Meryl Streep

The Homesman (2014) : Double Barreled Shotgun Shoots Western Scale of Insanity with Disjointed Result

Director : Tommy Lee Jones

Writer : Tommy Lee JonesKieran Fitzgerald

Cast : Tommy Lee Jones, Hilary Swank, Grace GummerMeryl StreepHailee Steinfeld

Having sex with the grumpiest man in the world ? That is high level of insanity.

(REVIEW) Let’s do some maths, women who’s going to be insane in very extreme measure,women who’s not getting married in her 30’s, woman who’s hanging herself ? Ok, that is enough. Tidak mencoba mengatakan The Homesman sebagai sebuah film yang misogynist, tetapi keadaan itulah yang mencoba digambarkan Tommy Lee Jones yang harus dihadapi para wanita di daratan kering Nebraska.  The Homesman mendapatkan sebuah objek ekplorasi  yang nyata berupa mental problem, tapi Tommy Lee Jones juga ingin menggabungkannya dengan hal sulit yang lainnya : others characters study dari karakter dirinya, dan leading lady – Hilary Swank. Hasilnya, The Homesman selayaknya rifle dengan dua barel tetapi tidak pernah berhasil menembak sebuah target yang focus.

Marry Bee Cuddy merupakan karakter yang tepat untuk diserahkan kepada Hillary Swank, atau mungkin yang bisa kita sebut sebagai wanita yang selalu dipaksakan untuk melakukan sesuatu, let’s say become a man, become a boxer, dan sekarang Cuddy dipaksakan untuk mengantarkan tiga wanita gila, dengan sebuah wagon, mengarungi daratan dari Nebraska menuju Iowa (it’s very long journey). Keputusannya ini ia mau ambil karena di daerah tempat tinggalnya hampir tidak ada lelaki yang capable untuk melakukan perjalanan tersebut, termasuk pendeta dan para suami wanita gila ini. Selain, dikarenakan bahwa Cuddy hanyalah wanita single, berusia di awal 30-an, yang over-capable menjalani hidupnya : mengolah tanahnya, tinggal sendiri, sampai she’s the one who proposed “her boyfriend”. Menyadari bahwa perjalanan akan berbahaya, saat melihat George Briggs (Tommy Lee Jones) – seorang claim jumper – terduduk di sebuah kuda dengan tali mengikat lehernya, Cuddy mau menolongnya dengan syarat ia harus membantunya mengantarkan wanita-wanita gila tersebut ke Iowa. Dan, perjalanan road trip pun siap dilakukan.

(more…)

The Most Demanding Role of Meryl Streep as Inexhausting Exotic Creature in ‘Sophie’s Choice (1982)’

Director : Alan J. Pakula 

Writer : Alan J. PakulaWilliam Styron

Cast : Meryl StreepKevin KlinePeter MacNicol

(REVIEW) It needs a writer to penetrate somebody else’s life, dia adalah Stingo (Peter Macnicol) – penulis berusia dibawah 22 tahun, not really in handsome or cute shape, yang pindah ke sebuah boarding house di Brooklyn untuk menulis novelnya (with limited amount of money and no job, what a naïve person). Seperti halnya boarding house, Stingo berinteraksi dengan tenant lainnya, yaitu Sophie (Meryl Streep) – exotic Polish immigrant, with blond hair and flowing night gown, dan Nathan Landau (Kevin Kline) – biologist, impulsive, with mood as roller coaster.

Sifat ketiganya yang saling terkait : Nathan’s easy partying, Sophie’s weird sex appeal, and Stingo’s curiosity, tak memerlukan waktu lama untuk ketiganya untuk menjadi sahabat. Sebuah persahabatan yang kental, namun di waktu bersamaan terlihat seperti ada saja yang salah. Hal itu karena Stingo diantara area kagum dengan sosok Nathan yang memang atraktif sekaligus pintar, dan ia memendam rasa kepada Sophie, inevitable. Hingga akhirnya diungkapkan bahwa dibalik rambut blondie-nya, kulit seputih poselain, lipstick orange, Sophie adalah bekas tawanan Nazi yang memiliki masa lalu, dan selalu menarik Stingo untuk masuk ke dalamnya.

(more…)

Kramer vs. Kramer (1979) – a Separation in Manhattan, Tranqualizes Its Confronting Title but Keeps It Balance

Director :  Robert Benton

Writer :  Robert Benton

Cast : Dustin HoffmanMeryl StreepJane AlexanderJustin Henry

(REVIEW) Ini yang terjadi jika orang-orang kreatif menikah, mereka sibuk mencari aktualisasi diri atas nama pekerjaan, namun tak cukup kreatif untuk lebih bisa mengutarakan keinginan dan atau kreatif agar lebih bisa didengarkan/mendengarkan.

I am not gonna complaint that the movie is quite good, I complaint because it won Best Picture + 4 others winning. Kramer vs. Kramer adalah sebuah film yang biasa, yang lebih menekankan pada performance aktornya ketimbang menghidupkan judulnya. Ada kata “versus” ~ konfrontasi, konflik, tapi film ini hanya menunjukkan bagaimana orang dewasa seharusnya bersikap. Untuk film yang bersetting di Manhattan,it’s too much heart.

(more…)

Evil Angels (1988), Miscarriage of Justice with Brackish Smart Move of Dazzling Streep

Director : Fred Schepisi 

Writer : John BrysonRobert Caswell 

Cast : Meryl StreepSam NeillDale Reeves

The dingo’s got my baby ! – Lindy Chamberlain

(REVIEW) Evil Angels aka. A Cry in The Dark

Everything happens under God’s will.
Everything happens under God’s will.
Everything happens under God’s will.

(more…)

The Iron Lady (2011) is Disconsolate Biography with Boomerang Storytelling, but Streep Saves The Day

Director : Phyllida Lloyd 

Writer : Abi Morgan 

Cast : Meryl StreepJim BroadbentAlexandra Roach

“We will stand on principle or we will not stand at all.” – Margareth Thatcher 

Streep’s Streak Challenge

The Iron Lady mungkin memang ditujukan hanya untuk Meryl Streep seorang, setelah berkali-kali dinominasikan, akhirnya ia mendapatkan Oscar ketiganya. Memang, sebenarnya akan sangat memalukan jika Streep dengan kendaraan “Margareth Thatcher” ini tidak menang di ajang penghargaan tersebut. Apalagi setelah penampilan-penampilan brilliantnya, termasuk perannya sebagai Julia Child dipatahkan oleh blondie Sandra Bullock, yang dianggap sebagai salah satu pemenang Oscar terburuk sepanjang masa. The Iron Lady mengambil perjalanan hidup seorang tokoh wanita yang sangat remarkable dan mendunia. Yeah, ketika kaum perempuan masih dianggap sebelah mata, Margareth Thatcher mampu menjadi Prime Minister di United Kingdom. Kisahnya ini benar-benar worth to tell, dimana setiap kebijakan-kebijakannya di masa itu selalu menuai kontroversi.

(more…)

The French Lieutenant’s Woman (1981) is The Overcooked Side of Beef Covers The Undercooked One

Director : Karel Reisz 

Writer : John FowlesHarold Pinter 

Cast : Meryl StreepJeremy IronsLynsey Baxter 

“I have long imagined a day such as this. I have longed for it. I was lost from the moment I saw you.” – Sarah Woodruff

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Dari materinya, French Lieutenant’s Woman merupakan sebuah novel yang sangat ambisius. Novel ini tidak hanya menyediakan satu ending, namun tiga alternatif ending dan membiarkan untuk penonton memilihnya. Untuk mengeksekusi sisi ini, film ini sengaja menyajikan dua buah cerita cinta antara Meryl Streep dan Jeremy Irons, dimana salah satunya tetap setia pada cerita novelnya, sedangkan yang satu lagi merupakan sebuah bentuk modernisasi dari cerita lamanya. Sebenarnya merupakan sebuah kejutan ketika sebuah adaptasi novel dengan cerita melankolis klasik menjadi sebuah sajian meta yang menarik.

Dari awal film, film ini langsung menunjukkan sisi metanya dengan memperlihatkan Anna (Meryl Streep) yang sedang menjalani sebuah proses syuting untuk film French Lietenant’s Woman sebagai seorang wanita yang dicap telah melakukan sebuah adultery di sebuah desa kecil bernama Lyme. Wanita tersebut adalah Sarah Woodruff (still Meryl Streep) yang setia menunggu kekasih Perancisnya yang meninggalkannya seakan-akan “habis manis sepah dibuang”. Meluapkan kesedihan, kesendirian, dan rasa berdosanya, Sarah Woodruff menatap laut dengan kosong, mungkin berharap kekasihnya akan kembali. Suatu ketika tanpa sengaja, di moment kesedihannya, ia bertemu dengan seorang ilmuwan, scientist, Charles Smithson (Jeremy Irons). Keduannya membentuk suatu hubungan yang dilarang di daerah yang sangat religius, dan keduannya mau mengambil resiko walaupun Charles Smithson telah bertunangan dengan wanita pilihannya, Ernestina (Lynsey Baxter), anak dari orang yang sangat berpengaruh di Lyme. Di dunia nyata, Anna terjebak cinta lokasi dengan Mike (still Jeremy Irons), keduannya berlomba dengan waktu mengutarakan apa yang mereka inginkan sebelum produksi film akan segera berakhir. Bagaimanakah kedua kisah cinta ini berakhir ?

Image

Adultery merupakan salah satu sisi yang sangat menarik untuk diminati di film ini. Mengambil dua setting waktu yang berbeda, sisi adultery menjadi salah satu sisi yang paling berubah di tengah masyarakat. Di abad 19, di Lyme terutama, ketika adultery menjadi momok yang benar-benar merendahkan derajat seseorang sementara di abad modern sisi ini menjadi suatu yang dianggap wajar. “They will think I am a whore.” Anna said, dengan santainya ditanggapi dengan Mike, “Yes, you are”, berbanding kontras dengan labelling yang terus-terusan diterima Sarah Woodruff terutama ketika ia bekerja dengan seorang wanita “alim” yang terus menge-judgenya. Entah mengapa, dirasakan juga, walaupun screentimenya terbatas, Anna mengalami sebuah gejolak batin yang hebat dengan konsep kata “slut” dalam film ini, ia seakan-akan ada sebagian dirinya dalam karakter film adaptasinya. This is interesting. Sisi meta ini membuat adaptasi ini cukup menarik disimak, walaupun versi modern-nya masih sangat sedikit porsinya.

Lagi, dan lagi, membagi sebuah film menjadi dua buah bagian (walaupun tidak sama rata) bukanlah perkara yang mudah. Bagaimana sebuah bagian tidak akan membayangi bagian lain, atau bagiamana satu bagian tidak akan mengganggu atau harus melengkapi jika satu bagian itu hanyalah substory saja. Untuk awalan film ini, pembagian dua buah cerita ini merupakan sebuah sisi yang sangat menarik, terutama ketika sangat jarang cerita dengan atmosfer seperti ini memiliki sentuhan modern tidak harus mengganggu namun juga melengkapi. Sejalan dengan durasi, kisah cinta Sarah Woodruff dan Charles Smithson hampir berjalan dengan mulus, diolah dengan slow pacing, dramatis, dengan cerita yang mungkin familiar. Masih sejalan dengan durasi, kisah cinta Anna Mike juga ditampilkan dengan singkat, menjadi sisi yang menarik, dengan mengambil benang merah “proses syuting” dengan cerita utamanya.

Image

Namun, sejalan dengan durasi, ketika klimaks film ini berlangsung, cerita Anna Mike seakan-akan berubah menjadi sebuah bumerang yang menyerang balik cerita utamanya. Mengganggu konsentrasi dan fokus, cerita Sarah-Charles sudah mengalami overcooked, wearysome, namun seakan-akan mengalami delaying dengan film menjelaskan cinta tidak tuntas dari Anna dan Mike terlebih dahulu. Berjalannya waktu, pembagian cerita ini terlihat menjadi lebih mengutamakan ambisiusnya ketimbang relevansi atau suatu kesinambungan antara dua cerita cinta, membuat terlalu parsial dan mengganggu satu sama lain, tanpa adanya suatu kedalaman tertentu di kedua cerita.

Apa yang paling spesial dari film ini ? Tentu saja adalah the great Meryl Streep. Jeremy Irons did a great job as Charles, but Meryl Streep did a wonderful effort as Anna and Sarah. The French Lieutenant’s Wife mengukuhkan bahwa Streep memang salah satu aktris terbaik sepanjang masa. Tidak hanya dari performance tunggalnya terhadap suatu peran, namun kecerdasannya mengambil peran potensial. Jika aktris biasa mungkin bisa menampilan dua penampilan keren dalan dua role yang berbeda, Meryl Streep seakan-akan cukup menampilkan satu setengah effortnya saja. Sebagai seorang Sarah, Meryl Streep bermain dengan halus namun tanpa melupakan sisi dramatisnya dari gerak sampai cara bicaranya. Sarah Woodruff benar-benar mengangkat kesedihan ke permukaan, dan Streep mampu mengampu sebuah peran yang sangat complicated ini menjadi sangat misterius untuk penonton. Disinilah sisi hebatnya, film meta ini menunjukkan Sarah Woodruff merupakan sebuah performance yang, uhm, subtle powerhouse, dengan menunjukkan sisi mediocre dari seorang Anna. And that is just wow ! One of best performances of Streep.

In the end, The French Lietenant’s Woman memang berhutang banyak pada aktris utamanya. Walaupun mampu membuat penting kedua cerita (walaupun diceritakan secara gamblang bahwa salah satu cerita hanya akting belaka), film ini hanyalah gabungan dua cerita yang mengalami overcooked karena terlalu dependent dengan sebuah cerita yang undercooked karena keterbatasan waktu durasi (C+).

The Bridges of Madison County (1995), Believability of Igniting “Once in Lifetime” Passionate Affair

Director : Clint Eastwood

Writer : Richard LaGraveneseRobert James Waller

Cast : Clint EastwoodMeryl StreepAnnie Corley

This kind of certainty comes but once in a lifetime. – Robert Kincaid

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Believability merupakan hal yang mahal untuk sebuah cerita yang terkesan klise. Terkadang mengkaitkan suatu hubungan relationship untuk patut diperjuangkan walaupun mengandung sisi “quick love” atau “instant love”. Yeah, sisi inilah yang mungkin pernah dialami oleh film Titanic, tanpa mengingat achievement teknikal yang bisa dikatakan selangit. Tentu saja, dengan durasi yang terbatas, sebuah relationship yang menjadi storyline sebuah film harus memiliki penetrasi yang tidak hanya berlomba dengan waktu, namun juga harus efektif. Film inilah salah satunya.

Film yang diangkat dari bestselling novel dengan judul yang sama ini berkisah tentang sebuah kisah cinta singkat yang berlangsung selamanya. Let’s say it’s “empat hari untuk selamanya”.

Carolyn (Annie Corley) dan Michael (Victor Slezak), dua kakak beradik sedang mengurusi pemakaman Ibu mereka. Tanpa disangka terdapat satu permintaan terakhir ibunya, yaitu dimakamkan secara kremasi dan abunya di taburkan di sebuah jembatan. Permintaan ini seperti datangnya entah dari mana, keduannya pun bertanya-tanya, hingga akhirnya keduanya menemukan tiga buah buku yang Ibunya wariskan, dan menceritakan sebagian kecil rahasia dari hidupnya. Yeah, bagian opening scene ini memang tidak se-appaling bagian-bagian selanjutnya. Uninspiring cast untuk Carolyn dan Michael, tapi tenang saja, porsi mereka sangat sangat kecil, walaupun begitu krusial pada keseluruhan cerita.

Flashback di tahun 1965, Francesca Johnson (Meryl Streep) adalah seorang ibu rumah tangga biasa di kota kecil Madison County, Iowa, menjadi seorang ibu berarti kehidupan pribadi yang ia impikan terhenti dan mulai kehidupan yang baru, yaitu bersama anak dan suaminya. Tapi, hari Francesca hanya diisi oleh satu rutinitas satu, ditutup satu rutinitas yang lain. Oleh karena itu, ketika suami dan anak-anaknya pergi ke luar kota untuk beberapa hari, it’s totally heaven, finally she got her “me-time”. Ia pun bertemu dengan seorang photografer National Geography, Robert Kincaid (Clint Eastwood), seorang lak-laki yang memiliki virtue berlawanan dengannya. Ia seorang petualang, free spirited. Ketika Francesca membantu Robert, terjadi gejolak hasrat terlarang diantara keduannya yang akhirnya berujung pada affair terlarang.

Film ini seakan-akan mampu membalik apa yang biasanya menjadi titik lemah sebuah film, menjadi keuntungan di film ini sendiri, kemudian menyajikan untuk penonton yang memuaskan, dan terkadang insightful. Titik lemah film ini adalah film ini diadaptasi dari sebuah novel yang memiliki material cerita sangat terbatas. Yeah, ketika sebuah buku atau novel memiliki banyak kata untuk menerjemahkan “material terbatas” ini, bisa dikatakan film merupakan media yang lebih terbatas, walaupun secara visual memang lebih unggul. Disinilah peran sutradara, serta screenwriter sepertinya diandalkan, untuk membangun sequence yang efektif, dan mampu menerjemahkan sesuatu yang wordy dengan gaya visual.

Jika hanya mengandalkan satu material terbatas di film ini, yaitu affair, mungkin film ini hanya akan menyajikan sesuatu yang romantis, penuh sentimentalitas, namun tidak memperhitungkan bahwa terdapat “sisi kehidupan” yang kompleks di dalamnya. Yep, film ini mampu mengangkat sebuah tema affair menjad sebuah tema yang patut didiskusikan dan juga menjadi sesuatu yang lebih “reasonable” dan kekuatannya bersumber dari sensitifitas Clint Eastwood sebagai seorang sutradara, sekaligus kekayaan karakter yang mampu ditopang dengan benar oleh para aktornya.

Francesca Johnson merupakan sebuah peran paling vibrant, dan juga memiliki sisi smooth erotic thing yang berhasil dimainkan oleh Meryl Streep. Di awal film, Francesca Johnson dipertunjukkan sebagai seorang Ibu yang tidak puas, kemudian ketika ia bertemu dengan Robert untuk pertama kali, ia mampu menunjukkan sisi “awkward”, sisi nervous, dan sebuah sisi misterius yang harus penonton gali di awal film. Memasuki paruh kedua, Francesca Johnson digambarkan sebagai seorang yang tidak puas akan keadaan dirinya, namun masih tetap mempertahankan keadaan. Di paruh kedua ini, Francesca lebih diperlihatkan sebagai seorang passionate lover, dan di paruh ketiga, barulah, klimax dari gejolak batin Francesca diperlihatkan. She’s so fragile and strong in the same time.

Di sisi lain, Robert Kincaid, yang diperankan oleh sang sutradara sendiri mampu memegang perannya dengan mantap. Robert Kincaid bisa menangkap apa yang digalaukan oleh Franceska sekaligus bisa menjadi seorang leader karismatik untuk kisah cinta di usia yang tidak muda lagi. Kekayaan karakter ini membawa sebuah sisi diskusi yang menyegarkan antara Francesca dan Robert. Sebuah film yang terlihat tidak ingin terburu-buru dengan apa yang menjad tujuan akhirnya, dan lebih menekankan pada proses. Memberikan penonton sebuah alasan kenapa karakter-karakter ini memutuskan untuk melakukan sebuah hubungan perselingkuhan. And, yep, it’s dirty but also so passionate in the same time.

In the end, affair ini ditutup dengan sebuah resolusi yang terkesan biasa, namun memiliki terjemahan yang lebih luas, dan hal tersebut disampaikan untuk penonton, tentang bagaimana sebuah relationship mampu mengingat dua orang dengan caranya sendiri. Memastikan sebuah cerita telah mengembalikan semua karakternya ke tempat semula, namun tetap memastikan penonton bahwa terdapat sesuatu yang telah terjadi dan hal itu sangat berarti. This is what we called an elegant affair.

One True Thing (1998) Balances Huge Sentimentality Trap with Its Wonderful Characters

Director : Carl Franklin

Writer : Anna QuindlenKaren Croner

Cast : Meryl StreepRenée ZellwegerWilliam HurtTom Everett Scott

“Your mother needs you, Ellen! Jesus Christ, you got a Harvard education, but where is your heart? – George Gulden

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Mother, daughter, and father issue, plus cancer, wow that’s such a tearjerker material. Masa kanak-kanak seorang Ellen Gulden (Renee Zelweger) memang sangat normal, ia mempunyai saudara laki-laki (Tom Everett Scott), masih memiliki seorang Ibu (Meryl Streep) dan ayah yang benar-benar ia kagumi (William Hurt). Hanya saja sedari kecil sudah cukup terdapat distance yang dimiliki seorang Ellen Gulden akibat gap apresiasi yang ia lakukan terhadap ayahnya dan underapresiasi terhadap Ibunya. Inilah yang dibawa Ellen sampai ia beranjak dewasa. Ia mewarisi segala sifat ambisus, pekerja keras dari ayahnya, sedangkan Ibunya yang hanya seorang Ibu rumah tangga benar-benar invisible untuk dijadikan sebuah role of model.

Ellen Gulden kemudian harus merelakan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis, ketika ayahnya meminta dengan sangat untuknya kembali ke rumah, merawat Ibunya yang sedang sakit kanker stadium akhir, disinilah Ellen Gulden menjadi saksi hidup dan mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya selama bertahun-tahun.

One True Thing memang diperankan oleh dua aktris yang begitu berbakat di zamannya, namun film ini dijamin tidak akan memberikan penampilan yang terlalu meledak-ledak dari aktrisnya. Baik, Zellweger dan Streep tampil tenang sebagai Ibu dan anak, selalu terdapat jarak yang berusaha ditebar oleh Zellweger namun kemudian disertai dengan Streep yang seakan-akan menariknya kembali. Kekuatan Zellweger juga bisa mentransformasikan seorang Ellen Gulden yang bisa dikatakan mempunyai banyak traits kurang menyenangkan menjadi lebih lovable di layar, tanpa berusaha untuk menyerang Ibunya dengan kasar atau agresif, disinilah penampilan seorang Zellweger yang begitu kekeluargaan bisa membuat film ini bekerja sebagai film tentang keluarga. Lain lagi dengan Streep, yang ibaratkan memang sebagai guardian untuk menjaga satu keluarga ini tetap utuh. Penampilannya memang tidak sebrilian penampilannya yang lain, tidak ada body language berleihan, atau aksen suara, atau transformasi, Mery Streep hanyalah seorang Ibu yang menyayangi suami dan anak-anaknya. Sempat terlintas juga,apa sebenarnya yang membuat Oscar menominasikan penampilan Streep sebagai salah satu penampil leading role terbaik di masanya (walaupun juga Meryl Streep lebih cocok sebagai seorang supporting actress disini.)

This movie gives us powerful and wonderful characters than the perfomances itself. Nah, disinilah letak keistimewaan dari film yang satu ini. Dengan penampilan yang begitu minimalis, terdapat layer-layer dari karakternya yang berusaha dikupas sedikit demi sedikit dan semua melibatkan ketiga karakter utamanya. Ellen Gulden merupakan sebuah perwakilan dari “smart brain, but no heart”, dia bisa saja tampil vicious namun karakter lebih memilih untuk menunjukkan compassion. Ellen Gulden juga bisa dikatakan sebagai lembar kertas kosong yang mengalami misleading interpretation-nya terhadap karakter kedua orang tuanya. Terdapat pergeseran pandangan Ellen Gulden terhadap seorang sosok ayah dan ibu ini menjadi menarik, ketika jalan cerita mulai mengambil arah balik yang seketika juga menangkap perhatian penonton.

William Hurt sebagai George Gulden juga bisa men-transformasikan karakternya sebagai karakter yang mengundang simpati menjadi karakter yang mengambil alih peran antagonist di film ini. George Gulden merupakan pihak yang meng-confront karakter Ellen, namun kemudian dire-confront oleh sang Ibu Kate Gulden. Trik cerita seperti seakan-akan memberikan tetesan air lemon ke dalam sebuah gelas, membiarkan penonton untuk mencicipinya, namun kemudian memberikan gula dalam gelas tersebut, kemudian juga membiarkan penonton untuk menicicipinya.

Namun dari kedua peran Ellen dan George Gulden, Kate Gulden atau sang Ibu merupakan sebuah karakter pendukung namun membawa kunci revelation mengapa film ini begitu worth it untuk ditonton. Disinilah, jawaban mengapa Streep masih layak untuk dinominasikan di Oscars. Ketika Streep harus berperan sebagai seorang Ibu, apa yang kemudian dilakukannya ? Yeah, dia tetap memerankan karakternya sebagai seorang Ibu. Kate Gulden merupakan karakter kaya yang membawa pandangan bahwa menjadi sebagai seorang Ibu rumah tangga tidaklah mudah, it’s a career too. Kate Gulden tidak hanya mempertahankan pandangan ini terhadap keluarganya, namun juga kepada dunia yang menganggap Ibu rumah tangga bukanlah apa-apa. There’s a price in a stabil condition, and this mother pays for it. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah situasi, termasuk situasi yang damai, stabil, tanpa masalah, disinilah peran Ibu begitu aktif menjaga status quo dalam rumah tangga ini. It’s a daily war.

Sisi pelajaran tentang anak dan orang tua inilah yang membuat film ini lebih dari sekedar film penuh dengan sentimentalitas sakarin yang memicu air mata tapi masih terasa kosong. Penampilan yang minimalis, subtle, natural, insightful, kemudian menjadi pengisi film ini menjadi lebih berarti. This movie knows where exactly to put its heart.

Sisi negatifnya, mungkin film ini agak sedikit overlong dengan durasinya yang lebih dari 2 jam, jika saja film ini bisa diringkas sedikit saja, mungkin agak lebih menyenangkan untuk ditonton. Walaupun film ini juga tidak melupakan cara-cara untuk tetap menarik perhatian penonton di sepanjang film, salah satunya dengan mengambil pendekatan investigatif dengan cara scene-scene wawancara Ellen Gulden terhadap keadaan ibunya, yang kemudian ditutup dengan sebuah twist sederhana namun tetap kena di hati.