasi yang sedikit tidak biasa. India yang baru saja menginjak usia 18 tahun harus kehilangan ayahnya di hari ulang tahunnya sendiri. Tidak hanya itu, dunianya seketika berubah ketika Charlie (Matthew Goode), paman yang tidak pernah diketahuinya, tiba-tiba datang tinggal bersama ibunya yang secara emosional kurang stabil, Evie (Nicole Kidman).

Serentetan kejadian aneh mulai terjadi ketika satu-persatu orang yang berkaitan dengan Charlie, seperti housekeeper dan bibi India, Auntie Gin (Jacki Weaver) menghilang secara misterius satu persatu. Charlie pun mulai mendekati India dengan maksud tertentu sementara India sendiri mulai mencium keanehan di dalam diri paman misteriusnya.

Siapakah Charlie sebenarnya ? Who’s really this Stoker family, why we should not disturb the family ?

“Stylish, yet stiff. With impressive camera work, this movie becomes less enganging, though it’s still a nice dish of mystery.”

Karya Chan-wook Park ytang satu ini memang undeniably beautiful dengan teknik pengambilan kamera yng tidak biasa dan selalu special di tiap scenenya ditambah dengan teknik editing yang tidak biasa. Walaupun begitu, film ini menjadi terkadang terlalu kaku dengan narasi atau obrolan yang terlalu “mungkin” quote-machine ditambah dengan ekspresi para pemainnya yang sedikit comical namun membawa misteri.

Film yang turut membawa tema “kedewasaan” ini juga membuktikan kedewasaan acting bintang utama, Mia Wasikowaska yang cukup konsisten dari awal film sampai akhir (juga menyisipkan beberapa scene adult yang membuktikan Alice ini memang sudah dewasa). Casting-nya pun cukup tepat mendapuk seorang Matthew Goode sebagai tokoh utama yang misterius, killer dengan style, dan seorang yang FREAK !!! Salah satu kekecewaan dari para tokohnya, datang di dalam karakter Evie yang tidak dikembangkan untuk mempunyai porsi yang lebih besar di dalam film (hal ini tentu saja akan sangat berbeda dengan ekspektasi yang terbentuk dari melihat trailer film ini dimana karakter Evie cukup mendominasi).

Kecerdikan sang sutradara ketika film ini menjadi tipe film yang “semakin mengerti ketika semakin dinikmati.” Walaupun terkesan terkadang menyelipkan scene-scene yang tidak penting, sebenarnya scene-scene kecil itu mempunyai makna tersendiri seperti bunga berwarna merah pada awal film atau scene karakter India sedang terbaring di kamar tidurnya kemudian menggerakkan kedua tangannya.

Lebih jauh lagi, film ini juga menghadirkan semacam filosofi “perburuan” untuk storyline, bagaimana sebuah karakter menunggu untuk final act, kapan sebuah karakter akan menarik trigger.

Terlepas dari semunnya, film ini cukup thrilling dengan semua karakter dan tema dark yang diusung dan juga tidak mengandalkan gore atau darah atau klise.

Trivia

Carey Mulligan, Kristen Steward, Rooney Mara, Emily Browning, Emma Roberts, Bella Heathcote dan Ashley Greene semuannya dipertimbangkan untuk memainkan India Stoker.

Quote

India Stoker : Just as a flower does not choose its color, we are not responsible for what we have come.

Match Point (2005) : Turning Point When Romantic Allen Goes ‘A Little Bit’ Dark

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Cast :  Jonathan Rhys Meyers, Scarlett Johansson, Matthew GoodeEmily Mortimer

About

Selama pengalaman gue nonton filmnya Woody Allen, filmnya seputar cinta-cinta yang terjadi kota-kota Eropa kayak Paris, Barcelona, Roma, dan lain-lain. Yah, begitulah Woody Allen. Kali ini di Londonlah yang bakal dieksplor oleh Woody Allen, dan masih tentang percintaan. London memang sebuah kota yang tepat untuk menceritakan level masyarakat semacam kasta, yang memang menjadi bagian dari film ini. Match Point bercerita tentang seorang pelatih tenis, Chris (Jonathan Rhys Meyers) yang berhasil masuk ke dalam sebuah keluarga yang kaya raya dengan cara melatih anggota keluarga mereka, Tom (Matthew Goode). Ketika Chris mulai dekat dengan adiknya, Chloe (Emily Mortimer), kesempatan untuk menjadi bagian keluarga itupun terbuka lebar. Di saat yang sama, Chris malah lebih tertarik pada Nola (Scarlett Johansson), aktris amatir yang juga tunangan dari Tom. Puncaknya, di tengah perkawinannya dengan Chloe yang tidak dikaruniai anak, Chris malah harus berhadapan dengan desakan Nola yang hamil buah hatinya.

Film ini mendapatkan nominasi Oscar untuk Best Original Screenplay.

“When Match Point is match point, you’re gonna get a real battle of who’s gonna win. Whether you like the definition of “luck” here or not, the brave ending, makes it as a winning movie.”

Ibarat olahraga, mungkin benar film ini adalah sebuah pertandingan alot antar dua pemain yang sama kuat hingga ending. Kuncinya, adalah Woody Allen tidak pernah terburu-buru dalam menciptakan tensi untuk film ini. Bagaimana ia menciptakan rasa simpati dari penonton untuk karakter Chris dan kemudian membaliknya. Begitu juga, bagaimana ia menciptakan rasa “kurang respect” untuk karakter Nola dan kemudian membaliknya.  Bagaimana ia membangun sebuah kriminal dengan tanpa terburu-buru dan cerdas.

Storyline yang sebenarnya dapat dikategorikan “lawas” mampu diubah oleh Woody Allen menjadi film thriller yang menegangkan. Para pemainnya mungkin tidak memberikan penampilan yang terbaik, namun kekuatan dari segi cerita menjadi point terpenting. Memang, pada point tertentu, cerita akan sedikit terlalu di”push” dan too good too be true. Pada akhirnya, penonton akan benar-benar mendapatkan sebuah match point. Tergantung pada siapa mereka memihak, match point yang satu ini benar-benar menegangkan.

Kembali dengan definisi “luck”, ending yang tidak diduga-duga sebenarnya sedikit agak menyesakkan, namun malah berujung film ini menjadi sangat memorable. Maybe I’m gonna say, it’s Woody goes dark.

Dan jika jeli, film yang diawali dengan sebuah bola tenis yang menyentuh net dan berhenti selama detik ini akan kembali dimunculkan sebagai twist endingnya. That’s what I like. Details which makes me so surprise and say “God, damn it. What a genious !”

Trivia

Woody Allen menganggap film ini sebagai salah satu karya terbaiknya.

Quote

Chris : People are afraid to face how great a part of life is dependent on luck. It’s scary to think so much is out of one’s control. There are moments in a match when the ball hits the top of the net, and for a split second, it can either go forward or fall back. With a little luck, it goes forward, and you win. Or maybe it doesn’t, and you lose.